Profile

Cover photo
Masa Pubertas
Worked at masapubertas.blogspot.com
Attended Ndul-Ndul
Lives in indonesha
4 followers|1,671 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Masa Pubertas

The Lounge  - 
 
Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    *
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya
 
(Satyawira Wicaksana)
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Masa Pubertas

Discussion  - 
 
Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    *
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya
 
(Satyawira Wicaksana)
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Masa Pubertas

Shared publicly  - 
 
Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    *
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya
 
(Satyawira Wicaksana)
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Masa Pubertas

Shared publicly  - 
 
Mau tak mau,
16 Februari 2014 pukul 3:43

Cuma sebuah sketsa.
Saat semua kebutuhan rakyat tersengaja terkelola oleh korporasi swasta otomatis itu berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya. Sengaja pula perhatian rakyat di giring pada kasus2 Koruptor seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di negeri ini tersebab oleh mereka.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh dari pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan. Jadi lucu, rakyat yg marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 muncul dari satu sebab yang sama : Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk dan dimana-mana kuat menjamur mendominasi (pasti berirama industri kapitalisme) ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan.
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama mengkritik penguasa negeri ini utk mau membela harkat rakyat sebagai sebuah negara yg ideologinya mau tak mau pula harus bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila.
 
Sebab jika tidak, penguasa negara berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain monopoli kapitalisme di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan berpuluh tahun, hingga tersengaja terbentuk rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, selalu perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek", dan penyuka tontonan komedi berpola hahahaha sehari hari.. ( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat menggoda tiba-tiba mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
Tapi tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
*
terinspirasi film keren,
Rectoverso.
 ·  Translate
1
Add a comment...
Have him in circles
4 people
Ameghasehen Obaseki's profile photo
salem wongsiyan's profile photo
 
Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    *
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya
 
(Satyawira Wicaksana)
 
 ·  Translate
1
Add a comment...
 
Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 

terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya
 
(Satyawira Wicaksana)
 
 ·  Translate
1
Add a comment...
 
Mau tak mau,
16 Februari 2014 pukul 3:43

Saat semua kebutuhan rakyat tersengaja terkelola oleh korporasi swasta otomatis itu berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya. Sengaja pula perhatian rakyat di giring pada kasus2 Koruptor seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di negeri ini tersebab oleh mereka.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh dari pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan. Jadi lucu, rakyat yg marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 muncul dari satu sebab yang sama : Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk dan dimana-mana kuat menjamur mendominasi (pasti berirama industri kapitalisme) ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan.
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama mengkritik penguasa negeri ini utk mau membela harkat rakyat sebagai sebuah negara yg ideologinya mau tak mau pula harus bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila.
 
Sebab jika tidak, penguasa negara berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain monopoli kapitalisme di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan berpuluh tahun, hingga tersengaja terbentuk rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, selalu perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek", dan penyuka tontonan komedi berpola hahahaha sehari hari.. ( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat menggoda tiba-tiba mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
Tapi tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
*

Rectoverso.
 ·  Translate
1
Add a comment...

Masa Pubertas

Shared publicly  - 
 
Asalamualaikum, mau ngasih tau nih...
Untuk yang mau ikutan casting film ROCK BUAT JAKARTA, mulai resmi dibuka ya...
Buat cowok, mulai umur 19-45 tahun...
Kalo cewek, umur 16-40 tahun...
Tempatnya di jalan Kesehatan 3 no 9 B - Organon - Bintaro - Jakarta Selatan...
Waktunya, setiap hari dari jam 13.00-17.00, kecuali hari Minggu...

 Oya .. syarat utk peserta casting adalah : membaca alur cerita Novelnya terlebih dahulu. Agar peserta memahami betul karakter masing2 tokoh dan suasananya. Sehingga memperbesar kemungkinan peserta casting utk dapat mengeluarkan kemampuan nya di atmosphere cerita yang dimaksud pengarang sekaligus sutradara film ini nanti. Yang gue tau seh, novel tsb. sudah ada di toko-toko buku .. atau bisa di tanyakan langsung nanti di kantor castingnya ( jln Kesehatan 3 no 9B - Organon - Bintaro. Waktu nya setiap hari dari jam 13.00-17.00, kecuali hari Minggu. ) . Limapuluhribu kira2 gak lebih. Ok bro n sist ? Semoga bermanfaat.
 ·  Translate
1
Masa Pubertas's profile photo
 
Rock Buat Jakarta .. ada kok Facebook nya .. :)
 ·  Translate
Add a comment...

Masa Pubertas

Shared publicly  - 
 
Ada Video tentang adegan Dukun Cabul, cek it out ..!
1
Add a comment...
People
Have him in circles
4 people
Ameghasehen Obaseki's profile photo
salem wongsiyan's profile photo
Education
  • Ndul-Ndul
Basic Information
Gender
Male
Work
Employment
  • masapubertas.blogspot.com
    freelance
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
indonesha