Profile cover photo
Profile photo
Mamala Amalatu
15 followers
15 followers
About
Posts

Post has attachment
Halaene yang disebut merupakan putra kedua dari Kapitan Hitu Tepil setelah Ariguna (Mihirjuguna), sebelum Kakiali. Semasa hidupnya menjabat sebagai Hukom di Tanah Hitu, selain menjadi raja Mamala.
Add a comment...

Post has attachment
Pergolakan awal leluhur Tanah Hitu melawan Portugis yang dipimpin oleh Hukom Abubakar Nassidik dan Empat Perdana serta ketujuh Punggawanya (lihat: Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu); menggunakan sistem gerilya ditandai dengan mundur disaat terdesak ke Mamala, Ulu Kolol (Ulu Pokol?) akhirnya ke Luciela (daratan Huamual di sebelah Luhu sekarang). Hukom Abubakar Nassidik kembali ke Tanah Hitu untuk mengkonsolidasikan kekuatan dengan membuat basis pertahanan di bukit Hatunuku.
Add a comment...

Post has attachment
Wilayah Islam antara  VOC dan kimelaha meliputi  Hitu, Hatuhaha dan Ihamahu. Hitu adalah yang paling penting, yang lebih kurangnya merupakan wilayah yang independen.
Add a comment...

Post has attachment
Dalam tahun 1525, barulah orang Portugis mendapat izin membangun sebuah rumah di pantai Hitu sebelah Utara, tepatnya di Hassamuling-tanjung Tetulaing (lokasinya berada di antara Mamala-Hitu). Tetapi, keadaan tersebut menjadi buruk ketika orang Portugis melanggar kedaulatan orang Hitu yakni ketika mereka hendak membangun sebuah benteng dan mengadakan peraturan-peraturan sendiri
Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu
Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu
mamala-amalatu.blogspot.co.id
Add a comment...

Post has attachment
Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya. Pariwisata jenis ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan. Kebudayaan, wisata alam dan wisata petualangan merupakan tiga hal penting yang dimiliki oleh Mamala, selain faktor penunjang ketiga hal tersebut terdapat hal terpenting yang menunjang ketiganya yakni kemudahan dalam jangkauan dari kota Ambon, apalagi setelah terdapat Jembatan Merah Putih.
Add a comment...

Post has attachment
seni budaya negeri Mamala mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan yang pada gilirannya mampu membentuk sikap dan prilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru memantapkan perkembangan sosial, dan sebagai sarana dakwah, seni budaya diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif, ke dalam segala budaya yang dikembangkan.
Ekspresi Budaya Dari Negeri Mamala
Ekspresi Budaya Dari Negeri Mamala
mamala-amalatu.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
Kebudayaan Pukul Sapu / Pukul Manyapu Mamala (Ukuwala Mahiat) telah terkenal luas di Indonesia bahkan di dunia Internasional. Dalam upacara ukuwala mahiat / pukul sapu terdapat makna-makna kearifan budaya lokal yang terlahir dari interpretasi konteks sejarah keagamaan yang dialami oleh komunitas masyarakat negeri Mamala untuk dipentaskan dalam sebuah tradisi adat yang sangat kuat yang diwariskan dari budaya leluhur mereka dan diteruskan untuk generasi berikutnya sampai sekarang Masyarakat negeri Mamala di Kecamatan Leihitu (pulau Ambon) Kabupaten Maluku Tengah
Add a comment...

Post has attachment
Mamala dalam kenangan, mamala dalam sejarah. Daniel dan Banks (1996: 6)  berpendapat: bahwa sejarah adalah kenangan pengalaman umat manusia. Sedangkan Banks berpendirian bahwa semua kejadian di masa lalu adalah sejarah dan sejarah adalah sebagai aktualitas.
Mamala Tempo Doeloe
Mamala Tempo Doeloe
mamala-amalatu.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
Mamala  Amalatu merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan bahwa negeri Mamala yang di maksud adalah negeri Latu (negeri Raja). 
 
Nama Amalatu pada Mamala-Amalatu bukanlah nama yang dimaksud untuk teon negerinya, tetapi lebih berdasarkan pada nama negeri Mamala yang sebenarnya adalah negeri Latu.
 
Add a comment...

Post has attachment
Sebelum Kerajaan Islam berdiri di Pulau Ambon maka yang ada adalah kelompok masyarakat-masyarakat kecil yang sederhana terdiri dari beberapa keluarga saja yang menduduki suatu tempat tertentu. Kelompok kecil ini dikepalai oleh seorang “Upu” atau “Latu” (pemimpin). Dia diakui kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi. Oleh karena kekuatan yang unggul, baik dalam perang maupun dalam masa damai, karena wibawanya dalam memelihara stabilitas keamanan. Dia dibantu dalam urusan pertahanan dan keamanan oleh seseorang yang disebut “Malesi” (Panglima perang) dan dalam urusan keagamaan (keamanan rohani) oleh seorang yang disebut “Mau-Weng” (Imam / dukun) yang mengurus segala hal yang berhubungan dengan masalah kerohanian
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded