Profile

Cover photo
Cerita Pagi
34 followers|6,159 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 008

Konon, ada seorang lelaki yang mengadu kepada seorang yang alim. Ia berkata, “Tuan dosa saya begitu besar apakah mungkin diampuni oleh Yang Maha Kuasa.” Sebelum orang alim itu menjawab teman lelaki itu berkata, “Benar tuan, dosa teman saya ini terlalu besar. Kalau saya alhamdulillah tidak punya dosa.”

Mendengar perkataan dua lelaki ini, orang alim itu berkata, “Coba kamu tinggalkan dulu tempat ini sejenak, pergilah. Kepada yang merasa dosanya besar tolong pergi carilah satu batu yang besar, beratnya sekitar 1 kilo gram. Kepada yang merasa tidak punya dosa carilah batu yang banyak beratnya juga sekitar 1 kilo gram.”

Beberapa saat kemudian kedua lelaki ini menemui orang alim dengan masing-masing membawa batu. Mereka duduk di hadapan orang alim itu. Dengan suara yang penuh wibawa orang alim itu berkata kepada yang merasa dosanya besar, “Kamu membawa satu besar, apakah kamu masih ingat tempat batu itu bila aku meminta engkau mengembalikannya?” Lelaki itu menjawab, “Tentu saya masih ingat. tuan.”

Kepada lelaki yang merasa tak punya dosa, orang alim itu bertanya, “Kau membawa batu banyak yang beratnya hampir sama dengan sahabatmu, apakah kau masih ingat tempat masing-masing batu bila aku meminta engkau mengembalikan batu itu?” Dengan sedikit malu lelaki itu menjawab, “Saya tidak tahu dan tidak ingat sama sekali.” “Hati-hatilah terhadap dosa kecil yang sering kau lupakan, boleh jadi berat dosa itu sama dengan dosa besar yang dilakukan oleh orang lain,” kata orang alim.

Maka, berhati-hatilah terhadap maksiat-maksiat kecil. Bukankah kita bisa terjatuh dan terpeleset hanya oleh selembar kulit pisang atau sedikit genangan air?

----------------------------------------------------------------------------------------

dikutip dari blog Jamil Azzaini | Inspirator Sukses Mulia
 ·  Translate
2
1
lim hantono's profile photo
Add a comment...

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 007

Pada 1895, orang nomor satu di AS adalah Presiden Cleveland. Sebagai Kepala Negara, ia banyak mendapat surat dari rakyatnya. Dan diantaranya terdapat surat yang isinya cukup menggelitik,

Yang terhormat Tuan Presiden

Akhir-akhir ini saya mengalami kegelisahan batin yang begitu mencekam, bahkan menakutkan. Hanya kepada Tuan Presiden saya melaporkannya. Saya seorang gadis berumur 13 tahun yang dua tahun lalu telah merugikan negara. Saya pernah mau berkirim surat namun saya tidak punya uang untuk membeli perangko. Karena surat saya sangat penting, saya terpaksa mengirim itu melalui jasa pos dengan perangko bekas. Beberapa saat kemudian saya sadar bahwa perbuatan itu salah. Saya lalu gelisah dan terus gelisah. Saya mohon Tuan Presiden memaafkan saya, dan saya tidak akan mengulangi lagi kejahatan itu. Bersama dengan surat ini saya kirim uang seharga perangko yang saya perlukan itu. Mohon maaf dan terima kasih.

----------------------------------------------------------------------------------------

dikutip dari buku Aritmatika Jari Metode AHA / Arif Arya Setyaki
 ·  Translate
1
1
lim hantono's profile photo
Add a comment...

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 005

Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi)

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama. ". Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun "Kenapa kau terlambat?".

Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik- baik.".

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Pernyataan Arun :
Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.

----------------------------------------------------------------------------------------

diambil dari kisah [dot] tk
 ·  Translate
1
Add a comment...

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 003

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya," ujar Pak Tua itu.

"Pahit... Pahit sekali..," jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.

Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah."

Saat tamu itu selesai mereguk air itu Pak Tua bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segaaar..," sahut tamunya.

"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.

"Tidak," jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di telaga itu.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam" untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

----------------------------------------------------------------------------------------

anonim
 ·  Translate
1
Add a comment...

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 001

Suatu saat seorang dokter yang bertugas di sebuah desa sedang berkeliling ke rumah warga lalu mampir di rumah seorang petani, ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah dari anak si petani yang menyambut kedatangannya.

Usianya kira-kira 5 tahun, sang dokter penasaran mengapa anak itu begitu ramah. Tak lama kemudian ia menemukan jawabannya, saat ibu anak itu tengah sibuk di dapur mencuci piring-piring dan perkakas dapur yang kotor, si anak datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah.

"Bu, apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini?" tanyanya.

Sang dokter tersenyum kagum ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku anak itu dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menerangkan serta menjawab berbagai pertanyaan buah hatinya.

Setelah anak itu beranjak pergi sang dokter menghampiri ibu itu dan berkata, "Kebanyakan ibu tidak mau diganggu saat ia sedang sibuk? Mengapa ibu tidak seperti itu?". Dengan senyum si ibu menjawab, "Saya masih bisa mencuci piring dan perkakas kotor itu selama sisa hidup saya, tetapi pertanyaan - pertanyaan polos putra saya mungkin tidak akan terulang sepanjang hidup saya."

----------------------------------------------------------------------------------------

cerita diambil dari pondokibu [dot] com
1
Add a comment...
Have them in circles
34 people
Evi Agustiana's profile photo
Prinz Chal's profile photo
lim hantono's profile photo
Blandr ruboh's profile photo
Indri Zanosa's profile photo
CV.SELAT NUSA INDAH's profile photo
Budi Nugroho's profile photo
Fazrin Tamimi's profile photo
iyunk kusnadi's profile photo

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 006

Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, "Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya."

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, "Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja."

----------------------------------------------------------------------------------------

anonim
 ·  Translate
1
1
lim hantono's profile photo
Add a comment...

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 004

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."

Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah Anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah makam yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas ia kembali menuju toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

----------------------------------------------------------------------------------------

diadaptasi dari Rose for Mama - C.W. McCall
1
Add a comment...

Cerita Pagi

Shared publicly  - 
 
#ceritapagi 002

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmmm... kamu telah berhasil dengan baik, Anakku. Tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya."

"Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain."

"Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada, dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik."

----------------------------------------------------------------------------------------

anonim
 ·  Translate
1
Add a comment...
People
Have them in circles
34 people
Evi Agustiana's profile photo
Prinz Chal's profile photo
lim hantono's profile photo
Blandr ruboh's profile photo
Indri Zanosa's profile photo
CV.SELAT NUSA INDAH's profile photo
Budi Nugroho's profile photo
Fazrin Tamimi's profile photo
iyunk kusnadi's profile photo
Contact Information
Contact info
Email
Story
Tagline
Berbagi Cerita, Berbagi Inspirasi dan Menebar Kebaikan.
Introduction
Sekedar tempat 'mengumpulkan apa yang terserak'. Tempat berbagi cerita dan inspirasi indah di pagi hari. #CeritaPagi #InspirasiPagi

Follow us on twitter @ceritapagi