Profile cover photo
Profile photo
Topi Jerami
462 followers
462 followers
About
Posts

Post has shared content
Ceritanya bagus biarpun diulang-ulang...jd pengen share.

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan
gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar ... 😭😭😭

Beginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya...

SILAKAN DI BAGIKAN, JANGAN SAMPAI KISAH MULIA INI TERPUTUS DI TANGAN ANDA ... !!
Agar Umat Islam INDONESIA tidak mudah di pecah belah..
Add a comment...

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
Add a comment...

Post has shared content
#Khazanah_Ulama_Ulama_Sufi

Ulama Sufi merupakan ulama yang notabene-nya ulama yang mempercayai dan mengamalkan Ilmu Tasawwuf sebagai Manhaj (metode) dalam menjalani kehidupan jasmani dan rohani di dunia ini guna mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ulama sufi sangat popular semenjak zaman Imam Al Ghozali meskipun sebelumya nama ulama sufi belum popular, hal itu disebabkan adanya ilmu tashawwuf yang belum di dibukukan dalam suatu bidang ilmu tertentu. Sama seperti ilmu Tafsir, ilmu 'Ulumul Hadits, ilmu Fiqh dan lain lain yang mana belum di bukukan di zaman Rasulullah SAW.

Padahal sebenarnya penganut faham Tasawwuf sudah ada sejak masa masa awal sebagian besar ulama sudah menjadikannya sebagai amaliah sehari hari dan Nama nama mereka sudah tidak asing lagi dikangan kita semua. Diantaranya:

Abad Pertama seperti Uwais Al-Qorni (wafat 37 Hijriah), Robi' Bin Khoitsum (wafat 67 H), Hasan Al Bashri (wafat 110 H), dan lain-lain

Abad Kedua seperti Malik Bin Dinar, Ibrohim Bin Adham (wafat 162 H), Abdulloh Ibin Mubarok, dan lain-lain

Abad Ketiga seperti Hatim Al Ashom (wafat 237 H), Abu Yazid Al Busthomi (wafat 261 H), dan lain-lain

Dan pada Abad Modern seperti: Syeikh Nuruddin Zenki (wafat 569 H), Sholahuddin Al Ayyubi (568 H), Syeikh Dzohir Bibrosh (wafat 676 H), Muhammad Al Fatih Tsani , Izzh Bin Abdusalam, Imam Nawawi (wafat 676 H), Al-Faqih Al-Muqoddam (574 H), dan masih banyak lagi.

Ulama Sufi merupakan ulama yang berkarakter Tawassuth (Netral) namun tetap kritis dalam menjaga tegaknya syariat islam. Kesederhanaan juga menjadi syiar Ulama Sufi dan pengikutnya, itu sangat terlihat dari kajian yang diajarkan dalam kitab tasawwuf itu sendiri. Sehingga sikap kesederhanaan inilah yang tidak membuat mereka Rakus terhadap hal duniawi, dan cenderung berkonsentrasi untuk kemaslahatan kehidupan HORIZONTAL (HABLUN MINANNAS) dan VERTICAL (HABLUN MINALLOH) yang akan menjadi bekal di kehidupan yang abadi.

Sufi tidak hanya di Arab, di Afrika, Eropa, Asia Barat dan Asia Tenggara, bahkan Amerika Ulama' Sufi banyak memberikan andil besar dalam menyebarkan Islam, dan membangun keutuhan serta perdamaian disana. Selain itu selama Ulama' Sufi juga berkontribusi memberikan pendidikan ditempat tersebut. Oleh karenanya sepanjang sejarah yang ada, pastilah tempat tersebut aman dan damai. Kalaupun harus berperang melawan penjajah maka Ulama' Sufi selalu memberikan kontribusi dalam perjuangan melawan pemberontak dan penjajah di daerah tersebut.

Ulama Sufi juga tidak bersikap Arogan dan Apatis terhadap muslim lainnya atau bahkan orang Non-Muslim sekalipun. Ulama Sufi memiliki karakteristik dan ciri khas tidak suka meng-Kafirkan sesame Muslim dan tidak suka mem-bid'ah-kan orang sesama Muslim (Ifroth), tidak mendewakan Ulama' atau guru pembimbingnya dalam Agama Islam itu sendiri (Tafrith), juga tidak mendiskriminasikan non muslim yang berstatus warga Negara yang taat dan membayar pajak serta tidak melakukan kemungkaran. ulama tasawwuf juga tidak menyepelekan dan tidak mentolerir urusan syariat agama yang urgen. Sehingga Ulama Sufi berada dalam koridor yang lurus berada di tengah (namath al-wasath) yang mana jalan ini adalah jalan terbaik yang menjadi metode Dakwah Rasulullah SAW sesuai dengan hadits Rasulullah SAW: "Khoirul umur Awsatuha (sebaik baiknya perkara adalah yang tengah tengah)".

Ulama Sufi dalam metode dakwahnya tidak menggunakan senjata dan kekerasan, namun dengan Hikmah dan Mauidlotul Hasanah (nasehat yang baik). Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri berkata : "Dalam sebuah buku karya seorang komandan penjajah Prancis mengatakan; 'sudah aku kerahkan segala daya upaya untuk menyingkirkan orang dari islam dengan harta dan senjata. Namun, ada dua golongan orang yang menggagalkan usahaku selama satu bulan dalam satu minggu, dan usahaku selama satu minggu dalam satu hari kemana mana mereka hanya meneriakkan LA ILAHA ILLALLOH. Yaitu mereka yang mengatas namakan pecinta "Ahlul bait" dan orang yang mengatasnamakan "Sufi".
Kalau kita membuka fakta sejarah, ulama tasawwuf sangat memberikan peran besar dalam Membela kebenaran dan menjaga stabilitas serta keamanan di dunia. Hal itu terbukti bahwa

Di Palestina orang yang membuka kembali "Masjidil Aqso" dan mengambil alih dari genggaman Yahudi adalah Panglima Sholahuddin Al Ayyubi As-Sufi,

Di Libia orang yang menggembar-gemborkan bendera jihad melawan pemberontak dan penjajah adalah Syeikh Umar Mukhtar As-Sufi yang merupakan Mursyid Toriqoh Sanusiah,

Di Al Jazair ulama yang menggerakkan untuk melawan penjajah Prancis yaitu Syeikh Abdul Qodir Al Jazairi As-Sufi,

Di Sudan yang ulama Sufi yang menggerakkan untuk melawan penjajah Inggris yaitu Syeikh Muhammad Ahmad Mahdi As-Sufi,

Di Afrika barat dan Maroko yang menggerakkan ummat Islam untuk melawan penjajah Spanyol yaitu pengikut Toriqoh Tijaniyah dipimpin Syeikh Muhammad Al Khitobi As-Sufi,

Di Mesir yang menggerakkan untuk melawan Kolonial inggris adalah Syeikh Ahmad Arobi As-Sufi,

Di Mauritania  pengerak untuk melawan penjajah prancis yaitu syeh Ma'ul Ainain As-Sufi dan anaknya Al Haibah As-Sufi.

Di Somalia yang menggerakkan untuk melawan penjajah Inggris dan Italia adalah Syeikh Muhammad Abdulloh Shomaly As-Sufi.

Di Sinegal yang menggerakkan untuk melawan pasukan Prancis yaitu Syeikh Umar Al-Futi As-Sufi dan  Syeikh Ahmad Habib Bamba As-Sufi,

Di Kenya orang yang mengislamkan seratus ribu lebih penyembah api dan matahari adalah Habib Toha Mashur Al Haddad.

Di Indonesia yang menyebarkan islam pertama kali adalah para Pedagang penganut Tasawwuf yang berlayar dari India dan dilanjutkan Wali Songo. Begitu juga peran serta para Ulama Sufi yaitu para kiai & santri yang melawan penjajah jepang maupun belanda.

Selain itu dibidang Ilmiah para Ulama Sufi sangat berjasa dan memberikan kontribusi besar dalam berjalannya studi agama Islam ini. Sejak masa-masa awal para ulama tasawwuf mengarang kitab dan memdiskripsikan dalam Fan dan Bidang ilmu. Tercatat dalam kitab "Fawaidul Makkiyah" ada 48 bidang ilmu yang kesemuanya merupakan peniggalan Ulama' Sufi. Ulama sufi juga tidak Jumud (kaku) dalam artian selalu melakukan inovasi dalam penemuan penemuan fan atau bidang ilmu baru sejak pasca perang salib hingga hari ini.

Diantara bidang ilmu baru yang hadir di Era Modern ini seperti "Fiqh Tahawwulat" karya Al Habib Abu Bakar Al-Adni Yaman yaitu sebuah bidang ilmu yang membahas mengenai perubahan zaman sebagai tanda-tanda kiamat dan Esensi Rukun iman ke empat berdasarkan Hadits Jibril, "Fiqh Shiroh" karya Syeh Romadlon Al Buthi Syiria yang merupakan suatu bidang ilmu membahas kajian sejarah nabi dan metode istinbat al hukum (pengambilan hukum) yang terdapat di setiap kejadian yang dialami nabi, "Fiqh Aqolliyat Karya Seorang ulama bernama Syeh Bayyah dari Eropa yang Meng-Upgrade pemahaman Kontenporer mengenai kehidupan umat islam yang berada di Eropa ataupun di Negara Minoritas dalam kaitannya melaksanakan dan mengaplikasikan syariat Islam. Dan kita tidak akan menemukan orang yang sangat 'Alim dan memiliki kapasitas keilmuan tingkat dunia kecuali dia adalah seorang 'Ulama Sufi penganut faham Tasawwuf.

Dalam kaitannya dengan Pendidikan 'Ulama Sufi juga memiliki peran besar dalam pembangunan karakter manusia yang credible dlohiron wa batinan (jasmani dan rohani). Ulama Sufi berperan aktif dalam membangun Surau-surau untuk mengaji, Pondok Pesantren Salaf ataupun Modern, Rubat (pesantren takhossus), dan Majelis Taklim dan universitas. Yang mana Konsep pesantren sebenarnya sudah ada sejak zaman Rosululloh s.a.w yang dinamakan "ahlussuffah" yang bertempat di masjid nabawi disitulah rosululloh mendidik para sahabatnya. Sehingga konsep ini yang dijadikan dasar dalam pembangunan pesantren di seluruh dunia. Contoh beberapa pesantren dan lembaga yang diakui dunia seperti Al Azhar Kairo Mesir, Qurowiyyin Maroko, Rubat Tarim Yaman, Sayyid alwi Al Maliki Mekkah, dan Juta-an pesantren lainnya di seluruh belahan dunia yang merupakan rintisan 'Ulama Sufi mengadopsi konsep "Ahlussuffah".

Selanjutnya berbicara mengenai semangat belajar para Ulama Sufi dan pengikutnya Tentu tidak cukup jika kita hanya mendirikan pesantren tetapi jiwa semangat belajarnya lemah. Para Ulama Sufi melakukan Badlul Juhdi (berusaha maksimal) dalam mempelajari Syariat Allah SWT dan penyebarannya. Banyak kitab yang menerangkan mengenai ketangguhan para 'ulama belajar ilmu agama siang dan malam, meninggalkan ke-glamouran kehidupan, mengurangi makan dan tidur, mengakhirkan nikah, berjalan ratusan kilometer untuk mencari ilmu, dan bersabar dalam pencaharian ilmunya atau istilahnya menurut orang jawa Tirakat.

Diantara kitab yang menerangkan bagaimana perjuangan para Ulama dalam mengarungi pencarian ilmunya seperti; "Qimatuz Zaman 'Indal Ulama" karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghodah. Begitu juga kitab "Shofahat Min Shobril Ulama" karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghodah. "Al-Anwar As-SyAti'ah" karya Sayyid Toha Assegaf. Dan banyak lagi kitab lainnya, makanya tidak heran dimasa itu banyak terlahir Ulama sekelas Ibnu Hajar Al-Atsqalani (Pakar Hadits), Imam Rofi'i dan Imam Nawawi (Pakar Fiqh), Imam Muhammad Al-Ghozali (pakar Tashawwuf), Imam Suyuthi (pakar Al Qur'an), Izzuddin bin Abdussalam (Pakar Akidah), Abdul Qodir Al-Jailani (pakar toriqoh) sudah hampir dipastikan 90% ulama Fiqh adalah Ulama Sufi.

Dalam soal Metode Dakwah dan Ibadah 'Ulama Sufi memiliki 5 (LIMA) unsur yang tertanam dalam diri seorang Sufi:

Shofau An-Nafsi Wa Muhasabatuhu (bersihnya Hati dan peng-evaluasian-nya)

Ikhlasunniyat (tulusnya hati dalam beribadah)

Qiyamun Nafsi Bil Fiqri Wa Dzulli Wal Inkisar (perasaan Hati dengan berfikir dan merendahkan diri dihadapan Allah)

Attarbiyah 'Ala Rohmah Wal-Mahabbah Wa Ghorsuha Fil Qolb (Pendidikan dengan Cinta Kasih dan menanamkan di dalam hati

Attahalli Bi Makarimil Akhlaq (menghiasi diri dengan Sopan Santun & Etika)

Kelima unsur di atas adalah ajaran Tashawwuf dan siapapun dari anda yang menerapkan Kelima hal ini berarti anda adalah seorang Sufi. kita lihat di mana saja ulama yang tulus menjalankan metode tashawwuf dan pembersihan hati bisa dipastikan tujuan hidupnya akan dia gunakan dalam pengabdian kepada Allah SWT dimanapun dan apapun profesinya. Sebab "Hati" adalah ukuran dari segala keburukan dan kekejian. Sebab jika hati kita buruk kita bisa saja berbuat Maksiat & kekejian walaupun kita berada di tengah-tengah Ka'bah (Baitulloh) tapi jika hati kita bersih kita akan tetap akan terjaga dari kekejian & kemaksiatan walaupun di tempat najis sekalipun.

Sebenarnya negara Indonesia bisa saja menjadi "Baldatun Toyyibatun Wa Robbun ghofur", "Gemah ripah loh jinawe", Aman dan Tentram  jika kita mau menanamkan konsep Tashawwuf ini pada setiap individu. Sehingga pejabat dan aparatur Negara takut untuk Korupsi dan Menyogok sebab dia seorang Sufi, seorang dosen dan filosof akan takut untuk liberal dan plural sebab ia seorang Sufi, seorang direktur dan karyawan akan takut melakukan riba sebab ia seorang Sufi, seorang sopir dan pekerja keras akan takut meninggalkan sholat dan puasa sebab ia seorang Sufi, siapapun akan takut berzina dan menggunakan narkoba sebab ia seorang Sufi. Seorang yang  mengatas namakan Jihad dan melakukan terorisme bukanlah seorang Sufi sebab jihad yang dilakukan ulama sufi bukan seperti yang terjadi akhir-akhir ini, akan tetapi jihad yang sesuai dengan aturan Fiqh yang tidak membabi buta.

Beberapa fenomena baru muncul perihal kegiatan seorang sufi yang banyak ditentang oleh sebagian orang. Seperti kegiatan Majlis Maulid, Istighotsah, Dzikir berjamaah. Ketika mereka ditanya kenapa anda tidak mau ikut maulId, istighotsah, dzikir berjamaah? Mereka menjawab : "Aku takut akidahku, tauhidku jadi sesat".

Jawaban  : sebenarnya akidah dan tauhid apa yang mereka takutkan?? Tauhid Siyasi (politik) atau Tauhid Asasi (dasar)?. Pengeboman atas nama Jihad, penyembelihan ummat muslim, penghalalan darah, dan pemberontakan pada Negara itulah justru yang merupakan Tauhid Siyasi (politik) yaitu tauhid yang dibuat buat untuk mengobrak-abrik akidah ummat islam dan mengadu domba sesame muslim. Padahal semua kitab para ulama sebelum 150 tahun lalu tidak ada sama sekali 'ulama yang mengkafirkan dan membidahkan orang lain. Kepentingan politik suatu negara tertentu lah yang mulai membuat ajaran ajaran baru. Inilah yang telah dirasakan oleh negara Yaman, Mesir, Palestina, Irak, Libia, Somalia, dan Syiria. Semoga Negara Indonesia bisa terbebaskan dari itu semua
Photo
Add a comment...

Post has shared content
MERAYAKAN MAULID SAUDI VS BID’AHNYA MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Cinta Dusta Wahabi Kepada Nabi SAW

Begitu gencarnya mereka menyebarkan rasa kebencian kepada kaum awam muslimin. Begitu lantangnya mereka menolak peringatan Maulid Nabi Saw yang merupakan apresiasi kecintaan umat atas anugerah dilahirnkannya seorang Nabi pembawa keselamatan dan rahmat bagi seluruh alam ini. Begitu sadisnya mereka mengatakan rasa syukur ini adalah bid’ah dan syirik bahkan kafir. Begitu lancangnya mereka mengatakan orang-orang yang bersholawat, mendngar nasehat, mendengar kisah Nabi, merasakan beratnya perjuangan Nabi dalam majlis itu sebagai perbuatan buruk yang menyerupai perayaan orang kristen, yahudi dan kafir.

Tapi renungkanlah wahai wahabi, kalian munafiq, kalian dusta, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi….kalian membenci Nabi dan malah mencintai kaum kafir. Kalian mengatakan peringatan maulid Nabi tdk ada dasarnya tapi kenapa kalian justru memperingati hari Nasional bahkan menganjurkannya?? apa dasarnya ?? apakah ulama salaf menganjurkannya ???

Coba perhatikan, ucapan dan fatwa ulama wahabi ini; An-Nujaimi mengatakan :

Perhatikan kalimat yang digaris merah tersebut:

” Merayakan Hari Nasional adalah perkara yang penting, dan kita wajib mengingat-ngingat perayaan mulia ini bagi setiap diri masing-masing…Sungguh bagus sikap Arab Saudi yang telah MENGKHUSUSKAN hari untuk merayakan peringatan hari nasional ini “.

Subhanallah, merayakan hari kelahiran Nabi dilarang dan bid’ah-bid’ahkan tapi merayakan hari Nasional dibilang sangat penting, wajib mengingat-ngingatnya bahkan mengkhususkan harinya….dimana akal kalian wahai salafi manhaj salaf palsu ???

Dan perlu kalian ingat, bahwa kami melakukan peringatan Maulid Nabi tdk mengkhususkan harinya sama sekali, hampir setiap hari dan setiap saat kami melakukannya, kadang pas waktu sebelum akad nikah, sunatan, syukuran, sbelum berangkat haji, walimahan, kadang setiap jum’at, ada yg setiap senin, ada yg setiap kamis, ada yg setiap Rabu, ada yg setiap selasa, ada yg setiap sabtu, kadang saat nyantai di rumah, kadang saat kumpul2 bersama teman…kami mengadakan maulid kapanpun kami mau…Dan acaranya pun kami isi dengan kebaiukan seperti membaca kitab sejarah Nabi (simthud drurar, dhiyaul lami’ dll), membaca al-Quran, bersholaat, ceramah, bersedekah dll.

Tapi lihat acara peringatan Hari Nasional kalian wahai wahabi manhaj salaf palsu, lihat ini, renungkan fakta ini :

Lihat video wanita saudi semua berjoget saat perayaan hari Nasional WAHABI SAUDI . .

https://youtu.be/lCKk55VN2AY

Apa itu kalian bilang Islami?? apa itu kalian bilang sunnah salaf ?? apa itu kalian bilang diwajibkan?? apa itu kalian bilang itu perkara penting ?? perhatikan isi acara itu…!! Campur laki perempuan berjoget2 ria, teriak-teriak, memuji kerajaab Arab Saudi…kumpul menari-nari di mall laki dan perempuan dengan menggunakan busana muslim ?? inikah ajaran Islam ??? mana dasarnya ?? Adakah salaf shelaeh melakukan ini ???Mana fatwa kalian yang mengatakan perayaan apapun haram dan bid’ah kecuali perayaan idul fitri dan adha ??

Mana pengamalan fatwa kalian ini :

” Semua musim dan perayaan bid’ah. karena semua perayaan kaum ahli kitab dan ajam dilarang karena dua sebab : pertama karena menyerupai orang kafiur. kedua karena termasuk perbuatan bid’ah (gak ada dasarnya) “.

Mana konsisten kalian ?? kenapa kalian lupa dengan fatwa kalian itu ??

Jika kalian katakan perayaan maulid tidak ada dasarnya, maka saya katakan siapa salaf kalian dalam melakukan perayaan hari nasional ?? mana dasarnya ?? apa salaf kalian Yahudi, Nashoro, qaramithah atau Rafidhah ?? jika perayaan kalian itu baik sungguh sudah ada salaf yg melakukannya…Sadarlah wahai wahabi atas kemunafikanmu, sadarlah kalian telah menyakiti hati Nabi Saw…sadarlah kalian bahwa ajaran kalian jauh dari ajaran Rasul Saw…
Photo
Photo
22/10/16
2 Photos - View album
Add a comment...

Post has shared content
#Sejarah_Madzhab_Syafii_Mayoritas_di_Indonesia

Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke pertama Hijriyah dengan damai. Daerah yang mula-mula dimasuki Islam adalah Lamno (kota pelabuhan di Aceh Barat), Fansur (Singkel), Pasai (Lhok Soumawe), Perlak, Perlaman, Jambi, Malaka dan Jepara (Jawa Tengah).

Yang mula-mula menganut Islam di Indonesia ialah orang-orang Persia yang tinggal di pantai pantai Persia, Perlak. Mereka tinggal di sana adalah dengan tujuan untuk menyambut kawan-kawan mereka sebangsa yang datang berdagang melalui daerah itu menuju Tiongkok.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, bahwa jauh sebelum Nabi Muhammad Saw. lahir (571 M) hubungan dagang antara Persia, India dengan Tiongkok sudah lama terjalin. Pedagang-pedagang Persia dan India banyak yang pergi berdagang ke Tiongkok lewat laut dengan rute perjalanan Persia - Gujarat (pantai Idia sebelah barat) - Ceylon - Koromandel (pantai India sebelah timur) - Malaka (semenanjung Malaya) - Kamboa (Indocina) - Kanton (Tiongkok).

Pada tahun 17 H, kaum Muslimin di bawah pimpinan Khalifah ke II Umar bin Khattab menguasai Persia, sesudah mengadakan pertempuran di Qadisiyah dan Madain. Orang-orang persia sesudah itu berbondong-bondong masuk Islam. Hal ini berpengaruh pada orang-orang Persia yang tinggal di Persia dan Perlak, sehingga mereka segera menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi di negeri mereka dan berbondong-bondong pula masuk Islam. Penduduk asli Indonesia ketika itu pada umumnya menganut agama Hindu, Budha dan banyak pula yang tidak beragama.

Setelah Muawiyah bin Abi Sufyan memegang tampuk pemerintahan Islam tahun 41 H, dipindahkannya ibu kota dari Madinah ke Damaskus, Damaskus pada zaman itu sudah lama menjadi rute perdagangan antara Tiongkok dan Eropa melalui darat. Damaskus menjadi tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang yang datang dari Eropa menuju Tiongkok atau sebaliknya untuk istirahat dan melengkapi perbekalan.

Muawiyah bin Abi Sufyan disamping menaruh perhatian kepada kegiatan perdagangan melalui laut antara Bashrah - Teluk Persia - Tiongkok pulang pergi, beliau juga mengirim muballigh-muballigh Islam keluar negeri termasuk juga ke Indonesia. Utusan yang dikirim Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan itu bahkan ada yang sampai ke hulu sungai Jambi di Sumatera Tengah dan ke Jepara di Jawa Tengah.

Sesudah kerajaan Fathimiyah ditumbangkan oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi di Mesir pada tahun 577 H, mulailah datang muballigh-muballigh Islam bermazhab Syafi’i ke Indonesia. Mereka diutus oleh kerajaan Ayyubiyah dan kemudian oleh kerajaan Mamalik. Kerajaan Ayyubiyah berkuasa di Mesir selama 52 tahun, kemudian diganti oleh kerajaan Mamalik sampai akhir abad ke 9 H (permulaan abad 14 M).

Kedua kerajaan ini adalah penganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah bermadzhab Syafi’i yang sangat gigih. Muballigh-muballigh yang dikirim oleh kedua kerajaan ini bertebaran ke seluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Diantara muballigh-muballigh Islam dari kerajaan Mamalik itu adalah Ismail ash-Shiddiq yang datang ke Pasai mengajarkan Islam madzhab Syafi’i. Dengan usaha beliau, ummat Islam Pasai kembali menganut madzhab Syafi’i. Raja-raja Pasai pun sejak saat itu menjadi penganut madzhab Syafi’i yang gigih.

Ismail ash-Shiddiq juga berhasil mengangkat Merah Silu, orang asli Indonesia menjadi raja di Pasai (1225-1297 M) dengan gelar al-Malik ash-Shalih. Berkat pengaruh Sultan al-Malik ash-Shalih ini raja-raja Islam di Malaka, Sumatera Timur, dan orang-orang Islam di Pulau Jawa sekitar abad ke 7 H. berbondong-bondong menganut madzhab Syafi’i.

Mulai tahun 1441 M sampai tahun 1476 M (820-855 H), di Malaka berkuasa Sultan Manshur Syah I, penganut madzhab Syafi’i yang tangguh. Sultan ini mengutus muballigh-muballigh Islam yang bermadzhab Syafi’i ke Minangkabau Timur yang sudah lama ditinggalkan oleh orang-orang yang bermadzhab Syi’ah sesudah dikalahkan oleh kerajaan Majapahit tahun 1399 M. Berkat pejuangan dari muballigh-muballigh itulah madzhab Syafi’i berkembang kembali di Minangkabau Timur.

Kemudian dari Miangkabau Timur madzhab Syafi’i berkembang ke Batak, Muara Sungai Asahan dan Simalungun, disiarkan oleh muballigh-muballigh Islam bermadzhab Syafi’i bekembang kembali di Minangkabau Timur. Mereka juga sampai ke Ujung Pandang dan Bugis, bahkan sampai ke pulau-pulau di Philipina.

Dalam abad ke 15 M/9 H Kesultanan Samudra Pasai di Aceh dan Kesultanan Malaka di Negeri Malaya sangat aktif mengembangkan Islam madzhab Syafi’i ke Pulau Jawa, yaitu Demak dan Cirebon. Itulah sebabnya maka agama Islam bermadzhab Syafi’i dianut oleh ummat Islam di Pulau Jawa.

Sebagaimana diuraikan di atas, di Pulau Jawa Islam juga masuk sejak dini (abad 1 H), tetapi gelombang perkembangan agama Islam besar-besaran di Pulau Jawa terjadi dalam abad ke 15 M/9 H). khususnya sesudah priode Wali Songo (Wali Sembilan).

Wali Songo adalah muballigh-muballigh Islam di tanah Jawa, semuanya menganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah bermazhab Syafi’i. Nama-nama mereka adalah: Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat (Sunan Ampel), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Masih Ma’unat (Sunan Derajat), Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri/Raden Paku), Sunan Kalijaga, Syaikh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Kerajaan Islam Demak juga menganut madzhab Syafi’i berkat dakwah yang dilancarkan oleh muballighin Islam bermadzhab Syafi’i yang diutus oleh Kerajaan Pasai, sebagaimana sudah diuraikan di atas. Demikian pula kesultanan Aceh di Pasai (abad 5-10 H) dan di Aceh Besar (abad 10-11) semua sultannya bermazhab Syafi’i dan berusaha pula mengembangkan madzhab Syafi’i di daerah kekuasaannya, bahkan sampai ke wilayah-wilayah lain di Nusantara ini.

Sekitar abad 16 dan 17, tercatatlah dalam sejarah seorang ulama besar madzhab Syafi’i dari negeri Arab datang ke negeri Aceh, yaitu Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Ulama ini sangat berpengaruh dan berwibawa baik dalam Kesultanan Aceh maupun di kalangan rakyat negeri itu. Beliau mengarang kitab ash-Shirath al-Mustaqim Kitab Bustan as-Salathin. Kitab ash-Shirath al-Mustaqim pada abad ke 17 diberikan syarah oleh Syaikh Arsyad al-Banjari, mufti Syafi’i di Banjarmasin. Kitab Syafi’i ini tersebar luas di Indonesia dan di Semenanjung Malaya dari abad 18 sampai abad 20 ini.

Upaya Syaikh Nuruddin ar-Raniri dalam mengembangkan Islam madzhab Syafi’i dalam abad ke 16 dan 17 di Aceh mendapat sambutan besar di kalangan ulama-ulama Islam di seluruh Indonesia.

Adapula ulama Aceh yang masyhur ketika itu, yaitu Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Fanshuri, seorang ulama fiqih Syafi’i yang mendapat kedudukan tinggi dan menjadi penasehat Sultan dalam hukum-hukum agama. Beliau pernah menerjemahkan tafsir al-Quran al-Baidhawi ke dalam bahasa Melayu. Banyak thullab dan santri datang belajar kepada beliau, diantarnya Syaikh Arsyad al-Banjiri yang kemudian menjadi mufti di Banjarmasin dan Syaikh Yusuf Tajul Khalwati dari Makasar yang kemudian menjadi mufti di Banten di bawah naungan Sultan Ageng Tirtayasa.

Berkat usaha dan perjuangan murid-murid Syaikh ar-Raniri dan Syaikh Abdurrauf al-Fanshuri dari Aceh ini bertambah tersiarlah agama Islam bermadzhab Syafi’i ke seluruh penjuru tanah air pada abad 17 dan 18 M.

