Profile

Cover photo
Solihin Hin
22,546 views
AboutPostsPhotosVideosReviews

Stream

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
'Britain will be held to account for its part in what Palestinians still see as a cataclysmic event'
Britain is responsible for all Israeli war crimes since 1948 because it created the 1917 mandate which saw Arabs removed from their land to make way for the state of Israel, a top Palestinian diplomat has said.
111 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Istri Liar di Facebook, Sebagai Suami Kamu Kemana Aja, Bro?

Baca-Share-Berkah (BSB)-> http://goo.gl/GEwUBo

Ingat, tanggung jawab suami itu tidak hanya memberi uang belaja saja
 ·  Translate
2 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Imagine that you're sitting down to dinner with your family, and while everyone else gets a serving of the meal, you don't get any. So you say "I should get my fair share." And as a direct response to this, your dad corrects you, saying, "everyone should get their fair share." Now, that's a wonderful sentiment -- indeed, everyone should, and that was kinda your point in the first place: that you should be a part of everyone, and you should get your fair share also. However, dad's smart-ass comment just dismissed you and didn't solve the problem that you still haven't gotten any! The problem is that the statement "I should get my fair share" had an implicit "too" at the end: "I should get my fair share, too, just like everyone else." But your dad's response treated your statement as though you meant "only I should get my fair share", which clearly was not your intention. As a result, his statement that "everyone should get their fair share," while true, only served to ignore the problem you were trying to point out. That's the situation of the "black lives matter" movement. Culture, laws, the arts, religion, and everyone else repeatedly suggest that all lives should matter. Clearly, that message already abounds in our society. The problem is that, in practice, the world doesn't work the way. You see the film Nightcrawler? You know the part where Renee Russo tells Jake Gyllenhal that she doesn't want footage of a black or latino person dying, she wants news stories about affluent white people being killed? That's not made up out of whole cloth -- there is a news bias toward stories that the majority of the audience (who are white) can identify with. So when a young black man gets killed (prior to the recent police shootings), it's generally not considered "news", while a middle-aged white woman being killed is treated as news. And to a large degree, that is accurate -- young black men are killed in significantly disproportionate numbers, which is why we don't treat it as anything new. But the result is that, societally, we don't pay as much attention to certain people's deaths as we do to others. So, currently, we don't treat all lives as though they matter equally. Just like asking dad for your fair share, the phrase "black lives matter" also has an implicit "too" at the end: it's saying that black lives should also matter. But responding to this by saying "all lives matter" is willfully going back to ignoring the problem. It's a way of dismissing the statement by falsely suggesting that it means "only black lives matter," when that is obviously not the case. And so saying "all lives matter" as a direct response to "black lives matter" is essentially saying that we should just go back to ignoring the problem. The phrase "Black lives matter" carries an implicit "too" at the end; it's saying that black lives should also matter. Saying "all lives matter" is dismissing the very problems that the phrase is trying to draw attention to. --
2 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Western coalition forces knew they were attacking an area inhabited by civilians and yet they carried out a bombing. How can 30 airstrikes be a mistake? How can they all be a mistake, political commentator Marwa Osman asked RT.
1
Add a comment...
In their circles
65 people

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Ridwan Saidi : Ingin Kuasai NKRI, Cina Kirim Tentara Yang Menyamar Jadi Pekerja

•Rabu, 22 Syawwal 1437 H/27 Juli 2016. 06:00 WIB

Eramuslim.com –
•Ketua Yayasan Renaissance Foundation Ridwan Saidi, mengingatkan Pemerintahan Jokowi-JK agar mewaspadai pencaplokan wilayah Indonesia oleh Cina.
•Menurut Ridwan, saat ini serdadu tentara merah Cina sudah memasuki wilayah-wilayah strategis di Tanah Air. Mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Maluku, sudah dimasuki para tentara Cina, yang menyamar sebagai pekerja dan wisatawan.

•"Diduga Cina ingin menguasai Indonesia dengan jalan mengirim tentara mereka yang menyamar sebagai pekerja,” ujar Ridwan Saidi, saat konferensi pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (26/7/2016).
•Oleh karena itu, Ridwan mengingatkan, jika hal ini tidak segera diantisipasi, dalam beberapa tahun ke depan semua sektor, mulai dari perekonomian, teknologi, hingga pemerintahan di Indonesia bakal disetir Cina.

•"Saya sebagai warga negara Indonesia, punya keluarga anak dan cucu merasa berkewajiban mengingatkan pemerintah,” katanya.
•Senada dengan Ridwan, Pengamat kebijakan publik Amir Hamzah mengatakan, pemerintah Indonesia harus berkaca pada kasus penjajahan Cina atas negara Tibet.

•Awalnya, kata Amir, tentara Cina datang ke Tibet dengan menyamar sebagai pekerja. Mereka kemudian membangun infrastruktur dan perekonomian Tibet.
•“Namun pada akhirnya merea menguasai Tibet mengusir pemimpin Tibet Dalai Lama. Makanya, jangan sampai ini terjadi di Indonesia,” ujar Amir.

•Amir menambahkan, keberadaan pulau reklamasi yang pembangunannya dimotori Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menjadi bukti shahih sebagai agresifitas Cina untuk menguasai Indonesia.
•“Nantinya, bangunan di atas Pulau reklamasi akan diperuntukkan bagi para pendatang dari Cina. Dari sanalah mereka kemudian akan menguasai nusantara,” ungkapnya. (ts/sn)
 ·  Translate
276 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Mendapat Reaksi Keras Umat Islam, KOMPAS dan JOKOWERS Hapus Berita Sinis tentang Erdogan

Kudeta sekelompok militer di Turki untuk menggulingkan Presiden Erdogan yang akhirnya gagal rupanya banyak pihak yang kecewa.
Di negara-negara Barat, para pimpinan dan para pengamat serta media-medinya kecewa berat harapan melengserkan Erdogan akhirnya kandas. Awalnya mereka riang gembira kudeta dikabarkan berhasil, namun akhirnya mereka tertunduk saat jutaan rakyat Turki - bi idznillah- gagalkan kudeta.
Pasca kudeta militer gagal, media-media barat gantian yang "menyerang" Erdogan. Erdogan dicitrakan otoriter, diktator, kejam, anti demokrasi, represif, dan sekarang pasca kudeta meluapkan dendamnya pada musuh-musuh politiknya.
Dan rupanya kelakuan media-media barat juga ditiru di sini.
Salah satunya adalah Kompas online. Beberapa artikel berita dengan nada tendensius pada Erdogan. Media yang harusnya hanya memaparkan FAKTA kini berganti menjadi penyebar OPINI, yang sayangnya opini itu menyesatkan.
Salah satu artikel berita di Kompas online yang kemudian mendapat reaksi keras dari umat Islam adalah berita pada tanggal 20 Juli 2016 yang berjudul "PASCA PERCOBAAN KUDETA, ERDOGAN BELUM STOP BALAS DENDAM ".
 ·  Translate
90 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA Part 5/9

Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut. Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut
.
Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb
.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya
.
Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?
.
Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka
.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya
...
BERSAMBUNG Next Post
 ·  Translate
23 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
KTP saya cuman buat pemimpin muslim kagak ada yang lain
 ·  Translate
195 comments on original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Said Aqil Terima Baik Kunjungan Ulama Iran ke PBNU, Umat Mau Dibawa Kemana?
foto by abi press Syiahindonesia.com - Senin (30/5), kantor PBNU Pusat di Jakarta menerima kunjungan dua ulama Iran yaitu Hojjatul Islam Dr. Hasan Zamani, Ketua Hubjungan Luar Negeri Hauzah Ilmiah Qom, Iran dan Habib Abdul Ba’its, Khatib dan Imam Besar Masj...
 ·  Translate
foto by abi press Syiahindonesia.com - Senin (30/5), kantor PBNU Pusat di Jakarta menerima kunjungan dua ulama Iran yaitu Hojjatul Islam Dr. Hasan Zamani, Ketua Hubjungan Luar Negeri Hauzah Ilmiah Qom, Iran dan Habib Abdul Ba’its, Khatib dan Imam Besar Masjid Jami’ Bandar Abbas, Provinsi Hurmuzgan, Iran serta Waliyyullah Muhammadi, Dubes Republik Islam Iran untuk Indonesia. Mirisnya, rombongan tamu diterima langsung Ketua Umum dan Ketua PBNU, Pro...
View original post
1
Add a comment...

Solihin Hin

Shared publicly  - 
 
 
Alhamdulillah! Penemu Sungai Dalam Laut Itu Akhirnya Memeluk Islam

Baca-Share-Berkah (BSB)-> http://goo.gl/NfYs0I

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
 ·  Translate
2 comments on original post
1
Add a comment...
People
In their circles
65 people
Links
Story
Tagline
xpxkxh xndx tokoh kunci?
Collections Solihin is following
View all
"Nasi sudah jadi bubur". Apapun yang telah mereka ( pemerintah ) lakukan diluar kemampuan kita untuk mengembalikan, sekarang tinggal SIKAP POSITIF kita dengan keadaan ini. Semoga keadaan akan lebih baik bagi kita.
Public - 2 weeks ago
reviewed 2 weeks ago
1 review
Map
Map
Map