Profile cover photo
Profile photo
Muchamad Muchimin
59 followers -
Apa yang ada pikir bisa anda pasti Bisa...
Apa yang ada pikir bisa anda pasti Bisa...

59 followers
About
Posts

Post has attachment
Beberapa dekade terakhir ini terdapat kecenderungan secara global untuk kembali ke alam. Kecenderungan untuk kembali ke alam atau ”back to nature“, dalam bidang pengobatan herbal sangat kuat di negara-negara maju dan berpengaruh besar di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Banyak kalangan masyarakat yang melirik penggunaan herbal untuk penyembuhan penyakit.

Salah seorang herbalis yang konsisten memegang prinsif dalam penggunaan herbal adalah Jeng Ana. Salah satunya dibuktikan adalah dengan konsistensi Jeng Ana yang hanya mennggunakan racikan simplisia murni dalam membantu kesembuhan pasien-pasiennya yang tersebar di berbagai daerah.

Menurut Jeng Ana, jika orang berbicara tentang penggunaan herbal, maka harus dikembalikan pada kesejatian ilmu herbal itu sendiri. Menurutnya, herbalogi atau ilmu herbal itu adalah cara penggunaan bahan yang bersifat alami, dan yang tidak sama sekali menggunakan bahan-bahan sintetis.

“Jika kemudian ada yang menggunakan bahan di luar herbal maka itu tidaklah termasuk ke dalam herbalogi atau ilmu herbal,” tandas Jeng Ana.

Ia menyebutkan, herbal terbaik itu jelas adalah herbal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, seperti madu, habbatus sauda, dan minyak zaitun. “Namun demikian herbal-herbal yang tumbuh di sekitar kita juga dapat dikatakan herbal yang sangat baik,” terang Jeng Ana.

Secara umum masyarakat hanya mengenal herbal sebagai obat untuk membantu penyembuhan penyakit. Padahal, fungsi herbal yang sebenarnya bukan hanya untuk penyembuhan. Setidaknya, ada 4 macam fungsi tanaman herbal. Hal tersebut seperti diungkap oleh Jeng Ana, yakni:

1. Fungsi herbal untuk membantu mengobati penyakit. Misalnya herbal untuk kanker, diabetes, ginjal, dan lain-lain.

2. Fungsi herbal untuk menjaga kebugaran, perawatan kecantikan, seksualitas pria/wanita dengan meningkatkan sirkulasi darah dan metabolism.

3. Menghilangkan rasa sakit, dengan mengurangi peradangan dan gangguan pencernaan.

4. Memperbaiki gangguan di tubuh manusia seperti infertilitas, bau badan, infeksi cacing parasit, dan lain-lain.

Banyak jenis tanaman yang digunakan secara tunggal maupun ramuan terbukti sebagai bahan pemelihara kesehatan maupun penyembuhan penyakit.

Masyarakat tentu harus terus diedukasi untuk memanfaatkan herbal sebagai alternatif untuk keempat fungsi sebagaimana dijelaskan di atas.
Add a comment...

Post has attachment
Luar biasa suaranya...
Add a comment...

Post has attachment
Pelantikan pengurus yayasan Lasem Kota Cagar Budaya oleh Camat Lasem di Sanggar Dalang Gondrong Al Frustasi dk.Tiyang,Kec.Pancur,Kab.Rembang, Selasa (9/10/2018).

Selengkapnya : https://kotalasem.com/202/pelantikan-pengurus-yayasan-lasem-kota-cagar-budaya/
Add a comment...

Post has attachment
Ajaib, 5 Artis Ini Sembuh Dari Penyakit Berkat Ramuan Herbal

Trend pengobatan Back to Nature (kembali ke alam) mengalami perkembangan yang sungguh luar biasa. Minat terhadap pemanfaatan terhadap tanaman obat atau herbal tidak hanya melanda kalangan masyarakat biasa, tapi juga sampai kalangan artis. Salah satu herbalis yang menjadi langganan para artis adalah Jeng Ana.

Berkat kepiawaiannya meracik herbal, nama Jeng Ana sudah sangat terkenal sehingga tak luput menjadi sasaran berita hoax. Berita palsu bernada fitnah kerap menyasar Jeng Ana. Salah satunya berita yang menyebutkan bahwa Jeng Ana sudah tutup atau berhenti dari kegiatan praktek.

“Saya sempat kaget membaca berita kalau Jeng Ana mundur dari praktek pengobatan herbal. Padahal selama ini saya sangat mengandalkan jasanya,” kata Aida Zaskia Mecca, salah seorang artis cantik yang pernah membuktikan keajaiban racikan herbal Jeng Ana.

Zaskia mengaku bersyukur sebab ternyata berita itu hanya hoax. Buktinya, dirinya masis bisa bertemu Jeng Ana di tempat prakteknya, Herbal Jeng Ana.

Tak hanya Zaskia, ada sejumlah artis lain yang telah membuktikan kemukjizatan racikan herbal Jeng Ana. Berikut 5 di antaranya...

Selengkapnya klik https://wp.me/p6MJC6-1cn
Add a comment...

Post has attachment
Ini Dia, 5 Jenis Herbal Asli Indonesia Yang Ampuh Melawan Kista

Penyakit ini biasanya paling banyak ditemukan pada wanita yang menjelang masa menopause dan pascamenopause.

Meski begitu menyeramkan, Anda khususnya wanita tidak perlu panik. Karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Salah satu cara pengobatan termurah, namun sekaligus juga terbaik adalah dengan menggunakan tanaman-tanaman yang dipercayai mempunyai kandungan yang dapat memperlambat pertumbuhan kista.

Operasi bukan satu-satunya cara untuk mengobati Kista. Anda tidak perlu khawatir, karena hanya dengan pengobatan herbal, penyakit Kista anda akan cepat sembuh. Setidaknya kenyataan ini telah kami buktikan terhadap begitu banyak pasien yang tak dapat lagi kami hitung berapa jumlahnya.

Saran kami, hal pertama yang paling penting sebelum mengobati penyakit Kista adalah Anda harus mengetahui terlebih dahulu mengenai ukuran Kista Anda. Setelah itu Anda dapat memutuskan datang ke Herbal Jeng Ana.

Cukup banyak wanita yang pernah memiliki Kista Ovarium. Namun, Kista umumnya tidak menyebabkan gejala dan dapat hilang sendiri dalam beberapa bulan. Meskipun demikian, Kista yang berukuran besar atau pecah berisiko mengakibatkan gejala serius sehingga perlu pengobatan yang tepat.

Pengobatan menggunakan tanaman obat adalah hal yang sejak lama dilakukan oleh nenek moyang kita. Kandungan dalam herbal tersebut akan memberikan khasiat yang optimal yang bisa menyembuhkan gangguan Kista dan bahkan membuatnya tidak akan kembali lagi.

Dalam kesempatan kali ini, kami beberkan 5 (lima) jenis herbal asli Indonesia yang terbukti sangat ampuh untuk melawan Kista:

Selengkapnya klik : https://wp.me/p6MJC6-1ci
Add a comment...

Post has attachment
“Banyak yang menganggap Herbal Jeng Ana sudah tutup. Padahal, kami masih tetap eksis melayani pasien. Bedanya, sekarang kami tidak bisa beriklan di televisi,” ...

Terkait dengan iklan pengobatan alternatif, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memang tengah gencar-gencarnya menegakkan pelarangan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.61/Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional, dimana Pasal 67 ayat dua (2) menyebut: “Penyehat Tradional dan Panti Sehat dilarang mempublikasikan dan mengiklankan Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris yang diberikan.” ...


Selengkapnya.....
Jarang Muncul Di Layar TV, Jeng Ana Tetap Setia Layani Pasien

*https://wp.me/p6MJC6-1cf*
Add a comment...

Selama lebih dari satu dekade menjalani praktek sebagai penyembuh herbal, Jeng Ana telah membuktikan bahwa metode penyembuhan herbal dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit mematikan. Sekaligus pengalaman empiris ini juga membuktikan sekaligus membenarkan anggapan bahwa alam secara alamiah telah menyediakan tumbuh-tumbuhan sebagai obat yang manjur untuk segala penyakit.

Tanaman herbal yang berkhasiat untuk penyembuhan dapat dianggap sebagai makanan, yang berarti bahan yang dikonsumsi digunakan untuk memperbaiki sel, jaringan, atau organ yang rusak. Komposisi atau dosis yang digunakan dalam racikan herbal Jeng Ana adalah dosis tradisional yang sudah dikonsumsi secara turun temurun.

Dengan dosis dan racikan yang tepat herbal terbukti memiliki sifat kuratif, artinya benar-benar menyembuhkan karena pengobatannya pada sumber penyebab penyakit. Berdasarkan pengalaman selama berpraktek, Jeng Ana memperoleh suatu pengalaman berharga bahwa herbal ternyata sangat cocok untuk gangguan kesehatan terutama penyakit kronik dan degeneratif seperti hipertensi, kencing manis, rematik, asma, penyebaran sel-sel kanker, tumor, dan lain-lain.

Dengan sifat kuratifnya, herbal juga dapat menyembuhkan penyakit secara menyeluruh (holistic). Selain menyembuhkan gejalanya, herbal juga menyembuhkan sumber penyakitnya, sekaligus juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sebagai cara untuk melawan penyakit.

Satu macam tanaman herbal biasanya tidak hanya dapat menyembuhkan satu penyakit, tetapi satu tumbuhan bisa menyembuhkan banyak penyakit. Sebagai contoh, Daun Dewa yang kerap digunakan dalam racikan herbal Jeng Ana, ternyata memiliki beragam kandungan senyawa dan sifat-sifat kimiawi. Maka tak heran jika banyak sekali manfaat yang bisa ambil dari tanaman ini, diantaranya: mengobati stroke, rematik, diabetes, jantung, hipertensi dan kanker.

Seperti yang juga dibuktikan lewat pengalaman Jeng Ana, ramuan herbal bekerja langsung pada sumber penyakit dengan memperbaiki keseluruhan sistem tubuh yakni dengan memperbaiki sel-sel, jaringan, dan organ-organ tubuh yang rusak. Maka tak heran, bila dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk merasakan efek obat herbal dibandingkan jika kita menggunakan obat kimia. Namun demikian hasilnya terbukti nyata dan tanpa adanya efek samping.
Add a comment...

Post has attachment
Obat kimia atau herbal yang lebih baik ?

Tentu saja tidak tepat memberikan ukuran mana yang lebih baik. Yang jelas, pada dasarnya, baik obat kimia maupun herbal sama-sama dapat menyembuhkan penyakit. Namun, penentu sembuhnya penyakit yang diderita seseorang bukan karena faktor obat saja, melainkan juga karena taklid keyakinan bahwa kesembuhan berasal dari Tuhan yang menciptakan penyakit.

Adapun obat baik herbal maupun kimia, dokter sangat piawai maupun herbalis, jelas hanya sarana untuk meraih kesembuhan. Dengan obat yang sama, dosis yang sama, penanganan yang sama, atau dokter dan herbalis yang sama, tingkat kesembuhannya sangat mungkin akan berbeda.

Pemahaman bahwa Tuhan sebagai sumber kesembuhan inilah yang selalu ditekankan dalam upaya penyembuhan di Herbal Jeng Ana. Upaya itu adalah doa, meminta kesembuhan kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Jadi sambil ikhtiar mengkonsumsi herbal, juga dengan berdoa dan keyainan bahwa doa kita diterima.

Selengkapnya....
https://www.jengana.co.id/blog/meningkatkan-efek-khasiat-herbal.html
Add a comment...

Post has attachment

Post has attachment
Pro Kontra Pengobatan Alternatif: DARI SEKEDAR “DILIRIK” KINI JADI PILIHAN
----------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa pekan terakhir ini pengobatan herbal atau jamu sebagai salah satu jenis pengobatan alternatif di Indonesia menjadi isyu yang diperdebatkan oleh para pengguna media sosial (medsos). Di satu pihak menganggap pengobatan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun di pihak lain, terutama mereka yang telah membuktikannya, meyakini pengobatan alternatif ini memang sudah terbukti menjadi solusi penyembuhan.

Di tengah pendapat pro dan kontra tersebut, marilah kita sama-sama melihat fakta-fakta yang ada dengan hati yang jernih, tanpa perlu mendiskreditkan para praktisi pengobatan herbal itu sendiri. Marilah kita melihat sejarah bahwa pemanfaatan obat tradisional di Indonesia dengan menggunakan bahan herbal atau tanaman obat telah dimulai sejak berabad-abad yang lampau.

Hal tersebut dapat dibuktikan misalnya saja dari relief Karmawibhangga yang ada di candi Borobudur, yang mengilustrasikan tanaman obat yang sampai sekarang masih digunakan sebagai komponen jamu, antara lain: nagasari, semanggen, cendana wangi, kecubung, dan lain-lain. Dari relief-relief tersebut bahkan dapat diidentifikasi lebih dari 50 jenis tanaman.

Gambaran yang serupa juga ditemukan pada relief-relief di Candi Prambanan, Candi Penataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegawangi, yang secara keseluruhan ada memang ada di Tanah Jawa. Sehingga oleh karena oleh karena itulah khusus bagi masyarakat Jawa, obat tradisional lebih dikenal luas sebagai jamu. Istilah jamu berasal dari Bahasa Jawa yang berarti obat tradisional yang berasal dari tanaman. Saat ini istilah jamu telah diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia dengan arti yang sama.

Jamu kini juga dikenal dengan istilah herbal. Layanan pengobatan dengan herbal inilah yang dewasa ini berkembang sangat pesat, sebab memang manfaatnya yang sudah terbukti. Pengguna pengobatan alternatif ini biasanya sudah mencoba pengobatan medis terlebih dahulu, akan tetapi belum memuaskan. Dalam hal ini, mau ilmiah atau tidak ilmiah, bukan suatu hal yang penting bagi pasien.

Karena yang mereka butuhkan hanya satu, yaitu kesembuhan. Menurut mereka, untuk apa berobat dengan metode ilmiah, kalau hasilnya tidak sembuh juga? Sehingga tidak heran jika banyak pasien yang memanfaatkan pengobatan alternatif ini justru berasal dari kelompok-kelompok masyarakat berpendidikan tinggi.

Di negara negara maju, contohnya Amerika Serikat sebenarnya tidak dikenal istilah “pengobatan alternatif”. Istilah ini sebenarnya lebih banyak digunakan di negara-negara berkembang, seperti di negara kita. Sementara itu istilah yang lebih banyak digunakan di Eropa dan Amerika adalah Complementary Medicine, dan bukan alternative medicine. Hal ini mengacu kepada peran pengobatan non konevensional sebagai “pelengkap” atau “tambahan” (complementary) bagi pengobatan medis (pengobatan konvensional atau conventional medicine).

Maksudnya, pasien memanfaatkan pengobatan tersebut untuk “melengkapi” terapi yang diberikan oleh petugas kesehatan medis. Di Indonesia, peran ini cenderung diabaikan sehingga yang muncul adalah istilah “pengobatan alternatif,” sehingga muncul persepsi bahwa jenis pengobatan ini memang menjadi pilihan terakhir setelah pengobatan konvensional mengalami kebuntuan.

Namun, terbukanya era informasi justru mendongkrak popularitas pengoabatan alternatif dengan herbal. Saat ini, masyarakat dengan mudah mengangkses informasi tentang bahaya mengkonumsi obat-obatan kimia. Sebagai contoh, banyak informasi yang menyebutkan bahwa mengkonsumsi obat kimia hanya berefek pada reaksinya yang begitu cepat dalam mengatasi suatu penyakit, namun reaksi tersebut tidaklah mengatasi penyebab penyakit melainkan hanya menekan gejala yang timbul saja tanpa menjangkau penyebab yang sebenarnya. Disebutkan, penggunaan obat kimia dalam jangka waktu yang lama juga akan menimbulkan penyakit baru karena banyak organ-organ tubuh yang rusak akibat obat kimia tersebut.

Karena itulah, gerakan back to nature dalam pengobatan semakin menggema di seluruh pelososk dunia. Bahkan, sejak tahun 1998, Badan Kongres Amerika Serikat mendirikan The National Centre for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) di National Institutes of Health (NIH) untuk mengembangkan penelitian mengenai pengobatan alternatif (Complementary and Alternative Medicine/CAM).

Misi utama lembaga tersebut adalah meneliti CAM dalam konteks ilmu pengetahuan ilmiah, melatih para peneliti di bidang CAM, dan memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada masyarakat dan para praktisi kesehatan mengenai keamanan dan khasiat dari CAM.

Sepanjang pengobatan alternatif ini dimanfaatkan, maka sudah seharusnya semua kalangan menerimanya dengan terbuka tanpa perlu bersyakwasangka. Perlu pula menjadi catatan, apapun itu jenis pengobatan, baik alternatif maupun konvensional, sudah pasti tidak akan dapat menyembuhkan keseluruhan pasiennya. Ibaratnya ada 10 orang pasien, mungkin ada 5 orang yang sembuh, 3 masih tetap sakit, dan dua orang pasien lainnya mungkin meninggal dunia.

Kenyataan semacam ini adalah suatu keniscayaan sebab semua usaha pengobatan tergantung kepada Yang Maha Penyembuh, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Selaku manusia, siapapun adanya dia, pasti hanya diberi kemampuan dan kesempatan untuk ikhtiar atau berusaha. Yang pasti, tak ada pasien yang meninggal dengan sebab mengkonsumsi racikan herbal atau jamu, sebab sifatnya alamiahnya yang memang tidak mengandung zat-zat kimia yang berbahaya.

Demikianlah, pada awal kemunculan nya pengobatan alternatif hanya “dilirik” orang apabila sudah menyerah kepada pengobatan konvensional, namun kini justeru menjadi pilihan pertama bagi mereka yang ingin dengan cara natural. Di masa mendatang, pengobatan alternatif yang ada di Indonesia diharapkan dapat bekerja saling mengisi dengan pengobatan konvensional.

Tuhan memberikan penyakit dan memberikan caranya untuk sembuh. Semua sudah diatur, dan pengobatan cara apapun hanyalah sebuah jalan. Berbagai cara bisa dilakukan manusia untuk sembuh, kembali kepada keyakinan si pasien dan keluarganya. semuanya adalah pilihan. Apapun yang dipilihnya untuk jalan pengobatan pilihan adalah kesiapan dengan segala konsekwensinya. Kepastian hukum hanyalah buatan manusia tetapi kehidupan. manusia hanya bisa berusaha dan pada akhirnya kembali kepada kuasa Tuhan untuk sembuh atau tidak.
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded