Profile cover photo
Profile photo
Mutiara Shihab
32 followers -
Hidupkanlah aku dalam cahaya ilmu Mu dan matikanlah aku dalam khusnul khotimah.
Hidupkanlah aku dalam cahaya ilmu Mu dan matikanlah aku dalam khusnul khotimah.

32 followers
About
Posts

Post has attachment
Kebenaran Pasti Menang

"Kebenaran pasti akan menang meski hanya sedikit pengikutnya. Kebatilan pasti akan terkalahkan walaupun banyak yang mengikuti."

~ Syeikh Muhammad bin Sholeh dalam Syarh al Kafiyah asy Syafiyah I/178 ~
Photo

Post has attachment
Alhamdulillah Mereka Ada

"Seandainya tidak ada orang-orang shalih, sungguh bumi akan rusak. Seandainya tidak ada ulama, sungguh manusia tak ubahnya seperti binatang. Seandainya tidak ada pemimpin, sungguh manusia akan saling 'memangsa' satu dengan yang lain."

~ Hasan al-Bashri rahimahullah ~
Photo

Post has attachment
Korelasi antara Doa dan Takdir (Bagian 4)

Orang faqih atau berilmu yang sesungguhnya adalah orang yang menolak, menampik, dan melawan takdir dengan takdir pula. Menjalankan takdir (sebab) doa untuk mendapatkan takdir (akibat) pengabulan dari Allah.

Selanjutnya: http://www.indosite.asia/korelasi-antara-doa-dan-takdir-bagian-4
Photo

Post has attachment
Korelasi antara Doa dan Takdir (Bagian 3)

Allah subhanahu wa ta'ala mengaitkan terjadinya kebaikan dan keburukan di dunia dan di akhirat dalam kitab-Nya dengan amal perbuatan, sebagaimana keterkaitan antara balasan dengan syarat, kejadian dengan alasan, dan akibat dengan sebab.

Selanjutnya: http://www.indosite.asia/korelasi-antara-doa-dan-takdir-bagian-3
Photo

Post has attachment
Korelasi antara Doa dan Takdir (Bagian 2)

Doa merupakan salah satu faktor penyebab yang paling kuat. Apabila apa yang diminta dalam doa ditakdirkan terjadi dengan sebab doa tersebut, maka tidak benar jika dikatakan bahwa doa itu tidak ada faedahnya.

Selanjutnya: http://www.indosite.asia/korelasi-antara-doa-dan-takdir-bagian-2
Photo

Post has attachment
Korelasi antara Doa dan Takdir (Bagian 1)

Ada pertanyaan yang cukup populer: "Jika perkara yang diminta oleh seorang hamba itu memang telah ditakdirkan, niscaya hal itu sudah pasti akan terjadi, baik ia berdoa ataupun tidak." Benarkah demikian?

Selanjutnya: http://www.indosite.asia/korelasi-antara-doa-dan-takdir-bagian-1
Photo

Post has attachment
Doa Laksana Senjata

Doa dan ta'awwudz (memohon perlindungan-Nya dari sesuatu) memiliki kedudukan seperti layaknya senjata. Kehebatan suatu senjata sangat bergantung pada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya.

Selanjutnya: http://www.indosite.asia/doa-laksana-senjata
Photo

Tauhid Kunci Ampunan

Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa-dosa lain di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ اَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايًا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَاتُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Ad-Da’awat [3540], dihasankan olehnya dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut :

- Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya, maka dia pasti masuk neraka.
- Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil, sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.
- Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan atau dosanya justru lebih berat dalam timbangan, maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal disana. (lihat Al-Jadid fi Syarh Kitab At-Tauhid, hal. 44)

Semua Amalan Tergantung pada Niatnya

Hati adalah kunci utama amalan kita, dan niat adalah ruh penggerak jasad kita. Kita hanya akan mendapat pahala ketika kita niatkan amalan itu karena Alloh, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam:

عن سعد بن أبي وقاص قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن يؤجر في كل شيء،[1] حتى في اللقمة يرفعها إلى في امرأته. (رواه أحمد وغيره وقال الأرناؤوط إسناده حسن)ـ

Seorang mukmin bisa mendapat pahala dari segala sesuatu (dengan niat yg baik), hingga suapan yang ia masukkan ke mulut istrinya. (HR. Ahmad dan yang lainnya, dihasankan oleh Al-Arna’uth)

Dengan niat yang baik, amalan yang sederhana bisa menghasilkan pahala yang agung. Tidak asing bagi kita, kenapa sahabat Abu Bakar mengungguli sahabat-sahabat yang lainnya? Seorang tabi’in, Bakr ibnu Abdillah al-Muzaniy mengatakan:

إن أبا بكر رضي الله عنه لم يفضل الناس بكثرة صلاة، إنما فضلكم بشيء كان في قلبه (صحيح موقوف على بكر بن عبد الله المزني)ـ

Sungguh! tidaklah Abu Bakar itu mengungguli orang-orang dengan banyaknya amalan sholatnya, tapi beliau mengungguli kalian itu dengan apa yang ada di hatinya.

Sebaliknya karena niat yang salah, amalan yang besar sekalipun, bisa jadi hanya seperti debu yang beterbangan. sebagaimana firman Alloh swt:

وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا

(Ingatlah pada hari kiamat nanti) akan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.

Dosa Besar : Durhaka Kepada Orang Tua

Durhaka kepada kedua orang tua diposisikan sebagai dosa besar setelah syirik. Yang demikian itu karena perintah untuk berbuat baik kepada orang tua sering diiringkan dan diletakkan setelah perintah untuk beribadah dan mengesakan ibadahnya tersebut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan besarnya hak orang tua untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari anak-anaknya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya) :

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua …” (An Nisa’: 36)

Durhaka kepada kedua orang tua apapun bentuknya merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ …..

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu (yakni orang tua), …” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Ketika kedua orang tua sudah lanjut usia dan lemah, mestinya mereka mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sungguh-sungguh dari anak-anaknya. Tetapi apa yang terjadi di masyarakat kita justru sebaliknya, mereka menitipkan orang tuanya di panti jompo atau yang semisalnya. Sungguh ini merupakan salah satu bentuk kedurhakaan anak kepada orang tuanya.

Masih banyak lagi contoh sikap durhaka anak kepada orang tuanya. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita berusaha mengamalkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla untuk berbuat baik kepada orang tua kita dan menunaikan hak-hak mereka sebagaimana yang dituntunkan oleh syari’at Islam yang mulia ini.
Wait while more posts are being loaded