Profile cover photo
Profile photo
hera wati
11,680 followers
11,680 followers
About
Posts

Post has shared content
Membaca Kebohongan Seorang Ibu (Sebuah Kisah Sedih Yang Mengharukan ) SILAHKAN SHARE !!

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku masih kenyang”
KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Kamu tidurlah duluan, aku belum mengantuk”
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya lebih senang sendiri bersamamu”
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : Ibu masih punya duit”
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku lebih suka disini”
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

***

”Berbaktilah pada Ibumu, Ibumu, Ibumu”.

Semoga cerita diatas bisa membuat kita merenung sejenak, apa yang telah di lakukan ibu kita hingga kita menjadi seperti saat ini. Begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukannya untuk membahagiakan kita...

KASIH IBU
KEPADA BETA
TAK TERHINGGA
SEPANJANG MASA
HANYA MEMBERI
TAK HARAP KEMBALI
BAGAI SANG SURYA MENYINARI DUNIA.

CREDIT :
https://modelbajuterbaru2018.net/model-batik-pria/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Inspiratif, Pertemuan Seorang Murid dengan Sang Guru

Pada suatu waktu…., seorang anak yang bernama Hamid hidup dan sekolah di sebuah desa terpencil di pedalaman Maroko. Semua teman sekelas membencinya karena kebodohannya serta tingkah lakunya yang kerap menjengkelkan. Terlebih lagi guru si Hamid yang selalu berteriak kepadanya, “Kamu membuat saya gila Hamid !!!”
l

Lama-kelamaan Hamid tidak tahan untuk tidak bercerita kepada orangtuanya tentang suasana yang membuatnya tidak nyaman berada di sekolah itu.

Dan akhirnya suatu hari ibunya datang ke sekolah untuk melihat apa yang Hamid lakukan dan bertemu dengan guru-gurunya. Pada saat itu seorang guru tidak bisa menahan kesabaran dan menceritakan apa adanya kepada sang ibu bahwa Hamid adalah sebuah bencana bagi sekolah. Selalu dapat nilai jelek dan dia tidak pernah melihat anak sebodoh itu sepanjang karirnya. Ibu si Hamid tidak terima mendapatkan laporan seperti itu, dan langsung mengambil keputusan bulat yaitu Hamid dikeluarkan dari sekolah itu dan pindah ke kota lain.

25 tahun kemudian, sang guru tadi terkena serangan jantung. Dokter menyarankan agar dia melakukan operasi ke dokter spesialis bedah jantung. Karena tak ada jalan lain, dalam keadaan koma, akhirnya operasi pun dilakukan dan sukses. Sesaat setelah operasi, sang guru membuka matanya, dia melihat seorang dokter yang tampan dan tersenyum padanya. Dia mau mengucapkan sesuatu pada si dokter tapi tak mampu bicara karena masih terpengaruh obat bius.

Sejurus kemudian … sang guru kelihatan panik dan menggerak-gerakan kepalanya, wajahnya mulai kelihatan membiru. Dia kumpulkan seluruh tenaga yang tersisa hingga mampu mengangkat tangannya untuk memberitahu sang dokter tentang sesuatu … Tapi terlambat, sang guru akhirnya kembali jatuh dalam kondisi koma yang lebih serius dari sebelumnya.

Dokter sangat terkejut dan berusaha memahami apa yang barusan terjadi. Dia membalikan badannya dan melihat si Hamid yang bekerja di rumah sakit itu sebagai cleaning service mencabut colokan listrik alat bantu pernapasan untuk diganti dengan colokan listrik vakum cleaner-nya.

Jika anda berpikir bahwa Hamid adalah si dokter, berarti anda terlalu banyak nonton sinetron dan film India. Atau anda terlalu sering menghadiri seminar motivasi


reviwer :

bajumodelbaru.info/model-baju-batik-guru/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
30 Rahasia Wanita Yang Tidak Boleh Diketahui Wanita


Memang tidak ada yang mengetahui apa isi hati setiap wanita. Apalagi isi hati kaum perempuan terkadang sulit untuk diterka. Terkadang ingin A tapi besoknya bisa berubah jadi B. Bagaimana dengan rahasia-rahasia wanita yang ada dalam hati, berikut rahasianya :

1. Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.

2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.

3. Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang (karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).

4. Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.

5. Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan cair seperti coklat!!

6. Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima pujian.

7. Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati,tolak cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan,dia akan melakukan apa saja.

8. Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya,biarkan dia untuk seketika.Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan.

9. Wanita suka meluahkan apa yang mereka rasa.Musik,puisi,lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluahkan isi hati mereka.

10.Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.

11.Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.

12.Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh minit,semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.

13.Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.

14.Jika kamu menyukai sorang wanita, mulailah dengan persahabatan.Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.

15.Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.

16.Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.

17.Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!

18.Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.

19.Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.

20.Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya,kemudian barulah dirinya sendiri.

21.Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!

22.Satu ucapan ‘Hi’ saja sudah cukup menceriakan harinya.

23.Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.

24.Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.

25.Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.

26.Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan sepenuh hati..

27.Senjata wanita adalah airmata!!

28.Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis).Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.

29.Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya.So,kalau mau memikat wanita pandai-pandailah..

30. Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.

credit :
http://bajumodelbaru.info/kebaya-kutu-baru/
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has shared content
________ [CERITA MENYENTUH HATI] Ibu, Maafkan Aku…!!! ________

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.

Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.

Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Adaapa nona?” Tanya si pemilik kedai.

“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…

ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”

“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata

“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb.

“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”

Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.

Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

===============================================================

Ibu, Maafkan Aku…!!! (seri-2 Tamat)



Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat

Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya

Reviwer :
modelbajuterbaru2018.net/model-baju-batik-pesta/
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has shared content
" KISAH MENARIK DAN INSPIRATIF DARI SEORANG PREMAN "

Hijrahnya Seorang Preman Terminal

Angkot yang biasa, dan sore yang seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang lain dari biasanya. Begitulah suasana di sore hari setelah dari kampus. Saya yang hendak ke Cijerah pun memilih sebuah mobil colt, angkot berwarna krem-hijau yang ke arah Ciroyom. Angkot Ciroyom-Lembang. Setelah beberapa saat ngetem di pertigaan Setiabudhi-Gegerkalong Girang, angkot pun mulai melaju, pelan. Maklum lah jalannya pelan, belum penuh terisi. Jadi sopir pun hendak cari penumpang.

Keadaan mulai terasa lain saat angkot yang saya tumpangi berpapasan dengan sebuah angkot dari trayek yang sama, angkot Ciroyom-Lembang yang sama-sama menuju ke arah Ciroyom. Salah satu kebiasaan para supir angkot trayek ini adalah menyapa sesama supir angkot Ciroyom-Lembang yang kebetulan berpapasan. Begitu pun yang dilakukan oleh supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini, dia yang seorang pemuda masih ABG pun menyapa supir sesama angkot Ciroyom-Lembang. Tak ada yang menyangka apa yang akan dialami oleh si supir muda ini.

Saya hanya tertegun saat supir di angkot seberang malah marah karena disapa. Tertegun akan sikapnya yang keras dan terkesan seperti orang mengajak duel sesama lelaki. Umurnya memang jauh lebih tua, namun sebenarnya itu bukan alasan untuk duel. Toh supir-supir lain sesama trayek tidak marah saat disapa oleh sesama supir yang jauh lebih muda. Supir angkot seberang malah melontarkan ucapan-ucapan bernada tantangan. Seperti preman yang menantang duel bila dilirik atau dipandang. Saya sendiri menyimpan rasa heran saat melihat orang tersebut melotot pada supir yang angkotnya saya tumpangi ini. Membatin, “Kenapa itu orang?” padahal dari cara berpakaiannya tak memperlihatkan sosok preman. Bahkan dia mengenakan kopiah.

Angkot yang saya tumpangi pun akhirnya melaju lebih dulu meninggalkan angkot yang tadi berpapasan. Ternyata masalahnya tak selesai sampai di situ, bersambung saat angkot yang saya tumpangi berhenti di sebuah tempat di daerah Jalan Pajajaran. Setelah menurunkan penumpang, saya terheran kenapa angkot ini belum juga beranjak jalan, padahal penumpang yang turun pun sudah membayar. Padahal, di pinggir jalan pun tak tampak ada calon penumpang. Baru tersadar saat melihat ke arah belakang mobil. Ada sebuah mobil trayek yang sama berhenti tepat di belakang angkot yang saya tumpangi ini berhenti. Angkot Ciroyom-Lembang yang tadi berpapasan. Lalu, supir angkot yang di belakang itu pun beranjak dari joknya, dan menghampiri supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini.

Secara tiba-tiba, dia melabrak si supir muda. Saya dan beberapa penumpang yang tersisa pun terkejut akan tingkah supir yang datang melabrak itu. Dia berbicara dengan nada kasar dan keras sembari memelototi si supir muda. Sampai pada akhirnya si supir muda mengaku salah, dan minta ampun ketakutan. Kami para penumpang dibuat kelu melihat keadaan ini, tak bisa berkomentar, tak sanggup menolong. Terpana dengan situasi.

Setelah marah-marah dan menerima ‘pengakuan’ dari si supir muda, dia kembali menuju angkotnya, lalu pergi begitu saja menyusul angkot ini yang masih berhenti. Meski begitu, keadaan masih terasa menegangkan. Beberapa penumpang ada yang membicarakan perihal sopir yang marah-marah tadi. Begitu juga dengan si supir muda yang ‘narik’ angkot bersama temannya ini. Si supir mengemudi, sedangkan temannya yang jadi kernet menagih ongkos.
Si supir muda dan temannya ini pun berbicara tentang pak supir yang barusan melabrak. Barulah saya mengerti mengapa pak supir tadi tingkahnya demikian bengis. Kernet angkot bercerita sedikit tentang pak supir tadi. Si kernet ini bercerita bahwa kata orang sekitar terminal Lembang, pak supir tadi dulunya adalah preman di terminal. Seorang preman yang dulunya terkenal di wilayah terminal dan pasar. “Pantes aja, bengis begitu.” Gumam saya dalam hati.

Namun, rasanya ada satu hal yang mengganjal dalam hati. Bila dia benar seorang preman, untuk apa dia susah-susah cari uang dengan cara nyupir angkot? Padahal dengan nodong-nodong di seputar terminal dan pasar pun dia bisa dapat uang tanpa susah dan lelah.

*
Beberapa bulan terlewati setelah peristiwa itu. Saya yang sudah terkadang menyempatkan diri untuk mampir ke kampus di jalan Setiabudhi itu. Sebenarnya bukan mampir, tapi ada keperluan ke perpustakaan. Yah, pulangnya bisa sekalian mampir untuk sejenak bersilaturahim dengan beberapa teman yang masih ngampus. Pulangnya, masih seperti biasa, saya menggunakan angkot Ciroyom-Lembang. Walau pulangnya agak sore, jam setengah enam.

Saya naik sebuah angkot yang agak lain. Biasanya angkot Ciroyom-Lembang itu menggunakan mobil jenis colt, namun yang saya tumpangi ini mobil jenis gran max. Rupanya ada peremajaan kendaraan. Tak masalah mobilnya jenis apa, yang penting saya bisa pulang. Tak peduli siapa saja orang yang ada di dalamnya, yang penting muat untuk duduk.

Beberapa saat kemudian, saat penumpangnya agak penuh, angkot pun mulai jalan. Tak ada yang aneh, tak ada yang lain dalam perjalanan pulang kali ini. Sampai tiba-tiba angkot berhenti di depan Griya Setiabudhi. Aneh, tak ada orang yang pencegat angkot. Lalu, siapa yang mau naik?

Tiba-tiba supir angkot menoleh ke pinggir jalan, memperhatikan seorang bapak yang menggendong anak. Seperti yang merasa kenal atau pernah melihat bapak tersebut, pak supir bertanya pada bapak yang tengah menggendong.

“Bade ka mana Pa?” (Mau ke mana, Pak?) Tanya pak supir.
“Bade ka Tasik.” (Mau ke Tasik) jawab bapak itu.
“Ti mana kitu, Pa?” (Dari mana gitu?)” kembali tanya pak supir.
“Ti Subang.” (Dari Subang)
“Euleuh… Tos we Pa. Ngiring sareng abdi dugi Pajajaran. Engke Bapa naek angkot nu ka Cicaheum.” (Waduh… Sudahlah Pak. Ikut saja saya sampai Pajajaran. Nanti Bapak naik angkot yang ke Cicaheum). Ajak pak supir pada bapak yang di pinggir jalan itu.

Akhirnya sang bapak melepas anaknya dari gendongan di punggung, lalu mengajak si kecil untuk naik angkot. Seperti melepas lelah yang teramat sangat, bapak itu menghela nafasnya cukup panjang. Tak punya uang untuk ongkos, begitu katanya. Kemudian dia memilih untuk berjalan dari Subang menuju Tasik. Dari raut wajahnya, terlalu tampak bahwa dia amat kelelahan. Dapatkah dibayangkan, bagaimana rasanya berjalan dari Subang ke Setiabudhi dengan menggendong seorang anak?

Membayangkan jauhnya perjalanan sang bapak, kami para penumpang merasa iba. Begitu pula dengan pak supir yang rasanya pernah saya kenal. Karena merasa peduli, di sebuah perempatan, pak supir membeli segelas teh kemasan untuk bapak yang kelelahan itu. “Dileueut Pa!” (Diminum Pa!) kata pak supir sembari memberikan minum pada sang bapak. Begitu juga penumpang. Ada beberapa penumpang yang memberikan lembar-lembar uang untuk ongkos pulang bapak itu. Bahkan ada yang memberikan 2 dus nasi bungkus. “Makasih, Bu! Makasih, Pak!” begitulah jawab bapak.

Akhirnya, di Pajajaran, angkot berhenti. Bapak bersama anaknya pun turun untuk sambung angkot yang menuju Cicaheum. Duh, miris sekali apa yang dialami oleh bapak itu. Beruntung ada seorang supir angkot yang peka dengan keadaan sekitar, dan peduli dengan nasib bapak tadi. Syukur lah ada orang yang mau berbaik hati seperti supir angkot ini. Ternyata di dunia ini, masih ada orang sebaik pak supir yang satu ini. Semoga Allah membalas kebaikannya.

“Duh, kasihan ya Pak!” kata seorang ibu yang duduknya persis di belakang pak supir.
“Ya, begitulah. Kita mah beramal aja lah.” jawab pak supir.
“Pak Haji tahu dari mana dia nggak bohong?”
“Ya, kita mah berusaha aja lah. Berbaik sangka.”
“Iya lah, Pak. Betul.”


Begitulah kalimat demi kalimat dengan lembut mengalir dari mulut pak supir meladeni obrolan dari salah seorang penumpang. Begitulah sosok lelaki berpeci hitam yang dipanggil “Pak Haji” oleh ibu penumpang. Sosok yang baru saya saja ingat dia siapa. Sosok yang pernah saya temui beberapa bulan silam pada sebuah peristiwa. Dialah pak supir mantan preman terminal.

Rupanya sosok dia yang saya temui beberapa bulan sebelumnya adalah sosoknya yang baru memulai taubat. Baru taubat saja sedemikian beringasnya, bagaimana dulu sebelum taubat ya? Benar-benar tak terbayang.

Sosoknya yang dulu bengis, kini telah menjadi lembut dan ramah. Beliau yang dulu ditakuti karena tingkah zhalimnya, kini telah menjadi sosok yang dihormati karena kebaikannya. Bahkan seorang penumpang yang asing pun sampai menyapanya dengan sebutan terhormat, “Pak Haji”. Begitulah hijrahnya seorang preman terminal. Seperti kata pepatah, lebih baik jadi mantan bangsat daripada jadi mantan ustadz. Entah, kisah hidup apa yang bisa membuatnya berubah sedemikian rupa hingga sebaik ini? Maha besar Allah yang memberikan berbagai jalan hidayah bagi segala makhluk-Nya.

Credit :
http://bajumodelbaru.info/model-rok-batik-panjang-span-pesta-modern/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
" KISAH MENARIK DAN INSPIRATIF DARI SEORANG PREMAN "

Hijrahnya Seorang Preman Terminal

Angkot yang biasa, dan sore yang seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang lain dari biasanya. Begitulah suasana di sore hari setelah dari kampus. Saya yang hendak ke Cijerah pun memilih sebuah mobil colt, angkot berwarna krem-hijau yang ke arah Ciroyom. Angkot Ciroyom-Lembang. Setelah beberapa saat ngetem di pertigaan Setiabudhi-Gegerkalong Girang, angkot pun mulai melaju, pelan. Maklum lah jalannya pelan, belum penuh terisi. Jadi sopir pun hendak cari penumpang.

Keadaan mulai terasa lain saat angkot yang saya tumpangi berpapasan dengan sebuah angkot dari trayek yang sama, angkot Ciroyom-Lembang yang sama-sama menuju ke arah Ciroyom. Salah satu kebiasaan para supir angkot trayek ini adalah menyapa sesama supir angkot Ciroyom-Lembang yang kebetulan berpapasan. Begitu pun yang dilakukan oleh supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini, dia yang seorang pemuda masih ABG pun menyapa supir sesama angkot Ciroyom-Lembang. Tak ada yang menyangka apa yang akan dialami oleh si supir muda ini.

Saya hanya tertegun saat supir di angkot seberang malah marah karena disapa. Tertegun akan sikapnya yang keras dan terkesan seperti orang mengajak duel sesama lelaki. Umurnya memang jauh lebih tua, namun sebenarnya itu bukan alasan untuk duel. Toh supir-supir lain sesama trayek tidak marah saat disapa oleh sesama supir yang jauh lebih muda. Supir angkot seberang malah melontarkan ucapan-ucapan bernada tantangan. Seperti preman yang menantang duel bila dilirik atau dipandang. Saya sendiri menyimpan rasa heran saat melihat orang tersebut melotot pada supir yang angkotnya saya tumpangi ini. Membatin, “Kenapa itu orang?” padahal dari cara berpakaiannya tak memperlihatkan sosok preman. Bahkan dia mengenakan kopiah.

Angkot yang saya tumpangi pun akhirnya melaju lebih dulu meninggalkan angkot yang tadi berpapasan. Ternyata masalahnya tak selesai sampai di situ, bersambung saat angkot yang saya tumpangi berhenti di sebuah tempat di daerah Jalan Pajajaran. Setelah menurunkan penumpang, saya terheran kenapa angkot ini belum juga beranjak jalan, padahal penumpang yang turun pun sudah membayar. Padahal, di pinggir jalan pun tak tampak ada calon penumpang. Baru tersadar saat melihat ke arah belakang mobil. Ada sebuah mobil trayek yang sama berhenti tepat di belakang angkot yang saya tumpangi ini berhenti. Angkot Ciroyom-Lembang yang tadi berpapasan. Lalu, supir angkot yang di belakang itu pun beranjak dari joknya, dan menghampiri supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini.

Secara tiba-tiba, dia melabrak si supir muda. Saya dan beberapa penumpang yang tersisa pun terkejut akan tingkah supir yang datang melabrak itu. Dia berbicara dengan nada kasar dan keras sembari memelototi si supir muda. Sampai pada akhirnya si supir muda mengaku salah, dan minta ampun ketakutan. Kami para penumpang dibuat kelu melihat keadaan ini, tak bisa berkomentar, tak sanggup menolong. Terpana dengan situasi.

Setelah marah-marah dan menerima ‘pengakuan’ dari si supir muda, dia kembali menuju angkotnya, lalu pergi begitu saja menyusul angkot ini yang masih berhenti. Meski begitu, keadaan masih terasa menegangkan. Beberapa penumpang ada yang membicarakan perihal sopir yang marah-marah tadi. Begitu juga dengan si supir muda yang ‘narik’ angkot bersama temannya ini. Si supir mengemudi, sedangkan temannya yang jadi kernet menagih ongkos.
Si supir muda dan temannya ini pun berbicara tentang pak supir yang barusan melabrak. Barulah saya mengerti mengapa pak supir tadi tingkahnya demikian bengis. Kernet angkot bercerita sedikit tentang pak supir tadi. Si kernet ini bercerita bahwa kata orang sekitar terminal Lembang, pak supir tadi dulunya adalah preman di terminal. Seorang preman yang dulunya terkenal di wilayah terminal dan pasar. “Pantes aja, bengis begitu.” Gumam saya dalam hati.

Namun, rasanya ada satu hal yang mengganjal dalam hati. Bila dia benar seorang preman, untuk apa dia susah-susah cari uang dengan cara nyupir angkot? Padahal dengan nodong-nodong di seputar terminal dan pasar pun dia bisa dapat uang tanpa susah dan lelah.

*
Beberapa bulan terlewati setelah peristiwa itu. Saya yang sudah terkadang menyempatkan diri untuk mampir ke kampus di jalan Setiabudhi itu. Sebenarnya bukan mampir, tapi ada keperluan ke perpustakaan. Yah, pulangnya bisa sekalian mampir untuk sejenak bersilaturahim dengan beberapa teman yang masih ngampus. Pulangnya, masih seperti biasa, saya menggunakan angkot Ciroyom-Lembang. Walau pulangnya agak sore, jam setengah enam.

Saya naik sebuah angkot yang agak lain. Biasanya angkot Ciroyom-Lembang itu menggunakan mobil jenis colt, namun yang saya tumpangi ini mobil jenis gran max. Rupanya ada peremajaan kendaraan. Tak masalah mobilnya jenis apa, yang penting saya bisa pulang. Tak peduli siapa saja orang yang ada di dalamnya, yang penting muat untuk duduk.

Beberapa saat kemudian, saat penumpangnya agak penuh, angkot pun mulai jalan. Tak ada yang aneh, tak ada yang lain dalam perjalanan pulang kali ini. Sampai tiba-tiba angkot berhenti di depan Griya Setiabudhi. Aneh, tak ada orang yang pencegat angkot. Lalu, siapa yang mau naik?

Tiba-tiba supir angkot menoleh ke pinggir jalan, memperhatikan seorang bapak yang menggendong anak. Seperti yang merasa kenal atau pernah melihat bapak tersebut, pak supir bertanya pada bapak yang tengah menggendong.

“Bade ka mana Pa?” (Mau ke mana, Pak?) Tanya pak supir.
“Bade ka Tasik.” (Mau ke Tasik) jawab bapak itu.
“Ti mana kitu, Pa?” (Dari mana gitu?)” kembali tanya pak supir.
“Ti Subang.” (Dari Subang)
“Euleuh… Tos we Pa. Ngiring sareng abdi dugi Pajajaran. Engke Bapa naek angkot nu ka Cicaheum.” (Waduh… Sudahlah Pak. Ikut saja saya sampai Pajajaran. Nanti Bapak naik angkot yang ke Cicaheum). Ajak pak supir pada bapak yang di pinggir jalan itu.

Akhirnya sang bapak melepas anaknya dari gendongan di punggung, lalu mengajak si kecil untuk naik angkot. Seperti melepas lelah yang teramat sangat, bapak itu menghela nafasnya cukup panjang. Tak punya uang untuk ongkos, begitu katanya. Kemudian dia memilih untuk berjalan dari Subang menuju Tasik. Dari raut wajahnya, terlalu tampak bahwa dia amat kelelahan. Dapatkah dibayangkan, bagaimana rasanya berjalan dari Subang ke Setiabudhi dengan menggendong seorang anak?

Membayangkan jauhnya perjalanan sang bapak, kami para penumpang merasa iba. Begitu pula dengan pak supir yang rasanya pernah saya kenal. Karena merasa peduli, di sebuah perempatan, pak supir membeli segelas teh kemasan untuk bapak yang kelelahan itu. “Dileueut Pa!” (Diminum Pa!) kata pak supir sembari memberikan minum pada sang bapak. Begitu juga penumpang. Ada beberapa penumpang yang memberikan lembar-lembar uang untuk ongkos pulang bapak itu. Bahkan ada yang memberikan 2 dus nasi bungkus. “Makasih, Bu! Makasih, Pak!” begitulah jawab bapak.

Akhirnya, di Pajajaran, angkot berhenti. Bapak bersama anaknya pun turun untuk sambung angkot yang menuju Cicaheum. Duh, miris sekali apa yang dialami oleh bapak itu. Beruntung ada seorang supir angkot yang peka dengan keadaan sekitar, dan peduli dengan nasib bapak tadi. Syukur lah ada orang yang mau berbaik hati seperti supir angkot ini. Ternyata di dunia ini, masih ada orang sebaik pak supir yang satu ini. Semoga Allah membalas kebaikannya.

“Duh, kasihan ya Pak!” kata seorang ibu yang duduknya persis di belakang pak supir.
“Ya, begitulah. Kita mah beramal aja lah.” jawab pak supir.
“Pak Haji tahu dari mana dia nggak bohong?”
“Ya, kita mah berusaha aja lah. Berbaik sangka.”
“Iya lah, Pak. Betul.”


Begitulah kalimat demi kalimat dengan lembut mengalir dari mulut pak supir meladeni obrolan dari salah seorang penumpang. Begitulah sosok lelaki berpeci hitam yang dipanggil “Pak Haji” oleh ibu penumpang. Sosok yang baru saya saja ingat dia siapa. Sosok yang pernah saya temui beberapa bulan silam pada sebuah peristiwa. Dialah pak supir mantan preman terminal.

Rupanya sosok dia yang saya temui beberapa bulan sebelumnya adalah sosoknya yang baru memulai taubat. Baru taubat saja sedemikian beringasnya, bagaimana dulu sebelum taubat ya? Benar-benar tak terbayang.

Sosoknya yang dulu bengis, kini telah menjadi lembut dan ramah. Beliau yang dulu ditakuti karena tingkah zhalimnya, kini telah menjadi sosok yang dihormati karena kebaikannya. Bahkan seorang penumpang yang asing pun sampai menyapanya dengan sebutan terhormat, “Pak Haji”. Begitulah hijrahnya seorang preman terminal. Seperti kata pepatah, lebih baik jadi mantan bangsat daripada jadi mantan ustadz. Entah, kisah hidup apa yang bisa membuatnya berubah sedemikian rupa hingga sebaik ini? Maha besar Allah yang memberikan berbagai jalan hidayah bagi segala makhluk-Nya.

Credit :
http://bajumodelbaru.info/model-rok-batik-panjang-span-pesta-modern/
Photo

Post has attachment

Post has attachment
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded