Profile

Cover photo
Dian Saputra
Works at tokocamzone.com
Lives in jakarta selatan
5,402 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
Perbedaan prinsip kerja motor AF pada kamera DSLR

Seringkali kita kebingungan saat akan membeli kamera DSLR apalagi bila ini adalah kamera DSLR pertama kita. Berbagai artikel sudah dibaca, namun malah semakin bingung karena tiap kamera seolah adalah kamera yang terbaik. Belum lagi berbagai istilah dan spesifikasi teknis yang membingungkan membuat kita malah akhirnya tidak tahu bagaimana cara memilih kamera yang paling mudah. Disamping mengenali fitur dan keunggulan bermacam kamera, sebenarnya kita juga perlu mengenal perbedaan mendasar mengenai prinsip kerja sistem motor auto fokus sehingga bisa membantu kita untuk membuat keputusan.
Sebagai pembuka, kamera DSLR masa kini yang umum kita jumpai memiliki kesamaan diantaranya memakai sensor CMOS berukuran APS-C, resolusi antara 12-18 MP, sudah bisa merekam video dan dilengkapi dengan lensa kit. Soal kualitas hasil foto justru tidak perlu menjadi beban karena semua kamera DSLR sudah mampu memberi hasil foto yang sangat baik, noise rendah dan kinerja yang cepat. Lalu apa yang menjadi perbedaan prinsip dari beragam merk DSLR yang ada? Auto fokus dan kompatibilitas lensalah jawabannya.
Salah satu kenyamanan dalam memakai kamera DSLR adalah kecepatan dan akurasi auto fokusnya. Kerja auto fokus di kamera sebenarnya sama, yaitu adanya elemen optik yang berputar di dalam lensa untuk mencari fokus terbaik. Putaran pada elemen optik ini dimungkinkan berkat adanya motor fokus yang berukuran kecil. Masalahnya, dengan banyak dan beragamnya lensa DSLR yang ada di dunia ini, produsen terbagi dalam dua metoda dalam mendesain motor yaitu :
motor fokus di lensa
motor fokus di kamera
Bisa dibilang motor fokus di lensa adalah tren dan standar saat ini dan seterusnya. Adanya motor fokus di lensa membuat kamera DSLR tidak perlu memiliki motor fokus tersendiri, sehingga ukuran kamera bisa dibuat lebih kecil. Resikonya, ukuran lensa yang akan menjadi agak lebih besar karena perlu ruang untuk menyimpan motor. Motor di lensa dikendalikan dan ditenagai oleh baterai yang ada di kamera melalui pin kontak yang menghubungkan kamera dan lensa.
Sebaliknya, motor fokus di bodi kamera adalah warisan masa lalu, dipertahankan demi kompatibilitas lensa lama dengan kamera baru. Motor fokus di kamera terhubung ke lensa melalui semacam ‘obeng’ kecil yang menonjol di mount lensa dan ‘obeng’ ini bisa berputar menggerakkan elemen fokus di lensa (khususnya lensa lawas). Auto fokus semacam ini menghasilkan suara yang agak kasar dan kecepatan fokusnya juga kalah dibanding dengan motor di lensa.
Auto fokus DSLR Canon
Canon sejak meluncurkan sistem EOS di tahun 1987 memutuskan untuk menempatkan motor fokus pada lensa. Untuk itu semua DSLR Canon EOS tidak memiliki motor fokus di dalam bodinya. Canon mendesain dua jenis motor untuk setiap lensa Canon, yaitu motor biasa dan motor USM. Motor USM (Ultra Sonic Motor) hadir dengan teknologi tinggi yang lebih mahal, lebih cepat dan lebih halus. Maka itu lensa Canon USM lebih disukai karena kecepatan auto fokusnya. Perhatikan kalau lensa kit Canon umumnya tidak memakai motor USM sehingga pemilik DSLR Canon dengan lensa kit biasanya tergoda untuk mengganti lensanya di kemudian hari guna bisa merasakan kecepatan fokus sesungguhnya dari DSLR. Contoh lensa EF-S 18-135mm IS belum memiliki motor USM, namun lensa EF-S 17-85mm IS sudah dilengkapi dengan motor USM (contoh gambar di bawah).
 
Jadi berita baiknya adalah, kamera DSLR Canon EOS apapun akan bisa auto fokus dengan lensa EOS apapun, hanya kecepatan dan kinerja fokus terbaik didapat pada lensa USM yang relatif mahal.
Auto fokus DSLR Nikon
Nikon memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan Nikon F-mount sejak 50 tahun silam. Artinya lensa Nikon apapun bisa dipasang di kamera DSLR Nikon, meski kompatibilitas auto fokus akan jadi masalah utama disini. Prinsip kerja auto fokus kamera SLR Nikon film sejak tahun 1986 memakai motor AF di bodi, sehingga lensa Nikon AF sudah didesain untuk bisa melakukan auto fokus bila diputar oleh motor fokus pada kamera. Barulah pada tahun 1998 Nikon membuat lensa dengan motor SWM (Silent Wave Motor) yang lensanya kemudian diberi kode AF-S. Bila lensa AF-S dipasang di kamera yang punya motor fokus, maka yang dipakai adalah motor di lensa. Transisi ini membuat Nikon memutuskan melakukan efisiensi desain sejak tahun 2006 saat meluncurkan Nikon D40, yaitu menidakan motor fokus di kamera. Sejak itu, kamera DSLR kelas entry-level dari Nikon tidak memiliki motor fokus. Kamera itu adalah : D40, D40x, D60, D3000, D3100 dan D5000. Kamera-kamera itu bekerja normal dengan lensa AF-S, namun bila dipasang lensa AF (tanpa motor) maka kamera tersebut hanya bisa manual fokus saja.
 
Kabar baiknya, Nikon menerapkan teknologi SWM pada seluruh lensa AF-S nya. Artinya, tidak seperti Canon yang hanya memberi motor USM pada lensa-lensa mahal saja, semua lensa Nikon AF-S bisa merasakan kecepatan auto fokus berteknologi modern yang cepat dan halus. Namun tentu saja, semakin murah lensanya maka semakin sederhana teknologi SWM yang diterapkan oleh Nikon. Maka itu pemilik DSLR Nikon dengan lensa kit (apalagi lensa kit D90/D7000 yaitu AF-S 18-105mm VR) bisa merasakan lensa AF-S dengan fokus cepat dan halus, namun kabar burukya pemilik DSLR Nikon entry level tidak bisa melakukan auto fokus bila memakai lensa Nikon AF yang dibuat sebelum tahun 1998.
Auto fokus DSLR Sony
Sony menjadi pemain yang sangat diperhitungkan sejak mengakuisisi Konica Minolta pada 2006 silam, dan tetap mempertahankan Minolta AF mount (sejak 1985) sebagai mount standar untuk DSLR Sony Alpha. Seperti halnya Nikon, Minolta telah terlanjur memakai auto fokus dengan motor di kamera. Maka itu auto fokus untuk semua lensa Minolta AF akan digerakkan oleh motor di kamera Sony. Sony sendiri ahirnya di tahun 2009 melakukan langkah serupa Nikon yaitu membuat lensa dengan motor fokus yang dinamai SAM (Smooth Autofocus Motor) seperti lensa kit DT 18-55mm f/3.5-5.6 SAM. Namun Sony sadar akan koleksi lensa SAM yang masih sedikit sehingga tidak begitu saja menghilangkan motor fokus di bodi kamera, sehingga kamera Sony Alpha tipe apapun tetap memiliki motor AF di dalamnya (dengan tanda ada tonjolan ‘obeng’ di bagian bawah mount seperti gambar di bawah). Kamera Sony Alpha tipe lama perlu melakukan upgrade firmware untuk bisa melakukan auto fokus memakai lensa SAM.
 
Catatan tambahan, Sony menjadi satu-satunya produsen DSLR yang inovatif dalam mencari terobosan auto fokus yang cepat saat live view dan saat merekam video. Maka itu beberapa kamera Sony Alpha didesain memiliki dua sensor untuk auto fokus cepat saat live view, dan memiliki cermin transparan untuk merekam video dengan auto fokus cepat seperti Sony A33 dan A55.
Auto fokus DSLR Pentax
Pentax dan Nikon memiliki kesamaan dalam sejarah fotografi yang panjang, meski Pentax kalah dalam jumlah koleksi lensanya. Namun lensa Pentax yang jumlahnya sedikit ini umumnya memiliki kualitas yang sangat baik dan cocok untuk outdoor. Pentax dengan K-mount sejak tahun 1975 berupaya mendesain sistem auto fokus yang berulang kali mengalami revisi hingga versi K-AF2 barulah dianggap versi standar auto fokus lensa Pentax yang digerakkan oleh motor di kamera. Maka itu seperti Nikon dan Sony, Pentax pun memiliki ‘obeng’ di bagian mount-nya.
 
Seperti halnya Sony, Pentax akhirnya ikut terjun mendesain lensa dengan motor fokus bertenaga gelombang dengan meluncurkan lensa SDM (Silent Drive Motor) yang kerjanya lebih cepat dan lebih halus. Hanya ada sedikit lensa Pentax dengan tipe SDM, sehingga Pentax tetap mempertahankan motor fokus di kamera untuk seluruh kamera DSLRnya. Kamera Pentax sejak K100D dan K10D (dengan update firmware) bisa mengenali lensa SDM dan memutar motor fokus di lensa SDM tersebut. Lensa SDM sendiri tetap didesain untuk bisa kompatibel dengan motor fokus di bodi, kecuali lensa DA 17-70mm and DA* 55mm f/1.4.
Kesimpulan
Canon EOS menjadi satu-satunya pemain DSLR yang tidak memiliki motor fokus di bodi. Semua lensa Canon sudah memiliki motor AF sejak 1987 namun hanya sebagian yang memiliki motor USM. Di lain pihak, Nikon-Sony-Pentax masih mempertahankan adanya motor fokus di kamera guna bisa auto fokus dengan lensa lama. Nikon memutuskan menghilangkan motor fokus di kamera entry-level, namun dikompensasi dengan banyaknya pilihan lensa AF-S. Semua lensa AF-S Nikon sudah memakai motor SWM. Sony dan Pentax lebih bermain aman dengan membiarkan semua kameranya tetap memiliki motor fokus di bodi, sambil perlahan memperbanyak pilihan lensa dengan motor SAM (Sony) atau SDM (Pentax). Mengingat di masa depan semua lensa semestinya akan punya motor fokus, maka kamera masa depan rasanya tidak lagi perlu punya motor fokus. Mungkin Nikon (disusul Sony dan Pentax) perlahan akan mengikuti jejak Canon dengan mengandalkan auto fokus hanya pada lensa. Hal yang sama sudah berlaku di kubu kamera mirrorless seperti format micro Four Thirds (Olympus dan Panasonic), Samsung NX, Sony NEX yang semuanya mengandalkan motor AF di lensa.
Sumber: kamera –gue.web.id
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
TENTANG KODE ERROR PADA KAMERA DSLR CANON
Kamera digital khususnya DSLR adalah peranti yang rumit, gabungan antara mekanik, optik dan elektronik yang bekerja bersama-sama untuk menghasilkan gambar digital. Adakalanya hal-hal tidak berjalan dengan semestinya dan kamera menunjukkan adanya error di layar LCD, biasanya diikuti dengan kamera tidak bisa dipakai memotret. Khusus untuk DSLR Canon, kode error disertakan untuk mengidentifikasi masalahnya, walau bagi pengguna kode-kode ini hanya angka yang tidak dipahami apa maksudnya. 
Berikut sedikit ulasan mengenai kode error pada canon DSLR
Kode error umum :
• Err 01: Lens to body communication error

Komunikasi lensa dan kamera entah mengapa bisa jadi bermasalah, misal  di dalam lensa itu sendiri, mungkin bodi kamera, atau sesuatu yang sederhana seperti sidik jari luntur pada pin kontak data di mount lensa. Bila error terjadi, kamera tidak bisa mengenal lensa yang dipasang apalagi membaca informasi pengukuran jarak dari lensa.
• Err 02: Memory card error
Ada masalah dengan komunikasi antara kamera dan kartu memori (sekali lagi, bisa jadi di dalam kamera, atau kartu), atau kamera telah mendeteksi kesalahan yang berbeda dengan kartu tertentu.
• Err 04: Card full
Kamera mendeteksi bahwa tidak ada ruang yang tersedia untuk penyimpanan gambar pada kartu memori. Bisa jadi memang kartunya penuh, atau entah kenapa ruang kosong yang ada di kartu tidak terbaca oleh kamera.
• Err 05: Built-in flash obstruction
Kamera dengan built-in flash bisa mengalami error seperti ini, misal ada sesuatu yang menghalangi flash terbuka ke atas atau faktor lain.
• Err 06: Self-cleaning  sensor malfunction
Ada masalah dengan sistem mekanisme pembersihan debu pada sensor dengan cara menggetarkan sensor. Mungkin mekaniknya sudah lemah akibat terlalu sering melakukan proses sensor cleaning.
• Err 99: Kode ‘klasik’ untuk masalah yang tidak spesifik
Error 99 merupakan pesan kesalahan yang mungkin paling sering dialami para pemilik Canon di seluruh dunia. Pesan ini tidak memberi informasi spesifik tentang apa yang sedang terjadi dan sebaiknya dikonsultasikan dengan servis resmi Canon terdekat.
Kode error khusus :
• Kode berikut ini lebih spesifik dan mulai digunakan pada kamera DSLR Canon modern, dengan tujuan membantu mengetahui lebih detil bagain apa yang sedang terganggu.
• Err 10: file malfunction
Kamera menemukan  kesalahan dalam file yang ditulis (atau berusaha untuk ditulis) ke kartu memori.

• Err 20: mechanical malfunction
Kemungkinan gangguan mekanik ada di komponen cermin (yang bergerak naik turun), shutter atau bukaan diafragma lensa.
• Err 30: Shutter malfunction

• Shutter unit yang macet
Berbeda dengan Err 20, yang satu ini  menunjukkan masalah dengan shutter unit … itu bisa berupa masalah mekanis (shutter macet karena usia pakai), atau semacam kesalahan komunikasi elektronik antara kamera dengan shutter unit.
• Err 40: power source malfunction
Sebuah kesalahan internal dalam mendapatkan daya dari baterai untuk beberapa bagian dari kamera telah terdeteksi. Kemungkinan besar, itu bukan sekedar baterai yang lemah, lebih cenderung pada indikasi baterainya bermasalah.
• Err 50: electronic control malfunction
Kebalikan dari error mekanik, kode ini menyatakan ada masalah dengan elektroniknya. Ini rumit, karena mungkin pada prosesor atau sirkuit elektronik kamera.
• Err 70: Image malfuction
Sesuatu yang berhubungan dengan data yang sedang ditulis ke kartu memori terdeteksi  bermasalah  … ini mungkin bukan kesalahan memori kartu yang sederhana, walaupun tentu saja yang tidak dapat dikesampingkan.
• Err 80: electronic control or image malfunction
Error ini juga berhubungan dengan elektronik dan gambar, namun lebih spesifik pada kendali elektronik seperti roda, tuas atau tombol.
Apa yang harus Anda lakukan?
Pertama, ingat bahwa masalahnya mungkin hanya terjadi sekali dua kali, entah mengapa lalu setelah itu normal kembali. Jika Anda keluarkan baterai kamera selama beberapa detik, dan kemudian dipasang kembali,  pada dasarnya itu adalah booting ulang kamera - seperti restart komputer, kadang-kadang bisa berhasil. Jadi secara umum, ini adalah langkah awal yang harus dilakukan  jika Anda menemukan pesan kesalahan.
Bila masalah tetap berulang, jangan coba perbaiki sendiri. Bawalah kamera ke servis resmi dengan menceritakan error yang terjadi, upaya yang telah anda lakukan, dan siapkan kartu garansi bila masih dalam masa garansi.
Demikian info yang bisa kami berikan semoga ada manfaatnya bagi pengguna kamera DSLR…
Sumber: http://kamera-gue.web.id
Sumber asli: 
http://www.learn.usa.canon.com/resources/articles/2012/eos_error_msgs.shtml
http://www.canon.co.uk/Support/Consumer_Products/products/cameras/Digital_SLR/index.aspx
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 

Duo andalan baru Olympus Pen E-P5 dan E-PL6
Olympus melakukan regenerasi rutin pada dua kamera mirrorless kompak mereka yaitu di seri Olympus Pen dengan menghadirkan E-P5 dan di seri Olympus Pen Lite dengan E-PL6. Kedua kamera meski masih memakai sensor yang sama yaitu Four Thirds 16 MP namun lebih disempurnakan dalam fitur dan kinerja. Untuk E-PL5 sendiri sudah memiliki fitur Wi-Fi didalamnya. Kematangan Olympus dalam membuat kamera mirrorless semakin terlihat di kedua produk ini.

E-P5
Inilah kamera retro dengan ukuran kompak yang kinerja dan fiturnya tak kalah dengan kamera DSLR, bahkan yang kelas canggih sekalipun. Sebut saja misalnya kecepatan shutter hingga 1/8000 detik, bisa 9 fps burst dan kendali eksternal yang berlimpah. Kamera ini juga lengkap termasuk ada lampu kilat built-in hingga fitur Wi-Fi. Layar sentuhnya juga bisa dipakai untuk memilih titik AF hingga memotret.

E-PL6
Kamera seri Pen Lite merupakan versi ‘terjangkau’ dari kamera seri Pen Olympus, dengan mempertahankan desain yang tetap retro. Kini E-PL6 hadir dengan beberapa peningkatan seperti low ISO, shutter lag lebih singkat, interval timer dan time lapse. Dibanding E-P5, maka kamera ini kalah dalam hal stabilizer yang tidak sehebat E-P5 (E-P5 memakai 5 axis IS), tidak ada flash built-in dan tidak ada WiFi. Tapi layar sentuh di E-PL6 ini juga bisa dipakai untuk memilih titik AF dan memotret.

Kedua kamera ini sudah memiliki fitur Art Filter yang berlimpah khas Olympus. Selain itu berbagai pilihan lensa Micro Four Thirds dari Olympus dan Panasonic bisa dipilih untuk mendampingi kamera dengan crop factor 2x ini.
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
Sejarah Kamera Video

Sejarah kamera video bisa dikatakan merupakan keberlanjutan dari sejarah penemuan kamera foto. Awalnya, penelitian mengenai Efek Pressistence of Vision. menimbulkan banyak pernelitian dan penemuan-penemuan. Alat yang pertama kali dibuat berbentuk cakram yang di pinggirnya terdiri dari gambar-gambar yang berurutan. Di sela-sela gambarnya, dibuat lubang untuk mengintip. Ketika cakram itu diputar pada porosnya menghadap cemin, kita dapat melihat melalui lubang di antara gambar tersebut, timbullah efek Pressistence of Vision ini. Gambar berurutan tersebut seolah-olah bergerak.
Tahun 1830, munculah yang disebut zoetrope, benda berbentuk silinder dengan ruang kosong dengan gambar yang digambar oleh tangan di permukaan dalamnya. Saat diputar, menimbulkan efek gerakan yang sama. Tahun 1870, seorang penemu dari Prancis, Emile Reynaud menambahkan cermin di tengah ruang silinder tersebut. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan versi proyeksinya. Yaitu dengan menambahkan reflektor cahaya dan lensa untuk memperbesar gambar pada layar. Tahun 1892, ia melakukan demonstrasi di Optique Theatre, Paris dengan menggunakan ratusan gambar tangan hingga menimbulkan efek gambar bergerak selama 15 menit.
Prinsip efek ini, pada kemudian hari digabungkan dengan prinsip fotografi kala itu dianggap yang mampu merekam gambar secara nyata. Salah satu eksperimen yang paling terkenal adalah pada tahun 1870 di California, Amerika. Saat seorang pengusaha Rel kereta sekaligus presiden Central Pacific Company, Leland Standford (1824-1894) menyewa fotografer Inggris Edweard Muybridge, untuk membuktikan mengapa kuda yang berlari tidak pernah menginjakkan keempat kakinya ke tanah (saat kuda berlari, meski memilki 4 kaki, namun suara tepakan kuda hanya terdengar 3 kali saja). Muybridge menggunakan 12 set kamera foto sepanjang track balap kuda, dengan tombol shutter yang saling berkaitan. Foto yang didapat menunjukan kuda yang melangkahkan ke empat kakinya dari tanah. Rangkaian foto Muybridge ini kemudian diproyeksikan melalui sebuah alat bernama zoopraxiscope.

Gambar zoopraxiscope
Berdasarkan penemuan Muydbridge tersebut kemudian, Etienne-Jules Marey (1830-1904), Penemu dari Prancis, menciptakan chronophotographs, sebuah kamera film modern pertama yang menggunakan pinsip roll film. Alat ini dapat merekam beberapa gambar sekaligus dalam satu satuan waktu (60 gambar per detik). Alat ini menjadi yang pertama yang dapat merekam gerakan slow motion. Marey menggunakannya untuk mengamati sistem gerak makhluk hidup.
George Eastman, tahun 1885, seorang penemu dari Amerika sekaligus seorang Philiantropist memproduksi Roll Film Pertama. Ia juga yang kemudian menciptakan Kodak Camera, yaitu kamera khusus pertama yang menggunakan Roll Film tersebut pada 1888. Hingga tahun 1889, rol film tersebut yang semula menggunakan Sensitized Paper diganti dengan menggunakan Celluloid Film.
Thomas Alva Edison, di laboratoriumnya West Orange, New Jersey, Amerika, mempekerjakan William k. L. Dickson untuk membuat alat perekam film dan sebuah alat untuk menampilkan rekaman tersebut. Beberapa waktu kemudian, Dickson menciptakan sebuah alat perekam gambar bergerak yang dinamakannya Kinetograph dan alat untuk melihat hasil gambar yaitu Kinetoscope.
Di Prancis, Auguste Lumiere (1862-1954) and Louis Lumiere (1864-1948), pada tahun 1895 menemukan kamera film yang juga kemudian dapat diproyeksikan pada layar lebar. Perbedaan dengan kamera miliki Edison, kamera Lumiere lebih kecil dan praktis, membutuhkan lebih sedikit film, lebih tidak bising, dan mampu merekam gambar bergerak lebih halus daripada milik Edison. Alat ini mereke namakan Cinématographe. Pada tahun yang sama bulan November, di Jerman, Emil and Max Skladanowsky juga melakukan demonstrasi proyeksi film di Berli, dan di Inggris, sebuah alat ciptaan Birt Acres and Robert W. Paul memperoyeksikan gambar bergerak di London. Tahun 1896 diciptakan Vitascope oleh Charles Francis Jenkins and Thomas Armat seorang penemu dari Amerika. Alat ini didemonstrasikan pada April 1896 di New York.
Namun, dari sekian banyak penemuan film, Lumiere memiliki tempat tersendiri karena selain menciptakan alat, mereka juga merupakan seorang filmmaker yang produktif pada masanya. Hal ini ditandai dengan banyaknya film yang mereka buat pada kisaran tahun 1895 – 1896.
1920 an merupakan awal kemunculan film bersuara. Dahulu, seorang aktor dan pembuat film kesulitan untuk merekam suara selain karena bisingnya suara kamera, penempatan mikrofon yang masih berukuran besar kala itu membuat gerakan aktor film tidak bisa leluasa. Kemudian, teknologi kamera film yang makin sempurna semakin mereduksi kekurangan tersebut. Selain mekanisme yang semakin halus, kamera film dilengkapi chasing yang mampu meredam suara berisik mesin di dalamnya. Selain itu, ditemukannya sebuah cara merekam suara tanpa harus kesulitan menyembunyikan mikrofon di dekat aktor, yaitu dengan menggantungkan mic atau yang biasa disebut boom.
Adalah Rouben Mamoulian, seorang sutradara asal Amerika pada tahun 1929 mendemonstrasikan bermacam-macam jenis suara dalam sebuah film. Inilah yang kemudian mendorong para filmmaker membuat film bersuara.
Kamera film pertama yang menggunakan separasi warna. Technicolor Camera yang ditemukan tahun 1932 ini menggunakan prinsip “Three-strip” yaitu membagi gambar ke dalam 3 warna primer yakni merah, kuning, biru (magenta, cyan, yellow). Kamera inilah yang menjadi alat produksi film fullcolor menggunakan prinsip “three strip” pertama berjudul La Cicharaca (1935).
Demikian ulasan kami semoga bermanfaat untuk kita semua… =D

Sumber: bengkelkomunikasi.blogspot.com
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
Nikon Corporation (Nikon, Nikon Corp.) adalah sebuah perusahaan Jepang mengkhususkan dalam bidang optik dan gambar. Produknya termasuk kamera, teropong, mikroskop, alat pengukur. Perusahaan ini didirikan pada 1917 sebagai Nihon (Nippon) Kōgaku Kōgyō; kemudian berganti nama, atas nama kameranya, pada 1988. Pada 2002, ia memiliki 14.000 tenaga kerja. Nikon adalah salah satu dari perusahaan Mitsubishi.

Produk terkenalnya adalah lensa kamera Nikkor, kamera dalam air Nikonos, kamera profesional seri Nikon F, dan digital kamera Nikon seri-D.

Saingan utama Nikon termasuk Canon, Minolta, Leica, Pentax, dan Olympus.

Nikon Corporation didirikan pada 25 Juli 1917 ketika tiga produsen optik terkemuka bergabung untuk membentuk sebuah perusahaan, komprehensif optik terintegrasi yang dikenal sebagai Nippon Kogaku Tōkyō KK Selama enam puluh tahun berikutnya, perusahaan ini berkembang menjadi produsen lensa optik (termasuk untuk kamera Canon pertama) dan peralatan yang digunakan dalam kamera, teropong, mikroskop dan peralatan inspeksi. Selama Perang Dunia II perusahaan tumbuh ke sembilan belas pabrik dan 23.000 karyawan, penyediaan barang-barang seperti teropong, lensa, pemandangan bom, dan periskop dengan militer Jepang.

1917.
Nippon Kogaku K.K., atau Japan Optical Co. didirikan sebagai hasil merger dari tiga firma optic kecil. Mereka menghasilkan produk-produk optis seperti mikroskop, teleskop, dan alat-alat pengukuran optis bagi industri dan ilmu pengetahuan.

1932.
Nikkor pertama kali dimunculkan sebagai produk lensa fotografi yang bervariasi mulai dari jarak 50mm sampai 700mm.

1937.
Melengkapi desain untuk lensa 50mm f4.5, 3.5, dan 2.0. Nikkor muncul sebagai perlengkapan asli bagi Hansa Canon yang keluar di tahun yang sama. Nippon Kogaku sebenarnya memproduksi
semua lensa bagi Canon sampai pertengahan 1947.

1948.
Kamera Nikon I diluncurkan. Pengembangan produknya sendiri dimulai sejak 1945. Banyak nama yang diusulkan seperti BENTAX, PANNET, NICCA, NIKKA, NIKORET, NIKO and NIKKORETTE. Ketika
akhirnya NIKKORETTE yang diputuskan sebagai nama fi nal, nama tersebut berubah kembali menjadi NIKON persis sebelum desain final dihasilkan.

1957.
Untuk menghasilkan yang terbaik, ahli teknisi Nikon mencari ke seluruh dunia untuk ide dan solusi yang terbaru. Leica saat itu adalah pemimpin di kamera rangefi nder 35mm dan banyak produsen kamera mencoba untuk menirunya. Nikon memberanikan diri untuk mencoba memperbaikinya. Setelah berbagai percobaan, Nikon SP akhirnya dirilis di bulan September. Diikuti leh S3 di Maret 1958 dan S4 di Maret 1959.

1959
Pada bulan Mei 1959, kamera Nikon SLR yang pertama, Nikon F, diperkenalkan dan dengan cepat
menjadi standar tak tertulis bagi para fotojurnalis serta fotografer profesional lainnya. Dalam memperkenalkan seri F, dengan viewfi nder yang dapat diganti-ganti, layer focus, dan lensa-lensanya, Nikon melewati Leica sebagai pemimpin baru di dunia kamera.

1971
Nikon F2 secara mudah menjadi kamera impian. Ia memiliki semua yang dibutuhkan oleh fotografer profesional pada sebuah kamera SLR yang mampu dibeli. Juga memiliki bentuk yang cantik dan fi tur yang menawan.

1983.
Kamera compact dengan autofocus pertama Nikon, L35AF, dipasarkan.

1992.
Nikonos RS, kamera bawah laut SLR yang pertama di dunia, dipasarkan.

1997.
Kamera digital Nikon COOLPIX 100 dipasarkan.

1999.
Kamera digital SLR profesional Nikon D1 dipasarkan.

2005.
Nikon D2X digital SLR camera dipasarkan Nikon D2HS digital SLR camera dipasarkan.

Referensi 
http://orowsis.wordpress.com/2010/10/06/sejarah-nikon/
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=172053919
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
Bermacam pilihan ‘Picture Style’ pada kamera digital
By kamera-gue
Keuntungan era fotografi digital salah satunya adalah kemudahan untuk mengolah secara digital setiap foto yang dihasilkan oleh kamera, bahkan sebelum foto diambil kita sudah bisa menentukan akan dibuat seperti apa ‘gaya’ yang kita sukai, misalnya seberapa tajam, seberapa kontras dan seberapa pekat warna yang akan kita inginkan. Hal semacam ini dinamakan ‘Picture Style’ (tiap kamera mungkin akan berbeda istilah) dan semestinya kita bisa memakai fasilitas ini dengan baik supaya meminimalisir pengolahan foto di komputer nantinya (olah digital).
Kamera digital biasa seperti kamera saku, tidak banyak memberi keleluasaan kita untuk menentukan dan memodifikasi parameter pengolahan foto. Umumnya mereka hanya memberi beberapa opsi dasar seperti Standar, Vivid dan Natural. Pada kamera yang lebih canggih (prosumer atau DSLR)  membolehkan kita untuk memaksimalkan hasil olahan foto sehingga bagi yang tidak mau repot mengolah di komputer, foto hasil jepretan kita bisa langsung dipamerkan atau dicetak.  Pilihan yang disediakan kamera untuk mengolah foto pada dasarnya hanya merubah beberapa parameter dasar berikut ini :

Sharpening (ketajaman) : trik manipulasi digital untuk membuat gambar tampak lebih tajam
Contrast (kontras) : seberapa lebar perbedaan antara area terang dan gelap dari sebuah gambar
Saturation (kepekatan warna) : seberapa pekat warna dalam sebuah gambar
Brightness (keterangan) : pengaturan tingkat keterangan / kecerahan dari sebuah gambar
Hue (tonal warna) : pergeseran warna untuk pengaturan akurasi warna yang lebih presisi
Dari lima parameter pengaturan di atas bisa dihasilkan berbagai kombinasi yang bisa disesuaikan untuk bermacam kebutuhan, maupun selera si fotografer. Untuk mengakomodir beberapa kondisi umum, pihak produsen kamera sudah menyediakan preset yang sudah dioptimalkan untuk :

Standard : hasil foto dengan ketajaman, kontras dan saturasi yang dinaikkan sampai batas yang bisa diterima secara umum (pilihan ini juga menjadi style default dari kamera)
Portrait : dioptimalkan untuk menghasilkan tonal kulit manusia lebih akurat, brightness di set lebih tinggi dengan ketajaman yang cenderung kurang (agak soft) guna mencegah kerutan atau jerawat di wajah terlalu tampak jelas
Landscape : dioptimalkan untuk foto pemandangan dengan ekstra ketajaman dan ekstra kontras dan ekstra peningkatan warna di daerah hijau dan biru sehingga foto pemandangan nampak lebih ‘hidup’
Vivid (hanya di Nikon) : meningkatkan kepekatan warna menjadi lebih kuat daripada warna aslinya, juga meningkatkan ketajaman dan kontras untuk hasil foto yang lebih ‘berwarna’
Neutral : hasil foto tidak diolah, semua kendali dibuat flat sehingga memudahkan untuk diolah lagi di komputer
Faithful (hanya di Canon) : hampir seperti Standard namun kamera berusaha menjaga warna tetap se-alami warna aslinya (kalau di standard saturasi warna sudah lebih ditingkatkan)
Monochrome : dengan menghilangkan elemen warna, didapatlah foto dengan gradasi warna hitam putih (grayscale) untuk kebutuhan tertentu, dimana ketajaman dan kontras akan berpengaruh pada nuansa hitam putih yang ingin ditonjolkan.
Bila ingin melihat pengaturan yang ada dalam bentuk grafik dua dimensi bisa juga mengakses menu grid, nantinya muncul grafik dengan sumbu vertikal mewakili kontras (semakin ke atas semakin kontras) dan sumbu horizontal mewakili saturasi (semakin ke kanan semakin berwarna). Contoh untuk DSLR Nikon adalah seperti di bawah ini :



Kamera modern bahkan membolehkan kita untuk memodifikasi lagi preset yang sudah dibuat, juga menyediakan beberapa custom style yang bisa disimpan untuk kondisi khusus. Bila mau, kita juga bisa membuat berbagai style melalui aplikasi komputer, misalnya Canon punya Picture Style Editor dan Nikon juga punya Picture Control Utility. Kini bahkan sudah banyak dijumpai seseorang yang membuat sendiri sebuah pengaturan Picture Style lalu dibagikan bahkan diperjualbelikan, cukup dengan mendownload atau di copy di memory card maupun melalui komputer yang tersambung ke kamera (misal dengan EOS Utility). File untuk Canon berekstensi .pf2 dan untuk Nikon adalah .ncp dan berukuran sangat kecil (di bawah 100 byte saja).
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
mini workshop di tokocamzone bandung...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dian Saputra

Shared publicly  - 
 
READY NOW..!!
1
Dian Saputra's profile photo
 
ready now..!!
Add a comment...
People
Work
Occupation
tokocamzone
Skills
IT
Employment
  • tokocamzone.com
    IT, 2013 - present
Basic Information
Gender
Male
Looking for
Friends, Dating, A relationship, Networking
Relationship
Single
Other names
Ario Taen
Links
Contributor to
Story
Tagline
Whe e ew ^_^
Introduction
Tentang
Butuh kamera digital? Kamera handycam? Juga berbagai macam aksesoris kamera seperti battery, charger, filter, kabel, lensa, memory card, flash disk, card reader, tas kamera, tripod, ballhead,monopod dan aksesoris studio? Jangan ragu untuk hubungi kami.
Keterangan
Cabang Fatmawati
ITC FATMAWATI, Lt.2 No.37A, Jakarta Selatan 12150
Telp : (021) 7246835, 72792613, 68664901
0812-19857539, 
0857-78750114, 
sms : 0813-17587662 
Fax : 72792618 

Cabang Kemang
Jl. Kemang Raya No. 49F Jakarta Selatan
Telp : 021.7190432
021.71793567
Fax : 021.7183362

PIN BB: 260748CC
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
jakarta selatan
Contact Information
Home
Phone
081210181316
Mobile
085774841241