Profile cover photo
Profile photo
Rika Reviza Rachmawati
194 followers -
I am muslimah, have a great exuberance for learning prompted, had a bright mid and a lighthearted personality, and have a big dreams to be valuable person, step by step, I pushed myself onward till I reached my dreams...^^
I am muslimah, have a great exuberance for learning prompted, had a bright mid and a lighthearted personality, and have a big dreams to be valuable person, step by step, I pushed myself onward till I reached my dreams...^^

194 followers
About
Rika's posts

Post has shared content
Butiran penuh hikmah :

BAGI PARA SUAMI DAN ISTRI BACA HINGGA SELESAI....☺

"Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.

Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.

Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.

Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.

Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.

Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur....

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.

Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.

Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah swt.

Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”

Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.

Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

*

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Aminah, istri Amin, terperanjat
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.

Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.

“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku.

“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah swt. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Rabbana hablana min  azwajina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alni Lilmutaqinna Imama (Rz by WhatsApp]
PhotoPhotoPhoto
08/06/15
3 Photos - View album

Post has shared content
1. bagi lelaki yang taat Allah, hal terpenting dari calon istri kelak | bahwa calon istrinya haruslah yang taat pada Allah melebihi segala

2. karena lelaki itu tahu bahwa ketaatan Muslimah pada Allah | adalah jaminan ketaatan istrinya itu pada suaminya dalam kehidupan

3. maka wajah, suku, keturunan, bisa dinegosiasikan | tapi tidak ada tawar menawar dalam urusan ketaatan

4. wajar pula bila lelaki taat itu mencari wanita yang menutup aurat | karena itu indikasi yang terlihat, tanda-tanda mudah dalam taat

5. atau seorang suami yang sudah bertambah salih, makin dekat Allah | wajar baginya meminta istrinya agar taat Allah dengan menutup aurat

6. pertama, tanda taatnya pada Allah, ia mengajak keluarganya taat | kedua, lelaki normal enggan aurat istrinya diperhatikan lelaki lain

7. namun bagaimana bila situasinya terbalik? | bila suami yang melarang istri menutup auratnya?

8. bila itu yang terjadi, layani suaminya dengan baik, ambil waktu yang tepat | lalu sampaikan penuh kelembutan padanya..

9. "di hari aku menerima pinanganmu, mungkin aku bukan wanita terbaik, tapi aku berharap jadi yang terbaik bagimu.."

10. "di hari ayahku menyerahkanmu kepadamu, aku berharap engkau membimbingku, menuju kebaikan demi kebaikan, kini dan nanti.."

11. "tapi kini aku belajar banyak, bahwa aku mencintaimu karena aku mencintai Allah, karena Allah mencintai kita.."

12. "maka aku padamu tak berubah sejak itu, kecuali bahwa semua rasa ini kujaminkan pada Allah, yang memiliki hati kita berdua.."

13. "sejak aku mengenal Allah, aku tahu beratnya tugasmu atasku, dan aku tak ingin menambah bebannya lagi dengan maksiat dan dosa.."

14. "dengan nama Allah engkau halalkan seluruh aku, tapi tidak dengan lelaki lain, auratku fitnah bagi mereka, dan mereka fitnah bagiku.."

15. "maka ketauhilah, aurat yang kututupkan ini, untuk mata lelaki lain, bukan bagimu, ketaatan pada Allah juga ketaatan padamu.."

16. "bila engkau khawatir aku tak istiqamah lantas melarangku, maka ketahui bahwa ridha dirimu adalah doa bagiku, penguat taatku.."

17. "Allah ada dalam shalatku, maka aku menutup aurat saat shalat, dan Allah juga melihat selain shalat, maka aku pun menutup auratku.."

18. "bila engkau takut aku berubah karena pakaian ini, maka ketauhilah tak ada yang berubah kecuali kebaikan demi kebaikan.."

19. "berkah Allah bagi yang taat, bertambahnya kebaikan, biarlah keindahanku hanya engkau yang tahu, biarlah aku bagimu saja.."

20. "jangan paksa aku memilih, karena ketaatanku pada Allah pasti kudahulukan, namun kutahu engkaupun tahu, maka bantulah aku dalam taat.."

21. "sejak hari engkau menerima ijab ayahku, engkau surga bagiku, dan engkau neraka bagiku, kawal aku dari neraka, pimpin aku ke surga.."

22. Allah Mahabaik, yang akan memudahkan semua niatan baik | tetap istiqamah dalam berhijab dan ketaatan, walau kadang tak mudah :)

Post has shared content
Narrated Abu Huraira: Allah's Messenger (peace be upon him) said: “If the people knew the reward for pronouncing the Adhan and for standing in the first row (in congregational prayers) and found no other way to get that except by drawing lots they would draw lots, and if they knew the reward of the Zuhr prayer (in the early moments of its stated time) they would race for it (go early) and if they knew the reward of `Isha' and Fajr (morning) prayers in congregation, they would come to offer them even if they had to crawl.”


[Sahih Al-Bukhari, Book of Adhan (Call to Prayer), Hadith: 615]

#Darussalam #Hadith
Photo

Post has shared content
Life is a trip and your map is the Quran. Without it, you'll never get to your destination.
Photo

Post has shared content
Whatever hardship your facing, have trust that Allah will get you through it. Allah does not burden a soul with anything it can’t handle.

Post has attachment
Perjalanan terjauh dan terberat adalah kemasjid :-(

Post has shared content

Allah already knows what we want. He gave us Dua so that we can taste the sweetness of speaking to Him.
#islam  
Photo

Post has shared content
The seven kinds of people granted the shade of Allah on the day where there is no shade but Allah's shade.

Try to at least be one of these people. May Allah make us of them.
#islam  
Photo

Post has shared content

Post has shared content
Wait while more posts are being loaded