Koran Tempo, 24 Juni 2007
Pelesetan Wajah di Atas Kertas

Orang Jepang paling benci dilukis bermata sipit.

Laki-laki muda itu menatap wajah kliennya dengan tajam. Hanya sejenak. Sejurus kemudian spidolnya sudah menari lincah di atas selembar kertas putih. Tak sampai 10 menit, di atas kertas itu sudah tergambar karikatur wajah si klien dengan hidung superbesar dan tubuh mengerut yang sedang mengayunkan tongkat golf. 

Bukannya marah, turis Australia itu malah tersenyum senang dan memuji pelukisnya, Putu Ebo, 33 tahun. "Makin hancur wajahnya, mereka makin senang," kata Ebo, Jumat tiga pekan silam. 

Pengalaman tadi diperolehnya saat sedang melangsungkan pameran kartun sembari "mengamen kartun" di Australia, Februari tahun lalu. 
Mengamen kartun, papar Ebo, adalah aksi para kartunis dalam satu acara atau satu tempat untuk melayani tamu yang ingin wajahnya dikartunkan. Acaranya bisa berupa seminar, pesta ulang tahun, atau pesta pernikahan yang digelar di hotel dan restoran. "Mengamen yang satu ini terbukti bisa meramaikan suasana sekaligus memberi tontonan yang unik," ujarnya. 

Aksi seperti ini, kata Ebo, mulai berkembang pada 1990-an. Ebo ingat persis pelopornya ketika itu adalah perusahaan farmasi Roche, yang mengandalkan humor dalam promosinya. Salah satunya adalah kartun.

Pada 1996, dia melanjutkan, Roche menyelenggarakan konferensi kesehatan internasional. Untuk meramaikan suasana, para kartunis Bali diundang untuk membuka anjungan. Ternyata banyak peserta konferensi yang ingin dikartunkan. Dalam sehari, Ebo bisa melukis 100 orang dengan tarif Rp 10 ribu per orang. Jadi, dalam sehari, ia mengantongi Rp 1 juta. 

Pihak hotel ternyata mengamati kesuksesan itu. Para kartunis lalu diundang untuk membuka anjungan reguler di sana. Sering kali kalau ada rombongan tamu dalam jumlah besar, mereka diminta melukis diam-diam saat tamu sedang makan. Lalu kartun diberikan sebagai kejutan. Aksi mengamen kartun pun merambah ke hampir semua aktivitas wisata di Bali. Ebo dan rekan-rekan seprofesinya sampai kewalahan melayani permintaan. 

Penyebabnya, meskipun jumlah kartunis di Bali cukup banyak, hanya sedikit yang bisa membuat kartun wajah. Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang berani menggambar di depan orang banyak. Padahal aksi saat menggambar adalah bagian dari acara mengamen. "Praktis yang mampu dan berani tak lebih dari 10 orang saja," ujar Ebo. 

Membuat karikatur wajah memang bukan hal gampang. Pertama, pelukis dituntut mampu menangkap karakter paling menonjol dari seseorang. "Karakter ini akan menjadi acuan agar gambar tetap bersambung dengan wajah asli meski sudah dipelesetkan," katanya. Untuk lebih gampang, biasanya Ebo mengacu pada bagian fisik yang paling menonjol. 

Kedua, supaya karikatur lebih unik, biasanya pelukis mengacu pada hobi, pekerjaan, atau hal-hal yang menjadi favorit orang yang dilukis. Klien bisa digambar sambil bermain golf atau memakai baju tentara bergantung pada hobinya. Biasanya sebelum mulai melukis, kartunis akan mengobrolkan dulu soal itu dengan kliennya. 

Pelukis juga harus waspada terhadap pantangan kultural klien. Kalau tidak hati-hati, bukannya mengundang tawa, kartun justru mengundang kemarahan. Ebo bercerita, ia pernah dicaci maki seorang turis Jepang, karena si turis dilukiskan sebagai pria bermata sipit. "Mereka marah besar karena menganggap telah dicinakan," tuturnya sambil tertawa. 

Adapun orang Cina tak girang dilukis detail hingga menampakkan kerutan di mukanya. Rupanya orang Cina selalu ingin terlihat belia. Klien yang paling gampang dilukis biasanya para bule. Mereka lebih senang bila wajahnya dilukis sejelek mungkin tapi dengan kesan lucu yang kuat. Bagaimana dengan orang Indonesia? Nah, "Itu yang paling susah karena mereka tetap ingin kelihatan ganteng atau cantik," kata Ebo. 

Tidak terkait dengan persoalan kultur, melukis perempuan juga punya kesulitan tersendiri. Sebab, biasanya para kartunis kurang tegas "merusak" wajah perempuan. Kalaupun diubah, kerap yang muncul adalah kesan maskulin. Akhirnya, ada kesepakatan di kalangan kartunis, adanya alis di wajah menjadi penanda bahwa wajah itu adalah wajah perempuan walau yang menjadi model tidak memilikinya. (Putu ebo myself: bukan alis, mestiny: bulu mata)

Saking populernya aksi mengamen kartun, pada 2001 Ebo beserta rekan-rekannya terdorong untuk membuat majalah kartun. Salah satu tujuannya adalah mendekatkan kartunis dengan para penggemarnya. Maka tahun itu pula mereka memunculkan majalah khusus kartun Bog-Bog, yang bertahan hingga kini. 

Setelah ada majalah, pesanan mengamen pun makin meningkat. Bahkan ada yang datang ke kantor untuk minta dikartunkan. "Operasional majalah kami disubsidi dari hasil mengamen." Tahun lalu ia sempat diminta warga Malaysia di Bali untuk membuat kartun yang dihaturkan kepada Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi. 

Sayang, menurut Ketua Persatuan Kartunis Indonesia Jango Pramartha, 41 tahun, setelah Bom Bali 2002 dan 2005, turis jadi sepi. Pamor kartunis pun turun drastis. Satu demi satu hotel dan restoran enggan mengundang mereka lagi. Sekarang malah penerbitan majalah yang menjadi penopang. Mereka pun berusaha memperluas lahan dengan melayani jasa desain grafis dan membuka toko khusus aksesori kartun. 

Walau tidak seacap dulu, Ebo dan teman-temannya masih tetap menggelar aksi mengamen kartun. Kebanyakan kini mereka menggambar untuk memenuhi undangan pesta di sekitar Kuta. Tarifnya juga sudah berbeda. Untuk satu gambar mereka mematok harga Rp 100 ribu. 

Namun, cita-cita melestarikan tradisi mengamen kartun masih cukup membara di hati mereka. Setidaknya mereka masih menyimpan impian untuk membuat kafe khusus kartun. "Di situ akan kami buka anjungan mengamen kartun 24 jam," tutur Jango.

ROFIQI HASAN 
Shared publicly