Profile cover photo
Profile photo
IPM Palembang
7 followers
7 followers
About
IPM's posts

Post has attachment
TVC Best Destination and Beauty of South Sumatera, best recommended tourism destination when you visit South Sumatera Indonesia.

Great Collaboration Video by Giri Prasetyo, Barry Kusuma, Setiadi Darmawan and Budi Supriyanto.

Infinite Beauty Of South Sumatera. Link: https://www.youtube.com/watch?v=3OXol9Bihe8

Post has attachment
Tanwir merupakan permusyaratan tertinggi kedua setelah Muktamar, diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Diagendakan 24 - 26 Februari 2017, Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode Muktamar 47 Makassar akan menggelar tanwir pertama.

PP Muhammadiyah menetapkan Ambon, Maluku sebagai tuan rumah tanwir Muhammadiyah 2017.

[Follow Instagram/Twitter: @ipmpalembang]

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
IPM Palembang Unjuk Rasa Kecam Penindasan Muslim Rohingya Di Myanmar (SRIWIJAYA-TV)

Post has attachment
Ikatan Pelajar Muhammadiyah Palembang gelar aksi unjuk rasa di Simpang Polda. Dalam aksinya, massa menyuarakan kecaman atas penindasan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar. Dimana tragedi yang menimpa muslim Rohingya menyebabkan sedikitnya 1.200 rumah dibakar dan 150 orang dibunuh secara brutal.

Post has attachment
Palembang – Kolong jembatan Fly Over simpang Polda Sumatera Selatan, Sabtu (3/12) siang, menjadi saksi bisu atas aksi drama yang menampilkan tragedi di Rohingya Myanmar. Drama yang merupakan rangkaian dari aksi penggalamngan dana yang digelar oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Palembang ini, sangat sukses menyaikan kembali kejadian pembantaian umat muslim di kawasan Myanmar yang terjadi beberapa waktu lalu.
Menurut Koordinator aksi IPM Kota Palembang, Muhammad Aditya Salam, aksi yang dilakukan oleh pihaknya tersebut hanyalah untuk menyuarakan keadilan. “Disini kami ingin menyuarakan keadilan dan perdamaian di kaum muslim, saudara kita dari etnis Rohingya di Burma, Myanmar. Ini bukan hanya masalah keagamaan saja tapi sudah menyangkut kemanusiaan,” tegasnya.
Aditya mengungkapkan, dari kabar terakhir  yang diperoleh, ada sebanyak lebih dari 180 muslim yang dibunuh, serta tak kurang dari 346 rumah umat muslim dibakar habis. “Pada tahun 2014 silam, kami telah melaksanakan aksi yang serupa, namun sampai saat ini belum ada tindakan pemerintah menanggapi kasus tersebut. Ini aksi kedua kami, karena tuntutan kami (pada aksi pertama tahun 2014) belum diwujudkan,” terangnya.
Bendahara IPM Kota Palembang ini juga menerangkan, tragedi pendiskriminasian agama ini telah terjadi sejak 1947 silam. “Oleh karena itu, kali ini kami menuntut pemerintah terutama Sumatera Selatan untuk dapat memberikan tempat pengungsian dan tempat pendidikan. Kami juga melakukan aksi pengumpulan dana yang akan disumbangkan untuk etnis Rohingya di Burma, Myanmar melalui Lazismu (Lembaga amil zakat infaq dan sedekah Muhammadiyah),” bebernya.
Sementara itu, Kapolsek Kemuning, AKP Hikmat S menguraikan, untuk pengamanan pihaknya mengerahkan 74 orang personil gabungan. Ia juga mengungkapkan, bahwa pihaknya sudah siap siaga satu jam lebih awal sebelum aksi demontrasi ini berlangsung. “Ini hanya aksi penggalangan dana yang jauh dari aksi brutal, belum lagi karena semua demonstrans adalah pelajar. Kami tetap mengontrol aksi anak agar tidak ter,” pungkasnya.(udi)


Sumber Berita: http://swarapolitika.com/berita-tolong-kami.html

Post has attachment
Palembang, Detik Sumsel - Dengan melantangkan suara Muslim mayoritas bantu muslim minoritas dan takbir Allahu Akbar ratusan pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah kota Palembang ini Sabtu (3/12) ini berjalan kaki dari markas Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jalan Kolonel H Burlian menuju taman Flay Over Simpang Polda untuk melakukan aksi damai.

Aksi damai yang dilakukan ratusan pelajar ini bagian dari solidaritas terhadap etnis muslim rohingya dinegara Myanmar yang terus dibantai oleh militer Myanmar. Tidak hanya melakukan aksi solidaritas, mereka juga mendesak agar pemerintah RI membantu etnis muslim Rohingya dari tindakan kekerasan bahkan sampai dibunuh.

Koordinator Aksi Muhammad Aditya Salam mengatakan aksi damai yang mereka lakukan merupakan bentuk keprihatinan terhadap etnis muslim rohingya yang terus ditindas dan dibunuh hingga saat ini oleh pasukan militer negara Myanmar. Untuk itu hari ini ratusan pelajar IPM juga mendesak empat tuntutan kepada pemerintah RI. " 4 tuntutan kami hari ini kepada pemerintah diantaranya, tegakan hak asasi manusia seadil -adilnya, mendesak pemerintah RI menyediahkan fasilitas pendidikan bagi anak - anak pengungsi Rohingya, mendesak pemerintah menyediahkan tempat pengungsian bagi etnis rohingya di Indonesia, dan mendesak pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomasi dengan negara Myanmar,"ucapnya.

Menurutnya persoalan etnis muslim Rohingya bukan lagi persoalan agama, tetapi lebih kepada persoalan kemanusiaan. Untuk itu kita sebagai manusia memandang nya perlu kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh militer Myanmar segera dihentikan "Apalagi saat ini ratusan ribu pengungsi Rohingya dibeberapa negara di Asia selalu ditolak seperti Singapura dan Malaysia yang menolak kedatangan para pengungsi jadi penderitaan mereka terus bertambah,"jelasnya.

Sementara itu, Eno Pratama salah satu peserta aksi mengatakan dirinya pribadi sangat prihatin dengan kondisi yang dialami etnis muslim rohingya yang terus ditindas dan dibantai oleh militer Myanmar. Terlebih kepada anak - anak yang masih usia pelajar.

"Hari ini kami ingin memerdekakan mereka melalui aksi damai dan untuk menuntut pemerintah RI untuk menegakkan hak asasi manusia kepada dunia internasional, hari ini juga kami menggalang dana kepada pengendara untuk mengulurkan tangan guna membantu etnis muslim rohingya," ucap siswa kelas X Madrasah Aliyah Muhammadiyah Palembang ini. (oj1)

Post has attachment
PELAJAR MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROTES PEMBANTAIAN ROHINGYA

MENARAnews, Palembang (Sumsel) –Sebanyak 200 anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Palembang melancarkan aksi bela Islam (Etnis Rohingya di Burma, Myanmar) di bawah jembatan Fly Over simpang Polda, Sabtu (3/12) siang.
Dalam aksi menyuarakan aspirasinya, 200 pelajar dari jenjang SMP dan SMA yang tergabung dalam IPM Kota Palembang membanjiri ruas persimpangan jalan Jenderal Sudirman dengan jalan R. Sukamto. Aksi demonstrasi yang menuntut akan keadilan dan perdamaian kaum muslim yang minoritas di Burma, Myanmar ini dibarengi dengan penggalangan dana untuk korban ketidakadilam kaum muslim disana.
“Disini kami ingin menyuarakan keadilan dan perdamaian di kaum muslim, saudara kita dari etnis Rohingya di Burma, Myanmar. Terakhir kabar yang kami mendengar beberapa waktu lalu ada 346 rumah muslim dibakar dan 180 lebih muslim yang dibunuh karena tanpa alasan yang jelas. Ini bukan hanya masalah keagamaan saja tapi sudah menyangkut kemanusiaan yang sudah terjadi sejak tahun 1947 silam, dan pemerintah masih belum ada tindakan khusus terkait hal tersebut,” ungkap coordinator aksi demo sekaligus Bendahara Umum Pimpinan Daerah IPM Palembang Muhammad Aditya Salam ditengah riuhnya suara-suara yang meminta keadilan dari para pendemo, Sabtu (3/12).
Diakuinya, pihaknya pernah melancarkan aksi yang sama pada tahun 2014 silam dan sampai saat ini karena masih banyak tuntutan pihaknya yang belum dipenuhi pemerintah maka mereka melancarkan aksinya hari ini. Salah satu tuntutan yang sampai saat ini masih belum terpenuhi adalah rumah singgah dan tempat pendidikan untuk kaum muslim minoritas di Myanmar.
“Ini aksi kedua kami, karena tuntutan kami belum diwujudkan. Selain Aceh, di wilayah Indonesia lainnya tidak ada wadah tempat menampung saudara kita yang mendapat perlakuan tidak manusiawi. Kali ini kami menuntut pemerintah terutama Sumatera Selatan untuk dapat memberikan tempat pengungsian dan tempat pendidikan bagi minoritas muslim di Myanmar yang mendapat perlakuan yang sangat tidak adil,” tegasnya.
Aditya menegaskan, bila tuntutan pihaknya masih belum dipenuhi pemerintah maka pihaknya akan melancarkan aksi berikutnya dengan menggerakkan masa yang lebih banyak dari berbagai elemen. “Dalam aksi demo kali ini kami juga melakukan aksi pengumpulan dana yang akan disumbangkan untuk etnis Rohingya di Burma, Myanmar melalui Lazismu (lembaga amil zakat infaq dan sedekah muhammadiyah),” akunya.
Sementara itu, Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Kemuning AKP. Hikmat S. menguraikan, untuk pengamanan pihaknya mengerahkan 74 orang personil gabungan dari Sabara, Satuan Lalu Lintas dan dari pihak kepolisian Kemuning Sendiri. Diakuinya, pihaknya sudah siap siaga satu jam lebih awal sebelum aksi demontrasi ini berlangsung. “Ini hanya aksi penggalangan dana yang jauh dari aksi brutal, belum lagi karena semua demonstrans adalah pelajar,” pungkas Hikmat. (DNK)

Post has attachment
Palembang – Sebanyak 200 anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Palembang lakukan aksi bela Islam Etnis Rohingya Myanmar, di bawah fly over simpang Polda, Sabtu (3/12) siang.
Ratusan pelajar tersebut penuhi sebagian ruas persimpangan jalan Jenderal Sudirman dengan jalan R. Sukamto. Aksi unjuk rasa yang menuntut akan keadilan dan perdamaian kaum muslim minoritas di Burma, Myanmar ini dibarengi dengan penggalangan dana untuk korban ketidakadilam kaum muslim disana.
“Disini kami ingin menyuarakan keadilan dan perdamaian kaum muslim, saudara kita dari etnis Rohingya di Burma, Myanmar. Terakhir kabar yang kami dengar beberapa waktu lalu ada 346 rumah muslim dibakar dan 180 lebih muslim yang dibunuh tanpa alasan yang jelas. Ini bukan hanya masalah keagamaan saja tapi sudah menyangkut kemanusiaan yang sudah terjadi sejak 1947 dan pemerintah masih belum ada tindakan khusus terkait hal tersebut,” ungkap koordinator aksi demo sekaligus Bendahara Umum Pimpinan Daerah IPM Palembang Muhammad Aditya Salam.
Diakuinya, pihaknya pernah melancarkan aksi yang sama pada  2014 dan sampai saat ini karena masih banyak tuntutan pihaknya yang belum dipenuhi pemerintah maka mereka melancarkan aksinya hari ini. Salah satu tuntutan yang sampai saat ini masih belum terpenuhi adalah rumah singgah dan tempat pendidikan untuk kaum muslim minoritas di Myanmar.
“Ini aksi kedua kami, karena tuntutan kami belum diwujudkan. Selain Aceh, di wilayah Indonesia lainnya tidak ada wadah tempat menampung saudara kita yang mendapat perlakuan tidak manusiawi. Kali ini kami menuntut pemerintah terutama Sumatera Selatan untuk dapat memberikan tempat pengungsian dan tempat pendidikan bagi minoritas muslim di Myanmar yang mendapat perlakuan yang sangat tidak adil,” tegasnya.
Sementara itu, Kapolsek Kemuning AKP Hikmat S. menguraikan, untuk pengamanan pihaknya mengerahkan 74 orang personel gabungan dari Sabara, Satuan Lalu Lintas dan dari pihak kepolisian Kemuning Sendiri. Diakuinya, pihaknya sudah siap siaga satu jam lebih awal sebelum aksi demontrasi ini berlangsung. “Ini hanya aksi penggalangan dana yang jauh dari aksi brutal, belum lagi karena semua demonstrans adalah pelajar,” pungkas Hikmat.(korankito.com/eja)
Wait while more posts are being loaded