Profile cover photo
Profile photo
Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online
218 followers -
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan ber-Bahasa Arab, agar kamu memahaminya (QS. 22:2)
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan ber-Bahasa Arab, agar kamu memahaminya (QS. 22:2)

218 followers
About
Posts

Post has attachment

Post has shared content
Pengertian Istighol » Alfiyah Bait 255

إِنْ مُضْمَرُ اسْمٍ سَابِقٍ فِعْلاً شَغَلْ ¤ عَنْهُ بِنَصْبِ لَفْظِهِ أَوِ الْمحَلّ
Jika DHAMIR dari ISIM SABIQ (Isim yg mendahului dalam penyebutannya) merepotkan terhadap Fi’ilnya, tentang hal yang menashabkan lafazh Isim Sabik ataupun mahalnya.

فَالسَّابِقَ انْصِبْهُ بِفعْلٍ أُضْمِرَا ¤ حَتْماً مُوَافِقٍ لِمَا قَدْ أُظْهِرَا
Maka: nashabkanlah ISIM SABIK tersebut oleh FI’IL yang wajib disimpan dengan mencocoki terhadap FI’IL yang dizhahirkan.
PENJELASAN:

Definisi ISTIGHOL menurut bahasa adalah: kesibukan.
Definisi ISYTIGHOL menurut istilah nahwu adalah: Mengedepankan Isim (Isim Sabiq) dan mengakhirkan Amilnya (Fi’il atau yg serupa pengamalannya) disibukkan tentang nashabnya Isim Sabiq, sebab Amil tsb sudah beramal pada dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq atau pada Sababnya (lafazh mudhaf pada dhamir Isim Sabiq).

Contoh Isytighal Fi’il/Amil beramal pada Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:

زيدا ضربته
ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya*

زيدا مررت به
ZAIDAN MARORTU BIHII =Zaid, aku berpapasan dengannya*

* Seandainya Dhamir pada contoh-contoh diatas ditiadakan, niscaya Amil/Fi’il tsb beramal pada Isim Sabik sebagai Maf’ulnya yg dikedepankan, atau Mu’allaqnya yg dikedepankan.

Contoh Istighal Fi’il/Amil beramal pada Sabab Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:

زيدا ضربت ابنه
ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.

Rukun-rukun dalam susunan kalimat ISYTIGHAL ada 3:
1. Masyghuulun ‘Anhu (lafazh yg dikedepankan/isim sabik)
2. Masyghuulun (Amil yg diakhirkan, Fi’il atau serupa Fi’il)
3. Masyghuulun Bihi (Dhamir/Sabab Dhamir yg merujuk pd Isim Saabiq)

Apabila terdapat kalimat dengan bentuk susunan rukun-rukun diatas, maka asalnya lafazh yg dikedepankan/isim sabiq tersebut boleh dibaca dua jalan:
1. Rofa’ sebagai Mubtada dan jumlah sesudahnya sebagai Khobarnya. Demikian yg ROJIH karena bebas dari masalah kira-kira/taqdir.
2. Nashob sebagai Maf’ul Bih bagi ‘Amil/Fi’il yg lafazhnya wajib dibuang ditafsiri dari ‘Amil/Fi’il yg lafaznya disebutkan. Demikian yg MARJUH karena butuh terhadap kira-kira/taqdir (disinilah pembahasan ISYTIGHOL).
Fi’il yg terbuang harus ditafsiri dari Fi’il yg tersebut, baik dalam penafsiarannya mencocoki lafaz dan makna, atau mencocoki makna saja, ataupun tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup Fi’il yg tersebut. Contoh:

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki lafaz dan makna:

زيدا ضربته
ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya

Taqdirannya adalah:

ضربت زيدا ضربته
DHOROBTU ZAIDAN DHOROBTU HU = aku memukul Zaid yakni aku memukulnya

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki makna saja:

زيدا مررت به
ZAIDAN MARORTU BI HII = Zaid, aku berpapasan dengannya

Taqdirannya adalah:

جاوزت زيدا مررت به
JAAWAZTU ZAIDAN MARORTU BI HII = aku lewat bertemu Zaid yakni aku berpapasan dengannya.

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup:

زيدا ضربت ابنه
ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.

Taqdirannya adalah:

أهنت زيدا ضربت ابنه
AHANTU ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = aku menghinakan Zaid yakni aku memukul anaknya*

* maka dengan demikian jumlah fi’liyah yang ada setelah Isim Sabiq tersebut disebut jumlah tafsiriyah la mahalla lahaa minal I’roob (tidak punya I’rob).

Dijelaskan perihal ISIM SABIQ yaitu: ada yg wajib nashab, rojih nashob, wajib rofa’, rojih rofa, ataupun yg tidak nashob dan rofa’ InsyaAllah akan dijelaskan pada Bait-bait selanjutnya.
Add a comment...

Post has attachment
Pengertian Istighol » Alfiyah Bait 255

إِنْ مُضْمَرُ اسْمٍ سَابِقٍ فِعْلاً شَغَلْ ¤ عَنْهُ بِنَصْبِ لَفْظِهِ أَوِ الْمحَلّ
Jika DHAMIR dari ISIM SABIQ (Isim yg mendahului dalam penyebutannya) merepotkan terhadap Fi’ilnya, tentang hal yang menashabkan lafazh Isim Sabik ataupun mahalnya.

فَالسَّابِقَ انْصِبْهُ بِفعْلٍ أُضْمِرَا ¤ حَتْماً مُوَافِقٍ لِمَا قَدْ أُظْهِرَا
Maka: nashabkanlah ISIM SABIK tersebut oleh FI’IL yang wajib disimpan dengan mencocoki terhadap FI’IL yang dizhahirkan.
PENJELASAN:

Definisi ISTIGHOL menurut bahasa adalah: kesibukan.
Definisi ISYTIGHOL menurut istilah nahwu adalah: Mengedepankan Isim (Isim Sabiq) dan mengakhirkan Amilnya (Fi’il atau yg serupa pengamalannya) disibukkan tentang nashabnya Isim Sabiq, sebab Amil tsb sudah beramal pada dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq atau pada Sababnya (lafazh mudhaf pada dhamir Isim Sabiq).

Contoh Isytighal Fi’il/Amil beramal pada Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:

زيدا ضربته
ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya*

زيدا مررت به
ZAIDAN MARORTU BIHII =Zaid, aku berpapasan dengannya*

* Seandainya Dhamir pada contoh-contoh diatas ditiadakan, niscaya Amil/Fi’il tsb beramal pada Isim Sabik sebagai Maf’ulnya yg dikedepankan, atau Mu’allaqnya yg dikedepankan.

Contoh Istighal Fi’il/Amil beramal pada Sabab Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:

زيدا ضربت ابنه
ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.

Rukun-rukun dalam susunan kalimat ISYTIGHAL ada 3:
1. Masyghuulun ‘Anhu (lafazh yg dikedepankan/isim sabik)
2. Masyghuulun (Amil yg diakhirkan, Fi’il atau serupa Fi’il)
3. Masyghuulun Bihi (Dhamir/Sabab Dhamir yg merujuk pd Isim Saabiq)

Apabila terdapat kalimat dengan bentuk susunan rukun-rukun diatas, maka asalnya lafazh yg dikedepankan/isim sabiq tersebut boleh dibaca dua jalan:
1. Rofa’ sebagai Mubtada dan jumlah sesudahnya sebagai Khobarnya. Demikian yg ROJIH karena bebas dari masalah kira-kira/taqdir.
2. Nashob sebagai Maf’ul Bih bagi ‘Amil/Fi’il yg lafazhnya wajib dibuang ditafsiri dari ‘Amil/Fi’il yg lafaznya disebutkan. Demikian yg MARJUH karena butuh terhadap kira-kira/taqdir (disinilah pembahasan ISYTIGHOL).
Fi’il yg terbuang harus ditafsiri dari Fi’il yg tersebut, baik dalam penafsiarannya mencocoki lafaz dan makna, atau mencocoki makna saja, ataupun tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup Fi’il yg tersebut. Contoh:

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki lafaz dan makna:

زيدا ضربته
ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya

Taqdirannya adalah:

ضربت زيدا ضربته
DHOROBTU ZAIDAN DHOROBTU HU = aku memukul Zaid yakni aku memukulnya

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki makna saja:

زيدا مررت به
ZAIDAN MARORTU BI HII = Zaid, aku berpapasan dengannya

Taqdirannya adalah:

جاوزت زيدا مررت به
JAAWAZTU ZAIDAN MARORTU BI HII = aku lewat bertemu Zaid yakni aku berpapasan dengannya.

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup:

زيدا ضربت ابنه
ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.

Taqdirannya adalah:

أهنت زيدا ضربت ابنه
AHANTU ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = aku menghinakan Zaid yakni aku memukul anaknya*

* maka dengan demikian jumlah fi’liyah yang ada setelah Isim Sabiq tersebut disebut jumlah tafsiriyah la mahalla lahaa minal I’roob (tidak punya I’rob).

Dijelaskan perihal ISIM SABIQ yaitu: ada yg wajib nashab, rojih nashob, wajib rofa’, rojih rofa, ataupun yg tidak nashob dan rofa’ InsyaAllah akan dijelaskan pada Bait-bait selanjutnya.
Add a comment...

Post has shared content
Pengertian Fa’il » Alfiyah Bait 225

الْفَاعِلُ الَّذِي كَمَرْفُوعَيّ أَتَى ¤ زَيْدٌ مُنِيْرَاً وَجْهُهُ نِعْمَ الْفَتَى
Yang disebut Fa’il adalah seperti kedua lafazh yg dirofa’kan dalam contoh: “ATAA ZAIDUN MUNIIRON WAJHUHU NI’MAL FATAA = zaid datang dengan berseri-seri wajahnya seorang pemuda yg beruntung”.

Yakni, (1). Fa’il yg dirofa’kan oleh fi’il mutashorrif atau oleh fi’il jamid seperti contoh “ATAA ZAIDUN dan NI’MAL FATAA”. (2). Fa’il yg dirofa’kan oleh syibhul fi’li/serupa pengamalan fi’il seperti contoh: MUNIIRON WAJHU HU

Pengertian Fa’il menurut bahasa adalah: yang mengerjakan pekerjaan (subjek), contoh:

كتب الطالبُ
KATABA ATH-THOOLIBU = siswa menulis

مات زيد
MAATA ZAIDUN = zaid meninggal dunia

Pengertian Fa’il menurut istilah adalah : ISMUN AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN ‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA AW SYIBHU HU. Artinya: Isim yang dimusnadi oleh Fi’il atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum) atau disandari oleh Serupa Fi’il.

Penjelasan Definisi:

ISMUN = Kalimah Isim : Mencakup Isim yang Shorih, berupa Isim Zhohir dan Isim Dhamir.

Contoh Fa’il Isim Zhohir:

قام زيد
Zaid berdiri

Contoh Fa’il Isim Dhamir:

قمـت
Aku berdiri

Juga mencakup Isim Mu’awwal yaitu kalimat yg ditakwil masdar, berupa jumlah ANNA beserta Isim dan Khobarnya, atau AN Masdariyah beserta Fi’ilnya, atau MAA Masdariyah beserta Fi’ilnya.

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah ANNA + Isimnya + Khobarnya:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran).. (Al-’Ankabuut : 51)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah AN Masdariyah + Fi’il:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (Al-Hadiid : 16)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah MAA Masdariyah + Fi’il, dalam Sya’ir:

يسر المرء ما ذهب الليالي # وكان ذهابهن له ذهابا
Kepergian banyak malam menggembirakan seseorang (contoh pesta ulang tahun), padahal kepergian malam itu baginya adalah kepergian umur.

AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN = yang dimusnadi oleh Fi’il : Baik oleh Fi’il Mutashorrif seperti pada contoh-contoh diatas atau dimusnadi oleh Fi’il Jamid:

Contoh Fa’il dimusnadi oleh Fi’il jamid:

نِعْمَ العبدُ
NI’MA AL-’ABDU = sebaik-baik hamba.

Keluar dari definisi “dimusnadi oleh Fi’il” apabila dimusnadi oleh Jumlah, maka tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Mubtada’.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Jumlah bukan dinamakan Fa’il tapi Mubtada’:

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) .. (An-nahl : 65)

‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA = atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum): Yakni menggunakan susunan Fi’il Mabni Ma’lum. Keluar dari definisi ini penggunaan susunan Fi’il Mabni Majhul, maka musnad ilaihnya tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Naibul Fa’il.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Fi’il Mabni Majhul, bukan dinamakan Fa’il tapi Naibul Fa’il:

كتب الكتاب
KUTIBA AL-KITAABU = kitab itu telah ditulis

AW SYIBHU HU = atau dimusnadi oleh Serupa Fi’il : Yakni lafazh yg beramal seperti Fi’il, seperti Isim Fa’il, Sifat Musyabbahah, Isim Tafdhil, dan lain-lain.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Fa’il:

أداخلٌ صالحٌ المسجدَ
Apakah Sholeh yang masuk masjid?

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Sifat Musyabbahah:

زيد حسن وجهه
Zaid tampan wajahnya

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Tafdhil:

العلمُ أفضلُ من المال
Ilmu lebih utama daripada harta *

* pada contoh lafaz AFDHOLU menyimpan Fa’il berupa Isim Dhamir Mustatir

SUMBER : http://nahwusharaf.wordpress.com/2011/11/24/pengertian-fail/
Add a comment...

Post has attachment
Pengertian Fa’il » Alfiyah Bait 225

الْفَاعِلُ الَّذِي كَمَرْفُوعَيّ أَتَى ¤ زَيْدٌ مُنِيْرَاً وَجْهُهُ نِعْمَ الْفَتَى
Yang disebut Fa’il adalah seperti kedua lafazh yg dirofa’kan dalam contoh: “ATAA ZAIDUN MUNIIRON WAJHUHU NI’MAL FATAA = zaid datang dengan berseri-seri wajahnya seorang pemuda yg beruntung”.

Yakni, (1). Fa’il yg dirofa’kan oleh fi’il mutashorrif atau oleh fi’il jamid seperti contoh “ATAA ZAIDUN dan NI’MAL FATAA”. (2). Fa’il yg dirofa’kan oleh syibhul fi’li/serupa pengamalan fi’il seperti contoh: MUNIIRON WAJHU HU

Pengertian Fa’il menurut bahasa adalah: yang mengerjakan pekerjaan (subjek), contoh:

كتب الطالبُ
KATABA ATH-THOOLIBU = siswa menulis

مات زيد
MAATA ZAIDUN = zaid meninggal dunia

Pengertian Fa’il menurut istilah adalah : ISMUN AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN ‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA AW SYIBHU HU. Artinya: Isim yang dimusnadi oleh Fi’il atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum) atau disandari oleh Serupa Fi’il.

Penjelasan Definisi:

ISMUN = Kalimah Isim : Mencakup Isim yang Shorih, berupa Isim Zhohir dan Isim Dhamir.

Contoh Fa’il Isim Zhohir:

قام زيد
Zaid berdiri

Contoh Fa’il Isim Dhamir:

قمـت
Aku berdiri

Juga mencakup Isim Mu’awwal yaitu kalimat yg ditakwil masdar, berupa jumlah ANNA beserta Isim dan Khobarnya, atau AN Masdariyah beserta Fi’ilnya, atau MAA Masdariyah beserta Fi’ilnya.

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah ANNA + Isimnya + Khobarnya:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran).. (Al-’Ankabuut : 51)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah AN Masdariyah + Fi’il:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (Al-Hadiid : 16)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah MAA Masdariyah + Fi’il, dalam Sya’ir:

يسر المرء ما ذهب الليالي # وكان ذهابهن له ذهابا
Kepergian banyak malam menggembirakan seseorang (contoh pesta ulang tahun), padahal kepergian malam itu baginya adalah kepergian umur.

AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN = yang dimusnadi oleh Fi’il : Baik oleh Fi’il Mutashorrif seperti pada contoh-contoh diatas atau dimusnadi oleh Fi’il Jamid:

Contoh Fa’il dimusnadi oleh Fi’il jamid:

نِعْمَ العبدُ
NI’MA AL-’ABDU = sebaik-baik hamba.

Keluar dari definisi “dimusnadi oleh Fi’il” apabila dimusnadi oleh Jumlah, maka tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Mubtada’.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Jumlah bukan dinamakan Fa’il tapi Mubtada’:

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) .. (An-nahl : 65)

‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA = atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum): Yakni menggunakan susunan Fi’il Mabni Ma’lum. Keluar dari definisi ini penggunaan susunan Fi’il Mabni Majhul, maka musnad ilaihnya tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Naibul Fa’il.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Fi’il Mabni Majhul, bukan dinamakan Fa’il tapi Naibul Fa’il:

كتب الكتاب
KUTIBA AL-KITAABU = kitab itu telah ditulis

AW SYIBHU HU = atau dimusnadi oleh Serupa Fi’il : Yakni lafazh yg beramal seperti Fi’il, seperti Isim Fa’il, Sifat Musyabbahah, Isim Tafdhil, dan lain-lain.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Fa’il:

أداخلٌ صالحٌ المسجدَ
Apakah Sholeh yang masuk masjid?

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Sifat Musyabbahah:

زيد حسن وجهه
Zaid tampan wajahnya

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Tafdhil:

العلمُ أفضلُ من المال
Ilmu lebih utama daripada harta *

* pada contoh lafaz AFDHOLU menyimpan Fa’il berupa Isim Dhamir Mustatir

SUMBER : http://nahwusharaf.wordpress.com/2011/11/24/pengertian-fail/
Add a comment...

Post has attachment
TERJEMAH ALFIYAH IBNU MALIK BAB NAAIBUL FAA'IL BAIT 11

وباتفاق قد ينوب الثان من # باب كسا فيما التباسه أمن

Dengan kesepakatan ulama nuhat, Maf'ul kedua dari fi'il bab Kasaa boleh menggantikan Fa'il (menjadi Naibul Fa'il) dalam hal aman dari kesamaran/iltibas.

KETERANGAN:

Apabila Fi'il-Fi'il golongan KASAA yg muta'addi terhadap dua Maf'ul dibentuk Mabni Majhul, maka boleh
Apabila kalimah Fi'il golongan KASAA cs yg muta'addi terhadap Dua Maf'ul dibentuk Mabni Majhul, maka yg menjadi Naibul Fa'ilnya boleh Maf'ul yg pertama ataupun Maf'ul yg kedua, dengan syarat tidak ada iltibas. Contoh:

كُسي الفقيرُ ثوباً
KUSIYA AL-FAQIIRU TSAUBAN = SI FAKIR dikenakan pakaian

Atau boleh maf'ul kedua dijadikan Naibul Fail, contoh:

كُسي الفقيرَ ثوبٌ
KUSIYA AL-FAQIIRO TSAUBUN = pakaian dikenakan pada SI FAKIR

=====

Apabila pada kedua maf'ul tsb. terdapat iltibas, maka Maf'ul yg pertama wajib dijadikan Naibul Fail, contoh:

أُعطي جابرٌ هشاماً
U'THIYA JAABIRUN HISYAAMAN = JABIR diberi Hisyam (yakni Hisyam diserahkan kepada JABIR)

Pada contoh ini, Maf'ul pertama wajib dijadikan Naibul Fa'il sebagai si penerima pemberian, dan Maf'ul yg kedua sebagai sesuatu/barang yg diberikan. Demikian ini untuk menghindari ILTIBAS.

http://nahwusharaf.wordpress.com/
Photo
Add a comment...

Post has attachment
TERJEMAH ALFIYAH IBNU MALIK BAB NAAIBUL FAA'IL BAIT 10

ولا ينوب بعض هذي إن وجد # في اللفظ مفعولّ به وقد يرد

Sebagian dari lafazh ini (zhorof, masdar dan jar-majrur, lihat Bait sebelumnya) tidak boleh menjadi Naibul-Fa'il jika didapati ada lafazh Maf'ul Bih. Dan terkadang ditemukan (dari Kalam Arab) membolehkannya.

KETERANGAN:

Apabila pada suatu kalam berkumpul beberapa lafazh yg layak dijadikan Naibul Fail, seperti Maf'ul Bih, Masdar, Zhorof dan Jarmajrur, maka yg berhak menjadi Naibul Failnya adalah MAF'UL BIH.

Contoh:

ضرب زيد ضربا شديدا يوم الجمعة أمام الأمير في داره

DHURIBA ZAIDUN DHORBAN SYADIIDAN YAUMAL-JUM'ATI AMAAMAL-AMIIRI FII DAARIHI = ZAID dipukul dengan pukulan yg keras pada hari Jum'at di depan Ketua di rumahnya.

Dalam hal ini terdapat perbedaan antara Ulama Nuhat :

1. Nahwu Bashrah selain Al-Akhfash " wajib menetapkan Maf'ul Bih sebagai Naibul-Fa'il"
2. Nahwu Kufah: "boleh secara Muthlaq"
3. Madzhab Al-Akhfash: "boleh jika disebut sebelum Maf'ul Bih"
Add a comment...

ALFIYAH BAB NAAIBUL FAA'IL BAIT 9

وقابلّ من ظرفٍ أو من مصدر # أو حرف جرٍّ بنيابة ٍ حري
Lafazh yang dapat menerima pergantian (sebagai Naibul Fa'il) yg berupa Zhorof, Masdar atau Jar-Majrur, adalah layak (dijadikan Naibul Fa'il).

KETERANGAN:

Disebutkan pada bait pertama bahwa Maf'ul Bih menggantikan Fa'il yg tidak dihadirdkan, yakni sebagai Naibul Fa'il. Selain Maf'ul Bih ada lagi lafazh serupanya yg layak dijadikan Naibul Fa'il, yaitu Zhorof, Masdar dan Jar-Majrur , dengan ketentuan memenuhi syarat sebagai pengganti:

Syarat lafazh ZHOROF yang layak dijadikan Naibul Fa'il adalah harus Mutashorrif dan Mukhtash:

1. MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari lafazh yg khusus dinashobkan sebab Zhorfiyah saja semisal "SAHARO", dan atau boleh majrur hanya oleh huruf MIN saja semisal "'INDAKA".
Sebab kalau dijadikan Naibul-Fa'il, maka akan menjadi Rofa' dan ini menyalahi ketentuan Bahasa Arab yg telah memberlakukan khusus semisal pada dua lafazh tersebut diatas.

2. MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, atau sebagainya.

Contoh:
صيم يومُ الخميس
SHIIMA YAUMUL KHOMIISI = hari kamis dipuasakan (puasa kamis)
Lafazh YAUMU mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab mudhaf.

جُلس وقتٌ طويل
JULISA WAQTUN THOWIILUN = waktu yg panjang didudukkan (duduk lama)
Lafazh WAQTUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati.

صيم رمضانُ
SHIIMA ROMADHOONU = bulah Ramadhan dipuasakan (puasa ramadhan)
Lafazh ROMADHOONU mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab 'Alamiyyah/Isim 'Alam.

=====

Syarat lafazh MASDAR yang layak dijadikan Naibul Fa'il, juga harus Mutashorrif dan Mukhtash:

1. MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari lafazh yg khusus dinashobkan sebab Masdariyah saja semisal "SUBHAANALLAHI" dan "MA'AADZALLAAHI".
Sebab kalau dijadikan Naibul-Fa'il, maka akan menjadi Rofa' dan ini menyalahi ketentuan Bahasa Arab yg telah memberlakukan khusus semisal pada dua kalimat tersebut diatas.

2. MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, atau sebagainya, yg dapat menunjukkan bilangannya atau jenisnya.

Contoh:
قرئ قراءةٌ صحيحة
QURI'A QIROO'ATUN SHOHIIHATU = bacaan yg benar telah dibacakan
Lafazh QIROO'ATUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati yg menunjukkan jenisnya.

ضُرب ضربٌ واحد
DHURIBA DHORBUN WAAHIDUN = satu pukulan telah dipukulkan
Lafazh DHORBUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati yg menunjukkan bilangannya.

جُلس جلوسُ الخائف
JULISA JULUUSUL-KHOO'IF = duduknya orang takut telah didudukkan (duduk gelisah)
Lafazh JULUUSUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab mudhaf yg menunjukkan jenisnya.

=====

Syarat JAR-MAJRUR yang layak dijadikan Naibul Fa'il adalah huruf JAR MUTASHORRIF, MAJRUR MUKHTASH dan JAR GHAIRU TA'LIL

1. JAR MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari huruf Jar yg khusus men-Jar-kan lafazh tertentu, semisal "MUDZ/MUNDZU" khusus menjarkan pada isim zaman, "RUBBA" khusus menjarkan pada isim nakirah, "HURUF QOSAM" khusus menjarkan pada lafaz sumpah. Dan sebagainya.

2. MAJRUR MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh majrur yg MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, dimakrifatkan atau sebagainya.

3. JAR GHAIRU TA'LIL (sebab/alasan), yakni bukan terdiri dari huruf Jar yg menunjukkan ta'lil/sebab alasan, semisal "huruf LAM", "huruf BA'", "MIN" oleh karenanya menurut jumhur nuhat Maf'ul Liajlih tidak layak dijadikan Naibul Fa'il.

Contoh:
جُلس في المسجد الجامع
JULISA FII AL-MASJIDIL-JAAMI' = masjid jami'/masjid yg besar diduduki
Lafazh FII huruf jar yg mutashorrif, lafazh AL-MASJIDI mukhtash sebab disifati. JAR-MAJRUR mahal rofa' sebab Naibul Fail, atau MAJRUR mahal rofa' dan huruf JAR zaidah.

فُرح بانتصار المسلمين
FURIHA BI INTISHOORI AL-MUSLIMIINA = kemenangan Muslimin digembirakan
Lafazh BI huruf jar yg mutashorrif, lafazh INTISHOORI mukhtash sebab mudhof. JAR-MAJRUR mahal rofa' sebab Naibul Fail, atau MAJRUR mahal rofa' dan huruf JAR zaidah.
Add a comment...

ALFIYAH IBNU MALIK BAB FAA'IL BAIT KE 5


وَيَرْفَعُ الْفَاعِلَ فِعْلٌ أضْمِرَا كَمِثْلِ زَيْدٌ فِي جَوَابِ مَنْ قَرَا
Kalimah Fi’il yg tersimpan merofa’kan Faa’il, adalah semisal contoh : “ZAIDUN” (takdirannya QORO-A ZAIDUN = Zaid membaca) pada jawaban pertanyaan: MAN QORO-A? = siapa yg membaca?

Faa’il ada yg dirofa’kan oleh Fi’il yg disimpan. Baik penyimpanan fi’il itu bersifat jawazan, semisal menjadi jawab Istifham sebagaimana contoh yg diangkat oleh Mushannif dalam bait diatas, atau menjadi jawab Nafi seperti contoh “MAA QORO-A HU AHADUN” (seorangpun tidak membacanya) maka dijawab “BALAA ZAIDUN ” (takdirannya BALAA QORO’A HU ZAIDUN = ya… zaid telah membacanya).

Contoh Firman Allah Swt:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, (az-Zukhruf : 87)

Atau penyimpanan fi’il itu bersifat wujuban, semisal faa’ilnya jatuh sesudah IN syarthiyyah atau IDZA syarthiyyah. Contoh “IN DHO’IIFUN ISTANSHURUKA FANSHURHU!” (jika seorang yg lemah yakni minta tolong kepadamu maka tolonglah!) lafazh DHO’IIFUN manjadi faa’il dari fi’il yg wajib dibuang, takdirannya ISTANSHURUKA DHO’IIFUN.

Contoh Firman Allah:

إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ
jika seorang meninggal dunia …. (An-Nisaa’ 176)

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ
Apabila langit terbelah (Al-Insyiqaaq :1)
Add a comment...

ALFIYAH IBNU MALIK BAB FAA'IL BAIT KE 4


FAA’IL DARI FI’IL YG DIBUANG

وَقَدْ يُقَالُ سَعِدَا وَسَعِدُوا وَالْفِعْلُ لِلْظَّاهِرِ بَعْدُ مُسْنَدُ

Dan terkadang diucapkan “SA’IDAA” juga “SA’IDUU” (menetapkan alif atau wawu sebagai huruf tanda tatsniyah atau jamak, bukan sebagai fa’il isim dhamir) beserta Fi’ilnya tetap menjadi Musnad bagi fa’il Isim Zhahir setelahnya. (contoh: “SA’IDAA AT-THALIBAANI = dua siswa berbahagia” atau SA’IDUU AT-THULLAABU = para siswa berbahagia).

demikian menurut sebagian lahjah orang Arab alif atau wawu difungsikan sebagai huruf tanda tatsniyah dan jamak seperti huruf TA’ tanda mu’annats. sebagaimana mereka mengatakan AKALUUNII AL-BARAAGHITSU “kutu-kutu itu memakanku”. Dan lain lagi menurut mayoritas, kalam seperti itu tetap menfungsikan alif dan wawu isim dhamir sebagai Fa’ilnya, sedangkan isim zhahir setelahnya sebagai badal bagi isim dhamir atau pula sebagai mubtada’ yg diakhirkan.

Contoh firman Allah:

وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka (al-Anbiyaa’ : 3)

ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ
kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). (al-Maa-dah : 71)
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded