Profile cover photo
Profile photo
Daniar Murdi
1,987 followers
1,987 followers
About
Posts

Post has shared content
Kisah ‘Jomblo’ Paling Romantis
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.

“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”

”Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan “Sekufu”.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini?. bukankah lebih disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”

Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Sumber : Muslimah Zone
https://www.terbaru9.info/2018/10/jadwal-kapal-pelni-awu.html
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Nyata Cinta Sejati Paling Romantis dan Mengharukan " Delapan Tahun Menunggu Tunangannya yang Tak Sadarkan Diri "

Nashiji Hisashi dan Nakahara Mai yang menjalin cinta sejak 10 tahun lalu. Setelah dua tahun berpcaran, mereka pun berencana untuk menikah pada Maret 2007. Sayangnya, tiga bulan sebelum pernikahan, Nakahara menderita sakit. Suatu hari ia mengeluh kesakitan lalu dilarikan ke rumah sakit. Tapi tiga hari setelahnya, kondisi Nakahara malah memburuk.

Baca Juga: Kisah Romantis Wanita yang Bertemu Belahan Jiwa dan Dinikahi Gelandangan

Selama masa koma, sang tunangan Nashiji dengan rutin menengok Nakahara. Setiap hari, ia menyempatkan waktu tiga jam untuk datang ke rumah sakit sebelum pergi bekerja. Bahkan waktu akhir pekannya sering didekasikan untuk merawat sang kekasih. Setelah delapan tahun penantian, barulah Nashiji benar-benar dapat menikahi tunangan. Mereka pun akhirnya berhasil mengikat janji meski telat 10 tahun setelah tanggal pernikahan awal yakni pada Agustus 2014.

3. Pria Tunggu Kekasihnya selama 20 Tahun di Stasiun

Siap-siap Baper! 3 Kisah Cinta Sejati Paling Setia ini Buat Hati 'Meleleh'Foto: dok. thinkstock

Sekitar 20 tahun lalu, di stasiun kereta api di Tainan, kota di bagian selatan Taiwan, sejoli yang tengah dimadu cinta membuat sebuah perjanjian. Keduanya berjanji untuk bertemu kembali di lokasi yang sama pada waktu yang sudah ditentukan.

Sang pria, Ah Ji menepati janjinya. Tapi sayang, sang kekasih tidak. Lama ditunggu, wanita pujaan Ah Ji itu tidak kunjung datang juga. Tapi Ah Ji yang kini berusia 47 tahun tetap setia menunggu sampai saat ini. Ia masih duduk dengan pakaian yang sama seperti awal kedatangannya ke stasiun, namun kini pakaiannya sudah terlihat lusuh. Wajah dan fisiknya juga sudah tampak menua.

Kesetiaannya tersebut membuat Ah Ji dijuluki sebagai pria 'Hachiko', nama seekor anjing di Jepang yang kisahnya melegenda karena setia menunggu tuannya di stasiun meski dia sudah meninggal.


more : https://salsaluz.com/denah-rumah-3-kamar/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Sedih Seorang Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya


Ketika Terry Gobanga tidak muncul dalam acara pernikahannya, tak ada seorang pun yang menduga bahwa ia telah diculik, diperkosa dan ditinggalkan dalam keadaan nyaris meninggal di pinggir jalan.

Ini adalah yang peristiwa pertama dari dua tragedi untuk menimpa sang pendeta muda dari Nairobi itu.

Berikut Terry mengisahkannya kepada BBC.
Hari itu adalah hari pernikahan saya. Saya adalah seorang pendeta, jadi semua jemaat gereja kami datang, begitu pula semua saudara kami. Tunangan saya, Harry, dan saya sangat senang. Kami menikah di Katedral All Saints di Nairobi dan saya sudah menyewa sebuah gaun yang cantik.

Namun pada malam sebelum pernikahan, saya baru menyadari bahwa pakaian Harry, termasuk dasinya tertinggal di rumah saya. Ia tidak bisa menikah tanpa mengenakan dasi. Karena itu, seorang teman yang menginap malam itu menawarkan untuk mengantarkan pakaian ke rumah Harry di pagi hari. Kami bangun pagi-pagi buta dan saya mengantarnya ke stasiun bus.

Harry Olwande dan Terry di hari pernikahannya, July 2005.
Harry Olwande dan Terry di hari pernikahannya, July 2005. (TERRY GOBANGA via BBC)
Saat saya kembali ke rumah, saya berjalan melewati seorang pria yang sedang duduk di atas kap mobil. Tiba-tiba ia menarik saya dari belakang dan merebahkan saya di kursi belakang. Ternyata ada dua pria menunggu di dalam mobil, dan mereka langsung mengemudikan mobil. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik.

Mulut saya disumpal dengan potongan kain yang saya kenakan. Saya menendang, memukul dan mencoba menjerit. Ketika saya berhasil membuka mulut saya yang dibungkam, saya berteriak: "Ini hari pernikahan saya!" Saat itulah saya mendapat pukulan pertama. Salah seorang pria itu menyuruh saya untuk "bekerja sama atau saya akan mati".

Laki-laki itu bergantian untuk memperkosa saya. Saya yakin saya akan mati, tapi saya masih berjuang agar tetap hidup. Ketika salah seorang pria melepas kain yang menyumpal mulut saya, saya langsung menggigit alat vitalnya. Ia menjerit kesakitan, lalu salah satu dari mereka menusuk perut saya. Kemudian mereka membuka pintu dan menendang saya keluar dari mobil yang tengah melaju.

Saya berada di tempat yang ratusan kilometer jaraknya dari rumah, di luar kota Nairobi. Lebih dari enam jam berlalu sudah sejak saya diculik.

Seorang anak melihat saya dibuang di jalanan dan memanggil neneknya. Orang-orang datang berlarian. Ketika polisi datang, mereka mencoba memeriksa nadi saya, namun tak ada seorang pun yang bisa mendengar detak jantung saya. Mereka pikir saya sudah mati, lalu membungkus badan saya dengan selimut dan mulai membawa saya ke kamar mayat.
sponsor :
https://modelbajuterbaru2018.net/kebaya-modern-2019/

Photo
Add a comment...

Post has attachment

Post has shared content
Kisah Sedih Si Gadis Miskin

Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.

Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datang meminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronis itu. Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agama dan akhlaknya…kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu hal yang sangat penting. Tetapi mengapa?

Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknya wanita lain?

Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemuda memberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya di salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Terlebih lagi dorongan moril yang selalu ia berikan.

Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahan dan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untuk menanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat si penjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gaun tersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut.

Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayap putihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangat bahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi ia akan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasa ada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihat adanya kecerahan dalam kehidupan.

Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuat penampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannya yang alami menjadikan diri semakin elok, anggun dan menawan.

Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikit perbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat si penjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahit meminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi. Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan, hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dan sebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya tak terpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yang terbaik akhlaknya.

Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha memberitahukan bahwa setengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambil gaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaun itu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaan bahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwa terpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagi diri Muha.

Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar dari badan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulans datang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada di atas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia. Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu. Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai ke rumah padahal sudah sangat terlambat.

Akhirnyai penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekali pun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebab keterlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agar memberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muha banyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasih kepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itu benar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.

Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumah sakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calon pengantinnya, Muha.

Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu dan mati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malam yang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu, berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnya kegembiraan.

Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiada yang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaun itu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.?


sponsored :
http://www.modelbajumuslimbatik.com/model-dress-brokat/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
KISAH MENGHARUKAN
Kehilangan Memang Tak Pernah Baik-Baik Saja, Tapi Hidup Tak untuk Diratapi

Dalam perjalanan panjang hidup di dunia yang fana ini, silih berganti masalah dan kebahagiaan datang berkunjung. Kini usiaku telah 20 tahun, telah kulewati masa SMP dan SMP berbeda dari yang lain, kini di bangku perkuliahan keinginan nakalku mulai menjadi-jadi, inginku seperti yang lain, jalani hari ini tanpa mengkhawatirkan hari esok, bergandeng tangan dengan pasangan, tertawa sana sini dengan ceria. Namun semua keinginan itu pergi hilang menepis kala kuingat pesan terakhirmu ayah dan bunda.

Tahun Terakhirku Bersama Bunda
2011, tahun di mana kecemasan menemani hari-hariku menanti hasil kelulusan, juga merupakan hari pedihku di mana aku terus menangis takut melihat kondisi bunda yang semakin hari semakin lemah. Dulu kau adalah wanita tangguh bagai pohon bakau yang menghalau ombak, kau rawat dan didik aku serta kakak-kakakku, tapi kini seperti selembar tisu yang lemah tak berdaya. Di balik jendela kulihat tubuhmu yang makin kurus dan lemah di ranjang tidur rumah sakit.

Ayah dan kakak menyuruhku terus tersenyum padamu saat memasuki ruang kamarmu, dengan senyuman manis dan belaian lemah getarmu kau pinta aku untuk makan dan tidak khawatir, sungguh pecah air mataku tak mampu untuk kubendung kembali. Hari terus berlalu kini kau tak lagi berada di rumah sakit, meski dokter mengizinkan pulang, perasaan gusar takut terus menghantuiku. Di suatu pagi yang cerah, seperti biasa kau berolahraga kecil dengan berjalan jalan, kulihat kau dari kejauhan punggung yang dulu tegap kokoh kini layu meringkuk. Senja yang mulai tiba, kau ucapkan kata-kata aneh yang membuatku semakin takut, kau lontarkan nasihat - nasihat untukku juga kakak dengan senyum kau sembunyikan kekhawatiranmu lalu perlahan kau pejamkan mata untuk selama lamanya.


Tahun Terakhirku Bersama Ayah
2013, tahun di mana aku bukan lagi siswi SD, kini aku sudah duduk di bangku SMP. Ujian semester 1 kelas 8 akan segera dimulai, belajar dan belajar adalah suatu kewajiban. Namun waktuku tak lagi terkontrol, belajar hanya mampu aku lakukan sewaktu di sekolah saja. Bagaimana tidak, kini ayah terbaring di ranjang rumah sakit, pagi kupergi sekolah kukayuh sepedaku sejauh 5 km. Pulang sekolah hanya untuk ganti pakaian dan bawa baju ganti untuk ayah lalu aku naik bus menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku harus mengurus surat untuk mengambil obat, jaga dan rawat ayah, lalu pukul 3 pagi aku bergegas untuk pulang dan pergi sekolah. Pernah aku ditegur guru karena ketiduran di kelas, hanya maaf dan maaf yang mampu aku lontarkan. Terus begitu hingga ujian berakhir. Hasil ujian keluar, marah, sedih juga kecewa menyelimuti hatiku. Aku yang selalu mendapat posisi 3 besar, kina 10 besar pun tak dapat. Aku marah pada kakakku yang sibuk kerja tak bisa menjaga ayah di rumah sakit, aku marah pada ayah yang sakit, dan aku juga marah pada diriku sendiri. Namun, rasa kecewaku lebih besar dari amarahku, aku kecewa tidak bisa buat ayah bangga dengan hasil ujianku.

Ayah menangis menatapku, memelukku lalu berkata, “Maafkan ayah." Hari berlalu kini ayah tak lagi berada di rumah sakit, tapi rasa takutku semakin menjadi karena ayah pulang setelah memaksa dokter. Di rumah ayah terus berusaha untuk terlihat kuat tapi aku tahu ayah menahan sakit. Senja di suatu hari tinggallah aku dan ayah di rumah, ayah memberiku pesan juga nasihat. Ayah tersenyum dan berkata, “Adik tinggal sama Uti ya, Adik jangan pacaran ya, sekolah dulu yang benar. Capai cita-cita Adik, jadilah orang sukses dan banggain Ayah sama Bunda.”

Pecah air mataku terus mengalir tanpa henti kupeluk ayah tak ingin kulepaskan dan aku berkata, “Aku tidak mau, aku ingin selalu sama Ayah, aku ikut Ayah kemanapun Ayah pergi." Lalu ayah memelukku erat dan menenangkanku. Kala tangis reda ayah pun tertidur. Aku pun tidur di sisi ayah hingga pagi menyapa ayah masih tetap tertidur waktu terus bergulir sekitar jam 9 aku coba bangunkan ayah, ayah hanya membuka mata menatapku lalu tertidur kembali. Kugenggam tangannya kupandang kembang kepis di perutnya namun tiba-tiba perut ayah tak lagi kembang kempis. Kupanggil ayah, kubangunkan ayah, tapi ayah tetap diam, lalu kakakku tiba dan ia menangis karena ayah telah pergi.


Masih Kujaga Pesan Terakhirmu
Bertubi-tubi cobaan datang menghampiriku, Tuhan panggil orang-orang tersayangku. Menjadikanku yatim piatu di saat aku mulai beranjak remaja. Pindah ke kota tinggal bersama Uti, kehidupan sekolah yang berbeda. Rokok, seks bebas, minuman beralkohol sempat berada tepat di depan mataku, tapi pesan terakhirmu terlintas di benakku, tepiskan semua itu.

Sahabat sahabatku telah menjelajah bergonta-ganti pasangan namun aku sekalipun tak pernah pacaran. Ada keinginan dalam hatiku untuk mulai berpacaran namun lagi lagi pesan terakhirmu melintas di kepala dan benakku, mengubur dalam-dalam keinginan nakalku. Aku akan selalu menjaga pesanmu, aku akan terus berusaha mencapai cita citaku dan membuatmu bangga ayah, bunda.

Reviwer : http://modelkebaya.net/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Mengharukan: Aku Hanya Tamu Untuk Anakku
Kisah menyedihkan yang dialami oleh Danang. Secara biologis, Danang adalah Ayah kandung dari Rangga. Akan tetapi Rangga statusnya adalah anak dari pasangan Indri dan Dimas. Dengan banyak perjuangan, Danang berusaha untuk membuat dirinya menjadi sosok Ayah bagi Rangga. Apa saja yang Dia lakukan dan bagaimana hal itu bisa terjadi?. Mari kita simak Kisah menyedihkan yang sudah diakui dan disusun ulang oleh penulis

Aku hanya sebagai tamu bagi anakku

Danang, panggil saja begitu. Aku adalah Orang biasa dan sepertinya tidak ada hal yang bisa Aku banggakan. Sebelumnya Aku menjalin cinta dengan Seorang Wanita bernama Indri, sebut saja begitu. Bertahun-tahun Kami menjalani kehidupan bersama. Impian indah untuk menikah sudah ada dalam pikiran Kami. Hingga setelah Kami merasa siap untuk hidup bersama, Kami utarakan niat itu pada kedua Orang tua Kami.

Orang Tua Aku setuju saja dan tidak ada tindakan yang sifatnya sebuah tentangan. Akan tetapi Orang Tua Indri tidak setuju karena tahu latar belakangku juga pekerjaanku yang tidak bisa dibanggakan. Meskipun dengan alasan lain tapi Aku tahu dari Indri bahwa alasan sebenarnya adalah itu. Aku sangat sedih, tapi tidak berhenti begitu saja, Aku masih bisa berjuang. Aku yakinkan pada Indri bahwa Aku bisa mengambil hati Orang Tuanya suatu saat nanti. Aku berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

Meskipun pada akhirnya Aku mendapatkan pekerjaan yang lebih bisa dibanggakan, akan tetapi jujur saja hasilnya tidak sebanyak pekerjaan Aku sebelumnya. Akan tetapi jika dibandingkan dengan pekerjaan yang lama, pekerjaan baru Aku lebih bisa dibanggakan.

Setelah itu tentu saja kehidupan Aku semakin sulit. Banyak hal yang perlu Aku tinggalkan demi hidup lebih hemat. Setelah merasa sedikit bangga dengan pekerjaan Aku yang baru, Kami berniat memberi tahu Orang Tua Indri bahwa Kami masih menjalin hubungan dan ingin menikah. Jawaban yang Kami dapat intinya sama, Kami tidak direstui. Hingga setelah itu, kehidupan Indri semakin dibatasi oleh Orang tuanya. Bahkan ada kabar Dia diperkenalkan (dijodohkan) dengan Pria lain.

Aku putar otak hingga akhirnya Aku putuskan untuk memilih jalan pintas. Aku memaksa Indri untuk hamil duluan. Aku tahu ini sangat memalukan tapi Aku berpikir cara ini akan berhasil. Singkat cerita, Indri benar-benar hamil. Aku menyuruh Dia untuk mengatakan kehamilannya pada Orang tuanya.

Tapi semua tidak sesuai yang Aku harapkan, Orang Tuanya tetap tidak setuju dan memilih untuk segera menikahkan Indri dengan Pria lain. Hatiku sangat hancur, hari-hari Aku lalui tanpa semangat. Setelah beberapa bulan menikah, Indri melahirkan. Mendengar kabar itu Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan anaknya yang lahir. Aku tidak sempat melihatnya, sampai akhirnya Dia ikut Suami untuk meneruskan kehidupan Rumah Tangganya.

Tidak sengaja bertemu

Bertahun-tahun berjalan, Aku pindah dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain hingga akhirnya Aku bekerja sebagai penjual perabotan Rumah keliling. Pekerjaan yang tidak membanggakan tapi memberikan hasil cukup besar bagiku.

Saat keliling disuatu daerah, seorang calon pembeli memanggilku dan saat itu juga Aku tahu kalau Dia adalah Indri. Kami sempat kaget dan Kami juga gugup untuk beberapa saat. Basa basi sejenak kemudian Aku tanyakan anaknya yang sekarang sudah cukup besar. Dia menyuruhku masuk dan memperkenalkan Aku dengan anak tersebut. Om, panggilan untukku. Dia begitu lucu dan menggemaskan. Dari wajah dan postur tubuhnya sangat mirip denganku, namanya Rangga. Aku yakin Dia adalah anakku. Lebih yakin lagi ketika Indri meyakinkanku bahwa Rangga memang Anakku.

Hingga akhirnya, Aku sering mengunjungi Rangga dengan modus memberi kredit pada Indri agar tetangga tidak curiga. Aku pilih jam kerja karena Suami Indri tidak ada di Rumah. Aku ajak Dia bermain, membelikan makanan ringan, hingga memaksa Indri untuk menerima sejumlah uang untuk biaya hidup Rangga. Tentu saja harus dirahasiakan dari Suaminya.

Sejak saat itu Aku jadi sering termenung dan tersiksa dengan perasaan sendiri. Bayang-bayang panggilan "Om" sering menghantui pikiran Aku. Aku ingin panggilan itu berubah jadi "Ayah" tapi tentu saja itu tidak mungkin.

Sejak saat itu Aku jadi sering berjualan di daerah Indri tinggal. Dan akhirnya merangkap jadi tukang kredit perabotan Rumah tangga padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali, hanya terima uang cash. Tapi demi menghindari kecurigaan tetangga, Aku terpaksa melakukan hal itu. Bahkan Aku mencoba akrab dengan Orang sekitar. Sering mampir Rumah-rumah Mereka untuk sejenak ngobrol dan juga bercanda. Dengan begitu, Aku bisa leluasa mengunjungi Rangga dalam waktu lama tanpa menciptakan kecurigaan tetangga.

Aku tidak tahu apa saja yang Aku rasakan. Tersiksa, bahagia, dan perasaan apa lagi yang bercampur ketika bersama Rangga. Yang jelas, Aku hanya ingin membuatnya senang meskipun Aku hanya sebagai tamu bagi anak kandungku. Aku akan terus melakukan ini meskipun hanya Indri dan Aku yang tahu. Kasih sayang seorang Ayah yang tidak akan pernah disadari sang Anak. Bagi yang sudah punya Anak tentu tahu perasaan seorang Ayah yang tidak mendapat pengakuan dari anaknya karena keadaan.

Selesai
Sponsored : http://www.terbaru9.info/2017/12/katalog-oriflame-terbaru.html
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded