Profile cover photo
Profile photo
Ardhianto Adhi Nugroho
32 followers
32 followers
About
Posts

Post has attachment
Hasil Kotak Infaq, Maret 2016
Hasil Kotak Infaq, Maret 2016
lazisbn.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
Lazis Baitun Ni'mah
Lazis Baitun Ni'mah
lazisbn.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment

Post has attachment
Meja Baca Mushaf Qur'an
Pingin
betah berlama-lama membaca Mushaf Qur’an, dengan posisi lesehan, tanpa ada
keluhan capek pada otot leher dan punggung? Meja baca mushaf Qur'an ini di desain
dengan ketinggian dan derajat kemiringan yang telah disesuaikan dengan postur
tinggi badan ra...
Add a comment...

Utsman bin Affan radhiallahu anhu berkata :

"Demi Allah, seandainya hati kita hidup, ia tidak akan pernah kenyang dengan Al-Qur'an."
Add a comment...

Post has shared content
Add a comment...

Post has shared content
Ketika 4 Hal ini Terjadi, Islam Akan Jadi Penguasa Dunia



Melihat kembali Islam di masa lalu memang sangat membanggakan. Dulu agama ini begitu berjaya di seantero Bumi. Bahkan pengaruhnya menyebar sampai Eropa hingga Amerika. Tak cuma soal wilayah, Islam juga jadi pusat peradaban di masa kejayaannya. Banyak sekali ilmuwan Muslim yang namanya tersohor di berbagai bidang keilmuwan. Mulai dari Ibnu Sina yang bukunya dijadikan rujukan kedokteran selama beberapa abad, Sampai Al Khawarizmi yang temuannya jadi standar ilmu matematika hingga kini.

Pernah begitu membanggakan, begitu penuh kejayaan, kini Islam seperti berada di masa terburuknya. Mulai yang dianggap ajaran teroris sampai banyak yang menghinanya seperti Charlie Hebdo serta kasus-kasus serupa lainnya. Belum lagi kasus pertikaian di Timur Tengah sampai Israel yang tak henti-hentinya berbuat zalimi kepada saudara Palestina kita, makin membuat agama ini makin terpuruk lagi.

Rindu masa dimana Islam kembali berjaya, tidak lagi dipandang sebelah mata, dan jadi rujukan keilmuwan dunia. Hal seperti ini pun sangat mustahil jika kita masih saja seperti ini. Namun bisa saja kita membalikkan Islam ke zaman kejayaannya seperti dulu. Namun untuk itu, 4 hal ini harus bisa kita lakukan.



1. Sholat 5 Waktu Seperti Sholat Jumat
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan “musuh Islam akan ketar-ketir ketika Muslimin memenuhi masjid-masjid mereka ketika sholat fardhu seperti sholat Jumat.” Karena yang terjadi tidaklah demikian, maka kita pun tetap tidak jumawa. Sebenarnya ungkapan tersebut tidak hanya diartikan mentah-mentah saja. Namun ada makna yang sangat dalam di baliknya.

Memenuhi masjid seperti sholat jumat, berarti umat sudah mengerti akan begitu fundamentalnya sholat yang bisa diartikan sebagai kewajiban. Sholat sendiri memang wajib dilakukan di masjid secara berjamaah kecuali bagi para wanitanya yang hanya disunnahkan. Berjamaah berbondong-bondong mendirikan kewajiban akan berimbas kepada kuatnya persatuan antar Muslim. Ketika hati sudah menyatu, halangan apa pun akan diterjang. Hal inilah yang ditakutkan pihak pembenci Islam. Sayangnya, kenyataannya memang masih hanya sholat jumat saja masjid ramai.


2. Setiap Orang Kaya Tidak Pelit dan Tak Berat Mengeluarkan Zakat
Zaman Muslim dulu, mereka benar-benar total di dalam Islam. Alhasil agama ini pun bertumbuh menjadi sebesar sekarang. Totalitas mereka tak hanya tentang menegakkan syariah saja, tapi juga tentang perilaku kewajiban dan kebaikan yang selalu dilakukan. Termasuk salah satunya adalah melakukan zakat dan sedekah. Dulu, umat Muslim sadar diri untuk selalu membantu yang miskin. Alhasil, taraf hidup masyarakat Islam dulu tinggi.
Sekarang, silakan hitung umat Muslim yang sangat miskin bahkan makan saja tidak sanggup. Sangat banyak, apalagi di negara-negara yang krisis konflik dan juga tinggal di daerah yang tak kondusif. Sekarang kita tengok umat Muslim yang kaya. Jumlahnya ternyata juga sangat banyak. Ketika si kaya ini peduli dengan memberikan zakatnya, lalu juga mau menyedekahkan sebagian hartanya untuk yang lain, mungkin tidak seorang Muslim pun yang terlantar hidupnya. Tidak ada lagi yang miskin, Muslim pun akan jauh lebih kuat.


3. Muslim Punya Pemimpin yang Takut Kepada Tuhan dan Tak Cinta Dunia
Suatu ketika seorang tamu datang ke Madinah untuk mencari Khalifah Umar Bin Khattab. Setibanya di sudut kota, si tamu ini pun bertanya kepada seorang pria paruh baya yang tengah berbaring di sebuah pelepah kurma. “Bisa tunjukkan saya di mana istana Khalifah? Saya ingin bertemu beliau.” Pria paruh baya itu pun menjabat tangan sang tamu dan berkata, “Saya Khalifah Umar.” Hal ini pun membuat sang tamu kaget bukan kepalang.
Beginilah potret pemimpin yang seharusnya. Benar-benar sederhana sampai dalam tindak tanduknya sehari-hari. Ketika menjadi Khalifah, Umar Bin Khattab juga sangat bertanggung jawab. Bahkan ketika ada seorang rakyatnya yang kelaparan, ia sendiri yang memanggul karung gandumnya. Dengan pemimpin seperti ini, Islam benar-benar meraih kejayaannya kala itu. Ingin Islam kembali seperti dulu, syarat ini juga harus dipenuhi.


4. Tidak Terpecah Menjadi Golongan-Golongan
Islam terpecah menjadi golongan sebenarnya bukan hal yang terlalu mengejutkan. Pasalnya Nabi sendiri pernah bersabda jika di akhir zaman nanti agama ini akan terpecah menjadi banyak golongan. Hanya satu yang pada akhirnya akan mendapatkan rahmat Allah. Mereka adalah yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah. Hari ini, apa yang disabdakan Nabi mulai terjadi



Mulai muncul golongan-golongan dalam tubuh Islam sendiri. Bahkan tak cuma itu, kadang pula saling mengkafirkan satu sama lain sedangkan kesesatannya sendiri tidak digubrisnya. Dengan pecahnya Islam menjadi golongan seperti ini, tentu saja akan membuat umat bingung harus masuk kepada golongan yang mana. Belum lagi propaganda-propaganda yang dilakukan pihak pembenci Islam juga turut memecah agama ini.
Masalah khilafiyah seperti memakai qunut ketika sholat subuh atau tidak, bukanlah menjadi hal yang harus diperdebatkan sampai akhirnya pecah golongan. Tiap orang punya mazhabnya masing-masing dan harus dihormati. Berbeda halnya jika masalahnya adalah fundamental. Sebenarnya Nabi sendiri sudah memberikan kita pegangan yakni Al Qur’an dan Sunnah, maka ini yang kita ikuti sampai ajal menjemput.

Jika semua ini bisa dilakukan, maka sekali lagi kejayaan Islam akan bisa terulang. Sayangnya, kita terlalu berat melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjamaah, tidak paham akan arti berbagi, sampai tidak berani memilih pemimpin yang bisa diikuti. Kalau terus seperti ini, maka jangan bermimpi agama Islam bisa kembali berjaya. Pada intinya semua kembali kepada kita sendiri bagaimana membawa dan menjalankan agama ini dengan baik.




Add a comment...

Post has shared content
👤 Ustadz Muhammad Nuzul Zikri, Lc


LEBIH BERHARGA DARI 1 MILYAR PER HARI

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُلِلّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَارِك

Pemirsa yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, apakah Anda pada saat ini sedang mencari sebuah pekerjaan?

Atau Anda tidak puas dengan penghasilan bulanan Anda lalu Anda ingin memperbaiki kondisi finansial dan penghasilan yang halal yang selama ini Anda terima.

Lalu Anda buka lembaran surat kabar yang berisikan informasi-informasi tentang lowongan pekerjaan.

Atau Anda buka internet di forum lowongan pekerjaan lalu Anda mendapatkan sebuah informasi bahwa ada sebuah pekerjaan halal yang menawarkan penghasilan yang begitu mencengangkan.

Perusahaan tersebut menawarkan penghasilan 200 juta sebulan misalnya dan pekerjaan itu cocok dengan latar belakang Anda.

Apakah Anda akan mengambil peluang itu, mengirim surat lamaran?

Apakah Anda akan tinggalkan pekerjaan anda yang lama?

Saya rasa kita semua tahu jawabannya.

Anda akan ambil peluang itu dan tidak menyia-nyiakannya.

Kenapa?

Jawabannya simpel.

Mendapatkan 200 juta sebulan dengan cara yang halal.

Pemirsa yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

Ada baiknya kita merenungkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam di bawah ini.

Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam menawarkan hal yang hampir serupa, jika kita aktualisasikan dengan bahasa kita.

Dalam sebuah hadist yang shahih, hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Nabi menawarkan sebuah penghasilan yang halal kepada para sahabatnya.

Mari kita simak bersama.

Beliau menyatakan, "Wahai sahabat, siapa diantara kalian yang berminat untuk pergi ke Buth-han dan 'Aqiq?

Apa itu Buth-han dan Aqiq? Buth-han dan Aqiq adalah dua pasar unta di dekat kota Madinah.

Dan mengapa Nabi Shallahu 'alaihi Wasallam menawarkan hal itu kepada para sahabatnya?

Mari kita simak lanjutan hadist tersebut

"Untuk mendapat dua unta Kaumawain dengan tanpa dosa dan tidak memutuskan tali silaturahim."

Dengan bahasa yang lebih sederhana, Nabi menawarkan dua unta Kaumawain dengan cara yang halal dan tidak menzhalimi orang lain.

Apabila kita berada di posisi sahabat, siapa diantara kita yang menerima tawaran tersebut?

Pemirsa jangan cepat-cepat menolak, karena unta Kaumawain adalah unta terbaik yang ada di muka bumi ini.

Dan apabila kita hargai dengan harga sekarang maka satu ekor bisa bernilai 500 juta lebih, Allahu Akbar!

Dan berapa ekor yang Nabi tawarkan?

Dengan dua unta Kaumawain.

Sebulan sekali? Tidak.

Nabi mengatakan "Setiap hari."

Anda pergi ke pasar unta tersebut untuk mendapatkan dua unta Kaumawain.

Sekali lagi jika satu unta berharga 500 juta dan orang tersebut mendatanginya setiap hari sebagaimana tawaran dan saran Nabi, maka berapakah penghasilan dia satu bulan?

Kurang lebih tiga puluh miliar, karena satu hari 1 M.

Siapa tidak berminat?

Saya rasa jika ini dilemparkan dan ini ditawarkan ke tengah-tengah kita, maka tidak ada satupun kaum muslimin yang menolaknya .

Begitu juga dengan para sahabat, karena ini tidak aib, melainkan dengan jalan yang halal.

Mereka mengatakan, "Wahai Rasullullah, kami berminat untuk pergi ke sana. Kami mau berangkat ke sana untuk mendapatkan dua unta Kaumawain setiap hari secara gratis dan halal."

Ini penghasilan halal yang begitu menggiurkan, siapa yang tidak mau?!

Begitu Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam melihat respon para sahabatnya dan melihat kesiapan mereka untuk bergegas pergi ke dua pasar unta tersebut, Nabi Shallallahu 'alaihi Wassallam kembali bersabda di hadapan mereka

"Kalau kalian berminat untuk mendapatkan dua ekor unta tersebut (dua ekor unta yang harganya kurang lebih 1 M) setiap hari, mengapa kalian tidak pergi ke masjid untuk mendapatkan dua ayat di dalam Al-Qurānul Karim agar kalian mengetahui dan membaca dua ayat dari Al-Qur'anul Karim.

Karena dua ayat yang kalian baca dan pelajari itu lebih baik (lebih mahal, lebih tinggi) nilainya di sisi Allah di banding dua unta Kaumawain.

Dan tiga ayat itu lebih baik (lebih mahal, lebih tinggi nilainya) dari tiga unta.

Dan empat ayat yang kalian pelajari, itu lebih mahal dari empat unta.

Dan begitu seterusnya... lima ayat lebih mahal dari lima unta.. enam ayat lebih mahal dari enam unta... tujuh ayat lebih mahal daripada tujuh unta... Allahu Akbar!

Bagi kita yang sedang mencari pekerjaan halal, yang ingin meningkatkan penghasilan bulanan kita, kenapa kita tidak berpikir dan merenungi hadist ini?

Mengapa kita mencari pekerjaan?

Mengapa kita mencari penghasilan yang halal?

Banyak orang mengatakan untuk masa depan.

Kalau demikian, kenapa kita tidak berpikir masa depan kita setelah kita menghembuskan nafas kita yang terakhir?

Kenapa kita tidak berpikir masa depan di alam kubur yang pasti terjadi?

Kenapa kita tidak berpikir masa depan ketika kita dibangkitkan secara atau dalam kondisi telanjang bulat, tidak memakai alas kaki, tidak membawa bekal, tanpa dikhitan?

"Pada hari kiamat itu manusia dibangkitkan dalam kondisi telanjang bulat, tidak memakai alas kaki, tidak dikhitan/disunat dan tidak membawa perbekalan apapun juga."

Bukankah itu masa depan juga?

Bahkan itulah masa depan yang hakiki, masa depan yang sejati, yang tidak mungkin kita lari darinya.

Oleh karena itu dalam hadist ini, Nabi menjelaskan bahwa keutamaan ilmu agama dan mempelajarinya itu lebih berharga (lebih mahal) daripada dunia yang selama ini kita cari, daripada lembaran-lembaran rupiah atau dollar yang selama ini kita dapatkan.

Siapa diantara kita yang mendapatkan gaji satu bulan satu miliar ? Sebagaimana yang ditawarkan Nabi Shallallahu 'alaihi Wassallam.

Untuk mendapatkan gaji bulanan 10, 20, 30 juta, orang zaman sekarang rela menempuh perjalanan dua atau tiga jam untuk sampai di kantornya, rela bermacet-macet ria, rela bekerja selama delapan jam atau di tambah dengan jam-jam lembur.

Berapa yang Anda dapat? Mungkin hanya 30 juta, 50 juta dan seterusnya. Dan itu sudah angka yang sangat fantastis pada saat ini secara umum dan 'urf di masyarakat .

Kalau demikian, kenapa kita tidak tertarik duduk di majelis taklim?

Duduk di lantai masjid untuk mempelajari tafsir Al-Qur'an dan hadist-hadist Nabi Shallallahu 'alaihi Wassallam.

Saya rasa tidak ada kajian yang durasinya delapan jam sebagaimana durasi pekerjaan kita.

Tapi ada berapa ayat yang kita dapatkan? Ada berapa ayat yang kita pelajari dan pahami?

Ternyata sepuluh ayat mungkin, ternyata lima belas ayat, ternyata dua puluh ayat.

Itu belum ditambah hadist-hadist Nabi Shallallahu 'alaihi Wassallam .

Itu lebih baik daripada unta yang satu ekornya berharga lima ratus juta.

Dan ulama kita menjelaskan; ketika Nabi Shallallahu 'alaihi Wassallam membandingkan satu ayat dengan satu unta, itu bukan berarti hanya berharga atau hanya lebih baik daripada unta.

Namun ini menunjukkan bahwa ilmu agama lebih baik dari harta dunia. Karena unta Kaumawain merupakan simbol kekayaan pada saat itu.

Sehingga tidak heran, Allah memerintahkan untuk kita bergembira pada saat kita mendapatkan Al-Qur'an, saat kita mempelajarinya, saat kita mentadaburinya .

Ingatkah kita surat Yunus ayat 58?

Ketika Allah berfirman ,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ


Katakanlah (Muhammad), "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Apa tafsir karunia dan rahmat ini?

Para ulama seperti imam Mujahid, mengatakan bahwa;

◆ Karunia dalam ayat ini bukan harta dunia, namun IMAN.
◆ Rahmat dalam ayat ini bukan fasilitas dunia, namun AL-QURĀN.

Allah perintahkan kita untuk bergembira saat kita mendapatkan iman, saat iman kita bertambah dan pada saat kita mendapatkan dan mempelajari ayat-ayat Al-Qurān, lalu kita amalkan dan kita dakwahkan.

Kenapa demikian?

Di akhir ayat tersebut Allah jelaskan salah satu alasannya, yaitu karena Al-Qurān tdan iman tersebut itu lebih berharga (lebih mahal) daripada seluruh harta yang mereka kumpulkan.

Sehingga kita bisa meluangkan waktu setiap hari, dua belas jam, lima belas jam untuk dunia, untuk penghasilan yang halal.

Mengapa kita tidak punya waktu untuk menghabiskan beberapa jam saja sepekan mungkin sekali atau tiga hari sekali untuk mempelajari ilmu agama?

Semoga nasehat singkat ini bermanfaat untuk saya pribadi dan pemirsa sekalian.

Dan semoga kita semakin semangat untuk mempelajari ilmu agama dengan mengetahui keutamaan demi keutamaannya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Repost by :
💢TEGAR DIATAS SUNNAH
Grup Sharing Kajian Islam
Add a comment...

Post has shared content
jangan khawatir akan konsekuensi kebaikan, karena pastilah baik | sebab bila niat dan caranya sudah baik, pastilah beroleh kebaikan

yang berhijrah itu meninggalkan keburukan, menjauhi larangan Allah | sudah pasti ada tantangan, sudah pasti ada yang tak suka dan marah

dan memang tak selamanya kita mampu membuat semua senang | yang kita mampu hanya memurnikan niat dan cara kita dalam kebaikan

berubah itu ada konsekuensinya, tapi tak berubah itu lebih sulit lagi | hijrah ke kebaikan itu sangat sulit, tapi tetap buruk itu musibah

bila sudah diniatkan karena Allah, dengan cara sesuai ajaran Nabi | melangkahlah, Allah pasti mempermudah, Allah akan menguatkan

lihat saja, sebentar lagi, Allah kirim hamba-hamba-Nya menemani langkahmu | Allah kuatkan hatimu dan memberi rasa manis dalam ketaatan

bersabar menjalani proses dan progres hijrah, kita bukan yang pertama | sudah banyak yang melaluinya, kita juga pasti bisa

dan berkumpullah dengan majlis-majlis ilmu, disanalah keberkahan | dan lebih lagi, disanalah keistiqamahan, saat berkumpul dalam kebaikan
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded