Profile

Cover photo
kurud jamers
Works at harmotex bandung
Attended smpn 2 pagaden
Lives in Pagaden, Subang, Jawa Barat, Indonesia
10 followers|6,351 views
AboutPostsPhotosYouTube

Stream

kurud jamers

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
 
udah pada nonton blum?
 ·  Translate
1
Add a comment...

kurud jamers changed his profile photo.

Shared publicly  - 
 
aink
1
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
1
kurud jamers's profile photo
 
kurud imut
Add a comment...
In his circles
6 people
Have him in circles
10 people
Lucky Adam's profile photo
MOBILE WORLD KURUD's profile photo
Yuli Diana's profile photo
Zadeam Jamers's profile photo

kurud jamers

Shared publicly  - 
 
malam berkabut,,,
sepi tanpa bintang..
 ·  Translate
1
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
 
galau aing mah teu ngarti euy.
 ·  Translate
1
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
 
curug cujalu,,, berletak di kabupaten,,
A. Bandung
B. Subang
C. Purwakarta
 ·  Translate
1
adang koang's profile photo
 
Subang
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
1
1
kurud jamers's profile photo
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
 
Kuyang parahiyangan

Malam di Parahiyangan terasa
mencekam, sayup-sayup
terdengar gesekan batang
bambu di pinggiran rawa.
Sesekali terdengar sahutan
burung malam dari kejauhan. Desau angin berhembus pelan.
Suasana terasa sangat berbeda
dengan desa sebelah, Kararai.
Remaja berjaga-jaga disekitar
rumah Ambrosius sambil
membawa obor. Hawini isterinya hendak melahirkan.
Kebiasaan di desaku. Malam
merangkak jauh. Banyak
penjaga yang terlelap. Obor-
obor masih tetap menyala
menerangi pelataran rumah. Aku pun ikut terbawa suasana
lengang, dalam keadaan
setengah sadar kulihat
makhluk api sebesar lampu
petromak berada diatas atap
rumah Ambrosius. “Kuyang…!” Teriakku lantang
Kontan saja para penjaga
bangun dan menghunus
senjata. Ada yang membawa
mandau, tongkat, batu dan
juga parang panjang. “Mana?” “Itu di atas atap!” Makhluk itu
ternyata mengetahui
kesigapan kami, dan langsung
terbang melayang keluar desa
Parahiyangan “Kejaa…r!!”
kelengangan berubah riuh. Pengejaran tak membuahkan
hasil. Hantuwen itu lenyap
tanpa bekas. Semua kembali
dengan memendam geram. Di
rumah Ambrosius. “ Bayinya
sudah membiru….!” Teriak salah satu dari mereka. Bayi
yang baru dilahirkan itu
kehabisan darah, nyawanya
tak bisa diselamatkan.
Rupanya Hantuwen tadi telah
berhasil menghisap darahnya. Hawini yang mendengar
perkataan itu menangis,
meraung-raung, sampai tak
sadarkan diri. Hantuwen
Kuyang itu adalah wanita jadi-
jadian. Untuk mengawetkan tubuhnya agar tetap muda,
makhluk itu harus meminum
darah orok. Bila ada orang mau
melahirkan, makhluk itu akan
menjalankan ritualnya, maka
tidak jarang setiap malamnya banyak makhluk-makhluk api
berseliweran dilangit. Makhluk
api itu sebenarnya adalah
kepala dan isi tubuh dari
manusia jadi-jadian tersebut,
dalam ritualnya, badan mereka akan disimpan disuatu ruangan
rahasia atau tempat
tersembunyi. Dengan cara
mengoleskan minyak bintang
disekeliling leher setelah itu
kepala serta isi badan akan terpisah dengan sendirinya.
Hantuwen Kuyang tidak akan
bisa kembali menjadi manusia
jika badan yang
ditinggalkannya di balik
seseorang. Begitulah cerita- cerita yang aku dengar dari
ninih Marus, tetanggaku.. *
Suara adzan baru selesai
dikumandangkan,
menandakan bahwa setiap
santri yang mengaji harus segera menyudahi
pelajarannya. Inilah yang
menarik dari desaku, toleransi
beragama, walaupun
mayoritas di sana beragama
Kristen. Tiap-tiap masuk waktu shalat, kumandang
suara adzan akan selalu
menghiasi sudut-sudut
kampung. Kami pulang
berjalan kaki sambil
membawa obor. Kerlap kerlip obor berjajar memanjang
bagai untaian berlian di tengah
kegelapan. Pemandangan
demikian selalu menghiasi
malam seusai pulang mengaji.
Satu persatu dari kami berpisah menuju rumah
masing-masing. Rumahku dan
Ja’far berdekatan berada
paling ujung desa
Parahiyangan dan harus
melewati hutan bambu yang lebat. Sebenarnya ada jalan
lain, tetapi selain lebih jauh
juga harus melewati
pemakaman yang angker, aku
memilih lewat jalan dekat
walaupun ada hutan bambunya. Sambil membawa
obor sebagai penerang aku
berjalan di depan. “Anwar,
kamu yakin mau lewat sini?”
Ja’far bertanya sambil
membuntuti langkahku. ”Daripada lewat pemakaman”
jawabku sekenanya menurut
teman-temanku, Hantuwen
Kuyang selain menjalankan
ritual di kamar khusus biasa
juga ditempat-tempat sepi, seperti hutan bambu atau
rumah-rumah kosong Kami
hampir sampai hutan bambu,
keringat dingin membanjiri
baju koko yang kukenakan.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Ja’far, yang jelas sejak
memasuki hutan bambu,
tangannya tak pernah
melepas. Sudah separuh hutan
bambu terlewati. “ Jangan
cepat-cepat!” Aku tak menanggapi omongan Ja’far,
mataku menangkap cahaya
terbang dilangit meluncur
cepat ke tempat yang tak jauh
dari kami berdiri. “Ja’far…
kamu melihatnya?” “apa?” “Hantuwen Kuyang…” belum
selesai aku berucap, Ja’far
sudah memeluk erat tubuhku.
“Anwar, yang benar kamu?”
“B…enar!Aku penasaran ingin
melihatnya, tadi jatuh kearah pohon pisang itu” ucapku
kemudian. Rasa takut yang
sejak tadi menguasaiku seolah
sirna oleh rasa
keingintahuanku, aku hanya
mendengar cerita dari teman mengenai makhluk itu, saat ini
aku berkesempatan
mengetahuinya sendiri. Pasti
akan menjadi berita heboh
esoknya. “ kau ikut tidak?”
tanyaku kemudian “ yang bener kamu?” Ja’far balik
bertanya. “he…eh” Lampu
obor kami matikan, sandal
jepit kami lepas. Kebiasan
kami jika hendak lari kencang,
dan memang kami melakukannya saat ini.
Batang-batang bambu yang
lebat menjadikan kami sulit
mengetahui lebih dekat pohon
pisang tempat makhluk api
tadi meluncur. Barulah setelah merangkak pelan dan
melewati batang bambu yang
tumbang, kami baru bisa
mendekati pohon pisang itu.
Dari jarak kira-kira tiga meter
aku bisa melihat dengan lamat- lamat. Jasad tengkurap di
tanah beralaskan kain putih.
Tak jauh dari jasad itu ada
peralatan ritual yang tak
satupun aku mengerti,
mungkin salah satu dari peralatan itu ada minyak
bintang yang berguna
memisahkan jasad dan kepala
tanpa rasa sakit. Jasad itu
berdiri terhuyung-huyung,
kemudian benar-benar tegak berdiri. Merapikan pakaian
yang ia kenakan. Dan pergi
kearah jalan yang kami lewati
menuju kearah musholla
tempat kami mengaji. Sangat
dekat dengan tempat persembunyian kami.
Rambutnya panjang rapi,
dengan baju setengah badan
menampakkan sebagian
payudaranya, bau minyak
bintang menyeruak kerongga hidung. “S..stt bukankah itu
Dulueloy wanita desa kita, ada
apa malam-malam begini ia
kesini?” bisikku pelan “Iya,
berarti benar Dulueloy wanita
jadi-jadian itu?” “mungkin” Hampir satu jam-an kami
masih bersembunyi, setelah
memastikan wanita tadi telah
pergi jauh, baru kami keluar.
Dan berlari sekencang-
kencangnya. “Anwar…!! Aku tidur di rumahmu ya?” pinta
Ja’far di sela-sela larinya. “ Iya.
Nggak pa pa” Setelah
mendekati poskamling kami
berhenti berlari. Suasana sudah
terang karena banyak obor- obor dipelataran. Satu dua
penjaga bercengkrama di pos
sambil bermain kartu. “ War…
menurutmu gimana setelah
melihat hal tadi?” “kita tidak
bisa langsung mengambil keputusan , bisa jadi kita salah
lihat. “ “Tapi aku yakin, aku
berani sumpah dia itu
Dulueloy, warga desa kita.
Apa kamu tidak lihat
rambutnya yang panjang, bukankah di daerah ini
rambutnya pendek-pendek,
hanya dia yang rambutnya
panjang. Lihatlah cara dia
berpakaian, seronok
memamerkan tubuh moleknya. Bukankah itu
semua hanya ada pada dia.
Aku bisa memastikan
Dulueloy wanita jadi-jadian
itu” “ Iya, tapi kita tetap tidak
bisa langsung menuduhnya, banyak kemungkinan-
kemungkinan lain” ucapku
pelan. * Bulan telah berganti.
Musim kemarau datang, udara
yang dibawa dari perbukitan
terasa kering dan panas. Daun- daun pohon karet menguning,
meranggas, jatuh. Siang
menjadi lengang, tak banyak
yang lalu lalang, mereka lebih
senang bercengkrama dengan
keluarga. Dan malam selalu dinanti. Anak-anak berkumpul
di balai desa, macam –macam
saja permainannya. Hantuwen
Kuyang menghilang. Hingga
suatu sore, ketika hujan deras,
aku benar-benar melihat sendiri, Dulueloy pergi ke arah
hutan bambu. Ku ikuti
langkahya dari kejauhan, dan
ia berhenti di bawah pohon
pisang. Mengeluarkan sesuatu
dari tasnya, sebuah botol minyak. Ia oleskan disekeliling
leher, dan berbaring ditanah
yang beralaskan kain putih.
Kepala itu bersama organ
tubuh tiba-tiba keluar melesat
kelangit. Aku gemetaran melihatnya, tak kusangka
Dulueloy benar-benar wanita
jadi-jadian itu. Aku ingat, kata
ninih Marus, jika jasad
Hantuwen Kuyang yang
terpisah dari kepalanya dibalik, maka makhluk itu
tidak akan bisa kembali
menjadi manusia. Selamanya.
Aku beranikan untuk
melukan hal ini, ku balik jasad
yang terbaring itu. Lantas mengambil minyak bintang
yang berada tak jauh dari tas.
Buru-buru aku berdiam di
kamar mengurung diri. *
Esoknya, pemakaman di
kampungku ramai, Dulueloy meninggal tanpa ada yang
tahu apa penyebabnya. Aku
tak mau memberitahu
mereka, tentang peristiwa
yang aku alami. Minyak
bintang yang ku bawa telah kubuang ke sungai. Hantuwen
Kuyang tidak akan bisa
mengambilnya, karena
Hantuwen itu paling takut
dengan air. Desaku akan hidup
tentram. Tapi aku pun tak yakin kalau wanita jadi-jadian
itu benar-benar sudah lenyap.
Malam baru usai, ditandai
cahaya fajar lamat-lamat
menerobos celah-celah
dedaunan bambu. Di ujung jalan desa Parahiyangan,
seorang wanita asing berjalan
gontai masuk melewati batas
perkampungan. Rambutnya
panjang rapi, dengan baju
setengah badan menampakkan sebagian
payudaranya. Tangannya yang
putih halus melambai lemah ke
arahku. Lamat-lamat, bau
yang sudah benar-benar
kukenal, menusuk rongga hidungku, aroma minyak
bintang. Aku
tersentak…..
 ·  Translate
1
Add a comment...

kurud jamers

Shared publicly  - 
 
mau liat status keren di fb? Ikuti admin ya..
www.facebook.com/martalata
 ·  Translate
1
Add a comment...
People
In his circles
6 people
Have him in circles
10 people
Lucky Adam's profile photo
MOBILE WORLD KURUD's profile photo
Yuli Diana's profile photo
Zadeam Jamers's profile photo
Work
Employment
  • harmotex bandung
    direktur penghancur, 2010 - present
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
Pagaden, Subang, Jawa Barat, Indonesia
Previously
kebon
Links
Story
Tagline
hidup tanpa rokok.. GALAU..
Introduction
Ada yang mau ngajarin gue tentang BLOG?
Education
  • smpn 2 pagaden
    lieur, 1965 - 2011
Basic Information
Gender
Male