Profile

Cover photo
ARIANA ALBERT
2 followers|2,147 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
PERBANKAN SYARIAH 2.1 Pengertian Bank Syariah Sebelum kita membahas tentang pengertian bank syariah, perlu dipahami bahwa banyak para tokoh memberikan pendapat mengenai pengertian bank syariah, sehingga Odengan yang lain...
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
ANALISA KASUS BANK GLOBAL
 ·  Translate
ANALISA KASUS BANK GLOBAL BAB 1 PENDAHULUAN 1.1       Latar Belakang Sejak terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1990-an hingga kemudian krisis keuangan global yang terjadi dipenghujung t...
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
MAKALAH AKUNTANSI BIAYA “ KONSEP BIAYA DAN ARUS BIAYA” KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT yang kita ucapkan atas nikmat yang diberikan Allah sehingga kami sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah ini. ...
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
AKUNTANSI BIAYA
JOINT PRODUK DAN BY PRODUK


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pada banyak perusahaan manufaktur, suatu proses produksi dihasilkan lebih dari satu jenis produk. Di perusahaan industri minyak bumi misalnya, proses penyulingan minyak mentah dapat menghasilkan bensin, minyak tanah, oli dan lain – lain. Di perusahaan yang memproduksi (potong) daging hewan dapat menghasilkan daging, kulit, dan sebagainya.
Bila dalam suatu proses poduksi dihasilkan lebih dari satu produksi seperti contoh diatas maka produk tersebut disebut produk bersama dan atau produk sampingan. Produk yang dihasilkan akan dinamakan produk bersama atau produk sampingan akan tergantung pada nilai relatif dari produk tersebut.
Persoalan yang timbul akibat dari proses produksi yang sama dihasilkan lebih dari satu jenis produk ialah biaya yang dikeluarkan / dikorbankan untuk semua produk tersebut, disebut biaya bersama (join cost) yang telah dikeluarkan untuk memproduksi produk – produk yang bersangkutan.
Alokasi dari biaya bersama penting untuk penetuan harga pokok produksi masing – masing produk dan penentuan nilai persediaan produk jadi. Oleh sebab itu, dikemukakan masalah perlakuan produk bersama, produk sampingan yag lebih terfokus pada alokasi biaya bersama yang terjadi.

Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul dari makalah ini “JOIN PRODUCT dan BY PRODUCT “ maka yang akan di bahas pada makalah ini adalah :
Apa defenisi produk gabungan dan produk sampingan ?
Apa saja ciri-ciri produk gabungan dan produk sampingan ?
Apa itu konsep sisa bahan (scrap) ?
Apa itu konsep split  off point, separable cost dan joint cost ?
Bagaimana perlakuan Akuntansi untuk produk gabungan dan produk sampingan ?
Bagaimana alokasi joint cost ke produk gabungan dan sampingan ?


BAB II
ISI

2.1 Defenisi Produk Gabungan dan Produk Sampingan
Produk bersama (joint-product)
Produk Bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama- sama atau serempak dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukkan (input) tersebut tidak diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu. Biaya produk bersama bersifat homogen untuk seluruh produk sampai pada titik pisah. Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama sehingga tidak ada produk yang dianggap sebagi produk utama dan produk sampingan.
Contoh: Pabrik penyulingan minyak mentah (crude oil) menghasikan minyak siap dikonsumsi berupa minyak gasolin, karosine, minyak diesel (solar), minyak bakar, minyak tanah, dan lain-lain.

Produk Sampingan (by-product)

Istilah produk sampingan digunakan untuk suatu produk yang bernilai total relatif kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang bernilai lebih besar. Produk yang nilainya lebih besar biasa disebut dengan produk utama. Produk sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.
Pembedaan produk utama dan produk sampingan terletak pada nilai jualnya. Jika nilai jual salah satu produk relatif lebih kecil dari yang lainnya maka dikategorikan sebagai produk sampingan, sedangkan apabila produk-produk yang dihasilkan relatif sama maka dikategorikan sebagai produk bersama.
Contoh: pada pabrik penggergajian kayu, kayu lapis dan papan kayu merupakan produk utama, sedangkan serbuk gergaji dan kayu bakar merupakan produk sampingan.

2.2 Ciri-ciri Produk Gabungan dan Produk Sampingan

Ciri-ciri Produk Gabungan :

Produk diproses secara bersamaan dan setiap produk mempunyai nilai yang relatif sama antara satu dengan yang lainnya.
Setiap produk mempunyai hubungan fisik yang sangat erat dalam proses produksi. Apabila terjadi peningkatan kualitas untuk satu unit jenis produk yang dihasilkan, maka kualitas yang lain akan bertambah secara proporsional.
Dalam produk bersama dikenal istilah Split Off Point adalah saat dimana produk-produk tersebut dapat diidentifikasi atau dipisah ke masing-masing produk secara individual.
Setelah Split Off Point (titik pisah) tersebut dapat dijual pada titik pisah (secara langsung) dan dapat juga dijual setelah pisah (setelah proses lebih lanjut) untuk mendapatkan produk yang lebih menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk memproses produk lebih lanjut disebut biaya proses lanjutan atau biaya setelah titik pisah (severable Cost).

Ciri-ciri Produk Sampingan

Dihasilkan bersama dengan produk utama dalam suatu proses atau serangkaian proses tanpa dimaksudkan untuk membuat produk ini.
Nilai penjualan adalah relatif lebih kecil atau tidak berarti, bila dibandingkan dengan produk-produk utama.
Dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang lebih sedikit.
Kadang-kadang memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
Produk ini tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi produk-produk utama.

2.3 Konsep Sisa Bahan (scrap)

Dalam pengolahan produk ntuk melayani pesanan, kemungkinan timbul sisa bahan (scrap material), produk rusak (spoiled product) maupun produk cacat (defective product). Bagi manajemen masalahanya adalah bagaimana dapat menekan timbulnya sisa bahan, produk rusak maupun produk cacat serendah mungkin. Sedangkan dari segi akuntansi timbul masalah untuk memberlakukan biaya maupun penghasilan yang timbul dari sisa bahan, produk rusak maupun produk cacat tersebut, dan bagaimana cara mengendalikannya.
Dalam perusahaan manufaktur dapat timbul sisa bahan dari proses pengolahan produk, yang dimaksud sisa bahan adalah bahan yang tersisa atau bahan yang rusak di dalam proses pengolahan produk atau penyimpanan dan tidak dapat digunakan kembali dalam perusahaan. Penyebab timbulnya sisa bahan dapat karena sifat bahan baku yang diproses atau karena sifat pengolahan produk atau karena bahan baku terlalu lama disimpan.
Misalnya pada perusahaan konfeksi timbul sisa bahan berupa sisa potongan tekstil yang tidak dapat dipakai, dalam perusahaan pembuatan meubel dapat timbul sisa bahan berupa potongan papan yang tidak dapat dipakai. Ditinjau dari dapat dijual atau tidaknya sisa bahan, maka sisa bahan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
Sisa bahan yang tidak laku dijual
Sisa bahan yang tidak laku dijual timbul masalah akuntansi apabila untuk membuang atau memusnahkan sisa bahan diperlukan biaya, misalnya supaya tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup, perlakuan dari biaya tersebut tergantung dari penyebab timbulnya sisa bahan.
Apabila sisa bahan terjadi karena pengerjaan pesanan tertentu, biaya pembuangan atau pemusnahan sisa bahan dapat untuk menambah elemen biaya bahan baku pesanan yang bersangkutan.
Apabila sisa bahan secara normal terjadinya dalam perusahaan biaya tersebut dapat diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik sesungguhnya. Maka pada penyusunan budget biaya overhead pabrik awal periode untuk menghitung tarif sudah harus dimasukkan besarnya budget biaya pembuangan atau pemusnahan sisa bahan.

Sisa bahan yang laku dijual
Sisa bahan yang alku dijual menimbulkan masalah akuntansi atas perlakuan hasil penjualan sisa bahan, dalam hal ini dapat digunakan perlakuan hasil penjualan sisa bahan, dalam hal ini dapat digunakan tiga cara perlakuan penghasilan penjualan sisa bahan yang dipengaruhi penyebab timbulnya sisa bahan sebagai berikut.
Apabila timbulnya sisa bahan disebabkan karena pengolahan pesanan tertentu, hasil sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku atau pengurang keseluruhan biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
Apabila timbulnya sisa bahan sifatnya normal di dalam suatu perusahaan, perlakuan hasil penjualan dapat digunakan cara sebagai berikut.
Hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya. Apabila metode ini digunakan maka pada awal periode harus ditentukan besarnya budget penghasilan sisa bahan yang akan mengurangi budget biaya overhead pabrik, sehingga tarif biaya overhead pabrik yang dihitung sudah memperhitungkan hasil sisa bahan.
Hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai penghasilan lain-lain.
Kasus :
PT Adhi pada bulan Agustus 1981 mengolah 2 macam pesanan yaitu pesanan A-1 sebanyak 200 satuan produk dan Pesanan A-2 sebanyak 100 satuan produk, biaya overhead pabrik dibebankan kepada pesanan berdasarkan tarif sebesar 50% dari biaya tenaga kerja langsung. Biaya untuk setiap pesanan sebagai berikut.
Elemen Biaya Pesanan A-1
(200 satuan) Pesanan A-2
(100 satuan) Jumlah
Bahan Baku Rp    80.000,00 Rp.    40.000,00 Rp.  120.000,00
Tenaga Kerja Langsung        60.000,00         40.000,00       100.000,00
Overhead Pabrik = 50% dari BTKL        30.000,00         20.000,00         50.000,00
Rp.  170.000,00 Rp.  100.000,00 Rp.  270.000,00

Dari pengolahan produk ternyata timbul sisa bahan sebanyak 50 kilogram yang tidak laku dijual, untuk memusnahkan sisa bahan tersebut diperlukan biaya Rp. 2.000,00 yang dibayar tunai
.
Diminta :
Buat jurnal dan perhitungan harga pokok pesanan baik total maupun satuan apabila semua pesanan sudah selesai dan penyebab sisa bahan sebagai berikut.
Sisa bahan disebabkan pengolahan Pesanan A-2
Sisa bahan terjadi secara normal dalam perusahaan
Penyelesaian :
Sisa bahan disebabkan pesanan A-2
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. 120.000,00
Barang dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung      100.000,00
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik                          50.000,00
Persediaan Bahan Baku Rp.120.000,00
Biaya Gaji dan Upah      100.000,00
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan      50.000,00
(Mencatat pembebanan biaya pada pesanan yang diolah)

Barang dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. 2.000,00
K a s Rp. 2.000,00
(Mencatat biaya pemusnahan sisa bahan dibebankan pada Pesanan A-2)

Persediaan Produk Selesai Rp. 272.000,00
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. 122.000,00
Barang dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung       100.000,00
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik                          50.000,00
(Mencatat harga pokok pesanan yang selesai)

Harga Pokok Satuan = (Jumlah harga pokok pesanan tertentu)/(Jumlah produk pesanan yang bersangkutan)
A-1= (Rp.80.000,00+Rp.60.000,00+Rp.30.000,00)/(200 satuan)=(Rp.170.000,00)/200=Rp.850,00 per satuan
A-2= ((Rp.40.000,00+Rp.2.000,00)+Rp.40.000,00+Rp.20.000,00)/(100 satuan)=(Rp.102.000,00)/100=Rp.1.020,00 per satuan

Sisa bahan sifatnya normal dalam perusahaan
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. 120.000,00
 Barang dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung      100.000,00
 Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik                          50.000,00
Persediaan Bahan Baku Rp. 120.000,00
Biaya Gaji dan Upah      100.000,00
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan      50.000,00
(Mencatat pembebanan biaya pada pesanan yang diolah)

Barang dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. 2.000,00
K a s Rp. 2.000,00
(Mencatat biaya pemusnahan sisa bahan dibebankan pada Pesanan A-2)

Persediaan Produk Selesai Rp. 270.000,00
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. 120.000,00
Barang dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung       100.000,00
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik                            50.000,00
(Mencatat harga pokok pesanan yang selesai)

Harga Pokok Satuan = (Jumlah harga pokok pesanan tertentu)/(Jumlah produk pesanan yang bersangkutan)
A-1= (Rp.80.000,00+Rp.60.000,00+Rp.30.000,00)/(200 satuan)=(Rp.170.000,00)/200=Rp.850,00 per satuan

A-2= (Rp.40.000,00+Rp.40.000,00+Rp.20.000,00)/(100 satuan)=(Rp.100.000,00)/100=Rp.1.000,00 per satuan
2.4 Konsep Split  off Point, Separable Cost dan Joint Cost

Konsep Split Off Point

Pada pembahasan biaya gabungan atau joint cost maka perusahaan dihadapkan pada dua pilihan strategis yang berdampak terhadap perusahaan secara ekonomis. Konsep joint cost ini terjadi pada perusahaan yang menghasilkan joint product. Perusahaan bekerja dan berproduksi secara bersama-sama atau berbarengan dan sampai suatu titik tertentu produk yang hasilkan dipisahkan dan menjadi barang-barang lain yang berbeda. Titik inilah dinamakan sebagai titik pisah batas atau split off point. Pada titik ini produk yang dihasilkan dengan menggunakan joint cost akan menghasikan joint product atau produk bersama. Misalnya pada usaha pemotongan hewan sapi.
Sapi yang tadinya joint cost kemudian dipotong atau disembelih oleh abang jagal dan hasilnya menjadi joint product karena daging sapi tadi dipisahkan dalam beberapa produk yaitu daging abon. daging giling, daging dendeng dan daging segar. Masalahnya manakah yang lebih ekonomis apakah dijual pada saat pemisahan langsung dijual atau produk tadi diolah dahulu baru kemudian dijual. Hal itu amat tergantung pada kondisi produk tersebut pada saat pemisahan, apakah produk tersebut dapat dijual atau tidak pada titik pisah batas.
Separable Cost
Setelah Split Off Point (titik pisah) tersebut dapat dijual pada titik pisah (secara langsung) dan dapat juga dijual setelah pisah (setelah proses lebih lanjut) untuk mendapatkan produk yang lebih menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk memproses produk lebih lanjut disebut biaya proses lanjutan atau biaya setelah titik pisah (severable Cost).

Join Cost
Suatu biaya yang dikeluarkan untuk dua macam produk atau lebih yang berlainan. Beberapa macam produk yang dihasilkan dari suatu proses produksi yang sama dengan menggunakan bahan baku yang sama pula. 





2.5 Perlakuan Akuntansi untuk Produk Gabungan dan Produk Sampingan

Akuntansi Produk Gabungan
Biaya produk bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan metode nilai pasar, rata-rata biaya per satuan, rata-rata tertimbang dan unit kuantitatif.

Metode Nilai Pasar / Nilai Jual Relatif
Metode ini adalah metode yang sangat populer karena dengan argumennya bahwa harga produk merupakan manifestasi dari biaya produksinya. Metode ini mengasumsikan bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memilki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda. Perbedaan nilai pasar disebabkan tingkat pemakaian biaya yang berbeda.
Metode ini berpendapat bahwa jika salah satu produk terjual lebih tinggi daripada yang lainnya, hal itu terjadi karena biaya yang dikeluarkan untuk memproduksinya juga lebih tinggi dibandingkan produk lain. Jadi dalam metode ini kelangkaan tidak mempunyai pengaruh dalam menentukan harga jual. Karena asumsi itulah, cara yang logis untuk mengalokasikan biaya bersama adalah berdasarkan pada nilai jual relatif masing-masing produk bersama.
Terdapat dua metode dalam metode nilai jual relatif, yaitu:
Metode nilai pasar saat split-off point

Metode ini digunakan ketika setelah split-off  point tidak ada proses produksi lanjutan dan harga jual sudah diketahui pada saat itu. Biaya bersama (joint cost) dialokasikan ke masing-masing produk sesuai dengan perbandingan nilai jualnya terhadap nilai jual keseluruhan produk bersama.
Contoh :
PT “ABC” memproduksi 3 macam produk yaitu alfa, beta dan gamma. Biaya bersama yang dikeluarkan selama satu periode adalah sebsar Rp 20.000.000,00. Jumlah produksi dan harga jual masing-masing produk tertera pada table berikut:

Produk Jumlah unit Harga unit
Alfa 5.000 Rp 1000
Beta 10.000 Rp 1500
Gamma 7.000 Rp 1300

Penyelesaian :

Produk Jumlah unit Harga unit Nilai jual Rasio Alokasi HPP/ unit
Alfa 5.000 1000 5.000.000 22,62% 4.524.000 904,8
Beta 10.000 800 8.000.000 36,20% 7.240.000 724
Gamma 7.000 1300 9.100.000 41,18% 8.236.000 1.176,5
Jumlah 22.100.000 100% 20.000.000

Metode nilai jual hipotesis

Apabila suatu produk tidak bisa dijual pada saat titik pisah, maka harga tidak dapat diketahui pada saat titik pisah. Produk tersebut memerlukan proses tambahan sehingga harga jual tidak dapat dikethui sebelum dijual (setelah titk pisah). Dasar yang dapat digunakan dalam mengalokasikan biaya bersama adalah harga pasar hipotesis.
Harga pasar hipotesis adalah nilai jual suatu produk setelah diproses lebih lanjut dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproses lanjutan setelah pemisahan. 

Contoh :
Dengan menggunakan data perusahaan PT. ABC pada contoh soal metode nilai pasar, diketahui biaya proses lanjutan masing-masing produk adalah sebagai berikut:


Keterangan Produk Alfa Produk Beta Produk Gamma
Unit Produksi 5.000 10.000 7.000
Harga Jual/unit Rp1.000 Rp800 Rp1.300
Biaya Proses lanjutan/unit Rp400 Rp300 Rp500


Produk bersama Hrg jual/ kg Biaya Tmbhan Nilai jualHipotesis* Jmlh Prduk Nilai jual Rasio Alokasi** (20.000.000) HPP /kg
Alfa 1.000 400 600 5.000 3.000.000 22,06% 4.412.000 882,4
Beta 800 300 500 10.000 5.000.000 36,76% 7.352.000 735,2
Gamma 1.300 500 800 7.000 5.600.000 41,18% 8.236.000 1.176,6
13.600.000 100% 20.000.000

*(Harga jual – biaya tambahan)
**(rasio x 20.000.000)

Metode rata-rata biaya per satuan
Metode ini berupaya untuk mendistribusikan total biaya produksi gabungan ke berbagai produk atas dasar biaya per unit. Metode ini digunakan jika dari satu proses produksi bersama dihasilkan beberapa produk yang bisa diukur dalam satuan yang sama meskipun dalam kualitas yang berbeda-beda. Perusahaan yang menggunakan metode ini berpendapat bahwa semua produk yang dikerjakan dengan proses yang sama harus menerima bagian yang sebanding dengan total biaya gabungan berdasarkan unit yang diprosuksi. Penentuan biaya untuk setiap produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas masing-masing produk yang dihasilkan.
Contoh :
Suatu perusahaan menghabiskan biaya Rp 2.000.000 untuk memproduksi 1000 liter produk dari minyak mentah. Rata-rata biaya produksi per unit adalah Rp 2.000 (Rp 2.000.000/1000)
Produk Kuantitas Rata-rata biaya per satuan Alokasi biaya bersama
Bensin 350 Rp 2.000 Rp 700.000
Pelumas 250 Rp 2.000 Rp 500.000
Minyak Tanah 300 Rp 2.000 Rp 600.000
Solar 100 Rp 2.000 Rp 200.000
Jumlah 1000 Rp 2.000.000
Metode rata-rata tertimbang
Pada banyak industri, metode-metode yang telah dibahas diatas tidak dapat memberika solusi yang memuaskan dalam mengalokasikan biaya bersama karena tidak mempertimbangkan segi kualitas dari suatu produk. Sehingga mucullah metode yang menggunakan bobot sebagai presentasi dari ukuran besarnya unit, kesulitan pembuatan, waktu yang dibutuhkan dan sebagainya sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya bersama. Penentuan alokasi biaya bersama pada setiap produk didasarkan atas perkalian jumlah unit produk dengan angka penimbang, dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk alokasi.
Contoh :
Dari soal pada metode kedua (metode rata-rata biaya per satuan), diketahui bobot untuk bensin 4, pelumas 2, minyak tanah 3 dan solar 1. Alokasi biaya bersamanya sebagai berikut :

Produk Jumlah produk Angka penimbang Jumlah produk x angka penimbang Alokasi biaya bersama(2.000.000)
Bensin 350 4 1400 Rp 965.517
Pelumas 250 2 500 Rp344.826
Minyak tanah 300 3 900 Rp620.689
Solar 100 1 100 Rp. 68.966
Total 1000 2.900 Rp 2.000.000

Metode unit kuantitatif / satuan fisik
Metode kuantitatif berupaya mendistribusikan total biaya gabungan berdasarkan satuan ukuran tertentu seperti kilogram, ton, liter, meter dan sebagainya. Jika produk bersama mempunyai ukuran yang berbeda maka harus ditentukan koefisien ekuivalesinya yang digunakan untuk mengubah satuan yang berbeda kedalam satuan yang sama. Metode ini beranggapan bahwa setiap produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan baku dalam ukuran satuan yang sama.
Contoh :
Berikut adalah data produk yang dihasilkan dari satu ton batu bara yang menghabiskan biaya sebesar Rp 1.000.000 :

Produk Kuantitas (pon) Presentase (%) Alokasi Biaya Bersama
Kokas 1.200 60% Rp 600.000
Ter Batu Bara 300 15% Rp 150.000
Gas 500 25% Rp 250.000
Jumlah 2.000 100% Rp 1.000.000


Akuntansi Produk Sampingan
Setelah mempelajari konsep dan cara perhitungan harga pokok produk gabungan, maka tidak lengkap jika tidak membahas harga pokok produk sampingan. Hal ini dapat dimengerti karena keduanya mempunyai hubungan yang erat. Dalam produk sampingan, yang menjadikan permasalahan adalah bagaimana memperlakukan pendapatan penjualan produk sampingan tersebut.
Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil penjualan produk sampingan. Alokasi biaya bersama kepada produk utama dan produk sampingan pada umumnya dianggap tidak perlu, karena nilai produk sampingan relatif rendah bila dibandingkan dengan produk utama. Tetapi dalam kenyataannya ada beberapa metode yang mengalokasikan biaya bersama kepada produk utama dan produk sampingan. Metode-metode akuntansi yang dapat diterima untuk menetapkan biaya produk sampingan dibagi dalam dua kategori, yaitu:

Metode Tanpa Harga Pokok (Non-Cost Methods)
Dalam metode ini, Harga pokok produk sampingan atau persediannya tidak diperhitungkan, tetapi memperlakukan pendapatan penjualan prduk sampingan sebagai pendapatan atau pengurang biaya prduksi produk utama. Dalam rangka perhitungan biaya persediaan, suatu nilai yang berdiri sendiri dapat dibebankan ke produk sampingan.
Metode tanpa harga pokok adalah suatu metode dalam perhitungan produk sampingan tidak memperoleh alokasi biaya bersama dari pengolahan produk sebelum dipisah. Metode tanpa harga pokok dibagi menjadi 2 macam:

Produk sampingan dapat langsung dijual pada saat saat titik pisah (split-off point) atau pengakuan atas pendapatan kotor.

Metode ini memperlakukan penjualan produk sampingan berdasarkan penjualan kotor. Hal ini dilakukan karena biaya persediaan final dari produk utama dianggap terlalu tinggi sehingga menanggung biaya yang seharusnya dibebankan pada produk sampingan. Dalam metode ini penjualan atau pendapatan produk sampingan dalam laporan laba rugi dapat dikategorikan sebagai berikut :

Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai penghasilan diluar usaha.

Dalam metode ini pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan returnya, dicatat dalam rekening “Pendapatan Penjualan Produk Sampingan” dan pada akhir periode akuntansi ditutup ke rekening Rugi-Laba. Rekening pendapatan penjualan produk sampingan dicantumkan dalam laporan Laba-Rugi pada kelompok penghasilan di luar usaha (other income).

Contoh : Diketahui data dari kegiatan operasional perusahaan “ABC” sebagai berikut:

Unit Produksi Produk Utama 16.200 unit
Unit Penjualan Produk Utama 13.500 unit
Unit Persediaan Awal Produk Utama     500 unit
Harga Jual per Unit Rp750
Biaya produksi/unit produk utama Rp500
Hasil Penjualan Produk Sampingan (2.000xRp300) Rp600.000
Beban Pemasaran dan Administrasi Produk Utama Rp2.925.000








Laporan laba-rugi sebagai berikut:

Penjualan produk utama                                                             Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500xRp 500)               Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500) Rp   8.100.000 +
     Tersedia dijual                                                                Rp   8.350.000
Persediaan akhir  (3.200 x Rp 500)                                 Rp   1.600.000  -
                                                                                                 Rp  6.750.000-
Laba Kotor                                                                                  Rp  3.375.000
Beban pemasaran dan administrasi                                            Rp  2.925.000-
Laba operasi                                                                                Rp     450.000
Pendapatan lain-lain :
Pendapatan penjualan produk sampingan                                Rp   600.000+
Laba sebelum pajak                                                                    Rp 1.050.000
Pendapatan penjualan produk sampingan dijadikan sebagai pendapatan lain-lain sehingga akan menambah laba operasi secara langsung.

Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai tambahan pendapatan penjualan produk utama.

Metode ini merupakan variasi dari metode pertama. Semua biaya produksi dikurangkan dari pendapatan penjualan semua produk (baik utama maupun sampingan) untuk mendapatkan laba bruto. Dalam metode ini tidak ada alokasi biaya bersama seperti dalam metode pertama.

Dengan menggunakan data perusahaan “ABC”, maka laporan laba-rugi menggunakan metode ini akan tampak sebagai berikut:






Penjualan                                                                         Rp 10.125.000
Pendapatan penjualan produk sampingan                               Rp   600.000+
Penjualan bersih                                                                           Rp 10.725.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500xRp 500)                     Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500)         Rp   8.100.000 +
Tersedia dijual                                                    Rp   8.350.000
Persediaan akhir (3.200 xRp 500)                                   Rp    1.600.000 -
                                                                                                  Rp  6.750.000-
Laba Kotor                                                                                     Rp   3.975.000
Beban pemasaran dan administrasi                                                   Rp  2.925.000-
Laba operasi                                                                                  Rp   1.050.000

Dari laporan laba rugi diatas, ditampilkan Rp600.000 dari penjualan produk sampingan sebagai tambahan penjualan produk utama. Akibatnya total pendapatan menjadi Rp  10.725.000,00. Sedangkan angka lainnya tetap sama.

Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai pengurang harga pokok penjualan.

Dari data perusahaan “ABC”, jika dibuat laporan laba-rugi dengan metode in maka akan menjadi:
Penjualan                                                                         Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500xRp 500)               Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500) Rp   8.100.000 +
                 Tersedia dijual                                                Rp   8.350.000
Persediaan akhir (3.200 x Rp 500)                     Rp   1.600.000  -
Harga pokok penjualan                                       Rp   6.750.000 
Pendapatan penjualan produk sampingan        Rp      600.000 -
                                                                                         Rp   6.150.000  -
Laba Kotor                                                                      Rp   3.975.000
Beban pemasaran dan administrasi                                     Rp   2.925.000  -
Laba operasi                                                                    Rp   1.050.000
Dalam kasus ini, hasil penjualan produk sampingan sebesar Rp600.000 dikurangkan pada harga pokok penjualan sehingga HPP menjadi Rp6.150.000 (HPP sebelum dikurangkan sebesar Rp 6.750.000).

Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai pengurang total biaya produksi.

Pada metode ini, hasil penjualan produk sampingan sebesar Rp600.000 dikurangkan pada total biaya produksi sebesar Rp 8.100.000 sehingga menghasilkan biaya produksi netto sebesar Rp7.500.000. Pegurangan ini menyebabkan biaya per unit rata-rata menjadi Rp464,07 (7.500.000+250.000 : 16.700) Konsekuansinya persediaan akhir sebesar Rp 1.600.000,00 menjadi Rp1.485.024,00

Laporan laba rugi akan tampak sebagai berikut :
Penjualan                                                                         Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500x500)                                 Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x 500)      Rp   8.100.000
Pendapatan penjualan PS                      Rp      600.000-
                                                                               Rp  7.500.000+
Tersedia dijual                                                      Rp  7.750.000
Persediaan akhir  (3.200 x 464,07)                       Rp  1.485.024  -
                                                                                         Rp   6.264.976  -
Laba Kotor                                                                      Rp   3.860.024
Beban pemasaran dan administrasi                                Rp   2.925.000  -
Laba operasi                                                                    Rp     935.024

Produk sampingan memerlukan proses lanjutan setelah dipisah dari produk utama atau pengakuan atas pendapatan bersih.

Dalam metode ini disadari kebutuhan untuk membebankan sebagian biaya ke produksi sampingan. Tetapi bukan berarti mengalokasikan biaya produk utama ke produk sampingan. Biaya pemrosesan dan pemasaran produk sampingan setelah pemisahan dicatat dalam perkiraan yang berbeda dengan produk utama. Angka-angka yang ada tetap akan diperhitungkan didalam laporan laba-rugi sesuai dengan metode yang ada pada metode pertama.

Ayat jurnal dalam metode ini juga terdiri atas pembebanan biaya setelah pemisahan (proses lanjutan) terhadap hasil penjualan produk sampingan. Beban pemasaran dan administrasi juga dialokasikan kedalam produk sampingan sesuai tarif yang telah direncanakan sebelumnya.
Dalam metode ini hasil penjualan bersih produk sampingan dapat dihitung, yaitu :

Penjualan/pendapatan produk sampingan                                Rp xxxxxx
Biaya proses lanjutan produk sampingan           Rp xxxxxx
Biaya pemasaran dan biaya administrasi                       Rp xxxxxx +
                                                                                       Rp xxxxxx  +
Penjualan/ Pendapatan Bersih Produk Sampingan                   Rp xxxxxx

Pendapatan bersih produk sampingan inilah yang nantinya akan dimaksukkan pada perhitungan laporan laba-rugi.
Seperti metode pertama, dalam menghitung harga pokok produk sampingan metode kedua juga bisa dilkaukan dengan metode-metode yang ada pada metode pertama, yaitu:
1.   Diperlakukan sebagai penghasilan diluar usaha atau pendapatan lain-lain.
2.   Diperlakukan sebagai penambah penjualan atau pendapatan produk utama.
3.   Diperlakukan sebagai pengurang harga pokok penjualan.
4.   Diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi.

Metode-Metode Harga Pokok (Cost Methods)
Dalam metode ini pengalokasian biaya produk sampingan hampir sama dengan produk bersama yaitu sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dan menentukan harga pokok persediaan produk sampingan dengan biaya yang dialokasikan tersebut. Ada dua metode yang berdasarkan dpada metode harga pokok, yaitu:

Metode biaya pengganti

Metode biaya pengganti biasanya digunakan pada perusahaan yang produk sampingannya digunakan sendiri, sehingga tidak perlu membeli bahan dari pemasok luar. Harga pokok yang diperhitungkan adalah sebesar harga beli atau biaya pengganti (replacement cost) yang berlaku di pasar. Harga pokok ini kemudian dikreditkan pada rekening Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku (BDP-BBB), sehingga mengurangi biaya produksi produk utama. Pengurangan biaya produksi produk utama ini akan mengakibatkan harga pokok persediaan produk utama menjadi lebih rendah.

Contoh:
Jumlah biaya produksi untuk 10.000kg produk utama 700.000
Pendapatan penjualan (9000 x 120) 1.080.000
Biaya pengganti produk sampingan yang digunakan dalam pengolahan produk utama 50.000
Biaya pemasaran dan administrasi&umum 100.000
Persediaan akhir produk 1000kg

Misalkan diketahui data sebagai berikut :

Laporan laba rugi :

Pendapatan penjualan produk utama                                           Rp 1.080.000
HPP:
Biaya produksi                                                     Rp    700.000
Dikurangi: biaya pengganti produk smpingan      Rp      50.000 -
                                                                              Rp    650.000
Dikurangi: Persediaan akhir (1000kg x Rp65)*     Rp      65.000-
                                                                                                      Rp    585.000-
Laba bruto                                                                                                             Rp    495.000
Biaya pemasaran dan admnstrasi&umum                                                              Rp   100.000-
Laba bersih sebelum PPh                                                                                       Rp   395.000

*Rp650.000 : 10.000kg = Rp65
                       
Metode pasar
Metode pasar juga disebut dengan metode pembatalan biaya (reversal cost methods). Metode ini sebenarnya hampir sama dengan metode tanpa harga pokok-pendapatan produk sampingan mengurangi biaya produksi. Tetapi ada seedikit perbedaan yaitu kalau pada metode pertama (metode tanpa harga pokok-pendapatan produk sampingan mengurangi biaya produksi) yang dikurangkan dari total biaya produksi adalah pendapatan penjualan sesungguhnya produk sampingan, sedangkan pada metode nilai pasar yang dikurangkan adalah taksiran nilai pasar produk sampingan. Metode ini berusaha untuk menaksir biaya produk sampingan berdasarkan nilai pasarnya.

Alokasi Joint Cost ke Produk Gabungan dan Sampingan
Alokasi Biaya merupakan pembebanan biaya secara proposional dari biaya tidak langsung atau biaya bersama ke objek biaya. Biaya bersama sulit diperhitungkan kepada masing-masing produk, oleh karena itu untuk memudahkan dalam perhitungan diperlukan alokasi biaya.
Metode Alokasi Biaya
Metode Harga Pasar (NIlai Jual)
Metode harga pasar atau nilai jual merupakan pembebanan biaya bersama atas dasar nilai jual masing-masing produk. Metode harga pasar atau nilai jual paling banyak digunakan karena antara biaya dan nilai jual terdapat hubungan secara langsung, dimana harga jual dari suatu produk lebih banyak ditentukan oleh biaya produksi.
Biaya bersama relatif terhadap biaya produksi lainnya apabila bauran fisik dan keluaran dapat diubah lebih besar atau lebih kecil.
Dengan adanya perubahan tersebut akan menghasilkan total nilai pasar lebih besar atau lebih kecil.

Metode harga jual, terdiri dari 2 :
Harga jual diketahui pada saat titik pisah.
Apabila harga jual diketahui pada saat titik pisah maka biaya bersama dibebankan kepada produk.

 

Harga jual tidak diketahui pada saat titik pisah.
Apabila suatu produk tidak bisa dijual pada titk pisah, maka harga tidak dapat diketahui pada saat titik pisah. Produk tersebut memerlukan proses tambahan sehingga harga jual dapat diketahui sebelum dijual. Dasar yang dapat digunakan dalam mengalokasikan biaya bersama adalah harga pasar hipotesis. Harga pasar hipotesis adalah nilai jual suatu produk setelah diproses lebih lanjut dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproses lebih lanjut.
 

Metode Unit Fisik
Metode unit fisik adalah suatu metode dalam pembebanan biaya bersama kepada produk didasarkan atas unit secara fisik atau output dari suatu produk. Dalam metode unit fisik, unit output dari suatu produk harus diungkapkan dalam bentuk atau satuan yang sama. Satuan dapat berupa volume, bobot, atau ukuran karakteristik lainnya.
 

Metode Rata-rata per Unit
Metode rata-rata per unit adalah suatu metode dalam mengalokasikan biaya bersama, bahwa seluruh produk yang dihasilkan dari proses produksi bersama harus dibebani suatu nilai secara proposional dari seluruh biaya bersama atau dari besarnya unit yang diproduksi. Metode ini mengabaikan bobot atau nilai jual dari produk terkait, disamping itu semua produk diasumsikan bersifat homogen, artinya masing-masing produk memerlukan biaya yang relatif sama.
 

Metode Rata-rata Tertimbang
Metode rata-rata tertimbang adalah metode yang dalam mengalokasikan biaya bersama berdasarkan pada unit produksi dan dikalikan dengan faktor penimbang, dan diperoleh jumlah penimbang rata-rata setiap produk dibagi dengan jumlah penimbang rata-rata seluruh produk.Angka penimbang dapat ditentukan berdasarkan besarnya jumlah produk yang digunakan. Angka penimbang ini digunakan akibat sulitnya pembuatan produk, pembedaan jam tenaga kerja dipakai waktu yang digunakan untuk menghasilkan tiap jenis produk. 
 













BAB III
PENUTUP

Berkembangnya industri akan selalu memunculkan produk-produk baru. Perusahaan akan selalu berusaha menciptakan produk yang dibutuhkan oleh konsumen. Akibatnya suatu perusahaan  tidak hanya memproduksi satu produk tetapi beragam produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini menjadikan masalah baru bagi perusahaan dalam perhitungan akuntansinya. Bersumber dari masalah inilah kalkulasi produk bersama dan produk sampingan menjadi penting untuk dibahas.
Apabila dalam suatu proses poduksi dihasilkan lebih dari satu produksi maka produk tersebut disebut produk bersama dan atau produk sampingan. Produk yang dihasilkan tersebut akan dinamakan produk bersama atau produk sampingan akan tergantung pada nilai relatif dari produk tersebut. 
Pembagian produk menjadi produk bersama dan produk sampingan bersumber dari biaya bersama. Biaya bersama dapat diartikan sebagai biaya overhead bersama yang harus dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan ataupun secara massa. 
 ·  Translate
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
Welcomee world my blogg ! :D
1
Add a comment...
Have her in circles
2 people
Pandu Putra's profile photo
ARIANA ALBERT's profile photo

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
BAB I PENDAHULUAN 1.1              Latar Belakang Masalah Rumor PT.Agis menyatakan akan mengakuisisi perusahaan elektronik, tapi pada praktiknya hal itu tidak pernah terealisasi biasanya menggerakkan harga saham emiten i...
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
STANDAR, TARGET, DAN KAIZEN COSTING
 ·  Translate
Standar Costing, target Costing, dan Kazien Costing BAB I PENDAHULUAN 1.1              Latar Belakang Pengendalian biaya yang memedai memerlukan perbandingan biaya aktual dengan target atau jumlah yang ditentukan ...
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
AKUNTANSI BIAYA
MERODE HARGA POKOK PROSES

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Informasi mengenai harga pokok produksi sangat penting bagi perusahaan yaitu sebagai pedoman bagi pihak manajemen dalam rangka menentukan harga jual yang akan ditawarkan kepada pembeli, agar mampu bersaing di pasar. Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan produksi perusahaan tersebut. Oleh karena itu perusahaan harus mampu menganalisa setiap kebijakan yang akan diambilnya. Dan menyesuaikan metode-metoe yang mereka pilih dengan jurnal-jurnal dan aturan-aturan per metode tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa itu Metode Harga Pokok Proses?
1.2.2 Bagaimana cara membuat jurnal dalam metode harga pokok proses?
1.2.3 Bagaimana perlakuan akuntansi untuk produk cacat, hilang, rusak dan penambahan bahan baku terhadap perhitungan HPP dengan metode harga pokok proses

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Mengetahui karakteristik perusahaan yang produksinya berdasarkan proses
1.3.2 Mengetahui karakteristik metode harga pokok prose
1.3.3 Mengetahui perbedaan metode harga pokok proses dengan harga pokok pesanan
1.3.4 Menghitung biaya produksi dengan metode harga pokok proses
1.3.5 Menghitung biaya produksi dengan metode harga pokok proses dengan metode rata-rata tertimbang dan FIFO








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Perusahaan dan Metode Harga Pokok Proses 
 HARGA POKOK PESANAN (JOB O
Harga pokok proses (processing cost) merupakan metode perhitungan harga pokok produk berdasarkan kepada pengumpulan biaya-biaya produksi dalam satu periode tertentu dibagi dengan jumlah unit produksi perode yang bersangkutan.

Karaktersitik produksinya, sebagai berikut :
a. Sistem produksi merupakan sistem produksi yang berjalan terus-menerus.
b. Produk yang dihasilkan merupakan produksi missal dan bersifat seragam (homogen).
c. Tujuan produksinya adaah untuk membentuk persediaan (inventory).
Ciri-ciri perusahaan yang menggunakan metode perhitungan harga pokok proses dalam kegiatan operasionalnya adalah :
a. Proses produksinya berlangsung secara terus-menerus.
b. Produk yang dihasilkan bersifat produk standar.
c. Tujuan produksi adalah untuk persediaan yang selanjutnya dijual.
d. Tidak tergantung kepada spesifikasi pembeli.
Karakteristik Metode Harga Pokok Proses. 
a. Pengumpulan biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi.
b. Perhitungan HPP per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan.
c. Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung seringkali tidak diperlukan.
d. Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja (baik yang langsung maupun tidak langsung). BOP dibebankan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi.

Manfaat informasi yang didapat dari metode harga pokok proses adalah: 
a. Penentuan harga jual produk yang tepat.
b. Memantau realisasi biaya produksi.
c. Menghitung laba/rugi per periodik secara transparan.
d. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.
2.2 Perbedaan Metode Harga Pokok Proses dan Metode Harga Pokok Pesanan

Perbedaan Karakteristik Perusahaan yang menggunakan Metode Harga Pokok Proses dan Harga Pokok Pesanan

Perusahaan yang berproduksi massa Perusahaan yang berproduksi atas dasar pemesanan
Proses pengolahan produk Terus menerus (kontinyu) Terputus-putus (intermitten)
Produk yang dihasilkan Produk standar Tergantung spesifikasi pemesan
Produksi ditujukan untuk Mengisi persediaan Memenuhi pesanan
Contoh perusahaan Perusahaan kertas, semen, tekstil dll Perusahaan percetakan, mebel, kontraktor dll


Perbedaan Karakteristik Proses Produksi Metode Harga Pokok Proses dan Harga Pokok Pesanan


Metode Harga Pokok Proses Metode harga Pokok Pesanan
Penghitungan Biaya Produksi Dihitung setiap bulan atau periode penentuan harga pokok produk. Dihitung untuk setiap pesanan.
Penghitungan Harga Pokok per Satuan Pada akhir bulan/periode penentuan harga pokok produk. Apabila pesanan telah selaesai diproduksi.
Rumus Perhitungan Harga Pokok per Satuan Jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan selama bulan/periode tertentu dibagi dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama bulan/periode yang bersangkutan. Jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk pesanan tertentu dibagi dengan jumlah satuan produk yang diproduksi dalam pesanan yang bersangkutan.









2.3 Menghitung Biaya Produksi dengan Metode Harga Pokok Proses

Persediaan Produk Dalam Proses Awal 
a. Dalam suatu departemen produksi, produk yang belum selesai diproses pada akhir periode akan menjadi persediaan produk dalam proses pada awal periode berikutnya.
b. Produk dalam proses awal periode ini akan membawa harga pokok persatuan yang berasal dari periode sebelumnya, yang kemungkinan akan berbeda dengan harga pokok per satuan yang dikeluarkan oleh departemen produksi yang bersangkutan dalam periode sekarang. Dengan demikian jika dalam periode sekarang dihasilkan produk selesai yang ditransfer ke gudang atau ke departemen berikutnya , harga pokok yang melekat pada persediaan produk dalam proses awal akan menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok produk selesai tersebut.
Metode Rata-Rata Tertimbang
a. Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam proses awal ditambahkan dengan biaya produksiyang dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit ekuivalensi produk untuk menghasilkan harga pokok rata-rata tertimbang.
b. Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama merupakan harga pokok kumulatif,yaitu merupakan penjumlahan harga pokok dari departemen satu ditambahkan dengan depar temen berikutnya yang bersangkutan. 
 Metode Masuk Pertama Keluar Pertama ( FIFO )
a. Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam proses, baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang dimasukkan dalam proses periode sekarang. 
b. Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.
c. Dalam departemen setelah departemen I, produk telah membawa harga pokok dari periodesebelumnya digunakan pertama kali untuk menentukan harga pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.
Akuntansi Biaya Berdsarkan Metode Harga Pokok Proses oleh Satu Departemen

Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Proses:

1. Biaya Bahan Baku 
Pencatatan pemakaian Bahan Baku di Departemen A:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A xxx
Persediaan Bahan Baku xxx

Pencatatan pemakaian Bahan Penolong pada Bagian Produksi:
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen A xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen B xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen C xxx
Persediaan Bahan Penolong xxx

2. Biaya Tenaga Kerja (Langsung & Tak Langsung):

Pencatatan biaya tenaga kerja (langsung & tak langsung) di Departemen Produksi:

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen B xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen C xxx
Gaji dan Upah xxx

3. Biaya Overhead Pabrik

a. BOP pada Metode Harga Pokok Proses adalah biaya produksi selain biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan biaya tenaga kerja, baik langsung maupun tak langsung yang terjadi di departemen produksi.
b. BOP dapat dibebankan kepada produk atas dasar tarif dan dapat juga dibebankan atas dasar BOP yang sesungguhnya terjadi dalam satu periode.
c. Pembebanan BOP sesungguhnya kepada produk dapat dilakukan jika:
i. Produksi relatif stabil dari periode ke periode
ii. BOP, terutama yang tetap, bukan merupakan bagian yang berarti dibandingkan dengan jumlah seluruh biaya produksi
iii. Hanya diproduksi satu macam produk.

d. Pencatatan berbagai jenis BOP di Departemen Produksi:
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx
Persediaan Spareparts xxx
Persediaan Bahan lain-lain xxx
              Asuransi Dibayar di Muka xxx


Akuntansi Biaya Berdsarkan Metode Harga Pokok Proses lebih dari satu Departemen
Dengan berproduksinya suatu pabrik secara berkelanjutan dari suatu periode ke periode berikutnya melalui departemen-departemen produksi, biasanya terdapat unit yang belum selesai atau masih dalam proses pada akhir periode. Unit yang masih dalam proses periode ini secara otomatis akan menjadi unit dalam proses pada awal periode berikutnya. Contoh : Sediaan barang dalam proses akhir Januari akan menjadi sediaan barang dalam proses awal Februari.
Apabila pada awal periode terdapat sediaan barang dalam proses, maka timbul masalah dalam menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini timbul karena sediaan barang dalam proses tersebut telah menyerap atau mengandung harga pokok dari periode sebelumnya.
Dengan adanya sediaan barang dalam proses awal periode,    maka        terdapat   2 ( dua ) metode penentuan harga pokok :
a. Metode Rata-Rata Tertimbang ( Weighted Average Method)
Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah merupakan perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama telah merupakan produk jadi dari departemen sebelumnya, yang membawa biaya produksi dari departemen produksi sebelumnyua tersebut, maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama terdiri dari:
a. biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya
b. biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama

Contoh:
PT Eliona Sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :




Data Produksi Bulan Januari 19x1
Departemen A Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses 35.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 30.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan 5.000 kg 6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 19x1
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik
Rp 70.000
Rp 155.000
Rp 248.000
Rp 0
Rp 270.000
Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam produk proses akhir
Biaya bahan baku
Biaya konversi
100%
20%

50%

Perhitungan Harga Pokok Produksi per satuan Departemen A
Unsur biaya produksi Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per kg
Bahan baku
Tenaga kerja
Overbead pabrik Rp 70.000
155.000
248.000 35.000
31.000
31.000 Rp 2
5
8
Total Rp 173.000 Rp 15




Perhitungan Harga Pokok Produk Jadi dan Persediaan Produk dalam Proses Dep A
Harga pokok produk jadi : 30.000 x Rp 15 Rp 450.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 5.000 x Rp 2 = Rp 10.000
Biaya tenaga kerja 20 % x 5.000 x Rp 5 = Rp5.000
Biaya overhead pabrik 20 % x 5.000 x Rp 8= Rp 8.000



Rp   23.000
Jumlah biaya produksi Departemen A bulan januari 19x1 Rp 473.000

Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen A
Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku :
Barang dalam proses-biaya bahan baku departemen A Rp 70.000
Persediaan bahan baku Rp 70.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen A Rp 155.000
Gaji dan upah Rp 155.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen A
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen A Rp 248.000
Berbagai rekening yang di kredit Rp 248.000


Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen A ke departemen B:
Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B Rp 450.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 60.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 150.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang  belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen A Rp 23.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 10.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp   5.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp   8.000

Perhitungan Harga Pokok Produksi per satuan Departemen B
Unsur biaya produksi Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per kg
Tenaga kerja
Overbead pabrik 270.000
405.000 27.000
27.000 10
15
Total Rp 675.000 Rp 25

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep B

Harga pokok produk selesai yang di transfer departemen B ke gudang
Harga pokok dari departemen A : 24.000 x Rp 15
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B : 24.000x Rp 25

Rp 360.000
600.000

Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang 
24.000 x Rp 40 960.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir
Harga pokok dari departemen A : 6.000 x Rp 15
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B:
Biaya tenaga kerja 50 % x 6.000 x Rp 10 = Rp30.000
Biaya overhead pabrik 50 % x 6.000 x Rp 15= Rp 45.000
90.000


Rp   75.000
Total harga pokok persediaan produk dalam proses departemen B 165.000
Jumlah biaya produksi kumulatif Departemen B bulan januari 19x1 Rp 1.125.000


Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen B
Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari departemen A: :
Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B Rp 450.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 60.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 150.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen B Rp 270.000
Gaji dan upah Rp 270.000


Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen B
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen B Rp 405.000
Berbagai rekening yang di kredit Rp 405.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen B ke gudang
Persediaan produk jadi Rp 960.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B Rp 360.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 240.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B Rp 360.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang  belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen B Rp 165.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B Rp 90.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 30.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B Rp 45.000
b. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama ( FIFO )



Perbandingan Antara Metode Rata-rata Tertimbang Dengan FIFO
a. Perbedaan kunci antara metode rata-rata & MPKP adalah pada penanganan unit-unit sediaan barang dalam proses awal.
Metode MPKP : memisahkan unit sediaan BDP awal dari unit yang masuk proses dan selesai dalam periode berjalan.
Metode Rata-rata Tertimbang : tidak membedakan perlakuan terhadap unit sediaan BDP awal.
b. Metode MPKP  memisahkan biaya yang melekat pada sediaan BDP awal dari biaya pada periode berjalan.
Metode Rata-rata : menggunakan biaya per unit rata-rata.
c. Metode Rata-rata lebih mudah perhitungannya. Metode ini paling sesuai digunakan jika harga bahan langsung, biaya konversi, dan tingkat sediaan stabil. 
d. Metode MPKP : sesuia digunakan jika harga bahan langsung, biaya konversi, atau tingkat sediaan berfluktuasi.
e. Banyak perusahaan lebih menyukai metode MPKP dibanding metode rata-rata untuk tujuan pengendalian biaya dan evaluasi kinerja karena biaya per unit ekuivalen dengan metode MPKP hanya menyajikan biaya untuk periode berjalan.
f. Dengan metode rata-rata tertimbang, biaya pada periode sebelumnya dan periode berjalan dicampur, dan penyimpangan kinerja dalam periode berjalan mungkin saja tersembunyi karena adanya variasi biaya per unit antar periode.

2..4 Pengaruh Terjadinya Produk Yang Hilang Dalam Proses Terhadap Perhitungan Harga Pokok Produk per Satuan
Produk rusak (spoilage) merupakan unit yang tidak dapat diterima sehingga harus dibuang atau dijual dengan nilai yang lebih rendah. Produk cacat (rework) adalah unit yang perlu diperbaiki secara ekonomi, sehingga produk tersebut dapat dijual melalui saluran reguler. Sisa Bahan (Scrap) merupakan bagian dari produk yang tidak memiliki nilai atau jika memiliki, nilainya sangat kecil.
a. Produk Rusak
Ada dua jenis produk rusak : produk rusak normal dan produk rusak tidak normal. Produk rusak normal terjadi dalam kondisi operasi yang efisien dan tidak dapat dikendalikan dalam jangka pendek dan diperhitungkan sebagai bagian dari biaya produk. Sedangkan produk rusak tidak normal menyebabkan kerugian melebihi atau di atas perkiraan dalam kondisi operasi yang efisien dan dibebankan sebagai kerugian dalam periode berjalan.
Biasanya produk rusak ditemukan pada akhir proses dengan demikian ia telah menyerap biaya produksi sehingga harus dimasukkan dalam perhitungan unit ekuivalen.

b. Produk Cacat
Sebagaimana diketahui, produk cacat  adalah produk yang tidak sesuai standar dan masih dapat diperbaiki. Maka membutuhkan biaya perbaikan., dapat berupa biaya bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Persoalannya adalah perlakuan atas biaya perbaikan tersebut.
Produk cacat dapat bersifat normal ataupun tidak normal.  Perlakuan atas biaya tambahan adalah sebagai  berikut :
i. Jika cacat normal  : biaya perbaikan  akan menambah biaya produksi.
ii. Jika cacat tidak normal : biaya perbaikan diperlakukan sebagai rugi produk cacat. Biaya produksi tidak bertambah.
Produk cacat masuk dalam perhitungan unit ekuivalen.
Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan

Contoh
PT Eliona Sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1
Departemen A Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses 1.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 %
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %

200 kg


100 kg
Produk yang hilang pada awal proses 100 kg 200 kg

Biaya produksi Bulan Januari 19 x1
Departemen A Departemen B
Biaya bahan baku Rp 22.500 Rp          -
Biaya bahan penolong 26.100 16.100
Biaya tenaga kerja 35.100 22.500
Biaya overhead pabrik 45.800 24.750

Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1
Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi)

1 Biaya produksi Departemen A

2 Biaya per kg  yang dihasilkan  departemen A
2:1
Biaya bahan baku 700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg Rp 22.500 Rp 25
Biaya bahan penolong 700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg 26.100 29
Biaya tenaga kerja 700 + 40%x200kg=780kg 35.100 45
Biaya overhead pabrik 700 + 40%x200kg=780kg 46.800 60
Rp 130.500 Rp 159

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 159 Rp 111.300
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku         200 kg x 100 % x Rp 25 = 5.000
Biaya bahan penolong  200 kg x 100 % x Rp 29 = 5.800
Biaya tenaga kerja       200 kg x 40 %x Rp 45= 3.600
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 60= 4.800



Rp 19.200
Jumlah biaya produksi Departemen A Rp 130.500


Produk yang hilang pada awal proses di Departemen setelah departemen pertama
Perhitungan penyesuaian harga pokok per unit dari departemen A
Harga pokok produksi per satuan  yang berasal dari departemen A
Rp 111.300 : 700 Rp 159,00
Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A setelah adanya produk yang hilang dalam proses di Departemen B sebanyak 200 kg adalah Rp 111.300 : ( 700 kg-200 kg) Rp 222.60
Penyesuaian harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari Departemen A Rp  63.60

Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi) Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B Biaya per kg yang ditambahkan Departemen B
Biaya bahan penolong 400 kg + 60 % x 100 kg = 460 kg Rp 16.100 Rp 35
Biaya tenaga kerja 400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg Rp 22.500 Rp 50
Biaya overhead pabrik 400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg Rp 24.750 Rp 55
Rp 63.350 Rp 140

Perhitungan biaya produksi departemen B bulan Januari 19x1
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg @ Rp 362.60 Rp 145.040
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 kg):
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 222.6= Rp 22.260
Biaya bahan penolong : 100 kg x 60 % x Rp 35 = 2.100
Biaya tenaga kerja  : 100 kg x 50 % x Rp 50 = 2.500
Biaya overhead pabrik : 100 kg x 50 %x Rp 55 =2.750



Rp 29.610
Jumlah kumulatif dalam departemen B Rp 174.650

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada akhir proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan

Contoh:
PT Eliona Sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :
:



Data produksi Bulan Januari 19x1
Departemen A Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses 1.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 %
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %

200 kg


100 kg
Produk yang hilang pada akhir proses 100 kg 200 kg

Biaya produksi Bulan Januari 19 x1
Departemen A Departemen B
Biaya bahan baku Rp 22.500 Rp          -
Biaya bahan penolong 26.100 16.100
Biaya tenaga kerja 35.100 22.500
Biaya overhead pabrik 45.800 24.750

Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1
Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi) Biaya produksi Departemen A Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A
Biaya bahan baku 700 kg + 100 % x 200 kg + 100 kg= 1000 kg Rp 22.500 Rp 22.5
Biaya bahan penolong 700 kg + 100 % x 200 kg+ 100 kg = 1000 kg 26.100 26.10
Biaya tenaga kerja 700 + 40%x200kg + 100 kg = 880kg 35.100 39.89
Biaya overhead pabrik 700 + 40%x200kg+ 100 kg = 880kg 46.800 53.18
Rp 130.500 Rp141.67

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 141.67 Rp 99.169
Penyesuaian harga pokok produk selesai karena adanya produk yang hilang pada akhir proses 100 xRp 141,67 14.167,00
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 700 x Rp 161,91 113.334,40
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku         200 kg x 100 % x Rp 22.5 = 4.500
Biaya bahan penolong  200 kg x 100 % x Rp 26.1 = 5.220
Biaya tenaga kerja       200 kg x 40 %x Rp 39.89= 3.191,2
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 53.18= 4.254,4



Rp 17.165.60
Jumlah biaya produksi Departemen A Rp 130.500,00


Produk yang hilang pada akhir proses di departemen produksi setelah departemen produksi pertama

Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi) Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B Biaya per kg yang ditambahkan di Departemen B
Biaya bahan penolong 400 kg + 60 % x 100 kg + 200 kg = 660 kg Rp 16.100 Rp 24.39
Biaya tenaga kerja 400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg Rp 22.500 Rp 34.62
Biaya overhead pabrik 400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg Rp 24.750 Rp 38.08
Rp 63.350 Rp 97.09

Perhitungan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19x1
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 400 x Rp 161.91 Rp 64.764,00
Biaya yang ditambahkan departemen B 400 x Rp 97.09     38.836,00
Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses : 200 kg ( Rp 161.91+Rp 97.09 51.800,00
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 400 x Rp 388.5 155.400,00
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg)
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 161.91 = Rp 16.191,00
Biaya bahan penolong  100 kg x 60 % x Rp 24.39 = 1.463.3
Biaya tenaga kerja       100 kg x 50 %x Rp 34.62= 1.731
Biaya overhead pabrik 100 kg x 50 %x Rp 38.08= 1.904



Rp 21.289.40
Jumlah biaya produksi Departemen B Rp 176.689.40
 ·  Translate
1
1
Lilis Suaidah's profile photo
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 

MAKALAH
AKUNTANSI BIAYA
“ KONSEP BIAYA DAN ARUS BIAYA”


 


KELOMPOK 1
1. NOVI NOLA SARI 1111021003
2. NIA MAWARSIH 1111021007
3. SILFA AFRIZA 1111021009
4. APRILIA DARA PUSPITA 1111022018








DIV AKUNTANSI 
POLITEKNIK NEGERI PADANG


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang kita ucapkan atas nikmat yang diberikan Allah sehingga kami sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat beriringan salam kita kirimkan buat nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kita mampu menjadi menjadi pengikut setia Nabi, amin…
Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis kepada dosen pembimbing, yang telah memberikan tugas dalam membuat makalah tentang “KONSEP BIAYA DAN ARUS BIAYA “ dalam mata pelajaran Akuntansi Biaya, sehingga dengan makalah ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman baru bagi penulis sendiri.
Semoga dengan adanya makalah ini memberikan  banyak manfaat bagi pembaca maupun penulis. Dan penulis berharap masukan dan kritik untuk makalah ini agar bisa lebih baik.

Padang, September 2011



Penulis












DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………….
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………….
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………
1.3 Tujuan Makalah……………………………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………
2.1 Pengertian konsep biaya dan objek biaya ………………………………………...
2.2 Ketelusuran Biaya…………………………………………………………………
2.3 Penggolongan Biaya………………………………………………………………
2.4 Perbedaan Akuntansi Biaya perusahaan Jasa, Dagang dan Manufaktur................
2.5 Akuntansi Biaya untuk perusahaan Manufaktur…………………………………
2.6 Arus Biaya………………………………………………………………………
2.7 Laporan Harga Pokok Produksi Perusahaan Manufaktur....................................
2.8 Laporan Rugi Laba Perusahaan Manufaktur.......................................................
BAB III PENUTUPAN………………………………………………………………………
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………...
3.2 Saran……………………………………………………………………………..
REFERENSI………………………………………………………………………………....









BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bilamana seseorang menanyakan sesuatu hal berkaitan dengan biaya (Cost), maka reaksi pertama hendaknya mencari tahu untuk apa informasi biaya tersebut hendak digunakan. Angka-angka biaya dapat diartikan bervariasi tergantung pada tujuannya.
Suatu filosofi berorientasi pasar  membutuhkan informasi biaya yang cepat, dimulai dari konsepsi produk sampai distribusi akhir, pelayanan, dan purnajual. Para manajer menggunakan informasi biaya produk untuk berbagai keputusan strategis, termasuk penetapan harga, penerimaan dan menolak pesanan penjualan dan memilih produk mana yang akan dibuat. Jika system akuntansi menghasilkan data biaya yang tidak akurat, perusahaan mungkin menjual produknya lebih rendah dari biayanya. Tanpa informasi biaya yang akurat, perancangan produk mungkin memilih rancangan yang tidak memberikan nilai tambah.

1.2 Rumusan Masalah
1. Pengertian konsep biaya dan objek biaya 
2. Ketelusuran Biaya
3. Penggolongan Biaya
4. Perbedaan Akuntansi Biaya perusahaan Jasa, Dagang dan Manufaktur
5. Akuntansi Biaya untuk perusahaan Manufaktur
6. Arus Biaya
7. Laporan Harga Pokok Produksi Perusahaan Manufaktur
8. Laporan Rugi Laba Perusahaan Manufaktur

1.3 Tujuan Makalah
1. Menambah wawasan tentang Konsep Biaya dan Arus Biaya
2. Dapat mengetahui perbedaan akuntansi biaya di perusahaan jasa, dagang dan manufaktur
3. Dapat mengetahui prosedur untuk menelusuri arus biaya yang menghasilkan keputusan yang efekif.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konsep Biaya dan Objek Biaya 
Dalam arti luas, biaya (cost) adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Harga Pokok adalah sejumlah nilai aktiva, tetapi apabila selama tahun berjalan aktiva tersebut dimanfaatkan untuk membantu memperoleh penghasilan, aktiva tersebut harus dikonversikan ke biaya (Expense).
Contoh : Uang yang dikeluarkan untuk membeli gedung, tanah, mesin,  mobil dll.
Biaya (Expense) adalah beban terhadap penghasilan karna perusahaan menggunakan sumber daya ekonomi yang ada. Biaya berasal dari aktiva atau terjadi langsung tanpa melalui aktiva.
Contoh : Uang yang dikeluarkan untuk mebayar Upah, Tagihan Telepon, Tagihan Listrik, Sewa gudang dll.
Objek Biaya  (cost object) atau tujuan biaya (cost objective) adalah sebagai  sesuatu item atau aktivitas yang biayanya diakumulasi dan diukur.
Berikut adalah aktivitas atau item-item yang dapat menjadi objek biaya:
1. Produk, Proses
2. Batch dari unit-unit sejenis, Departemen
3. Pesanan pelanggan, Divisi
4. Kontrak, Proyek
5. Lini produk, Tujuan strategis.

2.2 Ketelusuran Biaya
Ketelusuran (Treaceability)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak dapat dengan mudah dan akurat dilacak sebagai objek biaya. Biaya langsung adalah biaya yang dapat dengan mudah dan akurat ditelusuri sebagai objek biaya.
Metode Penelusuran
Ketelusuran berarti bahwa biaya dapat dibebankan dengan mudah dan akurat sedangkan penelusuran adalah pembebanan aktual dari biaya ke objek biaya dengan menggunakan ukuran yang dapat diamati pada konsumsi sumber daya oleh objek biaya. 
2 cara penelusuran : 
1. Penelusuran langsung, adalah suatu proses pengidentifikasian dan pembebanan biaya yang berkaitan secara khusus dan secara fisik dengan suatu objek.

2. penelusuran penggerak, adalah suatu proses pengidentifikasian yang menggunakan dalil-dalil sebab akibat untuk mengidentifikasi berbagai faktor.

2.3 Penggolongan Biaya
Penggolongan biaya adalah penggolongan proses mengelompokkan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih punya arti atau lebih penting

Biaya dapat digolongkan menurut :
1. Obyek Pengeluaran.
Dalam cara penggolongan ini ,nama obyek pengeluaran  merupakan dasar  penggolongan biaya. Salah satu contoh penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran adalah dalam perusahaan kertas, obyek pengeluarannya adalah biaya merang, biaya jerami, biaya gaji dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, biaya bunga, dan biaya zat warna.
2. Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan
Dalam perusahaan manufaktur terdapat tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. 
Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur biaya dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok :
a. Biaya produksi (production costs)
Termasuk direct material, direct labor & factory overhead yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa.

b. Biaya pemasaran (marketing costs)
dihasilkan dari penjualan dan pengiriman produk serta mencakup biaya promosi penjualan dan mempertahankan pelanggan serta biaya transportasi, pergudangan, dan distribusi lainnya.

c. Biaya administrasi (administrative costs) 
dihasilkan dari pengerahan dan pengendalian perusahaan serta kegiatan umum seperti fungsi personalia dan hukum.  Biaya ini mencakup gaji bagian akuntansi, manajemen dan keuangan, biaya klerikal, biaya telepon, dan ongkos sewa.

3. Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang dibiayai.

Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubgungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokan menjadi dua golongan:

a. Biaya Langsung ( direct cost )
b. Biaya Tidak Langsung ( indirect cost )
Dalam hubungannya dengan produk, biaya produksi dibagi menjadi dua, yaitu 

a. Biaya Produksi Langsung 
Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
b. Biaya Produksi Tidak Langsung. 

Dan dalam hubungannya dengan departemen, biaya dibagi menjadi dua golongan, yaitu 
a. Biaya Langsung Departemen 
Biaya langsung departemen adalah semua biaya yang terjadi di dalam departemen tertentu. Contohnya adalah biaya tenaga kerja yang bekerja dalam Departemen Pemeliharan merupakan biaya langsung departemen bagi Departemen Pemeliharaan.
b. Biaya tidak langsung departemen.



4. Penggolongan Biaya menurut Volume Produksi 
Dalam hubungannya dengan volume produksi, biaya dapat digolongakan menjadi : 
a. Biaya Variabel adalah biaya yang jumlah totalnya sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
b. Biaya Semi Variabel, adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel. Contohnya penggunaan tenaga listrik untuk penerangan pada bagian produksi bersifat tetap, tetapi akan bersifat variabel untuk menggerakan mesin-mesin produksi.
c. Biaya Tetap, adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah gaji direktur produksi.
d. Biaya Semi Fixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

5. Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya.
Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua: yaitu pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan.

a. Pengeluaran modal( capital expenditures) adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
 Contohnya adalah pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap, untuk promosi besar-besaran, dan pengeluaran untuk riset dan pengeluaran suatu produk.

b. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam satu periode akuntansi. Contohnya adalah biaya iklan, biaya telex, dan biaya tenaga kerja.
Manfaat Penggolongan Biaya Menurut Mulyadi (1993, hal. 165), manfaat penggolongan biaya sebagai berikut:

c. Untuk mengetahui harga pokok produk yang diproduksi dalam bulan tertentu.

d. Sebagai dasar pengambilan keputusan biaya dimasa yang akan datang.
e. Untuk memperjelas tugas wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap manajer.

Menurut Murti dan John (1998, hal. 424), manfaat penggolongan biaya adalah:
1. Memberikan kemudahan pendistribusian biaya secara merata.
2. Memberikan keadilan atau beban yang pantas terhadap suatu produk.

Menurut Charles (1997, hal. 328) manfaat penggolongan biaya adalah untuk mengadakan penilaian persediaan dan untuk pengambilan keputusan seperti penentuan harga, menambah produk dan mempromosikan produk.

2.4 Perbedaan Akuntansi Biaya perusahaan Jasa, Dagang dan Manufaktur
Akuntansi Biaya untuk Perusahaan Retail, Jasa dan Manufaktur
Informasi biaya yang akurat merupakan hal penting bagi semua perusahaan baik yang bergerak di bidang ritel, manufaktur dan jasa.

Masing-masing industri tersebut mempunyai laporan keuangan pokok yang sama; umumnya laporan itu terdiri , dan dari neraca( laporan posisi keuangan) dan laporan laba-rugi, laba ditahan arus kas yang terkait.
1. Pedagang eceran (retail)  dan perusahaan dagang lainnya, menjual barang pada dasarnya berbentuk fisik sama dengan barang yang telah mereka beli. Retailer umumnya  hanya memiliki satu akun persediaan, yang disebut Persediaan Barang Dagang. 
2. Perusahaan manufaktur mengubah bahan menjadi barang jadi dan secara umum mempunyai 4 akun persediaan : Persediaan barang langsung, Persediaan Perlengkapan Pabrik, Persediaan Barang Dalam Proses dan persediaan barang jadi.
Bahan langsung menunjukan harga yang tersedia untuk diproses; Barang dalam proses, harga pokok barang yang tersedia untuk diproses; barang dalam proses, harga pokok barang yang belum diselesaikan dan barang jadi, harga pokok barang yang telah diselesaikan.
3. Perusahaan Jasa mempunyai beberapa atau tidak mempunyai persediaan dan outputnya seringnya tidak berwujud, seperti jasa kesehatan. Sedangkan perusahaan jasa yang memiliki output berwujud, contohnya adalah kantor akuntan dan konsultan publik,yang outputnya adalah laporan audit.




Perbedaan Akuntansi Biaya Perusahaan Jasa, Dagang, dan Manufaktur dapat terlihat pada contoh laporan keuangan dibawah ini.
Laporan keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan keuangan perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar di Neraca dan Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba.
Neraca
Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:

Perusahaan Dagang
Neraca sebagian
31 Desember 2005 Perusahaan Manufaktur
Neraca sebagian
31 Desember 2005
Aktiva Lancar: Aktiva Lancar:
Kas        XXX Kas  XXX
Piutang (bersih)     XXX Piutang (bersih) XXX
Persediaan Barang Dagangan XXX Persediaan:
Sewa Dibayar di Muka   XXX Barang Jadi XXX
25.900 Barang Dalam Proses XXX
Bahan Baku XXX
XXX
Sewa Dibayar di Muka XXX
XXX










Laporan Rugi-Laba

Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:
Perusahaan Dagang
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2005
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Dagangan 1 Januari ………… XX
(+) Pembelian Bersih …………………..…………… XXX
Barang Tersedia Untuk Dijual ……………………… XXX
(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember … XXX
Harga Pokok Penjualan ……………………………. XXX




Perusahaan Manufaktur
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2005
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Jadi 1 Januari …………………. XXX
(+) Harga Pokok Produksi  …………… XXX
Barang Tersedia Untuk Dijual ………………………. XXX
(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember …………. XXX
Harga Pokok Penjualan XXX







Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sbb:
Perusahaan Dagang:

  Persediaan Barang      +  Pembelian       -     Persediaan Barang   =    Harga Pokok
   Dagangan (Awal)                Bersih            Dagangan (Akhir)            Penjualan

Perusahaan Manufaktur:

  Persediaan Barang      + Harga Pokok    -        Persediaan Barang   =    Harga Pokok
   Jadi (Awal)                Produksi     Jadi (Akhir)               Penjualan

2.5 Akuntansi Biaya untuk perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur mengubah bahan menjadi barang jadi dan secara umum mempunyai 4 akun persediaan : 
f. Persediaan barang langsung
g. Persediaan Perlengkapan Pabrik
h. Persediaan Barang Dalam Proses 
i. Persediaan barang jadi.

2.6 Arus Biaya
Akuntansi biaya tidak menambah ataupun mengubah siklus akuntansi dan prinsip-prinsip akuntansi yang sudah dikenal dalam akuntansi keuangan. Semua biaya manufaktur, tanpa mempedulikan, apakah tetap atau variable, mengalir melalui akun barang dalam proses dan pembuatan barang jadi. Berdasarkan hasil analisis didapat bahwa variabel metode arus biaya persediaan dan gross profit margin tidak pengaruh signifikan terhadap market value perusahaan. Sedangkan variable perputaran persediaan dan nilai persediaan berpengaruh signifikan antara perusahaan terhadap market value perusahaan.hasil Penelitian Variabel secara simultan ini menunjukan bahwa variabel metode arus biaya persediaan, Perputaran persediaan, Gross Profit Margin, Nilai persediaan berpengaruh signifikan terhadap nilai pasar Perusahaan

2.7 Laporan Harga Pokok Produksi Perusahaan Manufaktur
Laporan harga pokok produksi adalah laporan tentang biaya total yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk memproduksi sejumlah barang di dalam suatu periode tertentu.
Tujuan dari laporan harga pokok produksi adalah untuk mendukung laporan laba-rugi dengan mengikhitsarkan semua biaya produksi selama periode akuntansi. Biaya produksi tersebut terdiri dari tiga unsur utama yakni bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. 
Contoh format Laporan
PT. Jaya  Raya
Laporan  Harga  Pokok  Produksi
Untuk Periode Yang Berakhir Tanggal 31 Desember XXX
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

    Harga Pokok  Produksi :
    - Persediaan awal bahan baku   xx
    - Pembelian xx
    - Persediaan akhir bahan baku (xx)
                                                         
    - Biaya Bahan Baku   xxx
      - Biaya Tenaga Kerja Langsung         xxx
                       - Biaya Overhead                               xxx

    - Biaya Produksi                                                       xxx
    - Persediaan awal, Barang Dalam Proses             xxx
    - Persediaan total, Barang Dalam Proses            xxx
   - Persediaan akhir, Barang Dalam Proses          ( xxx )
   -  Harga Pokok Produksi                                         xxx  
  






2.8 Laporan Rugi Laba Perusahaan Manufaktur
Dari hasil perhitungan skedul harga pokok produksi dapat lanjutkan untuk penyusunan laporanlaba rugi manufaktur sebagaimana dicontohkan pada format berikut :

Nama Perusahaan
LAPORAN LABA RUGI
(Perusahaan Manufaktur)
Untuk tahun yang berakhir tanggal 31/12/20xx

Penjualan................................................................xxxx
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan Barang Jadi, 01/01/20xx............xxxx
Harga Pokok Produksi.................................xxxx
Barang tersedia untuk dijual.......................(xxxx)
Persediaan Barang Jadi, 31/12/20xx............(xxxx)
Harga Pokok Penjualan............................................(xxxx)
Laba Kotor................................................................xxxx

Beban operasional :
Beban Pemasaran........................................xxxx
Beban Administrasi.......................................xxxx
Total beban usaha..................................................(xxxx)
Laba Operasional.....................................................xxxx

Pendapatan/Beban lain :
Pendapatan-pendapatan lain.........................xxxx
Beban-beban lain.........................................(xxxx)
Total Pendapatan/Beban lain..................................xxxx(+/-)
Laba Neto (sebelum pajak).....................................xxxx

Laporan Laba Rugi seperti dicontohkan diatas adalah laporan laba rugi multiple step karena perhitungan dilakukan secara bertahap. Para pengguna laporan laba rugi ini tentu lebih senang membaca laporan laba rugi dengan multiple step ini karena lebih informatif ketimbang laporan laba rugi dengan single step.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
  Setiap perusahaan memerlukan konsep biaya yang baik sehingga menghasilkan informasi biaya produk untuk berbagai keputusan strategis, termasuk penetapan harga, penerimaan dan menolak pesanan penjualan dan memilih produk mana yang akan dibuat. Jika system akuntansi menghasilkan data biaya yang tidak akurat, perusahaan mungkin menjual produknya lebih rendah dari biayanya. Tanpa informasi biaya yang akurat, perancangan produk mungkin memilih rancangan yang tidak memberikan nilai tambah.

















REFFERENSI

Rayburrn,L.Gayle (R), Cost Accounting: Using a Cost Management Approach, 6th ed.
Mulyadi, Akuntansi Biaya,Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Jogyakarta.
Herawati, Akuntansi Biaya LKMS, BUNG HATTA UNIVERSITY PRESS, Padang.
Thomson, Cost Accounting, Buku 1 – edisi 13- 2006, Salemba Empat .
http://www.managementaccountingsystems.com/60/pengertian-objek-pendekatan-dan-fungsi-sistem-akuntansi-biaya.htm Diakses, hari Jum’at  tanggal 21 September 2012
http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/32-penggolongan-biaya.pdf Diakses, hari Jum’at  tanggal 21 September 2012
http://www.ask.com/web?l=dis&o=14595cr&qsrc=2869&q=ARUS%20BIAYA Diakses, hari Jum’at  tanggal 21 September 2012
http://www.ask.com/web?qsrc=2417&o=14595cr&l=dis&locale=in_ID&tpr=2&q=AKUNTANSI+BIAYA+UNTUK+PERUSAHAAN+MANUFAKTUR Diakses, hari Jum’at  tanggal 21 September 2012
http://solusiakun.blogspot.com/2009/11/laporan-laba-rugi-perusahaan-manufaktur.html Diakses, hari Senin, tanggal 24 Sepember 2012.
http://www.anneahira.com/laporan-laba-rugi-perusahaan-manufaktur.htm Diakses, hari Senin, tanggal 24 Sepember 2012.
 ·  Translate
1
Add a comment...

ARIANA ALBERT

Shared publicly  - 
 
Do What You Love and Love what you do 
1
Add a comment...
People
Have her in circles
2 people
Pandu Putra's profile photo
ARIANA ALBERT's profile photo
Basic Information
Gender
Female