Profile

Cover photo
Nick Yudhawinata
Attends STT Mandala Bandung
Lives in Bandung, Jawa Barat, Indonesia
724 followers|52,427 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
Membongkar Kebusukan Media

Busuk, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti rusak, buruk, jelek. Kebusukan dimaknai sebagai keburukan, kejahatan, kejelekan. Nah,  bagaimana kebusukan media pro Jokowi? Lagi-lagi kita tak bisa menilai dengan asumsi semata. Sebagai media, kita perlu membongkarnya dengan studi yang relevan dengannya. Kita bisa membongkarnya dengan studi akuntabilitas media. Studi tentang bagaimana pertanggungkawaban media kepada publik

Guru komunikasi,  D McQuail (2000),  penulis buku “McQuail’s Mass Communicatiin Theory” secara normatif  membagi dua jenis akuntabilitas,  internal dan eksternal. Internal merujuk kepada pengawasan media itu sendiri. Eksternal terkait dengan berbagai pihak di luar media. Sasa Djuarsa (2014) menilai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menyoal akuntabilitas media, diantaranya (1) hukum dan regulasi (law and regulation), (2)  tanggungjawab publik (public responsibility) dan  (3) tanggungjawab pers (professional responsibility).

Persoalan akuntabilitas internal, barangkali bukan hal yang begitu menarik untuk dibahas. Kenapa? Sebab ini menyangkut dapur media masing-masing.  Semuanya adalah pilihan, apalagi dikaitkan dengan  perkembangan politik terbaru. Kita bisa melihat media-media pro Jokowi semisal Jakarta Post, Beritasatu atau Media Indonesia. Apa boleh buat, keberpihakan mereka untuk mendukung penuh Jokowi sudah kita saksikan.  Memang, dalam ruang redaksi pasti terjadi tarik menarik kepentingan, hanya saja sepertinya dominasi pemilik modal (pemilik media) begitu punya kuasa sehingga pasukan dan awak media mau tak mau harus membebek, harus mengikuti instruksi pemilik media.

Yang menarik tentu membacanya dalam studi akuntabilitas eksternal. Misalnya kita bisa membaca dalam ranah hukum dan regulasi. Seperti dalam alam demokrasi, sebuah berita atau informasi yang dihasilkan harus dipandang sebagai “Public Good” sehingga mesti mengabdi kepada  kepentingan umum. Tapi bagaimana prakteknya? Alih-alih mengabdi kepada kepentingan umum, media-media pro Jokowi hanya mengabdi kepada “tuannya”.

Dalam persoalan tanggungjawab publik, wartawan semestinya memberitakan sesuatu yang dipandang penting untuk publik. Prakteknya bagaimana? Yang terjadi adalah pemberitaan  hal remeh-temeh seputar Jokowi.  Publik sebenarnya haus dengan pemberitaan-pemberitaan yang substantif.  Misalnya, berita-berita sebenarnya apa sih prestasi-prestasi Jokowi yang patut diteladani dan membuat bangga bangsa? Yang terjadi saat ini justru  hanyalah permainan  politik citra semata.

Selanjutnya, mengenai tanggungjawab pers, hal ini terkait dengan kode etik profesi di bidang jurnalistik yang mengatur tentang boleh atau tidak boleh, pantas atau tidak pantas yang perlu dilakukan oleh wartawan.  Prinsip yang paling penting dijaga tentu keberimbangan. Saya sepakat dengan prinsip media boleh berpihak yaitu melalui “Editorial” tapi dalam pemberitaan tetap harus berimbang.  Apakah pemberitaan tentang Jokowi dimedia-media itu berimbang? Sepertinya sangat jauh dari harapan. Suka atau tidak suka inilah wajah yang  nampak dari media-media pro Jokowi.

Lantas, di mana  sebenarnya letak kebusukannya?  Kita bisa meminjam konsep Paul Johnson (1997) penulis buku “The Media and Truth”. Paul pernah mendedahkan bagaimana dosa-dosa media dilakukan dalam dunia pers. Nah, setidaknya ada beberapa hal dosa media yang menandai kebusukan media pro Jokowi, diantaranya:

Pertama: Distorsi Informasi. Terkait dengan menambah atau mengurangi informasi. Kita bisa menyaksikan bagaimana Jokowi digambarkan sebagai sosok yang sempurna dan tak pernah salah di mata media-media pro Jokowi. Tidak ada keberimbangan. Hasilnya, media semacam itu hanya menyajikan berita-berita pujian semata. Sebuah wajah media yang kehilangan daya kritisnya. Wartawan seolah hanya menjadi corong pemilih media yang otomatis menjadi corong penguasa.

Kedua: Penyalahgunaan Kekuasaan (Abuse of Power). Yang namanya penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan kekuasaan bukan hanya terjadi di lingkungan pejabat pemerintahan semata. Tetapi juga bisa dilakukan ooleh pemilik media. Apa boleh buat, media-media tersebut memang sudah memutuskan untuk menjadi corong penguasa.  Barangkali mereka tak merasa “berdosa” melakukan kongkalikong demikian. Tapi, publik bisa menilai bagaimana kualitas produk jurnalistik media yang seharusnya pers mengontrol penguasa, yang terjadi kemudian sebatas mengabdi kepada penguasa.

Ketiga: Pembunuhan Kharakter. Pembunuhan kharakter tentu saja terkait dengan lawan-lawan politiknya. Kita bisa melihat bagaimana media-media pro Jokowi yang keras dalam melakukan pembunuhan kharakter, terutama, tentu saja pembunuhan kharakter kepada Prabowo maupun lawan politik Jokowi di  Koalisi Merah Putih (KMP).  Bagaimana fakta sebenarnya? Ternyata perkembangan terbaru, tak ada misalnya upaya penjegalan dalam pelantikan Jokowi dan secara kesatria, berjiawa negarawan, Prabowo-Hatta dengan gagah menghadiri pelantikan dan memberikan hormat kepada presiden terpilih itu. Apakah media-media pro Jokowi memberikan apresiasi terhadap fakta demikian? Tentu tidak.

Inilah beberapa kebusukan media pro Jokowi yang bisa kita saksikan sekarang. Dengan demikian, media-mediia semacam itu tentu saja tidak layak menjadi rujukan. Kita, warga negara, haus dengan pemberitaan-pemberitaan yang benar dan kritis terhadap penguasa. Sementara media-media semacam itu tentu saja tak akan pernah menghilangkan dahaga warga. Itulah sebabnya, kita perlu mencari, membaca media-media yang lebih obyektif, berimbang dan memberitakan kebenaran apa adanya.
 ·  Translate
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
Portal Berita Aktual, mengulas soal perkembangan dunia Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Pemilu, Capres dan Budaya hingga Wisata Hati Paling Rileks di Indonesia,www
2
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
Keberangkatan tim investigasi dalam rangka mencari jati diri Joko Widodo yang sebenarnya sengaja dirahasiakan demi alasan keamanan anggota tim dan mencegah antisipasi dari pihak - pihak yang berada...
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
2
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
TANDA-TANDA KEMATIAN |

Allah telah memberi tanda kematian seorang muslim sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian.

Tanda 100 hari menjelang ajal :
Selepas waktu Ashar (Di waktu Ashar karena pergantian dari terang ke gelap), kita merasa dari ujung rambut sampai kaki menggigil, getaran yang sangat kuat, lain dari biasanya, Bagi yang menyadarinya akan terasa indah di hati, namun yang tidak menyadari, tidak ada pengaruh apa-apa.

Tanda 40 hari menjelang kematian :
Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur. Malaikat maut akan mengambil daun kita dan mulai mengikuti perjalanan kita sepanjang hari.

Tanda 7 hari menjlang ajal :
Akan diuji dengan sakit, Orang sakit biasanya tidak selera makan. Tapi dengan sakit ini tiba-tiba menjadi berselera meminta makanan ini dan itu.

Tanda 3 hari menjelang ajal :
Terasa denyutan ditengah dahi. Jika tanda ini dirasa, maka berpuasalah kita, agar perut kita tidak banyak najis dan memudahkan urusan orang yang memandikan kita nanti.

Tanda 1 hari sebelum kematian :
Di waktu Ashar, kita merasa 1 denyutan di ubun-ubun, menandakan kita tidak sempet menemui Ashar besok harinya.
Bagi yang khusnul khotimah akan merasa sejuk di bagian pusar, kemudian ke pinggang lalu ketenggorokan, maka dalam kondisi ini hendaklah kita mengucapkan 2 kalimat syahadat.

Sahabatku yang budiman, subhanAllah, Imam Al-Ghazali, mengetahui kematiannya. Beliau menyiapkan sendiri keperluannya, beliau sudah mandi dan wudhu, meng-kafani dirinya, kecuali bagian wajah yang belum ditutup. Beliau memanggil saudaranya Imam Ahmad untuk menutup wajahnya. SubhanAllah. Malaikat maut akan menampakkan diri pada orang-orang yang terpilih. Dan semoga kita menjadi hamba yang terpilih dan siap menerima kematian kapanpun dan di manapun kita berada. Aamiin.
 ·  Translate
3
1
ratiman men's profile photo
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
2
Add a comment...
Have him in circles
724 people
abel lie's profile photo
Abigail Dunn's profile photo
Никита Барин's profile photo
Benjamin Abad's profile photo
Ronald Steiner's profile photo
Abu Alwi's profile photo
Tracy Coleman's profile photo
siti nurjanah's profile photo
Ibnu Sugiarto's profile photo

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP)  adalah sebuah cerita remaja yang pertamakali saya tulis dalam bentuk cerpen sebagai tugas mata kuliah Sastra Populer 1992 di Fakultas Sastra UI. Mengapa saya menulis ...
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
By Jurnal Malang Di abad informasi seperti saat ini media massa sudah menjadi kekuatan dahsyat pembawa berita bahkan menjadi kiblat informasi publik. Kanan kata media maka kecil kemungkinan publik ...
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
3
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
3
Add a comment...
People
Have him in circles
724 people
abel lie's profile photo
Abigail Dunn's profile photo
Никита Барин's profile photo
Benjamin Abad's profile photo
Ronald Steiner's profile photo
Abu Alwi's profile photo
Tracy Coleman's profile photo
siti nurjanah's profile photo
Ibnu Sugiarto's profile photo
Education
  • STT Mandala Bandung
    present
Basic Information
Gender
Male
Looking for
Friends, Networking
Relationship
It's complicated
Story
Tagline
Hidup itu sulit,, so jangan di bikin sulit dengan hal2 yang tak penting untuk di pikirkan.
Introduction
hai...km mencari saya? yuup tepat sekali sbb saya ada disini
Bragging rights
be myself
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Links
Other profiles
Contributor to