Profile

Cover photo
Dodi Kurniawan
Worked at PT BRC
Attended Smp4 pekanbaru
8 followers|109,229 views
AboutPostsPhotosYouTube

Stream

Dodi Kurniawan

Shared publicly  - 
 
Tubi 
1
Add a comment...

Dodi Kurniawan

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Dodi Kurniawan

Shared publicly  - 
 
 
Batu Akik Panca Warna Ditawar Sampai Rp 40 Juta
Beragam batu akik yang nongkrong di etalase waktu Kontes Batu serta Permata Jawa Timur, di Stadion Kanjuruhan Jumat (5/6) tempo hari menarik perhatian pengunjung. Dalam kontes itu, beragam batu dengan beragam motif serta warna ini dipamerkan, baik yang tela...
 ·  Translate
Beragam batu akik yang nongkrong di etalase waktu Kontes Batu serta Permata Jawa Timur, di Stadion Kanjuruhan Jumat (5/6) tempo hari menarik perhatian pengunjung. Dalam kontes itu, beragam batu dengan beragam motif serta warn...
1
Add a comment...

Dodi Kurniawan

Shared publicly  - 
 
Terharu..baik untuk renungan
 ·  Translate
 
KISAH INSPIRASI TERBAIK HARI INI YANG PATUT ANDA BACA

Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.
 ·  Translate
192 comments on original post
1
Add a comment...
 
Vc c
8
Add a comment...

Dodi Kurniawan

Shared publicly  - 
 
 
Wah, 1500 Batu Akik Pecahkan Rekor MURI
Acara Festival Palang Pintu X di Kemang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (7/6) diadakan dengan sangatlah meriah. Kemeriahan itu juga dibarengi dengan ada pemecahan rekor dunia serta Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk 1. 500 pengunjung yang memaka...
 ·  Translate
Acara Festival Palang Pintu X di Kemang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (7/6) diadakan dengan sangatlah meriah. Kemeriahan itu juga dibarengi dengan ada pemecahan rekor dunia serta Museum Rekor Indonesia (MURI) unt...
1
Add a comment...

Dodi Kurniawan

Shared publicly  - 
 
 
Assalamu'alaikum wr wb.
Slmt pagi sahabat..
INSPIRASI PAGI..
ISI HATI SEORANG ANAK...

AYAH...IBU...
Betapa Besar Pengorbanan mu untuk ku.
Begitu banyak waktu yg kau habiskan untuk ku,kasih sayang mu yg tak pernah putus dan tergantikan...tak bisa aku balas jasa" mu (Ayah Ibu)

AYAH...IBU...
Kini aku telah dewasa,ingin rasanya aku kembali kecil seperti saat kau sllu menjaga & memanjakan ku.
Tapi kini aku telah berkeluarga,hidup terpisah dgn mu,membuat hati ini terasa berat,ingin rasanya aku sllu berada disisi mu,menjaga dan merawat mu yg kini mulai menua...
Harus dgn apa aku harus membalas jasa" mu,sudah pantaskah aku di sebut anak brbakti ke pada orang tua...?

AYAH....IBU...
Kenapa hati ini begitu berat meninggalkan mu,meski kau telah rela melepas kan ku.
Sungguh aku tak mampu jauh dari mu.
Tetes air mata ini sllu mengalir ketika melihat mu Ayah ibu.

YA ALLAH....
Engkau yg Maha Tau atas isi hati ini,begitu sulit meninggalkan mereka..
Ayah ibu di saat mereka sudah tua Namun apa daya kini aku telah berkeluarga satu pinta ku dlm untaian do'a ku..
Berikan sllu mereka kesehatan,jaga mereka,tuntunlah agar mereka sllu taqwa pada MU.
Jangan biarkan mereka jauh dari MU...

Ayah Ibu...hanya do'a yg bisa sllu ku berikan dan Sungguh tak akan ada yg bisa menggantikan mu.
Ketika Seorang anak tak mampu menahan pulih karna jauh dr orang tua,hanya ALLAH TA'ALA ,aku minta untuk sllu menjaga
mereka berdua.

MET AKTVTAS...
SMOGA KESUKSESAN MENYERTAIMU
SLLU
KEEP SMILING
WASSALAM.
 ·  Translate
47 comments on original post
1
Add a comment...
Education
  • Smp4 pekanbaru
  • Sd seruni pekanbaru
Links
Work
Employment
  • PT BRC
Basic Information
Gender
Male