Profile

Cover photo
Dede Mulyana
Worked at PT. BUMERCLUB
Attended UHAMKA
Lives in TASIKMALAYA
103 followers|1,489 views
AboutPostsPhotosYouTube

Stream

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
 
KATA PENGANTAR
 
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi  penelitian yang berjudul “Peningkatkan  Kemampuan Pemahaman Konsep Bilangan Cacah Melalui Pendekatan  Konstruktivisme pada Siswa Kelas III  SD Negeri  Sinagar.
Skripsi  ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk  memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Frof. Dr Hamka. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat :
Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Dr. H.  Sukardi,M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Gufron Amirullah, M.Pd. selaku  koordinator Pendidikan Jarak Jauh S1 PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Drs. Slamet Soro, M. Pd,selaku Dosen Pembimbing. Terimakasih atas segala bimbingan, arahan dan nasehat  serta ilmu yang telah diberikan
Asep Zaini S.Pd. selaku PPS Kabupaten Tasikmalaya, Terimakasih atas segala bimbingan, arahan dan nasehat  serta ilmu yang telah diberikan.
Endang Samsul Hidayat  kepala sekolah SDN Sinagar atas kesempatan yang diberikan dalam proses penyelesaian penelitian ini
Imas Masiroh, S.Pd yang selalu memberikan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi dan selama menempuh studi pada PJJ S1 PGSD FKIP UHAMKA
Orang Tua Tercinta  yang selalu memberikan doa dan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi dan selama menempuh studi pada PJJ S1 PGSD FKIP UHAMKA
Semoga amal kebaikan dan segala bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Penulis berharap proposal ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya maupun para pembaca pada umumnya.
 
Jakarta ,   Oktober  2012
                   
            Penulis
 
 
 
 
 
 
 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .........................................................................................  i-ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii-iv
BAB I PENDAHULUAN        
A.       Latar Belakang Masalah ..................................................................       1
B.       Identifikasi  Masalah .......................................................................       3
C.       Batasan Masalah ..............................................................................       3
D.       Rumusan  Masalah ...........................................................................       4
E.        Tujuan Penelitian .............................................................................       4
F.        Kegunaan Penelitian………………………………………………       5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.       Studi Literatur .................................................................................          6
B.       Kerangka Berfikir.............................................................................        23
C.       Hipotesis Tindakan  .........................................................................        23
BAB II METODELOGI PENELITIAN
A.       Seting Penelitian…………………………………………………...        24
1.    Metode Penelitian .......................................................................        24
2.    Subjek  Penelitian ........................................................................        24
3.    Instrument Penelitian ..................................................................         24
B.       Desain Penelitian………………………….………………………..      25
C.       Prosedur Penelitian ..........................................................................        26
D.       Teknik Pengolahan Data ..................................................................        28
E.        Teknik Pengumpulan Data ...............................................................        28
F.        Teknik Analisis Data ........................................................................        29
G.       Jadwal Penelitian .............................................................................        30
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................        31
 
 
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan dasar yang diselenggarakan di Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar “Baca Tulis Hitung”. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah telah menetapkan kurikulum yang berisi susunan bahan kajian dan pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum tersebut. Terkait dengan kemampuan dasar yang ingin dicapai, materi pokok bilangan cacah (terdiri dari kemampuan dasar bilangan, nilai tempat dan operasi matematika). Dalam pelajaran matematika disampaikan dengan porsi lebih banyak dibanding materi pokok lainnya.
Rambu-rambu pelaksanaan pembelajaran matematika SD menyebutkan, “Pengajaran matematika hendaknya diselesaikan dengan kekhasan konsep/materi pokok dan perkembangan berpikir siswa SD”.           (Depdiknas, 2002 : 2). Ini berarti bahwa konsep-konsep dasar matematika hendaknya dipahami siswa dengan baik seperti halnya pada materi pokok bilangan cacah, hendaknya konsep bilangan dan nilai tempat dipahami dengan baik. Seluruh siswa dilibatkan dengan operasi hitung bilangan. Kenyataan yang ada umumnya secara verbal siswa dapat membilang dengan lancar bilangan-bilangan satu angka dan dua angka, tapi mengalami kesulitan untuk bilangan-bilangan yang terdiri dari lebih tiga angka. Hal ini sesuai dengan Huinker dan Paine (dalam Jansen, 1993 : 21), bahwa setelah dua minggu memberikan instruksi-instruksi pada siswa kelas III, ternyata siswa tidak memiliki pemahaman yang baik untuk bilangan yang lebih besar dari 200 atau 300.
Keadaan tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor yang salah satunya adalah situasi pembelajaran selama ini masih banyak dijumpai pembelajaran matematika yang sifatnya verbal dan prosedural. Dalam pembelajaran siswa nampak pasif dan menerima pengetahuan sesuai yang diberikan guru. Hal ini berdampak pada lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar matematika.
Berdasarkan pengamatan penulis pada tahun-tahun sebelumnya untuk materi bilangan, kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa secara umum antara lain :
1.         Kesalahan menuliskan lambang bilangan dan nama bilangan.
2.         Kesalahan menentukan nilai tempat dan nilai angka.
3.         Kesalahan melakukan operasi hitung penjumlahan tanpa menyimpan dengan menyimpan.
4.         Kesalahan melakukan operasi hitung pengurangan tanpa menyimpan dengan menyimpan.
Hal serupa juga terjadi di SDN Sinagar Kecamatan Sukaratu, belajar peserta didik dilihat dari hasil ulangan harian terutama dalam mata pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri  Sinagar pada semester ganap sebesar  68%  belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 60. Adapun jumlah siswa kelas III SD Negeri Sinagar adalah  20  orang  yang  terdiri dari.  L = 8,  P  = 12.  
Untuk lebih jelasnya rata-rata hasil ulangan harian mata pelajaran matematika kelas III SD Negeri Sinagar  pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012 sebagai berikut :
Tabel. 1.1
Rata-rata Hasil Tugas Matematika
Kelas III Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012
Tugas
Nilai Rata-rata
 
Kelompok
50,5
Individu
55,5
Ulangan Harian
50,0
      Sumber : Guru kelas , III
Sebagai tindak lanjut dan hasil pengamatan sebelumnya, penulis  tertarik untuk memberikan tindakan melalui alternatif pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan  konstruktivisme yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman matematika siswa pada konsep bilangan cacah, peneliti ingin melihat kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep bilangan cacah, faktor-faktor apa yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan.
Berdasarkan uraian di atas peneliti melakukan penelitian dengan judul  Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Bilangan Cacah Melalui Pendekatan Kontruktivisme  Pada Siswa Kelas III SD Negeri Sinagar  dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Peserta Didik Kelas III SD Negeri  Sinagar Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Tahun Pelajaran 2012/2013).
B.     Indetifikasi Masalah
berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengidentifikasi masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :
1.      Pendidik mendominasi pada kegiatan pembelajaran
2.      Penggunaan model pembelajaran kurang relevan
3.      Aktivitas peserta didik tidak aktif
4.      Aktivitas kerja kelompok kurang efektif
5.      Hasil belajar peserta didik peserta didik rata-rata dibawah KKM
C.    Batasan Masalah
Sesuai dengan keterbatasan peneliti dan agar penelitian ini terarah, maka perlu membatasi masalah sebagai berikut
1.      Penelitian ini hanya dikenkan pada siswa kelas III SD Negeri Sinagar Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya tahun pelajaran 2012/2013
2.      Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli semester 1 tahun pelajaran 2012/2013.
3.       Materi yang disampaikan adalah konsep bilangan cacah.
 
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  masalah, maka pokok rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1.             Apakah pendekatan konstruktivisme dapat  meningkatkan kemampuan  pemahaman konsep bilangan cacah pada siswa kelas III SD Negeri Sinagar?
2.             Apakah  pendekatan  konstruktivisme  dapat  meningkatkan aktivitas  belajar  siswa kelas III SD Negeri Sinagar  terhadap konsep bilangan cacah ?
3.             Bagaimana respon peserta didik terhadap penggunaan pendekatan kontruktivisme pada konsep bilangan cacah di kelas III SD Negeri Sinagar Kecamatan Sukaratu?
 
E.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan  untuk :
1.             Mengetahui peningkatkan kemampuan  pemahaman konsep bilangan cacah dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme pada siswa kelas 3 SD Negeri Sinagar.
2.             Mengetahui peningkatkan aktivitas pada konsep bilangan cacah dengan menggunakan pendekatan pendekatan kontruktivisme  pada siswa kelas 3 SD Negeri Sinagar.
3.             Mengetahui respon peserta didik terhadap penggunaan pendekatan kontruktivisme pada konsep bilangan cacah di kelas III SD Negeri Sinagar Kecamatan Sukaratu.
 
F.     Manfaat  Penelitian
Manfaat  hasil penelitian ini adalah :
1.         Bagi Siswa
a.    Meningkatkan pemahaman siswa dalam kosep bilangan cacah.
b.    Minat belajar siswa meningkat
2.         Bagi Guru
a.    Dapat memcahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas sehari-hari khususnya dalam mengajarkan materi konsep bilangan cacah.
b.    Mengembangkan pengetahuan keterampilan mengajarkan materi konsep bilangan cacah.
3.         Kepala Sekolah
a.     Referensi penelitian tindakan kelas untuk kenaikan pangkat
 
 
 BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.    Kajian Teori
1.      Pembelajaran Matematika dalam Pandangan Konstruktivisme
Menurut Nickson (dalam Hudoyo, 1998 : 6),
“ Pembelajaran matmatika dalam pandangan konstruktivistik adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep matematika  dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi  sehingga konsep itu terbangun kembali melalui transformasi informasi untuk menjadi konsep baru. Dapat dikatakan bahwa pembelajaran maetmatika adalah membangun pemahaman”.
 
Konstruktivisme merupakan teori belajar yang menjadi filosofi pedekatan pembelajaran konstektual. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui suatu konteks dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan tersebut kemudian memberi makna. Menurut Skemp (dalam Hudoyo, 1998 : 8), “Proses membangun pemahaman ini lebih penting daripada hasil belajar, sebab pemahaman akan bermakna pada materi yang dipelajari”. Peserta didik harus dibiasakan dengan menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Peserta didik harus mengkonstruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri bukan dijejali oleh guru, karena guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan. Esensi dari teori konstruktivisme adalah siswa harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke situasi lain, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Menurut Hudoyo (1998 : 9) pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivisme memiliki ciri-ciri, antara lain : (1) siswa terlibat aktif belajar, (2) informasi dikaitkan dengan informasi lain, sehingga menyatu dalam skemata, dan pemahaman terhadap informasi menjadi kompleks, (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan.
 Menurut Von Glasersfeld (dalam Suparno, 1997 : 4), “Mengajar adalah membantu seseorang berpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri, jadi guru hanya berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik”. Sebagai implikasi konstruktivistik terhadap pembelajaran matematika, tugas guru adalah membantu siswa agar mampu mengkonstruksi pengetahuannya.
Menurut Hudoyo (1998 : 10) guru perlu mengupayakan hal-hal sebagai berikut :
a.      Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
b.      Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret.
c.      Mengintegrasikan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi atau kerjasama seseorang dengan orang lain atau lingkungannya.
d.     Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis.
e.      Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme menurut Tyfler (dalam Hamzah, 2001 : 2) mengajukan pandangan berkaitan dengan rencana pembelajaran sebagai berikut :
1)     Memberi kesempatan kepada siswa mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
2)     Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir tentang pengalaman mereka menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
3)     Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru.
4)     Memperkaya pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah mereka miliki.
5)     Mendorong siswa untuk menemukan gagasan mereka.
6)     Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
 
Hasil dari interaksi sosial tersebut diharapkan siswa menjadi lebih mandiri, dan terjadinya transformasi pengetahuan siswa, bukan hanya disampaikan oleh guru.
2.     Cara Mengajarkan Matematika Menurut Teori Belajar
      Konstruktivisme
Menurut Horsley (1990 : 59) secara umum pembelajaran berdasarkan teori belajar konstruktivisme meliputi empat tahap, yaitu : (1) tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa, (2) tahap eksplorasi, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep.
Sejalan dengan pendapat di atas Tobin dan Timon (dalam Lalik, 1997 : 19) mengatakan bahwa pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme meliputi empat kegiatan, antara lain : (1) berkaitan dengan pieor knowledge siswa, (2) mengandung kegiatan pengalaman yata (experiences), (3) terjadi interaksi sosial (social interaction), dan (4) terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (seuse making).
Petunjuk tentang pembelajaran dengan teori konstruktivisme  menurut Dahar (dalam Hamzah, 2004 : 10) sebagai berikut :
(1) siapkan benda-benda nyata untuk digunakan para siswa, (2) pilihlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak, (3) perkenalkan kegiatan yang layak dan menarik serta beri anak kebebasan untuk menolak saran guru, (4) tekankan penciptaan pertanyaan dan masalah serta pemecahannya, (5) anjurkan para siswa untuk saling berinteraksi, (6) hindari istilah teknis dan tekankan berpikir, (7) anjurkan mereka berpikir dengan cara mereka sendiri, dan (8) perkenalkan kembali materi dan kegiatan yang sama setelah beberapa tahun lamanya.
 
Beberapa uraian di atas dapat memberi pandangan kepad aguru agar dalam menerapkan prinsip belajar konstruktivisme benar-benar harus memperhatikan kondisi lingkungan yang baik. Yager (1991 : 55) mengajukan pentahapan yang lebih lengkap dalam pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme.
a.    Tahap pertama, siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan di bahas. Bila perlu, guru memancing dengan pertanyaan problematis tentang fenomena yang sering dijumpai sehari-hari oleh siswa dan mengaitkannya dengan konsep yang akan dibahas, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan dan mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep tersebut.
b.    Tahap kedua, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Secara keseluruhan pada tahap ini akan terpenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena dalam lingkungannya.
c.    Tahap ketiga, siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa, ditambah dengan penguatan guru. Selanjutnya, siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari.
d.   Tahap keempat, guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan maupun melalui pemunculan masalah yang berkaitan denga isu-isu dalam lingkungan siswa tersebut.
 Dalam penelitain ini pembelajaran dengan pendapat Yager yang akan dijadikan patokan, sehingga diharapkan pada akhirnya anak dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui aktivitas yang dilakukan.
3.      Bilangan dan Lambang Bilangan
Bilangan adalah suatu ide yang sifatnya abstrak. Menurut Herutomo (1997), “Bilangan yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari adalah bilangan asli”. Himpunan bilangan asli dinyatakan dengan A = {1, 2, 3, …}. Bilangan asli dapat diartikan sebagai kordinalitas (banyaknya anggota) suatu himpunan/kumpulan.
Selanjutnya untuk menyatakan himpunan kosong/kumpulan yang tidak ada anggotanya dinyatakan lambang bilangan “0” (nol). Dengan adanya lambang bilangan “0” (nol), terdapat himpunan baru yaitu himpunan bilangan cacah yang dinyatakan dengan C = {0, 1, 2, 3, …}.
Menurut Troutman (dalam Nurmawanti, Handayani, dan Rachmiazasi, 2004 : 5) sistem Hindu-Arab memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Menggunakan sepuluh macam angka, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9.
b.      Menggunakan sistem bilangan dasar 10 (sepuluh), artinya setiap sepuluh satuan dikelompokkan menjadi satu puluhan; setiap sepuluh puluhan menjadi satu ratusan, dan seterusnya. Jadi pada bilangan dasar 10, tempat paling kanan adalah tempat satuan dengan nilai tempatnya satu, tempat sebelah kirinya puluhan dengan nilai tempatnya sepuluh dan seterusnya.
c.       Menggunakan sistem nilai tempat misal pada bilangan 12, nilai tempat angka 1 adalah sepuluh, jadi 1 menunjukkan 1 puluhan dan nilai tempat angka 2 adalah satu, jadi 2 menunjukan 2 satuan.
d.      Menggunakan sistem penjumlahan dan perkalian. Misal : 539 = (5 ´ 100) + (3 ´ 10) + (9 ´ 1)
4.      Pengertian tentang Nilai Tempat
Konsep nilai tempat perlu dipahami siswa terutama untuk menuliskan lambang bilangan yang lebih besar dari 9 menurut Thompson (dalam Payne, 1993 : 2), “Terdapat 3 komponen dasar pengetahuan tentang nilai tempat, yaitu : coseptual model, oral representationis, dan symbolic representationis”. Dengan demikian memahami nilai tempat berarti memeiliki pengetahuan konseptual yang diwakili oleh model (alat peraga yang mewakili pengetahuan konseptual bilangan dasar sepuluh) dan berarti pula mempunyai kemampuan untuk menyatakan  pengetahuan itu dengan kata-kata (lisan) dan lambang (simbol) tertulisnya.
Aktivitas membilang (mencacah) merupakan hal penting bagi pengembangan konseptual dan juga merupakan cara utama untuk menyusun hubungan dengan kata-kata dan tertulis, pemahaman yang baik mengenai bilangan dua angka atau lebih melibatkan penulisan masing-masing bilangan dalam kerangka unsur-unsurnya, hubungannya dengan bilangan lain, dan pengalaman-pengalaman praktis, misalnya berpikir bilangan 325, maka : (1) unsur-unsur bagiannya adalah 3 ratusan, 2 puluhan, dan 5 satuan. (2) hubungan dengan bilangan lain, lebih dari 300 : kurang dari 350.
5.    Deskripsi Materi Pokok Operasi Hitung Bilangan
Menurut Kurikulum 2006, Depdiknas (2006a : 23), materi pokok operasi hitung bilangan kompetensi dasar mengenal dan menggunakan konsep bilangan cacah dalam pemecahan masalah terdapat indikator-indikator :
a.      Menuliskan bilangan secara panjang (ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan).
b.      Menentukan nilai tempat sampai dengan ribuan.
c.      Melakukan operasi penjumlahan tanpa menyimpan dan dengan menyimpan.
d.     Melakukan operasi pengurangan tanpa meminjam dan dengan meminjam.
e.      Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan dan pengurangan.
Materi untuk indikator pertama dan kedua yaitu menuliskan bilangan secara panjang (ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan) dan menentukan nilai tempat sampai dengan ribuan adalah sebagai berikut :
 
 
 
 
 
 
 


 
 
 
 
 

1.234 jika ditulis secara panjang
1.234    = 1.000 + 200 + 30 + 4
= 1 ribuan + 2 ratusan + 3 puluhan + 4 satuan
 
Materi untuk indikator ketiga yaitu melakukan operasi penjumlahan tanpa menyimpan dan dengan menyimpan adalah sebagai berikut :
·        Penjumlahan Tanpa Menyimpan
 
 
 
 
 
 


 
 
 
 
 

Secara susun panjang :
2.145  =   2.000   +  100   +    40   +    5
   234  =                    200   +    30   +    4 +
           =   2.000   +  300   +    70   +    9
           =   2.379
Jadi, 2.145 + 234 = 2.379
 
 
 
 
 
 
 
 
 
·        Penjumlahan dengan Menyimpan
 
                                                                                            Jumlah Satuan
                                                                                                        1
  1 4 2  7
                                                                                                     2 2  9  +
                                                                                                             6
                                                                                                         
                                                                                              Jumlah Puluhan
                                                                                                         1
      1  4  2  7
                                                                                                    2  2  9  +
                                                                                                                 5  6
                                                                                                              
 
Ribuan
Ratusan
Puluhan
Satuan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                              Jumlah Ratusan
                      1
                              1  4   2 7
                                                                                                       2  2 9+
                                                                                                6  5  6
 
                                                                                              Jumlah Puluhan
                                                                                                       1
     1  4  2  7
                                                                                                   2  2  9  +
                                                                                               1  6  5  6
 
 
 
 
 
Materi untuk indikator keempat yaitu melakukan operasi pengurangan tanpa meminjam dan dengan meminjam adalah sebagai berikut :
·        Pengurangan Tanpa Meminjam
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                        
                                                                                                         3.324
                                                                                                         1.213 -
                                                                                                         2.111
 
 
 
 
 
 
 


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

                                                                                                                                                                                                                               
 
 
 
 
 
 
 
Dengan susun panjang
3.324   =     3.000    +   300    +   20   +   4
1.213   =     1.000         200    +   10   +    3 -
      =     2.000    +   100    +   10   +   1
      =     2.111
Jadi, 3.324 - 1.213  = 2.111
 
 
 
 
 
·        Pengurangan dengan Meminjam
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
B.     Kerangka Berpikir
Pembelajaran matematika pada materi bilangan cacah kebanyakan siswa masih kurang mengerti bahkan ada siswa yang belum mampu melakukan operasi hitung bilangan , dikarenakan pembelajaran terfokus pada pendidik siswa tidak aktif mengikuti pebelajaran pendidik hanya menggunakan menggunakan metode ceramah sehingga tidak mencapai KKM.
Pendekatan kontruktivisme mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran dengan mengetahui langkah-langkah menyusun bilangan secara panjang, nilai tempat opersi hitung dan pemecahan masalah yang melibatkan penjumlahan dan pengurangan.
Diharapkan hasil belajar siswa meningkat pada materi bilangan cacah setelah menggunakan pendekatan kontruktivisme  pada siswa kelas III SD Negeri Sinagar Kecamatan Sukaratu.
 
C.    Hipotesis Tindakan
Peneliti merumuskan hipotesis tindakan “Melalui Pendekatan  konstruktivisme dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan cacah pada siswa kelas III SD Negeri Sinagar”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.      Seting Penelitian
1.         Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas  ini dilakukan di kelas 3 SD Negeri  Sinagar kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya .
2.         Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2012/2013 di kelas III SD Negeri Sinagar Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.
3.      Subjek Penelitian
Subjek penelitiannya adalah siswa kelas III  SD Negeri Sinagar  dengan jumlah peserta didik sebanyak  20 orang  yang  terdiri dari.  L = 8,  P  = 12 , Dalam  penelitian  ini  peneliti  dibantu  oleh guru-guru di SD Negeri  Sinagar yang  sudah  berpengalaman.
4.      Subjek Penelitian
Subjek penelitiannya adalah siswa kelas 3. Dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh guru-guru di SD Negeri  Sinagar yang sudah berpengalaman.
 
 
 
B.       Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah dengan cara :
1.      Melaksanakan ulangan harian
Ulangan harian akan dilaksanakan setiap akhir siklus, guna melihat peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi bilangan cacah  dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme.
Memberikan tugas kelompok
Tugas kelompok digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok dalam upaya pemecahan masalah.
Memberikan tugas individu
Tugas individu dilakukan secara periodik untuk diselesaikan oleh setiap peserta didik berupa tugas rumah. Tugas individu dipakai untuk mengungkap kemampuan aplikasi sampai evaluasi atau untuk mengungkap penguasaan hasil latihan dalam menggunakan alat tertentu, melakukan prosedur tertentu.
Melaksanakan observasi
Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dari setiap siklus. Observasi dilakukan oleh teman sejawat dari pendidik SD Negeri Sinagar  Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya sebagai observer agar hasil  pengamatan lebih teliti guna melihat aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dan sebagai bahan informasi untuk melakukan tindak lanjut pada siklus berikutnya.
Penyebaran angket
Penyebaran angket dilakukan setelah seluruh tindakan diberikan, dengan tujuan untuk melihat respon peserta didik terhadap penggunaan pendekatan kontruktivisme  dalam  proses pembelajaran pada materi bilangan cacah. Selain itu hasil angket akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang mendukung terhadap kebenaran dari hipotesis tindakan.
 
C.      Instrumen penelitian
Arikunto, Suharsimi (2006:160) menyatakan ”Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yag digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya lebih baik”. Instrumen dalam penelitian ini berupa:
Soal Ulangan Harian
Bentuk soal ulangan harian berupa urian, dengan alasan bahwa dalam penyelesaian soal matematika, penelitian bukan hanya pada jawaban itu sendiri, tetapi pengerjaan pada setiap langkah akan diteliti dan diberi nilai, sehingga diperoleh skor total yang mencerminkan keutuhan kompetensi peserta didik tersebut. Tes ini dibuat berdasarkan validitas isi, sesuai dengan pendapat Ruseffendi, E.T ( 2003 : 133 ) bahwa validitas isi berkenaan dengan kesahihan instrumen dengan materi yang akan ditanyakan, baik menurut perbutir soal maupun menurut soalnya secara menyeluruh. Skor maksimal ideal untuk tiap butir adalah 100.
Tugas Kelompok
Tugas kelompok diberikan pada setiap proses pembelajaran dalam tiap siklus berupa Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS berupa soal-soal bentuk uraian yang harus dikerjakan oleh setiap peserta didik dalam kelompok. Skor maksimal ideal tugas kelompok adalah 100.
Tugas Individu
 Tugas individu diberikan pada setiap akhir pembelajaran dalam tiap siklus berupa soal-soal  latihan bentuk uraian dari materi yang baru diberikan untuk dikerjakan oleh peserta didik dirumah. Skor maksimal ideal untuk setiap tugas individu adalah 100.
Lembar Observasi
Observasi adalah  suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan  menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian-kejadian yang  sedang  berlangsung. Sifat observasi yang digunakan adalah sifat observasi sistematis, yaitu observasi yang dilakukan menurut struktur  yang  berisikan faktor-faktor yang telah diatur berdasarkan kategori, masalah  yang  hendak diobservasi. Sedangkan alat pencatat observasi yang digunakan adalah Check List, yaitu suatu daftar pengamatan, dimana observer tinggal memberikan  tanda check atau  tanda-tanda lain terhadap ada tidaknya aspek-aspek yang diamati per 10 menit.
Aktivitas peserta didik yang akan diobservasi meliputi aktivitas mendengarkan penjelasan/petunjuk peserta didik, aktivitas membaca, aktivitas diskusi kelompok, aktivitas tanya jawab, aktivitas mengerjakan tugas, aktivitas mengemukakan  pendapat dan aktivitas lain yang tidak sesuai dengan kegiatan belajar.
Untuk lebih jelasnya, penulis nyatakan dalam bentuk tabel kisi-kisi lembar observasi berikut: 
Tabel 3.1
Kisi – kisi Lembar Observasi
Masalah Penelitian
Indikator
Jumlah
Item
Penggunaan pendekatan kontruktivisme pada materi bilangan cacah  di kelas III  SD Negeri Sinagar
Aktivitas mendengarkan penjelasan/ petunjuk pendidik
1
Aktivitas diskusi kelompok
1
Aktivitas bertanya kepada pendidik
1
Aktivitas tanya jawab dalam kelompok
1
Aktivitas mengerjakan tugas kelompok
1
Aktivitas mengemukakan pendapat
1
Aktivitas lain yang tidak sesuai dengan kegiatan pembelajaran
1
Jumlah
7
 
Lembar Angket
Menurut Ruseffendi, E.T (1998 : 107) ”Angket adalah sekumpulan pernyataan atau pernyataan yang harus dilengkapi oleh responden dengan memilih  jawaban atau menjawab pertanyaan melalui jawaban yang sudah disediakan  atau melengkapi kalimat dengan jalan mengisi”. Bentuk angket yang digunakan penulis untuk mengetahui respon peserta didik terhadap pendekatan kontruktivisme  yang digunakan pendidik dalam pembelajaran pada materi bilangan cacah  adalah angket tertutup dalam bentuk pernyataan, dengan alasan bahwa angket tertutup lebih sedikit memerlukan waktu dibanding angket terbuka.
Model skala untuk mengungkapkan sikap peserta didik terhadap penggunaan pendekatan kontruktivisme  dalam proses pembelajaran pada materi bilangan cacah  adalah model berdasarkan skala Likert.
Menurut Suherman, Erman (2003 : 190) pembobotan untuk pernyataan favorable Sangat Setuju (SS) diberi skor 4, setuju (S) diberi skor 3, tidak setuju (TS) diberi skor 2, dan sangat tidak setuju (STS) diberi skor 1.
Untuk pembobotan unfavorable sangat setuju (SS) diberi skor 1, setuju (S) diberi skor 2,  tidak setuju (TS) diberi skor 3, dan sangat tidak setuju (STS) diberi skor 4.
Untuk memberikan arahan dalam penyusunan item angket penulis kemukakan kisi-kisi penulisan angket:
 
 
 
 
Tabel 3.2
Kisi-kisi Penyusunan Angket Peserta didik
Masalah Penelitian
Respon Apektif Peserta didik
Jumlah Item
Positif
Negatif
Penggunaan pendekatan kontruktivisme pada materi bilangan cacah  di kelas III  SD Negeri Sinagar
Sikap peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan  pendekatan kontruktivisme pada materi bilangan cacah
1, 2, 5
3, 4, 6
Minat peserta didik terhadap pembelajaran  dengan pendekatan kontruktivisme pada materi bilangan cacah
7, 8, 9, 11
2
Apresiasi peserta didik dalam pendekatan kontruktivisme pada materi bilangan cacah
12, 15,
13, 14
 
 
D.      Desain Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas, menurut Arikunto, Suharsimi ( 2007 : 16) ”Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi”.
Desain penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
 
 
 
Perencanaan
SIKLUS I
Pengamatan
Perencanaan
SIKLUS II
Pengamatan
Pelaksanaan
Refleksi
Refleksi
Pelaksanaan
?
Perencanaan
SIKLUS III
Pelaksanaan
Refleksi
Pengamatan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Desain Penelitian Tindakan Kelas
(Arikunto, Suharsimi, 2007:16)
 
Berdasarkan  Desain  diatas, maka penelitian yang berlangsung meliputi tahap-tahap sebagai berikut :
1.      Perencanaan (Planning) atau Persiapan Awal.
Pada tahap ini peneliti  merencanakan kegiatan dan menetapkan waktu dan cara penyajian. Menyiapkan alat observasi untuk aktivitas siswa saat pembelajaran, menentukan alternatif tindakan yang dapat dilakukan, menyusun rencana tindakan, menyiapkan alat dan teknis analisis data.
2.      Tindakan (Action)
Tindakan (action) merupakan tahap pelaksanaan dari perencanaan. Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan yang telah disepakati bersama pada tahap perencanaan. 
3.      Pengamatan (Observation)
Pada tahap ini peneliti mengobservasi tindakan yang dilakukan dengan teknik observasi dan catatan lapangan.
4.      Refleksi (Reflection)
Refleksi (reflection) merupakan tahap akhir dari suatu daur penelitian tindakan kelas. Pada tahap ini peneliti mendiskusikan hasil tindakan dan masalah yang terjadi di kelas penelitian. Refleksi dapat ditentukan setelah adanya implementasi tindakan dan hasil observasi. Setelah melakukan refleksi biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru, sehingga merasa perlu melaksanakan perencanaan ulang, tindakan ulang, atau pengamatan ulang.
E.       Prosedur Penelitian
Langkah-langkah dalam penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu:
1.      Tahap Persiapan
a.       Mendapat Surat Keputusan Dekan FKIP UHAMKA mengenai bimbingan skripsi.
b.      Melakukan konsultasi dengan pembimbing I dan II mengenai permasalahan yang akan dijadikan bahan penelitian.
c.       Mengajukan judul penelitian kepada pembimbing I dan II, yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti.
d.      Meminta persetujuan untuk judul penelitian kepada pembimbibg I dan II.
e.       Menyusun proposal penelitian atas arahan dan bimbingan dari pembimbing I dan II.
f.       Melakukan revisi proposal penelitian atas saran dan arahan pembimbing I dan II.
g.      Mengajukan permohonan pelaksanaan seminar proposal ke Dewan Pembimbing Skripsi (DPS).
h.      Melaksanakan seminar proposal penelitian.
i.        Meminta surat izin untuk melaksanakan observasi dan penelitian.
 
2.      Tahap Pelaksanaan
a.       Melakukan  koordinasi  dan  konsultasi dengan  kepala SD Negeri  Sinagar  Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya tentang pelaksanaan penelitian.
b.      Meminta izin kepada kepala SD Negeri  Sinagar  Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya, untuk pendidik yang akan dijadikan observer dalam penelitian.
c.       Melaksanakan penelitian tindakan melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme.  Metode yang digunakan adalah metode diskusi, tanya jawab dan pemberian tugas dalam tiap siklus, dengan langkah-langkah tindakan pembelajaran sebagai berikut :
1)      Tahap Perencanaan, meliputi penyusunan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap siklus dengan pendekatan kontruktivisme, kemudian dikonsultasikan dengan  dosen  pembimbing  dan  para observer untuk diketahui.  Menyusun bahan ajar,  tugas kelompok, tugas individu berupa soal bentuk uraian sebagai pekerjaan rumah (PR), perangkat tes berupa soal bentuk uraian, lembar observasi dan angket siswa.
2)      Tahap Pelaksanaan Tindakan, meliputi pelaksanaan proses pembelajaran dengan tahapan :
a)      Kegiatan Awal, meliputi :
·         Mengaitkan kembali materi yang adakaitannya dengan materi yang akan diberikan.
·         Menyampaikan tujuan pembelajaran.
·         Menyampaikan model, metode, pendekatan yang akan digunakan dalam pembelajaran.
 
 
b)      Kegiatan Inti, meliputi:
·         Meminta peserta didik untuk duduk sesuai kelompoknya masing-masing. Pembentukan kelompok dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan diberikan. Pembentukan kelompok dilakukan secara heterogen dilihat dari jenis kelamin dan tingkat kemampuan berdasarkan hasil belajar semester 1.
·         Mengajukan  suatu  masalah yang  berkaitan dengan  kehidupan sehari-hari sesuai dengan materi yang akan diberikan.
·         Peserta didik diminta untuk mendiskusikannya dalam kelompok.
·         Pendidik  meminta  salah  satu kelompok untuk mengemukakan gagasan kelompoknya untuk memecahkan masalah tersebut.
·         Pendidik membimbing peserta didik untuk mengkontruksi sendiri pola pikir peserta didik lewat tanya jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut.
·         Setiap  anggota  kelompok diminta untuk membaca bahan  ajar,  menyelesaikannya dan mengerjakan tugas kelompok. Pendidik  mengisyaratkan untuk saling membantu antar anggota kelompok sehingga setiap anggota kelompok benar-benar  memahami  materi dan tugas yang diberikan.  Jika dalam kelompok mendapat kesulitan, diperkenankan untuk meminta bimbingan pendidik.
·         Pendidik meminta perwakilan dari kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, dan kelompok yang lain menanggapinya.
c)      Kegiatan Akhir, meliputi:
·         Mengarahkan peserta didik membuat rangkuman
·         Melakukan refleksi
·         Memberikan tugas PR
·         Melaksanakan tes
3)      Tahap Refleksi
Repfleksi dilaksanakan diluar jam pelajaran disetiap akhir siklus antara peneliti dengan observer guna mendapatkan informasi dari pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan untuk perbaikan tindakan selanjutnya pada siklus berikutnya.
a)      Melaksanakan ulangan harian tiap akhir siklus untuk memperoleh data penelitian.
b)      Penyebaran angket pada akhir pelaksanaan tindakan.
c)      Pengumpulan data.
 
3.      Tahap Pengolahan dan Analisis Data
a.       Analisis Data.
b.      Membuat kesimpulan dari hasil analisis data.
F.       Teknik Pengolahan dan Analisis Data
1.      Analisis Hasil Ulangan Harian
a
b
Data yang akan diolah berupa rata-rata hasil ulangan harian dari tiap siklus. Penskoran tiap butir soal ulangan harian mengacu kepada rumus menurut Widaningsih, Dedeh ( 2006.45 ) sebagai berikut:
SBS =           xc
Keterangan :
                    SBS = Skor Butir Soal
a =  Skor mentah yang diperoleh
b =  Skor mentah maksimum soal
c =  Bobot soal
Perhitungan Skor Total Siswa (STS) untuk seperangkat tes setiap peserta didik diperoleh dengan menjumlahkan Skor Butir Soal (SBS).
Tugas Kelompok
Untuk  menghitung  skor  tugas  kelompok yang berupa LKS dilakukan dengan memberikan skor maksimal ideal 100.
 
 
Tugas Individu
Untuk  menghitung  tugas  individu yang berupa tugas pekerjaan rumah dilakukan dengan memberikan skor maksimal  ideal 100.
Hasil Belajar Peserta didik
Hasil  belajar  peserta didik dalam penelitian ini  akan dilihat  dari rata-rata  skor  ulangan  harian,  rata-rata skor  tugas  kelompok, dan  rata-rata skor tugas individu. Skor akhir hasil belajar peserta didik tersebut akan dihitung dengan menggunakan rumus:
2a+b+c
4
Skor Akhir =
Keterangan :
a  = skor ulangan harian
 b  = Rata-rata skor tugas individu
 c  =Rata-rata skor tugas kelompok
Pengolahan Hasil Observasi
Untuk menganalisis hasil observasi mengenai aktivitas peserta didik akan dicari persentase tiap kategori aktivitas peserta didik dari setiap tindakan dengan rumus:
X100%
Persentase aktivitas =
                                                jumlah frekuensi tiap kategori aktivitas /10’      
                                           Jumlah frekuensi seluruh kategori aktivitas /10’
 
Pengolahan Hasil Penyebaran Angket Peserta didik
Data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket terhadap peserta didik, diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Memberikan penskoran untuk setiap kategori pada tiap item. Menurut Suherman, Erman (2003 : 190) pembobotan untuk pernyataan favorable Sangat Setuju (SS) diberi skor 4, Setuju (S) diberi skor 3,  tidak setuju (TS) diberi skor 2, dan sangat tidak setuju (STS) diberi skor 1. Untuk pembobotan unfavorable sangat setuju (SS) diberi skor 1, Setuju (S) diberi skor 2, tidak setuju (TS) diberi skor 3, dan sangat tidak setuju (STS)diberi skor 4.
b.      Memasukan data ke dalam tabel analisis respon peserta didik untuk tiap item.
Tabel 3.3
                                 Analisis Respon Peserta didik item positif
Alternatif Jawaban
Pernyataan Positif
f.x
Rata – rata
_
( x )
 
Frekwensi
(f)
Skor
(x)
Sangat Setuju (SS)
 
4
 
_
X = Σƒ.x
Σƒ
Setuju (S)
 
3
 
Tidak Setuju (TS)
 
2
 
Sangat Tidak Setuju   (STS)
 
1
 
 
Σƒ
 
Σƒ.x
 
 
 
 
Tabel 3.4
                               Analisis Respon Peserta didik item negative
Alternatif Jawaban
Pernyataan Negatif
f.x
Rata – rata
_
( x )
 
Frekwensi
(f)
Skor
(x)
Sangat Setuju (SS)
 
4
 
_
X = Σƒ.x
Σƒ
Setuju (S)
 
3
 
Tidak Setuju (TS)
 
2
 
Sangat Tidak Setuju  (STS)
 
1
 
 
Σƒ
 
Σƒ.x
 
 
 
c.       Kriteria untuk data hasil angket
Peserta didik digolongkan memiliki sikap positif atau bersikap positif   x ≥ 2,5, dan  memiliki sikap negative atau bersikap negative  jika x  ≤  2,5.
 
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
 
Berikut ini macam-macam guru di Negera Kita Tercinta Republik Indonesia.
1. Guru PNS Kemendikbud
Guru yang ini dijamin oke. Status pegawai negeri sipil alias PNS. Masa depan dijamin. Ada pensiun plus tunjangan anak. Apalagi yang sudah lulus sertifikasi plus PNS di Jakarta. Ada tunjangan sertifikasi (pusat) ditambah TKD DKI Jakarta (Tunjangan Kinerja Daerah). Berada pada level convert zone (zona nyaman). Banyak yang berkompetisi menjadi guru PNS. Boleh di daerah apalagi di Jakarta. Tugas hanya mengajar, mengajar dan mengajar. Identik dengan anggota PGRI. Inilah realita guru PNS Kemendikbud, benar-benar aman dan nyaman.
 
2. Guru PNS Kemenag
Perbedaannya terlihat di nomor induk pegawai (NIP). Lulus tes CPNS via Kementerian Agama (Kemenag). Mengajar di satuan pendidikan (sekolah) di bawah yurisdiksi Kemenag. Status sama yakni PNS. Masa depan dijamin dan ada tunjangan anak plusdana pensiun. Yang sudah lulus sertifikasi dapat tunjangan lagi. Walaupun pola distribusi tunjangan sertifikasinya berbeda dengan pola Kemendikbud. Tapi sama-sama sudah nyaman. Khususnya yang di ibu kota. Biasanya mengajar di madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyyah (MTs) atau madrasah aliyah (MA). Bisa juga guru agama di sekolah-sekolah negeri umum (di bawah Kemendikbud). Umumnya masuk PGRI juga.
 
3. Guru Honorer Sekolah Negeri
Nasibnya jauh berbeda dengan guru PNS di atas. Statusnya guru honor. Honor dari sekolah. Nominalnya tergantung jam pelajaran ditambah kebijakan kepala sekolah (komite sekolah). Saya punya teman ngajar sebagai guru honor di SMA Negeri di Jakarta, honornya benar-benar horor. Sebulan digaji Rp. 200.000, itupun dipotong pajak. Para guru honorer ini sedang menuntut haknya untuk diangkat menjadi PNS. Tapi pemerintah beralasan Peraturan Pemerintahnya (PP) belum rampung. Jadi nasibnya terkatung-katung. Hampir tiap minggu demonstrasi di depan istana negara, kantor kemendikbud bahkan di depan gedung MPR. Banyak yang ogah masuk PGRI. Punya persatuan guru honorer seindonesia. Walaupun bagi yang honor di sekolah negeri di kota-kota, agak takut dan tak bernyali jika ikut demonstrasi. Takut di foto, jika nantinya dilihat oleh BKD (Badan Kepegawaian Daerah) lantas dipersulit pengangkatan PNS-nya. Bisa-bisa tak diangkat menjadi PNS DKI karena pernah mendemo pemerintah. Ikhtiar menjadi PNS tengah di-jihad-kan oleh kawan-kawan kita yang satu ini.
 
4. Guru Tetap Yayasan
Hampir serupa sebenarnya dengan guru PNS di sekolah negeri. Status saja yang beda. Yang satu pegawai negeri, yang ini pegawai swasta (yayasan). Bagi yang sudah lulus sertifikasi mendapatkan tunjangan sertifikasi. Khusus yang tinggal di Jakarta dapat TKD pula. Relatif aman karena sudah punya penghasilan tetap dan status pegawai swasta. Walaupun tergantung juga dengan yayasan yang menaunginya. Tak sedikit pula ada yayasan sekolah yang horor, karena gajinya minor. Untuk status memang sudah jelas, yakni guru tetap yayasan. Walapun tak seperti guru PNS yang dapat dana pensiun rutin.
 
5. Guru Tidak Tetap Yayasan
Yang ini hampir serupa pula dengan guru honor. Adakalanya disebut juga dengan guru honor. Statusnya guru honor/tidak tetap yayasan. Biasanya guru muda atau yang belum selesai kuliah S-1. Bisa juga yang hanya tamatan SPG-D3. Umumnya guru honor yayasan ini nasibnya sama dengan guru honor lainnya. Belum memiliki gaji pokok atau tunjangan. Honor dibayarkan sesuai jumlah jam mengajar saja. Biasanya mengajar di beberapa sekolah, demi menutupi kebutuhan hidup. Jarang sekali yang masuk PGRI, tapi tergabung dalam persatuan guru honorer Indonesia. Kelompok ini bisa dikatakan guru “pejuang”. Karena mesti terus berjuang menuntut kesejahteraan mereka.
 
6. Guru PNS Diperbantukan di Sekolah Swasta
Beberapa teman penulis statusnya sebagai guru diperbantukan di sekolah swasta. Statusnya tetap sebagai PNS, tapi aktivitas mengajarnya di sekolah swasta. Kebijakan pemerintah memang sangat ruwet dan ribet. Guru bantu yang model ini berstatus PNS tapi tugas mengajarnya di sekolah swasta. Bahkan banyak juga guru bantu PNS ini yang sudah jadi pegawai tetap di sekolah swasta tersebut. Pada akhir Desember 2011 kemarin, pemerintah kembali menarik dan mereposisi para guru bantu di sekolah swasta ini, untuk bertugas di sekolah negeri. Lalu merekapun meninggalkan status sebagai guru tetap yayasan. Complicated memang menjelaskannya. Tapi ini adalah potret betapa tak mudahnya mengurus dan mengatur distribusi guru secara nasional.
 
7. Guru PTT (Pegawai Tidak Tetap) Pemda
Guru model ini khas kebijakan Pemda di daerah-daerah. Lebih menonjol terlihat di Jakarta. Misalnya Jakarta, akibat kebijakan pemerintah DKI yang mengangkat guru PTT (Pegawai Tidak Tetap) Pemda. Mereka mengajar di sekolah negeri. Guru PTT ini ditugaskan mengajar di sekolah-sekolah negeri di Jakarta. Khusus di Jakarta, para guru PTT ini sudah selesai diangkat menjadi PNS DKI Jakarta sekitar 2010. Bersamaan itu pula, guru honorer di sekolah negeri di Jakarta, pun meminta status yang sama yaitu menjadi PNS DKI. Tapi sampai saat ini khusus guru honorer di sekolah negeri DKI tak kunjung diangkat juga.
 
8. Guru SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal)
Adalah program pemerintah pusat untuk mendistribusikan tenaga pendidik ke daerah-daerah terluar dan tertinggal, seperti di pulau-pulau terluar berbatasan langsung dengan negara lain. Status mereka adalah PNS. Mereka pun memperoleh tunjangan khusus guru di daerah tertinggal. Walaupun negara memberikan apresiasi yang cukup tinggi (melalui beragam tunjangan), tapi beban kerja mereka sangat berat. Sebab tantangannya adalah infrastruktur di daerah, harga kebutuhan pokok yang mahal, akses informasi yang sangat minim, kultur masyarakat sekitar bahkan nyawa risikonya. Karena untuk menuju sekolah (rumah warga/pondok tempat belajar), harus masuk hutan ke luar hutan.
 
9. Guru Ngaji
Khusus status guru yang terakhir ini tak masuk dalam daftar inventarisasi guru baik di Kemendikbud maupun di Dinas Pendidikan Daerah. Apa sebab? Guru mengaji adalah para pendidik yang tak mengharapkan status atau pengakuan dari negara. Mereka cukup diakui oleh masyarakat kampung dan Tuhan Yang Maha Esa. Bukan hendak mendikotomikan secara diametral antara guru versi negara dengan guru versi agama (Tuhan). Tapi realitanya, guru mengaji taklah memperoleh apresiasi apapun dari negara. Jangankan tunjangan kinerja, terdaftarpun tidak dalam catatan negara. Yang memberikan penghargaan sangat tinggi cukup masyarakat dan Tuhan. Cukup dibayar dengan segelas beras, atau sesisir pisang bahkan seikat daun singkong dari orang tua murid.
 
Tak jarang guru yang satu ini terlupa dari sibuknya demonstrasi menuntut status PNS atau tunjangan kinerja di ibu kota. Untuk mengaji taklah harus persiapan apa-apa. Tinggal bawa badan dan kemauan saja. Karena guru pun di rumah atau di surau kecilnya sudah menyediakan Juz ‘Amma dan Iqra yang berumur sudah tua. Terlihat agak kusam warna sampul dan lembarannya. Tapi semangat mengigat Tuhan tak kunjung terhenti dari mulut si guru bersama para muridnya. Di sisi lain para orang tua berlomba dan bersusah payah mencari rupiah agar anaknya terus bersekolah. Tapi si anak sangat gugup dan terbata-bata ketika disuruh membaca Al-Fatihah atau Al-Baqarah.
 
Silahkan kita memilih, guru yang manakah anda? Satu hal yang menjadi catatan adalah betapa masih runyamnya masalah guru di Indonesia. Terutama masalah kesejahteraan dan status kepegawaian.....
 ·  Translate
2
Add a comment...
In his circles
467 people
Have him in circles
103 people
SONE'SoNyeoShiDae SNSD'GG's profile photo
dyan east java's profile photo
cryss tyna's profile photo
dhyah ayu kusumawardhani's profile photo

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
 
The STRUGGLE SUKWAN # 1 every job there is nothing contemptible for that job is halal, one motivation in the hdup should always be embedded, go through the day without an adequate salary, although sometimes thought Shorty but was not in fact the purpose of life, where there is already a provision that set them up no matter how hard work if it wasn't the right will not be achieved and vice versa. The work as it is not contemptible sukwan nor proud, in every job needs to sacrifice to reach a goal, as there is no such thing as educators like any volunteer or depinitif, just wages that distinguishes the rest of the obligation is the same. It's a pride as an educator at the break cross paths with his protégé and say salam% u201D assalamu alaikum wr. wb,% u201D. It is indeed a Heartland invaluable though calculated by money, because keiklasan say greetings cannot be bought with money. Not all employees received such greetings.

PERJUANGAN SANG SUKWAN #1
Setiap pekerjaan tak ada yang hina selama pekerjaan itu halal, salah satu motivasi dalam hdup yang harus selalu tertanam, menjalani hari walau tanpa gaji yang memadai terkadang berfikir kerdil namun ternyata bukan itu sebenarnya tujuan dari hidup, dimana sebuah rezeki sudah ada yang mengaturnya seberapa keras pun kerja kalau bukan haknya tak akan tercapai begitu pula sebaliknya.
Pekerjaan sebagai sukwan tidaklah hina tidak pula bangga, dalam setiap pekerjaan perlu pengorbanan untuk mencapai tujuan, sebagai pendidik tak ada yang namanya suka relawan atau pun yang depinitif, hanya upah yang membedakan selebihnya kewajiban adalah sama.
Sungguh suatu kebanggaan sebagai seorang pendidik dikala berpapasan dengan anak didiknya dan mengucapkan salam” assalamu,alaikum wr.wb”. sungguh suatu kebanggan yang tak ternilai harganya walau dihitung dengan uang, karena keiklasan mengucapkan salam tak dapat dibeli dengan uang.
Tak semua pegawai mendapat sapaan seperti demikian pejabat sekalipun dokter dan artis, tetapi sebagai pendidik walau itu sukwan atau pun definitif tetap anak-anak selalu menghargai dengan ucapan salam tersebut.
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
 
                                       PERJUANGAN  SANG SUKAWAN
           2004 adalah tahun menitik karir setelah lulus Madrasah Aliyah (MA) ditahun itu pula perjalanan hidup minitik karir dimulai, perjalanan yang begitu panjang disertai harapan dan kesabaran yang terbuai dengan harapan dan janji yang terasa lambat terlealisasi.
Tak merubah haluan walaupun perubahan keadaan begiru cepat berkembang, banyak hal yang dirasakan antara suka dan duka. Tak kan jadi  suatu beban demi ncapai sebuah tujuan mulia demi masa depan yang lebih baik
         Dari tahun ketahun tak terasakan walau sebuah pengabdian yang tak ada harganya namun kesungguhan hati untuk meraih cita-cita itu cepat terwujud.
Tahun 2007 selesai pendidikan keguruan diploma menjadi sebuah bekal dan haran begitu besar untuk meraih tujuan hidup walaupun tak ada harga lagi pendidikan itu tergerus kemajuan perkembangan zaman namun bukan berarti itu sebuah akhir yang menyedihkan, karena dalam keterbatasan apapun ada jalan keluar walau sulit.
      2010 melanjutkan pendidikan sebagai  tutuntan dan prasyarat  pemerintah untuk melanjutkan karir sebagai tenaga sukarelawan dengan jenjang  sarjana atau S1 dan dan lulus tahun 2012.
      Suka duka  sebagai seorang pendidik , banyak cerita tentang kehidupan mengajar anak-anak usia sekolah dasar banyak kelucuan dan keseriusan menghadapai anak usia itu, pada saat pertama masuk ke sekolah dasar belum tahu apa yang harus dilakukan karena masih belum paham bagaimana cara mengajar,  sekolah yang pertama dan sekarang masih aktif adalah SD Negeri Sinagar  Kecamatan Sukaratu dengan Kepala Sekolah waktu itu bernama Maman Suparman,S.Pd.  beliau yang mengantarkan sampai sekarang ini, selama hampir satu tahun belajar  mengajar kelas menggantikan guru-guru yang ada kepentingan diluar sekolah, dan pada tahun kedua mulai memegang kelas IV. 
      Dalam kondisi masih kuliah menempuh pendidikan diploma banyak mata kuliah yang bisa langsung di praktekan disekolah, salah satunya mata kuliah Strategi Pengajaran di SD didalamnya banyak metode-metode tentang mengajar anak Sekolah Dasar,
 
 
 
 
 
 
                                                                                                                                                       
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
 
JADWAL UJIAN PRAKTEK KELAS 6
TAHUN PELAJARAN
SD NEGERI SINAGAR
NO
MATA PELAJARAN
HARI/TANGGAL
WAKTU
KETERANGAN
01
BAHASA INDONESIA
SENIN,01 April 2013
07.30-12.00
 
02
IPA
SELASA,02 April 2013
07.30-12.00
 
03
PENJAS
RABU,03 April 2013
07.30-12.00
 
04
BAHASA SUNDA
KAMIS,04 April 2013
07.30-12.00
 
05
PAI
JUM'AT,05 April 2013
07.30-12.00
 
06
SBK
SABTU,06 April 2013
07.30-10.00
10.30-12.00
 
07
B. INGGRIS
 
SINAGAR,   April 2013
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MATERI UJIAN PRAKTEK KELAS IV
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
 
NO
HARI/
TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
5
JUM'AT,          05 April 2013
07.30-12.00
·         IBADAH
a.          PRAKTEK WUDLU
b.         PRAKTEK SHOLAT
 
·         MEMBACA SURAT PENDEK BESERTA ARTINYA
a.       QS. AL-ALAQ
b.      QS. AL-IKHLAS
c.       QS. AN- NASHR
d.      QS. AL- KAUSTSAR
Pilih Salah Satu
SINAGAR,   April 2013
Penguji Praktek
 
 
 
 
Dadang
NIP. 19570416 198507 1 001
Mengetahui ,
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MATERI UJIAN PRAKTEK KELAS IV
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA
 
NO
HARI/
TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
1
SENIN,           01 April 2013
07.30-12.00
·         MEMBUAT TEKS PIDATO
a.       KEAGAMAAN
b.      PERPISAHAN KELAS VI
 
·         MEMBACA PIDATO
 
 
Pilih
Salah Satu
SINAGAR,   April 2013
Penguji Praktek
 
 
 
 
IMAS MASIROH,S.Pd.
NIP. 19821010 200801 1 014
Mengetahui ,
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MATERI UJIAN PRAKTEK KELAS IV
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : IPA
 
NO
HARI/
TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
2
SELASA,        02 April 2013
07.30-12.00
·         LISTRIK
a.       MEMBUAT RANGKAIAN SERI
b.      MEMBUAT RANGKAIAN PARALEL
 
·         MENCANGKOK TANAMAN
 
 
Pilih
Salah Satu
 
Penguji Praktek
1.       Dede Mulyana
1.
2.       Acep sandi Somantri, S.Pd.
2.
 
 
SINAGAR,   April 2013
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

MATERI UJIAN PRAKTEK KELASVI
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : SBK
 
NO
HARI/ TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
6
SABTU,         06 April 2013
07.30-10.00
·         SENI SUARA
a.       LAGU WAJIB
v  TANAH AIRKU
v  INDONESIA PUSAKA
 
b.      PUPUH
v  WIRANGRONG
v  BALAKBAK
Pilih
Salah Satu
·         SENI LUKIS
TEMA : KEGIATAN ANAK SEKOLAH
Dibuat pada kertas karton ukuran 40x60 menggunakan cat air
SINAGAR,   April 2013
Penguji Praktek
 
 
 
 
IIS SUKAESIH,S.Pd.
NIP. 19821010 200801 1 014
Mengetahui ,
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                                         
 
MATERI UJIAN PRAKTEK KELASVI
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : PENJASKES
 
NO
HARI/ TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
3
RABU,         03 April 2013
07.30-12.00
·         ATLETIK
a.       Lari Pagi
b.      Lompat jauh
·         SENAM
a.       Senam Indonesia jaya
b.      Senam lantai

·         PERMAINAN
a.       VOLLY BALL
b.      KASTI

SINAGAR,   April 2013
Penguji Praktek
 
 
 
 
AMIN SUPARMAN,S.Pd.
NIP. 19630815 198410 1 009
Mengetahui ,
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                                         
 
 
 
MATERI UJIAN PRAKTEK KELAS VI
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : BAHASA SUNDA
 
NO
HARI/ TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
4
KAMIS,        04 April 2013
07.30-12.00
·         MENULIS :
a.       MENULIS DONENG FABEL
 

·         BERBICARA
a.       Menceritakan Kembali Dongeng Yang Telah Ditulis
 

SINAGAR,   April 2013
Penguji Praktek
 
 
 
 
JAJANG AGUS
NIP. 19630815 198410 1 009
Mengetahui ,
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                                         
 
 
 
 
MATERI UJIAN PRAKTEK KELAS VI
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
MATA PELAJARAN : BAHASA INGGRIS
 
NO
HARI/ TANGGAL
WAKTU
JENIS KEGIATAN
KETERANGAN
6
SABTU,        06 April 2013
10.30-12.00
·         REDING :
A.      STORY TELLING
 

·         SPEAKING:
b.      Menulis kata-kata yang diucapkan penguji
 

SINAGAR,   April 2013
Penguji Praktek
 
 
 
 
LISMA MAESAROH,S.Pd.I.
NIP. 19630815 198410 1 009
Mengetahui ,
Kepala Sekolah
 
 
 
 
Endang Samsul Hidayat
NIP. 19570312 197703 1 001
Mengetahui,
Pengwas TK,SD dan PLS
 
 
 
 
Dudus,S.Ag.
NIP. 19621109 198412 1 003
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Dede Mulyana

Shared publicly  - 
 
KEBERHASILAN BUKAN DATANG SECARA TIBA-TIBA, DO'A ,PROSES DAN PELAKSANAAN
 ·  Translate
1
Add a comment...
People
In his circles
467 people
Have him in circles
103 people
SONE'SoNyeoShiDae SNSD'GG's profile photo
dyan east java's profile photo
cryss tyna's profile photo
dhyah ayu kusumawardhani's profile photo
Education
  • UHAMKA
    2012
Basic Information
Gender
Male
Relationship
Married
Work
Employment
  • PT. BUMERCLUB
    Presiden Direktur
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
TASIKMALAYA
Links