Profile cover photo
Profile photo
Paulus Sihombing
55 followers -
Exploe Network | Indonesia Network
Exploe Network | Indonesia Network

55 followers
About
Paulus Sihombing's interests
View all
Paulus Sihombing's posts

Izinkanlah hari ini saya menalar atau membenci secara rasional sebuah lembaga yg disebut agama. Ya...agama saat ini. Benci yang sedalam-dalamnya, seperti gurun pasir menyedot dengan buas hujan di gurun Sahara. Masih perlukah kita beragama? Agama dewasa ini mirip seperti kotak sampah tempat menampung mulut-mulut kotor yg yg dengan lantang berteriak 'mencintai Tuhan' tiap saat namun nyaris setiap saat pula menghujat sesama yg diklaim tak bertuhan. Kawan, saat anda berteriak dalam doa, "Ya Tuhan Saya MencintaiMu". Tuhan...... saya mengasihimu!! Siapa sesunguhnya yg sedang anda cintai? Apakah engkau bisa mencintai Tuhanmu? Coba deskripsikan, bagaimana kamu mencintai Tuhanmu? Apakah bisa kamu mencintai Tuhan sementara sesamamu kamu tatap dengan mata kebencian? Agama menampung orang yg berteriak selamatkan Tuhan, kita harus membela Tuhan! Kawan, Tuhan tdk perlu dibela, tugasmu adalah menyembahnya, memujinya. Kalau mau membela Tuhan, caranya sederhana, mencintai sesamamu jg musuhmu. Sarungkan pedang angkara dan murkamu. Dan jangan sekali kali membawa nama Tuhan dalam murkamu sebab anda sedang berpikir tentang Tuhan yg marah. Itu sesunguhnya bukan Tuhan yg sdng marah, tapi kamu yg sedang marah. Saya membenci agama, karena atas namamya, sering kebencian disucikan, membunuh sesama dikuduskan. Inilah agama, yg menjadi bahan tertawaan dan olok-olokan Marx yang menyebut agama seperti narkoba, Freud menganggapnya gejala mental kekanak-kanakan dan bahkan sumber sakit jiwa. Lalu, Voltaire menganggap pemuka agama sebagai tukang sulap yg menggelikan. Nietzsche pun jijik dng prilaku manusia beragama yang memenjara Tuhan dalam pembenaran yg irasional. Tuhan sdh mati, dibunuh oleh konsep manusia yg dangkal, picik, infantil tentang Tuhan. Agama disebut dan diyakini sebagai institusi yg mengurus perkara rohani, soal Tuhan dan yg transenden. Tapi kenapa agama ngotot mengurus hal yg remeh temeh seperti mengurus politik pilkada yg picik dan kerdil? Mengapa agama sibuk meneror pengikutnya, dengan ganjaran surga dan neraka saat musim pilkada? Bukankah menyeret Tuhan dalam urusan reme temeh seperti pilkada, sama dengan memanfaatkan Tuhan untuk melegitimasi hasrat dan nafsu untuk berkuasa. Tuhan itu terlalu besar kawan. Semua kita akui kebesaran Tuhan itu. Karena Ia terlampau besar, maka sangat naif kalo manusia merasa diri tahu seluruh apa yg Tuhan kehendaki. Padahal, apa yg Tuhan maksud pun dengan kehidupan manusia bahkan sangat berbeda dng apa yg kita baca dan yakini, pun oleh orng yg merasa diri paling paham agama. Kita adalah manusia yg meraba raba tentang kebesaran Tuhan dengan atau lewat kaca mata Kitab Suci. Sayang kaca mata itu pun sering kabur oleh konteks, nafsu, uang dan serakah. Para ulama, pastor, pendetanya mengajarkan untuk mencintai Tuhan dengan tangisan dan air mata, namun lupa bahwa sia- sia mereka mencintai Tuhan jika pedang angkara dan murka mereka masih menyala-nyala. Levinas mengatakan, wajah sesama adalah penampakan Tuhan yg nyata. Dihadapan sesama, Tuhan paling nyata hadir di tengah umat manusia. Immanuel Kant bilang, jangan pernah menyekat Tuhan dalam rasionalitas dangkal atau sekat-sekat kategoris penalaran manusia. Di hadapan Tuhan, kita hanya bisa DIAM.

Prepare jogjakarta (X-Code )

Post has attachment
Finishing karoke kamojang
Photo

Post has attachment

Hari ini Persiapan kembali ke Jakarta (with Yanti, Vedelis, Vianney)dengan penerbangan citilink,Lindungi Perjalanan Kami Tuhan. 

kayaknya Saya harus lakukan hal kecil saja daripada Melakukan hal besar tapi kecil dimata orang lain (salah tidak?)

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded