Profile cover photo
Profile photo
Blogger Geboy
About
Blogger's posts

Post has shared content
Kumpulan Pusisi Kecewa Karena Di Khianati Seseorang, Sedih Banget..!!
Kumpulan puisi kecewa | Setiap orang pasti pernah merasakan sebuah kekecewaan karena sesuatu yang tak di inginkan nya. Kecewa memang sangat membuat kita tak tau arah dan kerap melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak perlu kita lakukan. Yah memang tidak bi...

Post has shared content
Kumpulan Puisi Malam Yang Sangat Indah Dan Paling Keren
Kumpulan Puisi Malam Indah | Malam merupakan bagian dari kita semua, karena setiap hari kita akan selalu di hadapkan dengan siang dan malam. Dan tanpa anda sadari malam ternyata mampu menyimpan banyak keindahan. Keindahan malam banyak sekali mulai dari bint...

Post has attachment

Post has shared content
kta-kta cinta islami amat mnginspirasi
Bismillaah
Ajarkan Aku Tuk Membencimu
Beragam ungkapan seorang dalam mengekspesikan cintanya pada sang kekasih.
Ungkapan “aku mencintaimu…
engkaulah kekasih hatiku..
uhibbuk… my honey.. my baby” ..dst..
diantara sekian juta-juta ekspresi cinta,
walaupun boleh jadi sebagian hanya ungkapan di mulut jua….
tidak lewat hingga di kerongkongan…
apalagi hingga ke hati.
“Ajarkan aku untuk membencimu”
…itulah ungkapan cinta terindah yang pernah kudengar dari seorang wanita kepada kekasihnya.
Cinta yang begitu kuat terpatri dalam prasasti hatinya..
hingga terkadang membuat dirinya ingin menguasai orang yang di cintai dan membelenggunya menjadi hamba
sahaya cinta.
Ungkapan ketakutan jikalah sang
nakhoda melabuhkan jangkarnya
pada dermaga-dermaga baru
dengan meninggalkan dermaga
lama.
Cinta itu adalah anugerah teindah
yang diberikan Sang Maha
Pemurah pemilik cinta yang
dengan cintaNya tegak segala
urusan langit dan bumi dan
dengannya dikirim para utusan-
utusan untuk membawa cahaya
petunjuk kepada Alam rendah ini.
Adapun cinta yang ada pada
sesama makhluk dan
pasangannya..
hanyalah merupakan percikan dari tetes-tetes Samudera cintaNya yang diturunkan.
Pada dasarnya cinta ini tidak dipuji ataupun dicela oleh agama.
Tetapi efek dari cinta itu sendiri yang akan dinilai terpuji atau tercela.
Jikalah cinta itu melahirkan
kelalaian dalam ketaatan kepada
Sang Pemberi cinta..
bahkan menjadi penghalang untuk menuju Samudera cintaNya yang hakiki…
maka itulah cinta tercela dan
terlarang.
Tatkala Abdullah bin Umar
menikahi seorang gadis yang
jelita,
sungguh hatinya terpaut pada
gadis tersebut..
membuat dirinya lalai dan ketaatannya kepada Maha
Pemberi Cinta semakin melemah,
seketika itu Ayahanda tercinta menegurnya dan memerintahkan agar Puteranya itu segera menceraikan kekasihnya.
Abdullaah merasa tidak nyaman
dengan perintah itu hingga
terpaksa ia mendatangi Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa sallam,
dan meminta pendapatnya atau
pembelaan darinya.
Setibanya di hadapan Nabi Shallallaahu 'Alayhi wa sallam,
dan ia menceritakan segalanya …
maka nabi shallallaahu 'Alayhi wa sallam bersabda :
”patuhi ayahmu”
…subhaanallaah…
ia pun menceraikan istrinya dengan segala perasaan sedih yang berkcamuk dan membuncah dalam dadanya.
Sungguh keputusan yang berat,
tetapi Abdullaah tidak punya
pilihan kecuali mematuhi orang tua dan Nabi-nya.
Ikatan cinta itu segera dia putus dan Abdullaah kembali lagi pada ketaatannya pada Zat yang Maha Layak untuk di cinta.
Kembali dalam kekhusuyukannya dan kenikmatannya berjalan menuju samudera cinta.
Jika percikan cinta itu menjadi
pendorong seorang hamba untuk
semangkin cepat bergegas dalam
pengembaraannya menuju
Samudera cintaNya..
maka hal ini terpuji dan bernilai ibadah.
Sebagaimana kecintaan wanita -
wanita sholeha kepada para
suaminya yang menjadi sumber
inspirasi positif bagi sang suami
untuk melakukan segala bentuk
penghambaannya kepada Zat Maha Pemurah dan Penyayang.
Lihatlah kecintaan permaisuri Raja
Muhammad bin Su ud hingga
membujuk beliau untuk
menjemput ulama besar yang
berhijrah ke negerinya Muhammad bin Abdul Wahhab.
Dari bujukan inilah terwujud berjuta kebaikan dan tertutup berjuta kejelekan.
Dari cinta inilah terlahir negeri
Tauhid yang telah berhasil
menumbangkan berhala-berhala
kesyirikan di seantero Jazirah.
Berhasil meruntuhkan para
penguasa-penguasa yang pongah
penyeru kepada kesesatan.
Percikan air cinta yang indah itu
menjadi tidak indah lagi bahkan
menjadi sumber bencana,
tatkala menjadikannya sebagai tujuan hidup yang dibangun diatasnya wala dan bara…
cinta mati ini yang akan melahirkan para pujangga
dan orang-orang gila semisal Qois
majnun Laila, Butsainah dan semisalnya dalam versi
Arabnya,
ataupun Romeo dan juliet dalam versi Ajamnya.
Cinta yang berujung penderitaan melalaikan pemiliknya dari tujuan hakiki menuju samudera cintaNya.

Post has shared content
semoga bahagia dsana cah ayu 
#amin  
ANGELINA KISAHMU SESAKKAN JANTUNGKU

Kulihat matahari siang tadi berkaca-kaca
Sebenarnya ia marah
Tapi ia tak mampu berbuat apa-apa
Bisu terpaku di langit sana

Dan akupun terhenyak
Seketika jantungku sesak
Dalam bungkus kuning tergeletak
Tinggal tulang berserak

Angelina ceriamu dipendam
Oleh tangan-tangan dendam
Oleh jiwa-jiwa hitam
Di timbun disembunyikan dalam kelam

Angelina, bocah ayu tanpa dosa
Yang selayaknya dapatkan cinta
Oleh ibumu yang tak pernah merasa
Sakitnya menanti di sembilan bulan datangnya

Angelina bocah tercinta
Direnggut sia-sia
Nyawamu melayang di angkasa
Tercurah genang airmata

Tuhan, rangkul ia mesra-mesra
Sepenuh cinta
Manjakan ia di nirwana
Agar kematiannya adalah potret
Kasih sayang yang semakin buram saja
Di sini di negeri tercinta

Puisi by : Fredi FA

Post has shared content
INI SEMUA SALAHKU

entah aku harus berkata apa?
pada dunia yang memang nyata
pada luka - luka yang masih terpampang dan terngiang
menghiasi dinding imaji yang ternyata keji
apakah hidup ini tak lebih dari sekadar menunggu mati?
awalnya aku cukup menikmati caci maki itu
tapi menikmati caci itu tak senikmat sebatang rokok yang bagai oksigen bagiku
dan menikmati maki itu tak senikmat secangkir kopi hitam legam
ah sudahlah....apalah guna mencaci nyata dan imaji?
toh semua telah terjadi
ku tahu itu hanya mecampakkan waktu yang sesungguhnya teramat berarti bagi siapapun
apalagi yang masih ingin menyandang gelar "waras"
ya gelar "waras"
sungguh ini semua salahku
dan aku bisa memahami mengapa kalian atau mereka begitu
akulah manusia entah dari dimensi berantah
tapi lupakah kalian
bahwa Tuhan selalu punya alasan
mengapa begini?
mengapa begitu?
ah pongahlah aku
karena aku sendiri tak mampu memahami itu
aku memang salah
tapi bukankah mulia sekali
jika ada sesorang
yang dengan setengah hati saja memberiku secarik peta
untuk sekadar keluar dari hutan kemelut
aku tahu kalian adalah manusia sama sepertiku
cobalah untuk menjadi aku
apakah itu itu mudah?
cobalah untuk menjadi aku
apakah itu indah?
aku tak ingin munafik dibalik senyum palsu
karena aku sendiri muak pada kepalsuanku
aku hanya berharap ada dari kallian
yang sudi memberi secarik peta
untuk keluar dari situasi ini
meski dengan menutup hidung
tanda betapa menjijikkannya aku
setelah itu mungkin aku akan menjauhi kalian
karena kalian memang tak butuh seorang aku

Puisi by :  Ismail Lubis


JUMAT TRAGIS, SABTU MRINGIS, MINGGU TERIRIS

di mulai dari hari jumat
adzan berkumadang sementara ada yang masih berdendang
sambil berselendang dalam balut dosa yang terbalut riang
ketika para khotib datang
mereka masih berdendang dalam alunan dosa yang terus berkumandang
entah berapa yang akhirnya sial bukan kepalang
karena mereka berhutang
karena mendustakan ibadah wajib di jumat siang
sungguh tragis
sabtu pun datang
senjapun mulai berkumandang
lalu para pemuda
bicara " halo sayang nanti ketemuan dimana?"
"di tempat biasa yang"
yang ini apa sih?
eyang,peyang atau sayang?
kalau sayang kok malah mengajak dosa melayang
bukaankah yang ketiga itu setan sayang?
apa kamu pikir yang bisa mati cuma eyang?
wajarlah kepalamu kan peyang
dimana aya mereka
dimana ibu merekA
oh ternyata shoping
oh ternyata nogkrong di warung
oh ternyata ngrumpi di tetangga sebelah
oh ternyata lagi main remi
para setan senang dan mringis
kalapun berganti
minggupun siap dinikmati
saaatnya bangun siang
terus subuhnya gimana ya?
bagamiana kita tak teriris?

Puisi by :  Ismail Lubis

Post has shared content
IRONI RAMADHAN
tak terasa
kerinduanku padanya tak lama lagi terobati
rajab telah mengabarkan datangnya bulan kekasihku itu
tapi entah mengapa rinduku terbalut was -was
karena aku tak yakin mampu menjaga keagungannya
karena aku sendiri pun tak mampu menjaga kesuciannya
sebab seperti pertemuanku dengannya di masa lampau
aku masih saja mencintai dosaku
bahkan mungkin aku lebih mencintainya daripada bulan kekasihku itu
tak jarang aku bermaksiat padanya
benar aku masih mampu lapar dan haus
tepat jika aku masih bisa tak marah
tentu pula aku tak mengumbar naluri kelelakianku
tapi itu hanya terjadi ketika aku disengat matanya hari
tetapi ketika matanya hari itu terpejam
dan berganti menjadi malam yang kelam
hatiku ikut terpejam
dan aku kembali buta pada apa itu benar dan apa itu salah?
sebagaimana matanya hari yang tadi kukatakan terpejam secara temporal
sebagai seseorang yang agak berilmu
tentunya aku tahu bagaimana pedoman hidupku memandangya
tetapi apalah arti ilmu tanpa amal
bak pohon rindang tak berbuah
sngguh ironi ramadhnan itu nyata adanya bagiku
semoga kalian tidak sama sepertiku
itulah secerca doaku pada kalian
karena aku yakin kalian jauh lebih mulia dariku
yang bodoh lagi hina ini

Post has attachment
Puisi Cinta Untuk Pacar Romantis Terbaru 2015
Puisi Cinta Untuk Pacar | Puisi memang paling andalan dalam menakhlukan hati wanita karena sanjungan dengan kata-kata indah nan manis mampu meluluhakan hati seorang wanita, biasanya wanita akan berfikir bahwa dia itu memang benar-benar menyayangi dirinya ke...

Post has shared content
BUNGLON

31 Desember
Malam pergantian tahun. Percik-percik kembang api sejak senja tadi telah menghiasi angkasa dengan kilauan warna-warni. Suara sayup musik yang ingar bingar juga telah terdengar sejak hari mulai gelap, ditingkah suara terompet di kejauhan. Semua orang bersuka cita menyambut tahun baru. Semua orang menikmati malam pergantian tahun dengan berpesta atau melalui malam pergantian tahun bersama orang-orang yang istimewa.
Sejak seminggu lalu telah sampai di tanganku kartu undangan pesta malam tahun baru dari teman-teman. Teman-teman kantor mengadakan pesta di Bali. Mereka sudah berada di sana sejak tiga hari lalu. Sekalian liburan, kata mereka. Tapi aku tidak tertarik ikut pesta bersama mereka. Aku sudah bosan mengunjungi Bali. Jika bukan karena urusan kantor yang sangat penting, rasanya aku malas menginjakkan kaki di sana. Apalagi hanya untuk pesta pergantian tahun seperti malam ini. Meski presiden direktur telah mengundangku secara langsung sebelum pergi, namun aku tetap bertahan untuk tidak ikut serta.


Lelaki muda itu meletakkan punggungnya yang lelah di sandaran sofa yang empuk. Ia memejamkan matanya sejenak, menghapus pedih yang menderanya. Laptopnya masih berada di pangkuan, dengan kursor yang berkedip-kedip. Ia menekan dua tombol pada keyboard laptopnya secara bersamaan untuk menyimpan tulisan yang baru saja ia ketik, lalu meletakkan benda itu  di meja. Lelaki muda itu melangkah menuju balkon, menghirup udara malam sembari menikmati indahnya ribuan percik kembang api yang melukisi langit malam.
Sebentar saja ia berdiri di balkon rumahnya yang mewah. Ia lalu kembali duduk di sofa sembari memangku laptopnya seperti yang dilakukannya semula. Alunan musik klasik masih terdengar perlahan sejak ia menyalakannya. Kali ini ia mengutak-atik benda itu untuk mencari folder yang berisi serpihan-serpihan kenangan. Ia suka melakukan itu. Membaca kembali catatan-catatan yang telah ia buat untuk menghadirkan kembali kenangan tentang saat istimewa dalam hidupnya. Terkadang ia akan tersenyum, merenung, bahkan menangis ketika membaca file-file itu. Namun ia selalu menikmatinya. Semua file itu diketiknya dengan model huruf book antiqua ditambah aksen italic.


2 Januari 
Aku baru pulang dari Jogja. Terpaksa memenuhi undangan pesta tahun baru di rumah Kakek. Ya, terpaksa. Karena sesungguhnya aku tak ingin. Apalagi disana mereka mengungkit-ungkit tentang Papa dan Mama. Selama ini aku selalu menghindari pesta tahun baru karena aku tak mau kembali menggali memori tentang mereka. Setiap menghadiri pesta tahun baru aku selalu teringat pada pesta serupa yang diadakan pihak kantor dua tahun lalu. Aku mengajak Papa dan Mama untuk ikut, bahkan membujuk mereka yang sebenarnya tak ingin. Di tengah pesta yang meriah, tiba-tiba lampu padam dan kegelapan total menyelimuti ruangan pesta. Semua berpikir itu adalah kejutan pesta. Namun ketika lampu kembali menyala, semua benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran dua sosok yang tergantung di tengah-tengah ruang pesta. Dua sosok itu adalah Papa dan Mama, dalam keadaan tubuh penuh sayatan dan darah segar yang terus menetes!
Sudahlah. Aku tak ingin melanjutkan cerita tentang kematian mereka. Biarlah detail kenangan tentang mereka hanya hidup dalam memoriku saja. Kembali pada kunjunganku ke Jogja, aku bertemu dengan Om Bimo, adik bungsu Mama. Aku diberi seekor bayi bunglon. Kata Om Bimo agar aku punya teman, agar aku tak berlarut-larut dalam kenangan kesedihan karena aku punya kesibukan merawat si bunglon.

4 Februari
Benar kata Om Bimo, dengan memelihara bunglon aku jadi memiliki kesibukan lain selain rutinitas kantor yang melelahkan (dan membosankan). Setelah sebulan hidup bersama, aku dan bunglon telah saling memahami. Apalagi aku telah merawatnya sejak ia bayi. Aku sudah seperti ayah kandungnya. Setiap kali aku mengajaknya bermain, dia selalu bisa menirukan warna baju yang kupakai. Keunikan ini yang selalu menghiburku.

5 Maret
Bunglon itu seperti manusia. Berubah karena maksud-maksud tertentu. Bunglon mengubah warna kulitnya ketika merasa terancam, untuk menyesuaikan suhu, atau karena pengaruh emosinya. Manusia juga demikian. Manusia mengubah wajahnya ketika harga dirinya terancam, untuk menyesuaikan prestise lingkungan, atau karena pengaruh kejiwaan. Perubahan warna kulit bunglon dikenal dengan mimikri, perubahan wajah manusia dikenal dengan munafik.

7 April
Teman sekantor mengajakku ke rumah bordil. Gila! Dia mengajakku bersenang-senang sepulang kerja. Ke Bali saja aku malas, apalagi ke sarang bunglon lokal seperti ini. Aku benci dengan gaya semua penghuni tempat ini. Mereka semua berwajah manis manja yang menjijikkan, sama menjijikkannya dengan pekerjaan mereka. Sempat terjadi keributan kecil ketika temanku itu memilih wanita yang akan menemaninya. Mungkin mereka berebut, aku tak peduli. Aku memilih ke luar ketika temanku yang telah terjangkit kerusakan moral itu meniti tangga ke lantai dua bersama seorang wanita yang nyaris telanjang.
Aku tidak betah berlama-lama di sana, aku ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun ketika aku baru akan membuka pintu mobil, aku melihat seorang gadis yang tengah menikmati semangkuk bakso di pelataran rumah mewah yang kudatangi. Gadis itu terlihat akrab dengan abang penjual bakso yang mangkal tak jauh dari tempatku berdiri di parkiran mobil. Kuperhatikan gadis itu. Dandanannya sama dengan para wanita di dalam rumah, hanya saja pakaiannya tidak terlalu minim. Gaya bicaranya juga sama seperti mereka. Setelah menandaskan bakso di mangkuknya ia segera menghisap sebatang rokok. Mungkin karena menyadari aku sedang memperhatikannya, ia menoleh ke arahku. Pada saat itulah aku segera masuk ke dalam mobil dan segera meluncur meninggalkan tempat itu.

21 April
Aku ingin tahu apakah para penghuni rumah mewah itu mengenal hari ini. Ternyata tidak. Malam ini bahkan lebih banyak pria yang datang untuk berpesta karena ini malam Minggu. Ruang utama di lantai dua penuh, apalagi ruang pesta di sebelahnya. Di tangga yang menuju kamar-kamar di lantai tiga tak henti orang berpasangan berseliweran, naik dan turun. Rupanya tempat ini telah dikelola secara profesional sebagai tempat memuaskan nafsu. Aku kembali mendapati gadis yang kemarin berada di luar rumah. Kali ini ia duduk di sebelah gerobak sate. Aku tergerak untuk makan sate bersamanya untuk berkenalan dengannya. Aku tak mengerti mengapa aku melakukan ini. Padahal sebelumnya aku tak pernah melakukan hal bodoh seperti ini, apalagi mengajak berkenalan seorang wanita di dekat rumah bordil.

Post has shared content
BUNGLON

31 Desember
Malam pergantian tahun. Percik-percik kembang api sejak senja tadi telah menghiasi angkasa dengan kilauan warna-warni. Suara sayup musik yang ingar bingar juga telah terdengar sejak hari mulai gelap, ditingkah suara terompet di kejauhan. Semua orang bersuka cita menyambut tahun baru. Semua orang menikmati malam pergantian tahun dengan berpesta atau melalui malam pergantian tahun bersama orang-orang yang istimewa.
Sejak seminggu lalu telah sampai di tanganku kartu undangan pesta malam tahun baru dari teman-teman. Teman-teman kantor mengadakan pesta di Bali. Mereka sudah berada di sana sejak tiga hari lalu. Sekalian liburan, kata mereka. Tapi aku tidak tertarik ikut pesta bersama mereka. Aku sudah bosan mengunjungi Bali. Jika bukan karena urusan kantor yang sangat penting, rasanya aku malas menginjakkan kaki di sana. Apalagi hanya untuk pesta pergantian tahun seperti malam ini. Meski presiden direktur telah mengundangku secara langsung sebelum pergi, namun aku tetap bertahan untuk tidak ikut serta.


Lelaki muda itu meletakkan punggungnya yang lelah di sandaran sofa yang empuk. Ia memejamkan matanya sejenak, menghapus pedih yang menderanya. Laptopnya masih berada di pangkuan, dengan kursor yang berkedip-kedip. Ia menekan dua tombol pada keyboard laptopnya secara bersamaan untuk menyimpan tulisan yang baru saja ia ketik, lalu meletakkan benda itu  di meja. Lelaki muda itu melangkah menuju balkon, menghirup udara malam sembari menikmati indahnya ribuan percik kembang api yang melukisi langit malam.
Sebentar saja ia berdiri di balkon rumahnya yang mewah. Ia lalu kembali duduk di sofa sembari memangku laptopnya seperti yang dilakukannya semula. Alunan musik klasik masih terdengar perlahan sejak ia menyalakannya. Kali ini ia mengutak-atik benda itu untuk mencari folder yang berisi serpihan-serpihan kenangan. Ia suka melakukan itu. Membaca kembali catatan-catatan yang telah ia buat untuk menghadirkan kembali kenangan tentang saat istimewa dalam hidupnya. Terkadang ia akan tersenyum, merenung, bahkan menangis ketika membaca file-file itu. Namun ia selalu menikmatinya. Semua file itu diketiknya dengan model huruf book antiqua ditambah aksen italic.


2 Januari 
Aku baru pulang dari Jogja. Terpaksa memenuhi undangan pesta tahun baru di rumah Kakek. Ya, terpaksa. Karena sesungguhnya aku tak ingin. Apalagi disana mereka mengungkit-ungkit tentang Papa dan Mama. Selama ini aku selalu menghindari pesta tahun baru karena aku tak mau kembali menggali memori tentang mereka. Setiap menghadiri pesta tahun baru aku selalu teringat pada pesta serupa yang diadakan pihak kantor dua tahun lalu. Aku mengajak Papa dan Mama untuk ikut, bahkan membujuk mereka yang sebenarnya tak ingin. Di tengah pesta yang meriah, tiba-tiba lampu padam dan kegelapan total menyelimuti ruangan pesta. Semua berpikir itu adalah kejutan pesta. Namun ketika lampu kembali menyala, semua benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran dua sosok yang tergantung di tengah-tengah ruang pesta. Dua sosok itu adalah Papa dan Mama, dalam keadaan tubuh penuh sayatan dan darah segar yang terus menetes!
Sudahlah. Aku tak ingin melanjutkan cerita tentang kematian mereka. Biarlah detail kenangan tentang mereka hanya hidup dalam memoriku saja. Kembali pada kunjunganku ke Jogja, aku bertemu dengan Om Bimo, adik bungsu Mama. Aku diberi seekor bayi bunglon. Kata Om Bimo agar aku punya teman, agar aku tak berlarut-larut dalam kenangan kesedihan karena aku punya kesibukan merawat si bunglon.

4 Februari
Benar kata Om Bimo, dengan memelihara bunglon aku jadi memiliki kesibukan lain selain rutinitas kantor yang melelahkan (dan membosankan). Setelah sebulan hidup bersama, aku dan bunglon telah saling memahami. Apalagi aku telah merawatnya sejak ia bayi. Aku sudah seperti ayah kandungnya. Setiap kali aku mengajaknya bermain, dia selalu bisa menirukan warna baju yang kupakai. Keunikan ini yang selalu menghiburku.

5 Maret
Bunglon itu seperti manusia. Berubah karena maksud-maksud tertentu. Bunglon mengubah warna kulitnya ketika merasa terancam, untuk menyesuaikan suhu, atau karena pengaruh emosinya. Manusia juga demikian. Manusia mengubah wajahnya ketika harga dirinya terancam, untuk menyesuaikan prestise lingkungan, atau karena pengaruh kejiwaan. Perubahan warna kulit bunglon dikenal dengan mimikri, perubahan wajah manusia dikenal dengan munafik.

7 April
Teman sekantor mengajakku ke rumah bordil. Gila! Dia mengajakku bersenang-senang sepulang kerja. Ke Bali saja aku malas, apalagi ke sarang bunglon lokal seperti ini. Aku benci dengan gaya semua penghuni tempat ini. Mereka semua berwajah manis manja yang menjijikkan, sama menjijikkannya dengan pekerjaan mereka. Sempat terjadi keributan kecil ketika temanku itu memilih wanita yang akan menemaninya. Mungkin mereka berebut, aku tak peduli. Aku memilih ke luar ketika temanku yang telah terjangkit kerusakan moral itu meniti tangga ke lantai dua bersama seorang wanita yang nyaris telanjang.
Aku tidak betah berlama-lama di sana, aku ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun ketika aku baru akan membuka pintu mobil, aku melihat seorang gadis yang tengah menikmati semangkuk bakso di pelataran rumah mewah yang kudatangi. Gadis itu terlihat akrab dengan abang penjual bakso yang mangkal tak jauh dari tempatku berdiri di parkiran mobil. Kuperhatikan gadis itu. Dandanannya sama dengan para wanita di dalam rumah, hanya saja pakaiannya tidak terlalu minim. Gaya bicaranya juga sama seperti mereka. Setelah menandaskan bakso di mangkuknya ia segera menghisap sebatang rokok. Mungkin karena menyadari aku sedang memperhatikannya, ia menoleh ke arahku. Pada saat itulah aku segera masuk ke dalam mobil dan segera meluncur meninggalkan tempat itu.

21 April
Aku ingin tahu apakah para penghuni rumah mewah itu mengenal hari ini. Ternyata tidak. Malam ini bahkan lebih banyak pria yang datang untuk berpesta karena ini malam Minggu. Ruang utama di lantai dua penuh, apalagi ruang pesta di sebelahnya. Di tangga yang menuju kamar-kamar di lantai tiga tak henti orang berpasangan berseliweran, naik dan turun. Rupanya tempat ini telah dikelola secara profesional sebagai tempat memuaskan nafsu. Aku kembali mendapati gadis yang kemarin berada di luar rumah. Kali ini ia duduk di sebelah gerobak sate. Aku tergerak untuk makan sate bersamanya untuk berkenalan dengannya. Aku tak mengerti mengapa aku melakukan ini. Padahal sebelumnya aku tak pernah melakukan hal bodoh seperti ini, apalagi mengajak berkenalan seorang wanita di dekat rumah bordil.
Wait while more posts are being loaded