Profile

Cover photo
186 followers|1,025,073 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Tororo

Shared publicly  - 
 
Mitos Anak Menangis di Malam Hari, Diganggu Setan
Tanpa sebab yang pasti, bayi kadang sering menangis, bahkan sangat keras, ditengah-tengah tidur malamnya. Jika hal ini sering terjadi pada si kecil, jangan khawatir, hal tersebut juga kerap terjadi pada banyak bayi di dunia. Karena ingin susu bayi, atau sekedar kurang nyaman dengan sekitar.
Tak sedikit masyarakat di Indonesia percaya, tangisan tiba-tiba bayi di malam hari, sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Meski faktanya, tangisan ini sering pecah karena masalah kurang nyaman si kecil pada saat tertidur.
Seperti orang dewasa, bayi juga kerap mengeluarkan berbagai emosi pada saat tidur. Kadang menangis dengan kencang, tertawa, bergumam dan berteriak-teriak seperti bermimpi pada orang dewasa.
Pada bayi, hal tersebut sangat sering, dan wajar terjadi, terutama pada bayi yang baru lahir.
Setelah dilahirkan, biasanya bayi bekerja keras dalam hal beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mengingat selama beberapa bulan, ia hidup dan tinggal secara nyaman didalam rahim seorang ibu. Kenyamanan ini yang kadang membuat emosi bayi naik turun setelah merasakan lingkungan diluar rahim.
Meski demikian, tangisan secara tiba-tiba anak di malam hari juga memiliki latar belakang berbeda-beda. Biasanya kejadian tersebut normal dan terjadi beberapa detik hingga beberapa menit. Meski kadang bayi akan dengan sendirinya tenang, tapi tak jarang bantuan dari orang tua sangat dibutuhkan untuk menenangkan si kecil yang sedang rewel. Entah itu dengan digendong atau memberinya dengan susu.
Dalam beberapa penelitian mengatakan, masalah tersering bayi menangis di sela-sela tidur kerap berkaitan dengan kenyamanan lingkungan sekitar. Selain itu, hal ini juga berkaitan erat dengan masalah jam siklus tidur si kecil.
Kondisi suhu lingkungan sekitar misalnya, jika terlalu dingin atau terlalu panas, akan membuat bayi kurang nyaman. Selain itu, saat perut bayi terasa sangat lapar, tangisan biasanya menjadi pertanda ia segera menginginkan makanan.
Selain itu, pada umumnya bayi dalam beberapa bulan pertamanya, akan beradaptasi dengan jam biologis atau siklus tidurnya. Seiring bertambahnya usia, siklus tidur bayi biasanya akan berubah, seperti jam tidur kedua orangtua.

Masalah tangisan yang pecah di malam hari juga tak bisa dipandang sebelah mata. Karena hal ini bisa jadi indikasi si kecil dalam kondisi kurang sehat, dan merasa tidak nyaman. Rasa nyeri dari tumbuh gigi pertama kadang juga sering membuat si kecil menangis dengan keras di jam tidur malamnya.
Faktor lain adalah mimpi buruk. Biasanya hal ini terjadi pada si kecil dengan usia lebih besar. Bayangan mimpi seolah-olah ditinggal orangtua kerja, atau perasaan buruk lain pada bayi kerap membuat emosi bayi naik secara mendadak.
Gejala tangisan bayi pada saat tidur juga bisa disebabkan oleh gangguan hewan. Seperti gigitan nyamuk yang menyebabkan rasa gatal, membuat si kecil kerap terbangun di tidur malamnya.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Kebiasaan Bayi Penyebab Munculnya Masalah Tidur
Tak hanya dari lingkungan sekitar, kebiasaan tertentu pada bayi sering membuat tidur mereka kurang berkualitas. Entah karena masalah popok bayi yang penuh, atau masalah lain yang membuat anak merasa kurang nyaman.
Dampaknya, tingkat emosional mereka terganggu karena kurang tidur, membuat hari-harinya sebagian besar diisi dengan tangisan.
Dibanding orang dewasa, bayi membutuhkan jam tidur lebih banyak, dan berkualitas (nyenyak). Prosedur ini dibutuhkan untuk memperbaiki sel otak bayi yang sedang berkembang, serta hormon pertumbuhan hingga 75%.
Secara psikis dan fisik, kebutuhan tidur yang tercukupi dengan baik akan meningkatkan kualitas kesehatan fisik, psikis, emosional mental dan daya tahan tubuh.
Seiring bertambah usia, jam tidur anak umumnya akan berkurang. Misalnya, anak usia 0 hingga satu tahun, rata-rata membutuhkan tidur antara 14 hingga 15 jam sehari. 8 jam tidur malam dan sekitar 6 hingga tujuh jam tidur siang.
Sementara saat usia Batita, atau 1 hingga 3 tahun, jam tidur anak berkisar antara 12 hingga 14 jam setiap hari. Terdiri dari 8 jam tidur malam dan 6 hingga 7 jam tidur di siang hari.
Sayangnya, seperti makan, kadang kebutuhan tidur tak bisa terpenuhi seperti yang diharapkan. Selain faktor lingkungan yang kurang mendukung, beberapa kebiasaan bayi sering membuat hal ini tak berjalan seperti rencana yang diinginkan.
Berikut beberapa kebiasaan si kecil yang kerap membuat si kecil sulit tertidur nyenyak:
1. Sering bergerak
Kebiasaan ini biasa terjadi pada bayi berusia 6 bulan. Saat tidur, biasanya bayi akan menggerakan badannya, bahkan secara tak sadar membenturkan kepalanya di kasur dan bagian tempat tidur. Kebiasaan ini sering berdampak pada pecahnya tangisan si kecil secara tiba-tiba dan terbangun dari tidur.
2. Bangun di malam hari
Beberapa kondisi, membuat bayi sering terbangun di tengah malam. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Divisi Kesehatan, University of Michigan, AS, kebiasaan tersebut sering dilatar belakangi oleh beberapa hal. Diantaranya ingin minum susu, atau masalah suhu ruangan yang kurang nyaman.

3. Berkeringat
Rasa nyaman yang hilang karena keringat sering mengakibatkan gangguan tidur pada si kecil. Kondisi berkeringat sering disebabkan karena suhu ruangan yang kurang ideal serta pemilihan baju tidur yang kurang nyaman.
Selain masalah sederhana, kondisi berkeringat di malam hari pada bayi juga bisa jadi indikasi masalah kesehatan serius. Seperti munculnya masalah gangguan tidur, infeksi dan overheating yang dapat memicu sindroma kematian bayi mendadak (SIDS). Overheating sering terjadi karena bayi menggunakan baju atau selimut berlapis-lapis.
4. Bermain gigi
Umumnya bayi memiliki kebiasaan menggertak gigi saat tidur. Hal ini sering terjadi pada saat si kecil mendapat beberapa gigi pertamanya. Rasa sakit akibat tumbuh gigi sering menjadi latar belakang munculnya kebiasaan ini.


 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
6 Kebiasaan Baik Ibu Jamin Kualitas Kesehatan Bayi
Memiliki banyak waktu dan bertanggung jawab mengurus kebutuhan si kecil, membuat ibu harus memperhatikan beberapa kebiasaan setiap hari. Jika tidak, anak akan mengalami masalah kesehatan karena kelalaian yang dilakukan secara berulang-ulang, terutama dalam hal Feeding & Nursing.
Untuk menjaga kualitas kesehatan bayi tetap terjaga berikut beberapa tips yang bisa Anda perhatikan, seperti dikutip dari boldsky.com:
Rajin mencuci tangan
Sudah bukan rahasia, tangan sering menjadi media kuman dan virus masuk kedalam tubuh. Untuk itu, membersihkan tangan setiap kali akan menyentuh bayi adalah standar yang harus dipenuhi oleh ibu, dan siapa saja demi menjaga kualitas kesehatan si kecil.
Hal yang sama juga harus dilakukan, ketika ibu selesai mengganti popok. Karena meski terlihat bersih, tangan belum tentu higienis tanpa dibasuh dengan air dan bahan antiseptik yang lain.

Steril botol
Seperti halnya tangan, botol juga menjadi media penting penularan kuman dan bakteri ke tubuh bayi. Mensteril botol yang baik adalah dengan merebus botol dalam air (untuk jenis botol kaca, atau botol plastik yang bisa disterilkan dengan air mendidih), cara ini dapat membunuh sebagian uman berbahaya yang tersimpan di dalamnya.

Membersihkan mulut
Karena kebiasaan berdekatan dengan si kecil, mulut ibu pun sebaiknya harus senantiasa terjaga kebersihannya. Mulut bayi yang masih halus dan sensitif, memungkinkan tertular kuman dan bakteri dari mulut ibu saat berkomunikasi atau menciumnya.
Selain itu, bersihkan juga mulut bayi secara rutin. Gunakan kain lembut dan usap di bagian mulut. Menerapkan cara ini secara rutin akan menurunkan risiko infeksi jamur pada lidah dan juga bagian lain di mulut

Mengganti popok si kecil
Mengganti secara rutin popok bayi akan membuat risiko anak terserang infeksi kulit (Di area sekitar popok) menjadi minim. Untuk itu, jangan biasakan menunda popok esok hari saat bagian ini terlihat cukup penuh.
Membiarkan popok bayi sering penuh akan membuat peningkatan beberapa jenis masalah kesehatan, terutama kulit. Seperti infeksi saluran kemih dan ruam. Untuk amannya, Anda bisa segera mengganti popok si kecil sebelum terlihat penuh.

Menjaga kebersihan payudara
Disadari atau tidak, ibu sering mengenakan deodoran atau minyak wangi di badan. Saat menyusui, bahan yang menempel di payudara berisiko memberi dampak buruk pada kualitas kesehatan si kecil. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, ibu bisa membersihkan payudara dengan menggunakan kain basah yang hangat. Cara ini menghindarkan bayi menelan bahan berbahaya yang Anda gunakan.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Saat Menggigit Jadi Kebiasaan Buruk Anak
Munculnya gigi pertama si kecil menjadi salah satu bagian penting dalam tumbuh kembangnya. Karena hal ini menandakan anak mulai bisa menerima makanan bayi padat untuk pertama kalinya, setelah beberapa bulan mengkonsumsi makanan cair, juga awal tabiat buruk anak suka menggigit.
Tak hanya menyiapkan beberapa keperluan dan bahan makanan apa yang cocok untuk si kecil, dibutuhkan juga perhatian dan penanganan khusus agar fase ini tak berdampak buruk. Terutama bagi kesehatan dan perkembangan si kecil kedepan.
Menurut Arlene Eisenberg, penulis buku What To Expect The Toddler Years, fase awal tumbuh gigi anak biasanya diikuti oleh beberapa kebiasaan baru. Perubahan sikan si kecil ini sering didasari karena frustasi dengan perubahan yang sedang ia hadapi.
Terutama pada saat gatal dan rasa kurang nyaman di gusi akibat gigi yang perlahan keluar. Selain lebih rewel, fase ini juga kerap membuat si kecil mudah mengeluarkan air liur, serta kebiasaan menggigit benda-benda di sekitar.
Lalu apa yang harus dilakukan orangtua ? Persiapan dan selalu memonitor kebutuhan dan perubahan pada anak sangat penting. Terutama dalam hal perubahan sikap saat gigi pertama mereka tumbuh.
Untuk memuluskan fase ini berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua dalam hal persiapan menyambut gigi pertama si kecil. Terlebih menghindari kebiasaan menggigit jadi tabiat buruk anak kedepan. Berikut diantaranya:
1. Persiapan makanan yang aman untuk dikunyah
Fase tumbuh gigi biasanya akan membuat anak suka menggigit. Manfaatkan fase ini sebaik-baiknya dengan mempersiapkan makanan padat yang aman untuk dikunyah. Selain membuat si kecil asik dengan hobi barunya, cara ini akan membuat mereka terbebas dari rasa lapar.
2. Jangan beri makanan manis
Makanan manis tidak boleh dulu diberikan hingga anak berusia setahun lebih. Selain itu, makanan manis akan membuat anak mudah agresif. Dampaknya, jika suasana hati kurang pas, anak akan mudah rewel tanpa alasan yang jelas.
3. Saat si kecil menggigit Anda
Abaikan hal ini dan jangan sampai membalas. Karena dengan membalas, si kecil akan belajar hal serupa. Dalam hal ini, jika ia digigit, atau disakiti, ia berhak membalas siapa yang menyakiti saat sedang marah.

4. Cegah sebelum kebiasaan menggigit menjadi buruk
Tanpa perhatian yang cukup dari orangtua, kebiasaan menggigit anak bisa menjadi tabiat buruk. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengingatkan si kecil bahwa hal tersebut adalah kebiasaan buruk dan sebaiknya tidak dilakukan.
5. Jangan memberi contoh yang buruk
Disadari atau tidak, kebiasaan orangtua sering menjadi inspirasi anak yang selalu suka menggigit. Diantaranya kebiasaan menggigit jari, atau menggigit si kecil meski hal tersebut Anda lakukan hanya sebatas bercanda.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Hindari Makanan Ini Sebelum Anak Berusia 9 – 12 bulan (Bagian 2)
Alasan sistem pencernaan anak yang belum sempurna membuat beberapa jenis bahan makanan dan bahan susu bayi, sebaiknya tidak diberikan pada anak sebelum usia mereka genap 9 hingga 12 bulan. Meski pada dasarnya, beberapa makanan tersebut bisa memberi keuntungan bagi kesehatan si kecil.
Mempersiapkan bahan MPASI tak semudah kita menyiapkan bahan makanan sehat setiap hari. Karena meski tergolong makanan sehat, sebuah bahan makanan kadang belum cocok diberikan pada bayi belum genap satu tahun.
Berikut beberapa jenis bahan makanan lain yang sebaiknya ditunda untuk diberikan sebalum anak memiliki sistem pencernaan yang telah sempurna.
1. Makanan mengandung Gluten
Gluten adalah protein biji-bijian yang biasa dijumpai pada beberapa jenis makanan seperti gandum, gandum hitam, gandum barley, dan gandum oat. Pemberian jenis makanan ini sebelum anak berusia 9 bulan dapat meningkatkan risiko alergi, terlebih pada saat anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna.
2. Ikan laut
Meski daging putih ikan laut dikatakan lebih aman dibanding daging merah, namun pemberian jenis bahan makanan ini sebaiknya baru dilakukan saat anak berusia 9 bulan. Seperti bahan makanan lain, pemberian bahan makanan sebelum anak berusia 9 bulan dapat meningkatkan risiko alergi. Ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh anak yang masih belum sempurna.
3. Kacang-kacangan
Seperti ikan laut, kacang-kacangan juga sering menyebabkan anak mengalami masalah alergi. Dan sebaiknya jenis makanan ini diberikan hingga anak berusia 3 tahun atau lebih. Selain itu, tekstur kacang-kacangan yang sangat kasar juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah tersedak saat memakannya.
4. Buah asam dan bergetah
Beberapa jenis buah berasa asam seperti tomat dan jeruk sebaiknya diberikan pada anak saat usia mereka menginjak 8 hingga 9 bulan. Kedua jenis buah tersebut dapat meningkatkan risiko alergi, terutama bagi anak yang memiliki bakat alergi.
Hindari pula buah yang memiliki serat panjang seperti sirsak, karena jenis makanan ini dapat meningkatkan risiko anak tersedak saat makan. Buah-buah mengandung alkohol seperti durian, nangka dan dan cempedak sebaiknya juga tidak diberikan karena dampak buruknya bagi kesehatan anak.
Untuk anak berusia 6 bulan, ada beberapa jenis buah yang bisa dikonsumsi sebagap MPASI. Diantaranya pisang ambon, avokad, pir, apel, melon, dan pepaya. Sementara setelah usia 7 bulan, anak bisa mengkonsumsi belimbing, semangka, dan jambu biji.
Untuk bayi usia 8-12 bulan, jeruk, tomat, dan stroberi bisa diberikan. Selanjutnya, 1 tahun ke atas si kecil sudah dapat mengonsumsi nanas, sawo, dan mangga.


 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Hal-hal Wajar Pada Bayi Baru Lahir
Lama di dalam perut, membuat bentuk bayi tidak beraturan setelah dilahirkan. Tak perlu cemas, terutama bagi orangtua baru. Karena selain masih beradaptasi, proses Feeding & Nursing yang tepat akan membuat hal tersebut berangsur normal seiring bertambahnya usia anak
Kondisi fisik bayi sering tidak beraturan, karena selain 9 bulan di rahim, perjalanan dan guncangan melalui jalan lahir membuat bayi terlahir dengan fisik tak sempurna. Terutama bagi Anda orangtua yang baru memiliki momongan, tak perlu khawatir dengan kondisi ini. Karena hal ini juga sering terjadi di banyak bayi.
Nah, untuk mengetahui sejumlah kondisi fisik yang wajar pada saat bayi dilahirkan, berikut beberapa penampakan fisik kurang sempurna bayi sesaat setelah dilahirkan. Jadi tak perlu kaget jika setelah lahir bentuk fisik anak kurang sempurna
1. Bentuk kepala kurang sempurna
Kebanyakan bayi lahir dengan bentuk kepala kurang sempurna, dan cenderung lonjong. Hal ini disebabkan karena bayi melewati rahim dan jalan lahir dan membuat bentuk kepala lonjong tidak beraturan. Tak perlu khawatir dengan kondisi ini, karena bentuk kepala akan membulat sempurna dalam beberapa hari.
2. Rambut di kulit
Tak jarang bayi memiliki jumlah bulu lebih banyak setelah dilahirkan. Rambut tubuh ini biasa dikenal dengan Lanugo. Biasa berwarna cokelat tua atau hitam, rambut ini biasanya akan rontok dengan sendiri saat bayi melewati rahim. Meski demikian, tak semua rambut rontok didalam rahim, karena sisanya akan tetap menempel pada kulit bayi setelah dilahirkan.
Meski terisa di beberapa bagian tubuh bayi, rambut Lanugo akan berangsur rontok dalam beberapa minggu usia si kecil.
3. Badan kurang proporsional
Umumnya bayi setelah dilahirkan memiliki bentuk tubuh lebih kecil ketimbang bagian kepala. Bagian ini akan berbanding lebih proporsional setelah anak berusia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, bayi akan memiliki kelamin dan dada lebih besar, disebabkan bawaan hormon dari orangtua.

4. Bagian mata bengkak
Karena adaptasi dengan lingkungan sekitar, bagian mata pada bayi setelah dilahirkan umumnya bengkak dan berair. Kejadian ini biasanya akan berlangsung dalam 12 jam hingga satu hari setelah bayi lahir. Pemberian obat antibiotik akan menghindarkan bayi dari masalah kesehatan berkaitan dengan mata.
5. Bagian Pusar yang menonjol
Karena masih baru, tali pusar akan terlihat agak berdarah dan berair. Bagian ini dalam beberapa hari akan berubah warna menjadi hitam dan berkerut. Setelah itu, sisa tali pusar akan putus dalam satu hingga tiga minggu.
Selalu perhatikan kebersihan dan menjaga kebersihan adalah cara mudah merawat luka bekas luka tali pusar. Perawatan yang benar akan membuat bagian pusar mengering dalam beberapa waktu kedepan.


 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Makanan Padat Pertama, Kunci Hindari Anak Menjadi Picky Eater (2)
Picky eater, atau kebiasaan pilih-pilih makanan bisa jadi hal paling membuat stres banyak orangtua dimanapun. Terlebih saat si kecil memiliki berat badan tetap di usia yang terus bertambah. Sebelum terlambat, ada baiknya porsi makan bayi di perhatikan sejak anak mengenal makanan padat pertamanya.
Memiliki anak yang suka memilih makanan, dan menyingkirkan bahan makanan sehat akan membuat orangtua khawatir tentang perkembangan dan kesehatan anak kedepan. Bukan hanya menyebabkan berat badan anak kurang, kebiasaan memilih makanan juga membuat anak berisiko mengalami obesitas, karena suka makanan junk food.
Untuk menghindari anak menjadi picky eater, orang tua bisa menyiapkan beberapa trik yang bisa dicoba di saat anak mengenal makanan pada pertamanya. Selain memilih Tekstur makanan yang tepat dan Rasa makanan, berikut beberapa tips yang bisa orang tua lakukan:
1. Pilih makanan dengan asupan gizi yang tepat
Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, terutama dalam masalah kesehatan dan perkembangan si kecil, nutrisi mutlak harus terpenuhi dalam menu makan harian. Untuk menjamin hal tersebut didapat oleh si kecil, Anda bisa memulainya sejak dini, saat anak mengenal makanan padat untuk pertama kalinya.
2. Kenalkan varian makanan bernutrisi
Mengenalkan anak dengan makanan bernutrisi sejak dini akan memberi dampak positif kelak seiring bertambahnya usia. Anak dengan referensi makan bernutrisi sedikit akan berdampak pada ketidak-minatan anak dengan makanan bergizi dan nutrisi baik.
Padahal makanan bernutrisi adalah kunci sukses tumbuh kembang anak, baik fisik, psikis dan kecerdasan si kecil. Untuk itu, sejak anak makanan padat pertama sebaiknya diperkenalkan beragam makanan bernutrisi.
Asupan gizi yang baik dan seimbang akan mendorong anak tumbuh dengan fisik dan kecerdasan seperti yang diharapkan. Terlebih jika konsumsi makanan dilengkapi dengan zat gizi makro (Karbohidrat, protein dan lemak) dan zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral.
Kecukupan kebutuhan dua jenis zat gizi tersebut sangat baik dalam menjaga proses metabolisme dan perkembangan sel saraf anak.
Untuk memulainya, Anda bisa memilih beberapa jenis makanan tinggi protein, kalsium, vitamin D, dan vitamin B kompleks. Selain itu, lengkapi juga nutrisi yang dibutuhkan oleh otak, seperti zat besi, zink, vitamin A, dan asam lemak esensial.
Sebagai bahan tambahan untuk untuk meningkatkan kualitas kesehatan otak, Anda bisa memberi asupan omega 3, omega 6 , dan kolin yang terbukti dapat meningkatkan kecerdasan dan kreatifitas anak.

3. Pilih makanan sesuai tahapan usia
Kenalkan makanan pada anak sesuai dengan tahapan usia. Selain ada beberapa bahan makanan yang dianjurkan untuk dikenalkan, ada juga beberapa bahan makanan yang sebaiknya tidak dulu dikenalkan ke anak.
Selain menjaga sistem pencernaan anak yang masih sederhana, mengenal bahan makanan tertentu yang dirasa lezat bagi si kecil akan membuat mereka memiliki karakter picky eater.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Makanan Padat Pertama, Kunci Hindari Anak Menjadi Picky Eater (1)
Kebiasaan makan sehat dengen porsi sesuai kebutuhan si kecil bisa jadi harapan setiap orangtua. Sayangnya, tak semua anak memiliki kebiasaan tersebut, sehingga perkembangan Health & Safety mereka tidak sesuai harapan.
Disadari atau tidak, peran orangtua sejak awal berperan sangat penting dalam hal membentuk pola makan si kecil. Sejak bayi, anak yang dikenalkan dengan beragam menu makan sehat dan bervariasi, biasanya memiliki kebiasaan makan lebih baik.
Dan hal ini biasanya akan terbawa sampai mereka dewasa kelak. Dampak positifnya, kebiasaan makan cukup dan sehat akan menurunkan risiko beragam jenis masalah kesehatan dan sebagainya.
Nah, untuk membiasakan anak makan dengan porsi sesuai dan tidak pilih-pilih makanan, bisa jadi hal paling sulit dilakukan bagi banyak orangtua. Tak perlu cemas, untuk mengatasinya, Anda bisa menerapkan empat formula kebiasaan makan sehat di rumah untuk bayi beranjak usia balita berikut:
1. Pilih tekstur makanan yang tepat
Kebiasaan makan dan menyukai menu sehat berawal dari lancarnya si kecil berkenalan dengan jenis makanan padat untuk pertama kalinya. Untuk mengawalinya, Anda bisa memilih jenis makanan bertekstur tepat.
Makanan semi padat dengan tekstur tepat dalam hal ini solusi perkenalan si kecil dengan makanan padat mereka di usia menginjak 6 bulan. Tekstur yang lembut bagi bayi sangat cocok, setelah sebelumnya hanya mengkonsumsi makanan cair (ASI).
Setelah si kecil mulai familiar dengan makanan lembut, jenis menu makanan bertekstur lebih padat selanjutnya bisa diberikan. Tujuannya, selain memperkenalkan rasa makanan, cara ini akan menstimulasi kemampuan oromotor si kecil. Yakni kemampuan otot dan oral rongga mulut.
Termasuk menggerakan beberapa bagian dari mulut, seperti lidah, gigi, pipi, rahang dan sebagainya.
“bayi yang tidak mempunyai keterampilan oromotor yang baik akan cenderung mengalami masalah picky eating, keterlambatan berbicara, dan lain-lain,” jelas Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Departeman Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2. Rasa makanan
Memperkenalkan anak dengan makanan baru di awal usia si kecil mengenal makanan padat adalah hal penting. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dovey TM, dalam Food Neophobia and Picky / Fussy Eating in Children pada 2008, anak menjadi pemilih makanan bisa jadi disebabkan karena kegagalan perkenalan makanan padat pertama kali.
Kecenderungan anak yang tak mau mencoba makanan baru, biasa dikenal dengan istilah Neophobia. Gejala ini biasa disebabkan karena ketakutan si kecil dalam mencoba makanan baru, dan mendorong anak memiliki sifat picky eater.
Untuk menghindari hal tersebut, fase perkenalan anak diusia 6 bulan dengan makanan padat sebaiknya dilakukan dengan bervariasi (Sesuai dengan yang dianjurkan).
Di usia tersebut, Anda bisa memperkenalkan anak dengan pisang, beras merah, kacang hijau, dan buah-buahan lain dengan nutrisi yang dibutuhkan, seperti pepaya dan alpukat.
Setelah anak memiliki kemampuan makan yang baik, Anda bisa melanjutkan perkenalan makanan padat dengan memberi si kecil sayuran dan sebagainya.
Selain dua cara diatas, Anda bisa melakukan dua hal penting di usia anak pertama kali mengenal makanan padat. Diantaranya, pilih makanan dengan asupan gizi yang tepat dan pilih makanan sesuai tahapan usia


 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Bahan-bahan Makanan Bayi yang Sebaiknya Dipehatikan Saat Diberikan
Mengenalkan berbagai jenis bahan makanan bayi sehat dengan varian rasa sering disarankan untuk anak usia 6 bulan, atau saat si kecil berkenalan dengan makanan padat pertama kali. Selain mengenalkan apa saja yang bahan yang cocok untuk makanan bayi, ada baiknya jika Anda juga mengetahui beberapa jenis bahan makanan yang sebaiknya ditunda dulu diberikan sampai si kecil cukup usia.
Makanan pendamping air susu ibu atau MPASI biasanya diberikan dengan dua tujuan. Mencukupi nutrisi di usia awal tumbuh kembang si kecil, dan memperkenalkan beragam rasa makanan. Dalam penelitian mengungkap, mengenalkan banyak rasa makanan, menghindarkan anak dari sifat buruk pilih-pilih makanan.
Sayangnya, dalam hal bahan MPASI, tak semua jenis makanan bisa diberikan. Atau setidaknya, menunda mengkonsumsi makanan tersebut sampai si kecil berusia setahun lebih. Berikut beberapa jenis bahan makanan yang sebaiknya ditunda dulu pemberiannya untuk si bayi yang baru mengenal makanan padat pertama mereka.
Penyedap rasa dan garam
MPASI untuk bayi sebaiknya dibuat dari bahan alami, tanpa bahan tambahan lain, seperti penyedap rasa dan garam. Karena dalam penyedap rasa mengandung natrium. Bahan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi anak di usia dini, risiko terburuknya adalah merusak organ ginjal.

Bagaimana dengan garam? Bahan ini juga memiliki dampak yang kurang lebih sama merusaknya. Organ pencernaan bayi yang masih belum sempurna berisiko akan rusak karena konsumsi garam, lebih tepatnya bagian ginjal.

Garam baru bisa diberikan pada saat anak berusia 9 bulan, dengan catatan hanya dalam porsi sangat kecil. Untuk penambah rasa, garam bisa diberikan dengan takaran sejimpit kecil, tidak lebih.

Madu
Meski secara alami madu baik untuk kesehatan, namun konsumsi bahan makanan ini sebaiknya tidak terburu-buru diberikan, terutama sebelum anak genap berusia satu tahun. Ini dikarenakan, pada madu dikhawatirkan terdapat bakteri botulinum.

Bakteri jenis ini kerap menyebabkan gangguan pencernaan pada si kecil. Selain itu protein pada madu juga kerap meningkatkan risiko alergi pada si kecil, madu baru bisa diberikan pada si kecil setelah ia berusia satu tahun.

Telur
Baik bagian putih dan kuning pada telur sering berpotensi meningkatkan risiko alergi. Konsumsi kuning telur baru disarankan saat anak berusia 9 bulan. Sementara itu, putih telur baru bisa dikenalkan saat si kecil berusia satu tahun.



Sayuran kasar
Segala jenis makanan kasar, bahkan sayuran sebaiknya tidak dikenalkan terlebih dahulu sampai anak memiliki kemampuan mengunyah lebih baik. Karena hal ini berpotensi menyebabkan anak mengalami tersedak. Sayuran kasar diantaranya daun singkong, genjer, kacang panjang, sawi, dan sebagainya. Perkenalan dengan sayuran ini bisa dilakukan saat anak berusia setahun.

Ikan laut
Nutrisi ikan laut banyak dimanfaatkan dalam hal tumbuh kembang anak. Hanya saja, jika diberikan pada anak sebelum usia 9 bulan, konsumsi ikan laut berpotensi meningkatkan risiko alergi pada anak.

Kacang-kacangan
Jenis bahan makanan kacang-kacangan sebaiknya diberikan setelah anak berusia 3 tahun. Selain berisiko membuat anak tersedak, jenis kacang-kacangan juga dapat berpotensi meningkatkan risiko alergi pada anak.

Tomat dan Jeruk
Tomat dan jeruk baik karena kandungan anti oksidan dan vitamin c yang baik untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Hanya saja, pemberian keduanya sebaiknya dilakukan pada saat anak berusia 8-9 bulan. kedua jenis bahan makanan tersebut kerap meningkatkan risiko alergi pada anak.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Yuk Kenali dan Optimalkan Fase Si Kecil Belajar Berkomunikasi
Selain berjalan, masa penting dalam tumbuh kembang si kecil adalah belajar berbicara. Beberapa orangtua sukses dengan cara kreatif. Salah satunya dengan bantuan mainan bayi dan jenis maianan edukasi lain dalam membantu anak belajar berbicara.
Dukungan orang sekitar kadang membuat proses belajar berbicara mudah dilalui si kecil. Sementara anak yang kurang mendapat dukungan akan mengalami keterlambatan dalam berbicara.
Naluri dasar manusia membuat anak baru dilahirkan sudah mulai belajar bagaimana berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Meski awalnya, hal tersebut dilakukan si kecil dengan cara menangis, untuk mendapatkan susu, merasa kurang nyaman dengan keadaan sekitar atau minta ditemani.
Kemampuan bayi dalam berkomunikasi sudah ada bahkan, beberapa hari setelah dilahirkan, mereka memiliki kemampuan mengingat suara. Terutama suara ibu dan perawat yang biasa berada disekitar mereka.
Usia 6 bulan, bayi akan mulai mengenali dan terbiasa dengan bunyi yang disampaikan ibu atau orang-orang di sekitar. Pada usia 9 bulan, komunikasi bayi mulai meningkat, dengan kemampuan dapat membedakan mana kata dan mana bebunyian.
Sementara itu, anak sudah mulai bersuara dengan bahasa sederhana sejak usia 1 bulan. Saat usia tersebut, biasanya bayi sudah mulai bisa berbicara beberapa bunyi sederhana, seperti “waaah”, “uuuuhh” dan “Aaaa”. Perkembangan bicara bayi biasanya akan berkembang saat usia mereka mulai 2 hingga 5 bulan.
Di usia satu tahun, bayi umumya sudah mulai bisa mengucapkan 1 suku kata. Sementara di usia 2 tahun, kemampuan bayi sudah mulai meningkat, dengan kemampuan mengucapkan satu kalimat sederhana.
Dalam hal standar, kemampuan rata-rata bayi diatas tak selalu sama. Beberapa anak memiliki kemampuan lebih cepat, sementara beberapa yang lain mengalami keterlambatan dalam hal berkomunikasi.
Beberapa anak bahkan sudah mulai mengoceh sejak usia mereka 10 bulan. sementara ada juga anak yang hingga 2 tahun belum mampu berkomunikasi seperti anak lain seusianya.
Peran penting orangtua dalam mengoptimalkan kemampuan anak berbicara di usia milestone sangat penting. Seperti dikutip dari Parenting, Taufiq Hidayat, kepala terapis dari Klinik Growing Hearts, Jakarta mengatakan, orangtua sebaiknya paham beberapa tahapan perkembangan anak dalam berbicara. Berikut 3 fase penting anak pada saat belajar berbicara:
1. Kemampuan berbicara
Pada fase ini anak mulai mengeluarkan celotehannya pertama kali. Suara yang dikeluarkan biasanya bentuk ekspresif, dengan artikulasi, kelancaran dan kejelasan dalam berbicara. Pada fase ini anak biasa mengucap beberapa kata seperti “papa”, “cucu” atau “susu”.

2. Kemampuan Berbahasa
Setelah berbicara, anak kemudian mengembangkan kemampuannya dalam hal berbahasa. Beberapa kalimat sederhana pun mulai dikuasai. Diantaranya “Minta cucu” atau “Dede minta susu” dan beberapa kalimat sederhana yang lain.
3. Pekembangan komunikasi
Pada fase ini anak mulai memiliki kemampuan berkomunikasi secara verbal dan nonverbal. Jadi, selain berbicara, anak sering berkomunikasi dengan ekspresi wajah dan beberapa gerakan tubuh. Seperti mengucap “da-da” sambil melambaikan tangan.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Kenali Gejala Saat Si Kecil Kekurangan Zat Besi
Seperti kebutuhan nutrisi yang lain, zat besi menjadi bagian penting kegiatan Feeding & Nursing dalam tumbuh kembang si kecil. Kekurangan nutrisi zat besi pada bayi sering berdampak pada munculnya anemia pada si kecil, berikut tanda-tandanya.
Pada dasarnya, saat mengalami kekurangan zat besi, anak cenderung lemas. Sering tampak mengantuk dan tak aktif dalam bergerak. Menurut dokter Yosellina, dampak ini kemudian diikuti anak menjadi rewel dan lebih mudah sakit.
Menurut Yosellina, dalam aktivitas setiap hari, zat besi sering mengangkat oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi akan membuat supply oksigen ke otak juga ikut terganggu.
Banyak hal membuat anak kekurangan zat besi, bahkan saat beberapa hari ia dilahirkan. Diantaranya berawal dari sang ibu yang kekurangan zat besi pada saat hamil. Untuk itu, ibu hamil sebaiknya mengkonsumsi suplemen zat besi.
Sementara untuk anak usia 6 bulan, kekurangan zat besi bisa diatasi dengan konsumsi bahan makanan tinggi zat besi di makanan pendamping ASI. Ditambah dengan cukup nutrisi masalah kekurangan zat besi dapat dengan mudah teratasi.
Menurut Yosell, konsumsi makanan hewani sering tidak dipilih pada program MPASI setelah anak berusia 6 bulan. Alasannya, orangtua takut muncul alergi pada anak, sehingga mereka tidak dulu memperkenalkan daging.
Padahal, dengan tidak memberikan daging, anak akan cenderung berpotensi kekurangan protein hewani, penyebab munculnya masalah kekurangan zat besi.
Meski pada makanan sayur juga didapat kandungan zat besi, tapi jumlahnya tak sebanding jika dibandingkan dengan zat besi pada daging. Pemberian makanan hewani sendiri bisa dilakukan setelah anak berusia 6 bulan, dimana daging yang dihaluskan akan mudah dicerna oleh sistem pencernaan si kecil.
Meski disarankan, ada baiknya jika daging yang diberikan dalam kondisi segar, bukan produk olahan. Seperti sosis, bakso dan jenis olahan daging yang lain. Produk olahan daging ini umumnya sudah dikemas sedemikian rupa dengan tambahan penyedap rasa dan bahan kimia berbahaya lain.
Konsumsi bahan dengan beberapa produk kimia makanan berbahaya akan membuat hal positif bagi daging terserap dengan baik untuk si kecil. Beberapa penyakit berbahaya pun akan ikut berdampak menyerang kesehatan si kecil.
Memberi daging pada menu harian bayi kadang tak semudah menyiapkan membuat makanan untuk anak-anak atau orang dewasa. Untuk itu, berkonsultasi dengan dokter tentang bagaimana menyiapkannya adalah solusi bijak menghindari hal buruk yang tak diinginkan.
Tak bisa disepelehkan, konsumsi daging yang tidak halus pada bayi bisa berdampak buruk, dan berisiko anak tersedak pada saat memakannya. Sementara pemilihan daging sehat dan segar juga harus diperhatikan mengingat daya tahan tubuh anak yang masih rentan serangan penyakit.

 ·  Translate
1
Add a comment...

Tororo

Shared publicly  - 
 
Hindari Makanan Ini Sebelum Anak Berusia 9 – 12 bulan (Bagian 1)
Tak sedikit orangtua sangat antusias dalam mempersiapkan bahan Makanan Bayi Pendamping ASI saat anak berusia 6 bulan. Sayangnya minimnya pengetahuan membuat orangtua ‘kecolongan’ dengan memberikan beberapa jenis bahan makanan yang sebenarnya, lebih baik jangan diberikan ke bayi terlebih dahulu.
Beberapa makanan bahkan sebaiknya dihindari dalam hal mempersiapkan MPASI si kecil. Dan berikut beberapa jenis bahan MPASI yang sebaiknya ditunda atau sebaiknya tidak dulu diberikan ke bayi sampai usia tertentu.
1. Garam dan Penyedap Rasa
Zat natrium yang ada pada kedua jenis bahan makanan tersebut dapat bereaksi buruk pada bagian ginjal bayi. Terlebih pada bayi, fungsi dan keberadaan organ ginjal masih jauh dari sempurna. Garam bisa diberikan sejak anak berusia 9 bulan. Dalam ukuran sangat sedikit, Anda bisa memperkenalkan garam pada makanan si kecil.
2. Madu
Meski dalam banyak literatur kesehatan madu disarankan karena dampak positif bagi kesehatan, pemberian bahan makanan ini sebaiknya tidak diberikan pada anak belum genap satu tahun. Ini dikarenakan, dikhawatirkan madu tercemar bakteri botulinum yang sering menyebabkan gangguan pencernaan pada anak. Konsumsi madu pada anak belum genap satu tahun juga sering meningkatkan risiko alergi dan sebagainya.
3. Bagian putih dan kuning telur
Kedua bagian dari telur ini sebaiknya tidak diberikan pada anak usia belum genap satu tahun. Ini dikarenakan, kedua bahan tersebut meningkatkan potensi alergi pada anak dibawah umur. Seperti bahan amakan sebelumnya, kuning telur sebaiknya diperkenalkan setelah anak berusia 9 bulan. Sementara untuk bagian putih telur, baru diperbolehkan diberikan pada anak setelah usia mereka genap satu tahun.
4. Sayuran bertekstur kasar
Seperti makanan bertekstur kasar lain, sistem cerna anak yang belum sempurna membuat sayuran bertekstur kasar dapat meningkatkan risiko tersedak pada si kecil. Beberapa jenis sayuran kasar, seperti singkong, genjer, kacang panjang, sawi, kangkung, kembang kol dan sebagainya, sebaiknya tidak diberikan pada saat anak belum genap satu tahun.
5. Sayuran mengandung gas
Jenis sayuran ini jika diberikan pada anak belum genap satu tahun akan meningkatkan risiko kembung pada perut si kecil. Kondisi ini pada bayi sering berdampak kurang baik bagi kesehatan mereka.
Sistem pencernaan yang kurang baik menjadi alasan, sebaiknya jenis makanan ini diberikan saat anak berusia satu tahun atau lebih.

 ·  Translate
1
Add a comment...
Story
Tagline
Belanja Perlengkapan Bayi Murah dan Lengkap di Tororo
Introduction

Tororo.com adalah situs online e-commerce penjual perlengkapan bayi terbesar di Indonesia.


Kami menawarkan produk-produk pokok kebutuhan bayi seperti susu bubuk, popok, dan berbagai kategori lainnya seperti alat makan dan botol, keperluan mandi dan kulit, pakaian dan sepatu, alat perkakas dan kereta bayi, serta keperluan buat ibu.

Misi kami di Tororo tidak hanya penjualan; kami ingin meningkatkan kualitas dan standar hidup untuk keluarga di seluruh Indonesia dengan memberikan mereka akses ke berbagai macam produk dengan harga yang sama seperti membeli produk tersebut di kota-kota seperti Jakarta atau Surabaya. Kami percaya bahwa toko online seperti kami akan membuat perubahan besar dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Kami memberikan anda kemudahan untuk membeli segala produk yang berkaitan dengan kebutuhan si kecil hanya dengan mengakses ke situs Tororo. Dapatkan kebutuhan si kecil dengan harga termurah dengan penawaran dan berbagai diskon yang pastinya menarik untuk anda. Informasi mengenai segala produk yang anda inginkan juga bisa anda dapatkan dengan mudah di situs Tororo untuk kenyamanan anda berbelanja. Produk pesanan akan kami antar ke rumah anda dengan pelayanan kurir yang cepat dengan kualitas produk yang terbaru dan terbaik. Dengan pembayaran melalui transfer antarbank, bayar di tempat (Debit on Delivery), klikpay BCA, dan kartu kredit, kami menawarkan metode pembayaran yang mudah dan aman demi kenyamanan anda berbelanja.

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan kunjungi situs kita di Tororo.com

cs@tororo.com 

021-7226582

Links
YouTube
Contact Information
Contact info
Phone
(021) 722-6582
Email