Profile cover photo
Profile photo
Jati Susilowati
21 followers -
Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti
Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti

21 followers
About
Posts

Post has shared content

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Tips Agar Anak Pintar
Tips Agar Anak Pintar
pondokjeruk.com
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has shared content
GUSTI ALLAH TIDAK NDESO

Suatu Kali Emha Ainun Najib Ditodong Dengan Pertanyaan Beruntun..
"Cak Nun" Kata Sang Penanya, Misalnya Pada Waktu Yang Bersamaan Tiba" Sampeyan Menghadapi 3 Pilihan, Yang Harus Dipilih Salah Satu :
- Pergi Kemasjid Untuk Sholat Jum'at
- Mengantar Pacar Berenang
- Atau Mengantar Tukang Becak Miskin Kerumah Sakit Akibat Tabrak Lari.
Mana Yang Sampeyan Pilih ??
Cak Nun Menjawab Lantang.. "Ya Nolong Orang Kecelakaan"
Tapi Sampeyan Dosa Karena Tidak Sembahyang ..? Kejar Sipenanya ..
Ah, Mosok Allah " Ndeso " Gitu, Jawab Cak Nun.
"Kalau Saya Memilih Sholat Jum'at, Itu Namanya Mau Masuk Syurga Tidak Ngajak Ngajak" (Katanya Lagi)
"Dan Lagi Belum Tentu Tuhan Memasukkan Kesyurga Orang Yang Memperlakukan Sembahyang Sebagai Kredit Poin Pribadi"
Bagi Kita Yang Menjumpai Orang Yang Sa'at Itu Juga Harus Ditolong, Tuhan Tidak Berada Dimasjid, Melainkan Pada Diri Orang Yang Kecelakaan Itu.
Kata Tuhan : "Kalau Engkau Menolong Orang Sakit, AKU Lah Yang Sakit Itu.
Kalau Engkau Menegur Orang Yang Kesepian, AKU Lah Yang Kesepian Itu.
Kalau Memberi Makan Orang Kelaparan, AKU Lah Yang Kelaparan Itu.
Kriteria Keshalehan Seseorang Tidak Hanya Diukur Lewat Sholatnya.
(Sholat Memang Wajib, Tapi Hanya Untuk Allah)
Tidak Dipamerkan Kepada Orang Lain
Tolak Ukur Kesalehan Hakekatnya Adalah Output Sosialnya :
Kasih Sayang Sosial, Sikap Demokratis, Cinta Kasih, Kemesraan Dengan Orang Lain, Memberi, Membantu Sesama.
Idealnya Orang Beragama Itu Seharusnya Memang Mesti Sholat, Ikut Misa, Atau Ikut Kebaktian, Tetapi Juga Tidak Korupsi Dan Memiliki Perilaku Yang Santun Dan Berkasih Sayang.
#Agama_Adalah_Akhlak
#Agama_Adalah_Perilaku
#Agama_Adalah_Sikap
Agama Mengajarkan Pada Kesantunan, Belas Kasih Dan Cinta Kasih Sesama ..
Bila Kita Cuma Puasa, Sholat, Baca Al Qur'an, Pergi Kekebaktian, Ikut Misa, Datang KePura.
Menurut Saya, Kita Belum Layak Disebut Orang Yang Beragama .. Tetapi Bila Sa'at Bersamaan Kita Tidak Mencuri, Menyantuni Fakir Miskin, Memberi Makan Anak" Terlantar, Hidup Bersih. ( "Maka Itulah Orang Yang Beragama" )
Ukuran KeberAgamaan Seseorang Sesungguhnya Bukan Hanya Dari Kesalehan Personalnya, Melainkan Juga Kesalehan Sosial.
Orang Beragama Adalah Orang Yang Bisa Menggembirakan Tetangganya,
Orang Beragama Ialah Orang Yang Menghormati Orang Lain, ( (Meski Beda Agama)
Orang Yang Punya Solidaritas Dan Keprihatinan Sosial Pada Kaum Tertindas, Juga Tidak Korupsi Dan Tidak Mengambil Yang Bukan Haknya. Karena Itu Orang Beragama Mestinya Memunculkan Sikap Dan Jiwa Sosial Tinggi, Bukan Orang" Yang Meratakan Dahinya Kelantai Masjid.
Sementara Beberapa Meter Darinya Orang" Miskin Meronta Kelaparan ...

(Emha Ainun Najib)
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Renungan untuk para orang tua.
mungkin kisah ini udah pernah kita baca...tp ini sbg renungan buat para orang tua...
semoga bermanfaat

“Goblok kamu ya…” kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis.

Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali-kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus, terus. Doni menangis “Ampun, ayah.. ampun ayah..” katanya dengan suara terisak-isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik-adikmu, mereka semua pintar-pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol, mau jadi apa kamu nanti ? Mau jadi beban adik-adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah-engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikursi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu" Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki-maki dan dimarahi didepan adik-adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok yg rajin ya belajarnya”.

“Doni sudah belajar sungguh-sungguh bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar.“

“Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda“

Malamnya, adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas. Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. "Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup-sayup. Suamiku hanya menghela nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian, ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak-anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yg baik dan gizi yg baik pula. Makanya mereka disekolah pintar-pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yg cukup dan lingkungan yg baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak-anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja“ Kata suamiku berkali-kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil“. Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.

“Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren“

“Biar dia bisa dididik dengan benar”

“Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“Ini sudah keputusanku, Titik."

“tapi kenapa, Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya. Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra-putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik-adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkin itu alasannya. Bagaimanapun, bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “Doni engga mau jauh-jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “Kamu ini laki-laki. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren“.

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Kuperhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik-adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan memelukku. Beda sekali dengan adik-adiknya yg serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasah Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya“ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak dihabiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemo'ohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman-temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “Doni tidak mencuri, Bunda. Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman-temannya terbebas dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan-kawan nya yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku ”Bunda, Ma'afkan Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni“ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu persatu. Dia peluk mereka “Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.

“Mas, Dimana Doni akan tinggal“ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri".


Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah-pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak-kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni, aku tahu dia baik-baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam.“


Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi. Dan puncaknya, adalah ketika Polisi menjemput suamiku dirumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping-keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus kuliah karena malu dengan teman-temannya. Rini juga sama tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak-anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah.“ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama-sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus, beda sekali dengan gaya ayahnya.

“Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yg lebih hebat, yg menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah“.

“Apa yg sedang menimpa keluarga kita sekarang bukanlah azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua, karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Kita harus sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih.“

Seusai Doni berbicara, aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar, dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tenteram.

Mahasuci Allah, terimakasih ...
Saat suamiku keluar dari hotel prodeo, Doni yg menjemput nya di depan pintu didampingi oleh kedua adiknya... aku melihat dari kejauhan... Doni langsung salim mencium tangan ayahnya kemudian mrk berdua berpelukan erat... Suamiku memandang cukup lama ke arah muka Doni... pasti kangen suamiku dengan anak sulung nya .... tidak terasa air mataku mengalir melihat moment yg indah itu... sejak kecil Doni selalu merindukan pelukan ayahnya namun tidak pernah dia dapatkan.... hanya adik-adiknya yg dapat pelukan ayahnya krn prestasi sekolahnya lebih baik.. beda dgn Doni justru pukulan yg dia terima....

☺_Bila kita berjalan menuju Allah... Allah berlari menjemput kita. Allahu Akbar. Dekatlah & bersujudlah kpd NYA yg sangat menyayangi hambanya

Semoga bermanfaat
Photo
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded