Profile cover photo
Profile photo
TM Hendry, s
7,026 followers -
Kritis, humoris, moralis, sosialis, nasionalis, jujur, transparan, sedikit nakal tapi punya moral.
Kritis, humoris, moralis, sosialis, nasionalis, jujur, transparan, sedikit nakal tapi punya moral.

7,026 followers
About
TM's posts

Post is pinned.Post has attachment
Menunggu Jolang Versi Novel

Tungguin Novel Jolang ya!

Novel Jolang berkisah tentang perjuangan empat orang sahabat yang sudah beralih status menjadi pasangan kekasih (Andri, Adit, Dita, dan Putri) dalam membongkar kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh pejabat pemerintah di Dinas Pendidikan Kabupaten Hampas.

Misi Andri, Adit, Dita, dan Putri dimulai ketika mantan guru mereka pak Jara Kada, yang juga merupakan orang tua Dita, terserang penyakit Arteriosklerosis. Saat bersamaan sang guru mendapat penghargaan dari Kemendikbud sebagai guru berprestasi tingkat Nasional. Karena sedang terbaring sakit, sang guru tidak bisa hadir ke kantor Kemendikbud untuk menerima penghargaan. Akhirnya piagam penghargaan berikut uang pembinaan dari Menteri Pendidikan itu diserahkan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Kota tempat pak Jara Kada mengajar. Andri, Adit, dan Putri curiga ketika mengetahui dari Dita, ternyata uang pembinaan yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kota kepada pak Jara Kada sebagai guru berprestasi tingkat Nasional, jumlahnya tidak masuk akal atau nominalnya sangat kecil.

Novel ini adalah fiksi komedi.

Melalui novel ini saya ingin membuat pembaca tertawa sepuasnya, dan melalui novel ini pula (pada bagian tertentu) saya akan membuat pembaca menangis sejadi-jadinya. Kontradiksi memang, tapi saya akan berusaha meramunya se-indah mungkin.

Apakah Novel Jolang berbeda dengan buku Jolang sebelumnya?

Berbeda, bahkan beda banget. Jolang sebelumnya adalah versi kumpulan cerpen dan banyak kejadian tidak masuk akalnya. Jolang Versi Novel menyuguhkan cerita yang berbeda dan tentunya lebih detail, lebih menyentuh dan lebih gokil.  

Sedikit bocoran Loket VI Novel Jolang (Loket = Bab versi Novel Jolang, saya menulisnya tidak menggunakan istilah Bab, melainkan Loket).
----------------------
Kemudian Adit bangkit mengambil gitar yang menggantung di dinding bengkel, lalu memberikannya kepada Velo. Setelah itu dengan santai Velo memetik dawai gitar sambil bernyanyi.

“Hey Jude, don't make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better.”[1]

Andri dan Adit kaget, ternyata Velo jago main gitar dan suaranya juga sangat merdu.
----------------------

Kali ini mungkin saya agak sedikit pelit dalam memberikan bocoran.:D

Minta doanya, semoga Novel Jolang cepat selesai. Di kepala saya sebenarnya sudah selesai, namun proses mengetiknya baru sampai Loket VII (Bab VII), dan saya belum bisa memastikan entah sampai loket berapa titik akhirnya.


[1] Syair lagu The Beatles - Hey Jude

----------------

Tokoh-tokoh yang sudah masuk sampai Loket VII

1. mas Andri +Andri Rahman Hakim Tokoh utama.
2. mas Adit +Adityatama I Sahabat tokoh utama.
3. mbakyu +Zulfa Putri Bungsu Pasangan tokoh utama
4. Mbakyu +Dita Rahastri pasangan Adit (sahabat tokoh utama)
5. Mak +Ratna Nindyasiwi Orang tua tunggal tokoh utama.
6. Pakle +veyz el muhammad Paman tokoh utama.
7. Bu +Martina Henny Orang tua Adit.
8. Pak Pujiono. Orang tua Adit (saya tidak berani nge-tag, wahahaha)
9. Bang +Jarar Siahaan rekan bisnis Andri. orang tua Velo.
10. Pak +Jara Kada mantan guru tokoh utama, orang tua Dita. 
11. Mbak +Elly Ermawati Teman SMU tokoh utama yang sekarang bekerja dan menjadi orang kepercayaan di perusahaan milik tokoh utama (Andri).
12. Mbak +dinee maems Adik Adit, Anak pak Pujiono dan Bu Martina.
13. Mbak +Girra Martinda Teman SMU tokoh utama yang bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Kota.
14. Mbak +Rasidha Fitriana Istri pakle Veyz (paman tokoh utama)
15. Mas +Khoerul Umam Anak pakle Veyz dan bu Rasidha.
16. Ncang +Purnawan Syah Bupati terpilih Kabupaten Hampas, mantan Kadispen.
17. Mas +ini budi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten.
18. Bu +Kart Lie Sukarti Sahabat mak Ratna (orang tua tokoh utama).
19. Mas +Maman Sulaeman (Motivator terkenal).
20. Mas +Muhammad MuaMmar (Sesepuh di Desa Serabi Gosong, tempat tokoh utama tinggal).
21. Mbakyu +Veronica Widya Tri Rahayu Anak rekan bisnis tokoh utama.
22. Teh +Dwi Anggie Anggraini  Istri pak Jara Kada (Orang tua Dita). 
23. Uda +Badroez zaman sebagai Dokter yang menangani pengobatan pak Jara Kada

Sekian dan terima Amplop, eh terima kasih, wahahahahaha

Post has attachment
Jika ingin pendapat anda didengar orang, jangan asal berpendapat.
Photo

Post has attachment
KORENAH VI

Iklan

Pulang sekolah, Andri selonjoran di ruang tengah sambil menonton televisi. Saat lagi asyik menonton, Andri dikagetkan oleh suara panggilan mak Ratna yang tengah memasak di dapur.

“Le!”

“Iya, Mak.”

“Kamu lagi apa?”

“Nonton tipi.”

“Nanti kalau udah iklan, tolong beliin mak kecap ke warung depan.”

“Iya, Mak.”


Lima menit kemudian.

“Le!”

“Iya, Mak.”

“Udah iklan belum!”

“Belum.”


Lima belas menit kemudian.

“Le, mana kecapnya, udah jadi dibeli?”

“Belum.”

“Kok lama?”

“Belum iklan.”

“Haaa, beli dulu aja bentar, siapa tahu pas kamu lagi beli kecap ada iklan.”

“Tanggung, Mak.”


Tiga puluh menit kemudian.

“Le!”

“Ya, Mak!”

“Jangan bilang belum iklan ya.”

“Memang belum iklan kok Mak.”

Kesal, mak Ratna bergegas menuju ruang tengah, sambil menggenggam sendok penggorengan. Tiba di ruangan tengah, mak Ratna merengus dongkol. “Huuuft!” Ketika mendengar suara Valentino Simanjuntak.

“Andik Vermansyah berlari menyisir lapangan, masih Andik. Sebuah umpan LDR membelah lautan dari Andik menuju Boas. Boas Salosa, masih Boas Salosa, tendangan merobek langit dari Boas Salosa. Ya ampuuun! Jebret! Jebret! Gooooooool! Sebuah Gerak tipu yang manis. Satu kosong untuk timnas Indonesia. Kerjasama apik Andik dan Boas telah mencabik-cabik keutuhan rumah tangga Harimau Malaya.”

Rupanya Andri tengah menonton siaran bola yang iklannya cuma 45 menit sekali, ha-ha.

---------------------------------------

Ngutang

Dewasa ini keberadaan alat komunikasi layaknya sebuah kebutuhan. Teknologi informasi kian memasyarakat, handphone tidak lagi menjadi barang mewah. Melihat prospek yang begitu menjanjikan dari situasi tersebut, pakle Veyz tertarik untuk membuka usaha konter HP. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, setelah menguras bak mandi, Pakle Veyz menguras isi tabungan. Dibantu Andri dan mak Ratna, konter HP milik pakle Veyz mulai beroperasi.

Hari pertama buka, konter yang diberi nama Tembakau Gulung Komunika itu sudah diserbu pelanggan yang antre mengular sampai berpuluh-puluh meter, untuk mengutang pulsa, ha-ha. Tak sudi usahanya bangkrut di hari pertama buka, pakle Veyz berusaha mencari cara agar para pelanggan konternya tidak terus mengutang.

“Pusing aku, iso bangkrut, iso modar aku,” gerutu pakle Veyz.

“Woles dik Veyz, namanya juga usaha,” ucap Mak Ratna memberi motivasi kepada pakle Veyz.

“Usaha, kok ngutang kabeh.”

“Aku punya ide,” timpal Andri.

“Ide opo toh, Le?”

“Konon dalam mitos Yunani kuno, bila kita pasang boneka Doraemon di depan konter, bisa mencegah orang untuk mengutang.”

“Yang benar kamu, le?”

“Coba aja dulu, pakle.”

Besoknya pakle Veyz membeli boneka Doraemon, kemudian menempatkannya di depan konter, dengan harapan tidak ada lagi pelanggan yang mengutang. Apakah upaya pakle Veyz berhasil? Tentu saja tidak, ha-ha.

“Ide kamu ngawur, le.”

“Pakle harus ganti boneka kayaknya. Mungkin dewa Yunani enggak suka Doraemon.”

“Jangan boneka lagi, ganti cara lain,” timpal mak Ratna. “Pakai pengumuman atau spanduk lebih manjur kayak e dik Veyz.”

Besoknya pakle Veyz membuat spanduk super besar bertuliskan, “Dilarang mengutang!” Apakah upaya pakle Veyz berhasil? Jelas tidak, pelanggannya tetap saja mengutang.

“Nyerah deh aku, mendingan ganti usaha lain,” keluh pakle Veyz.

“Jangan menyerah gitu dong, Pakle. Aku punya ide super yahud, yakin deh bakalan berhasil.”

“Ah, ide kamu ngawur kabeh!”

“Yang ini beda, Pakle.”

Kemudian Andri minta uang kepada pakle Veyz untuk membuat spanduk baru. Setelah spanduk itu selesai, Andri langsung memasangnya di depan konter hp pakle Veyz. Menakjubkan, ide Andri kali ini berhasil, hingga tidak ada satu orang pun umat manusia yang berani mengutang.

Pengin tahu rahasianya?

Andri membuat spanduk super besar bertuliskan, “BARANG SIAPA YANG MENGUTANG, BARANGNYA AKAN SAYA MAKAN MENTAH-MENTAH!” Di sebelah tulisan itu terpampang gambar gigi seperti siap melahap barang siapa saja. Setelah itu tidak ada lagi yang berani mengutang.

(Bisa habis tu barang, ha-ha).

---------------------------------------


Serupa Tapi Tak Sama

Menjelang sore, Andri bergegas ke konter untuk membantu pakle Veyz. Petang itu suasana di konter tidak terlalu ramai, hanya ada satu orang pelanggan. Lelaki paruh baya mengisi pulsa lima ribu rupiah, kemudian membayarnya menggunakan uang pecahan seratus ribu.

“Enggak ada uang kecil, pak?” tanya pakle Veyz.

“Waduh, enggak ada, pak,” balas lelaki paruh baya sambil merogoh saku celana.

Kemudian pakle Veyz melongok laci tempat menyimpan uang. “Yah, enggak ada receh,” gumam pakle Veyz. Setelah itu pakle menyuruh Andri menukarkan uang pecahan seratus ribu tersebut. Saat Andri hendak berangkat, lelaki paruh baya mencegah.

“Bentar, Dik! Enggak usah tukar. Saya nitip aja, di depan sana kan ada mini market, tolong adik belikan saya rokok.”

“Rokok apa pak?” tanya Andri.

“Samsu satu bungkus, Jarum satu, Magnum dua!”

Dengan mantap Andri melangkah menuju mini market. Tidak berapa lama Andri kembali menenteng kantong plastik kecil, lalu menyerahkan kantong tersebut kepada lelaki paruh baya. Setelah membayar uang pulsa, lelaki paruh baya berlalu.

Selang beberapa menit, lelaki paruh kembali ke konter sambil menenteng plastik kecil berlogo mini market tempat Andri membeli rokok sebelumnya.
“Mau isi pulsa lagi, pak?” tanya Andri.

“Bukan, saya mau nanya, tadi saya nitip beli apa?”

“Samsu satu bungkus, Jarum satu, Magnum dua!”

Kemudian lelaki paruh baya mengeluarkan isi kantong plastik satu-satu.

1. Satu bungkus Rokok Samsu.
2. Satu kotak Jarum pentol.
3. Dua bungkus Es cream Magnum.

Ha-ha, sampai ketemu di Korenah VII


Bandung, 5 Maret 2017


TM Hendry, s

#cerpen #fiksi #komedi

Post has attachment
Semua akan indah pada waktunya?

Bohong besar!

Yang hampir pasti, semua akan lucu pada waktunya.

Tidak percaya?

Baca Korenah deh, di sini ada sebuah keluarga yang hampir sempurna warasnya kadang-kadang, ha-ha-ha.

Post has attachment
GANDORIAH

Debur ombak memecah buih di atas pasir pantai Gandoriah. Hembusan angin ditingkahi kepak sayap camar menari-nari pada alunan riak. Bersama kemilau jingga memeluk samudra, mentari tersipu menyongsong malam dari balik pulau Angsa Dua. Dalam kepingan senja nan teduh, pada ujung tumpukan batu pemecah ombak yang menjorok ke laut, Meta seorang perempuan muda duduk terpaku menikmati senja, ia melayangkan pandang ke tengah lautan, rambutnya yang panjang bersibak diterpa angin, kedua tangannya menggenggam erat buku harian bewarna merah muda.

“Aku bukan Puti Gandoriah dan kamu bukan Anggun Nan Tongga, tapi … kenapa harus kita?” ucapnya lirih.

Perlahan Meta membuka buku harian.

Lembar pertama, Juli 2010

“Dear Diary … hari ini aku kesal banget. Kenapa aku harus satu lokal sama laki-laki menyebalkan itu? Namanya Candra, dia tu laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku jumpai. Sok keren! Sok pintar! Pokoknya semua yang sok ada pada dia! Suka bikin kesal! Paling demen ngajak aku berantem. Kalau bisa memilih, dengan senang hati aku bersedia banget deh pindah dari lokal unggul, asal tidak satu ruangan sama dia.”

Lembar berikutnya, Agustus 2010.

“Ih, sebal sebal sebal! Masa aku dibilang pacaran sama Candra? Duh, semua teman-temanku mendadak norak! Siapa juga yang suka sama dia? Enggak banget deh!”

Lembar berikutnya, September 2010.

“Memalukan, maluuuuuuuu! Buat sahabatku Sofi dan Ami, aku benci kalian! Aku malu banget saat kalian mendorong-dorong aku waktu kita berpapasan sama Candra di gang menuju laboratorium.”

Lembar berikutnya, Oktober 2010.

“Laki-laki menyebalkan itu kembali membuat ulah, buku catatan tugas aku dia sembunyikan. Ketika aku lagi panik mencari, dia enak-enaknya tertawa mengejek. Hai kamu! Kamu tu mengibarkan bendera perang dengan orang yang salah! Kamu pasti aku balas, pasti!”

Lembar berikutnya, November 2010.

“Hahaha, yeeeeeeeeees! Puaaaaas! Hari ini aku senang banget, sebab aku berhasil menuntaskan dendam pada laki-laki menyebalkan itu. Kasihan juga sih melihat dia celingak-celinguk mencari baju olahraganya yang aku sembunyikan di laci meja guru, ha ha ha.”

Lembar berikutnya, Januari 2011.

“Aku heran, setiap berkumpul sama Sofi dan Ami, yang mereka bahas selalu saja Candra. Penting gitu? Malas banget!”

Lembar berikutnya, Maret 2011.

“Usai pelajaran olahraga, sambil duduk bersila aku melepas lelah di bawah rindang pepohonan depan kelas. Tiba-tiba Candra datang, kemudian duduk tepat di sebelah aku sambil menyodorkan minuman dingin. Candra sengaja membawakan aku minumam sebagai simbol permintaan maaf dia yang selama ini sering membuat aku kesal. Dan kami pun berdamai, saling memaafkan, saling bertukar nomor telepon, saling follow akun media sosial.”

Lembar berikutnya, Mei 2011.

“Kangen perang sama kamu!”

Lembar berikutnya, Juni 2012.

“Kenapa kamu tidak hadir di acara perpisahan? Sementara aku tidak punya cukup keberanian untuk bertanya langsung kepada kamu sungguhpun lewat telepon atau media sosial.”

Lembar berikutnya, Juli 2012

“Ami cerita ke aku, kalau kamu mau melanjutkan kuliah di Jogja. Entah kenapa, setelah mendengar kabar itu aku merasa ada yang hilang dari diriku. Jujur, aku bingung dengan diriku sendiri, aku merasa aku bukan aku yang dulu. Tiba-tiba saja mataku terasa panas saat mendengar Ami bercerita tentang kamu. Luapan rasa takut akan kehilangan kamu kah? Apa pun itu, jelas tidak masuk akal, sementara di antara kita tidak terikat hubungan apa-apa. Tampaknya aku memang harus bercermin diri untuk sadar, sungguh kamu yang dulu aku benci telah berpindah tempat di hatiku.”

Lembar berikutnya, Juli 2012.

“Candra, maaf banget, sebenarnya aku tidak tega melakukan ini, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak punya kekuatan untuk jujur dengan perasaanku sendiri. Pilihan sulit harus aku ambil, agar aku sepenuhnya mampu melupakan kamu. Hari ini terpaksa aku memblokir semua akun media sosial milikmu, nomor teleponmu juga. Maaf!”

Lembar berikutnya, September 2013.

“Aku rindu berkumpul bersama Sofi dan Ami, semua pada sibuk dengan rutinitas masing-masing. Sahabatku, semoga kalian dalam keadaan baik. Kapan kita hangout?”

Lembar berikutnya, Maret 2014.

“Sesuatu banget! Saat aku pulang, di kamarku sudah ada Sofi. Kedatangan Sofi menjadi penawar rinduku berkumpul sahabat lama, walau dia datang tanpa Ami. Kedatangan Sofi juga membawa aku kembali bernostalgia dengan masa lalu. Hal-hal konyol yang pernah kami lakukan bersama, semua kami ulas, hingga akhirnya pembicaraan kami terpahat pada satu nama, Candra. Ada luka baru menoreh hatiku, ketika Sofi bercerita tentang Candra yang sangat marah saat ia tahu aku telah memblokir semua akun media sosial miliknya. Aku kaget, ternyata cerita tentang Candra yang melanjutkan kuliah di Jogja beberapa tahun yang lalu hanya karangan Ami. Padahal selama ini ia kuliah dan indekos di Padang. Kok Ami bisa setega itu?”

Lembar berikutnya, Desember 2015.

“Setelah sekian lama aku pendam, ini kali pertama aku memberanikan diri bercerita jujur kepada Sofi tentang perasaanku, tentang Candra. Sofi kaget seperti orang melihat penampakan jin tomang mendengar aku bercerita. Ia sama sekali tidak menyangka, sebab di matanya aku dan Candra adalah musuh abadi, Tom and Jerry versi nyata begitu Sofi biasa menyebut kami. Aku juga heran, entah angin apa yang memantik keberanianku, hingga akhirnya aku buka suara pada Sofi, mungkin karena aku sudah tidak sanggup lagi menyimpan kegundahan itu.”

Lembar berikutnya, April 2016

“Aku dan Sofi hangout! Kami berdua janjian di Plaza Andalas. Menjelang siang, Sofi mengajak aku ke arena pameran Padang Fair yang berlangsung di Gor H. Agus Salim. Aku penginnya naik angkot, tapi Sofi ngotot ingin naik taksi, panas alasannya, dasar manja! Hingga akhirnya aku mengalah. Kemudian Sofi mengeluarkan handphone dari dalam tasnya untuk memesan taksi online. Tidak menunggu lama, taksi pesanan kami datang, tapi aku melihat ada gelagat mencurigakan dari rona wajah Sofi. Ya ampuuun! Kecurigaanku benar, untung aku enggak jantungan. Surprise banget, walau tanganku sempat dingin karena grogi. Ternyata Sofi sudah merancang pertemuan aku dan Candra, dengan meminta Candra berpura-pura menjadi sopir taksi online. So sweet! Dan semua pun mencair siang itu, clear! Segala kegundahan aku kupas tuntas bersama Candra, aku berasa terlahir kembali sebagai manusia lama di bumi baru.”

Lembar berikutnya, Mei 2016.

“Candra mengajak aku traveling mengunjungi beberapa objek wisata di Sumbar. Senang banget. Aku suka foto kita yang lagi selfie di dasar air Lubuk Bonta, ekspesi wajah kamu lucu banget!”

Lembar berikutnya, Juni 2016.

“Dinner romantis yang kamu siapkan membuat aku merasa sebagai seorang Putri. Deburan ombak pantai Gandoriah meningkahi degup jantungku yang berdebar kencang. Cahaya lilin dan senandung lagu romantis membawaku terbang jauh ke dunia para pemimpi. Ya, aku seperti bermimpi saat kamu menarik kuntum bunga yang terselip di balik bomber warna abu yang kamu kenakan, kemudian memberikannya kepadaku. ‘Demi mata batin yang mengagum pada keindahan, aku mencintai kamu, Meta.’ Kata-kata itu melayang, tertancap indah, kemudian berdiam pada relung terdalam hatiku, membuat sekujur tubuhku terasa beku dalam suhu terendah. Malam yang indah.”

Lembar berikutnya, Juli 2016

“Siang itu untuk pertama kalinya kamu bertamu ke rumahku setelah kita jadian. Kamu begitu akrab dengan Ibuku. Tak kusangka langkah awal itu menjadi akhir bagi kita, setelahnya tidak setitik pun restu tercurah.”

Kemudian Meta menarik pena yang terselip di bagian tengah buku harian. Seperti menari, ujung jarinya menorehkan tinta pada lembaran kosong.

Lembaran Kosong pertama, Februari 2017

“Kisah kita hampir mirip dengan kisah pemilik nama pantai ini. Kakek yang menceritakannya padaku. Kala itu Anggun Nan Tongga berangkat ke rantau untuk mencari tiga orang pamannya yang tidak kunjung pulang. Anggun Nan Tongga pergi ke rantau meninggalkan kekasihnya yang bernama Puti Gandoriah. Saat berada di perantauan, seorang teman Anggun Nan Tongga berhianat dengan memberitahu Puti Gandoriah, bahwa Anggun Nan Tongga sudah meninggal di perantauan. Puti Gandoriah terpukul mendengar kabar itu. Dalam kesedihannya, Puti Gandoriah bersemadi di gunung Ledang. Seiring putaran waktu, penghianatan itu terbongkar dan Puti Gandoriah mendapati kekasihnya masih hidup, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Bersamaan dengan manisnya pertemuan, Puti Gandoriah dan Anggun Nan Tongga harus menerima pahitnya perpisahan, ternyata mereka saudara sepersusuan yang tidak boleh saling menikah.”

Lembar kosong berikutnya, Februari 2017

“Andai suku[1] bisa dialih, tak kurisau membalut luka agar keping hati tetap utuh. Hari ini adalah hari bahagia kamu dan Ami. Maaf Candra, aku tidak bisa hadir, sungguhpun aku hadir sebagai saudara, sebagai adik, aku tak akan sanggup menyaksikan kamu bersanding dengan sahabatku sendiri, tak akan sanggup! Merindu pada hati yang salah itu menyakitkan, tapi aku ikhlas menikmati semua ini. Bukankah perih harus dinikmati? Agar lukanya terlukis sebagai mahakarya kehidupan yang terpahat indah pada dinding kalbu tanpa kebencian. Sungguh, tidak ada yang salah dengan takdir, walau kegilaan ini telah menenggelamkan aku pada lautan luka.”

Butiran bening jatuh bagai gerimis membasuh lembar terakhir. Perlahan Meta menutup buku harian, memejamkan mata, kemudian berdiri, lalu melemparkan buku harian itu sekuat tenaga ke tengah lautan. “Selamat malam kegelepan,” bisiknya sebelum berlalu.


Bandung, 22 Februari 2017


TM Hendry, s

#Cerpen #Fiksi


[1] Dalam adat Minang tidak boleh menikah sesuku.

Post has attachment
Jika ada orang yang bicara tentang agama, tapi kasar dan provokatif. Sebaiknya anda curiga, jangan-jangan itu Iblis lagi menyamar.😀
Photo

Post has attachment
Waktu tak bisa diputar, dijilat, apalagi dicelupin.

Selamat ulang tahun kalender.🎺😀👏
Animated Photo

Post has attachment
KEMALA

Bocah perempuan berparas ayu dengan pakaian yang sudah kumal melintasi lorong pasar tradisional. Sesekali ia mempercepat langkah, berlari kecil di antara hiruk pikuk pedagang dan orang-orang yang tengah asyik berbelanja. Sudah hampir seminggu, setiap hari bocah berparas ayu itu melintasi lorong pasar, namun tidak ada satu orang pun yang tahu dari mana ia datang, dan ke mana ia hendak pergi. Jika masih sekolah, mungkin bocah itu baru kelas dua sekolah dasar.

“Bocah gelandangan,” celetuk seorang pedagang.

“Anak itu pasti terlahir karena seks bebas,” timpal pedagang lainnya.

“Orang tuanya kelewat kurang ajar, anak masih kecil sudah disuruh mengemis,” sambung pedagang lain.

Langkah pemilik kaki mungil semakin terburu menuju gerbang depan pasar. Melompati genangan air, melintasi tumpukan sampah yang dikerubung laler. Ia tidak peduli sorot mata penuh curiga orang-orang yang menatapnya, karena memang usianya terlalu kecil untuk dicurigai. Lagi pula, di zaman sekarang bukankah kecurigaan telah menjadi pakaian banyak orang? Bukan manusia modern namanya kalau tidak mudah mencurigai, bukan manusia modern namanya kalau tidak gampang memfitnah, bukan manusia modern namanya kalau tidak berpikiran sempit. Bukan modernisasi yang salah, yang barbar itu cara berpikir dan bersikap, banyak orang-orang sok suci, sok paling benar.

Pemilik paras ayu dengan baju yang sudah kumal terus melangkah menuju jalan raya, sambil berlari kecil di atas trotoar, sesekali bocah itu melompat, kemudian membentangkan tangannya seperti sedang menari. Langkah bocah perempuan itu berhenti tepat di depan pagar tinggi sebuah gedung sekolah dasar. Dari balik pagar ia melihat sekelompok anak seusianya tengah berlari riang dengan pakaian seragam yang rapi.

Hampir seminggu, dari pagi hingga siang menjelang, bocah kecil itu menghabiskan waktu di depan pagar sekolah dasar, untuk turut menikmati keceriaan anak-anak seusianya. Melihat saja sudah lebih dari cukup, sekadar tahu, bahwa keceriaan masih ada, belum dihapus oleh sang pemiliknya.

Ketika jam pelajaran di sekolah dasar tersebut selesai dan guru-guru mempersilakan para muridnya pulang, saatnya bagi bocah perempuan berparas ayu beranjak dari pagar sekolah, untuk kembali menuju pasar.

*

Dia tidak pernah meminta-minta, bocah kecil itu bukan pengemis seperti yang disangka kan banyak orang. Dia hanya menumpang hidup di antara ingar-bingar pasar, dia tidak merampas hak orang lain, dia tidak hidup atas belas kasih orang lain. Tapi semua orang yang melihatnya, tanpa pernah mencaritahu, seperti sepakat dengan mangatakan bocah perempuan itu pengemis. Padahal, usianya terlalu kecil untuk tahu, betapa maha dahsyatnya lembaran yang diberi nama uang, usianya terlalu kecil untuk tahu, bahwa uang bisa menjadi sumber kemakmuran, juga bisa menjadi sumber masalah dan pertumpahan darah. Usianya terlalu kecil untuk tahu, bahwa pengaruh uang dapat memperhamba orang. Usianya terlalu kecil untuk tahu, bahwa dia juga anak kandung Ibu pertiwi. Usianya terlalu kecil untuk tahu, dia telah dicampakkan dan diperhinakan oleh iblis berwujud manusia. Usianya terlalu kecil untuk tahu, di dunia ini hanya tinggal sedikit manusia yang punya hati. Sementara yang ia tahu tentang kehidupan tidak lebih dari tiga hal: tidur, makan, dan bermain.

Setiap malam ia menanti pagi pada bangsal pengap tanpa penerangan, tak ada rasa takut, ia tak mungkin takut, karena kegelapan yang pekat adalah Ibunya, sementara ingar-bingar pasar kala siang adalah bapaknya.

Keceriaan masih ada, keceriaan belum mati, dan keceriaan belum dihapus oleh sang pemiliknya. Tapi di mana? Angin malam berhembus tenang menusuk pori-pori. Bocah perempuan berparas ayu menarik lembaran koran bekas yang menjadi selimut dinginnya, perlahan ia memejamkan mata.

*

Pukul sembilan malam, perempuan paruh baya turun dari mobil mewah, ditemani suaminya, ia menelusuri pasar yang sudah sepi. Tampak jari tangan perempuan itu menunjuk ke arah lorong yang minim cahaya.

“Mama ceroboh! Kemala[1] itu harganya selangit. Jika permata itu benaran jatuh, pasti sudah disambar orang.”

“Tenang Pa, apa salahnya kita usahakan mencari dulu, kalau batu itu memang milik kita, tidak akan tertukar jadi milik orang lain.”

“Aaaah, cara berpikir Mama kuno!”

Perempuan paruh baya tersenyum ramah menatap suaminya.

“Mama yakin, batu itu jatuh di sini?” tanya suaminya lagi dengan nada bicara yang mulai rendah.
“Yakin, Pa. Tadi sore Mama buka tas di sini. Waktu itu kantong plastik belanjaan Mama sobek, tiba-tiba ada bocah perempuan datang membantu Mama mengumpulkan barang belanjaan yang tercecer. Wajah bocah itu ayu, sorot matanya teduh seperti menyimpan kedamaian yang hampir punah di bumi ini. Saat itu Mama membuka tas, mengambil beberapa lembar uang, kemudian memberikannya pada bocah perempuan itu, entah kenapa bocah itu tidak mau menerima uang pemberian Mama. Saat Mama tanya namanya, ia menggelengkan kepala, Mama tanya tempat tinggalnya ia terdiam menitikkan air mata.”

Suami perempuan paruh baya tercenung menatap lekat-lekat wajah istrinya.

“Ia bisu?”

Perempuan paruh baya menganggukkan kepala.

Di ujung lorong, tampak siluet mungil melangkah pelan menghampiri mereka, suami istri itu terpaku. Perempuan paruh baya terkesiap, kemudian mendekap erat lengan suaminya, kala kucing hitam tiba-tiba melompat dari atas meja kosong. Siluet mungil makin mendekat, sorot mata senter penjaga pasar memantulkan cahaya dari arah samping. Di ujung cahaya itu berdiri seorang bocah perempuan menjulurkan genggaman tangan kanannya di hadapan perempuan paruh baya dan suaminya. Perlahan bocah perempuan membuka genggaman, di atas telapak tangan mungil, berkilau batu kecil memantulkan cahaya.

Suami perempuan paruh baya semringah, sementara istrinya tersenyum haru. Sambil berjongkok di hadapan bocah perempuan berparas ayu, dengan ujung jarinya yang lembut, perempuan paruh baya melipat telapak tangan jari-jari mungil bocah yang masih membentang dengan batu permata di atasnya. Kemudian perempuan paruh baya mendekap dan menggendong bocah kecil itu penuh kasih sayang.

“Kamu terlalu polos untuk hidup liar seperti ini, kamu terlalu bersih untuk dikotori dunia yang makin tidak ramah. Di sini bukan tempat yang pantas untuk kamu. Dan kami masih punya hati untuk tetap diam, melihat anak sekecil kamu berjuang sendiri menantang dunia.”

Deru mesin mobil mewah membelah kuasa malam yang keji, membawa bocah perempuan berparas ayu menuju kehidupan baru.



Bandung, 20 Desember 2016



TM Hendry, s



[1] Batu yang indah bercahaya


#cerpen #fiksi

Post has attachment
Kebenaran bisa saja disalahkan, tetapi tidak bisa dikalahkan.
Photo

Post has attachment
KORENAH V

(Jin Ifrit)

Mak Ratna histeris ketika mengetahui wajan yang sedang ia gunakan untuk menggoreng ikan, hilang begitu saja di atas tungku.

“Aaaaaaaaaaaaach, auw auw, wajanku!”

Mendengar mak Ratna histeris, pakle Veyz yang tengah merenovasi kandang ayam, berlari secepat bayangan menuju dapur.

“Ada opo toh, mbakyu?” tanya pakle Veyz.
“Anu … wajan hilang.”
“Pasti salah nyimpan.”

“Salah nyimpan opo? Orang tadi wajannya lagi mbak pakai menggoreng ikan. Baru saja mbak tinggal nyuci sendok, pas balik, wajannya sudah hilang, dicuri orang kali ya?”

“Wah … ndak yakin aku ada orang mau mencuri wajan burik bopeng.”

“Sembarangan dik Veyz iki kalau ngomong. Itu wajan bersejarah, kado ulang tahun dari mantan gebetan mbak dulu.”

“Kado ulang tahun wajan? Romantis banget … asmara bumbu dapur!” Pakle Veyz terpingkal-pingkal.

Mak Ratna emosi hingga kebakaran bulu ketek usai diledek pakle Veyz. “Bukan masalah romantis ... ulang tahun ngasih bunga, ulang tahun ngasih coklat, aaaaach, itu cara lama, kuno! Yang super spesial itu anti mainstream, ya ngasih …”

“Wajaaan!” potong pakle Veyz sambil menunjuk ke arah lemari.

“Ngeledek lagi ya!” ucap mak Ratna mengacungkan sendok penggorengan.

“Bukan, itu wajan!”

Kemudian ekor mata mak Ratna mengikuti arah telunjuk pakle Veyz.

“Buju buset!”

Mak Ratna dan pakle Veyz kaget melihat wajan berisi minyak dan ikan, tergeletak di atas lemari yang berada di ruangan tengah.

“Dasar maling kurang kerjaan,” umpat mak Ratna.

Kemudian pakle Veyz bergegas keluar. Hanya sebentar, pakle Veyz kembali ke dalam rumah menenteng tangga bambu. Ketika hendak meletakkan tangga di samping lemari, pakle Veyz terkesiap. Ada Andri tertidur pulas di atas karpet yang terhampar persis di depan lemari.

“Waduh, ini bocah pulang sekolah bukannya ganti baju, malah molor,” gumam pakle Veyz. “Le, bangun!” Andri yang masih mengenakan seragam putih merah, anteng mendengkur.

Setelah berhasil membangunkan Andri, pakle Veyz menurunkan wajan, kemudian mengembalikannya ke tungku dapur.

*

Andri berlari kecil di halaman rumah, sambil menggendong tas berisi buku pelajaran di punggungnya, siswa kelas lima SD Negeri Suka Gitu tersebut bernyanyi-nyanyi riang. Di pintu masuk rumah, Andri berpapasan dengan pakle Veyz.

“Le, kalau pulang sekolah ganti baju dulu, makan, abis itu kalau mau tidur siang, baru tidur siang ya.”

“Iya, Pakle,” balas Andri singkat.

Andri mengikuti nasihat pamannya, setelah ganti baju dan makan, kemudian bersiap-siap tidur siang. Saat hendak tidur, Andri dikagetkan oleh suara teguran pakle Veyz.

“Ooops, tunggu dulu! Mau tidur ya?”

“Iya, Pakle.”

“Ingat pesan pakle tadi enggak?”

“Ingat, pakle nyuruh ganti baju, sama makan dulu sebelum tidur siang.”

“Udah ganti baju?”

“Udah.”

“Udah makan?”

“Udah.”

“Kok celananya enggak diganti?”

“Ooo, sama celana juga ya, Pakle?”

Pakle Veyz melongo.

Lima belas menit kemudian.

Pakle Veyz iseng mengintip Andri dari pintu masuk, untuk sekadar memastikan apakah keponakannya tersebut sudah mengikuti nasihatnya. Pakle Veyz senyum bangga, Andri sudah mengganti baju dan celana seragamnya sebelum tidur siang. Ketika hendak balik badan, pakle Veyz merasakan sesuatu yang aneh.

“Ini pintu rumah, kok mirip banget sama pintu kandang ayam,” gumam pakle Veyz. Kemudian pakle Veyz berlari ke belakang menuju kandang ayam. Mata pakle Veyz terbelalak, ternyata penglihatannya benar, pintu kandang ayam tertukar dengan pintu rumah.

“Waduh, kerjaan siapa ini?” batin pakle Veyz. “Mbak! Mbakyu!” pakle Veyz berlari menuju dapur sambil memanggil mak Ratna.

“Ada apa toh dik Veyz?”

“Mbakyu yang nukar pintu kandang ayam sama pintu rumah?”

“Nukar opo?”

Keanehan sehari sebelumnya kembali terulang. Kemarin wajan pindah dari tungku ke atas lemari, sekarang pintu masuk rumah tertukar dengan pintu kandang ayam, dan ini drama banget, drama Pintu Yang Ditukar.

“Ini enggak mungkin kerjaan maling,” ucap mak Ratna. “Ini pasti kerjaannya jin.”
“Jin tomang?”
“Jin iprit!”
“Walah dalah.”

Hari berikutnya kembali terjadi keanehan yang sama. Sofa ruang tamu pindah ke sumur, isi lemari piring tertukar dengan isi lemari baju, kandang ayam pindah ke kandang kambing, kambing pindah ke kandang bebek, bebek pindah ke kandang sapi, sapi pindah ke kandang kerbau, kerbau pindah ke pluto.

Sebuah tanya tak terjawab, orang iseng atau benarkah jin Iprit yang membuat ulah? Mak Ratna dan pakle Veyz mulai kelimpungan menyikapi segala keanehan yang terjadi. Hingga sebuah pertanyaan muncul di kepala pakle Veyz.

“Kenapa semua keanehan itu terjadi selalu ketika Andri sedang tidur?”

Saat pakle Veyz menyampaikan pertanyaan itu kepada mak Ratna, terjadi perdebatan. Mak Ratna menolak mentah-mentah kecurigaan pakle Veyz yang menduga bahwa Andri pelaku dari semua keanehan yang terjadi.

“Yo ndak mungkin Andri melakukan itu?”
“Aku kan cuma menduga saja, mbakyu. Ndak ada salahnya kita buktikan dulu. Besok kalau si Tole tidur siang kita pantau.”
“Yo wes.”

Siang berikutnya.

Setelah Andri mengganti baju sekolah dan makan, mak Ratna dan pakle Veyz mulai melakukan pemantauan. Mak Ratna bersembunyi di balik sofa, pakle Veyz bersembunyi di Singapore (kejauhan ya?) pakle Veyz sembunyi di balik lemari.

Tampak Andri mulai mengusap-usap mata seperti orang mengantuk, kemudian duduk, jongkok, nungging, abis itu terkapar di atas karpet ruang tengah.
“Zzzzzzzzzz”
Sepuluh menit kemudian Andri berdiri, dengan mata terpejam ia melangkah menuju belakang rumah, sampai di belakang rumah ia meraih ember, lalu melangkah menuju tali jemuran.

Mak Ratna dan pakle Veyz terbungkuk-bungkuk mengikuti Andri. Saat Andri hendak memindahkan jemuran berikut tiang-tiangnya ke dalam ember, mak Ratna menggumam.

“Ternyata ini Jin Iprit-nya.”

Secepat bayangan mak Ratna dan pakle Veyz berlari mendekati Andri.

“Le, banguuuuuuun!”

*

Mak Ratna dan pakle Veyz membawa Andri ke Mantri untuk diperiksa.

“Anak Ibu mengalami somnabulisme, sleepwalking.”

“Rebusme kepiting itu penyakit, pak?” tanya mak Ratna bersemangat.

Mantri nyengir sebelum kembali menjelaskan. “Artinya gangguan tidur atau suka berjalan dan melakukan sesuatu saat tidur. Tapi Ibu tidak usah khawatir, gangguan tersebut tidak berbahaya dan akan menghilang dengan sendirinya saat anak Ibu memasuki usia remaja.”

“Lah walah dalah! Pak Mantri bilang tidak berbahaya?”

“Ya, gangguannya memang tidak berbahaya.”

“Tidak bahaya pigimana?” balas mak Ratna ketus. “Wajan yang lagi dipakai buat menggoreng ikan dipindahin sama anak saya ke atas lemari. Pintu depan rumah diganti sama pintu kandang ayam. Saat pakle-nya lagi mandi, kamar mandi dipindahkan sama anak saya ke depan rumah pak Lurah. Kemarin yang terakhir, kamar saya mau dipindahkan ke lapang bola, enggak bahaya bagaimana maksud Bapak? Apa pak Mantri mau tanggung jawab jika tiba-tiba rumah saya satu-satunya dipindahkan oleh anak saya ke Alaska, kami kan enggak bisa bahasa Amirika (Amerika). Di sana mana ada yang jual ikan asin, kalau saya pengin makan ikan asin, mau beli di mana? Mikir dong pak Mantri!”

Pak Mantri mangap-mangap, kejang-kejang, kemudian matahari merah jambu dalam bahasa Inggris (baca: pink sun).

Menyerahnya Mantri mengobati Andri, tidak membuat mak Ratna ikut menyerah mencari jalan, agar penyakit keluyuran saat tidur anak semata wayangnya itu bisa sembuh. Berbekal info dari tetangga, mak Ratna mendatangi rumah orang setengah pintar, namanya Taat Pribumi, dari info yang didapat mak Ratna, konon katanya ki Taat Pribumi punya kemampuan menggandakan tokek.

Mak Ratna ditemani pakle Veyz membawa Andri ke tempat praktek Ki Taat Pribumi. Suasana angker mulai terasa ketika mereka menginjakkan kaki di halaman rumah. Aroma magis, aroma mistis, juga aroma theraphy.

Kehadiran mak Ratna, pakle Veyz, dan Andri disambut langsung oleh ki Taat Pribumi.

“Saudara mau menggandakan apa?” tanya ki Taat Pribumi.

“Keponakan saya, ki,” balas pakle Veyz spontan.

“Buju buneng! Dik Veyz apa-apan sih,” mak Ratna memelototkan matanya ke arah pakle Veyz. “Begini, Ki. Anak saya ini kalau tidur suka bikin rusuh, kadang jalan-jalan, ya traveling begitulah.” Mak Ratna bercerita panjang lebar kepada ki Taat Pribumi tentang penyakit sleepwalking Andri.

Setelah batuk dan membakar menyan, ki Taat Pribumi berkata.

“Saya punya solusi untuk anak Ibu.”

Kemudian ki Taat Pribumi membawa Andri ke ruangan khusus. Lima belas menit berada di ruangan khusus, ki Taat Pribumi dan Andri keluar.

“Bagaimana, Ki … anak saya sudah sembuh?”

“Sudah! Barusan anak Ibu sudah saya gandakan, yang aslinya sudah saya kempeskan, nah ini duplikatnya sila bawa pulang. Kalau bisa sekarang juga Ibu bawa, sebelum tampat praktek saya ini hancur gara-gara anak Ibu.”

“Iya, iya, Ki ... berapa bayarnya?” tanya mak Ratna.

“Enggak usah bayar!” balas ki Taat Pribumi dongkol.

Bagaimana tidak dongkol, ketika masuk ruangan khusus tempat ki Taat Pribumi berpura-pura mengobati pasiennya, Andri malah tidur, sleepwalking sambil mengacak-ngacak ruang praktek ki Taat Pribumi, Tengkorak palsu yang terpajang di atas meja, ia coret-coret menggunakan spidol permanen, dibubuhi kumis, jenggot, juga alis palsu. Lemari, dinding dan lantai semua berantakan tidak berbentuk.

Mak Ratna, pakle Veyz, dan Andri tergopoh melangkah keluar dari ruangan ki Taat Pribumi. Saat berada di depan pintu, Andri terdiam.

“Kenapa kamu, le?” tanya mak Ratna.

“Sebentar, mak sama pakle tunggu di sini.”

Lima menit kemudian Andri kembali.

“Abis dari mana kamu, le?” tanya pakle Veyz penasaran.

“Abis mindahin ki Taat Pribumi ke sel MABES POLRI,” jawab Andri santai.

*

Cara sederhana yang terlupakan oleh mak Ratna dan pakle Veyz terbukti ampuh membuat Andri lepas dari kebiasaan sleepwalking. Seperti baru tersadar, kekuatan doa melebihi dahsyatnya ledakan bom atom. Rajin berdoa sebelum tidur, setelahnya Andri tidak lagi mengalami sleepwalking.


Bandung, 22 Oktober 2016


TM Hendry, s

#cerpen   #fiksi   #komedi  

cc Pakle +veyz el abadi mak +Ratna Nindyasiwi mas +Andri Rahman Hakim Semoga semua dalam keadaan baik.:)
Wait while more posts are being loaded