Profile cover photo
Profile photo
Jarar Siahaan
12,270 followers -
Wartawan independen
Wartawan independen

12,270 followers
About
Posts

Post has attachment
POLITIKUS DAN WARTAWAN

Jangan menjadi politikus jika TIDAK terbiasa berbohong.

Jangan menjadi wartawan jika terbiasa berdusta.
Photo
Add a comment...

Post has attachment
FOTO HUKUM RAJAM

Foto penerapan hukum Islam ini adalah karya Farah Abdi Warsameh, fotografer Somalia, untuk kantor berita The Associated Press. Foto hukum rajam Farah menjadi pemenang kedua World Press Photo, 2009.

Keterangan foto: Mohamed Abukar Ibrahim (48 tahun) dirajam sampai mati dengan batu oleh anggota gerilyawan Hizbul Islam di Afgoye, 30 km dari Kota Mogadishu. Oleh pengadilan lokal syariat, dia dinyatakan bersalah dalam kasus perzinaan. Sebelumnya, Februari 2009, Pemerintah Somalia menyetujui penerapan hukum syariat Islam di negara itu sebagai upaya untuk meredakan bentrokan aparat pemerintah dengan milisi lokal.

Berdiri pada 1955, misi organisasi World Press Photo adalah mendukung dan mempromosikan karya fotografer profesional di tingkat dunia. Ia menjadi tolok ukur dalam jurnalisme foto. Tiap tahun World Press Photo menggelar kontes foto jurnalistik terbesar dan yang paling bergengsi di dunia. Karya para pemenang dipamerkan keliling dunia ke 40 negara.

Sumber foto: http://benar.org/1rozexy (World Press Photo)
http://en.wikipedia.org/wiki/World_Press_Photo
Photo
Photo
hukum rajam
2 Photos - View album
Add a comment...

Post has attachment
PERIBAHASA ORANG RUSIA

Peribahasa Rusia: lebih baik ditampar dengan kebenaran daripada dicium dengan kebohongan.

Di Indonesia: lebih baik berkata bohong asal semua teman senang.

"Ada dua hari yang paling penting dalam hidupmu: saat kau lahir, dan saat kau paham untuk apa kau lahir" —Mark Twain
Photo
Add a comment...

Post has attachment
Jarar Siahaan commented on a post on Blogger.
@Isa Alamsyah
Tidak bisa, seperti telah ditanggapi Fizhbone24. Klitik "ku" tidak bisa mandiri seperti halnya "aku". Untuk kasus "kudipermalukan" pun tidak bisa.

Contoh lain: "kutulis" dan "kucintai" benar, tapi tidak "kuditulis" dan "kudicintai".
Add a comment...

Post has attachment
Kisah nyata: surat PNS miskin kepada istrinya

Kisah nyata seorang suami menceritakan kepedihan hidupnya yang miskin, karena tak mau korupsi, lewat surat kepada istrinya.

“Saya ‘merinding’ membacanya. Dalam hati saya tadi, ternyata Tuhan sangat baik masih memberi saya gaji yang cukup dan fasilitas dinas. Lihatlah bapak itu, berpuluh tahun menjadi PNS tetapi terus hidup dalam kemiskinan, karena ia jujur dalam bekerja,” kata Ketua DPRD Kabupaten Toba Samosir, Tumpal Sitorus, lalu berjanji menemui langsung si pegawai negeri sipil untuk menyampaikan simpatinya.

Itulah kalimat Tumpal kepada saya lebih dari enam tahun silam, pada bulan April 2007, di ruang kerjanya di kantor DPRD Kabupaten Toba Samosir di Balige.

Hari itu saya memperoleh fotokopi sepucuk surat yang terdiri dari empat lembar kertas folio, dan saya menemui Ketua DPRD untuk meminta tanggapannya. Salinan surat serupa juga beredar di kalangan pejabat Pemerintah Kabupaten Toba Samosir.

Surat itu ditulis oleh seorang lelaki pegawai negeri sipil senior, dengan usia mendekati masa pensiun, yang bertugas di Pemkab Toba Samosir, ditujukan kepada istrinya yang tinggal di Jakarta.

Suratnya ditulis memakai pena bertinta tebal dan, kayaknya, berwarna hitam—tampak dari huruf-huruf yang tajam dan jelas di fotokopinya—dengan gaya leter bersambung yang sangat rapi.

Saya sengaja tidak memberitahukan nama, inisial, instansi tempat bertugas, dan alamat tinggal si PNS. Usia dan jati dirinya yang lain juga sengaja tidak saya jelaskan di sini.

Surat si PNS miskin lagi jujur kepada istrinya itu saya tampilkan kembali di bawah ini secara lengkap, kalimat demi kalimat, dengan diksi dan struktur sebagaimana aslinya. Saya menyuntingnya sedikit tanpa mengubah makna sama sekali, yakni mengoreksi tanda baca dan mengaburkan sejumlah identitas dengan markah bintang.

Selamat membaca. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik.

* * *

Salam rindu dari jauh, Mama.

Tiga hari lagi persislah Mama dua bulan meninggalkan saya di rumah ini. Dan selama itu pula saya harus bergumul seorang diri, hanya ditemani seekor burung merpati.

Si Kurdi pun titip salam sama Mama. Entah pun dia sudah rindu sama Mama. Mungkin dia tidak akan pernah lupa sewaktu Mama membersihkan sangkarnya dua bulan yang lalu.

Kemarin saya marah sama si kucing dan anjing karena mereka tidak mau beranjak dari rumah. Rupanya saya lupa beli ikan teri untuk jatah mereka.

Saya hanya beli daging aili 1/4 kg karena masih ada sisa uang kiriman Mama. Baru kali ini saya beli daging.

Mama…, piring, sendok, dan garpu sebagaimana Mama tinggalkan sebelum pergi masih tetap bersih seperti itu. Saya hanya memakai satu piring saja supaya tidak repot membersihkannya.

Yang tidak boleh saya ceritakan sama Mama hanya kelambu itu saja. Dulu, sewaktu Mama ada, dia masih putih. Sekarang sudah hitam.

Sarung bantal pun demikian juga, berubah warna. Aneh, baunya Mama. Mudah-mudahan ndak sampai ke Jakarta.

Surat ini saya tulis di atas kursi, karena meja sekolah yang kita pinjam dulu, sewaktu guru huria les, baru saya pulangkan ke sekolah itu kira-kira 10 menit yang lalu.

Kemarin, Jumat, sewaktu les, si Ro*** bilang bahwa Ibu Siagian (istri *) menyuruh supaya meja itu dikembalikan hari ini (Sabtu). Tadi pagi saya memanggil si Pe*** dan si Me*** (adik *) untuk membantu saya mengangkatnya.

Dan tentu Mama belum lupa bangku-bangku kecil orang si Pa***. Itulah yang saya duduki ini.

Mama, kenapa kita semiskin ini, selalu pertanyaan bagi saya siang malam.

Beli motor saja harus diangsur. Selain di bank, ada lagi utang di koperasi. Sawah sudah tergadai. Semua ini membawa penyakit, darah tinggi, maag, penyakit gula, dll.

Saya harus duduk di bangku seperti ini dan menulis di atas kursi. Sebentar lagi saya harus mencuci. Di mana nanti saya harus menggosoknya?

Oh, Tuhan, di mana kepedulian-Mu? Apakah masih ada namanya yang disebut Tuhan?

Jungkir balik saya mengajar les, toh uangnya tidak nampak.

Sementara * [seorang pejabat teras Pemkab Toba Samosir] enak saja ngambil uang dari kas Pemda Rp3 miliar. Apa ada memang uang sebanyak itu? Belum pernah saya lihat. Tuhan-lah yang membuat perhitungan.

Sekiranya saya di Jakarta, saya akan ke Dikti menanyakan keabsahan ***nya [titel si pejabat teras].

Semakin merajalela saja dia, Mama. Baru-baru ini dia ke SMIK Arjuna. Disuruhnya seorang guru buka baju. Mungkin mau diajaknya guru itu duel. * apa itu? [Jabatan orang tersebut.]

Di koran sudah jarang beritanya. Pasti sudah disogok semua itu.

Pak * mau pindah ke Serdang Bedagai. Pupus sudah harapannya menjadi sekda, karena Pak * itu sudah diperpanjang jabatannya sampai dua tahun lagi.

Pak * mau pindah ke Tapanuli Selatan. Masih ingat Mama ketika kita menghadapnya, kan?

Istilah di Tobasa sekarang: kebaktian jalan, korupsi jalan terus. Horeee…

Mama, kalau ada uang, kita pindah saja dari rumah ini. Sepertinya tidak ada rejeki di sini.

Dengan keluarnya meja itu, sudah plong sekarang pintu depan, pintu tengah, dan pintu belakang, karena lurus itu.

Kalau boleh kita cari rumah di pinggir jalan, biar murid lesnya lebih banyak, dan Mama bisa jualan.

Selain di bank, masih ada utangku di koperasi Rp1.800.000.

Makanya, ketika Mama belum pulang [ke Jakarta], tidak pernah semua uang les saya berikan sama Mama. Untuk menutup koperasi, bukan untuk keperluan lain. Semua utang ini baru tutup sampai bulan Desember 2007.

Mama, bulan Juni 2007, tanggal 24, saya sudah pensiun. Pengurusan pensiun sudah dimulai bulan Januari 2007 supaya bulan Juli 2007 langsung menerima gaji pensiun.

Sesudah itu kita sudah dapat berkonsentrasi mengelola les bahasa Inggris dari pagi sampai malam, sambil mengarang buku, dan menjadi reporter di Jakarta Post.

Tidak ada lagi apel pagi, apel sore, rapat-rapat, dll. Tinggal menunggu detik-detik pensiun ini lagilah. Kita bersabar dulu ya, Ma.

Kalau ada uangmu, bantu dulu menutup koperasi ini, biar penyakit saya hilang.

Les bahasa Inggris di tempat Tulang/Nantulang * terkesan terlalu mahal, karena mereka membuat uang les Rp100 ribu per bulan, makanya siswa hanya lima orang, termasuk si kembar itu. Nantulang itu sendiri yang mengutip uang les. Saya baru menerima Rp100 ribu dari situ.

English For You di Desa * masih tetap seperti dulu. Tapi, sudah saya yang mengutip uang les bulan ini. Tapi, mengutipnya sangat susah, padahal uang les cuma Rp15 ribu. Dibagi tiga untuk sewa rumah orang itu.

Sekarang siswanya tinggal 18 orang. Dikali Rp15 ribu, dibagi tiga untuk sewa rumah, berapa lagi tinggal sama saya? Beli minyak bensin, ganti ban, rante, dan oli motor aja itu sudah habis, kan, Ma?

Hari itu saya ke Dolokjior menanyakan pembeli pinus itu. Mudah-mudahan pembelinya segera datang. Pinusnya Boru Panjaitan sudah dijual. Dia minta papan aja, bukan uang. Katanya, pembelinya itu sekarang masih bekerja di Sidulang. Habis dari situ baru ke Dolokjior lagi. Sudah saya hitung pinus kita itu, masih ada 14 batang lagi.

Ketika saya di rumah, saya bongkar buku-buku dan ketemu gambar ini. Kalau Mama nanti pulang, bawa lagi gambar ini ya, Ma.

Bagaimana kabar orang si Da***, An***, Ze***, dan Ac***? Apa rencana mereka buat masa depan?

Ada pepatah mengatakan, “Berdoalah seolah-olah Tuhan datang nanti malam. Bekerjalah seolah-olah kamu hidup seribu tahun lagi.” Ora et labora, berdoa dan bekerja. Ini yang Tuhan kehendaki. Karena Tuhan pun bekerja. Enam hari Tuhan kerja, istirahat cuma satu hari.

Kalau ada kiriman atau surat, alamatnya ke *.

Hanya ada tiga kalimat dari saya untuk Mama.
Pertama: I love you, Mama.
Kedua: I love you, Mama.
Ketiga: I love you, Mama.

Take good care of yourself and get closer to God day by day. See you soon.

Daddy,
*
[Ditandatangani]

______________

1. Ada beberapa catatan kaki dalam artikel ini. Untuk melihatnya secara lengkap, kunjungi situs Medium:
https://medium.com/kisah-hidup/f09e2081a108

2. Bagikan kisah ini untuk menyemangati PNS-PNS jujur agar mereka tetap bertahan tidak tergoda melakukan korupsi.
Add a comment...

Filantropi semu

Bila ada anak artis, atau politikus, atau istri tokoh publik sedang sakit, maka publik dunia maya ramai-ramai menunjukkan kepedulian walaupun tidak mengenalnya. Mereka menulis pesan dan komentar berupa doa-doa dan harapan. Padahal, ketika tetangga rumahnya sendiri sakit, atau jangan-jangan kerabatnya menderita dan hidup dalam kemiskinan, mereka tidak peduli.

Inilah filantropi semu pada abad dunia maya Internet: orang-orang berlomba mencitrakan diri sebagai manusia yang baik, peduli, saleh, dan penuh cinta kasih, namun di dunia nyata justru bisa sebaliknya.

Arti kata {filantropi}: cinta kasih/kedermawanan terhadap sesama
Add a comment...

Post has attachment
Ciri/watak orang Indonesia menurut Mochtar Lubis

Selain sebagai wartawan, Mochtar Lubis juga sastrawan. Ia menulis lebih dari 50 buku. Tiga di antara novelnya yang terkenal: Harimau! Harimau!, Senja di Jakarta, dan Jalan Tak Ada Ujung. Bukunya, Manusia Indonesia, yang ditulis berdasarkan pidatonya tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, tanpa basa-basi membongkar ciri-ciri negatif orang Indonesia yang munafik.

Watak orang Indonesia, kata si wartawan jihad itu:
1. munafik
2. enggan bertanggung jawab
3. feodalis
4. percaya takhayul
5. lemah karakter
6. cenderung eksentrik.

Budayawan Eka Budianta mengatakan, "Saya kagum karena ia melukiskan watak bangsanya dengan enam stereotip. Tapi, ia mungkin lupa bahwa orang tidak suka dan tidak bisa memperbaiki kepribadian dengan cara mengakui kelemahan. Jadi, bila ada orang sakit hati atau benci kepada Mochtar Lubis, saya rasa itulah alasannya."

Pada masa Presiden Soekarno, tahun 1956 sampai 1961, Mochtar Lubis ditahan tanpa diadili. Setelah dibebaskan, pada Mei 1961, ia berangkat ke Tel Aviv menghadiri Sidang Umum ke-10 International Press Institute. Seluruh peserta sidang berdiri dan bertepuk tangan selama lima menit ketika Mochtar hendak menyampaikan pidatonya. Di hadapan tokoh-tokoh pers seluruh dunia itu ia mengatakan bahwa sikapnya tidak berubah untuk mengabdi pada kebebasan pers dan demokrasi. Dua minggu setelah kembali ke Indonesia, karena pidatonya itu, wartawan jihad Mochtar Lubis dijebloskan lagi ke penjara. [...]
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded