Profile

Cover photo
Puskesmas Ngempit
Works at UPTD KESEHATAN PUSKESMAS NGEMPIT
Attends uptd kesehatan puskesmas ngempit
27 followers|8,043 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Puskesmas Ngempit

Shared publicly  - 
 
hari tenang menuju penilaian berikutnya, harap tetap dalam kerapian yang sama!
 ·  Translate
1
avicena rahmah's profile photo
 
Apa kabarnya Puskesmas Ngempit nih. Salah satu puskesmas terkeren yang patut dijadikan contoh di pasuruan :)
 ·  Translate
Add a comment...

Puskesmas Ngempit

Shared publicly  - 
 
puskesmas ngempit lagi sibuk siapkan lomba "Puskesmas Berprestasi Tk Nasional",,, Semungud! ;)
 ·  Translate
1
Add a comment...

Puskesmas Ngempit

Shared publicly  - 
 
Ibu Nurul, Kader Asuh yang Tak Bosan Bantu Ibu Hamil
HL | 31 October 2012 | 18:35 Dibaca: 470   Komentar: 0   Nihil
Ibu Nurul Himawati (29 tahun), wanita bersemangat tinggi ini menghipnotis saya dalam sekejap. Wanita yang kesehariannya mengabdi sebagai guru PAUD di Desa Klampis Rejo Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan ini menyimpan banyak kisah sebagai ‘ibu kader’. Berada di bawah tanggung jawab Dr. Arief Junaedi Kepala Puskesmas Ngempit, Ibu Nurul membagikan kisahnya untuk Kompasiana.
Ibu Nurul, di tengah-tengah berjilbab hijau bersama para ibu kader lainnya
Bersama 4 ibu kader lainnya yang hadir, Bu Nurul berkeinginan besar menyehatkan masyarakat di desanya. Berawal dari keprihatinan akan kesadaran akan kesehatan yang masih kurang mulai dari  Buang Air Besar (BAB) di sungai, sulit ke Posyandu, Bu Nurul bersama rekan-rekan membulatkan diri untuk mengabdi total pada desa.
Desa Klampis Rejo yang dicanangkan menjadi Desa Siaga perlahan mulai mendata kendaraan desa yang nantinya dapat digunakan sebagai ambulance desa. Kemudian dilanjutkan dengan mendata ibu hamil agar dapat diperiksa golongan darah dan kadar hemoglobinnya termasuk membawa orang yang sekiranya dapat menjadi pendonor darah. Ibu Nurul berperan penting mengajak masyarakat untuk mau berpikiran sehat.
Setelah Desa Siaga berjalan, kabupaten Pasuruan mengeluarkan program GEMERLAP BERSAMA (Gerakan Memberdayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Berbasis Masyarakat) yang lagi-lagi disambut dengan inisiasi para ibu kader yang tinggi.
“Benar sekali, tanpa inisiatif dana rasa memiliki yang muncul dari masyarakat maka segala program kesehatan hanya sebatas program saja. Berjalan sebentar lalu berhenti. Menciptakan memang mudah namun menjaga supaya terus berjalan itu yang sulit, namun pemberdayaan masyarakat mampu membuat itu mudah” ujar Ibu dr. Loembini Loejang selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupten Pasuruan.
“Tantangannya jelas banyak dok. Kami seperti tiang pancang di tengah sungai. Banyak rumput lewat, kayu besar lewat tapi kami tetap berdiri.Kami percaya jika tiang pancang ini tetap kuat maka kami akan bisa menguatkan desa kami” Ibu Nurul berbagi pengalamannya di hadapan kami para Pencerah Nusantara dari Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia (KUKPRI) untuk MDG.
Tim Pencerah Nusantara Pasuruan bersama para ibu kader dan tim Aceh
Bersamaan dengan kehadiran kami, hadir pula 10 orang, tim dari Kabupaten Bireuen-Aceh yang belajar bersama mengenai KIBBLA (Kesehatan Ibu Bayi Baru Lahir).  Hadir langsung Asisten I Bupati, Kepala Dinas Kesehatan, perwakilan DPRD, dan Save the Children, juga LSM serta media.
“Saat ini kami sudah berhasil memperjuangkan terbentuknya Perda tentang KIBBLA namun masih harus banyak belajar dari para ibu kader di Pasuruan bagaimana cara memulai dan mengatasi tantangan yang nantinya akan dihadapi” Bapak Hamdan selaku perwakilan Save the Children menjelaskan tujuan kunjungannya. Bahkan perwakilan dari Aceh masih heran dengan semangat inisiatif para ibu kader Pasuruan.
“Kami ingin desa kami sehat sehingga muncul inisiasi membuat Kader Asuh dimana setiap kader akan memegang beberapa KK dan mengawasi ibu serta anak di dalamnya. Jika ada ibu hamil maka kita akan mengajak ibu ke Bidan Desa. Alhamdulillah kami sudah membuat kesepakatan bermitra dengan dukun desa dimana segala persalinan harus di bidan desa dan dukun desa yang mengantarkan ibu hamil memeriksakan diri atau bersalin akan diberikan insentif walau jumlahnya tidak terlalu besar. Lalu setelah ibu melahirkan maka perawatan akan diserahkan kepada dukun desa. Kami juga menginsiasi Dasolin (Dana Bersalin) untuk para ibu. Iurannya hanya seribu rupiah saja
perbulan untuk tiap keluarga tapi ditekankan pentingnya mencegah kesakitan disini” ujar Ibu Siti Khotijah
“Saya kasian melihat ibu hamil kalau harus dibebani biaya transportasi dan macam-macam lagi padahal biaya persalinnya sudah gratis dibantu pemerintah. Melahirkan itu berat jadi harusnya tidak boleh diperberat lagi. Seperti kemarin saya ikut menemani ibu yang pembukaannya tidak maju-maju. Akhirnya dirujuk di RSUD dan dokter sudah bilang akan dioperasi kalau lewat waktunya. Saat itu saya berdoa setengah mati supaya si Ibu tidak dioperasi karena saya kasian nglihatnya. Alhamdulillah si Ibu tidak jadi dioperasi dan bayinya lahir selamat” Ibu Siti Fatimah (45 tahun) menambahkan.
Bukan hanya Dasolin saja tapi para ibu kader menyemangati para ibu untuk punya Tabulin (Tabungan Bersalin) yang iurannya bebas karena sistemnya menabung untuk dana sehat. Dari Tabulin tersebut akhirnya kesadaran warga untuk menyisihkan uang dalam pos kesehatan mulai bergulir.
Tidak hanya mengurangi angka kematian ibu dan bayi baru lahir, para Wonder Women yang bahkan diajak untuk memberi semangat para kader langsung di Bireun-Aceh ini masih punya tenaga super. Para ibu kader ini juga terlibat dalam CLTS (Community Led Total Sanitation) demi mencari cara bagaimana supaya sanitasi dasar dapat terpenuhi di desanya.
“Untuk membuat jamban, kami menggerakkan masyarakat melalui arisan jamban yang nominalnya hanya 5.000 tiap minggu dan dikocok tiap dua minggu sekali untuk dua orang. Sekali kocok dapat 300 ribu dan tidak kami berikan dalam bentuk uang melainkan kami belanjakan dalam bentuk peralatan sanitasi seperti membeli WC leher angsa. Kegiatan yang berasal dari inisiatif kami ini membuahkan hasil. Dengan dukungan 29 ibu kader, akhirnya desa kami bebas BAB di sungai. Semuanya sudah punya jamban sendiri sekarang” Ibu Rusiami (42 tahun) menjelaskan.
“Biar gampang diterima masyarakat CLTS biasanya kami sebut Cemplung Langsung Tai Saja” bu Nurul berhasil membuat saya tersenyum.  Masih penasaran akan inisiatif yang tidak padam dari para ibu kader ini, saya mencoba menggali akan kesejahteraan mereka dan cara membagi waktu kegiatan bermasyarakat dengan keluarga.
“Kita sebenarnya mikirnya sederhana. Kalau dibilang capek pasti iya karena belum tentu semua ibu mau diajak sehat. Mengajaknnya harus terus-menerus dan dilarang bosan. Kami percaya ini bagian dari tabungan akhirat kami jadi tanpa gaji pun kami masih tetap akan terus berbagi ilmu” Ibu Nikmatus Solihah (33 tahun)
“Jadi ibu kader bukan cuma ngurusin ibu hamil tapi juga bayi, anak sampai bapak-bapaknya. Alhamdulillah suami saya mendukung dengan baik dan kami sebagai kader juga harus memberikan contoh baik di keluarga. Itu sebabnya pembagian waktu sampai sekarang masih berjalan baik. Setelah keluarga sendiri, baru kami berbagi dengan keluarga lainnya” ujar bu Nurul.
Ibu kader ini juga ahli dalam mengelola keuangan. Walau hanya diberikan uang pengganti transportasi senilai 10 ribu saja tiap bulan dan diberikan tiap akhir tahun namun semangat para ibu ini laksana air bah yang tidak dapat dibendung. Saya belajar banyak tentang pemberdayaan masyarakat dari ibu Nurul dan kawan-kawan. Bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini jika memang kemauannya sudah kuat.  Jika Indonesia punya para ibu kader seperti Bu Nurul dan kawan-kawan, target MDG 2015 pasti akan mudah tercapai. Kiprah Bu Nurul dan kawan-kawan ini pun mengantarkan Puskesmas Ngempit memperoleh MDG’s Award dalam program KIBBLA.  Semangat terus Bu Nurul….perjuangan tahunan tersebut pasti membuahkan hasil menggembirakan nantinya.  Terima kasih sudah mencerahkan kami dan menjadi Pencerah Nusantara.
Salam Sehat,
dr. Hafiidhaturrahmah
Pencerah Nusantara Puskesmas Tosari-Pasuruan
 ·  Translate
1
Add a comment...
Have her in circles
27 people
puskesmas ngancar's profile photo
puskesmas legonkulon's profile photo
Puskesmas Tempirai's profile photo
Puskesmas padang pengrapat's profile photo
roy tronchet's profile photo
Puskesmas kota utara's profile photo
puskesmas karpul's profile photo
Aang Abdulharis's profile photo
Roosmitha Dewi's profile photo

Puskesmas Ngempit

Shared publicly  - 
 
PENILAIAN LOMBA PUSKESMAS BERPRESTASI TK NASIONAL tanggal 11-06-2013 di UPTD Kesehatan Puskesmas Ngempit Kec. Kraton Pasuruan. 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Puskesmas Ngempit

Shared publicly  - 
 
kedatangan mahasiswa kebidanan dari MAIJEN SUNGKONO, MOJOKERTO
 ·  Translate
1
Add a comment...

Puskesmas Ngempit

Shared publicly  - 
1
Puskesmas Ngempit's profile photo
 
profil puskesmas ngempit dari ruang loket depan
 ·  Translate
Add a comment...
People
Have her in circles
27 people
puskesmas ngancar's profile photo
puskesmas legonkulon's profile photo
Puskesmas Tempirai's profile photo
Puskesmas padang pengrapat's profile photo
roy tronchet's profile photo
Puskesmas kota utara's profile photo
puskesmas karpul's profile photo
Aang Abdulharis's profile photo
Roosmitha Dewi's profile photo
Education
  • uptd kesehatan puskesmas ngempit
    in here, 1990 - present
  • uptd kesehatan puskesmas ngempit
    in here, 1990 - present
Links
Work
Employment
  • UPTD KESEHATAN PUSKESMAS NGEMPIT
    PUSKESMAS NGEMPIT KABUPATEN PASURUAN, 1990 - present
Basic Information
Gender
Female