Profile cover photo
Profile photo
suweta nyoman
20 followers
20 followers
About
Posts

Post has attachment
POHON MESAPUT KAIN POLENG
I Nyoman Suweta, S.Ag
Sebuah pertanyaan mungkin selalu menganggu pikiran orang luar Bali yang pertama datang ke Bali, dalam perjalanan dia melihat banyak pohon-pohon besar yang diselimuti dengan kain kotak-kotak warna putih dan hitam berselang seling (poleng). Bagi yang memiliki keyakinan diluar Hindu secara otomatis dihubungkan dengan kepercayaannya, mungkin orang Bali menganut animisme (menyembah pohon)?. Menurut mereka ini sudah menyekutukan Tuhan yang termasuk dosa besar dan dimasukan ke neraka jahanam.
Bagaimana pandangan dalam Hindu mengenai hal ini?. Hal ini berawal dari sebuah Lontar Siwa Purana tattwa. Dalam lontar ini ceritakan: suatu ketika di Siwa Loka, Dewa Siwa ingin menguji kesetiaan (satya) saktinya Dewi Durga. Dewa Siwa pura-pura sakit, lalu memanggil Dewi Durga. “wahai Dewi-Ku, Aku sekarang sedang sakit, bolehkah kanda memohon bantuan adinda? Carikanlah kanda susu sapi yang masih segar, karena hanya itu yang dapat menyembuhkan kanda, dimanapun dinda dapatkan bawakanlah kemari”. Tanpa berpikir panjang Dewi Durga menyanggupinya, sebagai pelayanan dan kesetiaannya. 
Singkat cerita turunlah Dewi Durga ke Mayapada (dunia) untuk mencari susu lembu. Dewa Siwapun turun ke dunia menjadi Gopala (pengembala sapi). Sekian banyak tempat sudah dijelajahi Dewi Durga tak satupun dijumpai sapi yang sedang menyusui. Akhirnya bertemulah dengan seorang pengembala sapi yang sedang menyusui, air susunya sampai menetes. Dewi Durga mendekati gembala tersebut “ wahai gopala bolehkah saya meminta susu sapimu sedikit, suami saya sedang sakit keras?, Gopala itu menjawab dengan singkat “tidak”. “kalau begitu, mungkin engkau juga membutuhkan uang dan harta, saya beli dengan uang emas atau saya tukar  dengan harta apa saja yang engkau mau”. Gopala itu tersenyum dan berkata “ saya tidak menjual susu sapi saya”. “tapi kenepa engkau biarkan menetes sampai ke tanah, sementara aku yang membutuhkan tidak engkau berikan, tidakkah engkau berbelas kasihan dengan kami?’ Dewi Durga memelas.
Saya lebih suka memberikan pada bumi karena dia telah menghidupi kami dan sapi kami, semetara engkau orang yang tak kami kenal” jawab gembala itu. Dewi Durga kehabisan akal, dan tidak bisa berpikir dengan baik  lagi, Dewi Durga berada pada titik jenuh, segala cara sudah coba gembala itu tidak juga luluh. Dewi Durga akhirnya bertanya “apa yang engkau inginkan wahai gopala? Agar aku dapatkan susu sapi itu?. Gopala  itu tersenyum manis “ aku menginginkan dirimu”. Dewi Durga kaget bukan kepalang mendengar pengakuan gembala itu. Kini dewi Durga ada dalam kebimbangan, bagai buah simalakama. Jika ia menyerahkan dirinya berarti dia sudah menyerahkan kehormatannya dan itu menyalahai norma dan aturan, serta melanggar kesetiaannya. Jika tidak diberikan maka Dewa Siwa akan sakit terus dan menderita. Dilema ini memerlukan keteguhan dan kekuatan batin. Singkat cerita Dewi Durga melanggar sumpah kesetiaannya dan menyerahkan diriinya demi kesembuhan Dewa Siwa. 
Dewi Durga kembali ke Siwa Loka membawa susu sapi sebagai obat itu dan menyerahkannya. Sebelum meminum susu itu Dewa Siwa bertanya “ Dimana engakau dapatkan susu ini, wahai Dewi?” , “ada seorang gembala yang memberikannya “ jawab Dewi Durga dengan perasaan gundah. “Kenapa aku mencium bau yang tidak enak dalam susu ini Dewi, dan aku tak bisa meminumnya” jawab Dewa Siwa. Untuk mengetahui kandungan dan perjalanan Dewi Durga dipanggillah Dewa Gana (Ganesa) anak Dewa Siwa. Dewa  Gana adalah dewa yang cerdas dan pintar, ia dapat mengetahui yang dulu, sekarang dan akan datang. Gana tolong bacakan ayahnda catatanmu, apa yang dilakukan ibumu ke dunia mencari susu. Dewa Gana membuka sebuah buku yang merupakan catatannya. Gana membacakan semua kejadian yang terjadi antara Gopala  itu dan ibunya. Dewi Durga menjadi murka, wujudnya berubah menyeramkan. Matanya menyala dari lidahnya yang panjang keluar api dan membakar buku catatan Dewa Gana, sehingga sekarang didunia ini tidak ada hasil metuhunan, nunasan, di balian yang benar 100% karena catatan Dewa Gana sudah dibakar setengahnya oleh Dewi Durga.
Melihat kejadian itu Dewa Siwa menghukum Dewi Durga untuk dibuang ke dunia, karena telah melakukan kekacauan di Siwa Loka. Dewi Durga tidak habis akal, ia menuntut haknya sebagai istri. Walaupun ia dihukum di dunia tapi ia harus tetap dinafkahi secara jasmani dan rohani karena Dewi Durga masih istri yang sah. Dewa Siwa akhirnya memberikan tempat Dewi Durga di sebelah stana beliau yaitu di ulun setra (Mrajapati) di samping stana beliau (Pura Dalem). Dewa Siwa mengatakan “ketika engkau membutuhkan aku, berhubungan suami istri, bertemulah ketika kajeng kliwon, purwaning (sehari sebelum tilem dan purnama) di pamuhunan setra (tempat pembakaran mayat).
Diceritakan lebih lanjut dalam Siwa Purana tattwa, saat hari itu Dewi Durga dengan murti sebagai Kali (menyeramkan) Dewa Siwa juga murti sebagai Rudra (menyeramkan) bertemu di Pamuhunan setra (kuburan). Dari pertemuan itu jatuhlah kamanya ke tanah, tiap tetes yang jatuh tumbuh menjadi pohon kepah, kepuh, pole dan beringin. Pohon-pohon tersebut  menurut tatwanya adalah pohon dari pertemuan Dewa Siwa dengan Dewi Durga tapi memiliki karakter menyeramkan. Sehingga pohon-pohon tersebut sampai saat sekarang dianggap tenget oleh masyarakat Bali atas dasar itulah sering dijumpai pohon-pohon di atas diberi kain poleng untuk memberikan tanda bahwa itu tenget. Disamping itu pohon tersebut juga dipakai oleh masyarakat Bali untuk membuat topeng (tapel) rangda, barong dll, yang disakralan karena dalem aspek tersebut ada aspek Siwa dan Durga. Pohon-pohon tersebut juga gampang dimasuki oleh memiliki sifat keraksasaan dan bhuta karena di dalamnya terdapat aspek Rudra dan Kali seperti samar, jin, setan,banaspati dll. aspek ini dikenal dengan Rwa bhineda.
Tapi untuk pohon beringin sesuai dengan pendapat I Nyoman Miarta Putra dalam bukunya “mitos-mitos tanaman upakara”, pohon beringin aspek Siwa dan Durga murti telah mendapatkan penyucian (panugrahan) dari Bhagawan Salukat (bhagawan yang dapat mendengar suara tumbuhan). Pohon beringin dari aspek murti tersebut menjadi aspek Siwa dan Durga yang maha mulia. Pohon beringin menjadi pohon suci dan pohon Siwa dan mendapat sebutan pohon surgawi, selain pohon acak. Mungkin inilah dasar kenapa daun pohon beringin menjadi badan dari sekah  saat orang melakukan nyekah (atmawedana) yang lebih dikenal dengan prosesi nganget don bingin.
Dewa Sangkara merupakan manifestasi Tuhan yang ada dalam setiap  tumbuh-tumbuhan. Penghargaan terhadap tumbuhan, perlindungan terhadap tumbuhan adalah pemujaan terhadap Tuhan. Wyapiwyapaka nirwikara (Tuhan ada dimana-mana), sarwa idham kalu Brahman (semua ini adalah Tuhan). Jika ada sindiran Hindu menyembah pohon, tak pernah kita menjumpai orang-orang Hindu memuja pada pohon tapi pada Siwa (manifestasi Tuhan). Tenget positifnya sudah memberikan perlindungan terhadap tumbuhan tertentu dari keserahan manusia, pohon yang telah memberikan manusia kehidupan baik airawata (udara segar/oksigen) maupun menyimpan cadangan air untuk kehidupan. Mentengetkan pohon tidak pernah mengurangi kepercayaan umat Hindu pada Tuhan malahan lebih menambah keyakinan pada Tuhan. Singkatnya lebih banyak sisi positipnya ketimbang negatifnya bagi kehidupan dan keyakinan.
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Photo
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded