Profile cover photo
Profile photo
Arus Deras
3 followers
3 followers
About
Arus's posts

Post has attachment
"Pahit, manis, masam, masin, hambar, tawar, sepat, dan kelatnya perikehidupan tentu telah dilalui Negeri Pontianak sepanjang untaian sejarah dan ungkaian tamaddunnya. Selama masa yang tak sebentar itu, selaksa cabaran silih tukar berganti mendera negeri yang terberkahi ini, bahkan hingga kini serasa kunjung tak ada habisnya menimpa negeri yang sangat dicintai oleh putera-puterinya ini. Tapi Negeri Pontianak bukanlah negeri yang baru semalam tegak berdiri di atas hamparan bumi nan fana ini. Cabaran seperti apapun yang mendera negeri yang di'azazkan oleh jurai zuriat Rasulullah ini, maka segala macam cabaran itu takkan pernah meluluh-lantakkan negeri yang darussalam ini."

Post has attachment
"Apalah daya, tanah dirampas tinggallah ratapan
Hutan dibakar, kering sudah air mata
Udaranya jerebu, cahayanya asap pekat"

Post has attachment
"Hampir lima tahun muka Laman Blog Arus Deras ini belum berganti lagi dengan tampilan muka laman yang baru. Fokus Laman Blog Arus Deras memang lebih kepada isi. Sementara soal penampilan tak terlalu dititik-beratkan. Tapi tentunya Laman Blog Arus Deras patut juga menyesuaikan dengan perkembangan dunia per-blog-an. Sehingga pada penghujung Mei 2015 yang lalu sampailah pada perubahan tampilan muka laman yang dimaksud."

Post has attachment
Jika yang lain-lain tampil bermusik, lain halnya dengan saya ketika itu. Bang Dwi Bebeck meminta saya untuk mendedahkan dan menela’ah mengenai Sejarah dan Budaya Melayu, wa bil khusus Negeri Pontianak. Selain itu diminta juga untuk membacakan Syair Melayu. Kebetulan waktu itu saya lagi senang-senangnya dengan “Syair Rakis” dari Negeri Berunai Darussalam, karya Pengiran Syahbandar Pengiran Muhammad Shaleh Ibnu Pengiran Sharmayuda, yang ditulis pada sekitar tahun 1840 Miladiyyah. Beliau (Pengiran Syahbandar Pengiran Muhammad Shaleh) diperkirakan hidup antara abad ke-18 hingga abad ke-19 Miladiyyah.

Post has attachment
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. RIS hanya berumur sepenggalahan jalan. Negeri-negeri pengusung federalisme satu persatu digabungkan secara paksa ke dalam Negara Republik Indonesia (NRI) yang sebelumnya kedudukan NRI sejajar dengan negeri-negeri lainnya yang tergabung di bawah Republik Indonesia Serikat (RIS). Bukan hanya itu, para tokoh pengusung federalisme pun satu persatu disisihkan, bahkan beberapa tokohnya dinistakan dan dijerat dengan tuduhan makar, pemberontak, pengkhianat bangsa. Padahal semua tuduhan itu “jauh panggang daripada api”.

Post has attachment
"Pada masa mudanya, Uwak merupakan pemain orkes (band) alias pemusik (pemain musik). Beliau adalah pemain bass pada orkes yang dipimpin oleh Pak Mudeku (abang dari ayahku) yang tertua, yang di orkes itu ada juga Pak Mude-Pak Mudeku yang lain sebagai personelnya. Hingga masa-masa tuanya pun, Uwak masih pacak memetik dawai gitar dan bass gitar, termasuk juga Bass Klasik alias Bass Tongkang. Tak jarang kalau aku lagi bermain gitar, sesekali Uwak meminjam gitar yang sedang kumainkan itu untuk dimainkannya."

Post has attachment
"Barangkali cita-citanya mengenai bentuk negara federal inilah satu-satunya “dosa” dirinya di negara yang katanya ber-Bhineka Tunggal Ika ini, karena memang kesalahan lainnya yang dituduhkan kepadanya nyata-nyata tak terbukti di pengadilan. Sedangkan di sisi lain, penafsiran absolut dari kebhinekaan tersebut adalah persatuan (federalism), bukanlah kesatuan (unitarism). Dengan mengusung cita-cita mulia tersebut, segenap jiwa dan raga telah diabdikannya kepada negerinya tercinta. Karena cita-citanya yang mulia itu pula dirinya kemudian dinistakan oleh negara kesatuan ini."

Post has attachment
Kini sebagian dari "Kaum Buta Huruf" itu telah ramai yang tiada, telah pergi mendahului kami. Dari mereka lah kami belajar mengaji Al-Qur'an, menderas baca tulis Arab dan Arab Melayu.

Post has attachment
"Salah satu usaha yang boleh dilakukan kini untuk menghidupkan Abjad Arab Melayu dapat juga dengan cara menulis penanda-penanda bangunan dan jalan menggunakan Abjad Arab Melayu (juga untuk penanda di tiap kampong/pemukiman). Hal serupa boleh pula diberlakukan pada media-media visual yang lainnya semacam baliho, spanduk, poster-poster iklan di tepi jalan, dan sebagainya. Serta melalui pendidikan sekuler sekarang ini sedikit-sedikit patut juga kiranya dimasukkan semacam mata pelajaran Abjad Arab Melayu."

Post has attachment
"Sejenak, kusesapkan kilasan-kilasan itu, kemudian kusimpan sebagai kekuatan hati. Kelak 'kan kau rasakan, betapa hancurnya hati ketika meninggalkan Simpang Tiga Kapuas-Landak, ketika menyusuri meninggalkan negeri kita, ketika melewati Tugu Khatulistiwa, ketika melewati Makam Batu Layang, ketika sudah mendekati keluar dari muara untuk kemudian menuju lautan lepas. "
Wait while more posts are being loaded