Profile

Cover photo
Ibnu Toha
Works at Annajah Digital
Attends Stain Al-Khairat
Lives in Sumenep
1,574 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Ibnu Toha

Shared publicly  - 
 
TERJEMAH ALFIYAH IBNU MALIK BAB NAAIBUL FAA'IL BAIT 10

ولا ينوب بعض هذي إن وجد # في اللفظ مفعولّ به وقد يرد

Sebagian dari lafazh ini (zhorof, masdar dan jar-majrur, lihat Bait sebelumnya) tidak boleh menjadi Naibul-Fa'il jika didapati ada lafazh Maf'ul Bih. Dan terkadang ditemukan (dari Kalam Arab) membolehkannya.

KETERANGAN:

Apabila pada suatu kalam berkumpul beberapa lafazh yg layak dijadikan Naibul Fail, seperti Maf'ul Bih, Masdar, Zhorof dan Jarmajrur, maka yg berhak menjadi Naibul Failnya adalah MAF'UL BIH.

Contoh:

ضرب زيد ضربا شديدا يوم الجمعة أمام الأمير في داره

DHURIBA ZAIDUN DHORBAN SYADIIDAN YAUMAL-JUM'ATI AMAAMAL-AMIIRI FII DAARIHI = ZAID dipukul dengan pukulan yg keras pada hari Jum'at di depan Ketua di rumahnya.

Dalam hal ini terdapat perbedaan antara Ulama Nuhat :

1. Nahwu Bashrah selain Al-Akhfash " wajib menetapkan Maf'ul Bih sebagai Naibul-Fa'il"
2. Nahwu Kufah: "boleh secara Muthlaq"
3. Madzhab Al-Akhfash: "boleh jika disebut sebelum Maf'ul Bih"
http://nahwusharaf.wordpress.com/terjemah-alfiyah-ibnu-malik/bab-naibul-fail/
 ·  Translate
1
Wahyu Arif's profile photo
 
Isim Mausulnya di bahas di mana Ustadz?
 ·  Translate
Add a comment...

Ibnu Toha

Shared publicly  - 
 
Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online. Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning
 ·  Translate
1
Ibnu Toha's profile photoAhmad Furqon's profile photom tanzilul furqon's profile photo
4 comments
 
Afwan... ane ikut buka blognya ya ustadz... bog antum sangat bermanfaat sekali... :)
 ·  Translate
Add a comment...

Ibnu Toha

Shared publicly  - 
 
 
ALFIYAH BAB NAAIBUL FAA'IL BAIT 9

وقابلّ من ظرفٍ أو من مصدر # أو حرف جرٍّ بنيابة ٍ حري
Lafazh yang dapat menerima pergantian (sebagai Naibul Fa'il) yg berupa Zhorof, Masdar atau Jar-Majrur, adalah layak (dijadikan Naibul Fa'il).

KETERANGAN:

Disebutkan pada bait pertama bahwa Maf'ul Bih menggantikan Fa'il yg tidak dihadirdkan, yakni sebagai Naibul Fa'il. Selain Maf'ul Bih ada lagi lafazh serupanya yg layak dijadikan Naibul Fa'il, yaitu Zhorof, Masdar dan Jar-Majrur , dengan ketentuan memenuhi syarat sebagai pengganti:

Syarat lafazh ZHOROF yang layak dijadikan Naibul Fa'il adalah harus Mutashorrif dan Mukhtash:

1. MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari lafazh yg khusus dinashobkan sebab Zhorfiyah saja semisal "SAHARO", dan atau boleh majrur hanya oleh huruf MIN saja semisal "'INDAKA".
Sebab kalau dijadikan Naibul-Fa'il, maka akan menjadi Rofa' dan ini menyalahi ketentuan Bahasa Arab yg telah memberlakukan khusus semisal pada dua lafazh tersebut diatas.

2. MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, atau sebagainya.

Contoh:
صيم يومُ الخميس
SHIIMA YAUMUL KHOMIISI = hari kamis dipuasakan (puasa kamis)
Lafazh YAUMU mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab mudhaf.

جُلس وقتٌ طويل
JULISA WAQTUN THOWIILUN = waktu yg panjang didudukkan (duduk lama)
Lafazh WAQTUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati.

صيم رمضانُ
SHIIMA ROMADHOONU = bulah Ramadhan dipuasakan (puasa ramadhan)
Lafazh ROMADHOONU mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab 'Alamiyyah/Isim 'Alam.

=====

Syarat lafazh MASDAR yang layak dijadikan Naibul Fa'il, juga harus Mutashorrif dan Mukhtash:

1. MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari lafazh yg khusus dinashobkan sebab Masdariyah saja semisal "SUBHAANALLAHI" dan "MA'AADZALLAAHI".
Sebab kalau dijadikan Naibul-Fa'il, maka akan menjadi Rofa' dan ini menyalahi ketentuan Bahasa Arab yg telah memberlakukan khusus semisal pada dua kalimat tersebut diatas.

2. MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, atau sebagainya, yg dapat menunjukkan bilangannya atau jenisnya.

Contoh:
قرئ قراءةٌ صحيحة
QURI'A QIROO'ATUN SHOHIIHATU = bacaan yg benar telah dibacakan
Lafazh QIROO'ATUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati yg menunjukkan jenisnya.

ضُرب ضربٌ واحد
DHURIBA DHORBUN WAAHIDUN = satu pukulan telah dipukulkan
Lafazh DHORBUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati yg menunjukkan bilangannya.

جُلس جلوسُ الخائف
JULISA JULUUSUL-KHOO'IF = duduknya orang takut telah didudukkan (duduk gelisah)
Lafazh JULUUSUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab mudhaf yg menunjukkan jenisnya.

=====

Syarat JAR-MAJRUR yang layak dijadikan Naibul Fa'il adalah huruf JAR MUTASHORRIF, MAJRUR MUKHTASH dan JAR GHAIRU TA'LIL

1. JAR MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari huruf Jar yg khusus men-Jar-kan lafazh tertentu, semisal "MUDZ/MUNDZU" khusus menjarkan pada isim zaman, "RUBBA" khusus menjarkan pada isim nakirah, "HURUF QOSAM" khusus menjarkan pada lafaz sumpah. Dan sebagainya.

2. MAJRUR MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh majrur yg MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, dimakrifatkan atau sebagainya.

3. JAR GHAIRU TA'LIL (sebab/alasan), yakni bukan terdiri dari huruf Jar yg menunjukkan ta'lil/sebab alasan, semisal "huruf LAM", "huruf BA'", "MIN" oleh karenanya menurut jumhur nuhat Maf'ul Liajlih tidak layak dijadikan Naibul Fa'il.

Contoh:
جُلس في المسجد الجامع
JULISA FII AL-MASJIDIL-JAAMI' = masjid jami'/masjid yg besar diduduki
Lafazh FII huruf jar yg mutashorrif, lafazh AL-MASJIDI mukhtash sebab disifati. JAR-MAJRUR mahal rofa' sebab Naibul Fail, atau MAJRUR mahal rofa' dan huruf JAR zaidah.

فُرح بانتصار المسلمين
FURIHA BI INTISHOORI AL-MUSLIMIINA = kemenangan Muslimin digembirakan
Lafazh BI huruf jar yg mutashorrif, lafazh INTISHOORI mukhtash sebab mudhof. JAR-MAJRUR mahal rofa' sebab Naibul Fail, atau MAJRUR mahal rofa' dan huruf JAR zaidah.
 ·  Translate
3
Add a comment...

Ibnu Toha

Shared publicly  - 
 
 
ALFIYAH IBNU MALIK BAB FAA'IL BAIT KE 5


وَيَرْفَعُ الْفَاعِلَ فِعْلٌ أضْمِرَا كَمِثْلِ زَيْدٌ فِي جَوَابِ مَنْ قَرَا
Kalimah Fi’il yg tersimpan merofa’kan Faa’il, adalah semisal contoh : “ZAIDUN” (takdirannya QORO-A ZAIDUN = Zaid membaca) pada jawaban pertanyaan: MAN QORO-A? = siapa yg membaca?

Faa’il ada yg dirofa’kan oleh Fi’il yg disimpan. Baik penyimpanan fi’il itu bersifat jawazan, semisal menjadi jawab Istifham sebagaimana contoh yg diangkat oleh Mushannif dalam bait diatas, atau menjadi jawab Nafi seperti contoh “MAA QORO-A HU AHADUN” (seorangpun tidak membacanya) maka dijawab “BALAA ZAIDUN ” (takdirannya BALAA QORO’A HU ZAIDUN = ya… zaid telah membacanya).

Contoh Firman Allah Swt:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, (az-Zukhruf : 87)

Atau penyimpanan fi’il itu bersifat wujuban, semisal faa’ilnya jatuh sesudah IN syarthiyyah atau IDZA syarthiyyah. Contoh “IN DHO’IIFUN ISTANSHURUKA FANSHURHU!” (jika seorang yg lemah yakni minta tolong kepadamu maka tolonglah!) lafazh DHO’IIFUN manjadi faa’il dari fi’il yg wajib dibuang, takdirannya ISTANSHURUKA DHO’IIFUN.

Contoh Firman Allah:

إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ
jika seorang meninggal dunia …. (An-Nisaa’ 176)

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ
Apabila langit terbelah (Al-Insyiqaaq :1)
 ·  Translate
1
Add a comment...

Ibnu Toha

Shared publicly  - 
 
 
eKitab Nahwu | Achmad Imron's Mobile Blog
1
Add a comment...
Story
Introduction

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

http://nahwusharaf.wordpress.com/Belajar Bahasa Arab merupakan Fardhu Kifayah, karena merupakan jalan untuk bisa memahami AL-QUR’AN dan ASSUNNAH, jika satu orang saja sekampung belajar Bahasa Arab, maka penduduk sekampung tidak akan berdosa. Ini kalau sekiranya disandarkan kepada penduduk kampung. Tapi kalau disandarkan kepada tiap individu Muslim, wajiblah belajar Bahasa Arab yang mana dalam amalan-amalan Fardlu seperti bacaan dalam Shalat, tidaklah shah tanpa Bahasa Arab. Imam Syafi’i berkata: wajib pada tiap-tiap Muslim untuk belajar Bahasa Arab kalau ingin sampai kepada kesungguhannya dalam melaksanakan kefardhuannya. Jika bukan karena mengamalkan Fardhu, maka belajar Bahasa Arab hukumnya sunnah, selain yang ingin mengetahui seluk beluk Syari’at Islam, karena wajib bagi para Alim Syari’at belajar Bahasa Arab untuk memahami tentang Syari’at Qur’ani atau Syari’at Haditsi.

Alllah berfirman :

[12:2] Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

[26:195] dengan bahasa Arab yang jelas.

[16:103. Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam[840], sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.

[840]. Bahasa ‘Ajam ialah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik, karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit-sedikit bahasa Arab.

Dan masih banyak dalil ayat-ayat yang lain, bahwa AL-QUR’AN Berbahasa Arab dengan lisan Arab, bukan Berbahasa Ajam (selain Bahasa Arab) juga bukan dari lisan Ajam. maka jika ingin memahami al-Qur’an, fahamilah secara lisan Arab. AL-QUR’AN tidak akan bisa difahami tanpa pengetahuan secara lisan Arab.

Para Masyayikh berkata: Tidak boleh tidak, dalam menafsirkan Qur’an dan Hadits, harus mengetahui apa yg menjadi dalil atas apa yg dimaksud dan yg dikehendaki Allah dan Rosulnya dari lafadz-lafadz dan kalimat-kalimat, dan bagaiman cara memahami Firmannya. maka kita dituntut untuk mengetahui Bahsa Arab untuk menjelaskan pengertian dari maksud Firman Allah dan Sabda RasulNya. Begitu juga kita diharuskan mengetahui dalil-dalil secara Lafzhiy atas Ma’aniy. Karena banyak yang salah langkah dalam beragama, dikarenakan kurang fahamnya pada masalah ini. Sehingga mereka membawa-bawa Firman Allah dan Sabda Rasulullah sebagai dalil atas apa yang difatwakannya. Padahal yg dimaskud tidaklah demikian.

Education
  • Stain Al-Khairat
    present
  • Mambaul Ihsan
Basic Information
Gender
Male
Other names
konita