Profile cover photo
Profile photo
Heri Murthada
35 followers
35 followers
About
Posts

Post has shared content
renungan
Rupa ini hanyalah TitipanNYA
Yang tertutup adalah Wanita Mulia. . .

Di saat dirimu bangga foto cantikmu di like ribuan orang, Di saat itulah aku bangga foto artikelku di like 5 orang..
.
Di saat dirimu bangga disanjung dan dipuja, di saat itulah aku takut sanjungan itu menyeret diri ini ke neraka..
.
Di saat dirimu dianggap bak bidadari dari langit, di saat itulah aku menggigil takut mempertanggung jawabkan semua kepada pemilik langit..
.
Disaat kita lahir didunia dengan telanjang tanpa sehelai kain.. begitu pula nanti mati tidak main-main..
.
Rupa, harta, dan nyawa ini hanya milik Allah.. kita patut mensyukuri nya dengan tidak mengumbar tapi menyimpan nya..
Simpan rapat..rapat.. Muslimah mahal harganya.. dibanding emas permata termahal didunia lebih mahal lagi muslimah yang sholehah hatinya.. Karena mahal itulah hadiahnya SYURGA.. tidak ada diantara kita yang bisa membeli syurga kecuali dg kesholehan.. Mashaa Allah..

Kita ini penduduk akhirat.. Kita ini bukan penduduk dunia..
Dunia sementara dan akhirat selamanya.. Mungkin kita boleh dianggap jelek, buruk, kampungan, katrok dengan orang disekitar kita.. Tapi.. dimata Allah yang tertutup itulah wanita Mulia.
#duniajilbab
Photo
Add a comment...

Salam Lestari

Selamat menunaikan Sholat Jum'at secara berjamaah semoga menjadi berkah buat kita semua.
aamiin

Post has attachment
TRIP Gunung sesean 2100 mdpl Terletak di kabupaten tanah toraja Sulawesi Selatan
SEMOGA BERMANFAAT
>> 6 KELALAIAN akan bisa berakibat Kematian bagi para Pendaki di gunung..
Merdeka.com - Mendaki gunung kini menjadi trend. Banyak orang ramai-ramai ikut merayakan tahun baru di puncak-puncak gunung. Melihat matahari terbit untuk pertama kalinya bersama lautan awan dari puncak-puncak tertinggi.
Sayangnya banyak orang mendaki tanpa persiapan dan kemampuan teknis yang cukup. Mereka yang bukan pendaki gunung melakukannya sekadar untuk hura-hura. Karena tak paham aturan, seenaknya saja mencoreti batu. Mengukir nama-nama mereka di pohon serta tidak membawa turun sampah pembungkus makanan dan minuman nya dan berakibat semakin banyak nya sampah di gunung.
Mendaki gunung masuk kategori olahraga berbahaya. Tapi para pendaki (‪#‎terutama_yang_pemula‬) memasabodohkan bahaya. Demi memasang foto-foto di media sosial (‪#‎narsis_dikit‬). Mereka pergi ke gunung Tanpa persiapan, asal-asalan dan seringkali sembrono (‪#‎Tiap_Pendaki_gunung_memang_ada_mekanisme_dan_Standart_Pendakian_nya_loch‬).
Meninggal nya ‪#‎Shizuko_Rizmadhani‬ (15.th) di Gunung Gede-Pangrango dan ‪#‎Endang_Hidayat‬ (53.th) di Gunung Semeru dan masih banyak lagi, suatu bukti bahwa taruhan mendaki gunung adalah Nyawa.
Berikut kebodohan para Pendaki yang sering membuat mereka celaka dan meninggal di gunung. Semoga kita bisa mengerti dan sadar, kalau naik gunung jauh lebih bahaya dari pada pergi ke mall (‪#‎naik_gunung_bukan_untuk_senang_senang‬).
> 1. SOK JAGOAN.
Sikap sok jagoan ini nyaris selalu menjadi penyebab utama musibah pada pendaki pemula. Dengan alasan mencari tantangan, para pendaki pemula ini mencari jalur di luar jalur resmi (‪#‎walau_pun_masih_banyak_gunung_di_indonesia_yang_memang_perlu_dan_di_harus_untuk_buka_jalur_sendiri‬).
Parahnya, seringkali mereka melakukannya tanpa kemampuan Navigasi yang baik. Jangankan GPS dan peta topografi, sekadar Kompas pun tak bawa (‪#‎malah_bawa_radio_mini_compo‬). Lalu apa yang bisa diandalkan..?
Maka petualangan mereka pun biasanya berakhir di dasar jurang, meninggal kedinginan di lembah atau ditandu Tim SAR ke rumah sakit.
Membuka jalur baru juga berarti merusak konservasi. Mengganggu kehidupan liar, habitat dan ekosistem. Para pendaki berpengalaman tak akan melakukannya selain untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan (‪#‎kecuali_dalam_keadaan_mendesak_dan_darurat‬).
> 2. BURUKNYA MANAJEMEN LOGISTIK.
Salah satu masalah pendaki pemula adalah buruknya manajemen logistik. Dalam pikiran mereka, mendaki gunung identik dengan mie instan saja (‪#‎apa_pengaruh_film_5c‬*).
Hal ini salah besar. Mendaki gunung adalah kegiatan berat. Butuh kalori hingga 4.000 kkal per-hari. Bayangkan dengan aktivitas sehari-hari yang rata-rata hanya membutuhkan 2.000 kkal per-hari (‪#‎karena_seluruh_fungsi_di_tubuh_kita_bergerak_sesuai_fungsi_nya‬).
Kebutuhan kalori yang besar ini di dapat dari daging-dagingan berlemak, coklat dan karbohidrat. Tentu bukan hanya mie instan yang sulit dicerna tubuh dan menyerap air dalam tubuh (‪#‎kalau_kebanyakan_pun_perut_bisa_mules_dan_mencret_mencret_loch‬).
Seringkali para pemula mendapati nasi yang ditanak tak matang sempurna (‪#‎Sisaras_nasi_terasa_beras‬). Maka kombinasi makanan kita ‪#‎Sisaras‬, mie instan dan ikan asin. Karena tak nikmat, napsu makan pun berkurang. Padahal tubuh butuh banyak masukan/asupan makanan untuk tenaga dan menjaga suhu serta stamina agar tetap hangat.
Dalam kondisi lemas dan lapar inilah sering terjadi kecelakaan. Kurangnya konsentrasi, mual, pusing, nafas tidak teratur, dan dapat berakibat pingsan hingga kematian.
> 3. BURUKNYA PENGEPAKAN BARANG/PACKING.
Packing atau mengepak barang dalam ransel adalah seni khusus yang harus dikuasai oleh para pendaki gunung. Seluruh barang bawaan harus masuk ke dalam ransel. Karena medan sulit, tak boleh ada yang tergantung di luar ransel selain botol air minum. Kenapa hayoo., sebab Tangan kita harus bebas dan leluasa karena memegang walking stick/stick pole/trekking pole. Atau pun bebas nya Tangan kita agar bisa berpegangan meniti akar-akar pohon/dahan pohon jika dibutuhkan (‪#‎jangan_radio_dan_tape_recorder_yang_digantung_dan_di_pegang‬).
Maka lihatlah para pendaki pemula. Dengan panci, pengorengan, lampu badai, sepatu, digantung ke ransel. Tangan sambil menenteng sleeping bag, menenteng tenda/terpal, menenteng jaket dan menenteng radio mini compo (‪#‎ini_mau_mendaki_gunung_apa_mau_konser_musik‬).
Apa lagi Ransel mereka tak dilapisi lagi dengan cover bag/rain cover. Pakaian di dalam ransel tak dilapis plastik.
Jika hujan, semua pakaian, jaket dan sleeping bag basah. Padahal sangat penting menjaga pakaian ganti tetap kering. Apabila Tidur dengan keadaan basah bisa mengakibatkan hipotermia. Inilah penyebab paling utama kematian seorang pendaki gunung. Suhu tubuh turun karena kedinginan.
> 4. PERGI DALAM ROMBONGAN BESAR.
‪#‎Sizuko_Rizmadhani‬ berangkat bersama rekan-rekan Sispala di sekolahnya. Jumlahnya 27 orang. Jumlah yang sangat besar untuk pendakian gunung.
Kemungkinan orang tua akan mudah memberikan izin jika anak nya pergi dalam rombongan besar. Orang tua merasa anaknya lebih aman karena teman-teman nya banyak yang ikut serta dan banyak yang menjaga.
Padahal belum tentu aman juga. Rombongan besar justru akan bisa merepotkan. Kenapa., karena akan Makin sulit membagi logistik/makanan/minuman dan mengatur manajemen perjalanannya.
Bayangkan butuh berapa kompor lapangan/kompor masak untuk memberi makan 27 orang itu..? Lalu pembagian perlengkapan..? Pembagian logistik..?? Pembagian P3K/PPGD..? Siapa Ketua Pelaksana nya..? Apakah dia benar-benar bisa dan mampu untuk mengatur ke 27 orang itu..?
Dan Masalah yang akan dan sering muncul adalah banyaknya konflik. Keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap "intoleransi" (‪#‎kurang_peka_dan_kurang_perduli_nya_sesama_teman_team‬). Lihatlah kasus Shizuko, kemana saja teman-temannya yang banyak itu..?
Pendakian ideal, bisa beranggotakan 4 orang sampai 6 orang pendaki. Pilihlah satu orang untuk memimpin pendakian (‪#‎Ketua_Pelaksana_atau_Ketua_Pendakian‬). Dan Ketua Pelaksana/Pendakian Bukan karena Usia/umur nya yang Tua, dia dipilih sebagai Ketua karena memang memiliki watak yang bagus, bisa diandalkan dan leadership/mempunyai jiwa kepemimpinan yang bagus (‪#‎kalau_umur_nya_sudah_Tua_itu_mah_hanya_bonus_hhhheee‬..).
> 5. HIPOTERMIA DIKIRA KESURUPAN.
Merdeka.com - Pendaki pemula mendaki tanpa ilmu. Berbekal semangat dan tanpa perlengkapan memadai mereka nekat mendaki gunung.
Karena tidak tahu ilmu P3K, maka sering terjadi salah kaprah. Pada penderita hipotermia, korban akan menggigil dan kehilangan kesadaran. Lalu mulai bicara melantur/seperti mengigau.
Karena bicaranya/nyerocos tak karuan dan sukar diajak komunikasi, teman-temannya menyangka si korban kesurupan/kemasuka jin. Mereka malah membacakan doa untuk mengusir jin/setan. Inilah yang mungkin terjadi pada Shizuko.
Seharusnya, segera lakukan pertolongan. Ganti pakaiannya dengan pakaian kering. Masukkan dalam sleeping bag, alangkah bagusnya yang sudah dihangatkan terlebih dahulu. Taruh juga beberapa botol air panas di dalam sleeping bag itu. Jaga kondisi lingkungan tetap hangat.
Jika sudah membaik beri makanan dan minuman hangat sedikit demi sedikit. Hindari memberi kopi atau minuman keras (‪#‎sangat_berbahaya_very_very_dangerous‬..).
Jangan pernah anggap enteng mengepak barang/packing. Ini yang sering dimasabodohkan oleh pendaki pemula (‪#‎asal_masuk_saja_yang_penting_semuanya_bisa_masuk_di_ransel‬).
> 6. SAYA SI CEPAT.
Merdeka.com - Ciri khas pendaki pemula, apalagi yang masih berusia muda adalah selalu bergerak dengan cepat. Mereka selalu tergesa-gesa, menjadikan naik gunung seolah lomba lari ke puncak. Malu menjadi yang paling belakang, karena sering dianggap sebagai yang terlemah (‪#‎gunung_nya_gak_akan_pergi_koq‬).
Karena itu biasanya waktu tempuh ke puncak lebih singkat. Baru akan merasakan nya setelah perjalanan turun gunung, aneka masalah datang : Kehabisan tenaga, pandangan mata guram, nafas tidak teratur, mual, kepala pening, cidera otot/keseleo hingga kecelakaan terjerembab jatuh dan yang ditakutkan ialah kehilangan arah/salah jalur/nyasar menjadi ancaman paling berbahaya.
Idealnya, ada seorang 'Sweeper' yang berjalan paling belakang. Biasanya orang ini yang paling kuat mental dan phisik serta bisa diandalkan. Tugasnya menyapu seluruh anggota tim. Memastikan tak ada yang keteteran atau tertinggal di belakang (‪#‎team_sweeper_mental_dan_phisik_nya_harus_Oke_jangan_orang_yang_penakut_apalagi_dia_takut_gelap‬).
Namun dalam rombongan pendaki pemula, tak ada yang mau menerima tugas ini. Jadi sweeper dianggap Hina (‪#‎ini_pemikiran_yang_koplak_dan_salah‬). Mau menjadi yang paling pertama sampai di Puncak dan yang pertama turun sampai ke Kaki gunung/desa terakhir menjadi tujuan utamanya (‪#‎cape_dech_sambil_tepok_jidat_dan_inilah_yang_salah‬).
".Saya si cepat..... Tanpa sadar Kutinggalkan sahabat di team Ku yang kelelahan dan sakit serat hampir mati di gunung."
‪#‎Alhasil‬ Semoga tulisan Jelek ini bermanfaat untuk saya, sahabat dan saudara petualang di Indonesia.....
*Jangan Buang Sampah Di Gunung - Gunung Bukan Tempat Sampah.....
**Dan jangan pernah sekali - kali mencoba Menantang Alam..... Baiknya Bersahabat dengan Alam.....
Salam Lestari.....
Terimakasih...!!
Photo

Post has attachment
Gunung Kambuno
Ketinggian : 3016 mdpl
Lokasi :Kec. Seko, Kab.Luwu Utara masamba

KUPAS TUNTAS TERJADINYA HIPOTERMIA..

Berikut ini saya mencoba mengulas tentang Hipotermia. HIPOTERMIA sebuah keadaan yang sangat berbahaya bagi pendaki ketika berada di gunung. Dimana hampir 70% korban meninggal dunia di gunung yang ditemukan disebabkan oleh hipotermia. Mari simak selengkapnya :

Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35°C. (wikipedia). Hipotermia adalah keadaan seseorang dimana kehilangan panas tubuh secara drastis. Bagaimana tubuh menjaga panas untuk mencapai suhu normal.,,?! Jawabannya melalui pencernaan makanan. Karena pencernaan makanan adalah unsur utama yang menghasilkan panas. Melalui pencernaan makanan tersebut akan menghasilkan kalori yang dapat diubah menjadi tenaga. Seseorang memerlukan 2.000 kalori setiap hari untuk menghasilkan tenaga yang cukup. Bagi pendaki gunung, kalori yang dibutuhkan ketika menjalankan kegiatannya harus lebih, yaitu sekitar 5.000 kalori. Aktifitas fisik yang berat dan biasanya dilakukan dalam tempo yang lama, menyebabkan pendaki gunung memerlukan sumber energi itu dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada kebutuhan sehari-hari.

Pendaki yang tewas di Gunung Lawu karena hipotermia Panas tubuh juga dapat dijaga dengan bantuan dari luar tubuh itu sendiri. Ini dapat diperoleh dengan memasukan makanan dan minuman panas, sinar matahari, api, atau panas tubuh dari orang lain. Cara lain adalah melalui aktifitas otot, yaitu dengan gerakan tubuh mengigil. Menggigil, gerak yang terjadi tanpa dikehendaki, sebenarnya adalah usaha tubuh untuk menghasilkan panas. Sebaiknya melakukan gerak - gerak atau lari - lari kecil untuk mendapatkan panas tubuh kembali. Lalu, bagaimana tubuh bisa kehilangan panas.,,?! Setiap kali bernafas kita mengeluarkan udara panas, dan ini berarti hilangnya panas dari tubuh. Tentu hal tersebut tak dapat dihindari, kecuali kalau kita berhenti bernafas. Penguapan keringat dari kulit dan paru - paru merupakan penyumbang terbesar dari hilangnya panas tubuh. Kendati ini tidak bisa dihindarkan, jumlah penguapan itu bisa dikendalikan dengan menggunakan pakaian yang tidak menyerap air tetapi bisa "bernapas" (uap air masih dapat keluar). Panas tubuh dapat hilang sebagai akibat konduksi, misalnya karena kehujanan. Seseorang yang kebasahan akan menyebabkan sejumlah besar panas tubuh hilang dengan cepat. Suhu air dibawah 5°C bisa mengakibatkan kematian bagi seseorang, karena temperatur tubuh pada tingkat itu tidak dapat dipertahankan lagi.

Panas tubuh juga dapat hilang melalui bagian- bagian tubuh yang tidak tertutup oleh pakaian, terutama kepala, leher, dan tangan. Dengan sinar matahari (radiasi), tubuh secara terus - menerus memanasi selapisan tipis udara di atas kulit. Tubuh akan tetap panas kalau lapisan tipis udara panas itu dapat dipertahankan. Angin dan aliran udara atau keadaan malam hari yang dapat membawa lapisan panas tersebut, sehingga tubuh menjadi dingin. Fungsi utama pakaian adalah untuk menjaga udara di atas lapisan kulit ini. Suhu udara dan angin yang bertiup kencang akan menyebabkan Hipotermia terjadi bahkan berujung kematian. Untuk itu bagi para pendaki gunung, bawalah pakaian hangat agak lebih. Jangan lupa pula membawa kantung tidur (Sleeping Bag) yang sangat berguna sekali digunakan saat para pendaki istirahat atau tidak ada kegiatan sama sekali. Sebab jika kita mendaki dan sedang tidak berkegiatan, kemungkinan untuk terserang dingin lebih besar. Lalu bagaimana cara menanggulangi korban yang terserang Hipotermia.,,?! Menjadi pertanyaan sekarang kalau seandainya korban ditemukan masih hidup, tetapi dalam keadaan Hipotermia, apakah kita sudah mengetahui cara menanggulanginya.,,?! Ini pantas dipertanyakan karena pernah ada kasus di mana korban ditemukan masih hidup tetapi dalam keadaan Hipotermia, lalu meninggal dunia justru ketika sedang diselamatkan.

Mula - mula gantilah baju si penderita yang basah dengan yang kering. Hindarkanlah si penderita dari hembusan angin, misalnya dengan mendirikan tenda atau bivak yang baik dan ditempat yang aman. Jangan biarkan si penderita terbaring langsung di tanah. Berikan alas yang hangat, supaya dingin dari tanah tidak mempengaruhinya. Berikanlah minuman yang hangan dan manis. Lalu bantulah si penderita untuk menghangatkan tubuhnya sendiri. Masukan si penderita ke dalam kantung tidur (sleeping bag) yang telah dihangatkan dengan ditiduri terlebih dahulu oleh orang lain yang masih sehat. Memasukan si penderita Hipotermia ke dalam kantung tidur yang dingin tidak akan menghasilkan apa - apa karena tubuhnya sudah tidak mampu menghangatkan tubuhnya sendiri. Kalau kantung tidur cukup untuk 2 orang, sebaiknya seseorang yang masih sehat masuk bersama si penderita untuk membantu si penderita memanaskan tubuhnya. "Keduanya harus dalam keadaan telanjang", (tidak semua pendaki dapat melakukan ini kerna butuh pelatihan kusus) karena kontak langsung dari kulit ke kulit akan cepat menghangatkan si penderita. Kalau memungkinan, lebih baik 2 orang yang sehat mengapit si penderita ditengahnya agar maksimal membantu menghangatkan si penderita. Kemudian meletakan botol penuh dengan air hangat (bukan panas) ke dalam kantung tidur akan membantu. Terutama letakan botoh hangat tersebut di ketiak, perut dan selangkangan si penderita. Kalau memungkinkan, buatlah api unggun di sisi penderita Hipotermia. Kalau si penderita sudah sedikit sadar dan bisa makan, berikanlah gula - gula dan makanan manis. Hidrat arang merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan tenaga. Evakuasi baru bisa dilakukan setelah penanggulangan sementara ini.

Saya pribadi pernah beberapa kali menghadapi penderita Hipotermia di gunung. Saya lakukan hal-hal tersebut diatas dan lumayan bisa membantu penderita Hipotermia untuk kembali sadar dan makan. Hal yang terpenting juga, janganlah panik dalam menghadapi keadaan jika kawan atau rekan kita terserang Hipotermia. Tenang dan berfikir jernih akan memudahkan tahap - tahap penanggulangannya. Mintalah bantuan kepada pendaki lain yang ada di sekitar kita. Jangan sungkan, sebab pendaki sejati selalu menolong sesama.

Berikut ini tanda - tanda Khusus Hipotermia.
Suhu Badan (Celcius) dan tanda khusus :
38 - 37 : Normal.
36 - 35 : Menggigil sampai bulu roma berdiri, tetapi masih terkendali. Gerak langkah menjadi lambat. Koordinasi tubuh mulai terganggu.
35 : Apa bila mencapai titik gawat, menggigil tidak terkendali.
35 - 33 : Pengambilan dan koordinasi tubuh kabur. Langkah kaki sering tersandung. Berbicara kasar.
33 : Semakin menggigil. Denyut nadi dan tekanan darah mulai menurun.
32 - 29 : Menggigil berhenti. Kebingungan mulai meningkat. Meracu. Ingatan hilang. Gerakan tersentak - sentak. Pupil (bagian hitam mata) mulai membesar.
29 - 28 : Otot mulai kaku. Pupil membesar. Denyet nadi melemah atau tidak teratur. tarikan nafas melemah. Warna kulit kebiru - biruan. Tingkah kacau. Mengarah ketidak sadaran.
27 : Pingsan. Pupil tidak lagi menjawab gerakan cahaya. Kehilangan gerakan - gerakan sepontan. Penderita kelihatan sudah meninggal.
26 : Koma. Gawat. Suhu tubuh menurun dengan cepat.
20 : Denyut jantung berhenti.
18 : Dalam suhu tubuh ini korban masih bisa ditolong dengan penangganan yang segera dan intensif (rawat rumah sakit secepat mungkin), bagi pendaki gunung hal ini agak sulit.

Dari keterangan yang tertera diatas adalah suhu tubuh bukan suhu ruangan. Tanda - tanda Hipotermia dalam hal apapun, mencegah lebih baik dari pada menanggulangi. Ada beberapa tips dari saya agar terhindar dari hal - hal yang tidak diinginkan seperti diatas. Dalam setiap pendakian bawalah pakaian hangat sedikit lebih, tidak masalah berat sedikit yang penting safety. Sleeping bag, adalah barang terpenting yang jangan sampai tertinggal setiap melakukan pendakian gunung. Bungkuslah pakaian yang kering dan Sleeping Bag dengan plastik atau Dry Bag yang baik saat ter-packing di dalam ransel. Hal tersebut menghindari pakaian dan sleeping bag basah jika suatu waktu hujan turun. Jeans Berbahaya. Banyak pendaki gunung yang mengira bahwa memakai celana jeans adalah praktis dan tahan robek. Sebenarnya memakai jeans bisa membahayakan pendaki gunung, lebih - lebih di gunung dengan curah hujan yang besar seperti di Indonesia. Bahan celana ini sukar sekali kering kalu basah. Kalu sudah begini, badan pemakainya akan selalu kedinginan. Ini akan mempercepat menurunnya panas badan karena cuaca dingin di gunung. Yang terbaik bahan celana adalah dari katun. Bawalah persediaan makanan yang cukup dan banyak mengandung kalori dan karbohidrat. Bawalah tenda yang memiliki 2 lapisan. Lapisan pertama yaitu tenda itu sendiri, dan yang ke dua adalah flysheet dibagian luarnya. Hal tersebut meminimalisir hembusan angin yang masuk ke tenda. Angin bisa saja masuk dari selah-selah jari kaki dan tangan, bawalah kaos kaki dan sarung tangan sedikit banyak. Dirikanlah tenda atau bivak di tempat yang terhindar dari hembusan angin. Lebih baik mendirikan tenda di punggungan gunung dari pada di lembah. Sebab lebah lebih terasa dingin.

Sekian penjelasan dan tips dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua para pelaku kegiatan alam. Kiranya ada kekurangan atau kesalahan mohon koreksi dan tambahannya. Terima kasih sudah menyimak.

maaf klau ada salah kata sobat greener
*Salam Lestari...!!
Photo
Wait while more posts are being loaded