Profile cover photo
Profile photo
Masyarakat Komunal
About
Posts

Post has shared content
Kisah Sedih Seorang Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya


Ketika Terry Gobanga tidak muncul dalam acara pernikahannya, tak ada seorang pun yang menduga bahwa ia telah diculik, diperkosa dan ditinggalkan dalam keadaan nyaris meninggal di pinggir jalan.

Ini adalah yang peristiwa pertama dari dua tragedi untuk menimpa sang pendeta muda dari Nairobi itu.

Berikut Terry mengisahkannya kepada BBC.
Hari itu adalah hari pernikahan saya. Saya adalah seorang pendeta, jadi semua jemaat gereja kami datang, begitu pula semua saudara kami. Tunangan saya, Harry, dan saya sangat senang. Kami menikah di Katedral All Saints di Nairobi dan saya sudah menyewa sebuah gaun yang cantik.

Namun pada malam sebelum pernikahan, saya baru menyadari bahwa pakaian Harry, termasuk dasinya tertinggal di rumah saya. Ia tidak bisa menikah tanpa mengenakan dasi. Karena itu, seorang teman yang menginap malam itu menawarkan untuk mengantarkan pakaian ke rumah Harry di pagi hari. Kami bangun pagi-pagi buta dan saya mengantarnya ke stasiun bus.

Harry Olwande dan Terry di hari pernikahannya, July 2005.
Harry Olwande dan Terry di hari pernikahannya, July 2005. (TERRY GOBANGA via BBC)
Saat saya kembali ke rumah, saya berjalan melewati seorang pria yang sedang duduk di atas kap mobil. Tiba-tiba ia menarik saya dari belakang dan merebahkan saya di kursi belakang. Ternyata ada dua pria menunggu di dalam mobil, dan mereka langsung mengemudikan mobil. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik.

Mulut saya disumpal dengan potongan kain yang saya kenakan. Saya menendang, memukul dan mencoba menjerit. Ketika saya berhasil membuka mulut saya yang dibungkam, saya berteriak: "Ini hari pernikahan saya!" Saat itulah saya mendapat pukulan pertama. Salah seorang pria itu menyuruh saya untuk "bekerja sama atau saya akan mati".

Laki-laki itu bergantian untuk memperkosa saya. Saya yakin saya akan mati, tapi saya masih berjuang agar tetap hidup. Ketika salah seorang pria melepas kain yang menyumpal mulut saya, saya langsung menggigit alat vitalnya. Ia menjerit kesakitan, lalu salah satu dari mereka menusuk perut saya. Kemudian mereka membuka pintu dan menendang saya keluar dari mobil yang tengah melaju.

Saya berada di tempat yang ratusan kilometer jaraknya dari rumah, di luar kota Nairobi. Lebih dari enam jam berlalu sudah sejak saya diculik.

Seorang anak melihat saya dibuang di jalanan dan memanggil neneknya. Orang-orang datang berlarian. Ketika polisi datang, mereka mencoba memeriksa nadi saya, namun tak ada seorang pun yang bisa mendengar detak jantung saya. Mereka pikir saya sudah mati, lalu membungkus badan saya dengan selimut dan mulai membawa saya ke kamar mayat.
sponsor :
https://modelbajuterbaru2018.net/kebaya-modern-2019/

Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Sedih Si Gadis Miskin

Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.

Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datang meminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronis itu. Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agama dan akhlaknya…kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu hal yang sangat penting. Tetapi mengapa?

Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknya wanita lain?

Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemuda memberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya di salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Terlebih lagi dorongan moril yang selalu ia berikan.

Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahan dan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untuk menanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat si penjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gaun tersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut.

Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayap putihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangat bahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi ia akan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasa ada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihat adanya kecerahan dalam kehidupan.

Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuat penampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannya yang alami menjadikan diri semakin elok, anggun dan menawan.

Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikit perbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat si penjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahit meminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi. Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan, hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dan sebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya tak terpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yang terbaik akhlaknya.

Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha memberitahukan bahwa setengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambil gaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaun itu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaan bahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwa terpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagi diri Muha.

Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar dari badan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulans datang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada di atas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia. Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu. Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai ke rumah padahal sudah sangat terlambat.

Akhirnyai penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekali pun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebab keterlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agar memberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muha banyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasih kepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itu benar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.

Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumah sakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calon pengantinnya, Muha.

Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu dan mati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malam yang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu, berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnya kegembiraan.

Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiada yang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaun itu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.?


sponsored :
http://www.modelbajumuslimbatik.com/model-dress-brokat/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
KISAH MENGHARUKAN
Kehilangan Memang Tak Pernah Baik-Baik Saja, Tapi Hidup Tak untuk Diratapi

Dalam perjalanan panjang hidup di dunia yang fana ini, silih berganti masalah dan kebahagiaan datang berkunjung. Kini usiaku telah 20 tahun, telah kulewati masa SMP dan SMP berbeda dari yang lain, kini di bangku perkuliahan keinginan nakalku mulai menjadi-jadi, inginku seperti yang lain, jalani hari ini tanpa mengkhawatirkan hari esok, bergandeng tangan dengan pasangan, tertawa sana sini dengan ceria. Namun semua keinginan itu pergi hilang menepis kala kuingat pesan terakhirmu ayah dan bunda.

Tahun Terakhirku Bersama Bunda
2011, tahun di mana kecemasan menemani hari-hariku menanti hasil kelulusan, juga merupakan hari pedihku di mana aku terus menangis takut melihat kondisi bunda yang semakin hari semakin lemah. Dulu kau adalah wanita tangguh bagai pohon bakau yang menghalau ombak, kau rawat dan didik aku serta kakak-kakakku, tapi kini seperti selembar tisu yang lemah tak berdaya. Di balik jendela kulihat tubuhmu yang makin kurus dan lemah di ranjang tidur rumah sakit.

Ayah dan kakak menyuruhku terus tersenyum padamu saat memasuki ruang kamarmu, dengan senyuman manis dan belaian lemah getarmu kau pinta aku untuk makan dan tidak khawatir, sungguh pecah air mataku tak mampu untuk kubendung kembali. Hari terus berlalu kini kau tak lagi berada di rumah sakit, meski dokter mengizinkan pulang, perasaan gusar takut terus menghantuiku. Di suatu pagi yang cerah, seperti biasa kau berolahraga kecil dengan berjalan jalan, kulihat kau dari kejauhan punggung yang dulu tegap kokoh kini layu meringkuk. Senja yang mulai tiba, kau ucapkan kata-kata aneh yang membuatku semakin takut, kau lontarkan nasihat - nasihat untukku juga kakak dengan senyum kau sembunyikan kekhawatiranmu lalu perlahan kau pejamkan mata untuk selama lamanya.


Tahun Terakhirku Bersama Ayah
2013, tahun di mana aku bukan lagi siswi SD, kini aku sudah duduk di bangku SMP. Ujian semester 1 kelas 8 akan segera dimulai, belajar dan belajar adalah suatu kewajiban. Namun waktuku tak lagi terkontrol, belajar hanya mampu aku lakukan sewaktu di sekolah saja. Bagaimana tidak, kini ayah terbaring di ranjang rumah sakit, pagi kupergi sekolah kukayuh sepedaku sejauh 5 km. Pulang sekolah hanya untuk ganti pakaian dan bawa baju ganti untuk ayah lalu aku naik bus menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku harus mengurus surat untuk mengambil obat, jaga dan rawat ayah, lalu pukul 3 pagi aku bergegas untuk pulang dan pergi sekolah. Pernah aku ditegur guru karena ketiduran di kelas, hanya maaf dan maaf yang mampu aku lontarkan. Terus begitu hingga ujian berakhir. Hasil ujian keluar, marah, sedih juga kecewa menyelimuti hatiku. Aku yang selalu mendapat posisi 3 besar, kina 10 besar pun tak dapat. Aku marah pada kakakku yang sibuk kerja tak bisa menjaga ayah di rumah sakit, aku marah pada ayah yang sakit, dan aku juga marah pada diriku sendiri. Namun, rasa kecewaku lebih besar dari amarahku, aku kecewa tidak bisa buat ayah bangga dengan hasil ujianku.

Ayah menangis menatapku, memelukku lalu berkata, “Maafkan ayah." Hari berlalu kini ayah tak lagi berada di rumah sakit, tapi rasa takutku semakin menjadi karena ayah pulang setelah memaksa dokter. Di rumah ayah terus berusaha untuk terlihat kuat tapi aku tahu ayah menahan sakit. Senja di suatu hari tinggallah aku dan ayah di rumah, ayah memberiku pesan juga nasihat. Ayah tersenyum dan berkata, “Adik tinggal sama Uti ya, Adik jangan pacaran ya, sekolah dulu yang benar. Capai cita-cita Adik, jadilah orang sukses dan banggain Ayah sama Bunda.”

Pecah air mataku terus mengalir tanpa henti kupeluk ayah tak ingin kulepaskan dan aku berkata, “Aku tidak mau, aku ingin selalu sama Ayah, aku ikut Ayah kemanapun Ayah pergi." Lalu ayah memelukku erat dan menenangkanku. Kala tangis reda ayah pun tertidur. Aku pun tidur di sisi ayah hingga pagi menyapa ayah masih tetap tertidur waktu terus bergulir sekitar jam 9 aku coba bangunkan ayah, ayah hanya membuka mata menatapku lalu tertidur kembali. Kugenggam tangannya kupandang kembang kepis di perutnya namun tiba-tiba perut ayah tak lagi kembang kempis. Kupanggil ayah, kubangunkan ayah, tapi ayah tetap diam, lalu kakakku tiba dan ia menangis karena ayah telah pergi.


Masih Kujaga Pesan Terakhirmu
Bertubi-tubi cobaan datang menghampiriku, Tuhan panggil orang-orang tersayangku. Menjadikanku yatim piatu di saat aku mulai beranjak remaja. Pindah ke kota tinggal bersama Uti, kehidupan sekolah yang berbeda. Rokok, seks bebas, minuman beralkohol sempat berada tepat di depan mataku, tapi pesan terakhirmu terlintas di benakku, tepiskan semua itu.

Sahabat sahabatku telah menjelajah bergonta-ganti pasangan namun aku sekalipun tak pernah pacaran. Ada keinginan dalam hatiku untuk mulai berpacaran namun lagi lagi pesan terakhirmu melintas di kepala dan benakku, mengubur dalam-dalam keinginan nakalku. Aku akan selalu menjaga pesanmu, aku akan terus berusaha mencapai cita citaku dan membuatmu bangga ayah, bunda.

Reviwer : http://modelkebaya.net/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Mengharukan: Aku Hanya Tamu Untuk Anakku
Kisah menyedihkan yang dialami oleh Danang. Secara biologis, Danang adalah Ayah kandung dari Rangga. Akan tetapi Rangga statusnya adalah anak dari pasangan Indri dan Dimas. Dengan banyak perjuangan, Danang berusaha untuk membuat dirinya menjadi sosok Ayah bagi Rangga. Apa saja yang Dia lakukan dan bagaimana hal itu bisa terjadi?. Mari kita simak Kisah menyedihkan yang sudah diakui dan disusun ulang oleh penulis

Aku hanya sebagai tamu bagi anakku

Danang, panggil saja begitu. Aku adalah Orang biasa dan sepertinya tidak ada hal yang bisa Aku banggakan. Sebelumnya Aku menjalin cinta dengan Seorang Wanita bernama Indri, sebut saja begitu. Bertahun-tahun Kami menjalani kehidupan bersama. Impian indah untuk menikah sudah ada dalam pikiran Kami. Hingga setelah Kami merasa siap untuk hidup bersama, Kami utarakan niat itu pada kedua Orang tua Kami.

Orang Tua Aku setuju saja dan tidak ada tindakan yang sifatnya sebuah tentangan. Akan tetapi Orang Tua Indri tidak setuju karena tahu latar belakangku juga pekerjaanku yang tidak bisa dibanggakan. Meskipun dengan alasan lain tapi Aku tahu dari Indri bahwa alasan sebenarnya adalah itu. Aku sangat sedih, tapi tidak berhenti begitu saja, Aku masih bisa berjuang. Aku yakinkan pada Indri bahwa Aku bisa mengambil hati Orang Tuanya suatu saat nanti. Aku berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

Meskipun pada akhirnya Aku mendapatkan pekerjaan yang lebih bisa dibanggakan, akan tetapi jujur saja hasilnya tidak sebanyak pekerjaan Aku sebelumnya. Akan tetapi jika dibandingkan dengan pekerjaan yang lama, pekerjaan baru Aku lebih bisa dibanggakan.

Setelah itu tentu saja kehidupan Aku semakin sulit. Banyak hal yang perlu Aku tinggalkan demi hidup lebih hemat. Setelah merasa sedikit bangga dengan pekerjaan Aku yang baru, Kami berniat memberi tahu Orang Tua Indri bahwa Kami masih menjalin hubungan dan ingin menikah. Jawaban yang Kami dapat intinya sama, Kami tidak direstui. Hingga setelah itu, kehidupan Indri semakin dibatasi oleh Orang tuanya. Bahkan ada kabar Dia diperkenalkan (dijodohkan) dengan Pria lain.

Aku putar otak hingga akhirnya Aku putuskan untuk memilih jalan pintas. Aku memaksa Indri untuk hamil duluan. Aku tahu ini sangat memalukan tapi Aku berpikir cara ini akan berhasil. Singkat cerita, Indri benar-benar hamil. Aku menyuruh Dia untuk mengatakan kehamilannya pada Orang tuanya.

Tapi semua tidak sesuai yang Aku harapkan, Orang Tuanya tetap tidak setuju dan memilih untuk segera menikahkan Indri dengan Pria lain. Hatiku sangat hancur, hari-hari Aku lalui tanpa semangat. Setelah beberapa bulan menikah, Indri melahirkan. Mendengar kabar itu Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan anaknya yang lahir. Aku tidak sempat melihatnya, sampai akhirnya Dia ikut Suami untuk meneruskan kehidupan Rumah Tangganya.

Tidak sengaja bertemu

Bertahun-tahun berjalan, Aku pindah dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain hingga akhirnya Aku bekerja sebagai penjual perabotan Rumah keliling. Pekerjaan yang tidak membanggakan tapi memberikan hasil cukup besar bagiku.

Saat keliling disuatu daerah, seorang calon pembeli memanggilku dan saat itu juga Aku tahu kalau Dia adalah Indri. Kami sempat kaget dan Kami juga gugup untuk beberapa saat. Basa basi sejenak kemudian Aku tanyakan anaknya yang sekarang sudah cukup besar. Dia menyuruhku masuk dan memperkenalkan Aku dengan anak tersebut. Om, panggilan untukku. Dia begitu lucu dan menggemaskan. Dari wajah dan postur tubuhnya sangat mirip denganku, namanya Rangga. Aku yakin Dia adalah anakku. Lebih yakin lagi ketika Indri meyakinkanku bahwa Rangga memang Anakku.

Hingga akhirnya, Aku sering mengunjungi Rangga dengan modus memberi kredit pada Indri agar tetangga tidak curiga. Aku pilih jam kerja karena Suami Indri tidak ada di Rumah. Aku ajak Dia bermain, membelikan makanan ringan, hingga memaksa Indri untuk menerima sejumlah uang untuk biaya hidup Rangga. Tentu saja harus dirahasiakan dari Suaminya.

Sejak saat itu Aku jadi sering termenung dan tersiksa dengan perasaan sendiri. Bayang-bayang panggilan "Om" sering menghantui pikiran Aku. Aku ingin panggilan itu berubah jadi "Ayah" tapi tentu saja itu tidak mungkin.

Sejak saat itu Aku jadi sering berjualan di daerah Indri tinggal. Dan akhirnya merangkap jadi tukang kredit perabotan Rumah tangga padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali, hanya terima uang cash. Tapi demi menghindari kecurigaan tetangga, Aku terpaksa melakukan hal itu. Bahkan Aku mencoba akrab dengan Orang sekitar. Sering mampir Rumah-rumah Mereka untuk sejenak ngobrol dan juga bercanda. Dengan begitu, Aku bisa leluasa mengunjungi Rangga dalam waktu lama tanpa menciptakan kecurigaan tetangga.

Aku tidak tahu apa saja yang Aku rasakan. Tersiksa, bahagia, dan perasaan apa lagi yang bercampur ketika bersama Rangga. Yang jelas, Aku hanya ingin membuatnya senang meskipun Aku hanya sebagai tamu bagi anak kandungku. Aku akan terus melakukan ini meskipun hanya Indri dan Aku yang tahu. Kasih sayang seorang Ayah yang tidak akan pernah disadari sang Anak. Bagi yang sudah punya Anak tentu tahu perasaan seorang Ayah yang tidak mendapat pengakuan dari anaknya karena keadaan.

Selesai
Sponsored : http://www.terbaru9.info/2017/12/katalog-oriflame-terbaru.html
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Lengkap Gambar Mewarnai Ikan Hiu
Lengkap Gambar Mewarnai Ikan Hiu
gambarmewarnai1.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment

Post has shared content
Kisah Nyata Paling Menyentuh Hati : Wahai Para Orang Tua Jangan Lagi Pukul Anakmu!!

Untuk para orang tua yang anaknya kreatif, jangan lagi dipukul ya.. Tolong baca kisah nyata yang menyentuh hati ini, cerita tentang seorang anak kecil bernama Ita yang memohon pada papanya untuk kembalikan tangannya.

Sebagai orang tua kita patut menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati.

Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dan memberikan pembelajaran dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.

Inilah kisah nyata itu:

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.



Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu berwarna putih, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena jalan macet. Setelah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ayam dan gambarnya sendiri dan sebagainya untuk mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, 'Kerjaan siapa ini?' Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !' 'Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?' hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata 'Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!' katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.


Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. 'Oleskan obat saja!' jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. 'Ita demam…' jawab pembantunya ringkas.

'Kasih minum obat penurun panas ,' jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. 'Sore nanti kita bawa ke klinik' kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

'Tidak ada pilihan..' katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.

'Tangannya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah' kata dokter.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung
merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

'Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.' katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

'Ita juga sayang Kak Narti..' katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris.

'Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,' katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.


Pelajaran yang sangat berharga buat para orang tua, anak nakal itu biasa, kalau anak kecil terluka, berilah perhatian sendiri pada anak dan jangan bergantung pada pembantu. karena mereka sejatinya hanya membantu. Tugas utama mendidik anak ada di tangan anda!!!

Sponsored : https://goo.gl/Yj2YNw
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Membaca Kebohongan Seorang Ibu (Sebuah Kisah Sedih Yang Mengharukan ) SILAHKAN SHARE !!

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku masih kenyang”
KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Kamu tidurlah duluan, aku belum mengantuk”
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya lebih senang sendiri bersamamu”
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : Ibu masih punya duit”
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku lebih suka disini”
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

***

”Berbaktilah pada Ibumu, Ibumu, Ibumu”.

Semoga cerita diatas bisa membuat kita merenung sejenak, apa yang telah di lakukan ibu kita hingga kita menjadi seperti saat ini. Begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukannya untuk membahagiakan kita...

KASIH IBU
KEPADA BETA
TAK TERHINGGA
SEPANJANG MASA
HANYA MEMBERI
TAK HARAP KEMBALI
BAGAI SANG SURYA MENYINARI DUNIA.

CREDIT :
https://modelbajuterbaru2018.net/model-batik-pria/
Photo
Add a comment...

Post has shared content
Kisah Inspiratif, Pertemuan Seorang Murid dengan Sang Guru

Pada suatu waktu…., seorang anak yang bernama Hamid hidup dan sekolah di sebuah desa terpencil di pedalaman Maroko. Semua teman sekelas membencinya karena kebodohannya serta tingkah lakunya yang kerap menjengkelkan. Terlebih lagi guru si Hamid yang selalu berteriak kepadanya, “Kamu membuat saya gila Hamid !!!”
l

Lama-kelamaan Hamid tidak tahan untuk tidak bercerita kepada orangtuanya tentang suasana yang membuatnya tidak nyaman berada di sekolah itu.

Dan akhirnya suatu hari ibunya datang ke sekolah untuk melihat apa yang Hamid lakukan dan bertemu dengan guru-gurunya. Pada saat itu seorang guru tidak bisa menahan kesabaran dan menceritakan apa adanya kepada sang ibu bahwa Hamid adalah sebuah bencana bagi sekolah. Selalu dapat nilai jelek dan dia tidak pernah melihat anak sebodoh itu sepanjang karirnya. Ibu si Hamid tidak terima mendapatkan laporan seperti itu, dan langsung mengambil keputusan bulat yaitu Hamid dikeluarkan dari sekolah itu dan pindah ke kota lain.

25 tahun kemudian, sang guru tadi terkena serangan jantung. Dokter menyarankan agar dia melakukan operasi ke dokter spesialis bedah jantung. Karena tak ada jalan lain, dalam keadaan koma, akhirnya operasi pun dilakukan dan sukses. Sesaat setelah operasi, sang guru membuka matanya, dia melihat seorang dokter yang tampan dan tersenyum padanya. Dia mau mengucapkan sesuatu pada si dokter tapi tak mampu bicara karena masih terpengaruh obat bius.

Sejurus kemudian … sang guru kelihatan panik dan menggerak-gerakan kepalanya, wajahnya mulai kelihatan membiru. Dia kumpulkan seluruh tenaga yang tersisa hingga mampu mengangkat tangannya untuk memberitahu sang dokter tentang sesuatu … Tapi terlambat, sang guru akhirnya kembali jatuh dalam kondisi koma yang lebih serius dari sebelumnya.

Dokter sangat terkejut dan berusaha memahami apa yang barusan terjadi. Dia membalikan badannya dan melihat si Hamid yang bekerja di rumah sakit itu sebagai cleaning service mencabut colokan listrik alat bantu pernapasan untuk diganti dengan colokan listrik vakum cleaner-nya.

Jika anda berpikir bahwa Hamid adalah si dokter, berarti anda terlalu banyak nonton sinetron dan film India. Atau anda terlalu sering menghadiri seminar motivasi


reviwer :

bajumodelbaru.info/model-baju-batik-guru/
Photo
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded