Profile

Cover photo
Panji Dewangkara
3 followers|787 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Panji Dewangkara

Shared publicly  - 
 
1
Memahami Pendidikan Imani Yang Lebih Mendalam Dari:
Lai-Latul-Qadr
Bismillahirrahmannirrahiim. Sampai hari ini, kita tengah menjalani 10 hari terakhir ibadah shaum ramadhan tahun 1425 H. Saat-saat 10 hari terakhir, merupakan hari-hari yang istimewa yakni hari-hari yang menentukan untuk pembebasan seseorang dari ancaman panasnya api neraka. Di sini, kaum muslimin umumnya mengetahui bahwa pada sepuluh malam terakhir terdapat satu malam yang istimewa, penuh berkah yang disebut lai-latul-qadr. Namun demikian, tidak sedikit kaum muslimin masih bertanya-tanya apakah malam lai-latul-qadr itu seperti halnya dijumpai dalam Al-Quran Surat Al-Qadr: Wamaa addraakamaa lailatul qadr(i) ? Lalu pengalaman hidup seperti apakah yang bisa kita timba sehubungan dengan lai-latul-qadr tersebut? Mengapa dikatakan Lailatul qadri khoirum minalfisyahri(n): lai-latul-qadr lebih utama dari 1000 bulan? Allah Swt. menerangkan malam istimewa itu secara lengkap melalui firmanNya dalam Al-Quran Surat Al-Qadr (97): (1) Innaa ‘angjalnaahu fiilailatil qadr(i: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, yaitu lai-latul-qadr. (2) Wamaa addraakamaa lailatul qadr(i: Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Lailatul qadri khoirum minalfisyahri(n: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (4) Tanajjalul malaaaikatu warruuhu fiiha. Biidzni rabbihim minkulli amri(n): Pada malam itu turun malaikat-malaikat danmalaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. (5) Salaamun hya hattaa mathla’il fadjr(i): Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.
Kalau saja kita mau hitung (menurut ukuran manusia), 1000 bulan itu kurang lebih 83 tahun dan rentang waktu 83 tahun itu sebanding dengan umur rata-rata tingkat pengharapan hidup bangsa yang telah maju seperti orang-orang Jepang. Perhitungan itu kalau saja dimulai sehabis waktu maghrib (kurang lebih jam 18.00) hingga fajar menyingsing (kurang lebih jam 04.00) pagi hari, maka lamanya sekitar 10 jam. Coba kita bayangkan durasi 10 jam (inipun tentu tidak sepenuhnya) bisa lebih istimewa dari seumur hidup (seseorang) untuk kurang lebih 83 tahun! Bukan main, bentuk pengalaman pendidikan semacam apakah yang terjadi di sini sehingga bandingan waktu
2
sedemikian istimewa: kurang lebih 10 jam saja setara dengan 83 tahun? Apakah memang karena lai-latul-qadr selalu disertai dengan turunnya para malaikat (beribu malaikat) ke bumi menjumpai kita secara langsung? Saking pentingnya malam lai-latul-qadr, Rasulullah Saw. Mengingatkan para sahabatnya: Bulan ini telah hadir di tengah kalian. Padanya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa terhalangi darinya berarti benar-benar telah terhalang dari kebaikan seluruhnya. Tidak ada orang yang terhalangi dari kebaikannya kecuali orang yang terhalangi (dari kebaikan) (HR Ibnu Majah). Sangat disayangkan, tidak sedikit di antara kaum muslimin memandang dan mensikapi Lai-latul-qadr secara mitologis (kepercayaan yang sebenarnya keliru): bahwa pada malam yang disebut lailatul-qadr itu semua dedaunan dari tumbuhan dan hewan merunduk, tiada berangin, air sungai yang biasanya mengalir terdiam, tidak ada bunyi dan suara-suara dari binatang malam, sepi, sunyi laksana dalam kayangan! Sehingga, siapa yang mengalaminya keadaan demikian, lalu ia memperoleh bisikan-bisikan, yang bersangkutan mengajukan berbagai permohonan, dan permohonan-permohonan itu mereka percayai akan dikabulkan. Prof. Hamka meberikan tafsiran atas Surat Al-Qadr di atas dalam tafsir Al-Azhar bahwa Lai-latul-qadr memiliki dua arti, yaitu sebagai malam kemuliaan dan sebagai malam penentuan. Mengapa dikemukakan sebagai malam kemuliaan? Karena pada malam itu merupakan malam permulaan diturunkannya Al-Quran. Innaa ‘angjalnaahu fiilailatil qodr(i): Sesungguhnya Kami telah menurunkan-nya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Malam kemuliaan mengandung maksud bahwa memang pada malam itu kemuliaan tertinggi (Al-Quran) dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. Malam itulah permulaan Malaikat Jibril menjelma di hadapan rasulullah di Gua Hiraa sebagaimana turun wahyu pertama berupa Surat Al-Alaq (96), di antaranya ayat 1 menyebutkan Iqra bismi robbikalladzi kholaq: Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang menciptakan.
Wahyu pertama turun (sebagai landasan atas dimulainya syariah dalam kehidupan) menjelaskan bahwa kita diminta untuk membaca atau mengobservasi saja harus dengan nama Allah Swt, nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Di sini amat tegas bahwa Asma Allah harus disebut-sebut
3
(hadir dalam hati), menyertai proses pencarian ilmu yang utamanya dilakukan melalui membaca atau observasi. Sebab, Allah-lah Yang Maha Pemurah, Yang Mengajari manusia akan ilmu itu, yakni apa yang tidak diketahui manusia. Jadi manusia sepintar apapaun tidak akan pernah sombong, karena Allahlah Yang Maha Menciptakan. Dengan kata lain, membaca tanpa menghadirkan nama Allah, sebenarnya sulit dibenarkan dan sangat mungkin hasilnya akan liar. Jangan heran, mengapa banyak orang pintar tapi hatinya tertutup akan kebenaran, karena sangat mungkin cara mereka membaca tidak menghadirkan nama Allah dalam hatinya. Selanjutnya lailatul-qadr disebut sebagai malam penentuan, karena malam itu yakni malam dianugerahkannya Al-Quran mengandung makna bahwa ketentuan antara kufur dengan iman menjadi tegas; garis pemisah antara jahiliyah dengan Islam menjadi terang; antara syirik dengan tauhid jelas beda; antara bisikan jin/wangsit dan benar-benar rakhmat/hidayah tidak tersamar; dan antara hak dan yang batil memang suatu yang kontras. Syahru romadloonal ladzii unzila fiihil qur’an (u). Hudal linnasi wabayyinaati minal huda wal furqoon. (Al-Quran, Surat Al-Baqarah/2: 185). Bulan ramadhan adalah bulan di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Peristiwa laitatul qadr, memang merupakan peristiwa luar biasa: Qur’an turun ke bumi; yang pada saat itu bumi manusia sedang dalam keadaan gelap, perikemanusiaannya jahil, bodoh, penuh permusuhan dan primitif. Allah Swt. Yang Maha Rakhman Rahim menganugerahkan bumi berupa Al-Qur’an sebagai pedoman yang mengeluarkan kegelapan menuju nur cahaya Illahi yang terang benderang. Al-Quran mereformasi kejahilan dengan meluruskan peradaban; Al-Quran mengubah kebodohan dan primitif menuju pencerahan dan modern. Demikianlah di antara makna mengapa malam itu mengandung kemuliaan, kebesaran, penentuan atas kehidupan dan kesejahteraan. Dengan itu pula tidak perlulah kita terheran-heran dengan peringatan Allah Swt. Wamaa addraakamaa lailatul qadr(i). Dan sudahkah kamu tahu, apakah dia malam kemuliaan itu ? Allah sendiri menerangkan Lailatul qadri khoirum minalfisyahri(n). Malam kemuliaan itu lebih utama dari 1000 bulan.
Menurut ulama Al-Hafiz Ibnu Hajar yang dikutip Prof Hamka, menyatakan bahwa Lailatul-qadr itu sebenarnya hanya satu kali, yaitu
4
ketika mula-mula Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.. Pemaknaannya bagi khatib sendiri lailatul-qadr sebagai kondisi yang absolut, tidak ada duanya, peristiwa seperti itu tidak akan pernah terulang dan tertandingi oleh bentuk pengalaman agamawi seseorang dari manapun dan oleh siapapun. Adapun kenyataan semaraknya kaum muslimin beri’tikaf dan memperbanyak ibadat kepada Allah pada 10 malam terakhir, lebih-lebih di malam ganjil, terutama lagi di malam 27 ramadhan, pada dasarnya adalah bentuk-bentuk pengalaman Al-Quran itu sendiri. Dihubungkan dengan peristiwa menunggu-nunggu dan berharap adanya lai-latul-qadr, maka memperbanyak ibadat kepada Allah pada 10 malam terakhir, lebih-lebih di malam ganjil, terutama lagi di malam 27 ramadhan itu, adalah bentuk apresiasi seorang hamba Allah dan kaum muslimin dalam mencari makna dan memperdalam bahwa Lai-latul qadri khoirum minalfisyahri(n). Malam kemuliaan itu lebih utama dari 1000 bulan. Bagaimana tidak ? Coba kita renungkan sejenak atas: Seseorang beri’tikaf di malam-malam sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, di malam-malam ganjil, bertaubat memohon ampunan kepada Allah, berdzikir sebanyak-banyaknya menyebut Asma Allah, menempa dengan kuat ketauhidannya kepada Allah, rajin melakukan shalat malam, membaca dan memahami arti atau makna ayat-ayat Al-Quran secara terus-menerus, tentu saja bertambah-tambahlah keyakinannya; teguh dan semakin kokohlah keimananya kepada Allah Swt. dan yakin pula bahwa Al-Quran benar-benar menjadi pedoman yang harus dipelajari seumur hidup; maka bisa saja malam itu bagi seorang hamba Allah itu demikian memiliki sejuta arti yang mendalam, menimbulkan perubahan yang besar bagi kehidupan yang dijalaninya di kemudian hari. Tidak apalah malam itu bagi dia (seorang hamba Allah) keutamaan malam ‘itikaf itu tidak lebih baik dari sekedar 500 bulan atau 600 bulan. Yang penting pendidikan imani semacam itu dapat menghantarkan keselamatan hidupnya sampai ke syurga di akhirat kelak.
Demikianlah pemahaman lailatul-qadr tidak lagi bersifat absolut akan mengenai setiap orang, laksana sinar bulan purnama yang menyinari siapa saja asal dia keluar rumah untuk menyaksikannya. Kalaupun mau ditunggu-tunggu dan seseorang berpendapat ada setiap tahunnya, lailatul-qadr itu peristiwanya menjadi relatif menyangkut pengalaman imani secara individual. Artinya, siapa menanam dia menuai, siapa beribadat ia yang dapat; siapa beramal ia berpahala; siapa merenung dia mendalaminya, siapa mengapresiasi secara intensif dia
5
yang akan merasakan makna-makna yang dikandungnya. Lai-latul qadr, malam pendidikan imani yang selalu segar untuk dicari dan dimaknai secara lebih mendalam. Persoalan seorang hamba merasakan adanya pengalaman yang luar biasa, untuk kemudian menafsirkan bahwa malaikat turun ke bumi dan turut serta dalam urusan kehidupan mereka, khususnya di malam ‘itikaf itu, maka pengalaman seperti itu analogik dengan peristiwa yang dialami Nabi: Tanajjalul malaaaikatu warruuhu fiihaa. Biidzni robbihim mingkulli amri(n). Artinya, pada malam itu turun malaikat-malaikat dan turun malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. Bukankah kita selaku orang beriman dituntut untuk percaya kepada para malaikat. Al-Quran, Surat Al-Afaal/8: 9 menegaskan bahwa: Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Selanjutnya, Surat Ar-Ra’d/13: 11 mengungkapkan bahwa: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sehingga tidak heran, salaamun hya hattaa mathla’il fadjr(i): malam itu penuh kesejahteraan (amat tentram dan damai) sampai terbit fajar. Demikian memahami lailatul-qadr melalui tulisan ini tidak lain dimaksudkan untuk mencari pendidikan imani yang lebih mendalam. Semoga demikian. Walohu’alam bis sawab.
---o0o---
 ·  Translate
1
Add a comment...

Panji Dewangkara

Shared publicly  - 
 
PERSIAPAN DAN AMALAN SEBELUM HAJI
A.     Dirumah
Sholat Safar,  Niat      “Ushalli sunnatassafari rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahitaala “
Do’a keluar rumah    
“Alhamdulillahhilladzi hadani bil islam wa arsyadani ila adai manasiki hajjan bibaitihi wa mu’tamiran bimasya irihi. Allahumma shalli alannabiyil ummiyyi wa’ala alihi wa ashabihi ajmain. Bismillahi amantu billahi bismillahi tawajjahtu lillahi, bismillahi tashamtu billahi, bismillahi tawakkaltu’alallah lahaula wala quwwata illa billahil’aliyil’adzim.
Naik Kendaraan         
“Bismillahirrohmanirrohim, subhanalladzi sakhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin wainna ila rabbina lamunqalibin”         
B.      Di Asrama Haji/Embarkasi
-          Memperhatikan pengumuman/pemberitahuan
-          Usahakan Sholat berjamaah
-          Jangan terlalu lelah, istirahat yg cukup.
 
C.      Di Pesawat Menuju Madinah (Gelombang 1), Jeddah (Gelombang 2)
Do’a naik pesawat      “Bismillahirrohmanirrohim, bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi laghafururahim”
Pesawat mulai gerak “Bismillahirrohmanirrohim, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, subhanalladzi sakhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin wainna nas-aluka fi safarina hadzaLbirra wattaqwa waminal amali matardla, allahumma hawwin alaina safarana hadza wa athwi’anna bu’dahu, allhumma antassahibu fissafari walkhalifathu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’staissafari wa ka-abbatil mandhari wasuil munqalabi filmali walahli”
Niat Tayamum           “Nawaituttayammumma liraf’il hadatsil ashghari lillahita’ala”
Niat jama’ qashar (mengerjakan ashar diwaktu dzuhur)      “Ushalli fardladduhuri rak’ataini jam’an taqdiman qashran ma’al ashri mustaqbilal qiblati lillahitaalla”
Niat shalat ashar        “Ushalli fardhal ashri rak’ataini jam’an taqdiman qashran ma’addhuri mustaqbilal qiblati lillahitaala”
Pesawat mau turun    “Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ahliha wa khaira ma fiha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ahliha wa syarri ma fiha”
D.     Di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aiz Madinah
Depan Masjid Bir Ali, bisa niat sendiri atau dibimbing oleh ketua rombongan melafadzkan niat,
 
“Labbaikallahumma_hajjan” atau “Nawaitul hajja_wa ahramtu bihi lillahitaala”
 
Menuju Mekkah membaca talbiah :
 
“Labbaikallahumma labbaik, labbaika lasyarika_laka_labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulka la syarikala”
 
dan diakhiri dengan shalawat :
 
“Allhumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad”
 
Masuk kota Mekkah   “Allahumma hadza haramuka wa amnuka faharrim lahmi wadami wa sya’ri wabasyari ‘alannar wa aminni min adzabika yauma tab’atsu ‘ibadaka waj’alni min auliyaika wa ahli tha’atika”
Masuk masjidil haram :
“Bismillahhirrohmanirrohim, Allahumma antassalam waminkassalam wailaika ya’udussalam fahaiyyina rabbana bissalam wa adkhilnal jannata darassalam tabarakta rabbana wa ta’alaita yadzaljalalali wal ikram, Allahummaftahli abwaba rahmatika. Bismillahi walhamdulillah washshalatu wassalamu ala rasulillah”
Ketika melihat Ka’bah :
“Allahumma zid hadzal baita tasyrifan wa ta’diman wa takriman wa mahabatan wa zidman syarrafahu wa adhdhamahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifan wata’dhiman watakriman wabirran”
Niat Thawaf                “Nawaitu thawafal hajjan sab’ata asywathin lillahitaala, bismillahi wallahu akbar”
Putaran 1   “Subhannallah wal hamdulillah wa lailaha illallahu wallahu akbar walahaula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim, washalatu wassalmu ‘ala rasulillah shallallahu ‘alaihi wassalam, Allahumma imanambika wa tashdiqan bikitabika wawafaan bi’ahdika wattiba’an lisunnati nabiyyika muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam. Allahumma inni as’alukal ‘afwawal afiyata wal mu’afataddaimata fiddini waddunya wal akhirata wal fauza bil jannati wannajata minannar”
Ketika melewati makam Ibrahim :
“Rabbi adhkilni mudhkala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli milladunka sulthanan nashira waqul jaalhaqqu wa zahaqal bathilu innal bathila kana zahuqa”
Setiap sampai di rukun yamani, hendaklah mengangkat tangan tanpa mengecup dengan mengucap “Bismillahi wallahu Akbar”
Mulai rukun yamani sampai hajjar aswad membaca doa “Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar, waadkhilnal jannata ma’al abrar ya aziz ya ghaffar ya robbal alamin”
 
Putaran 2   “Allahumma inna hadzal baita baitukawal harama haramuka wal amna amnuka wal abda abduka wa ana abduka wabnu abdika wa hadzal maqamu maqamul aidzi bika minannar faharrim luhumanna wa basyaratana alannar. Allahumma habib ilainal iman wa zayyinhu fi qulubinna wa karrih ilainal kufra wal fusuqa wal isyan waj’alna minarrasyidin. Allahumma qini adzabaka yauma tab’atsu’ibadaka. Allahummarzuqnil jkannata bighairi hisab”
Putaran 3  “allahumma inni a’udzubika minasysyakki wasysyirki wasyiqaqi wannifaqi wasuil akhlaqi wa suil mandhari wal munqalabi fil mali wal ahli wal waladi, Allahumma inni as’aluka ridhaka wal jannata wa a’udzubika min sakhatika wannar, Allahumma inni a’udzubika min fitnatil qabri wa a’udzubika min fitnatil mahya wal mamat”
Putaran 4   “Allahummaj’alhu hajjan mabruro wasa’yan masykura wa dzanban maghfura wa’amalan shalihan maqbula wa tijaratan lan tabur, ya’alima ma fisshudur akhrijni ya Allah minaddhulumati ilannur. Allhumma inni as’aluka mujibati rahmatika wa’azaima maghfiratika wassalamata min kulli itsmin wal ghanimata min kulli birrin walfauza biljannati wannajata minannar, rabbi qanni’nibima razaqtana wa barikli fima a’thaitani wakhul’alayya kulla ghaibatin li minka bhikhairin”
Putaran 5   “Allhumma inni as’aluka min khairi masa’alaka minhu nabiyyuka muhammadun shallallahu alaihi wassallam wa a’udzubika min syarri masta’adzaka minhu nabiyyuka muhammadun shallallahu alaihi wasallam, Allahumma inni as’alukal jannata wa na’imaha wa ma yuqarribuni ilaiha min qaulin au fi’lin au amalin wa’audzubika minannar wama yuqarribuni ilaiha min qaulin au fi’lin au amalin”
Putaran 6   “Allahumma inna baitaka adhim wawajhaka karim wa anta ya Allah halimun karimun tuhibbul afwa fa’fuanni
Putaran 7   “Allahumma inni as’aluka imanan kamila wa yaqinan shadiqa wa rizqan wasi’an wa qalban khasyi’an wa lisanan dzakira wa halalan thayyiba wa taubatan nashuha wa taubatan qablal maut wa rahatan indal maut wa magfhirathan ba’dal maut wal afwa indal hisab wal fauza bil jannati wannajata minannar birahmatika ya aziz ya ghaffar. Rabbi zidni ilma wa alhiqni bishshalihin”
 
Doa setelah thawaf    
“Allahumma ya rabbal baitil atiq, a’tiq riqabana wa riqaba aba’ina wa ummahatina wa ikhwanina wa auladhina minannar, ya dzal judi wal karami wal fadli wal manni wal’athai wal ihsan. Allahumma ahsin aqibatama fil umuri kulliha wa ajirna min khizyiddunya wa adzabil akhirah. Allahumma inni as’aluka’an tarfa’a dzikri wa tadla’a wizri wa tushliha amri wa thuttahhira qalbi wa tunawwirali fi qalbi wa taghfirali dzanbi wa as’alukaddarajatil ula minal jannah”
 
Do’a sebelum SA’I “Bismillahirrohmanirrohim, abda’u bima bada’allahu bihi warasuluh, innashshafa wal marwata min sya’airillah, faman hajjal baita awi’tamara fala junnaha alaihi ayyath thawwafa bihima, waman tathawwa’a khairan fa innallaha syakirun alim”
Do’a diatas SHAFA        “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillah hilhamd. Allahuakbar’ala mahadana wal hamdu lillahi ala ma aulana, la ilaha illallahu wahdanu la syarikalah, lahul mulku wa lahaul hamdu yuhyi wa yumitu biyadihil khairu wahuwa ala kulli syai’in qadir, la ilaha illallahu wahdahu la syarikalah anjaza wa’dah, wa nashara abdah, wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wala na’budu illa iyyahu mukhlishina lahud-din walau karihal kafirun”
Lintasan Pertama         “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar. Allahuakbar kabira wal hamdu lillahi katsira, wasubhanallahi bukratan wa-ashila, la ilaha illallahu wahdah, anjaza wa’dah, wanashara abdah, wahazamal ahzaba wahdah, la syaiaqabalahu wala ba’dahu yuhyi wayumit, wahuwa hayyun da-imun la yamutu wala yafutu abada, biyadihil khairu wailaihil mashir wahuwa ala kulli syai-in qadir”
Antara 2 Pilar Hijau      “Rabbighfir warham wa’fu wa takarram, wa tajawaz’amma ta’lam innaka ta’lamu mala na’lam, innaka antallahul a’azzul akram”
Do’a Setiap Mendaki    “Innashshafa wal marwata min sya’airillah, faman hajjal baita awi’tamara fala junnaha’alaihi ayyaththawwafa bihima waman tathawwa’a khairan fainnallaha syakirun alim”
Do’a Selesai Lintasan 7 “Allahumma rabbana taqabbal minna wa afina wa’fu anna, wa’ala ghairika la takilna, wa’alal imani wal islamilkamili jami’an tawaffana, wa anta radlin anna, Allahummar hamni bitarkil ma’ashi abada ma abqaitani, warhamni an atakallafa ma la ya’nini warzuqni husnan nadhari fi ma yurdlika ‘anni ya arhamarrahimin”
Do’a Cukur Rambut      “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar. Alhamdu lillahi ‘ala ma hadana, wal hamdu lillahi ala ma’an amana bihi alaina. Allahumma hadzihi nshibati fataqabbal minni waghfirli dzunubi. Allahummaghfir lil muhalliqina wal maqshurina ya wasi’al maghfirah. Allahummastbut li bikulli sya’ratin hasanatan, wamhu ‘anni biha sayyiatan, warfa’li biha indaka darajah”
Do’a selesai cukur        “Alhamdu lillahilladzi qadla anna manasikana, Allhumma zidna imanan wayaqinan wa’aunan, waghfir lana waliwali daina wa lisa iril muslimina wal muslimat”
Do’a Masuk Arafah       “Allahumma ilaika tawajjahtu wa bika’tashamtu wa’alaika tawakkaltu, Allahummaj’alni mimman tubahi bihilyauma malaikatak,innaka’ala kulli syai-in qadir”
Do’a di Muzdalifah       “Allahumma inna hadzihi muzdalifatun jumi’at fiha alsinatun mukhtalifatun tas’ aluka hawaija mutanawwi’ atan,faj’alni mimman da’aka fastajabta lahu watawakkal ‘alaika fakaffaitahu ya arhamar rahimin”
Do’a sampai di Mina    “Allahumma hadza amp famnun ‘alayya bima mananta bihi ala auliyaika wa ahli tha’atika”
1
Add a comment...

Panji Dewangkara

Shared publicly  - 
 
Cara Memasang Umpan
Diposkan oleh Dunia mancing
 
Beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk memasang umpan, yaitu :
 
A. Mata kail
 
Mata kail berperan sangat penting dalam menggunakan umpan sotong (cumi) hidup, apabila kail itu besar dan berat maka ia akan membunuh umpan tersebut. Anda perlu menyesuaikan kail dengan umpan. Mata kail berukuran antara 1/0 hingga 8/0 adalah yang paling sesuai terutama yang diperbuat daripada "carbon steel" karena kail yang diperbuat daripada jenis ini adalah sangat ringan. Penggunaan kail tergantung pada ikan yang ingin di pancing, misalnya untuk ikan Tenggiri mata kail berukuran antara 5/0 hingga 7/0 dapat digunakan adapun untuk ikan jenis Tuna yang besar maka ukuran 5/0 hingga 10/0 yang digunakan.
 
B. Jenis perambut
 
Jenis perambut yang digunakan juga berperan sangat penting karena akan menentukan umpan tersebut dapat bergerak secara alami serta jenis kail yang perlu digunakan. Cobalah gunakan jenis "wire leader" yang paling halus sekali dari jenis 25 lb hingga 40 lb untuk ikan tenggiri dan 80 lb hingga 120 lb untuk ikan jenis Pari atau Pe atau cobalah gunakan jenis "mono leader" antara 60 lb hingga 120 lb dengan kail dari jenis "O'Shaughnessy" yang mempunyai batang (shank) yang panjang.
 
I. Umpan Ikan Hidup (Life Bait)
 
1. Cara memasang umpan untuk memancing di permukaan air (Surface Fishing)
Jika kita menginginkan umpan hidup bermain di atas permukaan air dimana ikan yang diburu seperti ikan tenggiri, ikan layaran atau mersuji. Kita memasang mata kail pada umpan ikan hidup pada beberapa bagian supaya umpan ikan tersebut akan berenang hanya beberapa kaki di permukaan air. Kita memasang mata kail pada belakang ikan dekat dengan ekor, boleh juga memasang mata kail di bagian belakang kepala atau melalui mulut ikan umpan tersebut.
 
 
2. Cara memasang umpan untuk memancing ke dasar atau ke bawah (Bottom Fishing)
Jika kita menginginkan umpan hidup kita bermain di dasar atau di bawah permukaan air dimana ikan yang diburu seperti ikan gerepoh (GT), kakap. . Kita memasang mata kail pada umpan ikan hidup pada beberapa bagian supaya umpan ikan tersebut akan berenang di dasar laut atau di bawah air. Kita memasang mata kail pada belakang ikan dekat dengan ekor dimana kail di letakkan pada bagian bawah ikan.
 
3. Cara memasang umpan untuk memancing di arus yang kuat atau menggunakan batu pemberat. (Fast current or with sinkers)
Ketika kita memancing di arus yang deras, kita memerlukan batu pemberat untuk umpan ikan hidup itu berada di tahap kedalaman yang kita tentukan. Kita memasang mata kail pada umpan ikan hidup pada beberapa tempat supaya umpan ikan itu hanya berenang di dasar laut atau di bawah air. Pasang mata kail pada belakang kepala ikan dimana kail diletakkan pada bagian atas ikan atau melalui mata umpan ikan tersebut. Cara ini dapat membantu ikan tersebut berada pada tahap yang ditentukan dan juga ikan tidak akan mati dengan cepat.
 
 
II. Umpan Sotong
 
Salah satu umpan yang paling digemari oleh pemancing di dunia adalah sotong atau cumi, dan umpan ini dapat digunakan secara seekor atau secara irisan maupun hidup atau yang sudah mati. Bagi saya sotong adalah umpan yang paling bagus digunakan sebagai umpan karena sotong adalah makanan utama ikan di laut. Dapat dikatakan semua ikan di laut memakan sotong.
 
A. Cara menyimpan Umpan Sotong
Terdapat banyak jenis sotong yang ada di perairan negara kita dan boleh dikatakan semua jenis sotong boleh digunakan dari jenis sotong gurita (octopus), sotong pisang (squid), sotong arus (cuttlefish) dan lainnya lagi.
Bagi penggunaan sotong kita haruslah menyimpannya dengan baik karena sotong yang busuk atau rusak tidak akan menarik minat ikan untuk memakannya. Selalulah menggunakan sotong yang segar dan baik.
Cara untuk menyimpan sotong supaya selalu segar adalah membalutnya dengan kertas koran beberapa ekor sebungkus dan dimasukan ke dalam es yang dihancurkan (buried in crushed ice). Tentukan setiap bungkusan hanya terdapat antara 3-5 ekor sotong. Dengan membuat begini kita akan hanya mengeluarkan sebungkus setiap untuk digunakan.
Apabila perahu atau boat yang anda naiki itu mempunyai tempat untuk menyimpan umpan hidup (life bait well), boleh anda menangkap sotong dan menyimpan di dalamnya. Namun yang perlu diperhatikan bahwa terdapat air yang selalu mengalir di dalamnya serta minyak tidak masuk ke dalam tempat menyimpan sotong tersebut. Apabila anda memancing diwaktu malam sediakan lampu menyala di dalam tempat penyimpanan sotong tersebut karena ini dapat menahan sotong dari mati.
 
B. Cara Memasang Umpan Sotong
1. Sotong Hidup
Beberapa cara untuk memasang umpan sotong hidup tersebut, yaitu :
Pada bagian ekor sotong kita perhatikan, di atas dekat dengan ekor sotong terdapat satu lubang di antara ekor sotong, masukkan mata kail melalui lubang tersebut dan cangkuk keluar kail tersebut melalui sisi yang sama.
 
Sekiranya umpan itu besar atau kita perlu menggunakan 2 mata kail maka satu mata kail dimasukkan ke dalam sotong tersebut dan satu lagi dibiarkan di luar sotong tersebut
 
 
III. Umpan Udang
Salah satu umpan yang digemari oleh pemancing adalah udang dan digunakan secara seekor atau secara irisan maupun hidup atau yang sudah mati. Umpan udang adalah umpan yang saya gemari karena udang adalah makanan utama ikan di laut, muara dan di sungai. Dapat dikatakan semua ikan suka memakan umpan udang.
 
A. Cara menyimpan Umpan Udang
Untuk penggunaan umpan udang kita haruslah menyimpannya dengan baik karena udang yang busuk atau rusak tidak akan menarik minat ikan untuk memakannya. Selalulah menggunakan udang yang segar dan baik. Apabila membeli udang pastikan yang masih segar dengan cara menarik kepala udang tersebut tidak mudah tercabut, apabila kepalanya mudah tercabut maka udang tersebut tidak segar lagi.
 
Cara untuk menyimpan udang yang masih hidup (life bait) adalah dimasukan kedalam wadah udang yang dapat air dan udara mengalir masuk kedalamnya, tempat atau wadah udang sebaiknya dapat dimasukan ke dalam air laut dengan dikaitkan seutas tali, hal yang terpenting adalah dalam wadah udang harus gelap atau tidak terang yang tembus langsung oleh cahaya matahari supaya udang tetap hidup. Untuk udang yang mati dan agar selalu segar adalah membungkusnya dengan kertas beberapa ekor sebungkus dan memasukannya ke dalam es yang dihancurkan. (buried in crushed ice). Dapat juga udang dibekukan terlebih dahulu. Tentukan setiap bungkus kertas hanya terdapat antara 5-10 ekor saja.
 
B. Cara memasang Umpan Udang Hidup
 
Pada bagian ekor udang kita perhatikan mempunyai garisan, ini adalah saraf belakang dan kita sepatutnya tidak mencangkuk mata kail di sini karena akan membunuh udang tersebut.
 
Masukkan mata kail di sebelah saraf tersebut dan cangkuk keluar kail tersebut melalui sisi yang berlawan (opposite).
 
 
Kita dapat juga mencangkuk udang tersebut pada kepala melalui kulit kepala di leher udang tersebut dan cangkuk keluar kail melalui mata udang tersebut.
Untuk umpan udang lipan (Mantis Prawn) terdapat pula beberapa tempat dimana kita dapat mencangkuk kail. Udang lipan yang hidup adalah yang terbaik untuk memancing ikan dari jenis ikan Kakap Merah, Jenaha dan Kerapu.
 
 
Untuk umpan yang segar atau mati kita dapat menggunakan cara di atas atau mencangkuk melalui ekor ke badan udang tersebut atau beberapa ekor sekaligus sekiranya udang tersebut kecil.
 
Berikut contoh-contoh cara memasang umpan lainnya:
  
Lainnya:


Lainnya lagi:


Semoga bermanfaat.
 

 
Cara Memasang Tali Pada Umpan Tiruan
Diposkan oleh Pemancing Indonesia "PemaIn" di Kamis, Januari 20, 2011
 
 ·  Translate
1
Add a comment...
In his circles
1 person
Have him in circles
3 people
Dewi Kusuma's profile photo

Panji Dewangkara

Shared publicly  - 
 
DIMENSI SPIRITUAL IBADAH PUASA Oleh: Yadi M. Erlangga Puasa yang dalam bahasa arab bernama shaum, memiliki makna awal menahan diri. Orang yang puasa bicara misalnya, adalah orang yang secara sengaja menahan diri untuk tidak megumbar omongan sekehendak hatinya. Dalam konteks ibadah puasa ramadhan selanjutnya para ulama ahli fiqih mendefinisikannya sebagai upaya menahan diri untuk tidak melakukan makan, minum dan hubungan seksual dari subuh hingga magrib tiba. Namun betulkah puasa ramadhan itu hanya menyentuh pada ketiga ranah kebutuhan fisik semata yakni makan, minum dan hubungan seks? Jawabannya tentu tidaklah sederhana. Secara ilustratif Imam Ghazali memberikan tiga pemeringkatan pada orang yang berpuasa. Pertama adalah puasanya orang awam, puasa jenis ini adalah puasa yang dilaksanakan yang hanya mengacu pada definisi ilmu fiqih semata. Kedua adalah puasa khusus, yakni disamping menahan diri dari makan, minum dan hubungan seks juga menahan pendengaran, penglihatan, lidah, kaki dan seluruh anggota badan dari melakukan perbuatan yang mendatangkan dosa. Ketiga adalah puasa khususil khusus, puasa ini adalah puasa yang tergolong telah mencapai puncak spiritualitas tertinggi untuk mencapai makna puasa yang hakiki. Puasa jenis ini ditandai dengan puasanya hati dari niat-niat yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta berusaha untuk memalingkan hati dari segala sesuatu selain Allah. Puasa seperti ini dianggap batal dengan tertuju pikiran dan perasaan kepada sesuatu selain Allah. Inilah puasa yang senantiasa dilakukan oleh para Nabi dan para kekasih Allah. Islam adalah agama yang rasional, manusiawi sekaligus terstruktur, itulah mengapa untuk mencapai puncak spiritualitas puasa tertinggi harus dimulai dari pengendalian diri dari hal-hal yang bersifat mendasar. Para ahli telah bersepakat bahwa tiga kebutuhan dasar manusia dan bersifat instingtif adalah makan, minum dan hubungan seks. Puasa dalam levelnya yang paling dasar adalah memang pelajaran untuk mengendalikan diri dari ketiga kebutuhan manusia tadi. Patutlah diingat bahwa makna dasar puasa adalah pengendalian diri bukanlah pembunuhan keinginan diri. Dengan demikian hasrat ketiga keinginan diri tersebut sesungguhnya hanyalah dikendalikan semata, itupun dalam situasi dan waktu tertentu saja. Dalam situasi sakit, ibu menyusui, orang yang renta usia misalnya upaya pengendalian diri menjadi tidak relevan karena yang terpenting dalam konteks ini adalah penyembuhan, kesehatan bayi dan kelangsungan hidup orang tua.
Dalam hubungannya dengan dimensi waktu, puasa itu sendiri hanyalah dilakukan di siang hari, tidak sepanjang siang dan malam. Artinya aktivitas makan, minum dan hubungan suami istri di malam hari tidaklah dilarang. Namun demikian, lagi-lagi semuanya harus terbingkai dalam konsep “pengendalian diri”, maknanya: meskipun dilakukan di malam hari dengan makanan dan minuman yang halal serta dengan istri
2
yang sah, tetap saja harus dilakukan tanpa berlebihan dan rakus. Melakukan aktivitas makan, minum dan hubungan suami istri secara over dosis tentunya akan menghilangkan makna puasa itu sendiri yakni upaya pengendalian diri. Dan puasa yang hanya memindahkan kerakusan berkonsumsi dari siang ke malam hari tentu nilai pahalanya hanyalah sebatas haus dan dahaga. Inilah salah satu argumen yang menjelaskan sifat dari ajaran Islam yang rasional dan manusiawi. Selanjutnya Islam juga adalah agama yang terstruktur. Artinya metode dan proses untuk “menjadi sesuatu” dalam Islam sangatlah penting. Puasa itu sendiri sesungguhnya adalah sarana atau proses bagi umat Islam menuju Taqwa, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183. Konsep terstruktur biasanya berawal dari sesuatu yang dasar. Itulah sebabnya puasa mengawali pengendalian dirinya dari makan, minum dan hubungan seks. Haruslah disadari bahwa pengendalian diri dari ketiga hal ini saja adalah luar biasa berat. Hanya karena pertolongan dan intervensi dari Yang Maha Kuasa sajalah kita mampu menjalankannya. Selanjutnya karena “proses” itu sendiri dalam Islam sangatlah penting, maka upaya pengendalian diri itu sendiri tidak boleh stagnan, hanya berhenti pada aspek fiqih semata. Harus ada upaya untuk terus meluaskan wilayah pengendalian diri dari hanya tiga ranah fisikal sesuai fiqih, menuju pengendalian diri yang lebih luas dan paripurna sesuai konsep tasaufnya Al-Ghazali. Bahwa dalam kenyataannya kita akan sampai atau tidak sampai pada level tertinggi puasa, itu sepenuhnya menjadi hak Allah. Tugas kita hanyalah berupaya secara keras dan serius untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas puasa. Karena struktur puasa itu sendiri bertingkat-tingkat, serta adanya perintah Allah untuk terus menghisab dan mengevaluasi diri, maka kita pun harus terus bertumbuh dan berkembang menuju pemeringkatan puasa yang lebih tinggi sifatnya. Hanya dengan cara inilah yakni berproses secara metodis dan terstruktur yang antara lain dicapai melalui latihan yang terus menerus dan pengendalian diri yang istiqamah, derajat taqwa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa niscaya akan dapat diraih.
 ·  Translate
1
Add a comment...

Panji Dewangkara

Shared publicly  - 
 
Buroq
 
Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi sebuah peristiwa yang sangat penting yaitu Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW, walaupun sekarang bukan bulan Ra’jab akan tetapi hal yang pokok dari Isra’ Mikraj itu sering kali terlupakan oleh kita semua. Hal yang paling pokok dalam Isra’ Mikraj adalah proses perjumpaan Nabi dengan Allah SWT dan  Beliau memakai kenderaan yang mempunyai kecepatan tak terhingga yang kita sebut dengan Buroq dan dibawah bimbingan Jibril AS
Kalaulah nabi Muhammad menuju Tuhan harus memakai Buroq apakah Saidina Abu Bakar dan para sahabat Nabi juga  harus memakai Buroq?
TIDAK
Lho berarti para sahabat lebih hebat dari Nabi donk, Nabi menuju kehadirat Tuhan harus mamakai kendaraan sementara sahabat langsung bisa jumpa Tuhan, bukankah itu suatu hal yang mustahil?
Pertanyaan lebih lanjut, apakah kita juga harus memakai Buroq juga?
TIDAK!!!
Berarti kita lebih hebat dari Nabi Muhammad SAW?
Menurut saya untuk bisa mencapai sesuatu dengan hasil yang sama maka kita harus memakai rumus yang sama juga, kalau kita memakai rumus yang berbeda maka hasilnya juga akan berbeda. Sebagai contoh apabila kita ingin ke Bulan yang sifatnya zahir dan bisa dilihat maka kita harus memiliki kenderaan yang bisa melawan gravitasi bumi, dan kita sepakat untuk bisa ke bulan harus memakai roket, kenderaan yang sudah terbukti bisa mengantarkan manusia ke bulan. Andai generasi berikut ingin ke bulan tentu minimal harus memakai kenderaan yang sama agar bisa mendarat di bulan. Kalau kita memakai kendaraan yang berbeda maka sudah pasti tidak akan bisa mendarat di bulan.
Lalu bagaimana mungkin kita bisa sampai kehadirat  Tuhan kalau tidak memakai kenderaan yang sama seperti kenderaan yang dipakai oleh Nabi Muhammad SAW menuju kehadirat Allah SWT?
Apa itu Buroq?
Pertanyaan ini harus kita jawab terlebih dahulu, kita semua harus tahu apa itu Buroq sehingga akan memudahkan kita untuk bisa mengerti tentang proses perjalanan Nabi menuju Allah SWT. Dari hadist kita tahu dan saya baca disini bahwa Buroq itu adalah binatang ini berwarna putih, lebih besar dari himar lebih rendah dari baghal, dia letakkan telapak kakinya sejauh pandangan matanya, panjang kedua telinganya, jika turun dia mengangkat kedua kaki depannya, diciptakan dengan dua sayap pada sisi pahanya untuk membantu kecepatannya.
Demikianlah gambaran buroq yang saya dapatkan berdasarkan hadist Nabi
Apa memang Buroq itu memang sejenis binatang yang punya sayap? Atau hanya sebuah permisalan yang digambarkan nabi karena zaman itu kenderaan yang lain cepat adalah Kuda.
Saya yakin orang yang telah sampai kehadirat Allah SWT akan tersenyum membaca tulisan ini, senyum penuh makna, lalu bagaimana dengan orang yang berkerut keningnya?
Saya tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas karena semua jawaban akan saya serahkan sepenuhnya kepada saudara-saudara sekalian. Semoga kita semua akan menemukan jawaban yang sebenarnya, amien
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Panji Dewangkara

Shared publicly  - 
 
Langit kelir tabir Gusti
Tabire ya wong ngawayang
Wayang manut maring dalang
Dalange murba ing wayang
Kelire ayon sabita Gusti

MERCUKUNDA, SURALAYA.—Sang Hyang Pramesti Guru Jagatnata, ya Sang Hyang Otipati Penguasa Jagat Triloka, duduk di atas singgasana Kursi Gading Gilang Kencana, dihadap para dewa, para batara, para sang hyang, para bidadara, para hapsara seluruh warga Sorgaloka.

JAGATNATA: Kakang Panji Narada, Kang—sesungguhnya apa yang terjadi di Kahyangan ini? Magma Candradimuka ber-golak, lava menggelegak, gempa berderak, Gerbang Selama-tangkep retak, Istana rusakporak. Prahara apa ini, Kang Panji?

NARADA: Aduh, Adi Guru—ampun seribu ampun. Ini semua gargara balamala raksasa dari negeri Tunggulwesi yang dipimpin oleh Jendral Nurkala Kalimantra. Dia meminta tahta surga. Begitu Gusti Pramesti.

JAGATNATA: O jagat dewa batara! Betapa lancang ia. Kenapa tidak dicekal?

NARADA: Sudah, Adi Guru—Cingkarabala dan Balaupata berhasil membendung balamala raksasa itu dengan menutup Gerbang Selamatangkep. Dan kini mereka berada di padang Repatkepanasan. Untuk tindak-lanjut kami menunggu petunjuk Adi Guru.

JAGATNATA: Jangan dibiarkan mahluk itu menginjak-injak Kahyangan. Suruh pergi! Usir! Bila perlu basmi!

NARADA: Baik, Gusti! Permisi—Indra!

INDRA: Siap!

NARADA: Siapkan seluruh kekuatan tempur Suralaya Demi membasmi balamala Nurkala Kalimantra.

INDRA: Siap!

“Para dewa siap bertindak: Batara Brama, Batara Wisnu, Batara Surya, Batara Bayu, Batara Kamajaya, Batara Sambu, Batara Kuwera, Batara Yamadipati, Batara Aswan, Batara Aswin, Batara Bermana, Batara Bermani, Batara Bermana-kanda, Batara Citragada, Batara Citrasena, Batara Sambodana, Batara Rawiatmaja, Batara Karaba, Hyang Patuk, Hyang Tem-boro, Hyang Dewanggana, Hyang Dewasana, Hyang Dewang-kara, Hyang Sanggana, Hyang Pancadewa, Hyang Pancaweda, Hyang Dewatama,—”
“Siap! Siap! Siap! Siap!—”

Siapsiaga para dewa
Basmi mala Triloka!

Buta-buta mala
Bala pada laga

REPATKEPANASAN.—Jendral Nurkala Kalimantra menanti dalam benci, menunggu penuh nafsu.

KALIMANTRA: Grrrk-cuah-huahaha… e, e, bojleng-bojleng iblis najis pada bengis! Mana si Jagatnata? Pasti sembunyi di ketiak bidadari! Takut padaku! Huahaha… model begitu patut maharajadiraja para dewa? Turun tahta sajalah, Jagatnata! Serahkan padaku! Jika tidak, Suralaya kubuat kiamat dahsyat!

KALAMURKA: Tobat, Gusti—lihat! Gerbang Selamatangkep terbuka. Para dewa menyatakan perang!

KALIMANTRA: Grrrk-cuah! Laknatkeparat! Serbu!

“Serbu! Serbu! Serbu! Serbuuu—”
Buta maju
Menyerbu!

Berang! Garang!
Buta menyerang!
“Lu brani ame dewa?”
“Why not? Lu jago, gue jago! Lu jantan, gue jantan! Buktikan: siapa lebih jantan, siapa paling jagoan!”
“Khhk-cuah! Buta edan!”—(Clap!)—“Ciiaatt!”—(Jder!)
Serbu tinju seru!
(Bet!)—“Hih!”—(Dez! Dig! Bugh!)—“Hegkh!”—(Bruk!)
“Ayo bangun, Dewa!”
“D-du-uh… tob-ba-at….”
Sepak telak! (Brak!)—“Aakkhh!”
Tanpa kutik lagi ia mati suri.
“Brama kalah! Bayu mundur!”
“Para dewa mundur! Mundur!”
“Mundur! Mundur! Mundur!—”
NARADA: Celaka! Para dewa kalah digdaya. Wisnu!

WISNU: Yes, Sir!

NARADA: Maju!

WISNU: Siap!

“Nurkala Kalimantra! Hadapi aku Batara Wisnu!”
“Siapa? Wisnu? Ayo maju—mana jago dewa? Grrrk-cuah! Lho kok tidur? O tiarap! Ngapain, Wisnu?”
“Usah tanya mala! Rasakan rudal Cakra—mampus jiwamu!”—(Wuzz! Clap!)
(Krep!)—“Huahaha… rudal model beginian sih mana mempan!”—(Pluk! Ccss!)
“Edan! Mejen, Wisnu!”
“Aduuhh celakaaa—”
“Lari! Lari! Lari!”
Dewa tawur
Pada mabur

NARADA: Aduh, Adi Guru—celaka! Para dewa tiada daya; para hyang tiada menang. Bagaimana sekarang, Adi Guru?

JAGATNATA: Kakang Panji Narada harap segera membumi demi mencari jago dewata—lelaki langit jejaka jagat!

NARADA: Baik, Adi Guru!

Kala tiba gara-gara:
Pertanda madiacerita

KARANG KABOLOTAN.—Desa luar kota. Dusun buhun. Dukuh jauh sentuh. Terpencil! Di tengah huma, di sebuah lereng, di lengkung gunung, ada sebuah gubug beratap ilalang. Itulah rumah Ki Semar Badranaya beserta para putra Panakawan Amarta. Tanpa polusi kota, mereka bahagia. Hidup penuh candaria.

Lir ilir, lir ilir
Tandure wus sumilir

“Anu, Truk—sinilah! Bawa golok dan bambu.”
“Buat apa?
“Buat api! Biar anget: sore—kabut mulai turun. Eh, Bagong mana?”
“Entah! Cari babi, ‘kali? Cuaca begini: banyak kutu-jagung hama huma.”
“Lha, Romo—ke mana?”
“Nunggu Pak Jun!”
“Di puncak bukit?”
“Ho-oh, brrr… dingin!”
“Ni bakar jagung!”
“Ah, bosan! Suasana begini: kangen kekasih! Hehehe….”
Cinta, ia dipuja
Rindu, ia diburu
“Indah, kasihku!”
“Juilah!”
SEMAR: Gemana, Pak Jun?

ARJUNA: Parasut Tunggulnaga penyelamat rudal Ardadedali memang jatuh di bukit ini. Lihat, ini dia! Untung tidak meledak bersama pesawat tempur pengangkut Ardadedali yang di-tembak jatuh musuh.

SEMAR: O, o, o.

ARJUNA: Kini, mari ke Indraprasta. Semoga kanda Yudistira pun sudah menemukan kembali pusaka negara Kalimasada.

SEMAR: Mari, Pak.—Le, ayo kita ke kota!

“Nah!” “Beres, Mo!”
“Buru, Gong. Kota!”
Turun gunung Arjuna
Rambah belantararaya

Cekal Cakil
Si Butajail

MARGASOPANA.—Jendral Arjuna dan Panakawan menghadapi penodongan.

“Brenti! S-stop! S-siapa nama? M-mau ke mana? D-dari mana? Lima ribu! Cepat!”
“Elho! Nodong?”
“Hantam, Gong!”
(Jduh!)—“Ghk!”
“Pragalba, Rambutgeni, Galiuk, Bita Terong—maju serbu!”
“Siap!” “Beres!” “Szip!” “O’eh!”—(Jlap! Jlap! Jlap!)—“Awas!”—(Klik!)—“Hiiaa!”—(Dreder-der...!)—“Mampus lu!”
“Hehehe… Buto bego!”
Buta-buta pada sirnaperlaya
Lalu Arjuna Bersua Narada

NARADA: Eladah… bergenzong anak wong bakal doboyong! Kebetulan, Jun—ketemu. Jua Ki Semar, hahaha… apa kabar?

SEMAR: Kabar kabur! Eh, Nar—dewa kok keluyuran? Di Kahyangan kurang kerjaan, ya?

NARADA: Aduh, Ki Semar—ketahuilah…. Kahyangan geger! Suralaya diserbu balamala Nurkala Kalimantra. Dewa kalah, parah, pasrah! Bidadari pada resah! Aku diutus mencari jago dewata di bumi ini. Begitulah, Ki Semar.

SEMAR: O, o, o… siapa tadi? Nurkala Kalimantra! Pantes! Dia masih satu silsilah dengan raksasaraja Kalimataya penyerbu Suralaya yang ditumpastuntas oleh mahapakar nuklir Prof Manumayasa. Saat ini tiada jago dewata kecuali Arjuna.

NARADA: Baik, Ki Semar! Gemana, Jun?

ARJUNA: Siap!

Buru Arjuna menuju
Suralaya malasatru

Ia luka. Mati!
Tan dukahati!

REPATKEPANASAN.—Rudal Ardadedali menembak telak Nurkala Kalimantra. Meledak!

“Kalimantra mati!”
“Hidup Arjuna!”
Kalimantra meniada
Kalimasada mengada


Semarang, 12 November 1991 Ki Harsono Siswocarito
Label: Indonesia, Lakonet
 ·  Translate
1
Add a comment...
People
In his circles
1 person
Have him in circles
3 people
Dewi Kusuma's profile photo
Basic Information
Gender
Male