Profile cover photo
Profile photo
REJOSO KITA
REJOSOKITA
REJOSOKITA
About
Posts

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
“Gerakan RejosoKita Studi Banding ke Forum Komunikasi DAS Cidanau, Serang-Banten”

Banten, 14/05/18- Untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi pengelolaan DAS yang baik, maka pada tanggal 14-15 Mei 2018 Gerakan RejosoKita melakukan kunjungan kerja dan studi banding ke Forum Komunikasi DAS Cidanau, Serang-Banten. Kegiatan studi banding ini merupakan tindak lanjut dari focus group discussion yang telah dilaksanakan di BPDAS-HL Sidoarjo tentang model kelembagaan yang tepat untuk pelestarian DAS Rejoso dengan prinsip harus mewakili seluruh kepentingan, tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan yang berlaku serta perlunya sinkronisasi dengan beberapa platform multistakeholder.
Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC) dipilih sebagai tujuan studi banding karena forum yang terbentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 614/Kep.211-Huk/2006 dan Keputusan Ketua FKDC Nomor 38/FKDC/ VI/2006 yang melibatkan unsur Pemerintah Provinsi Banten, Pemkab Pandeglang, Pemkab Serang, Pemkot Cilegon, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), swasta, dan masyarakat. Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC) sejak tahun 2006 telah mengembangkan skema Payment for Environmental Service (PES) atau Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) guna menjaga kelestarian wilayah DAS. Melalui skema ini, industri-industri di daerah hilir yang memanfaatkan jasa lingkungan air DAS Cidanau memberikan kompensasi berupa pembayaran kepada beberapa kelompok petani di hulu untuk mengelola kebun mereka secara berkelanjutan dengan bertujuan menjaga kelestarian DAS Cidanau. Hal ini senada dengan Gerakan RejosoKita yang saat ini tengah mengembangkan skema Payment for Environmental Service (PES) atau Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) guna menjaga kelestarian wilayah DAS Rejoso. Sehingga dengan adanya studi banding ini bisa memberikan asupan sumber materi maupun pengetahuan dari berbagai pihak untuk mendukung perjalanan gerakan RejosoKita menuju performa yang diharapkan.
Dalam kunjungan ini pihak Gerakan RejosoKita diterima langsung oleh Kepala Dinas Linkungan Hidup dan Kehutanan, Husni Hasan “Dengan semangat bersilturahmi bertukar pikiran berkonsultasi dalam rangka bagaimana kita bisa memperdayakan masyarakat sekitar DAS, masyarakat yang peduli DAS untuk bisa mengelola daerah aliran sungai untuk kemaslahatan umat, maka untuk semua itu perlu adanya suatu lembaga yang natinya akan bekerjasama dalam melestarikannya” ungkap Husni

Pitono Nugroho, Direktur Eksekutif Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) menjelaskan “Gerakan RejosoKita terbentuk dari hasil riset yang dilakukan oleh beberapa lembaga dan universitas yang dipelopori oleh Yayasan social Invesment Indonesia (YSII), dalam kunjungan dan studi banding ini stakeholder yang ikut diantaranya Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, Bappeprov Jatim, PDAB Jatim, PDAM Surabaya, BPDASHL Brantas-Sampean, Dinas ESDM Jatim, FORDAS Brantas-Sampean, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, FORDAS Kab. Pasuruan, CK NET-INA, Tirta Investama Pabrik Keboncandi, Danone Jakarta, Global Partnership South East Asia, Pegiatan Lingkungan dan Petani penerima pembayaran jasa lingkungan, stakeholder- stakeholder ini nantinya bersama sama mendorong terbentuknya forum yang akan diimplementasikan di DAS Rejoso.
Sementara itu, Sekjen Forum Komunikasi DAS Cidanau, Nana P. Rahadian mengatakan bahwa DAS Cidanau merupakan satu kesatuan wilayah pengelolaan DAS yang didalamnya terdapat Cagar Alam Rawa Danau yang luasnya 3500 hektar untuk reservoar air baku bagi industri dan kebutuhan masyarakat. Pembentukan FKDC bermula dari adanya pemahaman dan kesadaran sekelompok masyarakat terhadap degradasi lingkungan yang mengancam kelestarian Cagar Alam Rawa Danau, suatu kawasan dalam DAS Cidanau yang memiliki peran penting untuk keberlanjutan pembangunan di Serang Barat, khususnya dalam menjamin pasokan air bagi wilayah hilir.
“Kami melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sumber air Rawa Danau, sehingga masyarakat merasakan dampak postif dari keterlibatan mereka dalam bentuk Pembayaran Jasa Lingkungan” Ungkap Nana P. Rahadian
Kunjungan hari kedua dilakukan dengan berkunjung kelokasi Cagar Alam (CA) Rawa Danau dan dilanjutkan berkunjung ke Kelompok Tani Karya Muda II di Desa Citaman Kecamatan Ciomas, Kelompok Tani Karya Muda II adalah salah satu kelompok tani hutan rakyat yang mendapatkan pembayaran jasa lingkungan.
Jika DAS Cidanau gundul akan memperparah sedimentasi di Cagar Alam (CA) Rawa Danau, ekosistem unik sekaligus reservoir air alami. Air dari mata air di Gunung Karang, Aseupan, dan Parakasak melewati Rawa Danau sebelum dialirkan secara alami ke Sungai Cidanau.
"Sekitar 1.000 hektar dari 3.542,7 hektar luas CA Rawa Danau rusak karena perambahan," kata Dede Rusdirman, Komandan Resort I Wilayah CA Rawa Danau dan CA Tukung Gede, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.
praktik pembayaran jasa lingkungan meningkatkan tutupan vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau. Analisis citra satelit FKDC menunjukkan, tutupan vegetasi DAS Cidanau sebelum 2005 berkisar 20-30 persen. Kini, tutupannya 40-60 persen.
Bahrani sebagai ketua kelompok tani Karya Muda II yang beranggotakan 43 orang menjelaskan bahwa sejauh ini seluruh anggota kelompok menjaga komitmennya dengan baik. Pertemuan kelompok yang dilakukan cukup intens yaitu seminggu sekali, sangat membantu terjaganya konsistensi tanggung jawab anggota untuk menjaga populasi pohon di wilayah garapannya. Dengan hal tersebut permasalahan yang terjadi di lapangan maupun antar anggota dapat cepat diketahui dan diselesaikan secara bersama. Jenis tanaman pada lokasi hutan rakyat didominasi oleh Melinjo (Gnetum gnemon) yang tumbuh subur dan produktifitas yang baik, sehingga kelompok tani akan terus menjaga pupulasinya karena hasil buah melinjo menjadi pendapatan sehari-hari kelompok yang cukup menguntungkan.
Tentang RejosoKita
Aliansi RejosoKita adalah kerja sama multi-pihak untuk mengembangkan pengelolaan sumber daya air di Daerah Aliran Sungai Rejoso secara terpadu melalui investasi bersama antara pemangku kepentingan dan pengelolaan berbasis kinerja yang akan membawa dampak positif baik secara sosial, ekonomi dan lingkungan. Diinisiasi oleh Yayasan Social Investment Indonesia (YSII), The World Agroforestry Center (ICRAF), The Nature Conservancy (TNC), dan Collaborative Knowledge Network (CK-Net) Indonesia, aliansi ini mendukung #GerakanRejosoKita sebagai sebuah gerakan yang dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumber daya air di Rejoso bagi masyarakat di Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya.
https://www.rejosokita.org/
Instagram: @rejosokita
Twitter: @RejosoKita
fanpage : @gerakanrejosokita
e-mail : info@rejosokita.org
Photo
Add a comment...

Post has attachment
DAS Rejoso Membutuhkan Pengelolaan secara Terpadu

Gerakan Rejoso Kita melibatkan beragam pemangku kepentingan dalam upaya mewujudkan DAS Rejoso yang lestari
Untuk mewujudkan Pembangunan Pasuruan yang berkelanjutan, berbagai elemen masyarakat menyepakati bahwa DAS (Daerah Aliran Sungai) Rejoso membutuhkan Pengelolaan Secara Terpadu. Hal ini dikemukakan dalam pertemuan para pihak yang digelar hari ini (3/10) oleh Yayasan Social Investment Indonesia (SII) di Hotel Dalwan Syariah Pasuruan. Hadir dalam acara tersebut Sekda Kabupaten Pasuruan, Agus Sutiadji, mendampingi Kepala Dinas Penanaman Modal & PTSP Propinsi Jawa Timur Lili Soleh Wartadipraja. Selain Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Propinsi, Penggiat Lingkungan, sektor swasta, Universitas Brawijaya dan Universitas Gajah Mada juga turut dalam diskusi yang melibatkan Kepala-kepala Desa dan Camat di DAS Rejoso dan NGO setempat. Pertemuan ini juga menjadi forum diskusi dan menyebarluaskan Gerakan Rejoso Kita.
Ir. Kadarisman M.Eng dari Collaborative Knowledge Network (CK-Net) Indonesia sebagai pembicara pertama memaparkan fakta dan data bahwa pengeboran sejumlah lebih dari 600 sumur yang dilakukan masyarakat di DAS Rejoso telah menjadi ancaman yang nyata saat ini. Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 26 tahun, terhitung sejak 1990 sampai 2016, telah terjadi penurunan debit Mata Air Umbulan, dari sekitar 6000 liter/detik menjadi sekitar 3600 liter/detik Sementara itu peneliti dari Universitas Gadjah Mada menegaskan bahwa dalam siklus air, secara kuantitas tetap sama, namun yang perlu diperhatikan adalah kualitasnya yang harus dijaga. “Kami telah memasang alat dan sensor di beberapa titik sebagai bekal dasar guna menganalisa bagaimana karakteristik air di DAS Rejoso”, ujar Harris.
Dilanjutkan dengan Pembicara berikutnya dari World Agroforestry Centre (ICRAF) memaparkan bagaimana ragam kegiatan pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan karakteristik kawasan setempat dapat membantu kelestarian DAS Rejoso.
Fungsi strategis dari DAS Rejoso terus mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari meningkatnya intensitas banjir, erosi, dan tanah longsor pada beberapa tahun terakhir ini. Beragam faktor ditengarai menjadi penyebab, diantaranya aktivitas pertanian, pertambangan, dan meningkatnya jumlah sumur artesis. Padahal jika dikelola secara berkelanjutan, DAS Rejoso dapat memberikan manfaat yang besar tidak hanya bagi masyarakat setempat tetapi bagi perekonomian Jawa Timur secara umum.
Gerakan Rejoso Kita mengajak banyak pihak untuk terlibat dan senantiasa berupaya mencari solusi terbaik dalam melestarikan DAS Rejoso. “Gerakan Rejoso Kita tidak akan menjadi penghambat proyek strategis nasional yang ada di Jawa Timur. Gerakan ini justru merupakan sebuah kolaborasi dengan pemerintah/pemangku kepentingan untuk pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ungkap Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Jatim Lili Soleh yang hadir dalam kegiatan ini.
DAS Rejoso yang merupakan bagian dari DAS Welang-Rejoso memiliki fungsi yang strategis bagi kehidupan masyarakat khususnya di Kabupaten Pasuruan. DAS Rejoso terletak di 16 Kecamatan yang terbagi ke dalam bagian hulu, tengah, dan hilir. Adanya DAS Rejoso telah memberikan dukungan bagi kegiatan perekomomian masyarakat Kabupaten Pasuruan dimana pertanian menjadi sumber pendapatan dominan bagi masyarakat. “Pengelolaan Sumberdaya alam yang ada merupakan tanggung jawab bersama, kompleksnya tantangan yang dihadapi, dan terlibatnya banyak pihak disini, mengukuhkan bahwa Sumberdaya ala mini adalah tanggung jawab bersama, kita harus mengelolanya secara bijak untuk masa depan”, tutup Lili
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Aksi Nyata Gerakan RejosoKita

RejosoKita sebagai sebuah gerakan yang fokus dalam konservasi air pada tanggal 31 maret- 1 april 2018 ikut berpartisipasi dalam kegiatan Sarasehan Lingkungan dan Penghijauan, Program Penyediaan Air Bersih Desa Ranu Pani, Lumajang yang diadakan oleh Komunitas lingkungan gimbal alas.
Antusias peserta cukup besar, Mayoritas relawan kegiatan reboisasi lereng Gunung Semeru ini datang dari sekitaran Malang Raya. Tapi banyak juga rombongan relawan yang datang dari Pasuruan, Surabaya, bahkan dari Cirebon dan Jakarta.
Pada Hari pertama (31/3/18) para relawan ikut berdiskusi dalam sarasehan yang melibatkan pemangku kepentingan dan warga sekitar.
Kegiatan reboisasi dilakukan (1/4/18) di kawasan penunjang Sumber Air Watu Rejeng dan Sumber Amprong juga di sekitar Desa Ranu Pani. Dalam aksinya selain ikut menanam pohon para pegiat dari RejosoKita juga berpartisipasi menyediakan bibit pohon kesek.

Photo
Add a comment...

Post has attachment
"Merumuskan Strategi Kolaborasi Multipihak Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso"

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Pada saat ini, kondisi DAS Rejoso mengalami degradasi yang disebabkan oleh interaksi berbagai faktor dalam proses pembangunan yang dilaksanakan. Hal ini terlihat dari menurunnya daya dukung dan daya tampung ekosistem DAS Rejoso. Hal ini tercermin dari meningkatnya intensitas banjir, erosi, dan tanah longsor pada beberapa tahun terakhir ini. Beragam faktor ditengarai menjadi penyebab, diantaranya aktivitas pertanian, pertambangan, dan meningkatnya jumlah sumur artesis.
Pengelolaan DAS Rejoso harus dilaksanakan secara utuh dari hulu sampai hilir secara terpadu sebagai satu kesatuan ekosistem. Dalam sistem pengelolaan dan pelestarian melibatkan para pemangku kepentingan, terkoordinasi, menyeluruh dan berkelanjutan.
Hal ini dikemukakan dalam pertemuan para pihak yang digelar hari ini (28/03/18) oleh Yayasan Social Investment Indonesia (SII) di RM. Kebon Pring Pasuruan. Hadir dalam acara tersebut Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, PDAB Jawa Timur BPDASHL Brantas Sampean, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sektor swasta dan Penggiat Lingkungan. Forum Group Discussion ini dibuka oleh Gerakan Rejoso Kita yang diwakili Direktur Eksekutif Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) Pitono Nugroho “saya yakin gerakan ini akan sustainable jika didukung oleh semua pihak khususnya oleh pemerintah”.
Haris Miftakhul Fajar, ST, M.Eng (Peneliti Universitas Gadjah Mada) memaparkan tentang siklus air yang merupakan sistem tertutup sehingga bisa dihitung jumlahnya. 97% air di bumi merupakan air laut, 3% merupakan air tawar. Dari 3% 2% berupa gletser, 1% yang bisa digunakan langsung oleh manusia dimana hanya 0,5% yang bisa dieksploitasi oleh manusia) sehingga kita perlu menjaga kelestarian sumber daya air, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Saat ini tim UM (Universitas Montpellier) sedang melakukan pengukuran Water Balance (keseimbangan neraca air) dengan memasang alat dan sensor di beberapa titik sebagai bekal dasar guna menganalisa bagaimana karakteristik air di DAS Rejoso”, ujar Haris.
Musmin Nuryandi (Gerakan REJOSOKITA) menjelaskan tentang Progress dan Update Kegiatan Gerakan REJOSOKITA yang telah dilakukan sekitar 2 tahun ini ”Gerakan REJOSOKITA diinisiasi pada Oktober 2016, dengan beberapa lembaga yang terlibat (Universitas Brawijaya, UGM-UM, CKNet, Yayasan Social Investment Indonesia, World Agroforestry Centre, TNC) dan untuk saat ini Gerakan REJOSOKITA sedang mengimplementasikan PES atau Pembayaran Jasa Lingkungan di klater atas dan tengah DAS Rejoso yang melibatkan 174 petani (13 kelompok tani dalam tujuh desa) dengan total luas lahan 106,6 Ha dengan penerima manfaat sebanyak 1188 orang.”ungkap Musmin.
Dr. Ir. Gunawan Wibisono, Dipl. SE (Pakar Hidrologi, CKNet-INA) mengatakan “ krisis air menjadi masalah serius di seluruh dunia, banyak organisasi yang yang sudah melakukan mitigasi resiko dari semua organisasi ini memiliki data-data yang lengkap namun sangat disayangkan data-data tersebut belum tersampaikan kepada publik. Maka dari itu perlu dibentuk sebuah institusi yang nantinya mampu menyampaikan data dan mengimplementasikannya”.
Gerakan Rejoso Kita harus terus menerus mengajak sebanyak mungkin pihak untuk turut bergabung dalam pengelolaan dan pelestarian DAS Rejoso. Kemudian membentuk kelembagaan yang nantinya dinaungi oleh SK Bupati atau SK Gubernur. Gerakan REJOSOKITA merupakan program yang mulia dalam melestarikan air maka jangan sampai meninggalkan air mata untuk anak-cucu, tetapi tinggalkanlah mata air” tegas Eko Prasetyo (Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur)
H. Haryanto, Pegiat Lingkungan, mengatakan untuk kelembagaan Gerakan REJOSOKITA yang nanti akan dibentuk harus memiliki gaung sehingga mampu mempengaruhi kebijakan yang ada dan mampu memanfaatkan potensi yang ada.
“Saya meminta untuk pertemuan berikut diundang dinas perhutani karena lahan perhutani banyak yang gundul, dinas pertanian Pertanian dan Perkebunan karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi pertanian dan penanaman rumput untuk peternakan”.tegas Abah Mahrus Sholihin, Pegiat Lingkungan.





Photo
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded