Profile cover photo
Profile photo
Wifa Tasya Fadhil
4 followers
4 followers
About
Posts

Post has attachment
Photo

Post has attachment
Photo

sebuah kisah cinta inspiratif islami yang berjudul “Kisah Pengantin yang Meninggal ketika Sujud“. Diharapkan, kisah inspiratif islami tentang cinta ini dapat menginspirasi bagi para pembaca semua untuk mengambil khikmah yang terkandung dalam kisah cerita di dalamnya. OK. langsung saja kita simak bersama, kisah selengkapnya berikut ini :Seorang ulama di Arab Saudi, Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad, menorehkan kisah inspiratif tentang salat. Sujud terakhir seorang pengantin mampu membuat jutaan orang tersentuh.Pesan SponsorKisah ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Abha, ibukota Provinsi Asir, Arab Saudi.Video sang ustaz saat berceramah dan menceritakan kisah ini sempat diupload di Islamic Tube dan menjadi hit di Arab Saudi dan negara-negara Islam lainya. Banyak blogger juga merilis kisah ini dan banyak yang memberikan aspirasi kagum setelah membacanya.Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bercerita tentang ketaqwaan seorang anak perempuan yang dalam kondisi apapun, dia tetap memilih melaksanakan shalat tepat waktu, meski dia harus menentang kemauan ibunya.Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bertutur…“…Setelah melaksanakan shalat Maghrib pengantin wanita ini berhias, dia menggunakan gaun pengantin putih yang indah, dia betul-betul telah mempersiapkandirinya untuk pesta pernikahannya. Tiba-tiba dia mendengar azan Isya sudah menggema, dia sadar kalau wudhunya telah batal.Dia berkata kepada ibunya, “Bu, aku mau berwudhu dan shalat Isya dulu.”Ibunya sangat terkejut, “Apa kamu sudah gila? Tamu sudah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”Ibunya menambahkan, “Aku ini ibumu, sekarang Ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, Ibu akan marah kepadamu!”Lalu anaknya menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga aku shalat, ibu. Ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah!”Lalu ibunya menimpali, ” Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang dirimu ketika kamu tampil nanti dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up? Kamu pasti tidak lagi terlihat cantik di mata mereka!Mereka akan mengolok-olok dirimu !”Anak perempuannya itu berkata dengan tersenyum, “Apakah Ibu takut karena aku tidak terlihat cantikdi mata makhluk (manusia)? Bagaimana dengan Penciptaku (Allah)? Yang aku takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, aku tidak akan tampak cantik di mata Allah.”Lalu, pengantin ini berwudhu, maka seluruh make-upnya terbasuh tanpa tersisa. Namun, dia tidak merasa bermasalah dengan apa yang dia lakukan.Kemudian pengantin ini memulai shalatnya. Pada saat dia bersujud dalam shalatnya, ternyata itulah sujudnya yang terakhir.Pengantin wanita ini telah meninggal dalam sujudnya dan itu adalah akhir yang indah. Wafat dengan keadaan bersujud di hadapan Pencipta-Nya.Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang Muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya! Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama, tutup Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad.

Post has attachment
Photo

Suatu kali, Umar bin Khathab mendengar seseorang berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yg sedikit.”

Beliau bertanya, “Wahai hamba Allah, apa yg kamu maksud dgn golongan yg sedikit?”

Orang itu menjawab, “Saya menyimak firman Allah, Dan tdk beriman bersama dgn Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40), juga firman-Nya, “Dan sedikit sekali dari hamba2Ku yg bersyukur.” (QS. Saba’ 13). Kemudian orang itu menyebutkan beberapa ayat lagi. Lalu Umar berkata, “Setiap orang memang lebih faqih dari Umar.”

Fragmen ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa utk meraih derajat yg tinggi & mulia, harus bersiap menempuh jalan yg sepi dari teman. Krn orang kebanyakan tdk sanggup menempuh puncak ketinggian.

Derajat muslim hanya disandang sebagian kecil dari total penduduk bumi yg luas ini. Di antara sekian banyak muslim, hanya sebagian kecil yg menduduki peringkat mukmin. Dan di antara sekian banyak mukmin, hanya sedikit sekali yg mampu meraih derajat muhsin. Dan begitulah, makin tinggi tujuan, makin sedikit teman perjalanan.

Orang yg memiliki cita2 mulia, harus menyadari pilihan ini. Ia sama sekali tdk terpengaruh atau larut oleh suara kebanyakan. Tdk pula terwarnai oleh tradisi yg sudah menjadi hegemoni. Baginya, itu bukanlah ukuran.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata, ”Tempuhlah jalan kebenaran, janganlah merasa kesepian dgn sedikitnya teman perjalanan.”

Fudhail bin Iyadh rahimahullah juga berkata, ”Berpeganglah pada jalan hidayah, jangan ragu akan sedikitnya orang yg menempuh jalannya. Jauhilah jalan kesesatan, & jangan tertipu oleh banyaknya jumlah orang yg bergabung bersama mrk.”

Begitulah semestinya sikap kita dlm memegangi kebenaran, demikian pula usaha kita dlm meraih cita2. Bukankah orang yang masuk jannah tanpa hisab lebih sedikit dari penghuni jannah yg lain? Bukankah ’imam fid dien’ (pemimpin dlm agama) lebih sedikit dari pada jumlah makmum yg di belakangnya?

Inilah harga yg harus dibayar utk sebuah kemuliaan, wallahul muwaffiq

(Ust. Abu Umar Abdillah)

Post has attachment
Curug putri kuningan
Photo
Wait while more posts are being loaded