Profile cover photo
Profile photo
Sugeng Pribadi
49 followers
49 followers
About
Posts

Post has attachment
Contoh konkritnya, ada sebuah tulisan di 'Secangkir Teh' yang di share puluhan kali, sampai mencapai pageview -- jumlah sebuah halaman dibuka/dilihat/dibaca -- sampai 14.700 lebih. Luar biasa! Tetapi, begitu banyaknya yang buka (dan baca), komentarnyapun beragam, dan kadang kelewat batas. Menjurus (saling) menghujat, bukan lagi sekedar kritik atau ungkapan ketidaksamaan pandangan. Inilah yang saya khawatirkan selama ini.
Add a comment...

Post has attachment
Nah pemerintah desa kesulitan membuat proposal itu karena belum ada panduan dan pendampingan. Bisa dimaklumi, kemampuan aparatur desa -- terutama desa-desa yang ada di pelosok dan pulau-pulau kecil -- sangatlah minim. Inilah sebenarnya letak masalahnya.
Add a comment...

Post has attachment
Sehingga, tidaklah mungkin masyarakat kelas marginal, dengan tingkat pendidikan yang rata-rata tidak tinggi, dipaksa untuk menyukai 'Mata Najwa' atau 'Kick Andy', meski kedua talkshow itu punyak konsep kuat dan inspiratif. Setidaknya, bagi kelas ini, lebih enjoy menonton Tukul Arwana dengan 'Bukan Empat Mata'nya, yang banyak melontarkan humor pasaran dan vulgar.
Add a comment...

Post has attachment
Apakah sinetron ini (masih) relevan dengan kehidupan zaman sekarang? Jawabannya: tentu saja! Karena, makin berkembangnya zaman semakin muncul 'kekuatan' dari sinetron ini. Meski sangat langka, orang (baca: keluarga) yang tetap mempertahankan nilai keluhuran dalam hidup dan bermasyarakat, tetaplah ada dan diperlukan. Bahkan, bisa menjadi teladan, ditengah makin suburnya pola hidup hedonisme dan serba instan pada masyarakat kita.
Add a comment...

Post has attachment
Saya jadi teringat ketika berwisata ke Yogyakarta, bersama keluarga. Saat menikmati keramaian di pusat perbelanjaan Malioboro, saya disapa ramah pemuda berkemeja batik -- entah dari Dinas Pariwisata atau agen travel -- yang membagi leaflet wisata Yogyakarta. Ketika tahu saya dari luar kota, dia minta waktu (itupun kalau saya berkenan) untuk dijelaskan obyek wisata di Yogya dan sekitarnya. Sangat simpatik.
Add a comment...

Post has attachment
Entah itu ditujukan untuk para pemimpin, yang memang punya kewajiban melindungi, mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya. Atau, untuk individu-individu yang masih memerlukan 'pegangan' ajaran kehidupan, untuk bisa saling memberi dan berbagi dengan sesama.
Add a comment...

Post has attachment
Lagipula, tulisan model features, yang menjadi kekuatan 'Secangkir Teh', bisa dibaca kapan saja. Tidak dibatasi waktu, dan tidak pernah basi. Jadi kalau tidak sempat baca pagi, bisa siang sambil istirahat makan siang, atau malam menjelang tidur. Kenikmatannya tidak berubah, sama saja. Justeru kalau tulisannya (terlalu) pendek, membuat saya sulit membuat narasi yang mengantar pada esensi tema tulisan.
Add a comment...

Post has attachment
Ada lagi, seorang karyawati travel, tiap hari menyempatkan buka facebook, hanya untuk melihat aktivitas dan perkembangan organisasi sekolah yang pernah diikuti, tanpa menulis atau komentar apapun. Baginya, melihat grup organisasinya itu secara rutin, sudah cukup mengobati rasa rindunya.
Add a comment...

Post has attachment
Endah Ernawati, begitu nama lengkap penyuka budaya Korea – layaknya remaja Indonesia kebanyakan saat ini – aku kenal saat dia melamar menjadi staf administrasi koperasi yang aku bina, sekitar pertengahan tahun 2011. Aku agak ragu untuk menerima, karena pendidikannya yang tinggi dan statusnya yang masih guru honorer di salah satu SD Negeri di Cileungsi, jangan-jangan malah nanti meminta gaji yang tinggi.
Add a comment...

Post has attachment
Cuma, saya tetap belum sreg di hati – ini uneg-uneg yang tidak memerlukan jawaban sebenarnya – karena esensi pertanyaan saya adalah mengapa makin luntur budaya menghormati orang yang sedang berpuasa di negeri ini?
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded