Profile cover photo
Profile photo
Adhitya Yulian
162 followers -
Ingin membuat semua orang bahagia dan merasakan damai sejahtera
Ingin membuat semua orang bahagia dan merasakan damai sejahtera

162 followers
About
Posts

Post has attachment
Kemang Pratama dipilih sebagai tempat pertemuan pertama komunitas BHOS87 untuk memulai kegiatan perdana di tahun 2018.

~ First Meetup BHOS87
Add a comment...

Post has attachment
Acara yang bertajuk “Food & Baverages Strobist Photography Workshop” bersama WS Pramono (WSP) ini akan diselenggarakan dalam waktu dekat.. rencananya 17 Desember 2017, masih di sekitar #Bekasi
Add a comment...

Post has attachment
we are entitled to be a better person, we are formed through processes that are not easily understood by others .. keep trying the best

www.dhityd.info
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Fotografi itu menarik, tidak sedikit yang ingin mempelajarinya dan menjadikan fotografi itu sendiri sebagai ladang usaha mengais rejeki.
Catatan Tentang Jurufoto/fotografer Profesional Indonesia
Author Firman Ichsan

Situasi umum Belakangan hari ini profesi fotografer [juru foto - ahli foto] umumnya dan khususnya di Indonesia, mendapat berbagai tantangan akibat perubahan baik peralatan tehnis fotografi maupun peredaran hasil foto.

Perkembangan Tehnologi Perubahan sistim analog menjadi digital yang sedikit banyak merubah pola kerja para jurufoto, bahwa hasil foto bukan hasil akhir, namun cenderung menjadi data yang terus menerus dapat diolah.

Selain kemudahan-kemudahan fitur berbagai alat yang memudahkan si polan berkarya bak si jurufoto. Bagi jurufoto yang mengalami 2 periode tentu berbeda dengan mereka yang dibesarkan langsung di zaman digital.

Tetapi kedua generasi ini tentu mendapatkan situasi yang sama ketika umum berkarya [membuat] foto. Adanya perkembangan tehnologi yang cepat dan terus menerus, yang mengakibatkan seorang [jurufoto pun] perlu terus menerus belajar agar dapat berkerja maxmimal.

Otoritas Estetika Peredaraan [karya foto] pun kini tidak saja melalui media cetak tetapi lebih sering juga dalam media elektronik. Kemudahan tampilan di media sosial dan kebutuhan akan imej [foto] di media elektronik, menyebabkan adanya ‘demokratisasi peredaran gambar foto. Di media masa elektronik, Siapapun pencipta foto amatir maupun profesional, bila dianggap layak tampil, dihadirkan. Selain tentu mediasosial yang lebih bebas dan seringkali tanpa kuratorial atau redaktur yang memilih/kurasi foto. Situasi ini, bagi para jurufoto, memungkinkan karyanya untuk dibandingkan dengan karya mereka yang bukan profesional, secara terbuka .

Kadang bahkan dinilai oleh masyarakat [awam] langsung, tidak lagi oleh orang orang yang dianggap piawai di bidang [yang terkait dengn fotografi]. Tidak adanya otoritas estetika kurator tetapi cenderung estetika yang liberal.
Standard kerja –karya [?] Asosiasi Profesi sebagai acuan.

Dengan maksud mengantisipasi kekisruhan apresiasi [masyarakat baik komersil maupun tidak] terhadap kerja fotografi ini. Pemerintah menganggap perlu adanya satu standar dalam profesi fotografi.

Dibutuhkan satu acuan yang dapat menjadi dasar bagi siapapun pengguna jasa fotografi . Melalui proses yang cukup panjang, pemerintah melalui asesornya, mulai melakukan penataan dan uji sertifikasi profesi. Namun demikian oleh karena dianggap kurang/tidak transparan, timbul kekecewaan dan keresahan. Yang sesungguhnya tidak perlu terjadi apabila sejak awal para tokoh fotografi [khususnya professional dan komersil] diajak serta urun rembug.

Situasi ini menyebabkan adanya ketidak-percayaan masyarakat pekerja/profesional fotografi pada lembaga asesor serta kelengkapannya. Dirasakan terutama pada mereka yang telah lama bekerja sebagai jurufoto. Alih-alih mereka yang telah lama berprofesi ini mendapat kemudahan sertifikasi; pengalaman dan pengakuan masyarakat yang ada pada mereka seolah-olah dianggap tidak pernah ada.

Terkait dengan persoalan yang pertama, memang ada perkembangan tehnis yang perlu di ikuti oleh siapa saja yang ingin tetap berprofesi sebagai jurufoto [bahkan para amatir yang entusias]. Namun perkembangan tehnologi ini tidak serta merta dapat menjadi tolak ukur uji profesi.

Kita tahu bahwa tidak sedikit jurufoto [di dunia sekalipun] yang otodidak dan tidak berlatar belakang pendidikan fotografi. Tanpa latar belakang akademis [seni fotografi] dan apalagi sertifikasi, tetapi telah mendapatkan pengakuan masyarakat.

Yang kedua sebenarnya lebih urgen, karena uji kelayakan dalam semu bentuk seni, diawali oleh para pakar yang diakui oleh institusi profesi dan masyarakatnya. Thumbs up memang demokratis sifatnya, tetapi ia tidak dilatar belakangi oleh satu pandangan spesifik estetika [fotografi ] itu sendiri. Hal ini juga terjadi pada proses berdirinya badan sertfikasi itu sendiri. Berdasarkan apa uji sertifikasi ini diuji, lalu kemudian siapa yang membuat dan menjadi pelaksanan [asesor].

Dalam semua bidang seni [tidak terlewatkan fotografi] perlu adanya satu institusi yang diakui oleh masyarakat khusus profesi maupun umum. Satu organisasi yang diawali oleh pakar, bukan semata-mata ditunjuk institusi [khususnya pemerintah].

Uji kompetensi yang dianggap tidak sempurna dan apabila hanya dilakukan oleh satu institusi dengan caranya sendiri, tentu membatasi pemahaman tentang kreativitas yang menjadi dasar dari kerja fotografi itu sendiri. Keresahan yang ada mengundang para jurufoto yang sedang dan masih berkerja sebagai jurufoto, untuk membuat satu kriteria tersendiri, yang dapat diterima dan merupakan pengakuan yang layak atas kerja profesi mereka selama ini. Bagaimana laiknya sertifikasi serta uji kompetensinya untuk para jurufoto ini?

Karenanya beberapa jurufoto yang telah memiliki jam terbang yang relatif lama, berkumpul untuk membuat sebuah perkumpulan jurufoto menuju berdirinya satu asosiasi yang kapabilitas dan integritasnya telah diuji oleh jam terbang mereka secara professional, diakui oleh masyarkat khususnya pengguna jasa mereka.

Add a comment...

Post has attachment
Saatnya Indonesia Giatkan Minum Susu Cair

Galeri Foto : https://www.instagram.com/dhityd.info/
Photo
Add a comment...

Post has shared content

Post has attachment
Membersihkan peralatan fotografi khususnya lensa setelah pemakaian sangatlah disarankan, hal ini dilakukan untuk mengurangi kotoran yang menempel pada lensa, yang dapat mengakibatkan timbulnya jamur.
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Jakarta, 05 Agustus 2016. Guru-guru Madrasah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan Workshop 100 Web Blog Guru Madrasah, kegiatan ini dimotori oleh Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (AGTIFINDO), Google Educators Group (GEG) East Jakarta, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) TIK Madrasah Aliyah DKI Jakarta. Pendaftaran workshop ini dibuka sejak bulan Juni 2016 di alamat web: http://gegej.madrasah.id/ dan ditutup tanggal 1 Agustus 2016. Workshop ini cukup banyak diminati oleh guru-guru, sebanyak 447 pendaftar hanya 370 pendaftar yang dikonfirmasi kepesertaannya oleh Panitia Web Blog Guru Madrasah. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 20 Agustus 2016
Add a comment...

Post has attachment
This is my album photo of Miniature Figure, please visit and enjoy the photos
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded