Profile cover photo
Profile photo
Pyan Amin
152 followers -
pembelajar seumur hidup
pembelajar seumur hidup

152 followers
About
Posts

Post has attachment
Memanjat Hujan
Gemuruh mendung
mengabarkan halayak untuk diam sejenak. Tirau kelabu dijuntaikan, separuh
cahaya tertawan. Satu demi satu, milyaran butir diturunkan. Di bawah kanopi,
aku berteduh dan merenungi nasehatmu. Terima kasih telah ingatkanku
untuk tidak membenci h...

Post has attachment
Muak
Aku muak denganmu dan
kau harus tau. Aku muak dengan
perasaan carut-marut saat kau menjadi kupu-kupu dalam perut. Sapa hangat mentari
menjadi kesia-siaan dengan tawaran menu sarapanmu yang tak jauh-jauh dari
kecemasan dan kegelisahan. Berhentilah mengumbar ...

Post has attachment
Gincu
Aku bingung bagaimana
mesti memandang potret narsisme di dinding dinding generasi portal. Satu mata
berkedip menjaring perhatian dan satu lagi melotot “lihat apa kau!”. Harus kah
kukunci kelopak setiap kali bertemu topeng penuh gincu? Baiklah, menjaga
meman...

Post has attachment
Menyapa Manggarai Pagi
Aku sudah
terjaga saat malam enggan pergi. Kucari secercah cahaya untuk sekadar menatap
wajah polos itu. Kau masih terpejam. Kecup
sederhana pada kening yang tak pernah disadarinya menjadi salam perpisahan, serta
ungkap penyesalan, karena kita terpaksa berb...

Post has attachment
Tuliskan
Aku telah
lama pergi dan banyak yang terjadi. Memberitahumu aku telah kembali adalah satu
hal. Namun menceritakan apa yang telah terlewati adalah lain hal. Aku bisu dan
kamu tak bisa diam. Lidahku kelu tapi kupingmu gatal. “Tuliskan saja kalau
begitu”, kata...

Post has attachment
Kisah Kita
Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku
hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu. Antara
Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak
terkecuali bagi aku yang pernah menolak ...

Post has attachment
Di Sela-sela Hujan
Kau
tinggalkan aku dengan hujan dan jendela, kombinasi yang tepat untuk menyangga
sendu yang bertumpu di antara tangan dan dagu. Penat terasa pada kehidupanku yang
terbinkai bilah kayu persegi, sementara naluriku menyeret paksa untuk pergi. Yang kuusap
buka...

Post has attachment
Hidung Mungil
Aku merindukan bibir tipismu, saat kau jepitkan di antara gigi taring. Terlepas itu kebiasanmu untuk membalas kata yang salah ucap, aku menikmati senyum yang terkembang tanpa sengaja karenanya. Aku merindukan hidung mungilmu, yang biasa kau garuk walau tak ...

Post has attachment
Di Penghujung Januari
Januari lekas
pergi, namun kita masih di sini. Barangkali
aku, yang menikmati rintik air kala berteduh atau diam diam berharap agar hujan
terlambat reda. Sementara kau nyalakan kehangatan dari kisah lucu masa kecilmu
yang suka bermain di kubangan. Senja tel...

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded