Profile cover photo
Profile photo
Mat Kasdut
12 followers
12 followers
About
Mat's posts

Post has shared content
Entahlah, ini SOAL CINTA DAN SAYANG : INDONESIA tanpa terapan Ideologi Negara yang sesuai dengan realitasnya di lapangan, semua tatanan NEGARA disegala sektornya akan SEMAKIN berantakan dan carut marut.. Polisi atau tentara, mereka hanya bergerak mengikuti perintah atasannya. Selebihnya, mereka juga adalah rakyat Indonesia yang hancur seluruh tatanan aseli dasar-dasar negaranya. Hukum membela yang bayar? 
Apa mau dikata, saat presiden kedua memasukkan raksasa investasi dunia, yang berarti memasukkan Neo Kapitalisme ke dalam Indonesia, rentetan presiden sesudahnya sampai detik ini tak ada yang mampu 'merubah kebijakan' tersebut, maka nilai yang benar jadi gak nyambung, nilai yang salah jadi benar. NEGARA mengaku Anti Kapitalisme, namun nyatanya Investasi swasta memonopoli segala sektor kehidupan rakyat. 
Rusaklah semua tatanan, saat rakyat ikut-ikutan. Guru kencing berdiri, rakyat kencing berlari.. Rakyat tanpa kekuasaan jelas-jelas jadi korbannya.. Siapa yang mau peduli saat liberalisasi ekonomi lebih berarti 'cari sejahtera sendiri-sendiri'? 
Topeng Visi dan Misi bagi Capres sesudahnya, lebih bertujuan meneruskan kenyataan yang ada dari presiden sebelumnya, karena terlanjur Perjanjian kerjasama Kolusi antar pemegang kekuasaan di semua sektor dengan Neo Kapitalisme tidak mungkin dibatalkan, selain hanya harus diteruskan? 
Rakyat Indonesia, MENYANGKUT MELENCENGNYA terapan Ideologi negara, mari kita tuntut baik-baik Penguasa Negara agar mau mentransformasikan IDEOLOGI NEGARA sesuai dengan realitasnya dilapangan. Sila simak Jalan keluarnya di http://matkasdut.blogspot.com/ Rectoverso Ind.
Nih kemaren yg mereka karang kampanyenya jokower padahal nih aslinya di monas lagi ada car free day, sama jakarta karnaval hut dki, trus kok ga ada spanduk ?

Jelaslah wong mereka lagi liburan dan ga niat kampanye, metro sama pdip aja goreng jd kayak kampanye :P

#justShare
Tabok +Iyang alfaroeq +veyz el muhammad +Ny Amar Ma'ruf +Muhammad MuaMmar 
Photo

Post has shared content
Entahlah, mas, ini SOAL CINTA DAN SAYANG : INDONESIA tanpa terapan Ideologi Negara yang sesuai dengan realitasnya di lapangan, semua tatanan NEGARA disegala sektornya akan SEMAKIN berantakan dan carut marut.. Polisi atau tentara, mereka hanya bergerak mengikuti perintah atasannya. Selebihnya, mereka juga adalah rakyat Indonesia yang hancur seluruh tatanan aseli dasar-dasar negaranya. Hukum membela yang bayar? 
Apa mau dikata, saat presiden kedua memasukkan raksasa investasi dunia, yang berarti memasukkan Neo Kapitalisme ke dalam Indonesia, rentetan presiden sesudahnya sampai detik ini tak ada yang mampu 'merubah kebijakan' tersebut, maka nilai yang benar jadi gak nyambung, nilai yang salah jadi benar. NEGARA mengaku Anti Kapitalisme, namun nyatanya Investasi swasta memonopoli segala sektor kehidupan rakyat. 
Rusaklah semua tatanan, saat rakyat ikut-ikutan. Guru kencing berdiri, rakyat kencing berlari.. Rakyat tanpa kekuasaan jelas-jelas jadi korbannya.. Siapa yang mau peduli saat liberalisasi ekonomi lebih berarti 'cari sejahtera sendiri-sendiri'? 
Topeng Visi dan Misi bagi Capres sesudahnya, lebih bertujuan meneruskan kenyataan yang ada dari presiden sebelumnya, karena terlanjur Perjanjian kerjasama Kolusi antar pemegang kekuasaan di semua sektor dengan Neo Kapitalisme tidak mungkin dibatalkan, selain hanya harus diteruskan? 
Rakyat Indonesia, MENYANGKUT MELENCENGNYA terapan Ideologi negara, mari kita tuntut baik-baik Penguasa Negara agar mau mentransformasikan IDEOLOGI NEGARA sesuai dengan realitasnya dilapangan. Sila simak Jalan keluarnya di http://matkasdut.blogspot.com/ Rectoverso Ind.
Orang waras pasti golput 2014
Photo

Post has attachment
Entahlah, ini SOAL CINTA DAN SAYANG :

INDONESIA tanpa terapan Ideologi Negara yang sesuai dengan realitasnya di lapangan, semua tatanan NEGARA disegala sektornya akan SEMAKIN berantakan dan carut marut.. Polisi atau tentara, mereka hanya bergerak mengikuti perintah atasannya. Selebihnya, mereka juga adalah rakyat Indonesia yang hancur seluruh tatanan aseli dasar-dasar negaranya. Hukum membela yang bayar? 

Apa mau dikata, saat presiden kedua memasukkan raksasa investasi dunia, yang berarti memasukkan Neo Kapitalisme ke dalam Indonesia, rentetan presiden sesudahnya sampai detik ini tak ada yang mampu 'merubah kebijakan' tersebut, maka nilai yang benar jadi gak nyambung, nilai yang salah jadi benar.

NEGARA yang mengaku Anti Kapitalisme, namun nyatanya Investasi swasta memonopoli segala sektor kehidupan rakyat. 

Rusaklah kultur aseli, rusak dong semua tatanan, saat rakyat ikut-ikutan. Guru kencing berdiri, rakyat kencing berlari.. Rakyat tanpa kekuasaan jelas-jelas jadi korbannya.. Siapa yang mau peduli saat liberalisasi ekonomi lebih berarti 'cari sejahtera sendiri-sendiri'? 

Topeng Visi dan Misi bagi Capres sesudahnya, lebih bertujuan meneruskan kenyataan yang ada dari presiden sebelumnya, karena terlanjur Perjanjian kerjasama Kolusi antar pemegang kekuasaan di semua sektor dengan Neo Kapitalisme tidak mungkin dibatalkan, selain hanya harus diteruskan? 

Rakyat Indonesia, MENYANGKUT MELENCENGNYA terapan Ideologi negara, mari kita tuntut baik-baik Penguasa Negara agar mau mentransformasikan IDEOLOGI NEGARA sesuai dengan realitasnya dilapangan. Sila simak Jalan keluarnya di http://matkasdut.blogspot.com/ Rectoverso Indonesia.

Post has attachment
idzin share yaaa: Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    ***
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya  
(Satyawira Wicaksana)
 

Post has attachment
idzin share yaaa: Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    ***
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya  
(Satyawira Wicaksana)
 

idzin share yaaa : Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    ***
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya  
(Satyawira Wicaksana)
 

Post has attachment
idzin share Gan .. ada pemikiran seperti ini dari seorang kawan.. bagaimana menurutmu, sahabat? 
; Mau tak mau dalam Potret (Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu)
16 Februari 2014 pukul 3:43
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..
 
Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah. Karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Terlanjur berbagai kepentingan kemenangan instan antar masing pribadi demi rejeki masing keluarga, terlanjur tumpang tindih kini.
 
Kolusi, itu jika dilakukan diam-diam.
Koalisi, jika itu dilakukan dimuka umum dan gamblang.
Keduanya sama saja : demi kepentingan siapa?
Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit.
 
Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas cipratan berkahnya juga dari carut marutnya keadaan di saat ini.
 
Baiklah, begini,..
 
Dahulu :
 
Untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 
 
Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, yang memang diharuskan menguasai taktik strategi tempur, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki , walau hanya/oleh sisitemnya (kapitalisme industri barat) saja, yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyat secara rata-rata. Nasionalisme Indonesia tak lain hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi massa. Terangkai nyata kini dengan invasi sistem investasi Kapitalisisme Industri Barat yang berjurus eksploitasi dan egoist.
 
Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, tapi kurikulum ilmu Ekonomi nya, adalah murni produk Barat yang diterapkan, tanpa adaptasi terlebih dulu dengan kultur aseli masyarakat negeri ini, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini. Memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, mudah membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, serta rangkaian Pemuka Religius rajin pula menghembuskan siraman rohani untuk rakyat tetap sabar dan ikhlas, namun negara pengeksport tenaga manusia ini nyatanya, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya.
 
Paradigma dan harkat rakyat sebagai warga dunia .. oh, betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini. Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan semakin lucu.
 
Laksana para penjudi, semua rakyat, tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "Mudah2an, Insyallah, Semoga esok akan lebih baik dari hari ini dengan hadirnya pemimpin baru" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua..
 
Aaaah..!!
 
Detik ini.
Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya.
 
Tanpa sengaja perhatian rakyat ter-giring pada kasus2 Koruptor.. seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di tanah negeri ini tersebab oleh Koruptor.
 
Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan dan bersekutu. Agar dapat juga jadi Swasta secara instan, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 itu muncul dari satu sebab yang sama : ideologi negara yang terbiarkan melenceng sekian lama .. karena Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. Merusak banyak hal dalam tatanan aseli kultur masyarakat negeri ini .. Ideologi negara tanpa mampu lagi membela Harkat RAKYAT ..
 
Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Bantuan-bantuan dana instan, sungguh cuma derma yang tidak membuat rakyat kuat secara keseluruhan. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama-sama mengkritik penguasa negeri ini untuk mau membela harkat rakyat, dari sebuah satu kesatuan negara, yang ideologi negaranya, mau tak mau harus pula bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebelum acara Pilpres 2014. Demi adanya realitas kesesuaian dengan fakta di tanah negeri ini.
 
Kapitalisme Pancasila berbeda dengan Kapitalisme Barat, tentu saja. Tidak bersifat Liberalistik pada setiap individunya, tetapi mengedepankan pemberdayaan kualitas kemandirian pada lingkup kebersamaan masyarakatnya dalam menghadapi era Pasar Bebas Dunia sekarang ini, dengan di dukung ideologi negara kita yang bertransformasi menjadi Kapitalisme Pancasila. Agar Harkat Rakyat sebagai sebuah Bangsa dapat kuat terdukung ideologi negaranya, mandiri dan utuh, dapat saling menjaga: satu kesatuan, dalam invasi Peleburan iklim Dagang Global.
 
Jika tidak bertransformasi, tetap seperti iklim sekarang ini, maka resiko hilangnya dominasi kekuasaan dan kedaulatan negara Indonesia di dalam peleburan dagang global tadi akan semakin jelas !
 
Jika tidak, penguasa negara akan semakin lama berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain 'monopoli kapitalisme barat' di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha belaka..
 
Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' di detik ini ..
 
Aaaah !!..
 
**    ***
 
( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)
 
Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 
 
 
 
tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,
buat anak cucu keturunan di esok hari .. 
 
Sumber nalar :  http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html
                         http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html
 
 
*
terinspirasi film Indonesia apik, ..
 
-Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ -Tanah Surga, katanya.  
info : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Surga..._Katanya  
(Satyawira Wicaksana)
 

Post has attachment
Saudaraku sebangsa dan setanah-air, ..


Berjanjilah utk tidak berkeras mencari siapa benar, siapa salah, karena itu akan membuat kita berjalan tetap ditempat secara budaya dalam bernegara. Semua sudah terlanjur. Dan sebagai Harkat Negara kesatuan, kita harus bangkit. Toh sisi baiknya, kita masih dapat mengucap rasa syukur atas berkahnya juga di saat ini.

Baiklah, begini, 


Dahulu, ..
Utk mengurangi jumlah angka pengangguran dan mengentaskan angka kemiskinan di Indonesia, presiden kedua berpuluh tahun lalu, mempersilakan korporasi raksasa investasi swasta selebar jagad masuk ke negeri ini. 


Terus terakumulasi presiden demi presiden berikut sesudah beliau lengser, tak ada yang sanggup atau berani, satu pun merevisi kebijakan tersebut. Seorang Jenderal, pasti paham, bahwa harkat manusia di negara yang terlanjur diduduki oleh sisitem (kapitalisme) yang bertolak belakang dengan irama sistem aselinya (berideologi Kerakyatan), akan menyebabkan rendah harkat rakyatnya secara rata-rata. Nasionalisme hanya digunakan demi mudahnya mobilisasi. Terangkai nyata dengan sistem invesvasi Kapitalis yang berjurus eksploitasi dan egoist.
Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti.

(Kesaktian maupun Kekuasaan yang kuat akan kalah dengan Doa Kesentosaan.) Jika dimasukan BERSAMA ke dalam satu wadah yang bernama negara, ideologi kapitalisme swasta akan menang menghadapi azas dasar Kerakyatan/Kesaktian Pancasila.. Merusak segala tatanan aseli dari idealnya sebuah negara republik Indonesia. Para Jenderal tentu paham akan akibat hal tersebut sesuai taktik strategi tempur Medan Perang. Saat keterlanjuran ini telah terjadi, tak ada guna lagi saling menyalahkan, karena Penguasa dan rakyatnya rata-rata jadi serupa dan persis. Rakyat rata-rata terdidik iklim yang sedemikian rupa, menjelma pion-pion pertahanan dalam percaturan politik "kemenangan maksud pribadi" yang tertata rapi. (Namun bagaimanakah nasib anak cucu keturunan kita nanti di masa depan? Sebagai masyarakat yang akan kehilangan negerinya.. Terasing dan terkucilkan.. Contoh bangsa serupa itu sudah ada dan tak perlu terulang.)

     
Well,

Penerapan mutu kurikulum pendidikan yang jauh dari standar negara maju, terestafet dengan bermacam langkah improvisasi, sejak era presiden kedua dan terus terakumulasi sampai detik ini, memunculkan standar generasi yang jelas terbaca, utk mau tak mau, membebek melekatkan harapan sejahteranya pada laju keuntungan korporasi raksasa investasi swasta dunia dan domestik. Negara yang dulu gemah ripah loh jinawi dan kaya sumber daya alam ini, sementara, generasi para Jenderal Negara rajin meniupkan romantisme NKRI harga mati, rangkaian pemuka religius rajin pula menghembuskan siraman rohani, namun negara pengeksport tenaga manusia ini, tanpa swasembada apa-apa. Rakyat tanpa kekuasaan terhisap harga tenaganya. Paradigma dan harkatnya sebagai warga dunia .. Betapa .. negeri tetangga dan manca negara diam-diam mentertawakan kenyataan professor dan bayi disini, Jenderal dan pemuka agama, sama saja, tidak berdaya dalam satu lingkaran iklim demi kondusifnya suatu negara yang terbiarkan sedemikian lama dan lucu. Laksana para penjudi yang tak kunjung jera, tak bosan bertopeng kata "mudah2an, semoga esok akan lebih baik dari hari ini" meski kenyataan di sekeliling tanah negeri : sudah tergadai semua.

Detik ini. Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila. Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya. Sengaja pula perhatian rakyat di giring pada kasus2 Koruptor seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di negeri ini tersebab oleh mereka.

Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan. Agar dapat juga jadi Swasta, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi lucu, rakyat yg marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 muncul dari satu sebab yang sama : Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan. 

Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama mengkritik penguasa negeri ini utk mau membela harkat rakyat sebagai sebuah negara yg ideologinya mau tak mau pula harus bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila.

Sebab jika tidak, penguasa negara berkolusi dengan korporasi raksasa swasta bermain monopoli kapitalisme di atas semua kebutuhan rakyat, sementara rakyat harkat nya tetap pelayan yang berazas dasar Kerakyatan sejak berpuluh tahun yang lalu, hingga tersengaja terbentuk kualitas rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, perlu adanya tokoh atau sosok sebagai "penggembala bebek" utk menggerakkannya, dan penyuka tontonan komedi hahahaha ..


Menerima tanpa sengketa istilah 'hukum membela yang bayar' ..


** ***


( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)

Apa mau di kata, sambil menikmati produk jajanan berstandar DepKes (bukan hasil uji Lab tapi berdasar "wani piro?") serta jajanan lokal yang memakai bahan kimia pakaian sebab mahal harga bahan baku aseli di tangan swasta, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat tiba-tiba menggoda mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan .. 





tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,


buat anak cucu keturunan di esok hari .. 

*********


Baca juga, ..
http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/galang.html

http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rakyat-indonesia-bukan-rakyat-yang-bodoh.html

http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/gatot-kaca.html


*

note:
..sungguh, saya terinspirasi film apik :


Rectoverso.
(Cinta yang tak terucap)
info : http://danieldokter.wordpress.com/2013/02/17/review-rectoverso-2013/ 

Post has attachment

Post has attachment
Saat keterlanjuran itu sudah terakumulasi dan membudaya, dan selama negeri ini belum mengganti atau bertransformasi ideologi negaranya jadi Kapitalisme Pancasila, sebagai satu-satunya jalan penyesuaian atas realitas ditanah negerinya, yang semua sektor kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, maka, berapa kali mengganti presiden dengan manusia setengah dewa sekalipun, akan tetap beriklim politik sama seperti detik ini.. berjurus eksploitasi dan egois, aneka tragedi kemanusiaan sebagai efek domino dari rusaknya paradigma dan rendahnya harkat rakyat rata-rata, akan terus terjadi. Dengan kata lain, (Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti.

Kesaktian maupun kekuasaan yang kuat akan kalah dengan doa kesentosaan.).. jika dimasukan ke dalam satu wadah yang bernama negara, ideologi kapitalisme swasta akan menang menghadapi azas dasar Kerakyatan/Kesaktian Pancasila..

"begitu, kangmas, Prabu?"

(Satyawira Wicaksana)

http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/mau-tak-mau-serupa-dan-persis.html
Wait while more posts are being loaded