Profile cover photo
Profile photo
adinda rosita
1,583 followers -
Selalu senyum dan berbahagia. Pagi senyum, siang senyum, Sore dan malam Juga senyum
Selalu senyum dan berbahagia. Pagi senyum, siang senyum, Sore dan malam Juga senyum

1,583 followers
About
adinda's posts

Post has attachment
Ahok: Indekos 10 Kamar Lebih Harus Bayar Pajak

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan Pemprov DKI berencana menarik pajak dari indekos yang punya minimal 10 kamar. Selama ini tak ada pajak yang didapat dari rumah kos di DKI.

"Kita minta lurah-lurah turun (mendata). Jadi kalau kos-kosan ada 10 kamar maka dia harus membayar pajak," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

Selama ini, indekos yang ada hanya berizin peruntukan sebagai rumah biasa. Ahok ingin agar Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk melakukan revisi perizinan berdasar pendataan di masyarakat.

"Tapi kalau kos cuma satu orang atau dua orang (yang menyewa kamar kos), ya sudah lah," kata Ahok mengecualikan indekos kecil agar tak ikut ditarikin pajak.

Pekan ini, Ahok ingin pendataan indekos di Jakarta dirapikan. Bila indekos terdata dengan baik maka keamanan masyarakat juga ikut menjadi lebih terjaga. Penghuni kos juga tetap wajib lapor RT dan RW setempat.

"Enggak apa-apa KTP non-DKI, namun minimal dia mesti lapor. Selama ini kita terlalu bebas, RT/RW diam saja," kata dia.
www.rumahminimalis36.org
Photo

Post has attachment
8 Berkah Kalau Kamu Menikah dengan Perempuan yang Lebih Tua

Kalau kamu jatuh cinta dengan perempuan yang lebih tua, jangan khawatir, kamu tidak sendiri. Hampir semua laki-laki bahkan merasa nyaman dan tertarik dengan perempuan yang lebih tua.

Memang sudah menjadi mekanisme psikologi laki-laki untuk merasa tertarik pada segala sesuatu yang mengingatkannya dengan sosok ibu. Dan perempuan yang lebih tua umumnya menarik karena sikap mereka atau bahkan wajah mereka mengingatkan laki-laki pada ibunya. rumahminimalis36.org

Jadi, jangan ragu atau bahkan takut menikahi perempuan yang lebih tua. Ini alasannya!

1. Mandiri dan Dapat Diandalkan
2. Penuh Keyakian Diri
3. Memiliki Rencana dan Arah Tujuan
4. Terbuka dan Tanpa Basa Basi
5. Tenang dan Penuh Pertimbangan
6. Bersikap dan Bertanggung Jawab
7. Tidak Bergantung Pada Dirimu
8. Sabar dan Pemaaf, Penuh Kompromi

Tentu saja ia akan bersikap sabar dan penuh kemaafan pada kebiasaan buruk kamu yang terus berulang. Asalkan kamu tidak belebihan, tentu istrimu akan penuh kompromi.

Lebih dari itu, pasanganmu yang lebih tua akan setia menemanimu dalam berbagai masa sulit. Ia akan mewujud jadi ibu yang benar-benar bijaksana sejatinya.

Ia akan ada saat kamu terpuruk ia mendukungmu dan mengangkatmu agar tidak semakin memburuk. Ia juga akan menahanmu saat kamu berhasil, menahanmu untuk tidak sombong dan mengingatkanmu bahwa semuanya semata-mata hanya titipan Tuhan.
Photo

Post has attachment

Post has attachment
makanya jangan pernah remehin kerjaain Cewek, di kira masak gampang apah?
https://media.giphy.com/media/xTiTnwu3tr3netIR0Y/giphy.gif

Post has attachment
DOKTER LO SIAW GING

Dokter Lo Siaw Ging,lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Dokter keturunan Tionghoa berusia 78 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu tepat, tapi juga karena ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya.

Setiap hari, kecuali Minggu, puluhan pasien antre di ruang tunggu prakteknya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai tukang becak, pedagang kaki lima, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri,hingga pengusaha. Pasiennya tidak hanya datang dari Solo, tetapi juga kota-kota di sekitarnya, seperti Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Dokter Lo menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif. Ia juga tak pernah membedakan pasien kaya dan miskin. Ia justru marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal ia tidak punya uang. Bahkan, selain membebaskan biaya periksa, tak jarang Lo juga membantu pasien yang tidak mampu menebus resep. Ia akan menuliskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap akhir bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.

Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerka, RS Kasih Ibu. Alhasil, Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.

Di mata pasien tidak mampu, Lo memang bagaikan malaikat penolong. Ia menjungkirbalikan logika tentang biaya kesehatan yang selama ini sering tak terjangkau oleh pasien miskin. Apa yang dilakukan Lo juga seperti membantah idiom “orang miskin dilarang sakit”.

“Saya tahu pasien mana yang mampu membayar dan tidak. Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan,” kata dia.

Lahir di Magelang, 16 Agustus 1934, Lo tumbuh dalam sebuah keluarga pengusaha tembakau yang moderat. Orang tuanya, Lo Ban Tjiang dan Liem Hwat Nio, memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih apa yang dinginkan. Salah satunya adalah ketika Lo ingin melanjutkan SMA ke Semarang, karena dia menganggap tidak ada SMA yang kualitasnya bagus di Magelang ketika itu.

Setamat SMA, Lo menyatakan keinginannya untuk kuliah di kedokteran. Ketika itu, ayahnya hanya berpesan jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter. Rupanya, nasehat itu sangat membekas di hati Lo. Maksud nasehat itu, menurut Lo, seorang dokter tidak boleh mengejar materi semata karena tugas dokter adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau hanya ingin mengejar keuntungan, lebih baik menjadi pedagang..

”Jadi siapa pun pasien yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus melayani dengan baik. Membantu membantu orang itu tidak boleh membeda-bedakan. Semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit, bukan menjual obat,”.

Apa yang dikatakan Lo tentang membantu siapa pun yang membutuhkan itu bukanlah omong kosong. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 lalu misalnya, Lo tetap buka praktek. Padahal para tetangganya meminta agar dia tutup karena situasi berbahaya, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo tetap menerima pasien yang datang. Para tetangga yang khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo.

“Banyak yang butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Kalau semua dokter tutup siapa yang akan menolong mereka?” kata Lo yang juga lulusan Managemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Indonesia.
Hingga kerusuhan berakhir dan situasi kembali aman, rumah Lo tidak pernah tersentuh oleh para perusuh. Padahal rumah-rumah di sekitarnya banyak yang dijarah dan dibakar.

Kini, meski usianya sudah hampir 80 tahun, Lo tidak mengurangi waktunya untuk tetap melayani pasien. Setiap hari, mulai pukul 06..00 sampai 08.00, dia praktek di rumahnya. Selanjutnya, pukul 09.00 hingga pukul 14.00, Lo menemui para pasiennya di RS Kasih Ibu. Setelah istirahat dua jam, ia kembali buka praktek di rumahnya sampai pukul 20.00.

“Selama saya masih kuat, saya belum akan pensiun. Menjadi dokter itu baru pensiun kalau sudah tidak bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu sesama, dan itu tidak bisa dibayar dengan uang,” ujar dokter yang sejak beberapa tahun lalu berjalan dengan bantuan tongkat ini.

Menurut Lo, itrinya memiliki peran besar terhadap apa yang ia lakukan. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tidak akan bisa melakukan semuanya.
“Dia perempuan luar biasa. Saya beruntung menjadi suaminya,” ujar Lo tentang perempuan yang ia nikahi tahun 1968 itu.

Puluhan tahun menjadi dokter, dan bahkan pernah menjadi direktur sebuah rumah sakit besar, kehidupan Lo tetap sederhana. Bersama istrinya, ia tinggal di rumah tua yang relatif tidak berubah sejak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah yang megah dan bertingkat seperti umumnya rumah dokter.

“Rumah ini sudah cukup besar untuk kami berdua. Kalau ada penghasilan lebih, biarlah itu untuk mereka yang membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat sampai usia seperti sekarang ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin banyak kesempatan kita untuk membantu orang lain,” kata Lo yang selama 43 tahun perikahannya dengan Gan May Kwee tidak dikaruniai anak.

Di tengah biaya obat-obatan yang mahal, pelayanan rumah sakit yang sering menjengkelkan, dan dokter yang lebih sering mengutamakan materi, keberadaan Lo memang seperti embun yang menyejukkan. Rasanya, sekarang ini tidak banyak dokter seperti Dr Lo.

Dari: Metro, merdeka, dan berbagai sumber
Photo

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded