Profile cover photo
Profile photo
yonanda fatma
About
yonanda's posts

Post has attachment
Photo
Photo
2014-10-31
2 Photos - View album

Post has attachment
Cerpenku

Malam yang dingin ini membantuku merangkai puing – puing cerita yang telah hancur dan hampir hilang tertiup waktu yang panjang hampir 2 tahun sepertinya.   

 “Yuna...” panggil seseorang padaku, kupalingkan wajahku kebelakang, kulihat disana sesosok wajah yang sangat familiar denganku benar saja dia adalah sahabatku namanya yura, “yuna cepatlah ke tempat latihan basket, guru olahraga tadi menyuruhku memanggilmu “ya” aku bergegas menemui guru olahraga, belakangan ini aku sering di panggil oleh guru olahraga karena 2 hari lagi aku akan mengikuti turnamen.

Saat ini aku sedang mencoba mencari bagian yang hilang dari puing – puing itu diambang mulut gerbang bangunan tua ini.

Duk... “aw..sakit banget” tiba – tiba bola sialan itu mendarat tepat di dahiku “siapa yang berani beraninya melempar bola kearahku, dia akan merasakan akibatnya nanti”, tiba – tiba seorang anak laki – laki menghampiriku “ apa kau tak apa?”, “siapa kau?“, “maaf sebelumnya, aku yang tadi tidak sengaja melemparkan bola tapi malah mendarat di kepalamu” “apa pertanyaanmu nggak salah? Ya jelas sakit lah, bola itu harusnya mendarat melewati ring bukan melewati kepalaku” “ ya sekali lagi aku minta maaf aku tak sengaja” “sudahlah aku tak tega melihat wajahmu yang ketakutan sepertinya kamu anak kelas X ya?” “ya” jawabnya dengan pelan, aku langsung melanjutkan langkah kakiku meninggalkan anak tersebut, baru kali ini aku melihat ekspresi yang seperti itu dan baru kali ini aku bisa mengatur emosiku dengan baik.

Aku melanjutkan pencarianku dan kakiku terhenti saat melihat bola basket di hadapanku.

“yuna..” panggil yura kepadaku “darimana saja kau?”, “kan kau tadi yang memberitahuku untuk menemui guru olahraga , kenapa sekarang nanya?”, “oh iya... lupa, kudengar anak kelas X melempar bola dan tak sengaja mengenai kepalamu, ya?” “kenapa begitu cepat berita itu menyebar?”, “ya kau kan anak perempuan paling menakutkan di sekolah ini, tapi baru kali ini kau tak marah – marah saat ada anak yang melakukan kesalahan seperti ini?”, “aku tadi tak tega melihat wajahnya yang sangat ketakutan saat melihatku”, “ohh, sudahlah ayo pergi ke kelas sebentar lagi bel masuk akan burbunyi” langsung saja aku dan yura berlari ke kelas.

Langkah demi langkah terus kuciptakan untuk menemukan bagian yang masih tak jelas wujudnya, tapi aku akan terus berusaha mencari bagian itu.

Malam itu bulan purnama indah sekali aku segera keluar rumah dan menuju tempat terbuka di bagian atap rumah disana adalah tempat yang sangat menyenangkan dimana aku tak dapat mendengar suara yang ada disekitar, saat sendiri disini aku sering membayangkan angan – anganku yang sangat aku impikan, tapi hari ini lain aku tak dapat melihat apa –apa karena bayangan anak kelas X itu selalu ada di depan mataku, ekspresinya yang sangat ketakutan selalu membayangiku mambuatku merasa bersalah padanya. “di saat seperti ini kenapa wajahnya datang dan mengacaukan pandanganku untuk melihat bulan purnama ini?” semakin aku tak memikirkan semakin jelas wajahnya “daripada aku semakin pusing melihat bayangan itu lebih baik aku tidur saja” aku bergegas menuju kamarku dan langsung tidur”.

Kuciptakan lebih banyak jejak kaki lalu aku menoleh kebelakang sepertinya sudah lebih dari 50 jejak yang tampak.

“yura, boleh gak aku nanya sesuatu?” “tentu saja kau kan sahabatku” “apakah kau pernah menyukai seseorang?”  “tentu saja pernah” “bagaimana kau tahu kalo kau menyukainya?” “di waktu – waktu senggang aku sering memikirkannya, di saat ada sesuatu yang buruk terjadi padanya kau sangat menghawatirkannya” “apa benar seperti itu?, tapi jika bayangannya selalu muncul tanpa diundang apa itu juga tanda?” “bisa jadi seperti itu, memangnya kenapa? Baru kali ini kau membicarakan topik seperti ini sejak pertama kita berteman semasa SD dulu”, “tidak, aku hanya bertanya?” “beneran?” yura terus saja menggodaku, “sudahlah” aku pergi begitu saja meninggalkan yura di kelas.
“aw..panas” “maaf, aku nggak sengaja” “kamu lagi dek, kenapa to dek kamu itu kalo ketemu aku mesti buat aku sial terus” “maaf kak aku gak sengaja”, anak itu kembali melontarkan ekspresinya yang sangat menyedihkan itu, yang membuatku selalu tak tega untuk memarahinya.

Aku melangkahkan kakiku melewati kursi kursi tua di lorong bangunan ini. Semakin lama semakin banyak kursi yang telah kulewati.

Malam itu aku aku mengisi waktu kosongku untuk melenyapkan bayangan anak itu dari mataku karena aku sangat takut jika wajah itu terus membayangiku dan itu juga membuatku sangat risih maka dari itu aku memutuskan untuk pergi kesekolah  dan akan berlatih. Sampai di tempt latihan aku mendengar suara bola dari dalam tempat latihan, biasanya setiap hari senin tempat latihan ini sangat sepi saat malam hari kerena anak – anak lebih sering latihan pada saat akhir pekan. Aku terus saja melanjutkan langkahku dan sampailah aku diambang pintu kulihat disana ada seorang anak laki – laki yang sedang duduk sambil melihat ring “aneh banget tuh orang ngapain kesini kalo Cuma buat ngeliatin ring doang” aku bergumam sendiri, sepertinya dia tahu kan kedatanganku seketika itu dia memalingkan wajahnya kearahku ternyata dia itu anak kelas X yang wajahnya selalu menakutiku dan selalu mengundang kesialan untuk mengunjungiku saat dia sedang ada di sekitarku, aku berencana untuk lari karena aku merasakan firasat yang buruk akan terjadi, tapi sepertinya dia tau akan rencanaku, “kak” anak itu memanggilku “darimana dia tahu namaku?” aku datang mendekatinya “kak, apa kakak pernah menyukai seseorang?” “aku tak tahu, sepertinya baru – baru ini aku baru merasakan itu tapi..ah aku benar – benar tak tahu, kenapa kau menanyakan ini padaku?” “kak, malam ini lampu bersinar sangat terang ya” “tentu saja, lampu itu baru saja diganti tadi pagi” “kak apa mungkin seorang gadis dewasa menyukai cowok yang masih remaja atau lebih tua darinya” “tentu saja mungkin. Nggak ada yang gak mungkin to dek?” “ya, karena itu mungkin aku ingin mengatakan sesuatu, kak bolehkah aku menyukaimu dan bisakah kita menjadi pasangan?” aku lama terdiam, aku tak tahu apa yang harus kulakukan dan apa yang harus kukatakan, “ kakak bilang nggak ada yang gak mungkin jadi” aku langsung saja membalikkan badanku dan berlari meninggalkan anak itu tapi dia terus berkata “aku bakal nunggu kakak kok sampai kapanpun, kuharap kakak datang pada pada tanggal 17 juni jam 20.41 seperti hari ini, entah tahun depan atau kapanpun, aku akan menunggu.”

10 langkah lagi aku akan sampai di sebuah tempat yang sangat ingin aku kunjungi selama 2 tahu belakangan, dan sampailah aku di sebuah ruang yang sangat biasa saja tetapi tempat itu adalah tempat yang berarti bagiku tempat itu adalah tempat dimana aku bisa merasakan yang namanya mencintai seseorang dan itu semakin berarti karena itu adalah cinta pertamaku.
Aku melirik jam tangan digital yang ku pakai terlihat jam 19.56 dan kulihat tanggal 17 juni 2014.
Kini sampailah aku di ambang pintu, aku ingin kejadian 2 tahu lalu terjadi lagi tapi sepertinya itu tak mungkin terjadi, di dalam ruang latihan basket saat ini sangat ramai karena ini adalah akhir pekan tapi aku tak melihat wajah anak itu, “dimana ya kira – kira anak itu?” lalu ada seorang anak yang menyenggolku kupikir dia ternyata bukan, aku bertanya sedikit tentang dia pada anak yang baru saja menyenggolku, “dek kamu kelas berapa?” “kelas XII kak” saat itu mulutku langsung saja ingin bertanya mengenai keberadaan anak itu “dek, kamu tahu anak yang namanya kevin dulu kelas XA?” “tahu kak, emang kenapa” “dia udah nggak ikut basket ya? Kok gak dateng hari ini?” “kevin itu udah lama pergi” “pergi kemana?” “dulu saat kelas XI kita pergi ke Bali untuk melakukan karyawisata, tapi mulut ombak yang lebar menelan kevin dan sejumlah teman kita” aku tak sanggup berkata apapun aku jauh datang kesini untuk merangkai puing – puing kenangan ini tapi yang aku dapatkan hanya cerita kematian yang tak ingin aku dengar, padahal selama 2 tahun terakhir aku merangkai kata – kata untuk kusampaikan padanya dan sekarang semua kata – kata itu telah hilang karena tertelan oleh ombak air mata yang membanjiri otakku.Aku membalikkan badanku lalu berlari melewati lorong tapi sepertinya ada seseorang yang mengikutiku kulihat sekelebat wajah yang kukenal sepertinya dia kevin tapi itu gak mungkin kevin telah bahagia di alam lain, lalu aku berlalu meninggalkan sekolah ini.

“Kak, maaf aku tak dapat menemui kakak dalam keadaan yang seperti ini, tapi aku merasa  bahagia karena kakak mendengarkan kata – kataku dulu yang meminta kakak datang lagi padaku pada tanggal ini tanggal kelahiran ayahku yang belum pernah kutemui, aku tak dapat menemui kakak karena aku tahu keadaan yang sebenarnya, ayahku yang tak pernah ku tahu wajahnya sedari dulu yang tak pernah ku tahu keadaannya dan sangat ingin kutemui, dia yang membuat kita ada di dunia ini tapi membuat kita tak bisa bersatu, ku harap kakak mengerti keadaan ini.


 
 
No votes yet
-
votes visible to Public
0%
Isi Mudah dimengerti
0%
Kurang Bisa Dimengerti
Wait while more posts are being loaded