Profile cover photo
Profile photo
Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran
82 followers
82 followers
About
Posts

Post has attachment
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
Workshop Lokakarya Dosen Baru 2013
15 Photos - View album
Add a comment...

Post has attachment
WORKSHOP PEMBELAJARAN UNTUK DOSEN
Hari/tanggal : Jumat, 22 Agustus 2014
Pukul : 09.00 - 15.00 Wib (makan siang disediakan)
Tempat : Kampus Tenggilis (ruangan menyusul)
Topik : Mengelola Motivasi Belajar Mahasiswa
Bagaimana cara memotivasi mahasiswa untuk belajar? Atau lebih khusus lagi, bagaimana cara memotivasi mereka agar senang belajar, mau belajar secara mandiri, untuk mencari pemahaman yang mendalam, dan bukan sekedar untuk nilai? Ada beberapa teori psikologi yang dapat membantu kita sebagai dosen memikirkan problem motivasi ini. Tentu, perlu kreativitas untuk menerapkan teori-teori tersebut dalam konteks kelas kita masing-masing.

Bila Bapak/Ibu berminat, ikuti workshop ini dan kita diskusikan bersama. Silahkan daftar secara online di formulir berikut ini :
http://tinyurl.com/form-daftar-workshop-motivasi

Fasilitator: Anindito Aditomo adalah dosen Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya. Ia mempelajari psikologi pendidikan, khususnya proses dan asesmen pembelajaran, di University of Sydney, Australia. Saat ini penelitiannya terfokus pada perkembangan kemampuan penalaran dan proses pembelajaran di perguruan tinggi.

PPKP
learning.ubaya.ac.id
Gedung Perpustakaan Lt. IV
Universitas Surabaya
Ext. 1359/1366
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Kemampuan berpikir adalah salah satu kriteria utama Google dalam menyeleksi calon karyawan. Mereka menulis bahwa cara berpikir lebih penting daripada IP dan transkrip nilai: "We’re less concerned about grades and transcripts and more interested in how you think."

Yang menarik dari pernyataan ini adalah adanya asumsi bahwa nilai tidak mencerminkan kemampuan berpikir. Mahasiswa yang ber-IP tinggi belum tentu lebih pandai berpikir. Ini sebenarnya asumsi yang cukup kontroversial. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa mendapat nilai tinggi, bila ia tidak pandai berpikir? Bagaimana menurut Anda?
Add a comment...

Post has attachment
Flipped classroom

Biasanya, proses mengajar diawali dengan pengenalan konsep dan teori. Kebanayakan dosen melakukannya dengan metode ceramah, kadang dipadu dengan diskusi di kelas. Setelah mahasiswa dianggap cukup tahu atau paling tidak sudah mengenal konsep-konsep yang diperlukan, mereka diminta untuk menerapkannya pada problem atau tugas yang lebih kompleks.

Dengan cara tradisional ini, dosen biasanya tidak punya banyak waktu untuk memandu mahasiswa ketika mereka mencoba menerapkan konsep dan teori. Tugas biasanya dilakukan di luar kelas. Padahal, justru pada saat itulah mahasiswa berlatih berpikir secara lebih mendalam.

Konsep "flipped classroom" menjungkirbalikkan cara mengajar tradisional ini. Bagaimana caranya? Artikel ini menjelaskan dengan sederhana, disertai dengan contoh video yang menarik.
Add a comment...

Post has attachment
Sebagai pengajar, kita tahu bahwa orientasi mahasiswa terhadap kuliah bisa beragam. Fenomena ini tertangkap dalam literatur pembelajaran melalui konsep "deep approach" and "surface approach to learning". Artikel tertaut memberi penjelasan singkat tentang konsep ini.

Tentu kita berharap mengajar kelas yang hanya berisi mahasiswa yang mengambil deep approach. Tapi bagaimana jika kelas kita berisi lebih banyak mahasiswa yang mengambil surface approach? Apa konsekuensinya bagi pemilihan metode pengajaran? Apa yang bisa dilakukan pengajar?
Add a comment...

Post has attachment
Dalam mengajar, yang lebih sering menjadi tujuan adalah agar mahasiswa memahami materi yang disampaikan. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran adalah pengetahuan yang didapatkan mahasiswa dari proses kuliah. Yang lebih jarang kita pikirkan sebagai tujuan pembelajaran adalah kemampuan metakognitif mahasiswa. Padahal kemampuan ini justru penting untuk menjadikan mahasiswa pembelajar yang mandiri. 
Add a comment...

Post has attachment
Saat ini banyak universitas besar di Amerika dan Eropa yang menawarkan sebagian mata kuliahnya secara daring (online), dan gratis. Apakah teknologi daring memang dapat mengubah pendidikan tinggi secara mendasar? Atau ini hanya akan menjadi alat pemasaran semata bagi universitas-universitas yang sudah siap memanfaatkannya?
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded