Profile cover photo
Profile photo
TM Hendry, s
6,965 followers -
Kritis, humoris, moralis, sosialis, nasionalis, jujur, transparan, sedikit nakal tapi punya moral.
Kritis, humoris, moralis, sosialis, nasionalis, jujur, transparan, sedikit nakal tapi punya moral.

6,965 followers
About
Posts

Post is pinned.Post has attachment
Judul: Jolang Versus Koruptor
Penulis: TM Hendry, s
Genre: Komedi
Jumlah Halaman: 371
Harga: IDR 10.000,-

Sudah tersedia di Play Store!

Hayu bungkus, cuma sepuluh ribu doang, moso pelit sih. 😂

Caranya:
Klik link berikut: https://play.google.com/store/books/details?id=UMxNDwAAQBAJ

Atau masuk ke Play Store, klik tulisan Books/ Buku. Setelah itu ketik Jolang di menu pencarian. Kalau sudah tampil, tinggal klik deh tu tulisan IDR 10.000,-

Baca deh di Play Books.

Metode pembayan bisa pakai Pulsa, bisa juga pakai Kartu Kredit.

Bantu share ya. Terima kasih. 😃
Photo
Photo
2/27/18
2 Photos - View album
Add a comment...

Post has attachment
Ayah

Laki-laki paruh baya dengan kemeja lusuh duduk mengamati sosok mungil yang tengah fokus dengan mangkuk baso di hadapannya. Bocah perempuan usia lima tahun itu tampak lahap. Laki-laki paruh baya melepas topi kumal warna krem, kemudian meletakkannya di atas meja, ia tersenyum tulus melihat keceriaan anak perempuannya yang tengah menikmati semangkuk baso. Lembar nasib terlukis pada gurat wajah menua, wajah yang sudah kenyang merancah hitam putih kehidupan.

“Ayah mau?” ucap bocah perempuan mengangkat sendok berisi baso kecil.

“Ayah, sudah kenyang.”

Usai makan baso, laki-laki paruh baya menggendong anak perempuannya, beranjak meninggalkan kedai baso menuju rumah reot bilik bambu. Dengan hati-hati laki-laki paruh baya menurunkan anaknya yang tertidur pulas. Kasur usang dengan warna yang tampak memudar, di sana bocah perempuan terlelap.

Laki-laki paruh baya melangkah menuju dapur dan duduk di samping meja kecil. Piring berisi nasi putih, ikan asin, dan beberapa potong cabai menemani santap siangnya. Ia kaget ketika anaknya terbangun dan melangkah menuju dapur.

“Katanya Ayah sudah kenyang?”

Laki-laki paruh baya senyum getir.

“Biar kepahitan ini untuk Ayah saja, kamu jangan. Ayah hanya ingin kamu selalu tersenyum bahagia, itu saja,” batinnya.

“Ayah memang masih kenyang kok. Ini lawuk sisa tadi,” ucapnya tersenyum. Bocah mungil melangkah setengah berlari dan duduk di pangkuan sang Ayah.


Bandung, 24 April 2018


TM Hendry, s


#FiksiMini  
Ayah
Ayah
sesatmologi.com
Add a comment...

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Kena Teepu

Apes, itulah yang saya alami ketika naik Angkot kemarin sore. Dengan semena-mena tanpa perasaan, seorang perempuan paruh baya menuduh saya mengambil dompet miliknya. Dongkol, emosi, campur aduk jadi satu. Dan peristiwa kemarin itu benar-benar akan menjadi pengalaman buruk seumur hidup saya.

Angkot sesak penumpang, duduk desak-desakan, sore menjelang magrib bertepatan pas jam pulang kerja, jam pulang sekolah juga. Perempuan paruh baya itu turun duluan dari angkot, ketika hendak membayar ongkos, ia tampak panik mengubek-ubek isi tasnya. Jreeng! Sorot matanya tertuju ke saya, dengan jari telunjuk tangan kirinya dia menunjuk tajam dan menuduh saya telah mengambil dompetnya. Sumpah deh, dongkol kuadrat, asem benar tu perempuan.

Dituduh tanpa bukti yang jelas, saya protes, hingga terjadi perdebatan antara saya dan si perempuan tukang tuduh tersebut. Sopir dan beberapa penumpang lain berusaha menengahi. Emosi saya memuncak terasa sudah di ubun-ubun, enak saja main tudah-tuduh tanpa bukti. Cekcok saya dan perempuan ember asal tuduh itu mengundang perhatian banyak orang berkerumun.

Di antara kerumunan, muncul Polantas dengan suara lantang bertanya apa yang tengah terjadi, saya dan perempuan paruh baya berebut menceritakan. Ditengahi Polisi, ceracauan perempuan itu melunak, setelah mendengar keterangan dari saya, si perempuan, dan beberapa penumpang lain, pak Polisi meminta saya bersedia digeledah. Saya keluarkan semua isi kantong, termasuk dompet, handphone, dan beberapa uang kencring.

Tidak ada dompet si Perempuan, dengan begitu tuduhan semena-menanya terhadap saya tidak terbukti. Setelah itu Polisi meminta izin kepada si perempuan agar diperkenankan memeriksa tasnya. Perempuan itu langsung menyodorkan tas kepada Polisi. Kemudian Polisi mengeluarkan isi tas perempuan itu satu persatu. Bedak, handphone, dan yang ke tiga dompet kecil, saat Polisi menanyakan, “ini dompet ibu yang hilang?” si perempuan mengangguk, semua orang yang ada di sana bersorak ke arah si perempuan, namun emosi saya makin memuncak. Jelas saya tidak terima dipermalukan di depan banyak orang. Perempuan itu dengan entengnya minta maaf, seolah tanpa dosa sudah menuduh dan memfitnah saya.

Polisi ikut membujuk agar saya memaafkan si perempuan, tapi batin saya menolak keras, dalam pikiran saya, perempuan asal tuduh itu harus dapat pelajaran, agar ada efek jera setelah kejadian, agar orang lain tidak menjadi korban berikutnya seperti saya. Malu banget dituduh ujuk-ujuk seperti itu.

Mendengar saya ingin memperpanjang perkara, si perempuan tampak gentar, ia memohon dan meminta bicara empat mata dengan saya. Saya menolak, bagi saya sudah tidak ada lagi kompromi, sebab ini menyangkut harga diri. Saya seperti sampah diperlakukan seperti itu di hadapan banyak orang. Perempuan itu terus memohon, karena merasa malu dilihat banyak orang, akhirnya saya melunak dan bersedia untuk bicara empat mata.

Saya kembali kaget, setelah tahu ternyata tujuan si perempuan mengajak saya bicara empat mata hanya untuk meminta agar saya tidak memperpanjang kasus itu. Ekor mata saya melihat jelas, si perempuan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya kemudian mengajak saya salaman sembari minta maaf, memohon agar kasus itu tidak diperpanjang. Kurang ajar banget, saya makin terhina melihat sikapnya, seolah semua bisa dibeli pakai uang, dan harga diri saya tidak serendah nilai yang disodorkan perempuan itu.

Ia menangis terisak. “Dengan apalagi saya harus minta maaf?” ucapnya.

Saya membatu, dalam hati saya pengin banget memaki, tapi saya masih manusia beradab, bila harus memaki orang lain, apalagi usianya jelas di atas saya, sepantar kakak saya yang paling tua.

Saya perhatikan perempuan itu, kembali ia memasukkan tangan ke dalam dompetnya, kali ini saya melihat ada beberapa lembaran pecahan seratus ribu yang ia keluarkan, kemudian ia genggam kuat, lalu kembali menyodorkan tangannya ke arah saya sembari mengucap maaf.

Sore hampir usai, magrib tinggal hitungan menit, saya melunak, Tuhan saja maha pemaaf, tidak seharusnya juga saya sekeras itu. Ini bukan soal uang, saya tak mengharapkan uang tersebut, barangkali itu bonus atas fitnah yang saya terima. Tangan saya bergerak pelan menyambut uluran tangan si perempuan paruh baya, belum sempat tangan kami bertaut, saya terbangun ketika istri mendorong-dorong lengan saya sambil berkata, “Bang, bangun, udah magrib!”


TAMAT

Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita, semua itu di luar kuasa yang tengah berkuasa. :D :D :D


Bandung, 05 Februari 2018


TM Hendry, s
Kena Teepu
Kena Teepu
sesatmologi.com
Add a comment...

Post has attachment
KELANGAN

Sedari pagi Puro uring-uringan, gairah hidupnya tampak memudar. Padahal sehari yang lalu ia masih begitu bersemangat, terlebih saat main media sosial menggunakan telepon pintar baru miliknya. Update status, komen sana, like sini, kadang tertawa sendiri menatap layar mungil yang ada dalam genggamannya. Namun hari ini semua berbeda, Tagur pun merasa heran melihat perubahan sikap Puro.

“Kamu kenapa sih, dari tadi aku lihat murung mulu?” tanya Tagur.

“Aku lagi sedih, tolong jangan ganggu, biarkan aku sendiri.”

“Yahaaa, drama! Makane jangan banyak nonton sinetron!”

“Plis! Jangan guyon!” pinta Puro memelas.

“Makanya, cerita dong!”

“Aku kelangan” jawab Puro lirih.

“Kamu kehilangan apa sih Puro? Cerita dong, siapa tau aku bisa bantu.”

Puro menghela napas panjang.

“Ayo kasih tau!” desak Tagur.

Puro terdiam lama, dari sudut matanya berjatuhan cairan bening.

Tagur menggeser posisi duduk ke sebelah Puro. “Bersahabat harus saling bantu,” ucap Tagur pelan, meyakinkan. “Emang ada apa sih?” Tanya Tagur lagi.

Hening …

“Kata sandi pesbuk aku ilang.”

Sejurus kemudian dua sahabat itu sebak, saling rangkul, sebelum akhirnya menghilang diculik Alien.



Bandung, 11 Januari 2018


TM Hendry, s

#FiksiMini  
Add a comment...

Post has attachment
Upaya Andri membongkar kasus korupsi tidak mudah, ia harus adu strate… #humor #Humor #amreading #books #wattpad
Add a comment...

Post has attachment
VISIONER

Malam itu saya dan istri bertengkar hebat karena persoalan tidak penting atau bisa juga dibilang belum penting untuk dibahas. Ketika menonton siaran bola liga Inggris di televisi, saya menyeletuk, semoga kelak Ujo, anak kami yang baru berumur dua bulan menjadi penerus Wayne Rooney di Manchester United. Mendengar celetukan saya, istri langsung menyemprot.

“Ngayal jangan ketinggian, Pak! Lagian, ngarahin anak kok jadi pemain bola. Cita-cita anak tu mbok yang berkelas, jadi Dokter kek! Jadi PNS kek!”

“Jadi PNS itu godaannya berat, Buk! Kalau anak kita dicokok KPK karena korupsi, siapa yang malu? Kita! Dokter juga begitu, berat risikonya. Terjadi hal yang tidak baik, orang-orang seenak udel e tudah-tuduh malpraktek.”

“Masih mending daripada pemain bola!”

“Tahu apa Ibu tentang bola? Jangan menganggap remeh, gaji pemain bola bisa lebih tinggi dari PNS lho!”

“Pokoknya ibu tidak setuju! Bola itu olahraga orang kurang kerjaan, bola satu dikejar ramai-ramai, yang nontonnya juga kurang kerjaan, jam segini masih anteng depan tipi, lupa waktu!”

Bukannya melunak, istri saya bersikeras tidak setuju jika kelak Ujo menjadi pemain bola. Dan lebih parah lagi, semprotannya kian menjadi. Kalau yang dibahas soal bola biasanya saya gampang terpancing, di tempat kerja saya dan sejawat sering berdebat, kami saling ejek tim favorit masing-masing. Namun kali ini beda, saya berusaha tidak terpancing, bukan karena saya takut sama istri, tapi lebih demi kemaslahatan bersama, saya mengalah agar tidak terjadi kegaduhan tengah malam, dan yang paling penting jangan sampai penerus Wayne Rooney terbangun dari tidur lelapnya karena kami berdebat, sebab untuk menjadi pemain bintang, tentu butuh istirahat yang cukup.

*

Detak waktu mengiringi tumbuh kembang buah kasih yang kami beri nama Ujo. Tidak terasa sudah hampir tiga tahun Ujo mengenakan seragam putih merah, selama itu pula setiap pulang sekolah, dengan sukacita Ujo mengikuti latihan rutin di Sekolah Sepak Bola (SSB) kenamaan di daerah kami, walau tanpa restu Ibunya. Ya, saya mendaftarkan Ujo ke SSB tanpa memberitahu sang istri.

Ujo latihan sepak bola satu jam setelah pulang sekolah, kepada istri saya beralasan Ujo ikut les ini, les itu. Sulit bagi saya membayangkan apa yang akan terjadi ketika rahasia itu terbongkar. Bak kata pepatah, sepandai-pandai tupai meloncat, sekali gawal (jatuh) juga. Pun begitu terjadi pada saya. Cedera di kaki kiri Ujo yang ia dapat ketika latihan sepak bola, tidak mungkin saya sembunyikan dari istri. Cedera tersebut membuat Ujo harus istirahat total selama satu bulan lebih.

Apa yang terjadi setelahnya? Istri menyemprot saya habis-habisan. Karena merasa bersalah, diam tanpa pembelaan adalah pilihan paling bijak. Dan istri pun mengeluarkan semua amunisi terbaik untuk menyemprot saya yang pasrah tanpa perlawanan.

Hampir satu dekade Ujo terlahir ke dunia, selama itu pula saya dan istri tiada lelah berdebat tentang arah masa depan anak semata wayang kami itu. Entah saya yang egois atau mungkin juga istri saya yang egois, bukan tidak mungkin juga kami sama-sama egois. Perang argumen antara saya dan istri melulu terjadi karena satu musabab, soal masa depan Ujo. Namun, kali ini tidak ada perang argumen, karena satu pihak yaitu saya, tidak berhak membantah, karena saya salah. Dan saya pun mulai jengah dengan segala perdebatan.

Guna mengalihkan perhatian dari ceracauan istri, saya meraih remot televisi, kemudian menekan papan nomor. Tiba-tiba jari saya tertegun menyaksikan pertunjukan teater tentang keluarga pada sebuah program televisi, kala itu lakonnya mengutip tulisan seorang Filsuf ternama asal Lebanon.

Anak kalian bukanlah anak kalian.
Mereka putra putri kehidupan yang merindu pada dirinya sendiri.
Berikan kepada mereka cinta kalian, tapi jangan gagasan kalian.
Karena mereka memiliki gagasan sendiri.

Kalian boleh membuatkan rumah untuk raga mereka, tapi tidak untuk jiwa mereka.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tidak bisa kalian kunjungi, sekali pun dalam mimpi.
---Kahlil Gibran---

Kutipan itu seperti menampar saya, pun juga istri. Ternyata yang kami perdebatkan selama ini bukanlah domain kami. Saya sangat yakin, di luar sana banyak orangtua yang seperti kami, egois dan suka memaksakan kehendak terhadap cita-cita anaknya. Padahal kewajiban orang tua jelas, dan yang pasti bukan untuk memenjarakan jiwa anak.

Setelahnya sikap saya melunak. Saya tidak lagi memaksakan kehendak. Saya biarkan Ujo meramu mimpinya sendiri, mimpi yang selaras dengan kehendak hatinya, tanpa intervensi dari siapa pun, termasuk saya, juga istri. Kemudian saya dan istri membuat surat perjanjian di atas meterai, tidak boleh salah seorang dari kami melakukan pemaksaan terhadap masa depan Ujo. Pada salah satu butir perjanjian, Ujo juga harus berhenti dari semua kegiatan di sekolah sepak bola. Perjanjian itu saya teken dengan keyakinan yang tidak utuh, sebab di hati kecil saya masih bernaung seutas yakin, next time Ujo pasti akan menggantikan posisi Wayne Rooney di Manchester United, apa pun jalannya.

*

Sesekali istri masih suka menyemprot, tapi kami hampir tidak pernah berdebat tentang masa depan Ujo. Kami biarkan Ujo menahkodai kapalnya sendiri, dari jauh saya dan istri memantau menggunakan teropong alam yang terpatri dari naluri seorang Bapak dan naluri seorang Ibu. Namun, di hati kecil saya masih bernaung seutas yakin, walau dalam bentuk sebongkah doa, next time Ujo pasti akan menggantikan posisi Wayne Rooney di Manchester United.

*

Bagi saya hidup merupakan seni meramu mimpi dan imajinasi, kemudian menjadikannya sebuah wujud nyata yang memiliki daya guna. Sekarang semua cerita telah berbeda, sudah empat tahun Ujo menetap di Inggris, selama itu pula ia berkarir sebagai pemain kunci di Manchester United. Sebuah kebanggaan tiada tara bagi saya dan istri atas prestasi tersebut, pun ketika Ujo terut serta mengantarkan tim nasional Indonesia menjuarai piala dunia lima tahun lalu.

Berawal saat pencari bakat timnas usia sembilan belas menyaksikan Ujo tengah bermain di lapangan becek tepi sawah, kemampuan sepak bola Ujo yang mumpuni, memukau mata pencari bakat, hingga akhirnya Ujo dipanggil untuk ikut Traning Center di Jakarta. Karier Ujo sebagai penggawa garuda muda berjalan mulus, selain membawa timnya menjuarai Piala Asia, Ujo juga sukses menyabet gelar pemain muda terbaik se-Asia. Kiprah Ujo tidak hanya sampai di sana, beberapa tahun kemudian, ia turut serta mengantarkan timnas senior menjuarai Piala Dunia. Kalian tahu bonus apa yang disiapkan pemerintah untuk Ujo setelah ia dan tim membawa tropi Piala Dunia ke Indonesia? PNS, ya pengangkatan menjadi PNS. Tawaran dari pemerintah tersebut bersamaan dengan tawaran dari manajemen Manchester United yang menyodorkan kontrak selama lima musim kepada Ujo. Hampir terjadi kembali perdebatan antara saya dan istri, tapi kami berhasil menenangkan diri, hingga akhirnya Ujo memilih jalannya sendiri, menolak tawaran pemerintah dan memilih tawaran manajemen Manchester United.

Semua memang telah berbeda, kecuali satu … cara istri menyemprot saya ketika ia lagi kesal, sudah kadung permanen. Siapa pun kalian yang membaca kisah ini, tolong jangan beritahu istri saya, karena dia akan sangat marah dan menyemprot saya kalau ia tahu, bahwa sebenarnya Ujo tidak pernah berhenti latihan sepak bola pasca cedera, ia tetap giat berlatih siang dan malam, walau hanya dalam MIMPI.
Tolong rahasiakan, saya mohon!


Bandung, 18 Oktober 2017


TM Hendry, s


#cerpen #fiksi
VISIONER
VISIONER
sesatmologi.com
Add a comment...

Post has attachment
SIAL MAJAL

“Lepas jaket, serahkan motor lu!”

“Sila ambil motor saya, tapi jaket jangan … saya mohon!”

“Banyak bacot lu! Turuuun!”

Hembusan angin malam tak cukup mampu meredam ketegangan. Sebuah dorongan menghempas tubuh kurus laki-laki paruh baya dari motor bebek miliknya, bersama sorot tajam empat pasang mata, bagai serigala lapar hendak menerkam.

Lengkingan ujung parang menyayat aspal beton jalan sepi dalam kota.

“Lepas jaket luuuuuu! Bangs***!”

“Saya mohon dengan sangat! Sila ambil motor saya, tapi jaket jangan.”

“Jaket murah kayak gitu nggak bakal laku, cepat ambil motornya!”

Seorang dari empat pria berbadan ceking mendekati motor bebek milik laki-laki paruh baya, kemudian bersiap membawanya. Dengan tubuh yang masih tergeletak di sisi jalan, laki-laki paruh baya menarik “paha ayam” dari balik jaket. Empat timah panas, empat kali bidikan, empat orang penyamun[1] terkapar di tangan seorang Intel.


[1] Begal


Bandung, 12 September 2017


TM Hendry, s


#FiksiMini   #Cermin  
Add a comment...

Post has attachment
HOAX?

“Seorang pedagang pasar Klonyor mengamuk, lalu membakar barang dagangannya.”

Begitu bunyi pesan broadcast yang beredar di media sosial. Pesan tersebut menyebar begitu cepat dari akun ke akun hingga memicu kepanikan luar biasa di kalangan para pedagang.

Mbok Inah, pedagang beras di pasar Klonyor kejang-kejang hingga pingsan saat mendapat kabar dari anak bungsunya tentang pasar Klonyor yang terbakar. Pun begitu pak Sutoyo, juragan sembako itu terengah-engah lunglai, usai menerima informasi tentang pasar Klonyor dari tetangganya yang aktif di media sosial. Beda lagi dengan pak Rahmat, pedagang pakaian itu tiba-tiba meracau tak karuan sebab memikirkan hutang atas barang pesanannya yang baru datang tadi sore. Pak Warsidi lebih parah, ia nekad menenggak cairan pembasmi serangga dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.

Dalam hitungan jam, pasar Klonyor ramai didatangi pedagang yang hendak menyelamatkan barang dagangannya, semua berlari berhamburan menuju toko masing-masing. Namun mereka kaget, tidak ada api, tidak ada asap, tidak ada petugas pemadam kebakaran. Adakah broadcast yang beredar di media sosial sebelumnya sekadar bohong belaka?

“Sialan!” umpat salah seorang pedagang, merasa dongkol atas kabar palsu yang beredar malam itu. Beberapa pedagang lain tiada henti mengucap syukur setelah memastikan toko miliknya baik-baik saja, tidak kurang satu apa pun.

“Hoax! Kita jadi korban hoax!” celetuk pedagang lain.

*

Salah seorang pedagang berinisiatif melaporkan kejadian malam itu kepada pihak berwajib. Tidak butuh waktu lama, enam jam setelah laporan masuk, tim Cyber Crime langsung menciduk seorang pemuda bernama Muin.

Tanpa perlawanan Muin diangkut ke kantor Polisi.

“Saya tidak salah, pak! Kenapa saya ditangkap?” sanggah Muin ketika berada di ruang introgasi.

“Jangan berkilah, saudara telah terbukti membuat dan menyebar informasi bohong, sehingga menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” bentak petugas.

“Apa yang saya tulis, benar adanya, Pak?”

“Masih mencoba berbohong kamu?”

“Bapak tolong beri kesempatan saya menjelaskan!”

“Oke! Kenapa kamu melakukan semua tindak kebohongan itu?”

“Bukan kebohongan, Pak!”

“Cepat jelaskan!” bentak petugas sembari memukulkan telapak tangan ke atas meja.

“Jadi begini … kemarin malam saya dan dua orang teman saya mengamen di warung pak Darmaji yang berada di lantai dasar pasar Klonyor. Ketika lagi asyik bernyanyi, pak Darmaji ngamuk marah-marah mengusir kami ….” Muin terdiam.

“Apa yang terjadi setelah itu?”

“Karena takut, kami beranjak pergi, setelah itu pak Darmaji mulai membakar dagangannya.”

“Membakar dagangan? Di TKP tidak ditemukan sisa pembakaran. Kamu jangan coba-coba membohongi petugas!”

“Mungkin bapak kurang teliti. Saya melihat sendiri kok, pak Darmaji membakar dagangannya.”

“Jangan main-main sama petugas!”

“Saya tidak main-main, apa yang saya sampaikan ini benar adanya.

Petugas yang melakukan introgasi terdiam, tampak jelas rona kesal dari wajahnya.

“Masih berusaha berbohong kamu?”

“Saya tidak bohong, berani sumpah. Mungkin bapak kurang teliti.”

“Maksud kamu apa?”

“Saya lihat sendiri pak Darmaji membakar dagangannya.”

Kembali suara pukulan meja membuat Muin terkesiap.

“Emang pak Darmaji dagang apa?” tanya petugas lain yang berada di ruangan introgasi.

“Dagang sate!” jawab Muin pelan.

Petugas yang mengintrogasi Muin bangkit sembari ngedumel. “Sial! Ini bukan hoax!”

Usai menggali keterangan dari pak Darmaji beserta dua rekan Muin, serta saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian, penyidik menerbitkan SP3. Polisi menghentikan kasus tersebut dan menyimpulkan bahwa kegaduhan yang terjadi bukan karena pesan yang dibuat Muin tetapi karena kekurang telitian masyarakat dalam menyaring informasi, kekurang telitian masyarakat mengkroscek kabar yang didapat, sebelum menyebarkannya. Muin tetap mendapat sanksi kerja sosial karena ulahnya telah membuat postingan ambigu yang menimbulkan kegaduhan.

Terjadi demo besar yang dilakukan pedagang pasar Klonyor. Demo bergelombang berjilid-jilid mereka lakukan menuntut agar Muin diadili. Mereka menuding Polisi tidak profesional, mereka menuding Polisi anti pedagang, mereka menuding Polisi mengkriminalisasi sate, mereka menuding Polisi tidak mengindahkan aspirasi pedagang. Namun pihak kepolisian bergeming.

“Bila Muin dipenjara, ia harus dipenjara sebab pelanggaran hukum yang ia lakukan, bukan karena tuntutan massa, karena selamanya hukum adalah panglima tertinggi.” Begitu pernyataan kepala kepolisian resort setempat.

*

Seminggu kemudian Polisi mengamankan dua puluh orang pedagang pasar Klonyor, setelah terbukti melakukan persekusi terhadap Muin.


Bandung, 29 Juni 2017


TM Hendry, s

#Cerpen   #Fiksi  
HOAX?
HOAX?
sesatmologi.com
Add a comment...

Post has attachment
Jika ingin pendapat anda didengar orang, jangan asal berpendapat.
Photo
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded