Profile

Cover photo
Nick Yudhawinata
Attends STT Mandala Bandung
Lives in Bandung, Jawa Barat, Indonesia
723 followers|53,443 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 

Dulu... Duluuuuu bangetttttt.. !!!!!!! Gue pernah diputusin pacar via sms..
Rasanya Tuuuh Sakit ! Marah ! Mual ! Perih ! Kembung ! Mencret² Gtuuh !
Gue balesin...
Gue ketik kata-kata keji ke dia, Dua lembar ..!
Gue kirim... Eh Gagal...
Kirim lagi...
Eh Gagal lagi...
Gue ngotot..!!!
Kirim lagi...
Eeeh... gagal lagi...!!!
Cek *111#...
Aaargh sempak betmen... Pulsa Gue Tinggal Rp. 3.
Gue ke konter Buat Isi pulsa.
Pulsa udah Terisi Rp.5003
Gue Ketik sms Lagi.
Kata² keji lagi...
Kali ini 3 lembar...
Biar puas Tuntassss..!!!
Gue pencet tombol kirim.
Tiba-tiba, hape mati... Batree lowbet..!
Gue pulang...
Nyari cas-casan.
Cas-casannya ilang ntah Kemana.
Terpaksa balik ke konter beli cas-casan.
Pulang lagi...
Sampai di rumah merapat ke colokan listrik.
Siap-siap ngecas...
cuuuzzz weeeeerrr...
Tiba-tiba listriknya mati...
Banting hape ke dinding.
Hape mental, Dinding ambrol...
Gue diusir...
Gue Keluar
Di jalanan sepi, gue sendiri, sunyi, sengsara merana galauuuuu..!!!
Hidup gue hancur udah gak penting.
Pengen mati. Bunuh diri.
Terjun dari jembatan. Jembatannya terlalu
tinggi...
Gue gak berani...
Coba silet nadi. Silet ga punya...
Beli baygon, baygonnya kadaluarsa, takut keracunan.
Kebetulan di jalan, ketemu polisi.
Gue deketin, pengen pinjem pistolnya, buat nembak diri.
Gue tanya. "Bawa pistol gak" ?
Dia diem. Cuek! Gue langsung raba-raba tubuhnya, nyari pistol, tapi ga ada... Ya udah,
gue tinggalin aja... polisi tidur itu...
Lalu gue berdiri diam di tengah jalan.
Sambil berharap Apriani lewat, dengan xenia mautnya Nabrak gue... Braaaaakkkkk... !!!!
Lalu selesai, semua masalah...
Tapi sia2...
Yang lewat justru bus AKAP, ngebut !
Ya udah gak apa apa, rotan gak ada akar pun jadi,
ga ada xenia, bus juga boleh...
Gue pasrah...
Berharap ditabrak brutal...
Bus makin dekat, 5 meter lagi, tapi bego, bus malah belok kanan, milih nabrak pohon akasia, ketimbang gue...
sialan...,
Gak fair !!!
Gue dongkol... ...
Gue labrak si sopir:
"Nabrak orang yang lagi diem aja ga kena ! ...
Punya mata ga sih !
Dasar sopir goblok!!!!!
Gue pergi...
Ke kantor gubernur. Nyari tiang bendera.
Ambil talinya. Gue mau bunuh diri, dengan cara lain.
Klasik tapi spektakuler: gantung diri, pake tali
tambang..!!!
Di pohon jambu air, depan rumah pacar, pacar yang mutusin gue !!!
Biar hantu gue gentayangan disana !!!
Gue segera ke sana.
Bawa tali tambang.
Gue pandangi si pohon jambu air.
Hati ini haru......
Inilah akhir hidup gue. Di pohon ini, seorang lelaki ganteng tewas karena kasus asmara !!!!
Gue udah siap-siap manjat.
Mau pasang tali. Tapi mendadak pohonnya tumbang !
Hufffffff...
Kenapa selalu gagal?!
Kenapa?!
Gue marah.... !
Marah Banget... !
Gue putus-putusin tali.
Gue campakin ke comberan.
Gue langsung pergi.
Baru beberapa langkah,
tiba-tiba... pohonnya berdiri lagi.... Ahhhhh dassaaarrr...."
Pulang Lagi kerumah, Ambil Hp Buka Facebook Nyari Halaman Yang Di Kelola Kemudian Gue Updet Dah Kejadian Gue Ini
Biar Kalian Semua Tauuu Tauuu Apa Yang Gue Alamin Sekarang..
*End
 ·  Translate
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
Portal Berita Aktual, mengulas soal perkembangan dunia Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Pemilu, Capres dan Budaya hingga Wisata Hati Paling Rileks di Indonesia,www
2
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
Keberangkatan tim investigasi dalam rangka mencari jati diri Joko Widodo yang sebenarnya sengaja dirahasiakan demi alasan keamanan anggota tim dan mencegah antisipasi dari pihak - pihak yang berada...
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
2
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
TANDA-TANDA KEMATIAN |

Allah telah memberi tanda kematian seorang muslim sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian.

Tanda 100 hari menjelang ajal :
Selepas waktu Ashar (Di waktu Ashar karena pergantian dari terang ke gelap), kita merasa dari ujung rambut sampai kaki menggigil, getaran yang sangat kuat, lain dari biasanya, Bagi yang menyadarinya akan terasa indah di hati, namun yang tidak menyadari, tidak ada pengaruh apa-apa.

Tanda 40 hari menjelang kematian :
Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur. Malaikat maut akan mengambil daun kita dan mulai mengikuti perjalanan kita sepanjang hari.

Tanda 7 hari menjlang ajal :
Akan diuji dengan sakit, Orang sakit biasanya tidak selera makan. Tapi dengan sakit ini tiba-tiba menjadi berselera meminta makanan ini dan itu.

Tanda 3 hari menjelang ajal :
Terasa denyutan ditengah dahi. Jika tanda ini dirasa, maka berpuasalah kita, agar perut kita tidak banyak najis dan memudahkan urusan orang yang memandikan kita nanti.

Tanda 1 hari sebelum kematian :
Di waktu Ashar, kita merasa 1 denyutan di ubun-ubun, menandakan kita tidak sempet menemui Ashar besok harinya.
Bagi yang khusnul khotimah akan merasa sejuk di bagian pusar, kemudian ke pinggang lalu ketenggorokan, maka dalam kondisi ini hendaklah kita mengucapkan 2 kalimat syahadat.

Sahabatku yang budiman, subhanAllah, Imam Al-Ghazali, mengetahui kematiannya. Beliau menyiapkan sendiri keperluannya, beliau sudah mandi dan wudhu, meng-kafani dirinya, kecuali bagian wajah yang belum ditutup. Beliau memanggil saudaranya Imam Ahmad untuk menutup wajahnya. SubhanAllah. Malaikat maut akan menampakkan diri pada orang-orang yang terpilih. Dan semoga kita menjadi hamba yang terpilih dan siap menerima kematian kapanpun dan di manapun kita berada. Aamiin.
 ·  Translate
3
1
ratiman men's profile photo
Add a comment...
In his circles
1,937 people
Have him in circles
723 people
barry do's profile photo
Capasite's profile photo
Pavel Nefedov's profile photo
Muhammad Iqbal's profile photo
bobby rahmadi's profile photo
Asad Khan's profile photo
Ibnu Sugiarto's profile photo
SEAGEAT PRAM's profile photo
Deby Putra Bahrodin's profile photo

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
Membongkar Kebusukan Media

Busuk, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti rusak, buruk, jelek. Kebusukan dimaknai sebagai keburukan, kejahatan, kejelekan. Nah,  bagaimana kebusukan media pro Jokowi? Lagi-lagi kita tak bisa menilai dengan asumsi semata. Sebagai media, kita perlu membongkarnya dengan studi yang relevan dengannya. Kita bisa membongkarnya dengan studi akuntabilitas media. Studi tentang bagaimana pertanggungkawaban media kepada publik

Guru komunikasi,  D McQuail (2000),  penulis buku “McQuail’s Mass Communicatiin Theory” secara normatif  membagi dua jenis akuntabilitas,  internal dan eksternal. Internal merujuk kepada pengawasan media itu sendiri. Eksternal terkait dengan berbagai pihak di luar media. Sasa Djuarsa (2014) menilai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menyoal akuntabilitas media, diantaranya (1) hukum dan regulasi (law and regulation), (2)  tanggungjawab publik (public responsibility) dan  (3) tanggungjawab pers (professional responsibility).

Persoalan akuntabilitas internal, barangkali bukan hal yang begitu menarik untuk dibahas. Kenapa? Sebab ini menyangkut dapur media masing-masing.  Semuanya adalah pilihan, apalagi dikaitkan dengan  perkembangan politik terbaru. Kita bisa melihat media-media pro Jokowi semisal Jakarta Post, Beritasatu atau Media Indonesia. Apa boleh buat, keberpihakan mereka untuk mendukung penuh Jokowi sudah kita saksikan.  Memang, dalam ruang redaksi pasti terjadi tarik menarik kepentingan, hanya saja sepertinya dominasi pemilik modal (pemilik media) begitu punya kuasa sehingga pasukan dan awak media mau tak mau harus membebek, harus mengikuti instruksi pemilik media.

Yang menarik tentu membacanya dalam studi akuntabilitas eksternal. Misalnya kita bisa membaca dalam ranah hukum dan regulasi. Seperti dalam alam demokrasi, sebuah berita atau informasi yang dihasilkan harus dipandang sebagai “Public Good” sehingga mesti mengabdi kepada  kepentingan umum. Tapi bagaimana prakteknya? Alih-alih mengabdi kepada kepentingan umum, media-media pro Jokowi hanya mengabdi kepada “tuannya”.

Dalam persoalan tanggungjawab publik, wartawan semestinya memberitakan sesuatu yang dipandang penting untuk publik. Prakteknya bagaimana? Yang terjadi adalah pemberitaan  hal remeh-temeh seputar Jokowi.  Publik sebenarnya haus dengan pemberitaan-pemberitaan yang substantif.  Misalnya, berita-berita sebenarnya apa sih prestasi-prestasi Jokowi yang patut diteladani dan membuat bangga bangsa? Yang terjadi saat ini justru  hanyalah permainan  politik citra semata.

Selanjutnya, mengenai tanggungjawab pers, hal ini terkait dengan kode etik profesi di bidang jurnalistik yang mengatur tentang boleh atau tidak boleh, pantas atau tidak pantas yang perlu dilakukan oleh wartawan.  Prinsip yang paling penting dijaga tentu keberimbangan. Saya sepakat dengan prinsip media boleh berpihak yaitu melalui “Editorial” tapi dalam pemberitaan tetap harus berimbang.  Apakah pemberitaan tentang Jokowi dimedia-media itu berimbang? Sepertinya sangat jauh dari harapan. Suka atau tidak suka inilah wajah yang  nampak dari media-media pro Jokowi.

Lantas, di mana  sebenarnya letak kebusukannya?  Kita bisa meminjam konsep Paul Johnson (1997) penulis buku “The Media and Truth”. Paul pernah mendedahkan bagaimana dosa-dosa media dilakukan dalam dunia pers. Nah, setidaknya ada beberapa hal dosa media yang menandai kebusukan media pro Jokowi, diantaranya:

Pertama: Distorsi Informasi. Terkait dengan menambah atau mengurangi informasi. Kita bisa menyaksikan bagaimana Jokowi digambarkan sebagai sosok yang sempurna dan tak pernah salah di mata media-media pro Jokowi. Tidak ada keberimbangan. Hasilnya, media semacam itu hanya menyajikan berita-berita pujian semata. Sebuah wajah media yang kehilangan daya kritisnya. Wartawan seolah hanya menjadi corong pemilih media yang otomatis menjadi corong penguasa.

Kedua: Penyalahgunaan Kekuasaan (Abuse of Power). Yang namanya penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan kekuasaan bukan hanya terjadi di lingkungan pejabat pemerintahan semata. Tetapi juga bisa dilakukan ooleh pemilik media. Apa boleh buat, media-media tersebut memang sudah memutuskan untuk menjadi corong penguasa.  Barangkali mereka tak merasa “berdosa” melakukan kongkalikong demikian. Tapi, publik bisa menilai bagaimana kualitas produk jurnalistik media yang seharusnya pers mengontrol penguasa, yang terjadi kemudian sebatas mengabdi kepada penguasa.

Ketiga: Pembunuhan Kharakter. Pembunuhan kharakter tentu saja terkait dengan lawan-lawan politiknya. Kita bisa melihat bagaimana media-media pro Jokowi yang keras dalam melakukan pembunuhan kharakter, terutama, tentu saja pembunuhan kharakter kepada Prabowo maupun lawan politik Jokowi di  Koalisi Merah Putih (KMP).  Bagaimana fakta sebenarnya? Ternyata perkembangan terbaru, tak ada misalnya upaya penjegalan dalam pelantikan Jokowi dan secara kesatria, berjiawa negarawan, Prabowo-Hatta dengan gagah menghadiri pelantikan dan memberikan hormat kepada presiden terpilih itu. Apakah media-media pro Jokowi memberikan apresiasi terhadap fakta demikian? Tentu tidak.

Inilah beberapa kebusukan media pro Jokowi yang bisa kita saksikan sekarang. Dengan demikian, media-mediia semacam itu tentu saja tidak layak menjadi rujukan. Kita, warga negara, haus dengan pemberitaan-pemberitaan yang benar dan kritis terhadap penguasa. Sementara media-media semacam itu tentu saja tak akan pernah menghilangkan dahaga warga. Itulah sebabnya, kita perlu mencari, membaca media-media yang lebih obyektif, berimbang dan memberitakan kebenaran apa adanya.
 ·  Translate
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP)  adalah sebuah cerita remaja yang pertamakali saya tulis dalam bentuk cerpen sebagai tugas mata kuliah Sastra Populer 1992 di Fakultas Sastra UI. Mengapa saya menulis ...
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
 
By Jurnal Malang Di abad informasi seperti saat ini media massa sudah menjadi kekuatan dahsyat pembawa berita bahkan menjadi kiblat informasi publik. Kanan kata media maka kecil kemungkinan publik ...
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
3
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
1
Add a comment...

Nick Yudhawinata

Shared publicly  - 
3
Add a comment...
People
In his circles
1,937 people
Have him in circles
723 people
barry do's profile photo
Capasite's profile photo
Pavel Nefedov's profile photo
Muhammad Iqbal's profile photo
bobby rahmadi's profile photo
Asad Khan's profile photo
Ibnu Sugiarto's profile photo
SEAGEAT PRAM's profile photo
Deby Putra Bahrodin's profile photo
Education
  • STT Mandala Bandung
    present
Basic Information
Gender
Male
Looking for
Friends, Networking
Relationship
It's complicated
Story
Tagline
Hidup itu sulit,, so jangan di bikin sulit dengan hal2 yang tak penting untuk di pikirkan.
Introduction
hai...km mencari saya? yuup tepat sekali sbb saya ada disini
Bragging rights
be myself
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Links
Other profiles
Contributor to