Shared publicly  - 
 
Blog Crosspost / Provok-a-post

Masih perlukah pendidikan formal untuk mereka yang berjuang di bidang web? Apakah lebih penting pengalaman dan usaha yang telah dibuat sebelumnya? Terus terang, saya tidak cukup hebat untuk belajar sekaligus membuat. Salah satu harus dikorbankan. 4~6 tahun, dibandingkan pengalaman nyata.

Untuk catatan, saya memilih pengalaman nyata (setelah 2 tahun keburu dihabiskan untuk pendidikan formal).
Translate
Saya ajak kamu berpikir tentang perlunya pendidikan formal, dan tentang pentingnya "membuat" untuk bersaing di dunia web sekarang ini. Intinya? Jangan takut gagal. When in doubt, do it.
1
Rizqi Djamaluddin's profile photoTaruma Megariansyah's profile photoPradipa P. Rasidi's profile photoLizard Wijanarko's profile photo
13 comments
 
Menarik. :-?

Sebetulnya saya selalu kepikiran, apakah web development (dan, mungkin, computer science secara garis besar, meski saya yakin tidak bisa digeneralisasi sedemikian sederhananya) memang bisa "lepas" dari mengandalkan kuliah formal. Karena, pikir saya, berkebalikan dengan kuliah seperti, misalnya ilmu politik yang perlu basis teoritis kuat, apa yang diterapkan di development web tampak sangat berupa ilmu terapan. Ya tentunya ini pendapat awam (tidak kuliah di jurusan terkait), jadi sangat bisa salah. :P

Saya kemudian bertanya-tanya, apakah kuliah yang spesifik khusus untuk membedah web development itu masih diperlukan. Apalagi, belakangan ini muncul kuliah-kuliah online yang diwadahi institusi ternama (kalau tidak salah Cambridge pernah, tapi saya agak lupa, CMIIW).

Ya tentu saja ini kalau bicara tentang "materi" yang diberikan ketika kuliah dan bagaimana mahasiswa/pelajar memperoleh dan mempraktekkan apa yang dia dapat. Lain cerita kalau tentang membangun kinerja kelompok...

...atau ijazah. :P

Di Indonesia, saya pernah [ralat: sering] lihat ada lowongan dan rekrutmen-rekrutmen web development, menyertakan syarat: sarjana ilmu komputer/sistem informasi.
Translate
 
Seperti kutipan Jeff Atwood yang saya pakai di post ini, masalah utama dengan memanfaatkan "kuliah" untuk mempelajari ilmu ini adalah... cepatnya perubahan ilmu ini. Coba lihat saja - 4 tahun lalu:
- jQuery baru direlease (Jan 06)
- Wordpress masuk versi 2.1 (Jan 07), implementasi autosave
- Ruby on Rails masuk versi 1.2 (Jan 07), implementasi fitur modern
- Ubuntu release versi Gutsy Gibbon 7.10 (Okt 07)
- Windows Vista masuk pasar (Jan 07)
- Firefox sekitar versi 2 (Okt 06)
- Google Chrome belum ada (Sept 08)
- IE7 menghilangkan syarat anti-bajakan untuk install (Okt 07)

Seseorang yang mempelajari ilmu membuat website pada 4-5 tahun lalu, kemudian sekarang baru mulai, akan amat sangat tertinggal. Hampir semua yang diajari saat itu sudah irrelevan; Javascript diganti jQuery, support CSS membesar dan menghilangkan model inline, CMS besar dan efektif mulai berkeliaran, browser-browser dengan support standar baik muncul.

Bahkan, gerakan menghilangkan table layout juga tengah terjadi saat itu (http://en.wikipedia.org/wiki/Tableless_web_design - sebagian besar link berada di tahun 2005-2009).

Jadi iya, sulit mengandalkan semua pengetahuan itu. Ada 2 pilihan: dosen setiap tahun mengubah materinya, atau dosen mempelajari sesuatu dan mengajarkannya bertahun-tahun ke depan. Keduanya... agak berat.

Di sisi lain, di antara yang disebut mas +Riyogarta P, ilmu "dasar" seperti algoritma dan desain database memang cukup berguna. Meskipun demikian, saya merasa kalau seseorang dengan tekad yang cukup juga bisa mempelajari hal ini secara online (atau, dengan cara saya, mencari mentor untuk mengajarkannya).

Saya setuju, bidang komunikasi desain sangat kurang, apalagi di Indonesia. Sangat, sangat kurang. =/
Translate
 
Oh, dan soal bagian terakhir +Pradipa P. Rasidi - biasanya, tipe atasan yang menuliskan syarat seperti itu juga bukan tipe yang disukai para perancang/pengembang, karena bawaannya adalah "kamu kan ahli, ini tugasmu, yang penting jadi, ditunggu minggu depan hari kamis."

:p
Translate
 
apapun ilmunya, minumnya... :D

Kadang-kadang orang mengambil pendangan kalau kualitas seni ciptaan seseorang berbanding lurus dengan pendidikan/nilai/lulusan orang itu. Dan biasanya juga orang itu nggak ngerti tentang pentingnya desain UX atau semacamnya.

Cukup menyedihkan, apalagi karena biasanya orang seperti ini hanya seorang sekretaris yang disuruh oleh pimpinan... mencari subkontraktor untuk proyek besar dan mahal. =/

Saya berharap orang-orang mulai lebih menghargai kualitas desain.
Translate
 
Itu sih saya setuju. :p

Makanya kan, lihat porfolio sebelum lihat pendidikan. :D
Translate
 
Mungkin masalah percaya diri juga. Banyak orang Indoneisa yang merasa kalau dia tidak memiliki kemampuan seni yang baik, padahal potensi itu ada. Tidak ada yang membantu dia mendorong potensi itu... Karena, ya, orangtua dan guru kan bawaannya "jadi dokter/pilot/insinyur ya!"

Saya malah pernah bertemu seseorang yang sangat sukses melatih anaknya bermain piano di sebuah tempat les. Saya memuji kreativitas dan kemampuan seni anak itu, tapi ini kata ayahnya:

"Saya tidak mau dia terlalu sibuk dengan pianonya. Dulu saya suruh dia les supaya bisa bangga dibandingkan orangtua teman-teman sekelasnya. Sekarang dia malah sibuk dengan itu, jadi susah les jaminan masuk UI-nya."

Anak ini masih kelas 6 SD.
Translate
 
+1 +1 +1!

Sayang ya, di budaya kita masih belum menyadari itu. Seakan-akan lebih baik berhemat dan membuat sesuatu yang buruk asal jalan, daripada membayar lebih untuk sesuatu yang luar biasa. =/
Translate
 
Maaf sebelumnya, Saya malah sempat bingung kalau ada yang ikut pendidikan formal untuk buat web? Web kan cepet banget berkembang, silabus/kurikulum pendidikan formalkan tergolong lambat dan susah untuk diubah-ubah. :P Tapi, sepertinya, pendidik dari bidang teknologi web juga pasti memikirkan masalah ini juga. Cuman, solusinya belum kelihatan ajah kali yah? hehe. :D

hmmm. bicara seni yah? :) Saya sih orang yang membuat karya apapun yang menunjukkan keunikan dan keahlian, yah bisa saya sebut seniman. atau sebutan di bidang keahliannya, semisal dokter, insinyur, programmer, web developer, dll. Lah, kalau lulus di pendidikan formal, setidaknya pernah membuat skripsi yang identik dengan keorisinalitas dan keahlian, yah yang lulus adalah seniman di bidangnya masing-masing. :) #ngelantur
Translate
 
Dari sudut pandang para pemraktek, memang sangat konyol ada pendidikan untuk membuat web. Solusinya sih nyata - ikuti tutorial online, karena pada dasarnya ilmu ini harus diterapkan langsung.

Masalahnya, untuk bidang ini, desain memiliki kaitan langsung dengan keberhasilan. :D
Translate
 
Mungkin ntar dibuat mata kuliah khusus untuk web. Gak ada kuliahnya, yang ada cuman tugas besar doang. wkwkwk. :D
Translate
 
Hmm, sebentar, saya mau melipir. Kenapa desain dimasukkan ke dalam kategori "seni rupa"?

Betul, memang desain itu erat kaitannya dengan estetik. Yang juntrungannya mesti terkait pula dengan seni. Tapi saya kira lebih daripada itu. Kalau saya pernah baca, desain itu lebih ke arah mix antara "seni" dengan "industri". Karena tujuannya: menyampaikan pesan, dan dalam konteks komersialisasi. Seni tidak mesti selalu komersil. Tapi desain, pasti.

Dan perkara bidang "komunikasi desain", bukankah dengan sendirinya desain itu "berkomunikasi"?

Masalah kurangnya yang mewadahi di Indonesia, setahu saya jurusan Desain Komunikasi Visual sudah banyak. Begitu pula di Ilmu Komunikasi. Kalau di UI, misalnya, jurusan Ilmu Komunikasi sudah mulai mencakup desain (termasuk desain web) sebagai bagian kurikulumnya. Jadi saya agak tak mengerti kenapa "komunikasi desain" itu disebut masih kurang, karena pikir saya komunikasi itu faktor yang inheren dalam desain.
Translate
 
Meski saya juga mikir, "apakah perlu kuliah untuk mendesain web," cuma saya merasa mungkin nggak se"konyol" itu bila desain web diformalisasi (dijadikan mata kuliah tertentu).

Setahu saya, kurikulum memang bisa berubah tiap tahun.

Kalau kasusnya di departemen saya (Ilmu Politik), kurikulum secara general selalu diperbaharui dan dikontekstualisasi dengan perkembangan yang ada secara umum. Paling tidak, haluan garis besarnya lah. Untuk detilnya dalam mata kuliah masing-masing, tergantung dosen. Saya pikir di Ilmu Komunikasi dan DKV juga seperti itu.

Nah untuk bagaimana supaya mahasiswa/pelajar tidak ketinggalan dengan perkembangan web yang sangat cepat, setahu saya juga mereka tidak sekedar teori saja. Tapi memang juga dipraktekkan--dan juga harus rajin mencari-cari bahan sendiri. Lagi, pembandingnya, kalau di departemen saya, meski dapat teori-teori dan dasar-dasar ilmu politik, kalau nggak rajin cari literatur lain di luar kuliah, ya bakal jalan di tempat. Saya pikir mirip dengan desain web sebagai kuliah: tidak bisa mengandalkan materi kuliah semata, mesti cari sumber lain.

Karena itu rasanya tidak terlalu "aneh" kalau ada wujud formal dalam desain. Bagaimana pun, tiap bidang ilmu kan perlu acuan akademis, bukan sekedar praktek saja.

*

Saya memang melihat kemungkinan apakah desain web bisa lepas dari kuliah formal, mengingat memang bidang ini sangat ilmu terapan sekali. Tapi rasanya belum perlu sampai mereduksi gunanya kuliah desain web ke titik nol.
Translate
 
In a nutshel perlu. namun pada kenyataanya tidak semua sekolah / kampus paham kebutuhan dunia industri so kadang mis komunikasi dan mengarah pada sistem kebijakan. bahkan ada yang bilang itu sudah lumrah...

+Pradipa P. Rasidi : aku ngikut ae wes... hahahaha
Translate
Add a comment...