Kitab-kitab karangan ulama-ulama Syafi’iyah diajarkan di surau-surau dan langgar-langgar sampai sekarang bukan saja di Indonesia tetapi juga di Malaysia dan Brunai Darussalam, seperti kitab ash-Shirath al-Mustaqim karangan Syaikh ar-Raniri dan lain-lainnya.

Di tanah Jawa, pahlawan nasional Pangeran Dipenegoro, keturunan keraton yang berperang melawan Kolonial Belanda di sekitar Yogyakarta (1825-18930) adalah penganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah bermadzhab Syafi’i. Keraton Yogyakarta, juga tidak mustahil, keseluruhannya menganut madzhab Syafi’i pula.

Di Sulawesi juga madzhab Syafi’i dianut oleh kaum Muslimin. Yang membawa ajaran madzhab ini ke sana adalah muballigh-muballigh Islam dari Minangkabau Timur. Salah seorang dari mereka yaitu Datuk Ri Bandang, telah berhasil mengislamkan Raja Goa tanggal 22 September 1605 M, dan diberi gelar Sultan Alauddin Awwalul Islam. Wazirnya pun ikut memeluk Islam. Akhirnya seluruh rakyatnya memeluk agama Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang bermadzhab Syafi’i.

Kerajaan Goa kira-kira tahun 1606 M, berhasil menaklukkan Raja Bone, kemudian pada tahun 1616-1626 M menaklukkan Raja Bima, Sumbawa dan Nusa Tenggara dan Buton. Islam bermadzhab Syafi’i masuk bersamaan dengan Islam ke Goa, Bone, Bima, Sumbawa, Lombok kemudian Buton.

Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia sampai sekarang ini adalah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang bemadzhab Syafi’i. Itulah sebabnya Pengadilan Agma di Indonesia menetapkan hukum Islam berdasarkan madzhab Syafi’i. Di Indonesia sekarang ini banyak terdapat organisasi massa yang menganut, memperjuangkan dan menegakkan Islam Ahlusunah wal Jama’ah yang bemadzhab Syafi’i, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), Al-Jam’iyatul Washilah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).

Matarantai Kitab Syafi’iyyah

Dalam periwayatan madzhab Syafi’i yaitu matarantai penyampaian ajaran Syafi’i hingga sampai ke tangan Muslimin sekarang ini, kita mengenal adanya dua corak/jalur periwayatan; jalur Khurasan dan jalur Irak. Hal ini berkaitan dengan perjalanan beliau dalam memperkenalkan pemikiran-pemikirannya dalam rentang antara tahun 179-204 H.

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat peta pertumbuhan dan perkembangan madzhab Syafi’i berikut ini:
§  Fase persiapan membangun madzhab, yaitu semenjak meninggalnya Imam Malik sampai perjalanan Imam Syafi’i ke Baghdad kali kedua pada tahun 195 H.
§  Fase madzhab qadim, yaitu dimulai semenjak kedatangan Imam Syafi’i ke Baghdad yang kedua (195 H), sampai beliau pindah ke Mesir pada tahun 199 H.
§  Fase penyempurnaan dan pemantapan madzhab yang baru, yaitu semenjak di Mesir sampai wafat pada tahun 204 H.
§  Fase penyelesaian pendapat dan buah pikiran Imam Syafi’i, hal ini dimulai semenjak Imam Syafi’i wafat sampai pada pertengahan abad ke-5 H.
§  Fase stabil, yaitu setelah fase penyelesaian. Ditandai dengan bermunculanya kitab-kitab mukhtashar dalam madzhab yang berisikan pendapat-pendapat yang rajih dalam madzhab Syafi’i dan penjelasanya dengan metode sistematik.

Sebenarnya begitu banyak dan sangat rumit apabila diuraikan anatominya, terdapat mata rantai antara kitab-kitab dalam suatu madzhab yang mengagumkan. Mata rantai itu dapat dilacak dari orang-orang pertama yang menjadi murid Imam Syafi’i. Misalnya Mukhtashar al-Muzanni ditulis oleh Ismail bin Amr bin Ishaq Abu Ibrahim al-Muzanni (170-164 H). Banyak tulisanya tidak sampai kepada kita, hanya Mukhtashar-nya yang sampai kepada kita dan dikembangkan dengan berbagai mukhtashar, syarh, naqat (notasi-notasi) maupun hasyiah. Mukhtashar al-Muzanni beranak tiga buah kitab; Syarh Mukhtashar al-Muzanni oleh al-Qadhi Abu ath-Thayyib Thahir bin Abdullah ath-Thabari (348-450 H), asy-Syamil al-Kabir Mukhtashar al-Muzanni karya Abu an-Nashr Abd Sayyid ash-Shabbagh bin Muhammad (400-477 H), dan al-Hawi al-Kabir Syarh Mukhtashar al-Muzanni karya Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Mawardi (w. 450 H) buku ini tidak ada orang yang menyambung.

Fiqih Madzhab Syafi’i sebagai Madzhab Resmi

Fiqih terdiri atas peraturan atau hukum-hukum yang digali (isthinbath) dari dalil-dalil syara’ oleh seorang mujtahid sesuai pemahamanya dalam kasus-kasus tertentu. Fiqih madzhab Syafi’i merupakan produk (atsar, qauliah) yang berkembang di dalam madzhab Syafi’i. Meskipun itu hasil elaborasi para mujtahid yang lalu, fiqih tetap atas dasar manhaj. Oleh karena itu bagaimanapun madzhab qauli akan tetap membutuhkan manhaj juga. Dengan demikian yang dimaksud madzhab di sini mencakup dua aspek, pertama qauli kedua manhaji.

Di Indonesia fiqih madzhab Syafi’i yang memang telah mengakar dalam sejarah tanah air ditetapkan secara resmi sebagai rujukan pengadilan agama pada tahun 1953. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejak saat itu madzhab Syafi’i adalah madzhab resmi Negara Indonesia.

Karena demikian banyak kitab fiqih yang beredar dan diajarkan di Nusantara maka Departemen Agama membatasi 13 kitab dengan surat instruksi pada tahun 1953 untuk dijadikan di Pengadilan Agama, yaitu:
1.      Bughyat al-Musrtarsyidin oleh Husain Al Ba’alawi
2.      Al-Faraid oleh asy-Syamsuri
3.      Fath al-Mu’in oleh al-Malibari
4.      Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah oleh al-Juzairi
5.      Fath al-Wahab oleh al-Anshari
6.      Hasyiyah Kifayat al-Akhyar oleh al-Bajuri
7.      Mughni al-Muhtaj oleh asy-Syarbini
8.      Qawa’id asy-Syar’iyyah li al-Jazair al-Indonesiyyah al-Musamma Irsyad dzawi al-Arham Wajibat al-Qudhati wa al-Ahkam oleh Sayyid Shadaqah San’an, buku ini semacam buku acara
9.      Qawa’id Asy’ariyyah oleh Sayyid Utsman Bin Yahya
10.  Qalyubi al-Mahalliy wa Syarhihi
11.  Syarqawi ‘ala at-Tahrir oleh asy-Syarqawi
12.  Tarqib al-Mustaqq
13.  Tuhfat al-Muhtaj oleh Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami (909-972 H).  

Faktor Mayoritas Muslim Indonesia Bermadzhab Syafi’i

Didasarkan dari uraian sebelumnya dimana Muslim Indonesia Muslim menjadi mayoritas bermadzhab Syafi’i, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:

1.      Arus penyebaran Islam dilakukan oleh para pendakwah bermadzhab Syafi’i, baik da’i sebelum Wali Songo maupun sesudah mereka. Memang terdapat beberapa daerah yang –diduga- terpengaruh Syiah dengan ritus-ritus khas yang terlestarikan hingga saat ini, begitupun daerah yang di abad ke-19 tersentuh gerakan Wahabi, seperti di Sumatera Barat. Hanya saja ini kasuistik saja, gejala umumnya tetap Sunni-Syafi’i.

2.      Para sultan di berbagai kerajaan Nusantara memberi dukungan atas pengajaran madzhab ini. Secara khusus mereka membiayai penulisan sebuah kitab. Misalnya, Sulthanah Shafiyyatuddin Syah, penguasa Aceh, meminta Syaikh Abdurrauf as-Sinkili merampungkan kitab fiqh Mir’at ath-Thullab yang selesai ditulis pada 1074 H/1663 M. Kitab ini bahkan dijadikan rujukan fiqh hingga di kepulauan Mindanao, Filipina. Sultan Tahmidullah, penguasa Kesultanan Banjar, meminta Syaikh Arsyad al-Banjari menulis Sabil al-Muhtadin yang rampung pada 1195 H/1781 M.

3.      Matarantai intelektual terjalin atas dasar kesamaan madzhab. Jaringan ini terlestarikan dari Haramain ke Nusantara. Sampai saat ini jaringan tetap terbina.

4.      Arus imigrasi dari Hadhramaut (Yaman) memperkuat jejaring sosial-intelektual yang telah ada. Kitab-kitab karya ulama ‘Alawiyyin Hadhramaut menjadi acuan dalam tazkiyatunnafs, seperti Risalat al-Mu’awanah karya Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad. Demikian pula pembacaan Ratib (al-Aththas, al-Haddad) menjadi rutinitas khas di beberapa pesantren Nusantara.

5.      Penulisan kitab-kitab fiqh yang dilakukan oleh ulama Nusantara merujuk pada kitab-kitab Syafi’iyah. Mir’at ath-Thullab-nya Syaikh as-Sinkili maupun Sabil al-Muhtadin-nya Syaikh Arsyad al-Banjari banyak merujuk pada kitab-kitab Syafi’iyah seperti Fath al-Wahhab, Tuhfat al-Muhtaj, Mughniy al-Muhtaj, Nihayat al-Muhtaj, Minhaj ath-Thullab, dan sebagainya. Kitab Shirath al-Mustaqim-nya Syaikh Nuruddin ar-Raniri juga banyak dikutip di dalamnya. Hal ini jelas mempengaruhi tradisi intelektual pada babakan sejarah berikutnya. Demikian dominannya madzhab Syafi’i dan kitab-kitab Syafi’iyyah sehingga hal ini sangat mempengaruhi corak istinbath al-ahkam dalam tradisi fiqh di kalangan NU, bahkan terdapat klasifikasi Kutub al-Mu’tabarah. Keberadaan kitab lintas madzhab “baru saja” dikenal setelah Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Imran Chamzah, dan Gus Mus mendorong perubahan paradigmatik dari tradisi qauli ke manhaji, di Munas NU di Lampung.

6.      Para qadhi-penghulu di era kesultanan hingga zaman kolonial menggunakan kitab fiqh Syafi’iyyah sebagai rujukan utama.

Sebagai penutup, berikut ada dua kutipan kisah ulama tentang keutamaan madzhab Syafi’i. Bisa jadi ini juga merupakan faktor utama banyak generasi sekarang yang berpegang teguh pada madzhab Syafi’i. Pertama, dalam kitab ath-Thabaqat al-Fuqaha karya Abi Ishaq asy-Syairazi hal. 175 dikisahkan:

تفقهت لأبي حنيفة فرأيت النبي صلى الله عام حججت، فقلت: يارسول الله قد تفقهت بقول آبي حنيفة أفأخذ به؟ فقال: لا، فقلت : آخذ بقول مالك بن أنس؟  فقال: خذ منه ما وفق سنتي . فقلت: فآخذ بقول الشافعي؟ قال: ما هو له بقول إلا أنه أخذ بسنتي ورد على ما خالفها. ومعنى هذا الخبر أن الشافعي أفضل من أبي حنيفة و مالك لأنه لم يقل الفقه برأيه، بل أخذه من السنة

“Ketika aku telah memahami madzhab fiqih Imam Abu Hanifah, aku bertemu Rasulullah Saw. dalam mimpiku pada musim Haji. Aku mengatakan dalam mimpiku, “Ya Rasulullah, aku telah memahami fiqih Abu Hanifah, apakah aku ambil pendapat darinya?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Jangan.”

Lalu aku berkata lagi, “Apa aku ambil madzhab Imam Malik bin Anas?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Ambillah pendapat Imam Malik jika sesuai dengan Sunnahku.”

Lalu aku bertanya kembali, “Apakah aku ambil pendapat madzhab Imam Syafi’i?”

Rasulullah Saw. bersabda, “Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i adalah bersumber dari Sunnahku, dan ia menolaknya jika bertentangan dengan Sunnahku.”

Dan dalam kitab Hasyiyah Bujairami ‘ala al-Khathib karya Syaikh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami juz 1 hal. 59 cet. Darul Fikr, disebutkan:

فائدة إتفق لبعض الأولياء الله تعالى انه رأى ربه في المنام فقال يا رب بأي المذاهب أستغل فقال له مذهب الشافعي نفيس انتهى

“Ulama sepakat tentang adanya sebagian wali-wali Allah Swt. yang pernah melihat Allah Swt. di dalam "tidur" mereka. Mereka bertanya, “Wahai Tuhanku, kepada madzhab siapakah kami harus ikut?” Maka Allah berfirman, “Madzhab Syafi’i itu lebih indah dan baik.” Wallahu a’lam.
Animated Photo
Add a comment...

Post has shared content
DARAH YANG AJAIB
Mungkin Anda pernah baca..
Berikut fakta mengagumkan dari darah kita....

1). Apabila Gelas diisi air putih, ditetesi darah segar (manusia), maka air berubah menjadi merah karena darah tercampur rata tanpa diaduk.
● Kesimpulan:
Air putih itu sangat baik untuk tubuh/darah kita.

2). Gelas diisi air garam, ditetesi darah segar, diaduk. Tetap tidak tercampur dengan baik/rata, terlihat darah menggumpal kecil-kecil dan kental.
● Kesimpulan:
Terlalu banyak makan garam, darah jadi kental, menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah, jantung harus bekerja lebih keras memompanya.
Bisa berakibat darah tinggi dan stroke.

3). Gelas diisi minyak, ditetesi darah. Tidak mau bercampur dan menggumpal besar.
● Kesimpulan:
Terlalu banyak makan makanan berminyak tidak baik, kolesterol menyumbat pembuluh darah yang mengalir ke jantung, menyebabkan penyakit jantung yang amat riskan kematian karena bisa tiba-tiba anfal dan tidak tertolong.

4). Gelas diisi alkohol, ditetesi darah. Langsung bercampur, tapi lama-lama darah berubah warna menjadi coklat, berarti darah menjadi rusak.

Pembuluh darah kita setelah sekian lama mengalirkan darah, kemungkinan akan terjadi pengerakan pada dindingnya, apalagi dengan gaya makan yang tidak sehat.

Kerak yang terbentuk pada dinding pembuluh darah bisa membentuk 5 kemungkinan jenis plak.

Yaitu:
Plak kolestrol,
Plak asam urat,
Plak gula darah,
Plak trigliserida,
Plak racun.

Jika seseorang pada suatu saat mengalami kadar asam urat tinggi pada darahnya, kemudian sembuh dengan obat-obatan dokter & hasil test lab kadar asam urat darah sudah normal lalu dinyatakan sehat.
Tetapi tidak demikian dengan saluran pembuluh darahnya karena mungkin sudah ada plak asam urat yang menempel.
Plak ini bisa terlihat dengan scan, tapi tidak tercermin dari pemeriksaan darah.

Demikian juga dengan plak-plak yang lainnya mungkin sudah ada terbentuk didinding pembuluh darah.

Jika suatu saat plak-plak ini copot lalu mengalir ke arteri jantung dapat terjadi penyumbatan, akibatnya adalah serangan jantung

Jika plak yang copot tersebut mengalir ke arah otak dan menyumbat maka terjadilah stroke.

Jika plak-plak tersebut terbentuk di arteri jantung yang jadi menyempit sehingga otot jantung kekurangan sirkulasi darah dan O2, biasanya ini akibat plak kolestrol, maka terjadi penyakit jantung koroner.

```Maka untuk sehat perlu dijaga kelancaran aliran darah, pembuluh darah yang bersih bebas plak.```

🍴 Cara alami untuk menyehatkan pembuluh darah dapat dengan konsumsi makanan sehat alami secara rutin tiap hari dan menghindari makan tidak sehat seperti goreng-gorengan, lemak tinggi, dll. 🌭🍟🍔🍤🍖🍗🧀🍕

Untuk :
Plak kolestrol bisa dilunturkan, paling ampuh dengan air jahe.

Plak Asam urat dilunturkan ampuh dengan wortel segar 1 batang/hari (air kelapa tua, pepaya, nenas sebagai alternatif).

Plak Gula darah dengan bengkoang segar, (pepaya, semangka sebagai alternatif).

Plak Trigliserida dengan air kelapa tua, (air kencur, semangka sebagai alternatif).

Plak racun dengan air akar alang alang, dan kentang kukus (bukan rebus).
Syaratnya makan makanan sehat secara segar bersama ampasnya.
🔹 Utk Kentang dikukus bersama kulit, makan 1 butir perhari, kulit dikupas saat makan.

🔹Utk air jahe/kencur dibuat dengan cara jahe/kencur ukuran sejempol dikupas bersihkan, digeprek.
Rebus 1 gelas air sampai mendidih, lalu cemplungkan jahe/kencur sambil kecilkan api, tunggu sampai 30 detik lalu matikan. Jangan terlalu lama merebusnya agar enzymnya yang berkhasiat tetap ada.

🔹 Untuk Membuat Air akar alang-alang,:
_1 batang alang-alang ukuran minimum 20 cm digeprek, direbus dgn air 1 gelas seperti cara merebus jahe/kencur tetapi waktunya hanya 15 detik saja agar enzymnya yang berkhasiat tidak hilang

``Semoga bermanfaat.``
Add a comment...

Post has shared content
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded