Profile cover photo
Profile photo
septa folina
35 followers
35 followers
About
Posts

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

BUKAN KARPET ALADIN SAYANg ~_~
Menyatukan cinta dua insan yang sudah dewasa dalam ikatan pernikahan merupakan suatu nilai ibadah . Pernikahan salah satu dari sekian banyak sunnah Rasulullah SAW, ibarat tali pengikat yang kuat maka dia menjadikan kesempurnaan bagi suatu hubungan pada belahan jiwa tanpa ada yang bisa memisahkan kecuali ijin Allah.
Namun dari sisimanakah kesempurnaan itu dapat dinilai? sebagaian orang memandang jika sudah lulus kuliah dan bekerja tetap maka baru bisa dikatakan  layak untuk menyatukan cinta dalam satu ikatan, ada pula yang memilih menikah ketika mendapatkan dukungan luar biasa dari orang tuanya walaupun masih duduk dibangku kuliah sementara keperluan hidup akhirnya ditanggung oleh orang tua, tidak sedikit pula yang berani mengambil jalan menikah sambil kuliah dengan segala biaya ditanggung oleh kedua pasangan baru tersebut dengan alasan menyempurnakan agama demi menghindari pacaran.
Hidup memang pilihan setiap insan, apapun pilihanmu maka lakukan dengan penuh kesungguh-sungguhan. Berfikir panjang untuk memutuskan pilihan bukan berarti  membuat kita melupakan bahwa Allah lah yang bisa menjadikan kita mampu tapi berusaha juga perlu.
Ada satu kisah yang menarik untuk diceritakan, kala itu sepasang pengantin muda dalam kamar kontrakan berbalut kesederhanaan tengah berjuang untuk membeli sejumlah barang-barang keperluan rumah tangganya, karena pada saat itu hanya ada kasur kecil dengan satu bantal, sebuah piring, sepasang sendok dan garpu, beberapa gelas, sebuah wajan,pisau,  penanak nasi, dan setrika, maka menyebutkan barang-barang tersebut berarti masih banyak perlengkapan lainnya yang belum terbeli.
Jika beberapa pasangan dengan gembira menceritakan kisah bulan madu mereka yang menyenangkan dipulau dewata, mendapatkan banyak kado istimewa dari teman dan kerabat belum lagi apartemen atau rumah minimalis pemberian dari sang mertua, hingga wedding party yang menghabiskan uang ratusan hingga miliaran rupiah. Sangat berbanding terbalik dengan pasangan yang satu ini mereka bertemu pertama kalinya pada saat pengajian ba’da subuh di sebuah masjid dekat terminal dimana masjid tersebut ramai dijadikan tempat diskusi bagi ikhwan dan akhwat. Bermula ketika sang akhwat mendapat giliran untuk menyampaikan materi “ bagaimana menjadi pembicara yang menarik” rupanya seorang ikhwan berwajah tampan tengah berdebar penuh rasa takjub mendengarkan pemaparan dari sang pemateri akhwat, dari situlah benih cinta mulai tumbuh.
Rupanya pertemuan yang pertama itu membuat sang ikhwan penasaran dengan identitas lengkap sang akhwat, akhirnya dia mencari tahu kepada salah seorang teman yang pada akhirnya menjadi sahabat. Mendengarkan informasi yang didapat dari seorang sahabat tersebut membuatnya yakin ingin berta’ruf, proses ta’rufpun dimulai sampai pada akhirnya pernikahan berlangsung.
Kisah karpet aladin ini berawal dari malam hari yang dingin ketika pasangan pengantin baru sedang mendengarkan  ceramah diradio dari seorang Da’i kondang pada saat itu, sang istri merasakan perutnya kembung kemudian kakinya terasa dingin karena berjam-jam duduk dilantai tanpa alas selembar kainpun. Sang suami bertekad akan membeli sebuah karpet setelah ia mendapatkan uang gaji yang setiap awal bulan ia dapatkan.
Sang suami yang sudah bekerja sekitar lima bulan disebuah lembaga training setiap akhir pekan selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan pelatihan yang membutuhkan tanggung jawab besar sehingga sering kali pada jam-jam tersebut terpaksa meninggalkan istri demi tuntutan pekerjaanya. Ketika suaminya bekerja sang istri juga memiliki kegiatan pengajian rutinan dan membantu membimbing pengajian anak-anak di masjid dekat kontrakannya.
Rupanya semenjak sang suami bekerja meninggalkan rumah sang istri sering kali duduk termenung beralaskan lantai yang dingin, hal itu membuatnya ingin segera memiliki sebuah karpet agar tidak merasa kedinginan lagi. Dia akhirnya berfikir bagaimana cara yang tepat untuk membicarakan pada sang suami agar karpet segera dibeli tanpa harus menunggu gajian diawal bulan, sang istri bingung kemudian sampailah pada harinya dimana sang suami dijemput oleh istri di geus house tempat dia menginap.
Assalamu’alaikum Kang kata sang istri sambil mendaratkan ciuman dipipi suaminya, sang suami membalas dengan memeluk sang istri sambil bertanya “sudah makan sayang”? Sang istri menjawab malu-malu “belum …” kemudian diambilkannya sepiring nasi dan lauk-pauknya istimewa khusus untuk istri. Di meja gues house sang suami menceritakan kegiatan pelatihan yang baru selesai itu “Alhamdulillah berjalan lancar” ujarnya membisikkan ketelinga sang istri. Sambil mulut yang terisi makanan sang istri berusaha menjawab “mmm … Alhamdulillah kalau begitu”.
Setelah selesai makan sang suami ingin membahagiakan istri dengan mengajaknya jalan-jalan, sang istri setuju menerima ajakan tersebut “kita survey harga karpet saja yuk ke swalayan supaya nanti bisa dianggarkan” ajak istri, sang suami akhirnya mengiakan.
Swalayan yang besar itu menyediakan lengkap berbagai keperluan untuk rumahtangga karena banyak barang yang belum mereka beli sang istri mondar-mandir melihat satu demi satu perabotan yang ada disana. Sampai akhirnya tertuju pada satu sudut yang memajang aneka karpet, sang istri mulai meraba-raba bahannya dan mengecek harganya sementara sang suami hanya memandangi saja melihat antusias istrinya. Kang sepertinya karpet yang ini cocok buat di kontrakan kita motifnya bagus dan harganya juga tidak terlalu mahal ujar sang istri. Sayang tidak ada komunikasi yang baik antara istri dan suami karena merasa harga karpet itu murah sang istri agak memaksa untuk membelinya sampai sang suamipun akhirnya menyetujui. Selesai memilih warna karpet akhirnya mereka membayar di kasir, Subhanalllah uang yang ada di dompet sang suami pas dengan harga karpet tersebut, wajah berbinarpun muncul dari sang istri karena mendapat karpet baru yang akhirnya tidak akan lagi duduk kedinginan diatas lantai tak beralas. Begitu keluar dari swalayan tersebut sang suami membisikan pada istri “kita pulang jalan kaki saja karena uangnya sudah habis untuk membayar di kasir tadi, dan karpet ini bukan karpet aladin yang bisa membawa kita terbang ke kontrakan”!!! Ditengah terik matahari kota Bandung sepasang suami istri ini berjalan menyusuri jalan raya yang jaraknya cukup jauh, sekitar satu jam mereka berjalan kaki untuk menuju kontrakan. Wajah yang tadi berbinar berubah drastis menjadi merah karena menahan panasnya terik matahari, demi karpet baru seorang istri harus menahan letih berjalan kaki Subhanallah menikah memang penuh perjuangan …

PERJODOHAN DI JAMAN MODERN
Akhwat, ya itulah panggilan untuk perempuan yang memakai hijab panjang menjuntai hingga menutupi bokongnya, seminar keagamaan atau pengajiaan dari satu masjid ke masjid lainnya bisa dilalap habis oleh perempuan seperti ini. Bukan untuk gaya-gayaan memang para akhwat penampilannya agak ekstra dari atas sampai bawah ditutup rapat, mulai pakai kerudung yang lebar hingga kaos kaki. Pergaulannya lebih teratur dengan teman-teman dikampus mereka acap kali membuat acara seperti baksos dan  pengajian-pengajian rutinan.
Tentu tidak semua akhwat saya ceritakan disini yach, cerita perjodohan ini dimulai dari sebuah masjid yang terletak di daerah Bandung di masjid inilah kisahnya berawal, seorang akhwat yang kala itu masih duduk disemester satu usianya kira-kira 18 tahun ia menjadi salah satu pengurus dimasjid tersebut menurut cerita perangai akhwat ini sangat ceria manakala dia datang adik-adik binaan dimasjid tersebut teramat girang dibuatnya, dongeng-dongeng lucu seringkali dibawakan begitu jenaka sehinggga membuat mereka tertawa lepas, bisa dibayangkan bukan betapa cerianya akhwat yang satu ini.
Tak hanya itu jiwa aktivisnya sangat kental tak puas dengan membina adik-adik kecil, akhwat beserta rekan-rekannya membuat kelompok bermain untuk anak-anak usia dini. Setiap hari jum’at dan sabtu sang akhwat harus menunaikan kewajibannya ditempat lain yaitu kampusnya yang islami juga banyak memberikan warna pada pergaulannya sebagai mahasiswa dia memiliki pola pikir yang berbeda. Mendadak akhwat yach begitu ledekan dari teman-temannya karena semenjak kuliahlah dia banyak merubah segalanya dari gaya berbusana yang jilbaber hingga jaga hijab dengan lawan jenisnya, wah!! Seperti bunglon saja yach yang menyesuaikan warna kulitnya ketika berpindah tempat, tapi baguslah kalau perubahannya kearah yang positif.
 Teh may, itu panggilan sahabatnya di kampus posturnya tidak terlalu tinggi tapi sangat berisi setiap harinya memakai pakaian yang berwarna gelap, setiap berjumpa di kampus mereka sering berdiskusi tentang hal-hal yang berbau aqidah.  Sambil berjalan menyusuri jalan raya dan sesekali melirik kearah angkot yang kosong ia bertanya pada sahabatnya itu “ teh may, seumpama kata Allah jodoh kita datangnya tahun 2007 kira-kira bisa ngak yach kita percepat jadi jadi 2005?” tanpa pikir-pikir sahabatnya itu menjawab lantang “ bisa!!” hanya itu jawabannya tapi sangat membuat akhwat termotivasi dan berfikir panjang, tiba-tiba klakson supir angkot memanggil mereka menghentikan dan masuk kedalamnya. “ memang ukhti mau segera menikah yach? Sudah ada calaonnya?” Tanya teh may, “ insyaAllah teteh saya mau menikah 9 september 2005” jawab akhwat mantap padahal calonnya saja belum punya.
Kegiatan yang padat membuat sang akhwat sedikit terlupakan dengan target menikahnya, sehingga suatu saat terjadi musibah besar yang tak kan terlupakan oleh bangsa Indonesia diakhir tahun 2004 yang meluluh lantahkan Nangroe Aceh Darussalam, ya bencana tsunami itu terdengar disemua kabar berita ketika awal Ramadhan, ngeri pilu bercampur duka hingga membangkitkan giroh sang akhwat untuk mendatangi salah atau masjid dekat rumah kontrakannya, sambil membawa uang lima puluh ribu, beberapa potong baju dan sebuah Al-Quran untuk diserahkan kepada panitia di masjid supaya bisa diserahkan bagi korban tsunami. Ditempat berbeda seorang ikhwan remaja masjid dekat kontrakannya rela meninggalkan bangku kuliah dan pekerjaanya dia sempatkan diri untuk berpamitan pada orang tuanya untuk menjadi sukarelawan agar bisa menolong langsung korban tsunami, susah payah mendapatkan ijin akhirnya orang tuanya luluh juga dan mengijinkan.
Beberapa bulan ikwan ganteng itu berada ditengah-tengah mayat yang sudah membusuk, namun karena sudah bulat tekadnya maka walau sempat matanya memberi tanda bahwa fisiknya tidak sehatpun ia tetap memaksa berada di posko korban. Tidak ada alat komunikasi yang bisa digunakan untuk menghubungi family atau teman-teman yang berada di Bandung, hanya sesekali jika teringat ibunya ikhwan ini berdoa untuk keselamatan dan kesehatan bagi sang ibu.
Masa pengabdian itu akhirnya selesai juga, sekembalinya ikhwan ini ketempat biasa ia beraktifitas maka tibalah diwaktu ba’da subuh yang indah ia membagikan kisahnya selama di Aceh dalam balutan tausiyah. Selesai acara tausiyah di masjid itu seorang kawan berinisiatif menjodohkan mereka berdua karena dirasa cocok dan sepadan, awal mula taaruf sampai akad nikah teman inilah yang menyampaikan informasi dari kedua belah pihak. Atas  ijin Allah pernikahan berlangsung khidmat di sebuah masjid dekat terminal. Subhanallah … hanya meleset beberapa angka saja azam sang akhwat menikah pada tanggal yang direncanakannya, bulan dan tahun menjadi saksi betapa keinginan kuat itu berbuah manis.
 
 
* INI TEH SUSU??
Hampir tidak ada bedanya dengan perasaan orang tua lainnya ketika baru merasakan pengalaman luar biasa dalam hidup ini, ada rasa haru, bahagia, tiada kata yang bisa digambarkan seunik ini. Sepasang suami istri disebuah sudut ruangan rumah sakit bersalin sambil bertasbih tak henti-hentinya lirih keluar dari mulut sang suami sembari memandangi kening serta sesekali mengusap pipi istri tercinta “ terimakasih sayang … karena hari ini kau menjadikanku seorang suami sejati sekaligus ayah. Alhamdulillah anak kita laki-laki beratnya 3,75 Kg “ ujar sang suami.
Dibalik kebahagiaan itu pemandangan lain pun muncul dari sebelah ranjang pasien, seorang ibu setengah baya menangis seorang diri sambil menyusui bayi perempuan yang baru dilahirkannya, berbeda dengan pasien lain yang ditemani suami serta family sedangkan ia hanya seorang diri anggota keluarga lain tidakkah sudi sekedar menjenguknya tanya sang istri heran. Meski badan masih terasa sakit dibantu dikuatkan dengan sisa-sisa obat bius sang istri yang baru beberapa jam keluar dari ruang operasi tak mampu menghalangi batinnya untuk tidak merasa iba, naluri keibuaanya yang baru saja ia rasakan keluar dari layar yang baru saja ia saksikan langsung tepat didepan matanya dia yakin betul hal ini bukan setingan sang sutradara, kemudian seorang perawat yang menggunakan jilbab itu mendatanginya dengan tak sungkan lagi karena mungkin sudah biasa seperti itu “ ibu… katanya, waktu ibu sudah lewat dari lima hari sebaiknya segeralah suami ibu datang ke bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit, tidak apa-apa bayinya ditinggalkan disini sebagai jaminan kalau nanti sudah dilunasi bayi ini boleh dibawa pulang”. Astagfirullah sekali lagi ini sungguh nyata, setelah itu keluarga pasien dari ibu yang melahirkan dua anak kembar kemudian mengusap punggungnya sambil berpamitan, entah apa yang dibisikkannya barang kali semacam kata-kata motivasi sembari bersalaman dan menyelipkan uang diselimut bayi, merekapun akhirnya meninggalkan rumah sakit.
Beberapa hari menyaksikan hal tersebut membuat sang istri memaksakan badannya turun dari ranjang, bukan hal mudah bagi pasien pasca operasi cesar bisa menuruni ranjang yang terasa begitu tinggi akh … rasanya lebih baik menuruni anak gunung. Perlahan sambil menghampiri tatapan mata yang tak berujung itu untuk ruangan yang sangat sempit, dia mencoba menyelami perasaan seorang hamba Allah yang tengah dirundung duka wajah sumringah tapi jauh dilubuk hatinya dia menyimpan pilu yang begitu dalam. Oh Rabb  … pantas saja ibu itu tak ditemani keluarga satupun ternyata suaminya sedang mencari pinjaman untuk bisa keluar dari rumah sakit beserta bayinya, dia datang dari sebuah desa di bagian barat kota Bandung tadinya dia ditangani oleh dukun beranak di desanya hanya saja karena pendarahan yang begitu hebat maka dilarikanlah ke dokter terdekat namun kondisi lemahnya membuat dokter terpaksa merujuknya untuk segera dioperasi di rumah sakit yang lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan, dari sanalah suaminya kebingungan begitupun dengan family yang lain tak perduli dengan keadaan mereka karena sama miskinnya. Rasanya remuk hati ini mendengar kisah pilu itu lebih terasa sakit dari luka operasi yang dirasakan beberapa hari lalu ujar sang istri.
Sebenarnya kondisi suami istri ini sama halnya dengan ibu malang itu, harus membayar biaya operasi sebesar lima setengah juta. Lima hari berlalu dirumah sakit akhirnya sang suami wajib membayar lunas biaya tersebut yang didapat dari pinjaman kantor kemudian mereka bergegas menuju kontrakan yang sudah tergelar karpet aladin tepat diruang tamu nan mungil.
Jika ada istilah seribu derajat maka ini cukup untuk menggambarkan kehidupan mereka yang memang berubah drastis, sang istri tak bisa lagi leluasa memasak, mencuci, bahkan makan sesuka hati kini ada seorang bayi yang membutuhkan gendongan hampir separuh hari, maka tatkala itu ba’da subuh setelah sang suami menunaikan shalat berjama’ah di masjid dekat kontrakan sang istri meminta dibuatkan segelas susu hangat.  
Bukan dari keluarga pebisnis bukan pula politikus sang suami sebenarnya lahir dari keluarga petani sederhana untuk kuliah saja dia harus mencari sendiri bahkan untuk menikah semua diusahakannya seorang diri. Mungkin saja hasil dari pengalaman hidupnya yang serba mandiri banyak ilmu yang didapatkannya termasuk ilmu siasat, sepertinya ada pengalaman luar biasa yang pernah dialaminya sehinggga pelajaran otodidak ini begitu penuh penghayatan dari lubuk hatinya.
Manakala saat itu ketika sang istri meminta segelas air susu hangat maka ilmu siasat tersebut mulai dipraktekkannya. Diatas meja terdapat dua jenis susu, dus pertama produk susu untuk bayi sedangkan dus berikutnya susu khusus untuk ibu menyusui. Entah ilmu dari mana lagi seketika sang suami berfikir dengan sangat cerdas siapa lagi yang akan menghabiskan susu bayi sementara kadarluasanya segera habis sedangkan susu itu dibeli karena kebutuhan terdesak pada saat sang istri belum pulih untuk bisa menyusui, saran dokter jika sudah sampai di rumah maka bayi jangan lagi diberi susu formula tersebut. Lalu dengan cekatan dicampurkannya kedua susu itu sambil mencuri-curi pandangan sang istri, untung saja jantungnya tidak copot saat itu karena menahan gugup pada saat mencampur. Selesai membuat sang istri disuruh segera minum dengan cepat, namun sayang lidah sang istri begitu sensitif sehingga merasakan hal lain dalam segelas susu penuh cinta tersebut, kemudian sambil menahan mual dia bertanya “ Ayah ini susu yang mana? Kok aneh ya rasanya …” sambil menunjuk malu-malu dan telunjuk menunjuk sengaja tidak fokus maka dijawabnya “ itu … susu … yang itu … itu … “ mendengar jawaban itu maka sang istri meminta agar suaminya lah yang menghabiskan segelas susu hangat yang baru saja dibuat,  setelah menghabiskannya maka seketika sang suami segera berlari kebelakang.
Tidak ingin berbohong, dan tidak pula mau terjadi mubadzir atas dasar itulah sang suami melakukan kisah “ini teh susu??
 
 
 ^_^ Bahagia Saat Memberi Walaupun Dalam Keadaan Sulit***
Siang hari seorang ibu pulang dari menjemput anaknya yang bersekolah di taman pendidikan usia dini sambil membawa putra bungsunya menunggu angkot kosong, arah rumah mereka sebenarnya tidaklah terlalu jauh dari sana namun karena membawa anak kecil maka menaiki kendaraan umum menjadi pilihan, maklumlah saat itu ia belum bisa mengendarai sepeda motor. Motor yang hanya satu-satunya milik mereka biasa dipakai oleh sang suami untuk bekerja. Manakala angkot berhenti didepan sekolah itu bergegaslah ibu muda ini menaikinya sambil menggendong si bungsu, sesaat setelah duduk tepat didepannya terdengar suara tangis yang sangat kuat dari bocah lelaki tanpa alas kaki serta baju kumal berbau pesing, sempat  kerling sesaat sekedar simpati karena bocah itu hampir seusia dengan putra bungsunya. Sungguh kentara menyaksikan langsung seorang gadis yang sama dekilnya berusia belasan tahun menggendong bocah yang ternyata adiknya itu, sambil mengusap kepala anak bungsunya iapun menahan pandangan sejenak pada dua bocah tersebut. Langsung terlintas  dipikiran bahwasanya diwaktu fajar tadi saat melihat berita di televisi  banyak penjualan anak dibawah umur yang sebelumnya diculik terlebih dahulu. Sontak sang ibu  langsung teringat jangan-jangan gadis kecil ini seorang penculik suruhan, sempat awalnya ditanya asal dan tujuan gadis namun jawabannya sambil gemetar dia menjawab hendak pergi kerumah paman untuk meminjam uang karena ayah mereka sakit sudah beberapa hari kemarin tidak bisa memulung maka terpaksa harus meminjam uang pada sang paman untuk membeli beras yang sudah habis di rumahnya. Karena ragu dan bingung ketika rumah sang ibu sudah dekat maka dengan agak memaksa tangan gadis kecil dipegang diajak turun beserta adiknya. Sambil berjalan menuju rumah sang ibu memperhatikan langkah dari cara gadis itu berjalan serta cara ia menggendong sang bocah, pasti hal seperti ini sudah biasa dilakukannya sambil sesekali membetulkan celana adiknya yang melorot ia juga sering mencium pipi adiknya itu. Kemudian setiba di ruang tamu matanya tajam melihat sekitar ruangan Nampak ragu dan asing, sertamerta ia duduk dilantai kemudian sang ibu mempersilahkannya duduk dikursi sambil menawarkan makan dan minum seadanya karena mereka sendiri sebetulnya sedang dalam kondisi sulit baru-baru ini mereka baru pindahan ke rumah tersebut yang cicilannya lumayan besar. Akhirnya sambil anak itu makan sang ibu melontarkan beberapa pertanyaan pada gadis kecil itu sampai akhir cerita dari sang bocah iapun merasa iba, dibungkuskannya makanan serta beberapa lembar pakaian dan diantarkan pulang menuju rumahnya.
Sesampai di gang menuju rumah sang bocah terlihat suasana jalanan yang becek serta bau busuk sampah yang juga mewarnai sampai ke kediaman keluarga pemulung ini, setiba didepan pintu ternyata benar setelah melihat langsung kondisi ayah mereka memang sungguh sedang sakit, tak kuasa menahan tangis tiba-tiba sang ibu mengeluarkan uang jatah belanjanya yang kemudian diberikan langsung pada pemulung tersebut. Sambil berlinang air mata ia menceritakan kisah pilu kehidupannya, kondisi kontrakan yang kumal serta tak layak huni bagi manusia terpaksa mereka jalani terlebih keadaan semakin sulit tiga tahun terakhir saat sang adik masih bayi ibu mereka memilih berpisah dengan menjadi TKW ke Arab Saudi tanpa tahu bagaimana kabarnya saat ini dan entah kapan akan pulang lagi untuk merawat anak-anaknya kembali.   
 Menuruni anak tangga yang sudah tidak kokoh lagi sang ibu menuju pulang sambil beristigfar, kemana aparat pemerintah didaerah sini gumamnya dalam hati mengapa kondisi keluarga pemulung ini dibiarkan begitu hina dengan kumalnya rumah mereka, tidak adakah warga sekitar yang iba dan mau menolong mereka selama ini, masya Allah jalan raya dekat kontrakan mereka sering dilalui mobil-mobil mewah kalau mereka mau bisa saja mereka mengemis meminta-minta pada pemilik Alphard mewah yang sering melaju di jalan itu. Sesampai di rumah sang istri menceritakan pada suaminya apa yang ia alami tadi siang, sang suami turut menyesal andai saja saat itu sedang berlimpah uang maka bukan sekedar uang belanja yang diberikan tentu lebih dari itu.
 
Hikmahnya punya tetangga cerewet
Sebut saja Marwah dan suaminya Zaki yang baru saja pindah ke kontrakan baru mereka, bisa dibilang agak mewah karena memiliki kamar mandi, dapur, dan ruang tamu yang berada didalam. Namun semua itu tidak membuat kehidupan  keluarga Marwah bisa sunyi menyendiri tanpa tetangga, saat pindahan mengangkut barang tetangganya yang sering disebut Nyai itu melemparkan pandangan kurang sedap seolah-olah kepindahan mereka mengusik kenyamanannya, entah apa alasannya tiba-tiba tanpa sebab yang jelas kejadian itu berlangsung berhari-hari. Namanya sesama ngontrak pikir Marwah apa yang beda, kita disini sama-sama bayar sewa jadi mengapa harus saling mengusik kebahagian orang lain, seiring berjalan waktu dia bisa kebal menerima kerlingan yang tak mengenakkan itu. Gambarannnya seperti ini, rumah kontrakan itu terdiri dari dua lantai layaknya rumah susun sehingga parkiran kendaraan yang kebagian posisi diatas terpaksa menyimpannya dibawah didepan kontrakan tetangga, jika tetangga lain tak pernah merasa terganggu tapi mengapa tetanggga yang satu ini sering mencari alasan agar kami tidak nyaman dan segera pindah dari sana ujar Marwah dalam hati.
Selain itu Nyai sempat melontarkan kata pada seseorang, bahwa rumah yang persis ditinggali Marwah memiliki mitos bahwa sudah beberapa kali yang mengontrak disana jadi berhasil membeli rumah pribadi. Mungkin itulah alasan mengapa Nyai bengis pada keluarganya takut kalau Marwah juga jadi punya rumah karena mengontrak di rumah itu. Pada  suatu hari Nyai melabrak ke kontrakan Marwah berkata-kata kasar menyebut kehadirannya membawa petaka virus malaria yang menyerang anak dan suaminya sehingga dirawat di rumah sakit, alasannya karena kontrakan yang posisinya diatas menyengaja terjadi genangan air serta buang sampah sembarangan tapi virus malah menyerang rumah yang posisinya dibawah. Masya Allah ini tidak masuk akal. Kejadian itu sangat menampar wajah dan hatinya, sungguh awal kesedihan yang panjang, dia menahan tangis karena bingung harus pindah kemana lagi. Gosip mulai menyebar bahwa keluarga Marwah penyebar penyakit  akhirnya seiring beredarnya berita itu dikalangan tetangga , diapun jadi terfikir untuk mencari lokasi komplek perumahan yang bisa dicicil, sampailah pada suatu komplek yang dirasa cocok lalu dengan uang seadanya rumah itu di booking, entah berita dari mana Nyai kembali kesal bahkan meradang mendengar hal itu sampai akhirnya dia membuat sakit hati Marwah dengan lebih tragis, amunisi yang lebih membombardir akhrinya dikeluarkannya juga, setiap sore menjelang magrib bau bakaran menyan menyeruak dari rumah Nyai entah apa tujuannya, memang iri dan dengki bisa merusak akal sehat manusia yang seharusnya dipakai berfikir produktif.
Keadaan Marwah memang pas-pasan sehingga perlu waktu untuk bisa membayar uang muka angsuran rumah itu, kalau saja kondisi serba ada mungkin kepahitan ini bisa dengan mudah diatasi dengan cara segera pindah ke rumah sendiri. Sempat terfikir olehnya orang dulu mengontrak sebelum dirinya sudah pasti mengalami kepahitan yang sama dialaminya oleh ulah Nyai. Berharap bisa segera pindah namun ternyata Bank tidak bisa mengabulkan permohonan kreditnya karena satu dan lain hal, terpaksa Marwah gigit jari menunggu waktu itu tiba. Masalah semakin memuncak dia sudah tidak tahan lagi untuk keluar dari ganasnya cercaan dari sang tetangga, secara tidak sengaja pertolongan Allah mulai datang pada saat pengajian di masjid bertemakan sedekah, Marwah kembali antusias mengejar keinginannya untuk punya rumah sendiri dan jauh dari masalah tetangganya, dia mulai menjual berbagai perhiasannya untuk disedekahkan serta baju yang masih bagus diantaranya adalah baju kesayangaanya, semua habis untuk disedekahkan, agar Allah membukakan pintu untuk keluar dari masalah pelik itu. Tiga bulan berselang belum ada ada juga kabar yang menggembirakan hati namun dengan sabar dan terus bersedekah Marwah dan keluarga bisa kuat sampai-sampai lupa akan keinginannya punya rumah, moment yang tak disangka saat dia dan suami mengunjungi suatu tempat ternyata disana ada perumahan yang baru saja dibuka sempat tanya-tanya kemudian mencoba untuk mengajukan lagi kredit rumah, Allah Karim tak disangka prosesnya begitu cepat dan mudah tak kurang tiga bulan akhirnya marwah punya rumah, rasa kecewa yang sempat menyelimuti hati sirnah sudah tetangga yang tak bersahabatpun tak dihiraukan lagi, malah Marwah bisa ramah saat bertemu kembali, kasihan Nyai tak banyak berubah karena iri dan dengki menghalangi rizki dia tetap berada dikontrakan yang sama tanpa ada kemajuan sedikitpun, Naudzubillah jangan ditiru …

Saya usulkan ada Menteri jalan umum!!!
Hanya sepenggal cerita mungkin tak penting bagi yang tak ikut merasakannya manakala setiap hari tanpa choise harus melewati jalanan rusak penuh lobang serta mengendara kendaraan tersendat menunggu giliran maju dikarenakan kemacetan pagi hari dijalan yang bukan didaerah perkotaan. Di kota Jakarta sudah tidak aneh lagi tapi jika macet di wilayah kabupaten ini tak semestinya terjadi. Tentu saja anda yang mengendarai mobil mewah hal ini bukan masalah karena duduk dikursi empuk sambil nonton, tapi bagi anda pengguna kendaraan roda dua bersiaplah menangis karena menahan beban dikaki selain itu telat sampai ke kantor atau sekolah anak. Hal ini pernah saya alami ketika jemputan langganan tiba-tiba tak datang maka sayalah yang berinisiatif memanaskan motor lalu mengantar anak sulung pergi ke sekolah, jarak yang jauh membuat saya bergegas namun motor saya terhenti ketika pertigaan dekat kampus ternama di daerah Bandung macet total sangat sulit untuk merayap sekalipun, belum lagi di tanjakan sebelahnya yang dekat jurang itu padat oleh mobil, bau koplingpun ikut mewarnai belum lagi suara klakson dimana-mana. Sungguh macet paling kacau yang pernah saya rasakan karena ini bukan jalan di tengah kota.
Dua kali lipat waktu yang terpaksa saya ikhlaskan agar tiba di sekolah anak, terlalu banyak memang jumlah kendaraan pribadi yang dimiliki warga Bandung. Kemudahan-demi kemudahan memiliki kendaraan faktor pemicu terjadinya kemacetan, belum lagi sempitnya jalan serta rusak yang ditimbulkan akibat bahan baku pengecoran jalan yang tidak sempurna, buktinya saja di dekat rumah saya yang menuju daerah Parompong Bandung Barat usia jalan hanya bertahan satu tahun setengah saja selebihnya rusak kembali, nah kalau sudah rusak begini mungkinkah harus menunggu korban jiwa dulu baru diperbaiki lagi? Tanda tanya besar sungguh miskinkah negeri kaya raya yang banyak sumber daya alamnya ini, sehingga untuk membuat jalan yang layak saja tidak ada modal. Atau perlukah menteri khusus yang tugasnya bertanggungjawab memelihara infrastruktur jalan?
Setiap kali keluar rumah saat melewati jalanan yang rusak padahal mobil mewah sering melewati jalan itu, saya selalu berfikir apa yang bisa saya lakukan untuk negeri  ini. Jujur saya lebih suka ketika perjalanan dengan jalan tol, walaupun harus bayar tapi merasa lebih puas jalan yang mulus serta terawat lebih menenteramkan hati. Akhirnya otak ini mengambil jalan pintas itu, sebuah ide kurang brilian tapi hati saya tulus ingin kondisi jalan di Bandung ini lebih baik. Jika memang pemerintah tidak punya banyak uang, semoga ide saya ini bisa jadi solusi. Saya fikir demi kenyamanan, warga Bandung akan rela membayar dengan uang receh demi bisa melewati jalan yang mulus dan terawat serta dipinggir jalan itu dikelilingi kanan kirinya dengan pohon papaya, anggur, jambu, serta bunga-bunga nan cantik. Kalau begini anda tidak merasa sedang dalam perjalanan tapi seperti liburan menikmati taman buah dan bunga dipinggir jalan, anda boleh memetik jika memang menginginkan tidak ada larangan, tapi jika berniat untuk merusak tentu saja ada hukum yang berlaku tidak jauh-jauh dibawa ke kantor polisi cukup hukuman dilakukan di tempat yaitu cambuk 3 kali, cukup ringan bukan? Ini bukan mimpi kosong kita bisa merealisasikannya cukup dengan uang receh dan cinta kasih untuk merawatnya, pasti mudah untuk dilaksanakan karena orang Bandung itu ramah dan penyayang.
Lalu bagaimana dengan transportasi umum kita? Urang Bandung yang taat hukum dan cinta kedamaian tentu saja akan memilih kendaraan umum untuk bepergian asalkan nyaman dan aman. Kalau begitu urang bandung perlu monorail dalam basa sunda berarti hiji kareta wah apapun itu urang sunda mah sudah gaul memakai bahasa inggris jadi namanya tidak usah diganti.   
Saya yakin bukan hanya satu dua orang yang memikirkan hal ini, apalagi mereka-mereka yang pintar itu sangat terfikir akan kenyamanan fasilitas jalan umum. Semua orang membutuhkan kenyamanan baik orang level teratas seperti menteri sampai level bawahan, memangnya keluarga presiden atau menteri tidak pernah berlibur kedaerah wisata semisal di Bandung? Padahal kalau mengunjungi tempat-tempat disana pasti merasakan badan bergoyang kanan dan kiri ketika melewati lobang-lobang di jalan, paling tidak pemimpin seperti mereka memikirkan demi keselamatan keluarga mereka sendiri ketika menjadi pengguna jalan. Wah kapan yach mimpi punya jalan yang mulus bisa terwujud?

Cantiknya Malaysia
Seumur hidup saya memang belum pernah naik pesawat, pernah dulu terungkap dalam hati andai nanti bisa naik pesawat maka pertama kalinya ingin ke Mekah untuk ibadah umroh. Sudah ada niat namun panggilan duitnya yang belum juga datang, he …  maksudnya ketika itu belum punya uang yang cukup. Seiring waktu saya pernah mendapat pengalaman berharga yang sangat menyedihkan ketika berada dalam kemacetan membuat saya sungguh kesal dan berfikir banyak hal diantaranya bagaimana negara ini bisa maju dan berkembang jika anak sekolah datang terlambat karena macet? bagaimana karyawan bisa bekerja dengan baik jika transportaasi tidak disediakan dengan nyaman di negeri ini, akhirnya terbesit keinginan ingin mengunjungi negara tetangga yang terdekat agar tahu bagaimana rasanya naik monorail yang ada di Malaysia. Tadinyana seorang kawan di negeri Jiran mengundang kami sekeluarga untuk pernikahan adiknya, wah ini moment yang pas. Saya yakin ini kehendak Allah karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Akhirnya buru-buru saya buat paspor bersama anak yang masih kecil-kecil. Ternyata membuat paspor saja kami harus bersabar tahu sendiri lah urusan seperti ini di Indonesia tidak cukup  sehari untuk bisa selesai membuat paspor. Hari pertama antrian dari jam sembilan pagi selesai hampir jam tiga sore bayangkan berjam-jam saya tidak bisa mengerjakan hal lain selain mondar-mandir memfoto kopy yang dua kali salah, aduh ribetnya kata saya dalam hati. Tiga hari berikutnya saya dan anak-anak kembali lagi ke kantor imigrasi untuk foto dan wawancara ternyata masih juga harus mengantri padahal berangkat sudah dari pagi hari selesaipun tetap  siangnya, saya pikir dari sini paspor sudah bisa langsung jadi, Masya Allah ternyata harus menunggu tiga hari lagi baru bisa diambil, untuk paspor saja butuh waktu seminggu. Saya berdoa ditengah antrian, tahun depan kantor ini semoga bisa mengurus pembuatan paspor dalam waktu sehari saja.
Anak-anak girang betul setelah proses yang panjang kini mereka sudah punya paspor apalagi si bungsu  berkali-kali dia meminta ingin melihat fotonya yang ada didalam paspor, tertawa geli juga bahagia bukan main karena kami akan mengunjungi Malaysia untuk banyak hal diantaranya urusan pribadi kami yaitu keperluan menghadiri undangan, anak-anak yang ingin berlibur dan naik pesawat, saya sendiri ingin naik monorail yang akan saya impikan negara sayapun akan punya dibeberapa tahun kedepan.
Saban hari kata orang Jakarta mah anakku terus bertanya kapan naik pesawat? Sampai-sampai saya pusing menjawabnya maklumlah anak kecil suka tidak sabar sebenarnya saya sendiripun  tidak sabar untuk segera ke negeri Jiran itu.
Dua hari sebelum berangkat ke Malaysia kami sekeluarga pergi ke Jakarta untuk mengunjungi monas karena saya sendiri belum pernah masuk , awalnya hanya ingin mengambil gambar untuk dokumentasi tapi ternyata kekecewaan harus kami telan bulat-bulat. Bagi yang pernah datang kemonas hari minggu pasti hafal, ya begitulah karena hari minggu monas padat oleh sampah dan berjubel manusia karena setiap hari itu disana seperti pasar, sulit juga masuk kepintu gerbang entah hanya hari minggu saja atau tiap-tiap hari begitu pokoknya yang saya rasakan sebagai warga Indonesia sendiri sulit sekali untuk masuk pintu gerbang. Karena dikunci oleh petugas, terpaksa kami mengikuti kebanyakan orang yang masuk lewat pagar yang sengaja dirusak, bingung kan maksudnya? Maksudnya ada beberapa pagar yang sengaja dirusak untuk akses masuk gerbang berarti memang orang sulit untuk masuk kesana, susahnya bukan main. Terik matahari semakin membakar emosi, akhirnya saya hanya mengambil beberapa buah foto saja dan akhirnya pulang, fotonya sangat bagus anak-anak tersenyum gembira di depan monas yang disekelilingnya diwarnai sampah plastik yang cukup banyak. Ya inilah potret ibu kota Jakarta.
Hari naik pesawatpun tiba semua sudah dipersiapkan, kami ready to flight, wow perjalanan yang teramat berkesan si sulung dan si bungsu yang tak habis-habis bertanya ini itu, bahkan ada satu pertanyaan geli saat pesawat berada diatas “ ayah .. kok pesawatnya goyang-goyang mau jatuh yach? Manakala cuaca sedang buruk yang mengakibatkan pesawat sedikit bergoyang, wajah ceria anak-anak berubah pucat nah akhirnya suami membimbing mereka untuk berdzikir agar hilang rasa takut haha lucu bukan main. Pramugari di saat pesawat mulai tenang mulai membagikan makanan yang telah kami pesan, makanan pun tiba  nasi lemak membuat kaka si sulung terdiam sejenak, karena kelezatannya habislah hidangan itu sampai butir terakhir.
Landing time .. Subhanallah hamparan kebun sawit milik Malaysia itu terlihat cantik dari atas pesawat ketika sudah mendarat sempurna kamipun turun dari pesawat, tidak kami lewatkan mengambil foto beberapa jepretan dengan fose turun dari tangga pesawat. Tak sabar rasanya ingin segera naik monorail yang selama ini hanya bisa dilihat dari internet. Letih yang kami rasakan memaksa tubuh ini harus beristirahat dahulu di hotel yang telah dipesan dari beberapa hari sebelumnya, sambil relaksasi melihat indahnya suasana kota Kualalumpur dari kaca kami lepaskan mata memandang sejauh mungkin, rasanya belum percaya kalau saat itu benar-benar raga kami berada disana. Keesokan harinya perjalanan yang akan membuat inspirasi besar untuk negeri pun terlaksana ternyata setelah mencoba sendiri naik monorail memang transportasi itu sangat nyaman dikarenakan peraturan yang dibuat seperti tidak boleh makan dan minum, membawa binatang peliharaan, serta tidak boleh menempelkan sisa permen karet di kursi sangat dipatuhi oleh warganya, itulah alasan mereka lebih suka naik transportasi umum yang disediakan pemerintah. Gambaran lain yang bisa saya bagikan saat berada  disana jalan raya mereka semuanya mulus tidak ada lobang sedikitpun, begitu juga sampah hanya dibeberapa titik saja terlihat selebihnya bersih. Monorail yang saya sebut-sebut itu nyaman  bukan main full ac, ngantrinya juga tidak lama sungguh perjalanan yang menyenangkan samapun dengan kereta api comuternya. Subhanallah cantiknye Malaysia infrastruktrur jalan semuanya kemas kata orang Malaysia yang artinya rapih. Sayapun mengunjungi Twins Tower yang berada di KLCC Kualalumpur Convention Center disana ada bus yang bisa dinaiki percuma alias gratis wow di Indonesia masih belum ada tentunya, selain itu Putrajaya pusat pemerintahan Malaysia yang katanya memakan waktu  pembangunan sampai dua puluh tahun pertama kali diprakarsai oleh seorang tokoh yang sangat di hormati yaitu Bapak Mahatir Mohammad. Saya sempatkan doa ketika berada didalam kereta super cepat itu “Ya Allah mudahkan bagi Negeriku untuk bisa punya transportasi seperti ini, dan berikan kami petunjuk agar tidak salah memilih pemimpin, cerdaskan bangsa Indonesia agar tidak mudah dibodohi” Aamiin …
Saat ini Indonesia memang belum maju tapi kita semua harus optimis !!! cerdaslah memilih pemimpin walaupun kita bukan orang pintar, bila perlu sebelum nyoblos lakukan shalat istikhoroh dahulu. Salam perubahan …
 
Bekal sekolah dengan rebung
Pagi hari emak tanpa banyak bicara pergi ke warung sambil membawa sekantong bulir beras, belum sempat sang fajar terbit sempurna namun langkah kaki yang gontai itu melangkah pasti berharap bawaannya bisa ditukar dengan uang supaya bisa memberi ongkos sekolah untuk putranya, Dadan itulah panggilannya. Dadan termasuk anak yang beruntung karena masih bisa menikmati bangku sekolah berbeda dengan kakak-kakaknya yang tak sempat menimba ilmu lantaran emak dan bapak tidak punya banyak uang, keluarga ini memang miskin banyak sekali ujian kehidupan yang mereka jalani sebenarnya menjual beras bukan hal yang pertama kalinya sudah sering emak menukar beras dengan uang demi memenuhi kebutuhan sekolahnya yang berada jauh dari desa tempat mereka tinggal. Dadan ini termasuk anak yang berprestasi dia sering mendapatkan rengking maka dari itulah terkadang separuh biaya sekolah ditanggung pihak sekolah namun tetap saja untuk ongkos yang setiap hari diperlukan membuat orangtuanya merasa kelabakan.
Jam istirahat seringkali digunakan siswa untuk beristirahat dikantin sambil jajan makanan dan minuman mereka berkumpul  sambil bercengkerama hal itu membuat sebagian siswa akhirnya membawa uang cukup banyak untuk mengenyangkan perut. Walaupun tidak membawa banyak paling tidak sedikitnya bisa untuk membeli gorengan yang harganya paling murah diantara camilan lainnya. Saat itu Dadan duduk dikelas dua sekolah menengah atas dia sangat menikmati perjalanan meraih ilmu karena harapannya kelak jika sudah lulus ingin bekerja di kota dan bisa membahagiakan kedua orangtuanya, sangat sederhana hanya itu yang menjadi harapannya. Hari-hari biasa emak suka membekali Dadan nasi bersama telur dadar dan uang sekedar untuk membeli gorengan namun naas hari itu dia hanya dibekali nasi bersama lauk tumisan rebung bambu muda karena dirumah hanya tersedia makanan itu, apa daya karena sekolah sampai sore hari jika tidak makan nasi tentu rasa lapar menghinggapi perut yang akan membuat konsentrasi belajar hilang. Karena merasa malu dengan teman-temannya terpaksa Dadan membawa bekal yang disedikan sang ibu tercinta itu ke toilet sekolah, dengan lahap ia menghabiskan makanan itu seorang diri sambil melihat sekitar hawatir terlihat teman.
Hingga saat ini ketika dadan sudah tinggal di kota bersama keluarga tercintanya hal itu masih sangat teringat dan tak akan dilupakannya,

 Kuliah Pake Duit??? Ga Musti !!!
Saya merasa sedih ketika melihat berita ditelevisi, mengenai seorang siswa yang berprestasi serta memiliki nilai ujian tertinggi tapi harus bersedih ketika menghadapi kenyataan orangtuanya adalah orang tak berpunya untuk membiayai kuliah anaknya yang pintar itu. Memang benar namaya kulaih pasti membutuhkan biaya yang cukup besar, sudah barang tentu ada biaya administrasi di kampus serta biaya hidup ketika memilih pindah ke kota agar lebih dekat berangkat menuju kampus. Namun saya merasa prihatin jika biaya itu menjadi nomor satu untuk siswa-siswi pintar seperti ini agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, persiapan sebelum mengikuti  ujian nasiaonal dengan belajar lebih giat itu utama namun ada hal yang lebih harus matang dipersiapkan oleh oleh para calon lulusan seperti siswa-siswi tersebut, apalagi jenjang ini adalah Sekolah Menengah Atas yang nantinya akan melangkah ke jenjang yang lebih serius baik biaya maupun konsentrasi yaitu selain belajar menggeluti buku, para siswa juga harus mempelajari banyak seperti mengasah kecerdasan spiritual, emosional, sosial, tidak hanya cerdas intelektual saja. Beberapa yang saya kenal meraka adalah orang-orang yang hebat serta cerdas semasa kuliah dulu, kira-kira sepuluh tahun silam teman saya seorang perempuan yang mengalami brokenhome setelah tamat SMK di Sukabumi  dia kabur ke Bandung kemudian bekerja menjadi pelayan di sebuah swalayan, gaji selama setahun dikumpulkannya kemudian mendaftar di Sekolah Tinggi Akuntansi di daerah Dago setelah itu sisa saldo uang gajinya dia pakai untuk menyewa sebuah gerobak yang kemudian digunakan untuk menjual kue didepan kampus ternama di kota Bandung. Kedua orangtuanya yang tidak lagi memperdulikan kabar apalagi membantu biaya hidupnya telah sama-sama menikah lagi dan berkonsentrasi pada keluarganya masing-masing, hal itu tak membuat sahabat saya ini putus asa semangatnya makin membara sampai waktu wisuda tiba bahkan kisah gerobak kue ini berujung pernikahan dengan sorang polisi muda. Kisah kehidupan teman saya ini yang mengais rejeki untuk biaya hidup serta kuliah merupakan inspirasi untuk adik-adik yang telah lulus SMA kemudian ingin kuliah namun terkendala biaya, jangan khawatir biaya tak selamanya harus dari orangtua Allah maha tahu kebutuhan setiap makhluknya. Begitupun untuk adik-adik yang gelisah menghadapi ujian tahun depan belajarlah dengan giat namun ingat!!! Belajar saja tidak cukup untuk masa depan yang gemilang perlu tambahan spiritual yaitu keyakinan kepada yang bisa menolong setiap permasalahan yaitu Allah semata, tidak ada yang lain apalagi orang tua yang hanya makhluk biasa maka dari itu utamakanlah shalat dan tambah dengan ibadah lain seperti shaum sunnah serta shalat-shalat sunnah lainnya, spiritual dan intelektual saja masih belum cukup adik-adik juga harus pandai bersosial dari sekarang tanpa pandang bulu karena itu sangat bermanfaat nantinya, carilah pelajaran dari pengalaman hidup orang lain lalu ambillah yang positif. Kemudian emosional sangat perlu untuk dilatih jika mudah sedih atau mudah marah cita-cita sulit untuk dicapai maka aturlah perasaan itu dengan baik. Selamat menempuh perguruan tinggi yang dicita-citakan dan selamat belajar untuk adik-adik kelas dua belas …
 
Ukirlah cita-cita dengan tanganmu sendiri …
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded