Profile cover photo
Profile photo
Rahasia Autisme
2 followers
2 followers
About
Rahasia's posts

Post is pinned.
LATAR BELAKANG / TUJUAN

Community ini saya bentuk agar saya bisa membagikan pengetahuan, kesimpulan, tips, dan cara pandang yang anak berkebutuhan khusus yang telah saya kumpulkan selama dua dasawarsa pada para orang tua anak autis atau anak berkebutuhan khusus (ABK) atau mereka yang sayang dan peduli pada ABK. Melalui community ini saya berharap saya bisa memberdayakan para orang dengan: 1) menyajikan informasi, pengetahuan, konsep, dan teknik yang perlu diketahui; 2) memberikan panduan agar kita tetap open-minded pada segala cara yang bisa memajukan anak kita dan senantiasa mengevaluasi efektivitas dan efisiensi seluruh program/supplement/vitamin, dan apa pun yang kita bayar; dan 3) menyemangati para orang tua ABK agar terus mengembangkan kapasitas pribadi agar bisa mengembangkan buah hati kita.

Post has attachment
APAKAH ADA UNSUR MAGIS ATAU MISTIS?

Kita semua meyakini ke-Esa-an Tuhan tanpa perlu membuktikan atau mempertanyakan keberadaan-Nya yang tidak bisa dipantau oleh indera manusia. Yang Maha Esa adalah sumber kehidupan yang membuat jantung kita bisa berdetak, pencernakan kita bisa melumat makanan, paru kita bisa menghirup oksigen, yang mengandung energi kehidupan atau chi atau prana atau ki. Bioenergi atau life force berasal dari Sang Khalik, sumber yang menghidupkan dan menghidupi kita semua. Kita tidak perlu me-magis-kan atau me-mistik-kan bioenergi, dan pada saat yang sama kita sendiri menggunakan tenaga atau energi tersebut untuk bernafas, makan, minum, serta buang air besar maupun kecil, atau pun untuk mencela orang lain. Kita semua menggunakan tenaga Ilahi setiap saat dalam hidup kita, tapi kita hanya memanfaatkan sedikit dari potensi yang kita miliki, termasuk menggunakan bioenergi tersebut untuk memulihkan diri kita sendiri atau orang lain yang tengah sakit. Potensi tersebut bukan milik orang-orang tertentu saja, tetapi semua orang punya healing power, dan bisa menjadi healer untuk diri sendiri atau orang lain kalau tahu cara mengolah subtle energ ini.
Meski tidak bisa kita pegang, kita bisa merasakan kehadiran energi ini dalam hidup kita bila mau. Energi atau tenaga atau setrum memang intangible & invisible, tidak bisa dipegang atau dillihat, sama seperti kita tidak pernah bisa memegang PIKIRAN, atau IMAGINATION, yang juga merupakan e-n-e-r-g-i. Kecuali ABK yang umumnya kekurangan setrum untuk menangkap gelombang energi bernama ‘thought’ atau pikiran, kita menggunakan pikiran kita, dan sewaktu kita berpikir, kita perlu DAYA untuk berlogika tapi kita tidak meng-GAIB-kan energi ini, karena memang tidak ada yang gaib sewaktu kita berpikir.
Serupa dengan pikiran, kita semua BISA merasakan ENERGI atau setrum ini secara NYATA di raga kita, senyata merasakan pedasnya cabe rawit sewaktu kita mengunyahnya. Kita tidak perlu mendatangkan energi dari luar karena semuanya ada di dalam tubuh kita, dan kita bisa memanfaatkannya tanpa perlu puasa, bertirakat, atau baca jampi atau mantra apa pun. Segalanya sudah disediakan oleh Allah Swt, dan yang kita perlu cuma menghargai pemberian-Nya serta belajar menggunakannya untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, bahkan seluruh makhluk hidup agar tercipta keselarasan semesta. Hidup kita akan lebih mudah dan bermakna bila kita tahu bagaimana meng-access dan menghadirkan energi untuk memulihkan kondisi ABK kita masing-masing dan membantu sesama kita. Ingin bisa? Sebaiknya SEGERA lah mendaftarkan diri karena lebih cepat lebih ringan biayanya. Pastikan Anda ikut Workshop pada 19 Maret 2016 di Hotel Oasis Amir, Jakarta, dan dapatkan discount sebesar 25% sebelum masa early birds berakhir, karena setelah tanggal 14 Maret, harga naik & kembali normal Rp2.000.000.

Post has attachment
PANTAU SENSORY & MOTOR ABK KITA

Pada Workshop Perdana (12 & 13 September), saya tekankan pentingnya kita selaku orang tua untuk memonitor sensory & motor organs dari anak kita. Fungsi motor yang buruk baik dalam bentuk ucapan, tulisan, maupun gerak kerap timbul karena sensory organs yang tidak berfungsi baik. Orang tuli biasanya gagu. Saya melampirkan bagan yang mengurai 2 sensory organs, yaitu mata dan telinga, dan 3 motor functions yang bisa dimonitor oleh para orang tua pada ABK masing-masing dan hasil monitoring -nya bisa dicatat pada buku harian masing-masing.
Pada indera, kita bisa mencatat perubahan sinar mata dari layu hingga mencorong, dan pada telinga bisa diukur tingkat sensitivity -nya. Pada fungsi motor -nya, kita bisa mengamati tangannya (apakah kaku, lunglai, atau gemetar) dan mulutnya dalam arti seberapa bisa mulut tersebut mengunyah makanan (banyak yang tidak bisa mengunyah), menyedot (minum pakai sedotan atau straw), dan meniup.
Selain itu, yang juga penting dari motor function adalah badannya. Kita perlu mencatat keseimbangannya (vestibular) dan hubungan antara mind & body yang membuat mind -nya itu tahu dan bisa menggerakkan tubuhnya (body awareness), yang dalam sensory integration diistilahkan sebagai proprioception.
Penyiapan masa depan ABK musti bertolak dari sensory. ABK kita harus bisa SENSE WELL, bisa menggunakan inderanya untuk memahami dirinya dan lingkungannya. Bila belum gunakan teori cermin supaya ABK kita bisa mengenali wajah dan tubuh yang tampak pada cermin yang terletak di depannya, dan ini lah salah satu ukuran bisa sense well.
Setelah bisa mengenali dirinya, ABK akan mulai bisa berkehendak (desire) dan berkeinginan (will). Setelah bisa mewujudkan kemauannya, ABK akan belajar untuk menggapai yang diinginkannya dengan menggerakkan raganya untuk mewujudkan niatnya. Di sini ABK belajar mengendalikan bioenerginya. Bila proses ini sudah terjadi, gelar ABK secara berangsur akan ditanggalkannya, karena anak kita tidak lagi berkebutuhan khusus. Ini lah milestones yang melandasi perspectives kita tentang masa depan buah hati kita.

Photo

Post has attachment
CARL JUNG, SALAH SATU IDOLA SAYA

Carl Gustav Jung (1875-1961) adalah tokoh yang membangkitkan saya dari keruntuhan mental setelah mengetahui anak-anak saya semuanya autis, tidak menyadari keberadaan diri mereka (unconscious). Setelah tenggelam beberapa saat, saya mulai mencari tahu melalui internet apa yang terjadi pada anak saya, mengapa mereka tidak se-eling atau sesadar (not as conscious as others) anak lainnya, dan dalam penjelajahan itu saya menjumpai psychotherapist dan psychiatrist C.G. Jung, yang ternyata adalah tokoh besar di bidang consciousness yang pernah lahir di bumi ini.
Quote pertama yang membangunkan saya adalah: “We cannot change anything unless we accept it. Condemnation does not liberate,it oppresses” saya harus menerima kenyataan dengan besar hati bahwa anak-anak saya tidak senormal anak lainnya. Quote kedua yang termasyhur di seantero jagad baik maya maupun nyata berbunyi “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.” Jung menjadi tenar karena tafsir filosofisnya tentang makna nasib dalam alam sadar kita (the conscious with the unconscious), tafsir yang mengubah paradigma dan perspektif saya tentang kehidupan.
Daripada meratapi nasib, lebih baik mengubahnya. Bersama Mira Indriani, isteri saya, kami tidak lagi mau menyerah pada nasib apa adanya. Anak-anak kami memang autis, tapi kami bisa berbuat sesuatu selama hayat masih dikandung badan. Kami tidak mau jadi penonton pasif, karena kami adalah responsible actors untuk semua yang terjadi pada kami.
Saya terinspirasi oleh quote yang ketiga: “I am not what happened to me, I am what I choose to become,” karena saya masih bisa berpikir, bersikap, dan bertindak untuk memperbaiki yang bisa diperbaiki agar bisa menciptakan masa depan yang lebih baik. Fokus kita hanya pada apa yang bisa kita lakukan saat ini tanpa mau menyesali yang yang telah terjadi maupun mencemaskan apa yang akan terjadi. Ternyata banyak hal positif yang bisa kita lakukan, termasuk menemukan banyak hal baru yang bisa memperbaiki hidup kami dan anak kami tanpa harus mengeluh tentang nasib karena kita membuat the unconscious jadi conscious.
Benar apa katanya pada quote yang ke-empat: "It all depends on how we look at things, and NOT how they are in themselves." Selama kita mau berikhtiar, selalu terbuka peluang untuk mengubah nasib, dan ini dituturkan dalam quote yang ke-lima: “In all chaos there is a cosmos, in all disorder a secret order," with thanks to C.G. Jung.

Photo

Post has attachment
TANGGUNG JAWAB AYAH & IBU ABK

Yang menghadirkan semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), adalah orang tuanya, atau ayah dan ibu sehingga keduanya bertanggung jawab pada Tuhan untuk membesarkannya dengan cinta kasih. Sekecewa apa pun orang tua karena anak yang dimohon kehadirannya di muka bumi ini berbeda dari yang dibayangkan semasa dalam kandungan, keduanya harus bisa menerima kehadiran ABK dengan lapang hati agar bisa menuangkan kasih sayang pada buah hatinya sepenuh hati. Kekecewaan pada Tuhan karena hadirnya ABK dalam hidup kita hanya akan menambah ruwet dan rumitnya hidup ini.
Hidup kita pun milik Tuhan. Hanya atas perkenannya kita saat ini masih hidup. Bagimana kita mengisi kehidupan ini tentunya merupakan pilihan hidup masing-masing. Tapi bila kita menyadari siapa pemberi hidup kita, tentunya kita pun bisa mencari tahu alasan dan tujuan hidup kita, serta misi yang kita emban untuk dituntaskan sebelum kita kembali ke pangkuan-Nya. Salah satu misi yang diamanatkan Tuhan ke kita adalah membesarkan anak yang dititipkan melalui kita. Kita telah dipilih Tuhan untuk membesarkan anak-Nya. Hanya Tuhan yang bisa menciptakan manusia, dan pada Nya lah kita memohon agar dihadirkan anak yang bisa menemani hidup kita.
Sebagai pemohon, orang tua tidak berhak untuk menampik pemberian Tuhan. Terima lah anak kita sepenuh hati. Jangan kecewakan Sang Khalik. Berbahagialah kita yang memperoleh kepercayaan-Nya untuk merawat dan membesarkan ABK. Kita pasti dimampukan-Nya untuk menuntaskan tanggung jawab kita. Selaku orang tua kita akan ditempa melalui anak kita menjadi pribadi yang utuh, mandiri, dan mumpuni.
Anak ini membutuhkan kita, kasih sayang kedua orang tuanya, dan kebutuhannya khusus, karenanya disebut berkebutuhan khusus yang artinya membutuhkan perhatian yang lebih besar dari biasanya. Jangan palingkan pandangan kita dari ABK kita, karena anak ini lah yang kelak akan jadi sumber kebahagian kita, yang bahkan bisa membahagiakan kita saat ini bila kita bisa mencintainya sepenuh hati.

Photo

Post has attachment
STRATEGY: JADI THE BEST PARENTS, BUKAN JADI PROFESSIONALS

Untuk memandirikan anak kita, banyak pengetahuan yang musti kita pelajari selaku orang tua. Kita musti tahu banyak hal tentang anak kita, tapi kita tidak boleh kehilangan perspective. Kita menggali pengetahuan sebatas yang diperlukan oleh anak kita, karena tujuan kita bukan menjadi dokter. Jangan terbenam dalam masalah-masalah teknik. Camkan bahwa tujuan kita adalah tahu banyak tentang anak kita, bukan tahu beberapa hal secara mendalam. Serahkan masalah teknis berikut rinciannya pada para professionals, mereka yang sekolahnya atau profesinya memang di bidang yang mereka kita tekuni sebagai profesi.
Selaku orang tua, waktu kita terbatas, sehingga kita harus tangkas, kreatif, strategis, dan visionary dalam penentuan prioritas dari hari ke hari. Setiap saat masalah bisa mencuat dari buah hati kita, sehingga kita harus senantiasa dalam keadaan bugar dan segar. Ingat selalu bahwa kita adalah CEO atau Chief Executive Officer dari hidup dan masa depannya anak kita, bukan sebagai COO atau Chief Operating Officer (yang mungkin bisa kita delegasikan pada keluarga dekat atau bahkan ke pembantu atau baby sitter, atau siapa pun adanya yang bisa menjalankan fungsi COO). Kita pun bukan CFO atau Chief Financial Officer yang juga perlu ada agar seluruh uang yang keluar memang bermanfaat bagi anak kita.
Kendati CFO harus ada, sebisa mungkin hindari perangkapan jabatan agar evaluasi kerja dan program atau aktivitas bisa berlangsung sebagaimana mustinya. Seyogyanya fungsi CEO dijalankan oleh kepala rumah tangga yang biasanya dijabat ayah. Bila perangkapan jabatan tidak terhindarkan, yang paling perlu dipisahkan adalah fungsi pelaksanaan (di bawah COO) dengan fungsi pengawasan dan pengendalian.
Jika ibu memegang tanggung jawab selaku COO, ayah bisa merangkap dua fungsi: CEO & CFO. Evaluasi bisa dilaksanakan secara kuartalan (3 bulan), atau minimal 6 bulan agar efektivitas program/supplementation (supplements dan vitamins) bisa dikaji secara terus menerus. Fungsi ayah bisa berganti dengan ibu bila ibu yang menjadi pencari nafkah, atau bisa juga karena ayah lebih berorientasi pada detail atau lebih terinci sementara ibu lebih cakap dalam membaca dan menyimpulkan suatu keadaan sebagai the big-picture person.
Perangai cukup menentukan dalam pembagian tanggung jawab ini. Seorang big picture parent adalah mudah membaca pola dari masalah yang rumit, cepat menemukan gagasan baru, tidak menyukai pekerjaan yang membenamkannya dalam kerutinan, serta cekatan dalam menyusun langkah yang harus ditempuh tapi mudah letih dalam melaksanakannya, ciri-ciri yang melekat pada right-brained thinker atau pemikir yang mahir menggunakan belahan otak kanan. Sebaliknya, detail-oriented parent adalah orang yang mudah hanyut dalam kerincian hingga lupa big picture –nya, bersemangat dalam menguliti setiap lapisan masalah dan tidak mudah beralih topik tatkala tengah mengaji suatu masalah, cermat dan terinci dalam segala aspek, dan berperangai sebagai analis dengan keunggulan pada belahan otak kiri (left-brained thinker).

Photo

Post has attachment
PERTANYAAN YANG MENYEBALKAN

Anak kamu sekolah di mana? Mau jadi apa? Ambil spesialisasi apa? Mau kerja di mana? Profesinya apa? Rentetan pertanyaan ini bisa membuat saya kalang kabut menjawabnya? Saya jadi uring-uringan bila ditanya pelbagai hal yang menyangkut masa depan anak-anak saya, atau apa yang akan mereka lakukan untuk menghidupi diri mereka sendiri bila kami, ayah dan ibunya, sudah wafat. Saya lebih suka mendapat pertanyaan "Apa harapan saya selaku ayah dari dua anak autis?", karena saya punya jawaban pamungkas: SEMBUH.
Awam pun biasanya tidak tahu bahwa autisme bukan lah penyakit sehingga mereka tidak bertanya lebih jauh apa yang saya maksud dengan sembuh. Tapi karena seringnya saya menerima pertanyaan yang menyebalkan ini, akhirnya saya pun sadar bahwa saya hanya menipu diri sendiri. Saya tidak mau menerima kenyataan bahwa anak saya masih belum bisa mandiri dan belum siap untuk “nyemplung” ke masyarakat. Pikiran kita jadi mumet, dan kepala kita cekat-cekot jadinya bila memikirkan masa depan mereka setelah kita tiada. Daripada frustrasi berkepanjangan, ada baiknya kita mulai menyiapkan apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa semandiri mungkin. Sebaiknya kita gunakan waktu kita selama kita masih hidup untuk menyiapkan dan membekali mereka dengan kebutuhan dasar untuk hidup daripada waktu terbuang untuk melamuni derita yang harus mereka alami sepeninggalnya kita.
Ini cuma menciptakan kecemasan tanpa mengubah keadaan sedikit pun. Mereka harus kita didik untuk bisa menafkahi diri mereka sendiri dengan kegiatan yang bisa mereka lakukan. Tapi apa yang bisa mereka pelajari untuk bisa makan dan untuk bisa "tidak dimakan" orang lain?
Kita harus mulai dari kendala atau kesulitan mereka mereka sebagai ABK, kesulitan ngomong dan ngobrol yang istilah kerennya komunikasi dan sosialisasi, karena mereka bingung atas apa yang terjadi di sekitar mereka dan di diri mereka sendiri. Ketiganya dibungkus dalam label triad of impairments yang mengendalakan dan mengendalikan hidup mereka bila tidak diperbaiki. Sebagai orang tua, kita tidak boleh mudah terintimidasi oleh terminologi yang diciptakan para ilmuwan untuk menyekat mereka dari kita. Inti dari ketiganya adalah ngomong, image apa yang bisa dibicarakan sewaktu bergaul dan berhubungan dengan orang lain.
Kita bisa mulai dengan mengidentifikasi kenapa mereka susah ngomong, dan setelah tahu tahu pada tahap mana, kita akan mengajari mereka ngomong yang tidak ngawur. Saya sudah ulas pada artikel sebelumnya tentang dua tahap transformasi, yaitu tahap pertama dari perception (precept atau percept) menuju imagination (pembentukan image), dan tahap kedua dari imagination (image) menuju conception (concept). Kedua kendala ini bisa diatasi oleh kita selaku orang tua.

Photo

Post has attachment
SUSAHNYA ABK NGOMONG DAN NGOBROL

Beberapa kawan minta saya melalui inbox untuk menjelaskan ulang dan menguraikan lebih jauh tentang tahapan yang harus dilalui oleh ABK agar para orang tua bisa tahu pada tahap mana anak mereka saat ini dan langkah apa yang perlu ditempuh untuk memandu anak mereka. Saya akan gunakan bahan presentasi yang biasa saya gunakan ketika saya masih aktif mencari dan melatih calon penjual asuransi jiwa yang bisa menaikkan prestasi group saya di asuransi jiwa Prudential Life Assurance yang kala itu baru menancapkan kakinya di Indonesia.
Saya tidak mengira bila pengalaman saya sebagai group leader (peringkat kedua) dan trainer bisa bermanfaat bagi anak-anak saya. Sebagai trainer saya melatih bagaimana bisa menjual polis asuransi dalam waktu 15 menit saja, dan itu mungkin bila kita memahami teknik berkomunikasi yang penting bagi semua orang tetapi tidak banyak yang menguasainya. Kini saya akan menjabarkan tahapan yang saya gunakan untuk melatih anak-anak saya. Ada 7 tahapan yang harus dilalui dan dikuasai agar ABK kita bisa mandiri dan tiap tahap memilki permasalahannya sendiri-sendiri.
Pada paparan kali ini, saya membelah dua transformasi tahap satu yang telah saya tuliskan sebelumnya agar permasalah ABK lebih jelas terdeteksi para orang tua. Tahap I mengungkapkan seberapa jelas ABK bisa menggunakan inderanya untuk menangkap apayang terjadi di seputarnya.
Suara ‘meong’ dari hewan berkaki empat tidak boleh terekam bunyi ‘kokok petok’ dan disebut ayam sebagai hewan berkaki dua. Karena banyak ABK yang mengalami gangguan pada sensory organnya, kesulitan pada tahap ini harus bisa dideteksi sedini mungkin oleh para ortu. Precept atau apa yang ditangkap oleh masing-masing indera harus utuh sebelum bisa melangkah ke Tahap II yang menggabungkan precept menjadi image. Image tentang hewan berkaki empat yang mengeluarkan suara ‘meong’ harus utuh (jangan sampai disebut anjing).
Tanpa image tidak ada yang bisa dikomunikasikan secara berarti. Image yang retak (menyebut kucing sebagai kadal) menghadang langkah menuju Tahap III yang harus menyuarakan image tersebut sesuai nama imagenya. Pada tahap ketiga, kita sudah beralih dari sensory organ (input) menjadi motor function (output).
Meski lokasi keduanya bersebelahan di otak besar (cerebral cortex), tapi bisa terjadi apa yang disuarakan berbeda dari apa yang dimaksudkan (she doesn’t mean what she says atau she doesn’t say what she means) seperti yang kita juga kadang lakukan. Kalau pun kita bisa katakan secara tepat apa yang kita maksudkan, belum tentu lawan bicara kita mendengarnya seperti yang kita suarakan (ada pesan yang bocor di tengah komunikasi), dan ini lah kesulitan Tahap IV. Apa yang didengar beda dengan apa yang disuarakan.
Banyak ABK yang belum cakap bercakap-cakap karena telinganya buntu (ada rintangan berupa heavy metals atau pollutants yang menghadang kelancaran bioenergi ke telinga seperti yang dialami John, anak nomor dua saya). Bisa juga karena ABK kita kekurangan oksigen untuk bersuara, sehingga suaranya seperti orang kumur-kumur.
Bila yang kita katakan persis 100% seperti yang didengarnya, belum tentu lawan bicara kita memahami apa yang dia dengar, dan ini lah kesulitan Tahap V. Jika lawan bicara kita memahami 100% apa yang didengarnya, belum tentu dia setuju dengan pandangan kita, dan ini kesulitan Tahap VI. Kalau pun setuju 100%, belum tentu lawan bicara kita mau melakukannya, dan ini lah kesulitan Tahap VII. Ketujuh tahapan ini bersifat berurutan dan tidak bisa di- bypass, dan untuk ini saya akan ulas mulai dari Tahap I.

Photo

Post has attachment
JANGAN INGKARI IKRAR PERNIKAHAN

Kehadiran ABK kerap menjadi sumber keretakan rumah tangga bila salah satu orang tua, atau bahkan keduanya, tidak bisa sepenuhnya menerima pemberian Allah. Kekecewaan sering menyebabkan terjadinya cekcok, pertengkaran, dan bahkan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), dan bahkan ada yang harus berakhir dengan perceraian. Karena orang yang menghadirkannya di dunia tidak cukup bertanggung jawab, si ABK jadi korban. Nasibnya jadi terlunta atau terbengkalai. Seberapa terbengkalainya si ABK bergantung pada seberapa langkanya kasih sayang yang diterima dari kedua orang tuanya. Rentangnya cukup lebar dari terabaikan hingga kurang diperhatikan.
Ada orang tua yang masih mau bertanggung jawab tapi tidak sepenuh hati karena kekecewaan hatinya masih berlarut, kasus yang biasanya terjadi pada ayah yang ego dan gengsinya tergoret. Sang ayah (atau bisa juga ibu) seperti ini masih menjalankan tugasnya untuk menafkahi keluarganya tapi cintanya pada si ABK tidak bulat, cuma separuh hati saja. Ketidakikhlasan sang ayah merupakan bentuk penelantaran anak dan pengingkaran tanggung jawab dari orang yang menghadirkannya di dunia. Nasib ABK akan lebih tragis bila salah satu orang tuanya, entah ayah atau ibunya, tidak mengakuinya, atau melepaskan tanggung jawab sebagai orang yang menghadirkannya di bumi ini. Pengingkaran tanggung jawab ini terjadi bukan hanya ABK tetapi juga pada pasangan hidupnya yang dipilihnya untuk mendampinginya seumur hidup. Penyangkalan pada ikrar pernikahan (biasanya ayah) untuk membesarkan anak yang mereka lahirkan secara bersama, merupakan pukulan telak pada pasangan yang dipilihnya (biasanya ibu), terlebih pada kasus ABK.
Tanpa perceraian saja ABK sukar ditangani. Tingkat kesulitan menangani ABK setara dengan 10 hingga 20 anak normal. Dengan perceraian, tingkat kesulitan ABK tidak berkurang, malah bertambah, dan beban biasanya diletakkan pada pundak sang ibu yang ditinggal oleh ayah yang tidak bertanggung jawab. Artinya sang ibu bisa kewalahan karena beliau harus menangani sekitar 10 hingga 20 anak normal. Hidupnya pasti jumpalitan, karena harus merangkap tanggung jawab sang ayah. Sang ibu harus bersalto setiap hari untuk bisa berganti profesi dari seorang ibu ke pencari nafkah, pengajar, pemasak, terapis, dan sebagainya, termasuk pembantu, bila tidak ada bantuan dari anggota keluarga lain yang bisa diandalkannya. Hadapilah apa yang menjadi tantangan hidup kita secara lapang dada, dan jangan melarikan tanggung jawab sebagai orang yang menghadirkan ABK, serta jangan membebani orang yang kita pilih sebagai pendamping hidup kita dengan menceraikannya, karena tanpa penceraian hidup ini sudah teramat pelik dan rumit. Sewaktu kita mengikrarkan janji pernikahan kita, kita memang tidak berniat untuk merunyamkan hidup pasangan kita dan menyuramkan masa depannya kan?

Photo

Post has attachment
TIPS UNTUK ORANG TUA ABK

Jangan coba bercanda atau menyindir orang tua, terutama ibu, dari anak berkebutuhan khusus (ABK) bila tidak ingin didamprat habis. Mereka adalah orang yang hidupnya sedemikian pahit, sarat dengan linangan peluh dan airmata. Terlalu banyak derita dan nestapa yang mereka rasakan karena buah hatinya yang sedemikian ganjil, jauh dari harapan semasa anak ini masih dalam kandungan. Dengan perasaan yang tersayat kekecewaan ini lah, para orang tua harus belajar memahami 1001 keanehan dari anak mereka yang serba membingungkan. Biaya untuk menghidupi dan me-normal-kan anak manusia yang tidak memiliki kemampuan seperti anak manusia lainnya ini yang sangat besar dan di luar jangkauan pegawai biasa (Rp60,000,000 per bulan). Yang tersisa hanya lah rasa marah, kecewa, dan frustrasi, sehingga para orang tua ini jadi teramat sensitif atau peka. Sedikit saja ada yang menyinggung perasaannya, mereka akan mudah meledak laksana bensin yang menunggu percikan api.
Kegetiran yang menghinggapi hampir semua orang tua ABK sangat lah tidak menguntungkan bagi orang tua tersebut maupun anaknya. Selain tertekan karena orang tua yang mudah histeris, sang anak tumbuh dalam suasana yang tidak harmonis. ABK bisa menangkap kepahitan di balik senyum ortu-nya. Bukan hanya sang anak yang jadi korban orang tua nya sendiri, tetapi orang tua pun akan dijauhi oleh semua rekannya karena perangainya yang berubah menjadi tidak menyenangkan: mudah tersinggung, tidak bisa bertoleransi, tidak bisa berseloroh dan bergurau, dan jadi super ketus dan extra judes. Padahal dengan ringkih dan rentannya tubuh ABK, para ortu ini membutuhkan bantuan orang lain. ABK bisa ambruk setiap saat, dan bila ini terjadi, sang ibu membutuhkan bantuan tetangga. Dengan perangai yang serba tidak mengenakkaan, dengan tutur kata yang tidak membuat orang lain nyaman berbicara dengan ortu ABK, dengan sikap tubuh yang senantiasa tergopoh-gopoh, orang lain akan enggan menolong para ortu ini di kala mereka butuh pertolongan.
Untuk itu para orang tua anak ABK perlu menyadari kekurangannya ini dan bersedia mengubahnya agar hidup mereka tidak tersiksa terus menerus dan mudah memperoleh bantuan orang lain sewaktu membutuhkannya.
Ada 15 sikap hidup yang perlu kita anut:
1. Hargai berkat Tuhan yang telah kita terima dan miliki, termasuk kesehatan kita;
2. Hentikan pelabelan atau penyebutan aneh, ajaib, dan sejenisnya sehingga kita bisa menilai apa adanya tanpa praduga;
3. Senantiasa optimis dalam segala situasi dan hentikan kebiasaan mengeluh, menggerutu, and mencela;
4. Gunakan mantra ”What Can I Do Now” agar kita berada pada posisi Here & Now sehingga kita tidak terkecoh oleh masa lalu dan masa datang yang cuma ilusi;
5. Jangan bandingkan dengan orang lain karena tidak ada gunanya dan tidak relevan;
6. Bantulah sesama dan ucapkan terima kasih atas kebaikan yang diberikan orang lain pada kita;
7. Jangan berdalih tapi perbaiki lah apa yang bisa kita perbaiki;
8. Bina hubungan dengan orang-orang positif, optimis, dan ceria, serta hindari orang yang pemurung, pemarah, negatif, dan pesimis dalam hidup kita;
9. Maafkan dan lupakan segala hal yang tidak berkenan di hati kita demi kesehatan dan kebahagiaan hidup kita;
10. Jangan haus pujian orang lain karena kita tidak membutuhkan pujian untuk menjadi diri sendiri dan mewujudkan jati diri kita;
11. Bulatkan tekad kita untuk menggapai apa yang kita inginkan and angankan dan lakukan langkah terpadu untuk mewujudkan hasrat kita;
12. Rawat raga kita dan jernihkan pikiran kita melalui olah raga, yoga dan meditasi agar kita senantiasa eling akan keberadaan kita dan positif serta ceria selalu;
13. Jalin hubungan pribadi dengan Sang Khalik, Tuhan YME, dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi pada Nya;
14. Berimajinasilah seleluasa mungkin untuk memahami apa yang sesungguhnya kita ingin wujudkan dalam hidup ini sehingga kita bisa mencintai apa yang kita lakukan dan melakukan apa yang kita cintai;
15. Berbagilah dengan sesama karena hakekat cinta adalah kasih bukan terima, dan mengasihi adalah memberi dan melayani.

Photo
Wait while more posts are being loaded