Profile cover photo
Profile photo
Ida Betanursanti
292 followers
292 followers
About
Posts

Post has attachment
Photo
Add a comment...

Post has shared content
📝 Pahala Sedih dan Sakit

Sesorang akan merasa bersedih ketika orang yang dicintainya sakit, baik orang tua, (ayah dan ibunya), atau istri dan anak-anaknya, atau saudara dan saudarinya.

Itu merupakan hal yang manusiawi, namun hendaklah ridho dengan apa yang menimpa diri dan keluarganya, dengan mengharap pahala di sisi Allah Ta'ala.

Kesusahan, kesedihan dan rasa sakit yang ia rasakan akan menghapus dosa-dosanya. Nabi صلى الله عليه و سلم  bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلا حَط اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُط

Tidaklah seorang muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau صلى الله عليه و سلم juga bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتى الْهَم يُهِمهُ؛ إِلا يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

Tidaklah sesuatu menimpa seorang mukmin baik keletihan, kesedihan, kesusahan, hingga kegundah-gulanaan melainkan Allah akan menghapuskan dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya. (HR. Muslim).

Kalau orang tua atau anak sakit, dan menjadikan kita bersedih hati, maka kesedihan kita bisa menjadi penghapus sebagian dosa-dosa kita.

Mudah-mudahan Allah Ta'ala menghapuskan dosa-dosa kita semua.

@kajianislamchannel

Photo
Add a comment...

Post has shared content
KARENA KITA AKAN KEMBALI

Syaikh Abdul Malik Al-Qasim mengisahkan, "Suatu hari Raja Suud Bin Abdul Aziz mengunjungi kediaman kakekku (Syaikh Abdurrahman Al Qasim). Sang raja kemudian menyampaikan maksud kedatangannya, seraya berkata, " Wahai syaikh, kami akan membangunkan sebuah rumah yang layak untukmu sebagai tempat tinggal selain rumah ini.

Syaikh menjawab, "Tidak perlu, aku telah membangun rumahku disuatu tempat. Dan saat ini aku hanya menunggu kapan waktuku pindah ke tempat itu.
Sang Rajapun terdiam dan menitikkan air mata."
Catt: 
Tempat yang dimaksud oleh syaikh Abdurrahman Al-Qasim adalah kampung akhirat.
Syaikh hanya menunggu waktu kepindahan, yaitu ajal yang menjadi dinding antara dirinya dengan apa yang dicita-citakannya.
Begitulah kehidupan ulama rabbani, mereka meninggalkan kelezatan dunia demi cita-cita yang luhur dan demi menjaga kehormatan diri.

Kisah diatas juga sebagai tamparan untuk kita yang mungkin lebih fokus pada usaha membangun atau memperbaiki tempat tinggal di dunia, namun lalai dari membangun dan memperbaiki tempat tinggal di kampung akhirat.

Gambaran di atas menunjukkan bagaimana kesederhanaan hidup sosok yang telah menghabiskan waktunya untuk ilmu.

Lalu Siapakah Syaikh Abdurrahman Al-Qasim..? Tak banyak yang tahu bahwa Syaikh Abdurrahman Al Qasim (1312-1392 H) merupakan sosok ulama rabbani yang telah banyak menghasilkan karya tulis dalam berbagai bidang ilmu agama. Beliaulah orang yang paling berjasa dalam proses pengumpulan dan penyusunan Majmu Fatawa atau kumpulan risalah dan fatwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang kini dicetak dalam 37 jilid besar.

Bersama anaknya Syaikh Muhammad Abdurrahman dan Syaikh Hammad Al-Anshary ketiganya melakukan kunjungan keberbagai penjuru negeri untuk mengumpulkan karya-karya syaikhul Islam yang masih dalam bentuk manuskrip. Proses yang memakan waktu 32 tahun itu kini dinikmati oleh penuntut ilmu dan ulama diberbagai belahan dunia.

Rahimahullah rahmatan waasian

______________
Madinah 27 Muharram 1436 H
Dari seorang da'i


Photo
Add a comment...

Post has shared content
Amalan Ketika Dipuji Orang Lain

Apa yang kita lakukan ketika dipuji orang lain?

Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya. Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya’ dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri yang orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 3: 236)

Juga perhatikan perkataan yang sama dari Ibnu ‘Ajibah.

Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.’“ (Lihat Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hlm. 159, Mawqi’ Al-Qaraq, Asy-Syamilah)
Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Miqdad pernah menyiramkan kerikil di wajah seseorang yang memuji Usman bin ‘Affan, lantas Usman bertanya pada Miqdad, kenapa engkau melakukan seperti itu. Miqdad menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ
“Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya.” (HR. Muslim, no. 3002). Ada ulama yang mempraktikkan hadits ini secara tekstual seperti yang dilakukan oleh Al-Miqdad. Ada juga ulama yang memaknakan, celalah orang yang memuji tersebut. Ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah kita berasal dari tanah, maka bersikap tawadhu’lah (rendah hati) dan jangan sampai ujub. Namun Imam Nawawi melemahkan penafsiran terakhir ini. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 107)

Para ulama katakan, kalau ada yang memujimu, bacalah doa seperti berikut.
Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah)

Sebagaimana disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, Al-Auza’i mengatakan bahwa ketika seseorang dipuji oleh orang lain di hadapan wajahnya, maka hendaklah ia mengucapkan do’a di atas.

Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.”
Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas.
Semoga bermanfaat.

Referensi:
Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Juz ke-36.

Sumber : http://rumaysho.com
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Penjual Kerupuk

Kisah seorang penjual kerupuk yang memberi pelajaran mengenai berbisnis sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Klinting … klinting … Bel di rumah saya berbunyi. Ada tamu rupanya. Saya bergegas membuka pintu depan. Seorang pria melempar senyum. “Apakah kerupuknya masih, Pak?”

Rupanya penjual kerupuk langganan kami. Saya melihat dua plastik besar berisi kerupuk ada di sadel sepeda onthelnya.

“Sebentar ya, Pak,” jawab saya seraya menuju ke ruang belakang untuk mengecek isi kaleng kerupuk. Saya mendapati dalam kaleng biru hanya tersisa empat kerupuk. Saya pindahkan kerupuk-kerupuk itu ke toples plastik dan menyerahkan kaleng biru kosong ke lelaki itu.

Saya menungguinya mengisi kaleng biru. Lima buah kerupuk dimasukkannya ke dasar kaleng. Lima kerupuk lagi di atasnya. Demikian seterusnya sampai kaleng itu hampir penuh. Sebelum menutup kaleng, pria itu menambahkan dua kerupuk sebagai bonus. Saya tersenyum. “Luar biasa!”

Pelajaran pertama saya petik dari penjual kerupuk itu: berusaha memberi lebih. Meskipun keuntungannya sedikit, ditemani sepeda onthel bertahun-tahun, ia adalah penjual yang murah hati, berlapang dada, dan pintu hatinya terbuka. Dengan membuka pintu hatinya, berkomunikasi dengan pelanggan menjadi lebih mudah. Perasaan hangatnya menciptakan keterbukaan yang menghapus rasa takut, rasa ragu, dan tidak aman.

Rahasia memberi, dari memberi senyum, harta, meskipun hanya dua kerupuk, akan membawanya menjadi pedagang yang tetap bahagia. Ia memilih mendapatkan rahmat Allah daripada keuntungan semata. Rahmat Allah yang diturunkan di bumi hanya 1% sangatlah kecil dibandingkan dengan yang diturunkan di akhirat kelak, yakni yang 99%. Meskipun kecil, namun telah menyebar ke seluruh dunia berwujud kasih sayang, kepada sesama maupun kepada makhluk lain.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang lapang hati apabila ia menjual dan berlapang hati, apabila ia membeli dan lapang hati tatkala ia menagih.” (HR. Bukhari, Ibnu Majah). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan kalimat yang sedikit berbedam “Semoga Allah mengampuni seorang laki-laki di antara kalian, ia bersikap lembut apabila menjual dan lembut apabila ia membeli, lembut apabila menuntut.”

Dari seorang penjual kerupuk, kita dapat memetik pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah mengisi ulang kaleng dengan kerupuk plus bonus, ia menyerahkan kaleng biru kepada saya sambil melempar senyum. “Ini, Pak, kerupuknya.”

“Berapa, Pak?” tanya saya.

“Delapan ribu rupiah, Pak,” sahutnya.

Saya membalas kebaikannya dengan memberinya Rp. 10.000.

“Ini uang kembalinya, Pak,” kata penjual kerupuk.

“Sudah, untuk Bapak saja,” kata saya.

“Terima kasih, Pak,” katanya. Ia berpamitan.

Rahasia sukses sejati adalah memberi. Itulah yang dilakukan penjual kerupuk. Itu cara penjual kerupuk memperlakukan kenikmatan yang diterimanya, walaupun hanya kecil.

Pelajaran kedua yang dapat saya petik: rasa syukur. Hanya menerima kelebihan Rp 2.000, tetapi penjual kerupuk itu mengungkapkan rasa senang dan syukurnya. Bandingkan dengan kita yang sering merasa kurang, tidak bersyukur atas anugerah Rp 20.000 atau Rp 200.000 atau Rp 2.000.000 atau bahkan Rp 2.000.000.000 yang kita dapatkan. Padahal kenikmatan yang telah kita peroleh cukup berlimpah. Mulai dari kenikmatan harta, kesehatan, anak, kesempatan, ilmu, dan beragama dengan nikmat. Tetapi kita sering lupa mensyukuri kenikmatan dari Sang Maha Pemberi.

Dari Anas Radhiallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga, dan tidaklah ada yang memenuhi perut anak Adam, selain tanah dan Allah Maha member taubat kepada orang yang bertaubat.” (Muttafaq alaih).

Rasa syukur merupakan kesadaran bahwa nikmat sesungguhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pemberi Kenikmatan, yang dapat menimbulkan kegembiraan dari nikmat tersebut serta mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Rasa syukur kepada Tuhan akan menyentuh hati kita yang paling dalam dan memancarkan cahaya kebaikan yang menghiasi makhluk di lingkungannya. Rasa syukur diucapkan sebagai ungkapan terima kasih dan pujian kepada Tuhan. Rasa syukur juga membuat seluruh anggota badan kita dapat menggunakannya dengan baik, dalam rangka menambah ketaatan kita kepada Tuhan dan berusaha menjaganya agar tidak digunakan untuk berbuat kemaksiatan. Bukanlah ungkapan syukur apabila kenikmatan yang diperoleh seseorang belum digunakan sesuai dengan ridho Tuhan atau belum bermanfaat bagi hamba-Nya yang membutuhkan.

Allah dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7 berfirman, yang artinya, “Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Pelajaran ketiga yang saya peroleh dari penjual kerupuk sungguh luar biasa, menurut salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia, versi Michael Hart. Seminggu kemudian, penjual kerupuk itu datang lagi ke rumah saya. Seperti biasa, ia mengulang aktivitas yang dilakukannya. Ketika itu, saya sudah berangkat ke kantor. Penjual kerupuk itu disambut istri saya.

“Ini Bu, kerupuknya,” katanya sambil menebar senyum.

“Ini Pak, uangnya,” kata istri saya sambil memberikan uang Rp. 20.000.

Penjual kerupuk itu merogoh sakunya untuk menyerahkan uang kembalian.

“Ini kembaliannya, Bu,” katanya.

“Sudah, untuk Bapak saja,” kata istri saya.

“Tidak, Bu. Ini terlalu banyak,” jawabnya. Ia bersikeras menyerahkan uang kembalian.

“Kalau Bapak tidak mau, untuk minggu depan,” kata Istri saya.

Jawaban penjual kerupuk itu sangat mengejutkan, dan tidak terpikirkan oleh istri saya. “Tidak, Bu. Saya nanti berutang. Saya tidak bisa menjamin apakah usia saya sampai minggu depan.”

Istri saya termangu mendengar jawabannya itu, dan menceritakan kisah itu kepada saya seusai makan malam.

Sang penjual kerupuk telah memberi pencerahan kepada kita, yang sering lupa dengan kematian. Beberapa di antara kita menghalalkan segala cara dalam berbisnis, tanpa menyadari kematian kita. Kisah penjual kerupuk itu mengingatkan kita untuk berbuat terbaik dalam berbisnis, sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Pemurah. (PM)

Oleh: Prof. Dr. M. Suyanto, M.M (alumni hajj '97)
KonsultasiSyariah.com


Photo
Add a comment...

Post has shared content
Perbanyaklah Istighfar

Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allâh merubah setiap kesedihannya menjadi kegembiraan; Allah Azza wa Jalla memberikan solusi dari setiap kesempitannya (kesulitannya), dan Allâh anugerahkan rizki dari jalur yang tiada disangka-sangka. [HR. Ahmad dan al-Hakim]

Apapun kesulitan kita, apapun kesedihan yang kita rasakan, apapun kegundahan yang menghantui kita, maka solusinya adalah memperbanyak istighfâr. Bahkan dalam urusan dunia, kemiskinan dan belum adanya keturunan, maka jalan keluarnya adalah memperbanyak permohonan ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas dosa-dosa kita.

Contoh bacaan istighfar:

-Pilihlah redaksi istighfar yang ada tuntunannya dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabi shallallahu
’alaihiwasallam dan hindarilah redaksi-redaksi yang tidak ada tuntunannya. Di antara redaksi istighfar yang ada haditsnya:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Astaghfirullâh. HR. Muslim.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.

HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت

Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta. HR. Bukhari.

Redaksi terakhir ini kata Nabi shallallahu’alaihiwasallam merupakan sayyidul istighfar atau redaksi istighfar yang paling istimewa. Menurut beliau, fadhilahnya: barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.

-Tidak ada hadits yang menentukan jumlah khusus tatkala mengucapkan istighfar, semisal sekian ratus, ribu atau puluh ribu.Yang ada: perbanyaklah istighfar di mana dan kapanpun kita berada, jika memungkinkan, tanpa dibatasi dengan jumlah sekian dan sekian, kecuali jika memang ada tuntunan jumlahnya dari sosok sang maksum shallallahu’alaihiwasallam.

-Hendaklah tatkala beristighfar kita menghayati maknanya sambil berusaha memenuhi konsekwensinya berupa menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk perbuatan maksiat. Hal itu pernah diisyaratkan oleh al-Hasan al-Bashri tatkala berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam Tafsirnya,

“استغفارنا يحتاج إلى استغفار”

“Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.

Semoga Allah senantiasa melancarkan rizki kita dan menjadikannya berbarokah serta bermanfaat dunia akherat, amien.

Sudahkah ber-istighfar hari ini ?

Sumber: http://muslim.or.id




Photo
Add a comment...

Post has shared content
Perbanyaklah Istighfar

Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allâh merubah setiap kesedihannya menjadi kegembiraan; Allah Azza wa Jalla memberikan solusi dari setiap kesempitannya (kesulitannya), dan Allâh anugerahkan rizki dari jalur yang tiada disangka-sangka. [HR. Ahmad dan al-Hakim]

Apapun kesulitan kita, apapun kesedihan yang kita rasakan, apapun kegundahan yang menghantui kita, maka solusinya adalah memperbanyak istighfâr. Bahkan dalam urusan dunia, kemiskinan dan belum adanya keturunan, maka jalan keluarnya adalah memperbanyak permohonan ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas dosa-dosa kita.

Contoh bacaan istighfar:

-Pilihlah redaksi istighfar yang ada tuntunannya dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabi shallallahu
’alaihiwasallam dan hindarilah redaksi-redaksi yang tidak ada tuntunannya. Di antara redaksi istighfar yang ada haditsnya:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Astaghfirullâh. HR. Muslim.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.

HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت

Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta. HR. Bukhari.

Redaksi terakhir ini kata Nabi shallallahu’alaihiwasallam merupakan sayyidul istighfar atau redaksi istighfar yang paling istimewa. Menurut beliau, fadhilahnya: barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.

-Tidak ada hadits yang menentukan jumlah khusus tatkala mengucapkan istighfar, semisal sekian ratus, ribu atau puluh ribu.Yang ada: perbanyaklah istighfar di mana dan kapanpun kita berada, jika memungkinkan, tanpa dibatasi dengan jumlah sekian dan sekian, kecuali jika memang ada tuntunan jumlahnya dari sosok sang maksum shallallahu’alaihiwasallam.

-Hendaklah tatkala beristighfar kita menghayati maknanya sambil berusaha memenuhi konsekwensinya berupa menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk perbuatan maksiat. Hal itu pernah diisyaratkan oleh al-Hasan al-Bashri tatkala berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam Tafsirnya,

“استغفارنا يحتاج إلى استغفار”

“Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.

Semoga Allah senantiasa melancarkan rizki kita dan menjadikannya berbarokah serta bermanfaat dunia akherat, amien.

Sudahkah ber-istighfar hari ini ?

Sumber: http://muslim.or.id




Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kiat Sukses Berinteraksi dengan Al-Quran

Untuk mengembalikan kita pada pola interaksi yang benar terhadap al-Quran, sehingga al-Quran kembali menjadi sumber kekuatan kita untuk membangun peradaban (iman dan islam), kiat-kiat berikut ini sangat perlu diwujudkan.

Pertama: Tilawah wa Tartil (selalu membaca dengan benar)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan secara lebih serius antara lain

•    Dengan membaca al-Quran secara berkesinambungan akan menambah iman kepada Allah SWT
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman [sempurna ] ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al Anfal (8) : 2).

•    Mendatangkan petunjuk, menjadi obat berbagai penyakit di dalam dada, serta rahmat dan nasihat 
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.\" (QS. Yunus (10) : 57).

•    Suka membaca indikator mutu keimanan seseorang
"Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[tidak merubah dan mentakwilkan sesuka hatinya], mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al Baqarah (2) : 121).

•    Membaca secara tekun menambah kebaikan yang banyak, baik dalam keadaan miskin ataupun kaya
"Dan Ini (Al-Quran) adalah Kitab yang telah kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.\" (QS. Al Anam (6) : 92)

•    Membaca secara tartil akan mendatangkan perkataan yang berbobot, melepaskan manusia dari belenggu kesesatan, mencerahkan pikiran dan hati yang kalut serta merasakan kegembiraan dalam mengelola pasang surut (fluktuasi) kehidupan.
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.\" (QS. Al Muzzammil (73) : 5).

 •    Membaca secara berkelompok akan mendatangkan ketenangan dan rahmat serta syafaat pada hari kiamat (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua: Tadabbur (merenungkan isinya)

•    Mentadabburi Al-Quran bisa membuka hati untuk menerima petunjuk Allah SWT  dan memperoleh pelajaran yang sangat berharga
"Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." (QS.Shad (38) : 29).

Ketiga: Hifz (menghafalkan)

•    Al-Quran mudah dihafalkan sekalipun yang melakukannya bukan orang Arab (‘ajam), karena kata-katanya, huruf-hurufnya, susunan kalimatnya, uslub (gaya bahasanya) sesuai dengan fithrah manusia.
"Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?." (QS. Al Qamar (54) : 17, 22, 23, 40).

•  Biasanya, sulit menghafalkan Al-Quran karena banyak melakukan dosa
Imam Syafii mengadu kepada guruku Waki’, atas kejelekan hafalan al-Qurannya. "Maka ia membimbingku agar meninggalkan masiat. Karena ilmu itu cahaya, cahaya Allah tiada akan diberikan kepada yang berdosa, " ujar Imam Syafii.

•    Penghafal Al-Quran terhindar dari kepikunan, setelah meninggal jasadnya diharamkan oleh Allah SWT untuk dilukai bumi

•    Hafalan Al-Quran akan mengembangkan saraf otak (penelitian di Universitas Munich, Jerman).

Keempat: Ta’lim (mengajarkannya kepada orang lain)

•    Generasi yang dekat dengan Allah SWT adalah yang tidak berhenti belajar dan mengajarkan Al-Quran (QS. Ali Imran 3) : 79 )
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah SWT], karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya."

Kelima: Istima’ (selalu mendengarkannya secara berkesinambungan)

•    Yang senang mendengarkan Al-Quran adalah manusia pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al-Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" katakanlah: "sesungguhnya aku Hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al-Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al Araf (7) : 203).

Allah SWT memberi satu mulut dan dua telinga adalah untuk mendidik manusia supaya sedikit bicara (hemat kata) dan banyak mendengar (perkataan ahli hikmah).  Kualitas kepemimpinan seseorang diukur tidak dari banyaknya meriwayatkan (katsratur riwayah), tetapi banyak melayani yang dipimpin dan mendengarkan aspirasinya (katsratur ri’ayah wal istima’).

Orang yang tidak senang mendengarkan Al-Quran cenderung menutup diri, sehingga dijauhkan dari petunjuk, sebagaimana umat Nabi Nuh as. Mudah-mudahan,kita bukan dari bagian itu. 
(Sumber: Hidayatullah)

Photo
Add a comment...

Post has shared content
Mereka Maunya Anda Diam

Ada orang memukul saudaranya tanpa sebab apapun, lantas saat saudaranya marah dia berkata "Sabar dong, kita kan sama-sama saudara, cinta damai dong!"

Ada lagi yang mencuri barang kawannya, ketika kita meminta kembali malah dibilang "Bukankah kawan itu berbagi? Jangan pelit deh, dunia nggak akan dibawa mati!"

Ada juga yang memaki-maki temannya, saat temannya marah lantas ia bicara, "Tidak ada gunanya marah, tak ada gunanya mencela, mari kita cari solusinya sama-sama"

Ada pencuri kepergok, yang memergoki kemudian berteriak, lantas sang pencuri malah bicara "Jangan berisik, Kamu mengganggu ketentraman masyarakat!"

Persis sama, ketika ada yang menista agama, memprovokasi dengan menstigmatisasi Islam secara negatif, saat diklarifikasi, malah meracau, "Jangan provokatif!"

Jangan melongo, jangan heran, jangan terperangah, inilah logika yang sedang dibangun buzzer media sosial liberalis, komunis, yang sepaket dengan penista agama

Mereka mau memukul tapi tak ingin konsekuensinya, mau menghina tapi tak mau balasannya, "blame the victim", sudah makan korban, salahkan korban juga

Dalam situasi internasional, gaya begini sama dengan Yahudi Israel, mereka sebut Muslim Palestina teroris, saat mereka membantai sebutannya "Preemptive Attack"

Siapa yang memainkan peran penting "blame the victim" ini? Tentu saja media, dalam masa sekarang, ya media sosial. Maka tak heran banyak buzzer berkeliaran untuk itu

Lihat saja, ulama-ulama kita yang menyampaikan dalil dari Kitabullah dan Sunnah dicap sebagai provokator, intoleransi dan memecah kesatuan bangsa, semua cap buruk

Kita tak perlu ambil pusing, dalam Islam jelas ada konsep amar ma'ruf nahi munkar, dan semuanya distandarkan dengan syariat yaitu Kitabullah dan Sunnah, semua sudah jelas

Yang diinginkan orang-orang bersuara miring dan nyinyir itu, adalah Anda diam terhadap seluruh kemunkaran yang mereka lakukan, bahkan kalau bisa Anda mendukungnya

Sayangnya, kita tak perlu dengan ucapan manusia, tak peduli dengan penilaian manusia. Kita yakin ketika kita sesuai dan taat pada Allah, Allah akan mudahkan semuanya
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Lelaki Tua dan HP

Seorang laki-laki tua penjaja makanan membawa HP bututnya ke konter handphone karena ia pikir hendak memperbaiki hapenya tersebut... Selang beberapa menit diperiksa, petugas konter bilang "Bapak ini hape bapak tidak ada yang rusak masih bagus dan bisa dipakai"..
Sambil bingung bapak tersebut bicara: "yg bener dik coba tolong di cek lagi ini hape saya memang sudah lama sekali, dulu saya beli punya tetangga biar bisa komunikasi dgn anak saya".
Lalu di cobalah ditelpon pakai hape penjaga konter, "Nah tu pak bisa
kan, emang hape bapak ga rusak kok". Lalu lelaki tua itu sambil meneteskan air mata dan menunduk bilang "Tapi kenapa anak2 saya tidak pernah menelepon saya?"

Dari kisah diatas menunjukkan bahwa anak2 dari orang tua tersebut termasuk dalam golongan anak yang "uququl walidain".
'Uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan berupa perkataan, yaitu mengucapkan “ah” atau “cis”, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci maki dan lain-lain. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar, seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak mempedulikan, tidak bersilaturrahim, atau tidak memberi nafkah kepada kedua orang tuanya yang miskin.

Dalam hadits Nafi’ bin Al Harits Ats Tsaqafi, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari – Muslim).


Photo
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded