Profile cover photo
Profile photo
Mitha Hasmita (Piyo)
154 followers -
I'm #Survivor #Luckywoman #Freedom
I'm #Survivor #Luckywoman #Freedom

154 followers
About
Posts

Post has attachment
Lipatan dialog dini hari
Ujung malamku menyelipkan beberapa
ingatan. spontan membuat lengkungan senyum sembari sesekali memeluk   segelas hangat ke tiga di akhir pekan ini. Berbicara
soal weekend ,   kebanyakan dari
kita memaknai sabtu dan minggu tak hanya sebagai nama hari dalam p...
Add a comment...

Post has attachment
Dari Jiwa yang Satu
Kemarin kudengar perjuangan akan kaumku Kertas lusuhpun rela  terinjak deret alphabet demi  kisahkan dirinya Jika sejarah hanya rangkaian hidup, mati, kemudian berlalu oleh bingkisan cerita Sialah Minadzhdzhuulumaati ilaan nuur… Yahh, habis gelap terbitlah ...
Add a comment...

Post has attachment
Menggugat Sujiwo Tejo
Senjaku
menggugat… Tidak
ada aroma kopi di ujung sore, kopi yang kata A.H adalah media pelarian. Pelarianku
menanti saat dimana siluet tangan kiri kita mampu membujuk gunung
menyembunyikan mentari di beberapa senja mendatang. Cangkirku
pun menggugat… Cangki...
Add a comment...

Post has attachment
Menggugat Sujiwo Tejo = Topeng Rindu
Senjaku
menggugat… Tidak
ada aroma kopi di ujung sore, kopi yang kata A.H adalah media pelarian. Pelarianku
menanti jika suatu saat nanti siluet tangan kiri kita mampu membujuk gunung
menyembunyikan mentari di beberapa senja mendatang. Cangkirku
pun menggug...
Add a comment...

Post has attachment
Milad dan Insinuasi Garis Keras
Assalaamualaikum, gimana harinya?
Seharian tidak gak lupa bahagia kan temans? Sudah larut bebs… tapi disisa sisa
efek kafein dan sebatang coki2ku, saya mau singgah nyoret dulu di rumah
ceritaku ini yang cukup lama terabaikan. Alhamdulillah hari ini kembali ...
Add a comment...

Post has attachment
OPAK bukan Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu
Assalamu alaikum agangs, apa kabar? Ada yang rindukah dengan
pencoret yang tidak bermutu ini? hehehe. Sudah sore tapi di luar
keliatannya masih terik, membuat kita yakin jika Indonesia kini tidak seadem
Indomaret (bukan iklan). Tapi beberapa hari yang terik...
Add a comment...

Post has attachment
Si Pria bertopi hitam
Kala itu senja menjelang maghrib…
(nulis sambil memalingkan wajah keatas, dengan sudut kemiringan 45 0 ). Tepatnya ketika saya pulang dari
pertemuan salah satu komunitas yang tak dianggap   namun percaya dan yakin bahwa kami lebih keren
dibanding personil b...
Add a comment...

Post has shared content
UMAR BIN KHATTAB
YAHUDI TUA DAN SEPOTONG TULANG

Sejak diangkat menjadi gubernur Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab,
Amr bin Ash menempati sebuah istana megah yang di depannya terhampar
sebidang tanah kosong berawa-rawa, dan diatasnya hanya terdapat gubuk
reyot yang hampir roboh. Selaku gubernur, ia menginginkan agar di atas
tanah tersebut, didirikan sebuah masjid yang indah dan mewah agar
seimbang dengan istananya. Apalagi Amr bin Ash tahu bahwa tanah dan
gubuk itu ternyata milik seorang yahudi. Maka yahudi tua pemilik tanah itu
dipanggil menghadap istana untuk merundingkan rencana Gubernur Amr
bin Ash.
“Hei Yahudi, berapa harga jual tanah milikmu sekalian gubuknya? Aku
hendak membangun masjid di atasnya.”
Yahudi itu menggelengkan kepalanya, “Tidak akan saya jual, Tuan.”
“Kubayar tiga kali lipat dari harga biasa?” tanya Gubernur menawarkan
keuntungan yang besar.
“Tetap tidak akan saya jual” jawab si Yahudi.
“Akan kubayar lima kali lipat dibanding harga yang umum!” desak
Gubernur.
Yahudi itu mempertegas jawabannya, “Tidak.”
Maka sepeninggal kakek beragama Yahudi itu, Amr bin Ash memutuskan
melalui surat untuk membongkar gubuk reyotnya dan mendirikan masjid
besar di atas tanahnya dengan alasan kepentingan bersama dan
memperindah pemandangan mata. Yahudi pemilik tanah dan gubuk tidak
bisa berbuat apa-apa menghadapi tindakan penguasa. Ia cuma mampu
menangis dalam hati. Namun ia tidak putus asa memperjuangkan haknya.
Ia bertekad hendak mengadukan perbuatan gubernur tersebut kepada
atasannya di Madinah, yaitu Khalifah Umar bin Khattab.
Sungguh ia tak menyangka, Khalifah yang namanya sangat tersohor itu
tidak mempunyai istana yang mewah. Ia bahkan diterima Khalifah di
halaman masjid Nabawi, di bawah sebatang pohon kurma yang rindang.
“Ada keperluan apa Tuan datang jauh-jauh kemari dari Mesir?” tanya
Khalifah Umar. Walaupun Yahudi tua itu gemetaran berdiri di depan
Khalifah, tetapi kepala negara yang bertubuh tegap itu menatapnya dengan
pandangan sejuk sehingga dengan lancar ia dapat menyampaikan
keperluannya dari semenjak kerja kerasnya seumur hidup untuk dapat
membeli tanah dan gubuk kecil, sampai perampasan hak miliknya oleh
gubernur Amr bin Ash dan dibangunnya masjid megah diatas tanah
miliknya.
Umar bin Khattab mendadak merah padam mukanya. Dengan murka ia
berkata, “Perbuatan Amr bin Ash sudah keterlaluan.” Sesudah agak reda
emosinya, Umar lantas menyuruh Yahudi tersebut mengambil sebatang
tulang dari tempat sampah yang treronggok di dekatnya. Yahudi itu ragu
melakukan perintah tersebut. Apakah ia salah dengar? Oleh sang Khalifah,
tulang itu digoreti huruf alif lurus dari atas ke bawah, lalu dipalang di
tengah-tengahnya menggunakan ujung pedang. Kemudian tulang itu
diserahkan kepada si kakek seraya berpesan, “Tuan. Bawalah tulang ini
baik-baik ke Mesir, dan berikanlah pada gubernurku Amr bin Ash.”
Yahudi itu semakin bertanya-tanya. Ia datang jauh-jauh dari Mesir dengan
tujuan memohonkan keadilan kepada kepala negara, namun apa yang ia
peroleh? Sebuah tulang berbau busuk yang cuma digoret-goret dengan
ujung pedang. Apakah Khalifah Umar tidak waras?
“Maaf, Tuan Khalifah.” ucapnya tidak puas, “Saya datang kemari menuntut
keadilan, namun bukan keadilan yang Tuan berikan. Melainkan sepotong
tulang yang tak berharga. Bukankah ini penghinaan atas diri saya?”
Umar tidak marah. Ia meyakinkan dengan penegasannya, “Hai, kakek
Yahudi. Pada tulang busuk itulah terletak keadilan yang Tuan inginkan.”
Maka, walaupun sambil mendongkol dan mengomel sepanjang jalan, kakek
Yahudi itu lantas berangkat menuju tempat asalnya dengan berbekal
sepotong tulang belikat unta berbau busuk. Anehnya, begitu tulang yang
tak bernilai tersebut diterima oleh gubernur Amr bin Ash, tak disangka
mendadak tubuh Amr bin Ash menggigil dan wajahnya menyiratkan
ketakutan yang amat sangat. Seketika itupula ia memerintahkan segenap
anak buahnya untuk merobohkan masjid yang baru siap, dan supaya
dibangun kembali gubuk milik kakek Yahudi serta menyerahkan kembali
hak atas tanah tersebut.
Anak buah Amr bin Ash sudah berkumpul seluruhnya. Masjid yang telah
memakan dana besar itu hendak dihancurkan. Tiba-tiba kakek Yahudi
mendatangi gubernur Amr bin Ash dengan buru-buru.
“Ada perlu apalagi, Tuan?” tanya Amr bin Ash yang berubah sikap menjadi
lembut dan penuh hormat. Dengan masih terengah-engah, Yahudi itu
berkata, “Maaf, Tuan. Jangan dibongkar dulu masjid itu. Izinkanlah saya
menanyakan perkara pelik yang mengusik rasa penasaran saya.”
“Perkara yang mana?” tanya gubernur tidak mengerti.
“Apa sebabnya Tuan begitu ketakutan dan menyuruh untuk merobohkan
masjid yang dibangun dengan biaya raksasa, hanya lantaran menerima
sepotong tulang dari Khalifah Umar?”
Gubernur Amr bin Ash berkata pelan,”Wahai Kakek Yahudi. ketahuilah,
tulang itu adalah tulang biasa, malah baunya busuk. Tetapi karena
dikirimkan Khalifah, tulang itu menjadi peringatan yang amat tajam dan
tegas dengan dituliskannya huruf alif yang dipalang di tengah-tengahnya.”
“Maksudnya?” tanya si kakek makin keheranan.
“Tulang itu berisi ancaman Khalifah: Amr bin Ash, ingatlah kamu. Siapapun
engkau sekarang, betapapun tingginya pangkat dan kekuasaanmu, suatu
saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Karena itu,
bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus, adil di atas dan di
bawah, Sebab, jika engkau tidak bertindak lurus, kupalang di tengah-
tengahmu, kutebas batang lehermu.”
Yahudi itu menunduk terharu. Ia kagum atas sikap khalifah yang tegas dan
sikap gubernur yang patuh dengan atasannya hanya dengan menerima
sepotong tulang. Benda yang rendah itu berubah menjadi putusan hukum
yang keramat dan ditaati di tangan para penguasa yang beriman. Maka
yahudi itu kemudian menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai wakaf.
Setelah kejadian itu, ia langsung menyatakan masuk Islam.
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Ditinggal Kawin
Assalamu alaikum, apakabar
temans? Di Makassar… Jumat kali ini hujan
seperti jumat kemarin. Hujannya pun sama seperti hujan kemarin, yang jatuh dari
langit masih berupa butiran air bukan bidadari. Oh iya bagaimana yang sudah
jumatan tadi? Nampak lebih mudah...
Add a comment...

Post has attachment
Menolak Ingat
Assalamualaikum…. Semangat siang bebs, semoga
berkah dan bahagia menyertai kita semua. Seperti biasa, kalo otak lagi heng ngedit naskah yang sejatinya tidak linear dengan bidang keilmuan(ku), pilihan
ketiga setelah ngemut coki2 dan memandangi batu bacanku, ...
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded