Profile

Cover photo
Uwin Mokodongan
41 followers|22,176 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Untuk Sigidad : Tanggapan atas Tanggapan II
"Sayang sekali, bukan debat yang saya baca, tapi lurus-meluruskan sesuatu yang bengkok dan tak penting" ITU pesan via SMS. Disampaikan seorang teman yang mengaku "kecewa" atas silang-tanggap antara Saya dan Sigidad; saya menulis; tanggapan datang dari Sigid...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
"Kesesatan" Topik Yang Hampir Berbuntut Adu Jotos
Dalam acara dialog atau diskusi publik (dikemas formal maupun nonformal), memang tidaklah mungkin semua peserta yang hadir dapat diberi kesempatan oleh moderator untuk berbicara. Kesadaran itulah yang membuat saya harus maklum, meski memang tidak bisa menaf...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Matematika dan Kecurigaan Kita
Saya
tidak berani, apalagi tega, untuk semena-mena memastikan bahwa, anak-anak
Mongondow seusia saya ketika itu, usai menamatkan SD dan melanjutkan ke jenjang
berikutnya, punya kecemasan sama seperti yang saya alami terkait mata
pelajaran Matematika.   Namu...
 ·  Translate
Saya tidak berani, apalagi tega, untuk semena-mena memastikan bahwa, anak-anak Mongondow seusia saya ketika itu, usai menamatkan SD dan melanjutkan ke jenjang berikutnya, punya kecemasan sama seperti yang saya alami terkait m...
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Wakil Rakyat, Netizen, dan Teori Konspirasi Dibalik Kedahsyatan Akto
Ardiansyah Imban, wakil rakyat asal Bolaang Mongondow Raya yang berhasil mendapatkan kursi di DPRD Sulut, karena banyaknya dukungan rakyat—sebagian mungkin dari keluarga Akper—boleh lepas kontrol dan tanpa malu—apalagi ragu—mencaci-maki anak-anak Akper Tota...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Sekali Lagi, Soal Nova Soputan dan Kaum Reaksioner Berisik
Mereka tak hanya dihujat, tapi dituduh mengingkari sejarahnya selaku anak Mongondow. Mereka tak hanya dibully, tapi dituduh sebagai remaja gengsian untuk sekedar mengaku anak Mongondow. Mereka tak hanya dijadikan bahan olok-olok, tetapi diancam akan ditempe...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Harlabali VS Harlabala
Lukisan Matthias Grunewald 'the Temptation of St.Anthony Di masa yang telah silam ada dua buah biji jatuh dari langit. Mungkin tercecer dari paruh burung saat melesat terbang melewati awan komolonimbus. Biji itu lalu mendarat ke tanah dan tak berapa lama ke...
 ·  Translate
Lukisan Matthias Grunewald 'the Temptation of St.Anthony Di masa yang telah silam ada dua buah biji jatuh dari langit. Mungkin tercecer dari paruh burung saat melesat terbang melewati awan komolonimbus. Biji itu lalu mendarat...
1
Add a comment...
Have him in circles
41 people
Kwanboen Liong's profile photo
Upik Mando's profile photo
Mejikrits R. Rumewo's profile photo
hamka potabuga's profile photo
Santo Mamonto's profile photo
Nur Salis Sahid's profile photo
yunita Cantik's profile photo
Rea Modeong's profile photo
Amadon Bibir's profile photo

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Untuk Sigidad: Tanggapan atas Tanggapan
KESALAHAN pertama Kristianto Galuwo alias Sigidad , dalam menanggapi artikel berjudul Dengan Segala Hormat, Ibu Kartini , yang saya unggah di www.arusutara.com , adalah, dia nekat menuduh (bahkan diawal paragraf) bahwa, saya (penulis artikel itu) membentang...
 ·  Translate
KESALAHAN pertama Kristianto Galuwo alias Sigidad, dalam menanggapi artikel berjudul Dengan Segala Hormat, Ibu Kartini, yang saya unggah di www.arusutara.com, adalah, dia nekat menuduh (bahkan diawal paragraf) bahwa, saya (pe...
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Kita Ukur Kepedulian Negara dengan Program dan Matematika
Anggaplah engkau Chairil Anwar yang mengembara seperti Ahasveroz tatkala ditinggal kekasih, lalu merasa seolah-olah dikutuk-sumpahi Eros sembari merangkaki dinding buta yang tak satu jua pun pintu terbuka. Atau anggaplah engkau Romeo pacarnya Juliet dalam ...
 ·  Translate
Anggaplah engkau Chairil Anwar yang mengembara seperti Ahasveroz tatkala ditinggal kekasih, lalu merasa seolah-olah dikutuk-sumpahi Eros sembari merangkaki dinding buta yang tak satu jua pun pintu terbuka. Atau anggaplah engk...
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Dokter Wirno dan Hujan Malam Itu
Leput Institut mendapat kiriman Cerpen . Penulisnya adalah pembaca Leput. Sepertinya bisa kita nikmati.  Dokter Wirno dan Hujan Malam Itu Oleh  Samsuri Rully Dilapanga .  KOTA itu sedang diguyur hujan. Terkadang diselingi angin kencang. Di ruang instalasi g...
 ·  Translate
Leput Institut mendapat kiriman Cerpen. Penulisnya adalah pembaca Leput. Sepertinya bisa kita nikmati.  Dokter Wirno dan Hujan Malam Itu Oleh Samsuri Rully Dilapanga.  KOTA itu sedang diguyur hujan. Terkadang diselingi a...
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Kesalahan Pikir Netizen Reaksioner Berisik di Mongondow
Awalnya saya
tidak pernah menduga, kalau jawaban seorang keke Minahasa bernama Nova Soputan kepada
Raffi Ahmad dalam acara Dahsyat di RCTI (Minggu 08 Maret 2015), bakal dinalari
kalangan netizen di Mongondow dengan logika bengkok namun kerdil. Lebih sontolo...
 ·  Translate
1
Donni Bengga's profile photo
 
Mantap ni ulasan...logis..
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Dahsyatnya Nova Soputan: Dihujat Gara-Gara Hanya Menyebut dari Akper Totabuan (Tanpa Mongondow)
Sejak bergabung menjadi jamaah bebekiyah (Pengguna aplikasi BlackBerry Messenger/BBM ) , saya hampir tidak pernah protes ketika ada teman kontak BBM menyiarkan pesan broadcast, sekalipun itu hanya ajakan untuk invite PIN. Jangankan itu, pesan beruntai yang ...
 ·  Translate
Sejak bergabung menjadi jamaah bebekiyah (Pengguna aplikasi BlackBerry Messenger/BBM) , saya hampir tidak pernah protes ketika ada teman kontak BBM menyiarkan pesan broadcast, sekalipun itu hanya ajakan untuk invite PIN. Jang...
1
Add a comment...

Uwin Mokodongan

Shared publicly  - 
 
Lara Shinta 1998
Butiran
– butiran embun yang bermesra dengan helai-helai daun, baru  mulai
terusik oleh sapa mentari. Jalanan masih lengang. Belum seberapa  sibuk.
Hanya ada beberapa orang nampak sedang lari pagi. Seorang
perempuan kira-kira berumur 25 tahun, melangkah gon...
 ·  Translate
Butiran – butiran embun yang bermesra dengan helai-helai daun, baru mulai terusik oleh sapa mentari. Jalanan masih lengang. Belum seberapa sibuk. Hanya ada beberapa orang nampak sedang lari pagi. Seorang perempuan kira-kira...
1
Add a comment...
People
Have him in circles
41 people
Kwanboen Liong's profile photo
Upik Mando's profile photo
Mejikrits R. Rumewo's profile photo
hamka potabuga's profile photo
Santo Mamonto's profile photo
Nur Salis Sahid's profile photo
yunita Cantik's profile photo
Rea Modeong's profile photo
Amadon Bibir's profile photo
Basic Information
Gender
Male
Story
Introduction
Sampai ketika engkau datang menengok lagi, Blog ini sudah 3 kali berganti nama. Mulanya adalah Uwin Mokodongan. Tentu itu nama saya. Tinggal di sebuah desa bernama Passi yang tak semua orang Mongondow dapat dengan mudah menjadi penunjuk jalan; di mana letak kampung Passi, sebagaimana mereka bisa dengan mudah menunjuk di mana kampung Poerworejo, Liberia, dan Modayag. Padahal jarak antara kampung Passi ke Ibukota Kotamobagu (dahulu Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow), dapat ditempuh dengan memakan waktu paling kurang 60 detik, dengan patokan tapal batas Desa Passi dan Gogagoman (Kotamobagu).

Selanjutnya Blog ini berganti nama menjadi Berbareng Bergerak, terinsiprasi dari buku karangan Semaun, pendiri SI Merah. Dan sekarang berganti nama lagi menjadi Leput Institut (Semoga ini yang terakhir).

Saya mau cerita sedikit tentang  kampung Passi. Sebuah desa di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow - Sulawesi Utara, yang menurut saya unik.

Passi unik (setidaknya begitu pendapat pribadi saya) karena  kampung halaman saya ini dianggap oleh banyak orang Mongondow terisolir meski waktu tempuh dari pusat Kota Kotamobagu (jika mengambil patokan di Bundaran Paris) kesini cuma butuh waktu 5 menit sambil berkendara dengan kecepatan normal. (Kasih pegang uang Anda sejuta dan kita taruhan).

Jika kalian berdiri di ujung kelurahan Gogagoman sebelah barat lalu menanjak dan berhenti di Pal Batas antara Passi dan Gogagoman (tepat di tangga masuk menuju Cagar Budaya kuburan Bogani) maka Anda cuma butuh waktu 1 menit. (Tak percaya? lipat lagi sejuta).

Tapi jika Anda berada dikeriuhan Kota Kotamobagu, atau di lorong-lorong padat Gogagoman dan bertanya pada orang-orang disitu: "Dimana itu Passi?" Maka percayalah, alangkah langka orang di situ untuk sekedar mampu memberikan informasi yang sedikitnya mendekati fakta atau menunjukan jalan dengan tepat. Apalagi jika Anda bertanya pada orang yang tinggal di Kotobangon, Sampana, Mogolaing, atau Togop. Raut muka orang yang Anda tanyai ini sekonyong-konyong justru memberi informasi tentang  gambaran sebuah pelosok udik nun jauh di mata, melewati semak belukar, berular dan sukar ditempuh. Selebihnya lagi adalah ragam lelucon yang dekat dari sesat. :p

Jangan pernah pula Anda meminta jasa sopir Bentor yang biasa mangkal di Bundaran Paris, untuk mengantar Anda ke Passi sekalipun bayarannya 4 kali lipat dari bayaran normal yang berlaku di Kotamobagu.

Keunikan Passi menurut saya dikarenakan pula oleh hal-hal yang diantaranya (sekali lagi ini pendapat pribadi) adalah: tidak semua orang Mongondow yang terkenal dan yang gaul-gaul alay pernah ke Passi atau menyangka bahwa orang yang mereka kenal, temui, incar, dan idolakan (baik cowok maupun cewek-ceweknya) adalah orang  Passi. (Ini sudah berkali-kali terbukti) :p

Sama halnya dengan banyak orang (utamanya politisi dan sejarawan lokal karbitan) tidak tahu kegemparan yang terjadi pada tahun 1920 (versi buku Sejarah Laskar Banteng Kemerdekaan yang ditulis Ny.Nutrina Mango) yang bikin kuping pamarentah kolonial belanda panas tatkala dilangsungkanya Apel Akbar pendirian SI (Sarekat Islam) untuk yang pertama kalinya di Bolaang Mongondow, yang dilangsungkan di tanah lapang kampung Passi, sekembalinya seorang Passi dari 'pengembaraan politik' di Pulau Jawa membawa mandat pendirian SI dari tangan H.O.S Cokroaminoto. (Foto peristiwa Apel Akbar ini diliput jurnalis asal belanda dan bisa dilihat di rumah keluarga  Alm. Jaya Mokoginta, di Kompleks RS Datoe Binangkang Kotamobagu).

Lalu, jika anda bertanya pada orang-orang (apalagi kalangan remaja) di Kotamobagu, ambil contohlah Mogolaing, Kotobangon, Molinow, Motoboi, Biga, Matali atau Sinindian; dimana itu Passi? Maka (rata-rata) hampir miriplah Anda bertemu dengan orang yang mula-mula Anda temui di gang padat Gogagoman. Pemuda-pemuda yang Anda temui ini akan segera membayangkan bahwa; Anda akan tersesat atau akan ada kakek tua tukang santet yang bakal mengguna-gunai Anda  dengan ajian mantera hitam yang lebih brutal dari Voodoo Afrika. Sebab hampir di mata banyak orang, Passi adalah sebuah wilayah udik di Mongondow yang jauh di puncak, terisolasi, kolot, penuh rintangan yang akan mematahkan niat Anda untuk kemari. (Semua ini terasa unik dan alangkah menariknya bagi saya karena sadar betul kalau semua jauh panggang dari fakta)

Jika Anda meluncur memakai sepeda kayuh dari ujung Passi tepat di wilayah Batu Moloda' (dekat tangga menuju cagar budaya kuburan Bogani ) ke wilayah Kotulidan Gogagoman, maka berani taruhan lagi, Anda cuma butuh waktu 60 detik sampai di tampa cuci oto pa Om Ance ujung Gogagoman.

Jika dari  tempat cuci mobil ini (yang sudah ada sejak saya kelas 1 SD) Anda memotong menanjak naik ke atas ke arah Timur, maka kemungkinan Anda akan tembus di rumah Papa Eka (siapa sih orang Mongondow yang gak kenal Lendi Mokodompit) atau kemungkinan juga di pondulak rumah Nayodo Kurniawan.

Passi bagi saya memang unik. Meski secara umum sama dengan desa-desa lain di Bolaang Mongondow. Namun aneh, sebab hal-hal di atas-lah yang nanti akan Anda temui ketika mencari tahu di mana kampung halaman saya tercinta ini.

Passi dan Gogagoman di batasi sebuh bukit yang agak tinggi menjulang. Namanya Tudu In Passi (Puncak Passi). Ada kuburan sepasang Bogani (manusia Mongondow yang digambarkan kuat dan keramat) di sini yang dipercaya penduduk setempat bernama Ki Bagat dan Inde I dowu. Terkadang saya berpikir (jelas ini dipengaruhi pelem silat dan tayangan Masih Dunia 'dusta' Lain di Trans 7, bahwa Tudu In Passi yang ada diperbatasan inilah yang memberi kesan, wilayah ini adalah pelosok. Atau kedua Bogani yang terbaring di Tudu In Passi mungkin sebelum ajalnya tiba, meminta kepada sang penguasa alam semesta supaya tempat mereka beristirahat sedapat mungkin diisolir, termasuk dari gangguan dunia luar.

Jika ada saudagar kaya memberi kesempatan dan mengajak saya tinggal di wilayah indah seperti Armidale, mak adalah sebuah kemunafikan yang bodoh jika saya menolak. Tetapi sepertinya akan kedengaran puitis dan alangkah egoisnya ketika saya akhirnya tetap akan memilih tinggal di Passi. Menjadi orang Passi hingga akhir hayat.

Cumak di Passi, Anda akan lebih dekat dengan kuburan Bogani Ki Bagat dan Inde I Dowu' bahkan bisa merasakan kehadiran mereka tatkala di malam-malam tertentu Anda meluangkan waktu untuk berziarah di tepi kuburan mereka.

Cumak di Passi, setiap ada hajatan pesta nikah, khitanan, syukuran dan anak-pinaknya, orang-orang yang datang berkumpul baik karena diundang baku tulung (gotong royong) atau sekedar ilang jalang dan mampir di los, (sekalipun itu adalah para tukang judi remi dan 4 daong yang memanfaatkan los sebagai kasino), maka semua akan dapat layanan rokok, kopi, kue brudel, brot goreng dan sinandoi, dari tuan rumah hingga pagi menjelang. Dan semua itu gratis!