Profile cover photo
Profile photo
Sayhazs Zailie
415 followers -
Bila minda berpuisi, hati mendominasi, jari menguasai, lahirlah nurkilan rasa coretan berseni.
Bila minda berpuisi, hati mendominasi, jari menguasai, lahirlah nurkilan rasa coretan berseni.

415 followers
About
Communities and Collections
View all
Posts

Post has attachment

T-SHIRT yang tersarung di badan, diperkemas. Setelah itu dia menyarung pakai jaket pula. Langkah diatur ke depan cermin. Mengamati diri buat seketika.

Aryan berpuas hati. Dari atas ke bawah, segalanya kelihatan sempurna. Cuma satu sahaja yang tidak kena.

Lelaki itu menyentuh wajah. Luka dan lebam masih jelas kelihatan. Lagi-lagi di dahi. Nasib baik bertampal handy pluster. Dapatlah sorokkan juga.

Berpuas hati dengan penampilannya, Aryan menapak keluar dari bilik. Langkah terus dihayun ke tingkat bawah. Sayup-sayup telinganya menangkap bunyi suara sedang berbual di ruangan makan.

“Aryan. Udah bangun, ya? Ayuh sayang, sarapan bareng.”

Suara Ibu Dian kedengaran menyapa. Lantas Aryan mengambil tempat, menyertai kedua orang tuanya.

“Kamu mau makan apa, Ryan? Ada nasi lemak sama sambal sotongnya. Mee goreng juga ada. Mau yang mana? Mama ambilkan.”

“Nggak apa-apa, ma. Aryan bisa ambil sendiri.”

“Ya kalau gitu, diambil ya. Makannya biar lebih dikit.”

Aryan sekadar tersenyum. Mee goreng disenduk sesudu dua ke dalam pingganya.

“Kamu mau keluar, Aryan?” suara Pak Aryawan kali ini bertanya.

“Baba kok tau, sih?”

“Kalau udah pakeinya begini, mau ke mana lagi.”

“Apa?? Kamu mau keluar, Aryan? Dengan kondisi yang begini?”

“Ngapain, ma? Apa nggak bisa?”

“Kamu kan belum benar-benar sembuh. Kalau terjadi sesuatu di luar nanti, gimana?”

“Aryan nggak apa-apa dong, ma. Luka sama lebamnya aja belum sembuh. Tapi badan Aryan udah sihat, kok. Lagi pula Aryan cuma keluar bentar. ”

“Biarinlah, ma. Mungkin Aryan itu mau ambil angin luar. Udah dua minggu terperuk di rumah aja. Pasti lagi bosan.”

“Mama bukan apa, mas. Cuma khawatir sama kondisinya dia. Apalagi dia tidak biasa di sini. Kalau diculik lagi, gimana?”

“Isk! Mama usah paranoid banget, sih! Tau nggak kata-kata mama itu kayak satu doa? Makanya kalau mau ngomong itu jangan sembarangan, deh. Biarin aja Aryan keluar. Nah, waktu-waktu inilah dia bisa lihat dan biasakan diri dengan suasana kota Kuala Lumpur.”

Ibu Dian mengalah akhirnya. Kalau si suami sudah kata begitu, apalagi yang mampu dia betah. Aryan pula sekadar tersenyum melihat gelagat kedua orang tuanya.

“Udahlah, ma. Nggak usah khawatir. Aryan cuma mau ketemu sama teman.”

“Teman? Apa kamu punya teman di sini?”

“Masakan nggak ada. Apa mama sudah lupa sama teman Aryan itu?”

“Siapa?”
.

*********
.

“Condition kau macam mana sekarang?”

“Baik-baik aja. Cuma luka sama lebamnya masih belum pulih.”

“Nak aku check?”

“Apa bisa?”

“Ngapain nggak bisa. Untuk kau, apapun pasti bisa!” Wafri berpaling semula. “Come. Duduk atas katil ni. Aku check kau.”

“Nggak perlu daftar di depan dulu?”

“Tak apa. Tu settle kemudian. Let me check you first.”

Wafri mula melihat keadaan Aryan. Seluruh tubuh lelaki itu diperiksa. Sesekali terdengar Aryan mengaduh bila dia menekan bahagian-bahagian tertentu pada tubuh rakannya.

“Luka kat dahi kau tu dah kering. Jahitannya pun aku dah buka. Sebelum ni kau buat check up kat mana? Maksud aku, lepas kau bebas hari tu.”

“Sama doktor peribadi keluargaku.”

Wafri terangguk-angguk. “Lagi satu. Lebam kat rusuk kiri kau tu. Kenapa?”

“Oh! Ini waktu aku berlawan sama penculik tempoh hari.”

“Dengan tangan atau kaki?”

“Kaki.”

“As I expected. Mesti orang yang tendang kau tu bukan calang-calang, kan? Kalau tak, tak adalah lebamnya sampai biru macam tu.”
.

P/s :- Ingat lagi siapa yang tendang Aryan? 😄

.
.

** Read Full Chapter : -
.

My blog – https://sayhazszailie.blogspot.my/2018/02/chapter-8-rela-ku-pujuk.html
Wattpad – https://www.wattpad.com/535196419-rela-ku-pujuk-chapter-08

.
.

#AryanwongSefhia
#Relakupujuk
#2ndmanuscript
#Sayasayangpembacasemua
CHAPTER 8 : RELA KU PUJUK
CHAPTER 8 : RELA KU PUJUK
sayhazszailie.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment

T-SHIRT yang tersarung di badan, diperkemas. Setelah itu dia menyarung pakai jaket pula. Langkah diatur ke depan cermin. Mengamati diri buat seketika.

Aryan berpuas hati. Dari atas ke bawah, segalanya kelihatan sempurna. Cuma satu sahaja yang tidak kena.

Lelaki itu menyentuh wajah. Luka dan lebam masih jelas kelihatan. Lagi-lagi di dahi. Nasib baik bertampal handy pluster. Dapatlah sorokkan juga.

Berpuas hati dengan penampilannya, Aryan menapak keluar dari bilik. Langkah terus dihayun ke tingkat bawah. Sayup-sayup telinganya menangkap bunyi suara sedang berbual di ruangan makan.

“Aryan. Udah bangun, ya? Ayuh sayang, sarapan bareng.”

Suara Ibu Dian kedengaran menyapa. Lantas Aryan mengambil tempat, menyertai kedua orang tuanya.

“Kamu mau makan apa, Ryan? Ada nasi lemak sama sambal sotongnya. Mee goreng juga ada. Mau yang mana? Mama ambilkan.”

“Nggak apa-apa, ma. Aryan bisa ambil sendiri.”

“Ya kalau gitu, diambil ya. Makannya biar lebih dikit.”

Aryan sekadar tersenyum. Mee goreng disenduk sesudu dua ke dalam pingganya.

“Kamu mau keluar, Aryan?” suara Pak Aryawan kali ini bertanya.

“Baba kok tau, sih?”

“Kalau udah pakeinya begini, mau ke mana lagi.”

“Apa?? Kamu mau keluar, Aryan? Dengan kondisi yang begini?”

“Ngapain, ma? Apa nggak bisa?”

“Kamu kan belum benar-benar sembuh. Kalau terjadi sesuatu di luar nanti, gimana?”

“Aryan nggak apa-apa dong, ma. Luka sama lebamnya aja belum sembuh. Tapi badan Aryan udah sihat, kok. Lagi pula Aryan cuma keluar bentar. ”

“Biarinlah, ma. Mungkin Aryan itu mau ambil angin luar. Udah dua minggu terperuk di rumah aja. Pasti lagi bosan.”

“Mama bukan apa, mas. Cuma khawatir sama kondisinya dia. Apalagi dia tidak biasa di sini. Kalau diculik lagi, gimana?”

“Isk! Mama usah paranoid banget, sih! Tau nggak kata-kata mama itu kayak satu doa? Makanya kalau mau ngomong itu jangan sembarangan, deh. Biarin aja Aryan keluar. Nah, waktu-waktu inilah dia bisa lihat dan biasakan diri dengan suasana kota Kuala Lumpur.”

Ibu Dian mengalah akhirnya. Kalau si suami sudah kata begitu, apalagi yang mampu dia betah. Aryan pula sekadar tersenyum melihat gelagat kedua orang tuanya.

“Udahlah, ma. Nggak usah khawatir. Aryan cuma mau ketemu sama teman.”

“Teman? Apa kamu punya teman di sini?”

“Masakan nggak ada. Apa mama sudah lupa sama teman Aryan itu?”

“Siapa?”
.

*********
.

“Condition kau macam mana sekarang?”

“Baik-baik aja. Cuma luka sama lebamnya masih belum pulih.”

“Nak aku check?”

“Apa bisa?”

“Ngapain nggak bisa. Untuk kau, apapun pasti bisa!” Wafri berpaling semula. “Come. Duduk atas katil ni. Aku check kau.”

“Nggak perlu daftar di depan dulu?”

“Tak apa. Tu settle kemudian. Let me check you first.”

Wafri mula melihat keadaan Aryan. Seluruh tubuh lelaki itu diperiksa. Sesekali terdengar Aryan mengaduh bila dia menekan bahagian-bahagian tertentu pada tubuh rakannya.

“Luka kat dahi kau tu dah kering. Jahitannya pun aku dah buka. Sebelum ni kau buat check up kat mana? Maksud aku, lepas kau bebas hari tu.”

“Sama doktor peribadi keluargaku.”

Wafri terangguk-angguk. “Lagi satu. Lebam kat rusuk kiri kau tu. Kenapa?”

“Oh! Ini waktu aku berlawan sama penculik tempoh hari.”

“Dengan tangan atau kaki?”

“Kaki.”

“As I expected. Mesti orang yang tendang kau tu bukan calang-calang, kan? Kalau tak, tak adalah lebamnya sampai biru macam tu.”
.

P/s :- Ingat lagi siapa yang tendang Aryan? 😄

.
.

** Read Full Chapter : -
.

My blog – https://sayhazszailie.blogspot.my/2018/02/chapter-8-rela-ku-pujuk.html
Wattpad – https://www.wattpad.com/535196419-rela-ku-pujuk-chapter-08

.
.

#AryanwongSefhia
#Relakupujuk
#2ndmanuscript
#Sayasayangpembacasemua
CHAPTER 8 : RELA KU PUJUK
CHAPTER 8 : RELA KU PUJUK
sayhazszailie.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
“Awak nak buat apa?”

“Snow girl.”

“Untuk siapa?”

“Someone.”

“Nak saya tolong?”

“Boleh ke pegang sajli ni?”

“Tadi awak jugak yang ajak saya keluar untuk pegang salji.”

Lelaki itu terdiam. “Okey. Tapi kalau dah sejuk, berhenti.”

Irish mengangguk. Perlahan tangannya mula menyentuh timbunan salji di hadapan. Memang sejuk. Walaupun kedua tangannya sudah beralaskan gloves tebal, dinginnya masih dapat dirasakan.

Wanita itu sekadar menurut kelakukan Tengku Harrys. Mana bahagian patung salji yang dirasakan kurang cantik, diperkemaskan. Daripada ingin membantu, akhirnya dia membina sendiri sebuah patung salji miliknya.

“Kata nak tolong tadi. Lari dah?” soal Tengku Harrys bila Irish sudah beralih tempat di belakangnya.

“Dah tolonglah tu. Dah siap pun snow girl tu.”

“Then, awak buat apa pulak tu?”

“Snow man.”

“Untuk siapa?”

“Someone.”

Kedengaran Tengku Harrys berdehem kecil. Keinginan untuk menyudahkan replika patung saljinya turut hilang. Pantas dia bangkit dari duduknya. “Tak tahu pulak saya awak dah
ada someone sekarang.”

“Dan saya pun baru tahu awak dah ada someone jugak.”

“So, nak balaslah?”

“Saya tak cakap macam tu pun.”

Tengku Harrys terdiam lagi. Kali ini dadanya terasa sesak. Ditambah dengan cuaca dingin yang kian mencengkam sendi. Lantas nafas dihela semahunya, membiarkan diri bertenang semula sebelum dia kembali bersuara.

.
.

** Read Full Chapter 3 : -
My blog – https://sayhazszailie.blogspot.my/2018/01/chapter-3-sejiwa-bayangan-gurauan-sequel.html
Wattpad – https://www.wattpad.com/526191994-sejiwa-bayangan-gurauan-sequel-chapter-03
Portal Ilham – http://www.portalilham.my/karya/Novel/Cinta/L7BVEEyMPa4/SEJIWA-Bayangan-Gurauan-Sequel

.
.

#HarrysIrish
#Sejiwa
#BayanganGurauanSequel
#3rdmanuscript
#Sayhazszailie
#Sayasayangpembacasemua
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
sayhazszailie.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
CHAPTER 3 : SEJIWA (Bayangan Gurauan Sequel)
DOA dipanjatkan seikhlas hati. Mengakhiri
solat sunat yang selamat disempurnakan sebentar tadi. Usai itu dia berteleku di
tikar sejadah. Berzikir, berselawat, bertahmid. Mengabdikan diri terus pada
yang Maha Esa. Hatinya damai. Jiwanya
tenang. Perasaannya s...
Add a comment...

Post has attachment
Teaser penutup tahun 2017...
Jumpa lagi tahun hadapan! ✋😃
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
sayhazszailie.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
“MAMA, baba.” Sapa
Aryan yang baru turun ke bawah. Terhincut-hincut dia berjalan ke sofa. Duduknya
kemudian dilabuhkan, menyertai kedua orang tuanya menonton televisyen.             “Loh! Aryan. Kok kamu turun ke
bawah, sih?” Ibu
Dian sedikit kaget. Namun A...
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
CHAPTER 7 : RELA KU PUJUK
sayhazszailie.blogspot.com
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded