Profile

Cover photo
Erwin Fauzana
40 followers|30,891 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Erwin Fauzana

Shared publicly  - 
1
Bambang Legowo's profile photo
 
judulnya bikin salah persepsi mas...
 ·  Translate
Add a comment...

Erwin Fauzana

Shared publicly  - 
 
 
Video: Opening Rapat Dan Pawai Akbar Hizbut Tahrir, Bersama Ummat Tegakkan Khilafah By Felix Siauw

Seruan penerapan syariah Islam takkan pernah padam dan melemah, karena ini adalah bagian dari tuntutan keimanan, bukan urusan dunia bukan urusan harta, tapi tanggungan kita kepada sang Pencipta

Justru karena tersebab cinta Indonesia, karena itulah Indonesia harus dikembalikan pada pemiliknya yaitu Allah, berhukum pada hukum-Nya, berdasarkan ayat-Nya dan aturan Rasul-Nya

Justru tersebab menyayangi ummat, maka hukum Allah yang adil ini mesti mengatur manusia, agar manusia terbebas dari penyembahan terhadap sesama manusia lalu menyembah Allah semata

Pekik takbir yang menginspirasi para pejuang, nama Allah yang para pahlawan tinggikan, jihad yang mereka kumandangkan terhadap siapapun yang mengancam akidah, ini juga yang menyemangati kita dalam memperjuangkan Al-Haq

Akidah, syariah, ukhuwah, inilah esensi Khilafah. Persatuan yang sesungguhny, berasaskan Tuhan yang sama, kitab yang sama, nabi yang sama. InsyaAllah, kita bagian daripada perjuangan mengembalikan Khilafah yang menerapkan Kitabullah dan Sunnah

Mari bersama mengkaji Islam bersama Hizbut Tahrir, berdakwah dengan pemikiran dan tanpa kekerasan :) >> http://hizbut-tahrir.or.id/gabung
 ·  Translate
27 comments on original post
1
Add a comment...

Erwin Fauzana

Shared publicly  - 
 
 
Sejak sampai di stadion, masuk dan menyaksikan persiapan acara #RapatDanPawaiAkbar di GBK, sulit bagi saya untuk menahan rasa haru, saat mendengar gemuruh takbir, tahlil, dan kibaran bendera tauhid, diiringi dengan seruan "Khilafah.. Khilafah.."

MasyaAllah, saya sendiri menyaksikan panitia semalaman terjaga (semoga Allah melindungi mata yang terjaga itu dari api neraka), juga puluhan ribu peserta yang sudah memadati stadion utama GBK sedari malam, demi menyaksikan berkumpulnya hamba Allah menyerukan penerapan Syariah dan Khilafah

Diawali shalat subuh berjamaah sekitar 30.000 peserta, mereka tetap istiqamah menunggu acara yang baru akan dilaksanakan pada pukul 08.30, alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai rencana

Mendengar puisi Abah Hideung "Abad Khilafah", dan Lirik "Indonesia Milik Allah" yang disuarakan HM. Khair Hari Moekti. Tak terasa, bulir-bulir hangan membasahi pipi, masyaAllah.. masyaAllah.. beginilah Allah senantiasa tak putus-putusnya menjadikan pada tiap ummat ada pembela-pembela agama-Nya

Barakallahu fiikum, terimakasih buat para hadirin, hanya Allah yang bisa membalas, hanya Allah yang layak memberikan balasan yang lebih :)

Dan perjuangan ini belum selesai, entah sampai kapan, yang jelas kita harus berada diatasnya, sampai kita dimenangkan atau kita diwafatkan di dalam jalan dakwah ini.. :)
 ·  Translate
112 comments on original post
1
1
Add a comment...
Have him in circles
40 people
Asep Dindin's profile photo
Muhammad Abduh al-Banjary's profile photo
Admin Online's profile photo
Iwit Astuti's profile photo
MUHAMMAD SIGIT's profile photo
Kaos Dakwah Bapak Sholeh's profile photo
Maulana Shalihin's profile photo
Didik Rio Pambudi's profile photo
Majalah Remaja Islam Drise's profile photo

Erwin Fauzana

Shared publicly  - 
 
 
nyatakan apa yang engkau inginkan, perjuangkan apa yang engkau yakini | jangan habiskan waktu, mendebat, dan melayani yang tak memahami

orang panik akan berusaha menjatuhkan dengan segala cara | dakwah tidak begitu, kita terikat dengan perintah dari syara'

yang mencintai tak perlu pembelaan, yang membenci tak perlu penjelasan | cukup selalu kita perbaiki niat, hanya karena Allah semua amalan
 ·  Translate
43 comments on original post
1
Add a comment...

Erwin Fauzana

Shared publicly  - 
 
 
Bahaya di Balik Ide “Islam Indonesia”

[Al-Islam edisi 759, 18 Sya’ban 1436 H – 5 Juni 2015 M]

Penggunaan “langgam Jawa” dalam tilawah al-Quran saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. 17 Mei 2015 lalu di Istana Negara telah menimbulkan berbagai reaksi dari umat Islam. Sebenarnya ada yang sangat berbahaya di balik itu. Itulah ide yang mendasari permintaan sang Menteri Agama untuk menggunakan “langgam Jawa” itu. Sebelumnya, ide membangun “Islam Indonesia” atau “Islam Nusantara” pernah dilontarkan pula oleh beberapa tokoh dan intelektual di negeri ini.

Ide ini muncul sebagai reaksi terhadap wajah buruk Timur Tengah yang selalu diwarnai dengan konflik berkepanjangan akibat perang saudara. Padahal Timur Tengah berpenduduk mayoritas Muslim dan menjadi pusat agama Islam. Dari sanalah Islam disebarluaskan ke seluruh dunia, termasuk ke Nusantara ini. Karena itu menurut sebagian kalangan, Timur Tengah tidak pantas menjadi kiblat keberislaman kaum Muslim.

Maka dari itu, “Islam Indonesia” dinilai lebih baik daripada “Islam Timur Tengah”. Salah satu faktornya, menurut mereka, karena Indonesia sudah memiliki komitmen kebangsaan (nasionalisme) dalam menghadapi konflik, baik internal maupun eksternal. Adapun di Timur Tengah, penggabungan agama dengan nasionalisme sangat sulit diwujudkan.

Lebih lanjut menurut mereka, Indonesia seharusnya bisa menjadi pusat pemikiran Islam. Pasalnya, Islam di Indonesia lebih moderat dan bisa diterima oleh banyak pihak. Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya di Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin (09/02) menyerukan agar Islam di Indonesia mampu menjadi teladan dan rujukan bagi peradaban dunia.

Islam Hanya Satu

Islam dengan berbagai labelnya seperti “Islam Indonesia” atau “Islam Timur Tengah” sebenarnya sama dengan istilah “Islam Radikal”, “Islam Militan”, “Islam Moderat” atau yang lain. Pengkotak-kotakan seperti ini sebenarnya murni merupakan bagian dari strategi Barat untuk menghancurkan Islam. Ini sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen Rand Corporation. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah “devide et impera” atau politik pecah-belah. Begitulah bahaya di balik ide ini.

Selain itu, semangat “Islam Indonesia” yang lahir dari sentimen nasionalisme jelas berbahaya. Nabi saw. sendiri menyebut sentimen nasionalisme itu sebagai “muntinah” [barang yang busuk]. Apalagi ide “Islam Indonesia” atau “Islam Turki” telah didesain dan dimanfaatkan oleh Amerika dan negara kafir penjajah untuk melepaskan umat Islam dari Islam yang sesungguhnya. Ini bagian dari penyesatan politik dan pemikiran yang jelas berbahaya.

Padahal Islam itu satu. Allah SWT berfirman:

]إنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ[

Sesungguhnya umat [agama] kalian ini adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah Tuhan kalian. Karena itu takutlah kalian kepada-Ku (TQS al-Mu’minun [23]: 52).

]إنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ[

Sesungguhnya umat [agama] kalian ini adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Aku (TQS al-Anbiya’ [21]: 92).

Kata “ummat” di dalam kedua nash ini diartikan oleh para mufassir dengan agama (millah). Maknanya jelas, yakni agama kita, Islam, itu satu; tidak berbilang, tidak boleh dibuat berbilang, dan tidak boleh dilabeli dengan label tertentu. Kata “ummat” itu juga bisa diartikan secara harfiahnya, yaitu umat. Karena itu Islam adalah satu. Umat Islam juga satu. Tidak ada “Islam Indonesia”, “Islam Turki”, atau “Islam Arab”. Umat Islam pun hanya satu. Tidak ada “Umat Islam Indonesia”, “Umat Islam Arab” atau yang lain. Semuanya adalah Islam dan umat Islam.

Islam yang Mana?

Meski Islam hanya ada satu, tetapi kita tidak menutup mata adanya perbedaan di dalamnya karena faktor perbedaan pendapat, pandangan dan mazhab. Perbedaan seperti ini dibenarkan dalam Islam karena dua alasan. Pertama: karena adanya nash-nash syariah yang zhanni tsubut [sumber] danzhanni dalalah [makna]-nya. Kedua: karena kemampuan intelektual umatnya juga berbeda-beda sehingga memungkinkan perbedaan dalam memahami nash-nash syariah.

Meski demikian, ukurannya jelas. Kata Sayidina ‘Ali bin Abiy Thalib ra.:

لاَ تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ، أَعْرِفِ الْحَقَّ وَتَعْرِفْ أَهْلَهُ

Janganlah kamu mengenali kebenaran dengan melihat orangnya. Kenalilah kebenaran itu, maka kamu akan mengenali orang yang mengusungnya (Imam al-Ghazali, Al-Munqidz min adh-Dhalâl).
Mengenali Islam sebagai agama yang benar harus kembali pada sumbernya, bukan kepada orangnya. Sumbernya adalah al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Siapapun yang membawa dan menyampaikan Islam harus dilihat dan diukur dengan sumber-sumber tersebut. Jika menyimpang maka siapapun dia, dari kelompok atau organisasi manapun, serta apa pun yang dibawa dan disampaikan itu bukanlah kebenaran; bukan Islam. Begitulah cara seharusnya menilai kebenaran Islam.

Kembali pada sumber Islam yang asli tersebut membutuhkan ilmu alat mulai dari bahasa Arab, ushul fikih, ilmu hadis, tafsir, fikih dan sebagainya. Pasalnya, khazanah Islam yang disampaikan di tengah-tengah umat itu ibarat buah dari pohon yang subur. Menggunakan ungkapan Imam al-Ghazali, buah itu tidak bisa dipetik dari pohonnya, yang tak lain adalah dalil, kecuali dengan alat. Alat itu adalah ushul fikih. Namun, alat itu tidak bisa digunakan kecuali oleh para mujtahid (Imam al-Ghazali, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl).

Karena itu, tradisi ini tidak pernah hilang dari kaum Muslim selama berabad-abad sejak umat ini lahir di tangan Baginda Nabi Muhammad saw. Kembali pada sumber asli Islam dengan meninggalkan alatnya—dengan alasan dulu Nabi saw. dan para Sahabat tidak pernah menggunakan alat itu—sesungguhnya sama bahayanya dengan orang yang tak mau merujuk pada sumber asli Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, menemukan kebenaran Islam harus dengan kembali pada Islam secara kaffah, yakni merujuk pada sumber aslinya, sekaligus merujuk pada ilmu alat serta kepada para pemikir dan mujtahidnya. Begitulah seharusnya. Hanya dengan cara seperti itu kebenaran Islam itu bisa direngkuh dengan sebenar-benarnya.

Islam: Solusi, Bukan Sumber Konflik

Mengenai Timur Tengah yang terus bergolak sesungguhnya itu bukan karena faktor Islam. Wilayah ini terus-menerus membara karena strategi penjajah Barat untuk terus-menerus menjajah wilayah ini. Wilayah ini telah menjadi ajang pertarungan antara Inggris, Amerika dan Prancis. Karena itu mengaitkan konflik Timur Tengah dengan watak keislaman kaum Muslim di sana merupakan tindakan gegabah sekaligus menutup mata terhadap kepentingan negara-negara penjajah di wilayah tersebut.

Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan ketidakstabilan Timur Tengah hingga saat ini: (1) potensi ideologi Islam yang selalu mengancam kepentingan Barat; (2) persoalan minyak; (3) letak strategis Timur Tengah; (4) institusi Yahudi yang sengaja ditanam oleh Barat.

Sebagai contoh, gejolak di Suriah yang masih terjadi hingga saat ini tak lain karena Revolusi Islam di sana membahayakan kepentingan Barat. Sampai sekarang, Barat belum berhasil memalingkan tujuan Revolusi Islam di sana agar tunduk pada kepentingannya. Di sisi lain, Tsaurah as-Syâm (Revolusi di Bumi Syam) hingga saat ini masih menjadi harapan besar umat agar menjadi jembatan yang mengantarkan mereka dari fase pemerintahan diktator menuju fase Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhajin-Nubuwwah.

Begitu juga apa yang terjadi di Yaman sekarang. Konflik Yaman bukanlah konflik Syiah-Sunni, tetapi pertarungan Amerika dengan Inggris, termasuk dengan menggunakan alat-alat mereka dan sentimen lokal.

Karena itu mengkambinghitamkan Islam sebagai biang konflik, selain berbahaya, juga memalingkan umat Islam dari musuh yang sesungguhnya, yaitu penjajahan Barat dengan sekularisme dan kapitalismenya. Akibatnya, umat Islam akan saling menyalahkan satu sama lain, sementara musuh mereka yang sejati tidak pernah mereka salahkan, apalagi mereka lawan.

Alhasil, sangat naif jika konflik Timur Tengah dikaitkan dengan ciri keislaman kaum Muslim, apalagi dikaitkan langsung dengan Islam. Pasalnya, muara dari konflik-konflik itu bukanlah Islam. Justru Islam itu solusi. Namun masalahnya, umat Islam belum mau mengambil kembali Islam sebagai solusinya. Mereka lebih percaya pada ideologi penjajah yang justru hendak menghisap darah dan kekayaan alam mereka. Akibatnya, konflik antar sesama kaum Muslim itu tidak pernah reda, bahkan terus membara.

Wahai Kaum Muslim:
Inilah saatnya umat Islam kembali pada Islam dengan sistemnya yang adil dan sempurna yang berasal dari Allah SWT. Hanya saja, semuanya itu tidak akan pernah ada, kecuali dengan Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah. Itulah satu-satunya institusi pemerintahan Islam yang bisa menjamin kehadiran Islam dengan wajahnya yang asli dan khas, sebagaimana yang diridhai oleh Allah SWT.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Dari <http://hizbut-tahrir.or.id/…/bahaya-di-balik-ide-islam-ind…/ >

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Profile Amir Hizbut Tahrir: http://bit.ly/133rkTd 
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di bit.ly/gabungHTI 
Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda. (jika lebih dari 2 minggu, saudara/i bisa memberitahukan lewat pesan inbox)
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id 
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Google+ : https://plus.google.com/+HizbuttahrirOrIdOfficial 
Facebook : https://www.facebook.com/hizbindonesia
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================
 ·  Translate
4 comments on original post
1
Add a comment...
People
Have him in circles
40 people
Asep Dindin's profile photo
Muhammad Abduh al-Banjary's profile photo
Admin Online's profile photo
Iwit Astuti's profile photo
MUHAMMAD SIGIT's profile photo
Kaos Dakwah Bapak Sholeh's profile photo
Maulana Shalihin's profile photo
Didik Rio Pambudi's profile photo
Majalah Remaja Islam Drise's profile photo
Basic Information
Gender
Male